• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.

POSSESSOR (2020) REVIEW: Daur Ulang Kisah Horor Fiksi Ilmiah yang Serupa

Nama Cronenberg hadir di dalam film ini tapi bukan David, melainkan Brandon. Ya, dia adalah anak dari salah satu sutradara gila, David Cronenberg. Tak heran, apabila di dalam film-filmnya masih ada kegilaan yang serupa untuk dihadirkan kepada penontonnya.

Kata pepatah,  buah tak jatuh dari pohonnya.


Ya, pepatah itu yan cocok untuk menggambarkan karya dari Brandon Croneneberg. Semakin terasa pula persamaannya ketika dirinya menggarap film keduanya berjudul Possessor. Dari adegan pertamanya saja, film ini sudah menunjukkan ketidaknyamanan bagi penonton. Memperlihatkan sebuah teknologi yang berhubungan dengan kehidupan manusia dan yang akan mempengaruhinya. 


Benar apabila menganggap film ini adalah sebuah film fiksi ilmiah. Tetapi, tentu Brandon Cronenberg tak Hanya berhenti hingga sampai di situ saja. Dia berusaha menggabungkan elemen horror di dalam filmnya yang akan memberikan sensasi menonton yang berbeda bagi penontonnya. Possessor, sebagai karya keduanya, dibintangi oleh Andrea Riseborough, Jennifer Jason Leigh, Christopher Abbott. Film ini pun tak hanya diarahkan oleh Brandon Cronenberg, tetapi juga ditulis langsung olehnya. Jadi, tak salah apabila dia memiliki banyak ruang untuk mengekspresikan apa yang ada di otak gilanya ke dalam gambar bergerak.



Selama 100 menit, penonton akan diajak untuk mengarungi kisah yang dijalin oleh Brandon Cronenberg yang mungkin Sudah Sangat familiar dan pernah ditemui di beberapa film sebelumnya. Tentang seorang perempuan bernama Tasya Vos (Andrea Riseborough) yang menjadi agen rahasia untuk menjalankan misi yang melibatkan teknologi implan otak. Lewat teknologi inilah, Vos bisa untuk berpindah dari tubuhnya dan menjalankan tubuh manusia lain.


Dia sudah terbiasa melakukan hal tersebut, hingga akhrinya dia harus menjalankan misi terbaru yang lebih challenging dibanding biasanya. Dia memasuki tubuh dari seorang manusia bernama Colin (Christopher Abbott). Dia adalah kekasih dari anak seorang petinggi di salah satu perusahaan besar. Misinya tentu untuk menjatuhkan sang petinggi tersebut. Tetapi, dalam proses Tasya menjalankan misinya, ada kendala yang hadir dan tak pernah terjadi sebelumnya.



Bagi pecinta film-film fiksi ilmiah, (bukan penonton serial Black Mirror di Netflix yang gampang kagetan itu) menonton Possessor tak akan kaget dengan ceritanya yang groundbreaking. Nyatanya memang kisah film ini memang dengan Mudah ditemui di film-film serupa. Bahkan, sesekali Brandon Cronenberg seakan menyadur sedikit film dari sang Ayah yaitu Scanners. Di mana menggabungkan fiksi ilmiah dengan body horror yang cukup membuat penonton merasakan tidak nyaman saat menonton.


Rasa tidak nyaman, ngilu, dan hal sebagainya di dalam film ini bukan malah menjadi sajian yang buruk, malah inilah yang membuat Possessor menarik untuk diikuti. Ini adalah cara Brandon Cronenberg untuk menjaga penontonnya untuk mengikuti Possessor hingga akhir. Perasaan tidak nyaman saat menonton digabung dengan beberapa adegan gore yang bisa mengukuhkan film ini adalah sebuah kalibrasi dari film horor thriller.


Tapi, pintarnya Brandon Cronenberg adalah bisa mendaur ulang kisah-kisah familiar itu menjadi sebuah film yang terasa segar. Salah satu cara yang dia lakukan adalah dengan menyajikan adegan-aegan yang terasa berbeda dibandingkan dengan film-film yang lainnya.



Possesor adalah film yang visually pleasing.


Kata yang tepat untuk menggambarkan film ini secara keseluruhan. Visual yang aestetik kalau kata anak muda zaman sekarang yang bisa menghipnotis penontonnya sekaligus cara Brandon untuk menyalurkan rasa di dalam filmnya. Semuanya bisa tergambar secara visual. Dengan adegan-adegannya yang berdarah pun, Possessor bisa tampil ‘Indah’. Mengusik penontonnya selama 100 menit dengan segala kegelisahan yang tersampaikan dengan tepat di filmnya.


Kegelisahan ini juga tak bisa dirasakan penontonnya apabila bukan berkat penampilan dari Christopher Abbott yang berkolaborasi dengan Andrea Riseborough. Tanpa mereka berdua yang bisa menerjemahkan segala kegelisahan yang ada di dalam karakter utamanya, film ini tak mungkin terasa menghipnotis penontonnya hingga akhir.



Menarik juga, melihat isu yang diselipkan di dalam film ini di mana teknologi bisa saja memanipulasi kehidupan manusia. Melihat endingnya yang sedikit diberi ‘bumbu’, sangat menarik untuk mengulik apa yang terjadi ketika manusia bisa mengontrol kehidupan manusia lainnya dengan teknologi yang mereka punya. Possessor mungkin akan terasa sebagai sebuah film dengan karakter studi yang berlapis. Film ini mengembangkan karakternya dengan menggunakan karakter lain sebagai pionnya. Begitu pula dengan manusia di dunia nyata. Mereka bisa mempelajari life event manusia yang lain untuk bisa diaplikasikan ke dalam hidup mereka. Bisa saja berhasil, tapi bisa saja menjadi bumerang dan berdampak buruk bagi mereka.

SPONTANEOUS (2020) REVIEW: Kisah Remaja yang Sama Tapi Pengalaman Menontonnya Berbeda


Namanya juga menjadi remaja, pasti masih ada banyak terjadi ledakan-ledakan yang terjadi di dalam dirinya. Tetapi, bagaimana jika tiba-tiba ledakan itu terjadi secara harfiah? Ya, bagaimana jika di saat remaja ini sedang melakukan kegiatannya sehari-hari ternyata tubuh mereka meledak dan hilang begitu saja?

Ya, inilah yang terjadi sesaat film debut dari Brian Duffield ini mengenalkan kisahnya. Spontaneous, film pertama dari dirinya ini adalah sebuah adaptasi dari novel milik Aaron Stahmer. Memiliki pendekatan yang unik dan menarik memang. Meskipun tetap perlu digarisbawahi, bahwa film ini tetap mengangkat kisah remaja yang sedang beradaptasi dengan emosinya serta konflik-konflik yang sama. Tetapi, dengan sedikit sentuhan lain, tentu akan menjadi pendekatan kisah remaja yang lebih menarik untuk dikulik.

Spontaneous dibintangi oleh Katherine Langford, yang namanya mulai melambung lewat serial adaptasi Netflix, 13 Reasons Why. Dirinya juga pernah didapuk untuk ikut menjadi salah satu pemain di Avengers: Endgame meskipun adegannya tidak jadi ditayangkan di filmnya. Bermain di film-film coming of age, tentu bukan hal baru untuk Katherine Langford. Dirinya pun sudah pernah terlibat dengan adaptasi novel lain yaitu Love, Simon.


Tetapi, menjadi remaja yang lebih rebel dan lebih meledak-ledak di film terbarunya ini, sepertinya belum pernah dilihat sebelumnya. Ya, dia menjadi pemeran utama yang mengantarkan ceritadan menemani penonton untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan fenomena yang terjadi di film ini.

Narasi pertama pun sudah menunjukkan kamera menyorot ke karakter Mara (Katherine Langford) yang sedang berada di dalam kelas dan terlihat bosan. Hal itu tak bertahan lama, ketika tahu seorang temannya meledak di depan matanya. Darah, organ tubuh, tentu sudah tersebar di penjuru kelas dan membuat semua orang panik. Hal ini tentu membuat semua remaja di Covington High School merasa takut apabila mereka menjadi salah satu korbannya.

Mara, berusaha sekuat tenaga untuk bisa bertahan hidup dari fenomena aneh yang terjadi di sekolahnya ini. Meskipun, dirinya sudah mempersiapkan apabila hal tersebut terjadi padanya secara tiba-tiba. Tetapi, di tengah hidupnya yang mulai pesimis, dia bertemu dengan seseorang bernama Dylan (Charlie Plummer). Ya, Dylan diam-diam menyukai Mara sejak pertama bertemu meski tak pernah menyampaikannya. Dengan kondisi sekitar yang sedang tak menentu, keduanya memberanikan diri untuk membuka hati satu sama lain.


Jika dikulik dari sinopsis di atas, Spontaneous memang terlihat sebagai sebuah kisah coming of age yang sudah pernah dilihat di beberapa film serupa. Tetapi, hal ini tak bisa dipungkiri, bahwa Spontaneous adalah sebuah film yang solid dan menarik untuk diikuti. Terlebih, bagaimana penggambaran karakter Mara dengan segala perasaan cynical dan sarcastic tentang hidup ini menuntun penonton untuk menyusuri segala keanehan kisah utama di dalam filmnya.

Dengan adanya karakter yang bisa melontarkan dialog-dialog satir dan witty ini, semakin menarik untuk mengikuti Spontaneous. Karakternya menarik untuk diobservasi, konfliknya juga memberikan metafora lain tentang kehidupan remaja. Seakan wabah ledakan di film ini menggambarkan tentang remaja secara general yang memang condong untuk selalu meledak-ledak di dalam hidupnya. Belum paham benar untuk bisa mengontrol segala emosinya. Serta, mengingatkan para remaja untuk sesekali menikmati kehidupan karena bisa saja kamu akan melewatkan hal-hal seru di dalamnya. 

Pesan ini tentu tak akan bisa tersampaikan dengan baik apabila tidak ada performa Katherine Langford yang membius penontonnya hingga akhir. Menarik untuk mengulik kisah di Spontaneous yang asyik karena menyelipkan kisah wabah yang tak teridentifikasi. Penyampaiannya yang pintar ini tentu berkat Brian Duffield dalam menulis dan mengarahkan buku dari Aaron Stahmer.


Tanpa ketelitiannya dalam mengadaptasi kisahnya yang bizarre ini, mungkin Spontaneous akan menjadi film yang aneh untuk dinikmati. Sebagai karya perdana, Brian Duffield berhasil memberikan nafas segar dalam film remaja yang diarahkannya. Kisah-kisah tragisnya bisa dikemas menjadi sajian yang bisa membuat penonton tertawa dengan humor-humor gelapnya tentang kehidupan remaja.

Spontaneous seakan menjadi sebuah hybrid dari beberapa genre yang ada di film-film remaja mulai dari horror, romance, hingga comedy. Bagaimana tidak, film ini seakan memiliki 3 vibe film yang berbeda selama 100 menitnya. Menyadur vibe kisah anak remaja yang sedang melawan kehidupan layaknya film-film yang dibuat oleh John Hughes. Tetapi juga bisa memberikan sensasi tegang layaknya sebuah film horor Karena bisa saja kejadian ledakan atau di film ini disebut Snooze Button ini terjadi begitu saja. 


Belum lagi, film ini Menyelipkan referensi-referensi pop culture di dalam film ini juga bikin seru. Dari tribute-nya ke E.T. hingga Carrie membuat film ini terasa sangat geeky bagi penonton yang paham referensi komedinya. Tapi, tak masalah, bagi penonton yang tak familiar dengan referensi ini pun masih bisa menikmati film ini dengan maksimal. Karena tetap bisa menikmati bagaiman sang karakter saling menertawakan hidupnya yang tragis.

Penonton seakan diajak untuk merasakan emotional roller coaster dengan range yang cukup jauh. Di saat film ini sangat pintar mendistraksi penonton untuk menikmati sajian komedi dan manisnya jatuh cinta, muncul juga perasaan was-was. Mencurigai apa yang terjadi selanjutnya karena penonton merasakan hal yang terlalu manis di saat kondisi di sekitar karakternya sedang tidak baik-baik saja. Inilah letak serunya menonton Spontaneous, yang sesuai dengan judulnya, akan terjadi perasaan spontan yang muncul saat menikmati film ini di setiap menitnya.

Film ini juga punya waktu untuk bersinar saat mengulik sisi emosionalnya. Paruh ketiga film ini barulah menyoroti hal yang lebih dalam lagi. Mengulik sisi vulnerable dari karakternya yang sudah berkembang dari yang dingin hingga memiliki hati yang hangat. Menggali lebih dalam tentang diri sendiri hingga apapun yang berhubungan dengan orang-orang yang disayang.


Ya, menonton film ini di saat pandemi, seakan diajak untuk memikirkan lagi tujuan dan arti hidup bagi masing-masing individu. Meski film ini dibuat jauh sebelum pandemi melanda, tetapi Spontaneous seakan bisa relevan dengan keadaan yang ada. Ya, begitulah Brian Duffield dengan karya perdananya. Walau kisah remajanya pernah ada sebelumnya, tetapi bisa memberikan pengalaman menonton yang segar dan berbeda.

SOUL (2020) REVIEW: Perjalanan Mencari Arti Kehidupan yang Menyenangkan dan Bermakna


Setelah di awal tahun sebelum pandemi melanda, Pixar telah merilis Sebuah kisah tentang perjalanan kakak dan adik dengan usaha menemui adiknya. Di akhir tahun, Pixar juga menyiapkan satu kisah terbaru lagi untuk bisa dinikmati oleh penggemarnya. Ya, Soul, project milik Pete Docter ini harusnya bisa dinikmati di layar besar di bulan Juni 2020 kemarin. Tetapi, dengan situasi dan kondisi yang belum juga membaik, Disney memutuskan untuk memindahkan Soul ke jadwal rilis yang lebih aman.

Tetapi, bukan lagi menjadi film yang dirilis di bioskop. Soul harus rela dan puas dirilis dalam streaming platform pribadi milik Disney yaitu Disney+. Yes, Soul hadir untuk memeriahkan Hari Natal tahun 2020 kemarin karena rilis bertepatan di tanggal 25 Desember 2020. Pete Docter sepertinya memang tertarik dengan kehidupan di lain dimensi seperti yang dia kulik lewat Inside Out. Bukan tentang perasaan, tetapi Soul mengulik kisah tentang:


“Bagaimana ya proses jiwa-jiwa manusia sebelum lahir ke dalam kehidupan aslinya?”


Bisa saja premis dari kisah yang diangkat di dalam film Soul ini berangkat dari satu pertanyaan menggelitik ini. Akhirnya, Soul hadir menjadi satu fitur film yang dibintangi oleh beberapa nama menarik yang terlibat. Dari Jamie Foxx hingga Tina Fey. Pete Docter juga menulis sendiri kisah tentang kehidupan tentang jiwa-jiwa manusia ini.



Hasilnya, Soul menjadi salah satu karya dari Pixar yang bisa dibilang lebih dewasa dibanding film-film yang lainnya. Bila Inside Out pun mengulik tentang perasaan anak kecil yang sedang berkembang. Soul hadir untuk mengingatkan para manusia paruh baya untuk bisa semangat menjalani hidupnya yang terkadang sudah mulai hilang arah. Ya gimana tidak, kisahnya saja diantarkan dengan karakter orang dewasa yang mulai merasakan krisis identitas di dalam hidupnya. 


Dia adalah Joe Gardner (Jamie Foxx), seorang Musisi yang terjebak dalah kehidupan orang dewasa yang menuntutnya untuk hidup dengan lebih Mawas diri. Dia tetap menjalani kehidupan dengan passion-nya yaitu musik. Tetapi, dia hanyalah menjadi guru musik yang terjebak di situasi itu-itu saja. Hingga akhirnya, sebuah panggilan telepon akan mengubah hidupnya.


Salah satu mantan muridnya, mengajaknya untuk bisa tampil dengan musisi yang dia idamkan, Dorothea Williams. Joe diminta hadir untuk bisa menunjukkan kemampuannya dalam bermain musik Jazz seperti yang biasa dia lakukan. Pada akhirnya, Joe berhasil mendapatkan panggung pertamanya untuk main musik di depan umum. Tetapi, di saat perjalanan pulang dan di mana Joe sedang bahagia-bahagianya, dia malah terjatuh ke dalam lubang pembangunan jalan. Hal ini membuat dirinya koma dan jiwanya tersesat di dunia lain.



Lantas, seperti apa perjalanan Joe setelah memasuki dunia penuh jiwa ini?


Di tengah usahanya untuk bisa kembali ke tubuhnya, kisah Joe di dalam Pixar’s Soul akan memberikan perjalanan yang akan membuka mata penontonnya. Menyampaikan pesan tentang kehidupan yang sangat bermakna bagi penonton-penonton yang sedang mengalami krisis dalam hidupnya. Ya, Pixar mungkin berusaha mendobrak paradigma untuk menggunakan mediumnya— yaitu film animasi— untuk bisa dinikmati oleh penonton dewasa. Tujuan film animasi bukan sebatas memberikan kisah-kisah yang dinikmati oleh penonton anak kecilnya. Serta, film animasi bukan juga untuk menuntun bagaimana anak-anak harus berperilaku.


Lewat Pixar’s Soul, Pete Docter tak memberikan limitasi tentang film animasi harus seperti apa. Dia menceritakan apa yang ingin dia sampaikan dengan medium yang dikuasainya. Hasilnya, film ini memberikan perjalanan yang sangat thoughtful. Apa sih yang kamu mau dalam hidup? Bukankah bertahan dalam kehidupan yang suka ada-ada saja itu sudah lebih dari cukup? Nah, pertanyaan ini yang berusaha dijawab oleh Pete Docter lewat Pixar’s Soul.


Belum jatuh terlalu dalam untuk hadir sebagai film animasi yang terlampau depresif. Mungkin, karena Pixar masih berada di bawah naungan Disney dan masih ingin kisah-kisahnya diterima oleh target segmentasi anak-anak. Pixar’s Soul menyajikan petualangan tentang kehidupan yang masih menyenangkan. Masih menyajikan desain-desain animasi yang menggemaskan dengan warna-warnanya yang colorful ketika berada di The Great Beyond dan The Great Before sebagai settingnya.



Tetapi ketika berada di kehidupan dewasa milik Joe, Pixar’s Soul berusaha untuk menyajikan animasi yang lebih realistis. Dengan penataan kamera dalam film-film animasinya terasa seperti film-film live action yang dengan pencahayaan yang lebih moody. Penuturan kisah yang dilakukan oleh Pete Docter di film Soul mungkin tidak akan sekompleks Inside Out. Ini adalah cara Pete Docter untuk menyampaikan kisah tentang kehidupannya. Mungkin, tahu bahwa membicarakan persoalan kehidupan itu akan menyita waktu dan tenaga. Menyampaikan filmnya pun harus sesantai mungkin agar pesannya bisa diterima dengan maksimal oleh penontonnya.


Benar saja, Pixar’s Soul pun menyajikan kisahnya dengan ringan lewat cerita body swap yang ada di dalam film ini. Menyenangkan mengikuti perjalanan Joe dan si gemas, Mr. Mittens untuk menjadi melihat dunia dan kehidupan di sekitarnya. Naskahnya seakan tak berusaha untuuk pretensius layaknya Inside Out. Tetapi, setelah menonton film ini dampak yang dihadirkan akan lebih bermakna. Ya, seakan Pete Docter berusaha untuk membuat filmnya juga sama bermaknanya dengan kehidupan yang dijalani oleh Joe dan bisa diaplikasikan kepada kehidupan penontonnya.


Bukan film Pixar namanya apabila tidak menyelipkan adegan-adegan emosional yang bisa membuat penontonnya merenung atau bisa menjatuhkan air mata. Yes, Pixar’s Soul tentu memiliki adegan-adegan tersebut. Tetapi, rasanya kali ini berbeda dengan film-film Pixar yang lain. Bukan adegan emosional yang akan memberikan perasaan sedih, tetapi perasaan lega. Menontonnya akan membuat penonton untuk berkontemplasi akan kehidupannya, merenungkan apa yang sudah pernah dilakukan. Lalu, membawa penonton untuk bisa menangis bahagia di akhir film karena seakan ikut sudah menemukan sparks dalam hidup mereka seperti karakter Joe dan 22 di dalam film ini.



Keindahan dari Pixar’s Soul dilengkapi dengan scoring dari Trent Raznor & Atticus Ross yang berkolaborasi dengan musik Jazz dari Jon Batiste. Memperkuat segala vibe Jazz tetapi juga bisa memperkuat nuansa dunia The Great Beyond dan The Great Before dengan musik techno yang terasa futuristik ini. Menjadikan setiap perjalanannya memiliki musik temanya masing-masing ditutup dengan lagu It’s Alright yang dilantunkan oleh Jon Batiste berkolaborasi dengan Celeste untuk menutup filmnya.


Maka dari itu, Pixar’s Soul adalah sebuah perjalanan menelusuri arti tentang kehidupan yang lengkap. Tak sekedar perjalanan yang menyenangkan untuk diikuti. Tetapi juga memberikan arti tentang kehidupan yang sangat bermakna sekaligus dibawa ke dunia imajinatif Pixar dan sangat emosional. Layaknya kehidupan yang kamu jalani sekarang. Meski banyak naik turunnya, tapi tetap sebuah perjalanan yang layak kamu nikmati segala prosesnya. Ya, Pixar’s Soul pun berusaha untuk terlihat demikian. Bagus sekali!

WONDER WOMAN 1984 (2020) REVIEW: Petualangan Terbaru Diana Prince yang Lebih Personal

Di antara semua judul-judul besar yang mau mundur atau lari ke streaming services, ada beberapa judul pula yang memberanikan diri untuk tetap rilis di tengah keringnya film-film yang tayang di bioskop. Tentu, semua dengan harapan ingin ditonton oleh penontonnya. Meskipun dengan protokol kesehatan yang ketat, limitasi kursi penonton, dan masih banyak hal-hal kecil lain yang bisa jadi perhatian.

Warner Bros Pictures telah merilis dua filmnya ke pasar domestik dan internasional. Tenet milik Christopher Nolan dan selanjutnya adalah Wonder Woman 1984. Iya, sekuel dari Wonder Woman ini akhirnya dilepas untuk penontonnya. Tetapi, ada 2 cara penontonnya bisa menikmati film ini. Lewat bioskop tentu saja serta langganan streaming service HBO Max yang hanya dimiliki oleh para penduduk di Amerika Serikat sana.


Langkah yang berani.


Mungkin itu yang sedang dijalankan oleh Warner Bros Karena tak mau terus menerus menahan filmnya tanpa ada yang menghasilkan. Wonder Woman 1984 ini tetap dipegang kendalinya oleh sang sutradara film pertamanya, Patty Jenkins. Tentu saja, Gal Gadot tetap menjadi sang superhero bernama Diana Prince ini. Semakin meriah, Karena ada banyak nama-nama baru yang bergabung menjalankan proyek satu ini.


Kristen Wiig dan Pedro Pascal. Dua nama yang bergabung di dalam sekuel pahlawan super Perempuan dari Themyscira ini. Mereka menjadi super villain yang menghadang jalan Wonder Woman untuk bisa menyelamatkan dunia.



Lantas, apa yang terjadi oleh Diana Prince kali ini?


Berpuluh-puluh tahun semenjak Wonder Woman pertama, kali ini Diana Prince (Gal Gadot) hidup di tahun 1980-an. Di mana, banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam hidupnya. Tetapi, satu hal yang tak berubah adalah kebenaran yang dianut olehnya sebagai sosok Wonder Woman dan cintanya kepada belahan hatinya, Steve (Chris Pine). Meski dia sudah pergi berpuluh-puluh tahun dan Diana telah menjalani berbagai macam kehidupan, tetapi hidupnya tetap dibayangi oleh sang kekasih hati.


Hingga akhirnya, di tempat Diana sedang bekerja, dia menemukan Sebuah batu yang sedang diteliti. Konon Katanya, batu tersebut bisa mengabulkan keinginan siapapun yang memegangnya. Tetapi, batu tersebut diteliti terlebih oleh Diana dan rekan kerja barunya, Barbara Minerva (Kristen Wiig). Di lain hal pula, seorang pengusaha bernama Maxwell Lord (Pedro Pascal) juga mengincar batu tersebut untuk menguasai dunia.



Mengantarkan satu film dengan adanya dua villain yang berbeda menjadi hal yang harus benar-benar diperhatikan. Meskipun, adanya villain yang tak Hanya satu ini sudah sering dipakai formulanya oleh DC films lantas tak semuanya berhasil dilakukan. Wonder Woman pertama pun sudah pernah memakai formula serupa. Nyatanya, semuanya terlalu dipermukaan dengan motif yang tak terlalu kuat.


Kelemahan yang ada di film pertamanya inilah yang sepertinya ingin diperbaiki oleh Patty Jenkins di film keduanya. Lewat Wonder Woman 1984, Patty Jenkins bisa mengenalkan karakter-karakter villain-nya dengan matang. Tetapi, dengan adanya ruang yang besar untuk para karakter-karakter lain untuk berkembang, ada juga yang harus dikorbankan. Durasi dari Wonder Woman 1984 harus merentang hingga 150 menit.


Mengurangi pula spektakel aksi di dalam filmnya hingga Wonder Woman 1984 ini berfokus kepada plot cerita. Tidak ada yang salah memang, Karena Wonder Woman 1984 juga cukup berhasil mengantarkan ceritanya dengan sangat menarik. Bukan karakter penjahatnya saja, tetapi juga karakter Diana yang juga ikut berkembang, ikut memperlihatkan berbagai macam emosi yang memperlihatkan sisi manusiawi di dalam dirinya sebagai pahlawan super.



Menunjukkan hati yang besar untuk bisa dirasakan penontonnya.


Inilah yang menjadi hal utama dari Wonder Woman 1984. Selama spektakel aksi tak bisa ditunjukkan terlalu banyak, tetapi penuturan kisahnya yang Penuh hati ini sangat menarik untuk diikuti. Penyampaian kisahnya yang emosional dan penuh harapan ini membuat Wonder Woman 1984 sangat nyaman untuk diikuti. Meski membangun tensinya perlahan, tapi penonton bisa paham benar dengan semua latar belakang kisahnya setiap karakternya.


Apa yang membuat Diana bisa memperlihatkan sisi vulnerability-nya yang jarang terlihat seperti di film sebelumnya. Bagaimana Barbara dan Maxwell akhirnya bisa mendapatkan kekuatan dan tak mau melepaskan hal tersebut dari hidupnya. Meskipun, harus ditutup dengan penyelesaian yang seperti ala kadarnya dan terasa penuh khutbah. Tetapi, masih ada segala macam emosi yang ditunjukkan di dalam filmnya.


Perasaan penuh kasih, penuh cinta, dan penuh harapan. Hal-hal itu yang bisa dirasakan selama menonton film ini. Penuturan Patty Jenkins yang lembut di dalam film ini seakan menunjukkan bahwa perempuan dalam mengarahkan sebuah film memiliki keunggulannya dalam menuturkan rasa di dalamnya. Dibalut pula dengan akting Gal Gadot yang terlihat semakin matang. Chemistry-nya dengan Chris Pine sebagai sepasang kekasih yang sudah lama tak Bertemu bisa membuat penontonnya menaruh simpati.



Tak dengan kekurangan pula. Film yang sudah dibangun megah ini memiliki penyelesaian konflik yang terlalu mudah. Mungkin karena penggambaran karakter villain yang terlalu kuat juga jadi faktor utamanya. Terlebih final battle yang ada di film ini tak bisa menyamai kualitasnya dengan beberapa battle

scene yang ada di paruh awal dan tengahnya. Satu mitos legenda yang digunakan di dalam cerita di film ini tentang Asteria pun tak bisa tampil sempurna. Sehingga beberapa build-up cerita di awal seperti tidak ada pengaruh apa-apa. 


Tak ada kesan cynical di dalam Wonder Woman 1984 yang membuat filmnya semakin menyenangkan untuk diikuti. Apalagi, menyematkan Sebuah tribute ke beberapa film Superman di awal-awal film ini dan atmosfir yang sama ini juga menjadi kelebihan Wonder Woman 1984 dibanding film sebelumnya. Tak salah, apabila Warner Bros dan DC Films menunjuk Patty Jenkins untuk mengarahkan seri ketiga dari Wonder Woman nanti.


[NOW STREAMING] THE FIRST (2020)

Akan menjadi perjalanan menarik dalam sebuah film atau series untuk membahas bagaimana sebuah korporasi atau seseorang yang memiliki ambisi untuk terbang menembus atmosfir. Ada banyak beberapa film atau series yang mungkin akan membahas hal serupa. Tentu, ini bukan jadi hal baru bagi industri perfilman. Tapi, bagaimana para pembuatnya ini mengemas ceritanya itu yang menjadi pembeda bagi penontonnya.


Misi perjalanan ke Mars?


Sebuah perjalanan yang menarik bila menjadi sesuatu gambar bergerak. Sama persis yang dilakukan oleh sebuah serial televisi yang ada di Mola TV berjudul The First. Serial yang dibintangi oleh Sean Penn, Natascha McElhone, Lisa Gay Hamilton ini menyoroti sebuah misi pertama dari orang-orang di Bumi untuk melakukan perjalanan ke Mars. Tapi, bukan proses perjalanannya hingga akhirnya bisa sampai ke planet lain, tapi ada konflik yang berbeda yang disoroti oleh serial ini.


The First adalah sebuah series yang dibuat di tahun 2018 ini yang memiliki 1 season dalam penayangannya. Memiliki 8 episode di dalam musim pertamanya dengan mempunyai durasi kurang lebih 45 menit di setiap episodenya. Beau Willimon, menjadi orang dibalik serial ini dan pernah menangani serial lain yang tak kalah serunya. Meski dengan tema yang berat dan terlihat akan membahas lebih tentang segala perjalanan ilmiahnya. Tapi, The First memilih untuk menyoroti hal lain dalam prosesnya.



Bukan juga dibilang proses, karena perjalanan menuju Mars ini tak semulus yang akan dikira oleh orang-orang. Sebuah korporasi besar bernama Vista memiliki ambisi besar untuk bisa melakukan perjalanan ke Mars. Misinya ini pun penting karena ingin mencari alternatif kehidupan di Mars di mana orang-orang Bumi juga bisa ikut merasakannya. Maka dari itu, Laz Ingram (Natascha McElhone), berusaha keras agar misi ini tercapai.


Dikirimlah 5 orang untuk melakukan misi ini. Tetapi, misi harus menghadapi kenyataan pahit yang tak pernah dibayangkan oleh Laz Ingram sebelumnya. Ya, misi ini gagal. Pesawat luar angkasa yang mengangkut para astronot di dalamnya mengalami kecelakaan tragis dan menewaskan semuanya. Tentu, kejadian ini membuat banyak pihak terpukul. Tak hanya Laz Ingram sebagai seorang CEO dari korporasi ini. Tetapi, juga Tom Hagerty (Sean Penn), mantan pemimpin dari grup yang akan terbang ke Mars ini.


Kegagalan yang dialami oleh para karakter di dalam film ini menjadi sebuah hal yang menarik untuk dikulik. Biasanya, ada kesan hopeful dan memperlihatkan proses untuk menjalankan sebuah misi di Mars di beberapa film atau series serupa. Tapi, serial satu ini mengambil jalan lain. Memperlihatkan sisi vulnerability dari para karakternya untuk digali lebih dalam lagi untuk bisa menimbulkan simpati kepada penontonnya.



Menarik lagi, karena The First tak hanya bermain dan fokus terhadap proses menuju misinya. Tetapi, juga konflik lain dalam pro dan kontranya. Menggunakan kegagalan yang terjadi di awal episode ini sebagai pondasi cerita juga. Menjadikannya sebagai sebuah pelajaran untuk melakukan misi terbaru di dalam serialnya. Tak hanya drama memotivasi, tetapi juga menampilkan court room drama yang menarik untuk disimak. Memperlihatkan persuasi yang dilakukan oleh karakter-karakter utamanya yang bisa menarik simpati penontonnya.


Meyakinkan bahwa misi ini adalah misi terbaru yang belum pernah dilakukan oleh orang-orang lain sebelumnya. Menunjukkan pula bahwa misi ini juga dilakukan demi masa depan manusia yang lebih baik dengan berbagai alasan. Tetapi, juga ada zona abu-abu di dalam misinya yang membuat penontonnya akan mempertanyakan tujuannya dan itu sangat menarik untuk disimak.


Nah, jadi, buat yang udah gak sabar buat nonton The First ini bisa langsung ke Mola TV. Harga langganannya juga sangat terjangkau dengan cuma Rp12.500 aja. Ini sudah termasuk langganan 30 hari. Kalau mau langsung nonton serialnya bisa langsung di sini

TENET (2020) REVIEW: Yang Baru Dari Nolan, Tapi Bukan yang Terbaik

Christopher Nolan dengan filmografinya menjadi hal yang menarik untuk diikuti. Banyak penikmat film yang menunggu apa yang bakal dibuat olehnya. Hal unik apa lagi yang bakal diangkat oleh sutradara ini utnuk dijadikan sebagai sebuah gambar bergerak.

Konsep fiksi ilmiah.


Hal yang pasti selalu ada di dalam film-film miliknya. Bahkan, dengan cerita yang Berdasarkan kisah nyata pun, Nolan juga bisa menyelipkan unsur tersebut di dalam filmnya. Yes, dengan Dunkirk, penonton dibawa ke penuturan cerita yang menarik di dalam filmnya. Maka dari itu, sangat menarik pula untuk menyaksikan project terbaru dari Nolan yang rilis di tahun ini, Tenet.


Tenet, yang harusnya tayang di bioskop tahun ini, menjadi salah satu film yang ditunggu. Menarik, karena Nolan berusaha menyembunyikan sesuatu di balik Trailer. Cerita apa lagi yang bakal disampaikan Christopher Nolan lewat Tenet ini. Menurutnya, ini adalah film heist yang tentu masih dengan signature cerita dan pengarahannya. Dibintangi oleh beberapa nama yang menarik untuk dikulik. Mulai dari John David Washington, anak dari Denzel Washington. Lalu, juga ada Robert Pattinson, Elizabeth Debicki, Kenneth Branagh, hingga Michael Caine.



Lantas seperti apa Tenet berjalan?


Christopher Nolan tak membuat filmnya untuk bertele-tele menceritakan awal mula filmnya dengan perlahan. Perjalanan film Tenet langsung berjalan kencang memunculkan sebuah keriuhan yang terjadi di sebuah tempat dengan berbagai macam misi. Iya, ditemukan seorang tokoh utama yang tanpa nama dan diperankan oleh John David Washington ini sebut saja The Protagonist. Dia tengah melakukan sebuah misi yang penonton tak beri tahu secara detil.


Tapi, ketika hidupnya dikira akan berakhir sampai misi itu selesai, nyatanya tidak. The Protagonist mencari tahu sesuatu yang dia temukan di saat menjalankan misi sebelumnya. Ada seseorang yang melakukan time inversion tetapi bukan dari pihaknya. Ketika diusut, hal ini ada hal yang berhubungan dengan kepentingan orang dari masa depan yang ingin membuat dunia semakin berantakan dan penuh akan perang. The Protagonist berusaha mencari siapa dalang dari semua hal ini.



Bukan yang terbaik dari Nolan, tapi gak seburuk yang dikata orang.


Pernyataan itulah yang terlintas ketika selesai menonton film terbaru dari Christopher Nolan. Iya, dengan premis cerita yang ringan dan sederhana ini, Nolan mengajak penontonnya itu mengarungi pemikirannya yang seperti labirin. Perjalanan untuk bisa mengetahui inti ceritanya tak semudah dari titik awal lalu lurus ke garis akhir. Tapi, akan diajak dulu ke alternatif jalan lain yang lebih berkelok untuk akhirnya bisa menemukan garis akhirnya. Lama, tapi sebenarnya perjalanan itu akan dibuat menarik oleh Nolan.


Ya, begitulah film-film Nolan. Tenet seakan ingin mengulang apa yang dia lakukan dengan Memento. Terlihat dengan bagaimana adegan utama di film ini sudah menyuguhkan keriuhan yang membuat penontonnya bertanya-tanya apa yang terjadi selanjutnya. Tapi, Nolan pun sudah menyuguhi tanda untuk penontonnya untuk tak terlalu ambil pusing dengan segala keribetan yang terjadi di dalam plotnya lewat dialog dari salah satu karakternya.


“Don’t try to understand it, just feel it”


Gak perlu kamu berusaha untuk memahami secara detail dengan segala keribetan teori tentang time inversion  di dalam film ini. Tentu masih ada hubungan di dalam ceritanya, tapi time inversion digunakan sebagai distraksi penonton untuk tetap terjaga, untuk tetap penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya. Karena setelahnya, segala keribetan itu pun akan terjawab sudah di sepertiga akhir dari filmnya. Semuanya akan terjawab dengan mudah sebenarnya.



Benar adanya dialog yang sudah ditebar di awal film ini. Tonton saja film berdurasi 150 menit ini dengan seksama, dengan berbagai macam cabang cerita yang menarik untuk diikuti. Tak Hanya fokus tentang heist motive menjadi jalan cerita utamanya. Tapi, cabang cerita lain tentang perjuangan seorang Ibu demi selalu dekat dengan anaknya yang juga cukup menyita perhatian. Itu pun diperkuat dengan pesona dan penampilan Elizabeth Debicki yang menarik.


Tenet, bila diartikan secara harfiah pun adalah sebuah keyakinan atau sebuah prinsip. Ya, ini yang berusaha ditekankan oleh Christopher Nolan di dalam filmnya. Keyakinan dari karakter yang dibuatnya ini memahami realita yang ada di sekitarnya. Begitu pula dengan pemahaman dari penontonnya karena segala cerita yang berusaha disampaikan oleh Christopher Nolan dalam Tenet ini sebetulnya adalah sebuah lingkaran yang tak tanpa henti. Berputar di situ-situ saja intinya, tapi terserah kamu mau memulai garis awalnya dari mana.


Maka dari itu, benar apabila menggunakan Time Inversion untuk menjalankan plot ceritanya. Konsep yang menarik sebenarnya. Apalagi untuk penonton yang memang mencintai atau gemar dengan film-film bertema serupa. Hanya saja, menyampaikan kisahnya yang terlalu bercabang dan rumit sendiri ini lah yang terkadang membuat filmnya agak sedikit kewalahan. Fokus yang terlalu banyak inilah yang membuat segalanya agak rumit untuk diikuti. Andai saja, Christopher Nolan fokus untuk menceritakan segala riweuhnya time inversion yang dia buat. Mungkin, segalanya berjalan dengan lancar.



Tapi, tetap saja, Tenet masih menjadi sebuah sajian yang menyenangkan untuk diikuti dengan segala action sequences yang sangat menarik. Dengan segala ledakan-ledakan tanpa CGI yang membuat penontonnya kagum. Akan sangat menarik apabila film ini disaksikan dengan layar yang besar. Jadi, tunggu saja, mungkin ketika waktunya tepat, film ini akan segera dirilis di Indonesia dengan format yang lebih layak dan sesuai. Mungkin buat yang Sudah tidak sabar seperti saya, menontonnya dalam format Bluray pun juga bisa.


Cuma, tentu akan rela untuk menonton film ini lagi di bioskop (Jika bioskop di sekitar daerah tempat saya tinggal sudah buka)

[NOW STREAMING] MOLA LIVING LIVE: Menilik Kehidupan Para Bintang


Pernah gak sih punya keinginan untuk tahu lebih dekat dengan beberapa nama terkenal dan mengetahui apa aja sih yang dibahas sama mereka? Mencari-cari info tentang mereka mungkin bisa jadi salah satu cara. Tapi, itu pun belum tentu bisa menjawab beberapa kebutuhan informasi yang ingin kita dapat.

Nah, Mola TV, sebagai salah satu platform streaming ini punya segmen sendiri biar bisa mengenal lebih dekat dengan nama-nama terkenal. Maka dari itu, Mola TV menyediakan ruang untuk mendekatkan penonton dengan nama-nama besar ini dengan lebih intimate yaitu Mola Living Live. Ini adalah acara di mana nama-nama besar akan bisa memberikan inspirasi secara langsung bagi para penontonnya agar bisa terasa lebih dekat.

Sudah ada banyak nama yang terlibat dalam acara Mola Living Live ini. Pastinya, nama-nama lain yang bakal terlibat bakal terus bertambah, nih. Mulai dari Luc Besson, Mike Tyson, Sharon Stone, Darren Aronofsky, hingga Spike Lee sudah dihadirkan untuk menginspirasi penonton yang memang passion dengan bidang yang ditekuni oleh nama-nama tersebut.


Dengan banyaknya nama-nama terkenal yang ada di dalam acara ini, tak membuat mereka membicarakan hal-hal yang sama. Tentu ada banyak topik yang bakal diangkat di setiap episode di Mola Living Live ini dan ternyata setiap nama-nama besar memiliki hal-hal yang menarik untuk dikulik. Ada sisi lain pula yang membuat wawancara yang dilakukan di acara ini tetap menarik untuk ditonton sampai akhir.


Tenang, bakal ada moderator keren yang nemenin sampai acara ini selesai juga kok. Para moderator ini juga disesuaikan dengan para bintang yang sedang hadir dan sesuai dengan bidang masing-masing. Mulai dari Reza Rahadian, Timo Tjahjanto, hingga Susi Pudjiastuti. Wah, jelas bakal menarik banget mengetahui moderatornya pun memiliki dasar pengetahuan yang sama yang membuat penonton bisa mendapatkan informasi yang jadi lebih kaya.


Membahas tentang perjalanan hidup para bintang dari awal hingga akhir. Problematika apa yang ditemukan oleh mereka. Hingga, membahas tentang proyek-proyek apa yang mereka kerjakan. Wah, ini pasti jadi bocoran buat kamu biar tahu apa aja sih yang mereka lakukan. Siapa tahu, kamu sebagai penggemar dari nama-nama tersebut bisa semakin kenal dan tahu bahkan bisa semakin excited untuk menantikan karya-karya terbaru yang akan mereka buat.


Maka dari itu, Mola Living Live juga gak bakal berhenti untuk terus mencari narasumber lain untuk bisa memberikan tontonan yang menginspirasi. Di tanggal 16 Desember 2020 nanti, Robert De Niro yang bakal hadir untuk membagikan ceritanya kepada penonton Mola TV yang ada di rumah. Jadi, buat kamu yang sudah mengagumi performa akting dari aktor legendaris ini saatnya siap-siap menyiapkan pertanyaan, karena kamu bisa tanya langsung di sesi tanya jawab.


Menilik dulu, siapa itu Robert De Niro, dia adalah salah satu aktor legendaris yang pernah terjun ke beberapa film dalam rekam jejaknya. Sudah juga bekerjasama dengan berbagai macam sineas legendaris pula seperti Martin Scorsese dengan berbagai judul. Dari Taxi Driver hingga The Irishman. Ada pula kolaborasinya dengan Michael Mann lewat Heat dan masih banyak lagi.


“One of the things about acting is it allows you to live other people's lives without having to pay the price.” - Robert De-Niro.


Sebuah kalimat menarik dari Robert De-Niro tentang bagaimana dirinya mencintai dunia perannya. Wah, bakal menjadi diskusi yang menarik nih.


Jadi, langsung siap-siap buat langganan Mola TV sekarang. Cuma Rp12.500 aja, kamu udah bisa akses selama satu bulan. Gak cuma bisa nonton acara keren ini, kamu juga bisa cari-cari film hidden gem yang keren-keren nih. Dengan pembayaran yang mudah pula, karena bisa memakai banyak metode pembayaran. Jadi, langsung streaming sekarang di sini dan jangan sampai ketinggalan ya!

NEVER RARELY SOMETIMES ALWAYS (2020) REVIEW: Perjalanan Perempuan Menentukan Keputusan Untuk Tubuhnya


Remaja dan eksplorasi terhadap tubuhnya. Menjadi sebuah persoalan yang mungkin akan terus terjadi selama mereka tak memiliki ruang untuk bisa mempelajarinya dengan tepat. Realita-realita tentang remaja dan kehidupan seksualnya yang beberapa tak ada yang mengerti dengan benar inilah yang perlu disebarkan. Dengan tujuan, memberikan realita kepada orang lain bahwa masih ada banyak orang-orang yang belum terpapar benar terhadap pendidikan seks.


Film dengan beragam fungsi, menjadi salah satu medium untuk memberi gambaran tentang realita yang ada. Mungkin dengan dasar inilah, Eliza Hittman membuat karya terbarunya. Never Rarely Sometimes Always, karya terbarunya ini tak hanya bertanggungjawab di kursi sutradara saja. Tapi, dia juga bertanggungjawab atas naskah di filmnya. Menarik, karena film ini pun menyoroti kehidupan karakter utama perempuan yang diperankan oleh Sidney Flanigan.


Menarik mendapatkan kisah tentang perempuan yang ditulis sendiri oleh perempuan. Karena pasti ada sensitivitas yang berbeda yang tak mungkin didapatkan dari sutradara dengan jenis kelamin berbeda. Seakan ini adalah medium bagi perempuan untuk menyuarakan pendapat dari sudut pandang mereka. Begitu pula yang terjadi di film Never Rarely Sometimes Always. Menyoroti problematika remaja perempuan yang sedang kehilangan arah saat menemui dirinya sedang hamil.



Ya, film ini dimulai dari masalah milik remaja perempuan usia 17 tahun bernama Autumn (Sidney Flanigan). Entah setelah berhubungan dengan siapa, di film ini diceritakan dia telah mengandung seorang bayi berumur 10 minggu kata klinik dekat rumahnya. Tapi, Autumn memutuskan untuk tak mempertahankan anak yang ada di dalam kandungannya. Dia berusaha melakukan aborsi agar bisa meneruskan hidupnya sebagai remaja SMA yang memasuki tahun terakhir sekolahnya.


Autumn pun tak memberitahukan perihal kehamilannya dengan keluarganya. Tapi, Autumn berusaha menceritakan problemnya ini ke sepupunya bernama Skylar (Taila Ryder). Tak berusaha untuk malah menilai perbuatan Autumn, Skylar berusaha mendukung apa yang ingin dilakukan oleh Autumn. Pergilah dia ke tempat di mana Autumn bisa ‘menghilangkan’ kandungan yang ada di dalam perutnya.



Memfokuskan filmnya ke masalah perempuan dengan tubuhnya.

Seperti yang sudah dibilang di sinopsis tadi, tak ada cerita tentang bagaimana Autumn bisa mengandung anaknya. Bersama siapa dia telah melakukan hubungan intimnya. Tapi, Never Rarely Sometimes Always ini lebih fokus terhadap Masalah Autumn dengan dirinya, dengan keputusan dalam hidupnya. Eliza Hittman seperti menggunakan filmnya sebagai medium perempuan untuk bersuara.


Menggunakan Autumn sebagai karakter yang bisa diasosiasikan dengan problematika perempuan yang relevan dengan kondisi masa kini. Di mana dia tetap teguh dengan pendiriannya, teguh akan pilihannya untuk menentukan hidupnya bakal seperti apa. Penonton akan diajak ke perjalanan Autumn yang atmosfirnya cukup gelap. Tetapi, Eliza Hittman tetap bisa memberikan ruang bagi penonton untuk bisa menaruh simpati terhadap karakternya.


Ini didukung dengan performa dari Sidney Flanigan yang bisa menghinoptis penontonnya. Mungkin tak banyak bicara, tapi subtlety dalam permainan perannya bisa mengungkapkan segala keresahan dalam dirinya. Memperlihatkan kebingungan, kehampaan, dan kecemasan karakter Autumn tanpa harus terlihat meluap-luap. Biarkan pula masalah di sekitar karakternya berkembang dan pada akhirnya sang karakter utamanya ini bisa mulai perlahan-lahan terbuka. Memeluk segala masalah dan trauma dari dalam dirinya hingga bisa melepaskan segala keresahannya.


Never. Rarely. Sometimes. Always. Empat kata yang menyusun menjadi judulnya ini ternyata berperan penting menjadi kunci di dalam filmnya. Autumn yang sudah lama memendam perasaan hanya bisa mengungkapkan apa yang dia rasa lewat empat opsi kata ini dalam yang biasa muncul dalam survey. Hingga pada akhirnya, penonton bisa mengetahui apa yang menyebabkan Autumn memutuskan untuk mengugurkan kandungannya.



HER LIFE. HER CHOICE. HER DECISION.

Mungkin itu juga yang pas menggambarkan film ini. Setelah filmnya berakhir pun, tak ada mengulik lagi seperti apa kehidupan Autumn setelahnya. Ini murni sebagai pengingat, sebagai medium bagi sang sutradara untuk lebih fokus terhadap problem yang dihadapi oleh seorang perempuan. 


Mereka hidup dengan penuh ancaman, kekerasan, dan kontrol atas tubuh serta keputusannya. Laki-laki dan kuasanya memiliki kontrol atas perempuan. Tetapi, perempuan sendiri tak pernah punya ruang untuk bergerak, mengekspresikan dirinya, memiliki kontrol pula atas dirinya. Yang mereka butuhkan pun sederhana. Mereka butuh ruang untuk menyampaikan suaranya, mereka butuh perempuan yang juga tahu akan perjalanannya. Mereka juga butuh perempuan yang memberikan support agar dirinya tahu bahwa dia tidak sendirian. Seperti yang dilakukan oleh Skylar kepada Autumn di film ini.


Maka, penting untuk menonton Never Rarely Sometimes Always ini. Sebuah film yang mungkin akan menampar penontonnya. Menyusuri realita kehidupan yang gelap tentang perempuan dan tubuhnya hingga bagaimana perempuan mengambil keputusan dalam hidupnya. Setelah nonton pun, penonton akan merasa dihantui dengan penuturan filmnya yang lembut tapi berdampak sangat besar. Salah satu film penting dan terbaik di tahun ini.


Available on HBO MAX