• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label Wonder Woman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wonder Woman. Tampilkan semua postingan

WONDER WOMAN 1984 (2020) REVIEW: Petualangan Terbaru Diana Prince yang Lebih Personal

Di antara semua judul-judul besar yang mau mundur atau lari ke streaming services, ada beberapa judul pula yang memberanikan diri untuk tetap rilis di tengah keringnya film-film yang tayang di bioskop. Tentu, semua dengan harapan ingin ditonton oleh penontonnya. Meskipun dengan protokol kesehatan yang ketat, limitasi kursi penonton, dan masih banyak hal-hal kecil lain yang bisa jadi perhatian.

Warner Bros Pictures telah merilis dua filmnya ke pasar domestik dan internasional. Tenet milik Christopher Nolan dan selanjutnya adalah Wonder Woman 1984. Iya, sekuel dari Wonder Woman ini akhirnya dilepas untuk penontonnya. Tetapi, ada 2 cara penontonnya bisa menikmati film ini. Lewat bioskop tentu saja serta langganan streaming service HBO Max yang hanya dimiliki oleh para penduduk di Amerika Serikat sana.


Langkah yang berani.


Mungkin itu yang sedang dijalankan oleh Warner Bros Karena tak mau terus menerus menahan filmnya tanpa ada yang menghasilkan. Wonder Woman 1984 ini tetap dipegang kendalinya oleh sang sutradara film pertamanya, Patty Jenkins. Tentu saja, Gal Gadot tetap menjadi sang superhero bernama Diana Prince ini. Semakin meriah, Karena ada banyak nama-nama baru yang bergabung menjalankan proyek satu ini.


Kristen Wiig dan Pedro Pascal. Dua nama yang bergabung di dalam sekuel pahlawan super Perempuan dari Themyscira ini. Mereka menjadi super villain yang menghadang jalan Wonder Woman untuk bisa menyelamatkan dunia.



Lantas, apa yang terjadi oleh Diana Prince kali ini?


Berpuluh-puluh tahun semenjak Wonder Woman pertama, kali ini Diana Prince (Gal Gadot) hidup di tahun 1980-an. Di mana, banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam hidupnya. Tetapi, satu hal yang tak berubah adalah kebenaran yang dianut olehnya sebagai sosok Wonder Woman dan cintanya kepada belahan hatinya, Steve (Chris Pine). Meski dia sudah pergi berpuluh-puluh tahun dan Diana telah menjalani berbagai macam kehidupan, tetapi hidupnya tetap dibayangi oleh sang kekasih hati.


Hingga akhirnya, di tempat Diana sedang bekerja, dia menemukan Sebuah batu yang sedang diteliti. Konon Katanya, batu tersebut bisa mengabulkan keinginan siapapun yang memegangnya. Tetapi, batu tersebut diteliti terlebih oleh Diana dan rekan kerja barunya, Barbara Minerva (Kristen Wiig). Di lain hal pula, seorang pengusaha bernama Maxwell Lord (Pedro Pascal) juga mengincar batu tersebut untuk menguasai dunia.



Mengantarkan satu film dengan adanya dua villain yang berbeda menjadi hal yang harus benar-benar diperhatikan. Meskipun, adanya villain yang tak Hanya satu ini sudah sering dipakai formulanya oleh DC films lantas tak semuanya berhasil dilakukan. Wonder Woman pertama pun sudah pernah memakai formula serupa. Nyatanya, semuanya terlalu dipermukaan dengan motif yang tak terlalu kuat.


Kelemahan yang ada di film pertamanya inilah yang sepertinya ingin diperbaiki oleh Patty Jenkins di film keduanya. Lewat Wonder Woman 1984, Patty Jenkins bisa mengenalkan karakter-karakter villain-nya dengan matang. Tetapi, dengan adanya ruang yang besar untuk para karakter-karakter lain untuk berkembang, ada juga yang harus dikorbankan. Durasi dari Wonder Woman 1984 harus merentang hingga 150 menit.


Mengurangi pula spektakel aksi di dalam filmnya hingga Wonder Woman 1984 ini berfokus kepada plot cerita. Tidak ada yang salah memang, Karena Wonder Woman 1984 juga cukup berhasil mengantarkan ceritanya dengan sangat menarik. Bukan karakter penjahatnya saja, tetapi juga karakter Diana yang juga ikut berkembang, ikut memperlihatkan berbagai macam emosi yang memperlihatkan sisi manusiawi di dalam dirinya sebagai pahlawan super.



Menunjukkan hati yang besar untuk bisa dirasakan penontonnya.


Inilah yang menjadi hal utama dari Wonder Woman 1984. Selama spektakel aksi tak bisa ditunjukkan terlalu banyak, tetapi penuturan kisahnya yang Penuh hati ini sangat menarik untuk diikuti. Penyampaian kisahnya yang emosional dan penuh harapan ini membuat Wonder Woman 1984 sangat nyaman untuk diikuti. Meski membangun tensinya perlahan, tapi penonton bisa paham benar dengan semua latar belakang kisahnya setiap karakternya.


Apa yang membuat Diana bisa memperlihatkan sisi vulnerability-nya yang jarang terlihat seperti di film sebelumnya. Bagaimana Barbara dan Maxwell akhirnya bisa mendapatkan kekuatan dan tak mau melepaskan hal tersebut dari hidupnya. Meskipun, harus ditutup dengan penyelesaian yang seperti ala kadarnya dan terasa penuh khutbah. Tetapi, masih ada segala macam emosi yang ditunjukkan di dalam filmnya.


Perasaan penuh kasih, penuh cinta, dan penuh harapan. Hal-hal itu yang bisa dirasakan selama menonton film ini. Penuturan Patty Jenkins yang lembut di dalam film ini seakan menunjukkan bahwa perempuan dalam mengarahkan sebuah film memiliki keunggulannya dalam menuturkan rasa di dalamnya. Dibalut pula dengan akting Gal Gadot yang terlihat semakin matang. Chemistry-nya dengan Chris Pine sebagai sepasang kekasih yang sudah lama tak Bertemu bisa membuat penontonnya menaruh simpati.



Tak dengan kekurangan pula. Film yang sudah dibangun megah ini memiliki penyelesaian konflik yang terlalu mudah. Mungkin karena penggambaran karakter villain yang terlalu kuat juga jadi faktor utamanya. Terlebih final battle yang ada di film ini tak bisa menyamai kualitasnya dengan beberapa battle

scene yang ada di paruh awal dan tengahnya. Satu mitos legenda yang digunakan di dalam cerita di film ini tentang Asteria pun tak bisa tampil sempurna. Sehingga beberapa build-up cerita di awal seperti tidak ada pengaruh apa-apa. 


Tak ada kesan cynical di dalam Wonder Woman 1984 yang membuat filmnya semakin menyenangkan untuk diikuti. Apalagi, menyematkan Sebuah tribute ke beberapa film Superman di awal-awal film ini dan atmosfir yang sama ini juga menjadi kelebihan Wonder Woman 1984 dibanding film sebelumnya. Tak salah, apabila Warner Bros dan DC Films menunjuk Patty Jenkins untuk mengarahkan seri ketiga dari Wonder Woman nanti.


WONDER WOMAN (2017) REVIEW : Hanya Film Manusia Super Seperti Biasanya



DC Extended Universe kembali mengeluarkan sebuah kisah salah satu manusia supernya untuk dikenalkan agar bangunan dunianya semakin memiliki dimensinya. Digadang sebagai sebuah film manusia super wanita pertama yang dibuatkan filmnya sendiri –meskipun sebenarnya sudah ada beberapa film-film manusia super yang dibuat sebelumnya –DC Extended Universe menunjukkan taringnya bahwa dunianya sudah menjadi sesuatu yang perlu diantisipasi.

Wonder Woman yang diperankan oleh Gal Gadot ini akhirnya mendapatkan porsinya untuk bercerita tentang dirinya. Patty Jenkins, seorang sutradara perempuan yang kredibilitasnya sudah diakui oleh Academy Awards lewat film Monster memiliki kesempatan untuk mengarahkan cerita manusia super wanita ini. Selain itu, film ini juga dibintangi oleh Chris Pine dan beberapa aktor aktris lainnya sehingga Wonder Woman menjadi salah satu film yang diantisipasi oleh banyak orang.

Setelah Batman V Superman : Dawn of Justice dan Suicide Squad, film-film milik DC Extended Universe tak memliki performa yang bisa membuat terkagum. Bahkan, kedua film tersebut memiliki performa jauh di bawah film-film manusia super lainnya. Sehingga, menantikan film-film DC Extended Universe tak bisa membuat hati berdegup kencang, kecuali para penggemar komik yang telah begitu dekat dengan karakter-karakter di dalam DC Comics


Ketika Wonder Woman dirilis, film ini mendapatkan resepsi kritik yang begitu dipuji-puji. Wonder Woman digadang menjadi sebuah kisah asli manusia super yang sangat segar dibandingkan dengan kisah-kisah dari manusia super lainnya. Dengan munculnya klaim hiperbolis seperti itu, Seketika muncul sebuah harapan baru bagi kelanjutan DC Extended Universe selanjutnya. Tentu semua berharap DC Extended Universe bisa menjadi alternatif tontonan kisah-kisah manusia super di sebuah pengalaman sinematis yang ada.

Tetapi, semua kembali dari bagaimana pengalaman dan referensi setiap penonton yang ada ketika menonton Wonder Woman. Sejujurnya, Wonder Woman memang memiliki nafas yang terasa berbeda daripada film-film DC Extended Universe. Hanya saja, ketika disangkutpautkan dengan kata-kata “sangat segar” rasanya Wonder Woman juga tidak bisa dikatakan demikian. Wonder Woman punya kisah asli yang sudah pernah dirasakan oleh penonton di film-film manusia super 4 atau 5 tahun lalu secara sinematis. 


Menceritakan tentang Diana (Gal Gadot) seorang putri amazon yang hidup dengan tenang pada awalnya. Tetapi, dengan keadaan tenang tersebut, Diana tetap diperingatkan tentang kejahatan di luar sana yang melibatkan sosok Ares. Dengan begitu, Diana akan selalu waspada apabila suatu saat kejahatan datang dan menghancurkan Amazon yang mereka cintai. Hingga pada akhirnya, kekacauan datang ketika seorang pemuda tiba-tiba terdampar di pinggiran pantai Amazon.

Steve Trevor (Chris Pine), seorang mata-mata yang sedang bertugas ini terdampar ketika para musuhnya mengejar dirinya. Sehingga, para musuhnya juga ikut menganggu ketenangan para Amazonian ini. Perang pun terjadi antara Amazonian dengan musuh dari Steve Trevor yang menyebabkan banyaknya korban salah satunya adalah saudara perempuan Diana yaitu Antiope (Robin Wright). Diana menganggap ini semua adalah ulah Ares dan menggunakan Steve Trevor untuk mencari keberadaan Ares ini.  


Mendapatkan sebuah klaim tentang kesegaran dan kejeniusan di dalam film Wonder Woman, rasanya hal tersebut kurang pas. Sebagai sebuah film origin story, Wonder Woman sebenarnya memiliki formula yang pernah digunakan oleh berbagai film asal mula superhero lainnya. Memang, ada rasa naif di dalam sosok manusia super yang muncul dari karakter Wonder Woman. Tetapi, Wonder Woman tak sepenuhnya menjadi sebuah tontonan yang mendapat klaim kata “segar”. Wonder Woman mungkin akan lebih tepat dikatakan sebagai pemicu rasa nostalgia.

Dengan durasinya yang mencapai 141 menit, Wonder Woman muncul menceritakan sesuatu yang terlalu biasa.. Tetapi, secara bertutur, Wonder Woman tak ayal adalah sebuah film dengan plot yang lurus-lurus saja dengan penyelesaian konflik yang seadanya. Pembangunan dunia para Amazonian muncul terlalu sebentar, sehingga tak ada korelasi emosi yang muncul antara karakter dan juga penontonnya. Ketika penonton sudah mulai terkoneksi dengan ceritanya, poin pemantik konflik di dalam film ini muncul terlalu cepat. Sehingga, bangunan dunia milik Wonder Woman tak bisa mengikat begitu kuat.

Kejeniusan Allan Heinberg di dalam naskah yang ditulisnya adalah ketika menggunakan Wonder Woman sebagai medium untuk menyampaikan kesetaraan perempuan yang sedang menjadi isu sosial di berbagai belahan dunia. Kenaifan yang muncul menjadi sifat dari Wonder Woman adalah cara bagaimana Allan Heinberg memberikan pengertian tentang bagaimana peran gender muncul dari setiap manusia. Bukan ingin berprasangka buruk, mungkin hal inilah yang membuat Wonder Woman mendapat resepsi baik. Wonder Woman adalah sebuah propaganda politik tentang marjinalitas kaum perempuan. Tetapi, ketika melihat Wonder Woman sebagai film itu sendiri, sebenarnya tampil baik tetapi performanya tak muncul sebaik itu. 


Dengan durasi 141 menit, Wonder Woman seharusnya bisa memiliki komplikasi yang lebih baik lagi untuk membangun setiap plot beserta subplotnya. Tetapi, di akhir 20 menit, Wonder Woman masih memiliki keterbatasan dalam menyelesaikan konflik. Membuat filmnya terkesan memiliki banyak sekali subplot yang perlu diselesaikan karena munculnya 2 karakter villain yang tertuduh menjadi karakter yang penting. Tetapi dengan konklusi seperti itu di dalam filmnya, dalih tentang 2 karakter penjahat tersebut terkesan sia-sia dan tak memiliki tujuan utamanya. Belum lagi keklisean yang muncul di dalam konklusi Wonder Woman yang melihatkan bahwa tak ada lagi unsur “segar” di dalam film ini.

Memang, sebagai sebuah film yang berada di dalam DC Extended Universe, ini adalah sebuah film yang segar. Tetapi, ketika dibandingkan dengan berbagai film manusia super yang ada, Wonder Woman hanyalah repetitif bahkan adaptasi dari berbagai referensi dengan performa yang cukup tapi tak semegah itu. Menonton Wonder Woman dan memahaminya butuh referensi dan pengalaman dari dalam diri. Sehingga, ketika selesai menonton, Wonder Woman adalah hal yang bisa didiskusikan untuk saling berbagi pengalaman dan referensi. Wonder Woman mungkin lebih tepat untuk mendapatkan predikat “nostalgic” ketimbang menggunakan kata-kata “segar” yang sebenarnya menimbulkan anomali.