• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label 4 stars. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 4 stars. Tampilkan semua postingan

STAND BY ME DORAEMON 2 (2020) REVIEW: Sekuel yang Tetap Menghangatkan Hati Penontonnya

Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta barang-barang ajaibnya dari masa depan yang bikin ngiler. Tak salah, apabila Stand By Me Doraemon pertama yang telah rilis di tahun 2014 lalu laku keras saat Rilis di Indonesia. Ya, Penonton Indonesia sangat dekat dengan serial animasi dari Jepang satu ini. Maka, ketika muncul berita akan ada sekuel dari film satu itu, penikmat film yang dekat dengan karakter satu ini akan sangat menyambut dengan gembira.

Ryuichi Yagi dan Takashi Yamazaki kembali menahkodai anime dari Fujiko F. Fujio dalam bentuk animasi tiga dimensi dan layar lebar ini. Sebelumnya, duo sutradara ini juga mengarahkan film pertamanya dan berhasil merangkum kisah-kisah lamanya menjadi sesuatu yang segar.

Apabila Stand By Me Doraemon pertama adalah kumpulan cerita-cerita kisah lama yang didaur ulang menjadi 90 menit yang utuh. Di film keduanya kali ini, duo sutradara ini masih mengadaptasi kisah animasi pendeknya. Alih-alih menjadikan film keduanya sebagai fragmen, Stand By Me Doraemon 2 lebih memiliki cerita utuh untuk disampaikan. Kekuatan film keduanya bukan lagi tentang nostalgia, tapi bagaimana merangkum kisah time travel, cinta, persahabatan, dan keluarga menjadi satu film yang solid.

Kisah dimulai dari Nobita yang tiba-tiba ingin kembali ke masa lalu bertemu dengan neneknya yang selalu ada buatnya. Tak hanya sekedar bertemu, tapi Nobita juga ingin melihat neneknya bahagia untuk terakhir kalinya. Dari ingin melihat Nobita tumbuh jadi dewasa dan masuk sekolah, hingga permintaan terakhir sang Nenek untuk melihatnya menikah. Tentu, dengan bantuan Doraemon, Nobita berusaha untuk menuruti permintaan sang Nenek.

Tetapi, dengan satu permintaan Neneknya yang terkabul, kemungkinan di masa depan Nobita juga terganggu. Saat di masa depan dan di hari pernikahan Nobita dan Shizuka, Nobita hampir saja gagal melaksanakan acara terpenting dalam hidupnya ini. Nobita dan Doraemon dari masa kini pun berusaha untuk pernikahannya tetap berjalan sekaligus bisa membuat mimpi Neneknya juga terwujud.

Dengan satu sinopsis cerita dari Stand By Me Doraemon 2 yang memiliki satu tujuan, ternyata Ryuichi Yagi dan Takashi Yamazaki menantang diri mereka saat menuturkan kisahnya. Menggunakan pendekatan time travel yang lebih rumit dengan clue yang disebar di awal filmnya. Sedikit terlalu harfiah secara visual, tetapi mungkin itu cara mereka agar Stand By Me Doraemon 2 yang memiliki audiens anak-anak bisa mengerti rumitnya time travel yang sedang dituturkan.

Layaknya sebuah lingkaran, penuturan kisah dari Stand By Me Doraemon 2 ini akan bertemu di penghujung awal cerita yang sama sebelum akhirnya memiliki cabang cerita lain untuk penyelesaiannya. Clue yang disebar di sepanjang kisahnya pun menjadi trivia-trivia kecil yang potongan puzzle yang menunggu untuk disusun. Tapi, tentu saja bukan sebuah puzzle yang rumit, hanya saja potongan puzzle itu penting agar menjadi sebuah gambar yang utuh.

Jadi, tema time travel di dalam ini bukan menjadi salah satu hal penting di dalam filmnya. Hal penting lainnya yang ada di dalam Stand By Me Doraemon 2 adalah kisahnya yang hangat tentang cinta, keluarga, dan persahabatan. Duo sutradara ini berhasil mengolah emosi di dalam filmnya. Di paruh terakhir filmnya serta adegan-adegan di mana Nobita dan Neneknya akan berhasil mengaduk perasaan penontonnya. Punch-nya bakal ada di penghujung filmnya. Maka, siap-siap tisu saja apabila kamu mudah terbawa suasana sedihnya yang ada di film ini.

Berbeda dengan film pendahulunya, Stand By Me Doraemon 2 ini akan terasa lebih kompleks dari sisi cerita. Tapi dalam mengolah rasa, Stand By Me Doraemon 2 juga memiliki hal yang serupa. Hanya saja, film keduanya mengulik lebih dalam tentang hubungan dengan keluarga dan berdamai dengan diri sendiri. Sebagai sebuah sekuel, Ryuichi Yagi dan Takashi Yamazaki berhasil berada di posisi yang sama dengan sebelumnya. Bikin hati hangat nontonnya.



POSSESSOR (2020) REVIEW: Daur Ulang Kisah Horor Fiksi Ilmiah yang Serupa

Nama Cronenberg hadir di dalam film ini tapi bukan David, melainkan Brandon. Ya, dia adalah anak dari salah satu sutradara gila, David Cronenberg. Tak heran, apabila di dalam film-filmnya masih ada kegilaan yang serupa untuk dihadirkan kepada penontonnya.

Kata pepatah,  buah tak jatuh dari pohonnya.


Ya, pepatah itu yan cocok untuk menggambarkan karya dari Brandon Croneneberg. Semakin terasa pula persamaannya ketika dirinya menggarap film keduanya berjudul Possessor. Dari adegan pertamanya saja, film ini sudah menunjukkan ketidaknyamanan bagi penonton. Memperlihatkan sebuah teknologi yang berhubungan dengan kehidupan manusia dan yang akan mempengaruhinya. 


Benar apabila menganggap film ini adalah sebuah film fiksi ilmiah. Tetapi, tentu Brandon Cronenberg tak Hanya berhenti hingga sampai di situ saja. Dia berusaha menggabungkan elemen horror di dalam filmnya yang akan memberikan sensasi menonton yang berbeda bagi penontonnya. Possessor, sebagai karya keduanya, dibintangi oleh Andrea Riseborough, Jennifer Jason Leigh, Christopher Abbott. Film ini pun tak hanya diarahkan oleh Brandon Cronenberg, tetapi juga ditulis langsung olehnya. Jadi, tak salah apabila dia memiliki banyak ruang untuk mengekspresikan apa yang ada di otak gilanya ke dalam gambar bergerak.



Selama 100 menit, penonton akan diajak untuk mengarungi kisah yang dijalin oleh Brandon Cronenberg yang mungkin Sudah Sangat familiar dan pernah ditemui di beberapa film sebelumnya. Tentang seorang perempuan bernama Tasya Vos (Andrea Riseborough) yang menjadi agen rahasia untuk menjalankan misi yang melibatkan teknologi implan otak. Lewat teknologi inilah, Vos bisa untuk berpindah dari tubuhnya dan menjalankan tubuh manusia lain.


Dia sudah terbiasa melakukan hal tersebut, hingga akhrinya dia harus menjalankan misi terbaru yang lebih challenging dibanding biasanya. Dia memasuki tubuh dari seorang manusia bernama Colin (Christopher Abbott). Dia adalah kekasih dari anak seorang petinggi di salah satu perusahaan besar. Misinya tentu untuk menjatuhkan sang petinggi tersebut. Tetapi, dalam proses Tasya menjalankan misinya, ada kendala yang hadir dan tak pernah terjadi sebelumnya.



Bagi pecinta film-film fiksi ilmiah, (bukan penonton serial Black Mirror di Netflix yang gampang kagetan itu) menonton Possessor tak akan kaget dengan ceritanya yang groundbreaking. Nyatanya memang kisah film ini memang dengan Mudah ditemui di film-film serupa. Bahkan, sesekali Brandon Cronenberg seakan menyadur sedikit film dari sang Ayah yaitu Scanners. Di mana menggabungkan fiksi ilmiah dengan body horror yang cukup membuat penonton merasakan tidak nyaman saat menonton.


Rasa tidak nyaman, ngilu, dan hal sebagainya di dalam film ini bukan malah menjadi sajian yang buruk, malah inilah yang membuat Possessor menarik untuk diikuti. Ini adalah cara Brandon Cronenberg untuk menjaga penontonnya untuk mengikuti Possessor hingga akhir. Perasaan tidak nyaman saat menonton digabung dengan beberapa adegan gore yang bisa mengukuhkan film ini adalah sebuah kalibrasi dari film horor thriller.


Tapi, pintarnya Brandon Cronenberg adalah bisa mendaur ulang kisah-kisah familiar itu menjadi sebuah film yang terasa segar. Salah satu cara yang dia lakukan adalah dengan menyajikan adegan-aegan yang terasa berbeda dibandingkan dengan film-film yang lainnya.



Possesor adalah film yang visually pleasing.


Kata yang tepat untuk menggambarkan film ini secara keseluruhan. Visual yang aestetik kalau kata anak muda zaman sekarang yang bisa menghipnotis penontonnya sekaligus cara Brandon untuk menyalurkan rasa di dalam filmnya. Semuanya bisa tergambar secara visual. Dengan adegan-adegannya yang berdarah pun, Possessor bisa tampil ‘Indah’. Mengusik penontonnya selama 100 menit dengan segala kegelisahan yang tersampaikan dengan tepat di filmnya.


Kegelisahan ini juga tak bisa dirasakan penontonnya apabila bukan berkat penampilan dari Christopher Abbott yang berkolaborasi dengan Andrea Riseborough. Tanpa mereka berdua yang bisa menerjemahkan segala kegelisahan yang ada di dalam karakter utamanya, film ini tak mungkin terasa menghipnotis penontonnya hingga akhir.



Menarik juga, melihat isu yang diselipkan di dalam film ini di mana teknologi bisa saja memanipulasi kehidupan manusia. Melihat endingnya yang sedikit diberi ‘bumbu’, sangat menarik untuk mengulik apa yang terjadi ketika manusia bisa mengontrol kehidupan manusia lainnya dengan teknologi yang mereka punya. Possessor mungkin akan terasa sebagai sebuah film dengan karakter studi yang berlapis. Film ini mengembangkan karakternya dengan menggunakan karakter lain sebagai pionnya. Begitu pula dengan manusia di dunia nyata. Mereka bisa mempelajari life event manusia yang lain untuk bisa diaplikasikan ke dalam hidup mereka. Bisa saja berhasil, tapi bisa saja menjadi bumerang dan berdampak buruk bagi mereka.

WONDER WOMAN 1984 (2020) REVIEW: Petualangan Terbaru Diana Prince yang Lebih Personal

Di antara semua judul-judul besar yang mau mundur atau lari ke streaming services, ada beberapa judul pula yang memberanikan diri untuk tetap rilis di tengah keringnya film-film yang tayang di bioskop. Tentu, semua dengan harapan ingin ditonton oleh penontonnya. Meskipun dengan protokol kesehatan yang ketat, limitasi kursi penonton, dan masih banyak hal-hal kecil lain yang bisa jadi perhatian.

Warner Bros Pictures telah merilis dua filmnya ke pasar domestik dan internasional. Tenet milik Christopher Nolan dan selanjutnya adalah Wonder Woman 1984. Iya, sekuel dari Wonder Woman ini akhirnya dilepas untuk penontonnya. Tetapi, ada 2 cara penontonnya bisa menikmati film ini. Lewat bioskop tentu saja serta langganan streaming service HBO Max yang hanya dimiliki oleh para penduduk di Amerika Serikat sana.


Langkah yang berani.


Mungkin itu yang sedang dijalankan oleh Warner Bros Karena tak mau terus menerus menahan filmnya tanpa ada yang menghasilkan. Wonder Woman 1984 ini tetap dipegang kendalinya oleh sang sutradara film pertamanya, Patty Jenkins. Tentu saja, Gal Gadot tetap menjadi sang superhero bernama Diana Prince ini. Semakin meriah, Karena ada banyak nama-nama baru yang bergabung menjalankan proyek satu ini.


Kristen Wiig dan Pedro Pascal. Dua nama yang bergabung di dalam sekuel pahlawan super Perempuan dari Themyscira ini. Mereka menjadi super villain yang menghadang jalan Wonder Woman untuk bisa menyelamatkan dunia.



Lantas, apa yang terjadi oleh Diana Prince kali ini?


Berpuluh-puluh tahun semenjak Wonder Woman pertama, kali ini Diana Prince (Gal Gadot) hidup di tahun 1980-an. Di mana, banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam hidupnya. Tetapi, satu hal yang tak berubah adalah kebenaran yang dianut olehnya sebagai sosok Wonder Woman dan cintanya kepada belahan hatinya, Steve (Chris Pine). Meski dia sudah pergi berpuluh-puluh tahun dan Diana telah menjalani berbagai macam kehidupan, tetapi hidupnya tetap dibayangi oleh sang kekasih hati.


Hingga akhirnya, di tempat Diana sedang bekerja, dia menemukan Sebuah batu yang sedang diteliti. Konon Katanya, batu tersebut bisa mengabulkan keinginan siapapun yang memegangnya. Tetapi, batu tersebut diteliti terlebih oleh Diana dan rekan kerja barunya, Barbara Minerva (Kristen Wiig). Di lain hal pula, seorang pengusaha bernama Maxwell Lord (Pedro Pascal) juga mengincar batu tersebut untuk menguasai dunia.



Mengantarkan satu film dengan adanya dua villain yang berbeda menjadi hal yang harus benar-benar diperhatikan. Meskipun, adanya villain yang tak Hanya satu ini sudah sering dipakai formulanya oleh DC films lantas tak semuanya berhasil dilakukan. Wonder Woman pertama pun sudah pernah memakai formula serupa. Nyatanya, semuanya terlalu dipermukaan dengan motif yang tak terlalu kuat.


Kelemahan yang ada di film pertamanya inilah yang sepertinya ingin diperbaiki oleh Patty Jenkins di film keduanya. Lewat Wonder Woman 1984, Patty Jenkins bisa mengenalkan karakter-karakter villain-nya dengan matang. Tetapi, dengan adanya ruang yang besar untuk para karakter-karakter lain untuk berkembang, ada juga yang harus dikorbankan. Durasi dari Wonder Woman 1984 harus merentang hingga 150 menit.


Mengurangi pula spektakel aksi di dalam filmnya hingga Wonder Woman 1984 ini berfokus kepada plot cerita. Tidak ada yang salah memang, Karena Wonder Woman 1984 juga cukup berhasil mengantarkan ceritanya dengan sangat menarik. Bukan karakter penjahatnya saja, tetapi juga karakter Diana yang juga ikut berkembang, ikut memperlihatkan berbagai macam emosi yang memperlihatkan sisi manusiawi di dalam dirinya sebagai pahlawan super.



Menunjukkan hati yang besar untuk bisa dirasakan penontonnya.


Inilah yang menjadi hal utama dari Wonder Woman 1984. Selama spektakel aksi tak bisa ditunjukkan terlalu banyak, tetapi penuturan kisahnya yang Penuh hati ini sangat menarik untuk diikuti. Penyampaian kisahnya yang emosional dan penuh harapan ini membuat Wonder Woman 1984 sangat nyaman untuk diikuti. Meski membangun tensinya perlahan, tapi penonton bisa paham benar dengan semua latar belakang kisahnya setiap karakternya.


Apa yang membuat Diana bisa memperlihatkan sisi vulnerability-nya yang jarang terlihat seperti di film sebelumnya. Bagaimana Barbara dan Maxwell akhirnya bisa mendapatkan kekuatan dan tak mau melepaskan hal tersebut dari hidupnya. Meskipun, harus ditutup dengan penyelesaian yang seperti ala kadarnya dan terasa penuh khutbah. Tetapi, masih ada segala macam emosi yang ditunjukkan di dalam filmnya.


Perasaan penuh kasih, penuh cinta, dan penuh harapan. Hal-hal itu yang bisa dirasakan selama menonton film ini. Penuturan Patty Jenkins yang lembut di dalam film ini seakan menunjukkan bahwa perempuan dalam mengarahkan sebuah film memiliki keunggulannya dalam menuturkan rasa di dalamnya. Dibalut pula dengan akting Gal Gadot yang terlihat semakin matang. Chemistry-nya dengan Chris Pine sebagai sepasang kekasih yang sudah lama tak Bertemu bisa membuat penontonnya menaruh simpati.



Tak dengan kekurangan pula. Film yang sudah dibangun megah ini memiliki penyelesaian konflik yang terlalu mudah. Mungkin karena penggambaran karakter villain yang terlalu kuat juga jadi faktor utamanya. Terlebih final battle yang ada di film ini tak bisa menyamai kualitasnya dengan beberapa battle

scene yang ada di paruh awal dan tengahnya. Satu mitos legenda yang digunakan di dalam cerita di film ini tentang Asteria pun tak bisa tampil sempurna. Sehingga beberapa build-up cerita di awal seperti tidak ada pengaruh apa-apa. 


Tak ada kesan cynical di dalam Wonder Woman 1984 yang membuat filmnya semakin menyenangkan untuk diikuti. Apalagi, menyematkan Sebuah tribute ke beberapa film Superman di awal-awal film ini dan atmosfir yang sama ini juga menjadi kelebihan Wonder Woman 1984 dibanding film sebelumnya. Tak salah, apabila Warner Bros dan DC Films menunjuk Patty Jenkins untuk mengarahkan seri ketiga dari Wonder Woman nanti.


TENET (2020) REVIEW: Yang Baru Dari Nolan, Tapi Bukan yang Terbaik

Christopher Nolan dengan filmografinya menjadi hal yang menarik untuk diikuti. Banyak penikmat film yang menunggu apa yang bakal dibuat olehnya. Hal unik apa lagi yang bakal diangkat oleh sutradara ini utnuk dijadikan sebagai sebuah gambar bergerak.

Konsep fiksi ilmiah.


Hal yang pasti selalu ada di dalam film-film miliknya. Bahkan, dengan cerita yang Berdasarkan kisah nyata pun, Nolan juga bisa menyelipkan unsur tersebut di dalam filmnya. Yes, dengan Dunkirk, penonton dibawa ke penuturan cerita yang menarik di dalam filmnya. Maka dari itu, sangat menarik pula untuk menyaksikan project terbaru dari Nolan yang rilis di tahun ini, Tenet.


Tenet, yang harusnya tayang di bioskop tahun ini, menjadi salah satu film yang ditunggu. Menarik, karena Nolan berusaha menyembunyikan sesuatu di balik Trailer. Cerita apa lagi yang bakal disampaikan Christopher Nolan lewat Tenet ini. Menurutnya, ini adalah film heist yang tentu masih dengan signature cerita dan pengarahannya. Dibintangi oleh beberapa nama yang menarik untuk dikulik. Mulai dari John David Washington, anak dari Denzel Washington. Lalu, juga ada Robert Pattinson, Elizabeth Debicki, Kenneth Branagh, hingga Michael Caine.



Lantas seperti apa Tenet berjalan?


Christopher Nolan tak membuat filmnya untuk bertele-tele menceritakan awal mula filmnya dengan perlahan. Perjalanan film Tenet langsung berjalan kencang memunculkan sebuah keriuhan yang terjadi di sebuah tempat dengan berbagai macam misi. Iya, ditemukan seorang tokoh utama yang tanpa nama dan diperankan oleh John David Washington ini sebut saja The Protagonist. Dia tengah melakukan sebuah misi yang penonton tak beri tahu secara detil.


Tapi, ketika hidupnya dikira akan berakhir sampai misi itu selesai, nyatanya tidak. The Protagonist mencari tahu sesuatu yang dia temukan di saat menjalankan misi sebelumnya. Ada seseorang yang melakukan time inversion tetapi bukan dari pihaknya. Ketika diusut, hal ini ada hal yang berhubungan dengan kepentingan orang dari masa depan yang ingin membuat dunia semakin berantakan dan penuh akan perang. The Protagonist berusaha mencari siapa dalang dari semua hal ini.



Bukan yang terbaik dari Nolan, tapi gak seburuk yang dikata orang.


Pernyataan itulah yang terlintas ketika selesai menonton film terbaru dari Christopher Nolan. Iya, dengan premis cerita yang ringan dan sederhana ini, Nolan mengajak penontonnya itu mengarungi pemikirannya yang seperti labirin. Perjalanan untuk bisa mengetahui inti ceritanya tak semudah dari titik awal lalu lurus ke garis akhir. Tapi, akan diajak dulu ke alternatif jalan lain yang lebih berkelok untuk akhirnya bisa menemukan garis akhirnya. Lama, tapi sebenarnya perjalanan itu akan dibuat menarik oleh Nolan.


Ya, begitulah film-film Nolan. Tenet seakan ingin mengulang apa yang dia lakukan dengan Memento. Terlihat dengan bagaimana adegan utama di film ini sudah menyuguhkan keriuhan yang membuat penontonnya bertanya-tanya apa yang terjadi selanjutnya. Tapi, Nolan pun sudah menyuguhi tanda untuk penontonnya untuk tak terlalu ambil pusing dengan segala keribetan yang terjadi di dalam plotnya lewat dialog dari salah satu karakternya.


“Don’t try to understand it, just feel it”


Gak perlu kamu berusaha untuk memahami secara detail dengan segala keribetan teori tentang time inversion  di dalam film ini. Tentu masih ada hubungan di dalam ceritanya, tapi time inversion digunakan sebagai distraksi penonton untuk tetap terjaga, untuk tetap penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya. Karena setelahnya, segala keribetan itu pun akan terjawab sudah di sepertiga akhir dari filmnya. Semuanya akan terjawab dengan mudah sebenarnya.



Benar adanya dialog yang sudah ditebar di awal film ini. Tonton saja film berdurasi 150 menit ini dengan seksama, dengan berbagai macam cabang cerita yang menarik untuk diikuti. Tak Hanya fokus tentang heist motive menjadi jalan cerita utamanya. Tapi, cabang cerita lain tentang perjuangan seorang Ibu demi selalu dekat dengan anaknya yang juga cukup menyita perhatian. Itu pun diperkuat dengan pesona dan penampilan Elizabeth Debicki yang menarik.


Tenet, bila diartikan secara harfiah pun adalah sebuah keyakinan atau sebuah prinsip. Ya, ini yang berusaha ditekankan oleh Christopher Nolan di dalam filmnya. Keyakinan dari karakter yang dibuatnya ini memahami realita yang ada di sekitarnya. Begitu pula dengan pemahaman dari penontonnya karena segala cerita yang berusaha disampaikan oleh Christopher Nolan dalam Tenet ini sebetulnya adalah sebuah lingkaran yang tak tanpa henti. Berputar di situ-situ saja intinya, tapi terserah kamu mau memulai garis awalnya dari mana.


Maka dari itu, benar apabila menggunakan Time Inversion untuk menjalankan plot ceritanya. Konsep yang menarik sebenarnya. Apalagi untuk penonton yang memang mencintai atau gemar dengan film-film bertema serupa. Hanya saja, menyampaikan kisahnya yang terlalu bercabang dan rumit sendiri ini lah yang terkadang membuat filmnya agak sedikit kewalahan. Fokus yang terlalu banyak inilah yang membuat segalanya agak rumit untuk diikuti. Andai saja, Christopher Nolan fokus untuk menceritakan segala riweuhnya time inversion yang dia buat. Mungkin, segalanya berjalan dengan lancar.



Tapi, tetap saja, Tenet masih menjadi sebuah sajian yang menyenangkan untuk diikuti dengan segala action sequences yang sangat menarik. Dengan segala ledakan-ledakan tanpa CGI yang membuat penontonnya kagum. Akan sangat menarik apabila film ini disaksikan dengan layar yang besar. Jadi, tunggu saja, mungkin ketika waktunya tepat, film ini akan segera dirilis di Indonesia dengan format yang lebih layak dan sesuai. Mungkin buat yang Sudah tidak sabar seperti saya, menontonnya dalam format Bluray pun juga bisa.


Cuma, tentu akan rela untuk menonton film ini lagi di bioskop (Jika bioskop di sekitar daerah tempat saya tinggal sudah buka)

GODMOTHERED (2020) REVIEW: Kisah Familiar dari Disney yang Membuat Hati Senang

Natal dan Tahun Baru. Menjadi momentum bagi film makers Hollywood untuk membuat film untuk menemani para penikmat film. Film-film bertema keluarga yang ringan tapi menyenangkan ini perlu hadir untuk memeriahkan momennya. Tentu, ini lahan Disney untuk membuat film dengan tema seperti ini. Meski bukan untuk dirilis secara teatrikal -selain kondisi pandemi yang tak kunjung mereda -tapi, Disney mencoba untuk menghadirkan semangat liburan ini ke dalam film yang dirilis langsung ke layanan streamingnya.

Tak hanya berkutat dengan setting waktu yang menyesuaikan momen liburan Natal dan Tahun Baru, tapi di film original-nya ini Disney bermain di ranahnya. Mengulik lagi tema fairy tale yang biasa diangkat oleh rumah produksi satu ini dengan sedikit twist yang lain. Godmothered, film persemabahan dari Disney untuk memeriahkan festive liburan tahun ini berasal dari sutradara Bridget Jones yaitu Sharon Maguire. Dimeriahkan pula oleh Jillian Bell dan Isla Fisher yang berkolaborasi di dalam film ini.


Dengan sajian trailer yang menarik, orang-orang yang suka dengan film tema serupa akan dengan mudah jatuh cinta dan menantikan film Godmothered ini. Apalagi, buat penonton yang Sudah familiar dengan cerita-cerita Disney dengan tema seperti ini. Godmothered tentu menjadi sajian yang sangat ringan untuk dinikmati sambil bersantai di rumah bersama keluarga. Jalinan ceritanya memang sederhana, tapi Godmothered bisa membuat penontonnya merasakan kenyamanan untuk menonton hingga akhir.



Gimana gak ringan? Kisahnya juga cuma menceritakan tentang seorang Ibu peri baru bernama Eleanor (Jillian Bell) yang tak Punya kesempatan untuk membuktikan skillnya. Sampai akhirnya dia menemukan sebuah pesan dari seorang anak yang ingin punya kehidupan bahagia. Eleanor merasa ini waktu yang tepat untuknya. Sehingga, dia memutuskan kabur dari negeri ‘dongeng’nya dan menyelesaikan misi dari anak ini untuk menemukan ‘hidup bahagia selamanya’.


Ketika Eleanor sudah rela kabur dan bertemu dengan anak ini, ternyata sang anak sudah berusia paruh baya. Ya, dia adalah Mackenzie (Isla Fisher) yang menjadi seorang janda anak dua yang ditinggal suaminya. Pertemuan pertama mereka tentu membingungkan. Apalagi Mackenzie yang notabene Sudah menjadi dewasa tentu akan susah percaya Eleanor adalah seorang Ibu Peri. Tapi, Eleanor tak patah semangat. Dia mencoba untuk terus membuat Mackenzie percaya dan mewujudkan impiannya.



Disney dan kisah di zona aman tapi bikin nyaman.


Inilah yang dirasakan setelah nonton Godmothered dari Disney yang diarahkan oleh Sharon Maguire yang menjadi Disney+ Originals. Kisah-kisahnya mungkin familiar dengan beberapa film-film Disney yang lain. Tak ada sesuatu yang baru yang dihadirkan di dalam Godmothered sebenarnya. Kisahnya juga sangat predictable. Ya, namanya juga film buat keluarga, jadi plotnya begitu sederhana dan ringan. Tapi, charm-nya masih bisa dirasakan dengan sangat kuat. Tipe-tipe film yang kalau kelar nonton, bisa bikin hati bahagia.


Perjalanan filmnya juga pas untuk diikuti berkat performa Jillian Bell dan Isla Fisher yang bisa menghidupkan suasana filmnya. Atmosfir film liburan yang menyenangkan ini melekat dengan mudah di dalam film ini. Tentu, menjadi teman tontonan liburan bersama keluarga yang sesuai. Tapi, ada beberapa perubahan pesan yang berusaha disampaikan tentang film ini. Godmothered berusaha medaur ulang pesan usang dari Disney tentang kehidupan “bahagia selamanya”.


Inilah menariknya Disney dengan karya-karya terbarunya. Meski tetap berada di zona aman dalam jalinan ceritanya, tapi ada redefinisi dalam pesan-pesan usangnya. Godmothered juga melakukan tren yang sama. Memberikan pengertian kepada penontonnya bahwa standar “bahagia selamanya” bagi Setiap orang mungkin berbeda-beda. Terutama pada karakter-karakter perempuan di dalam film ini.



Iya, perempuan biasanya menganggap bahwa “hidup bahagia selamanya” adalah dengan menikahi seorang “pangeran” tampan dalam hidupnya. Standar inilah yang berusaha dipatahkan dalam film Godmothered. Begitu pula dengan apa yang ditulis di dalam film ini. Perempuan bisa memilih apapun keputusan dalam hidupnya selama dia bahagia. Bahkan, lewat dominasi karakter perempuan di dalam film ini, menunjukkan bahwa sesama perempuan pun bisa menguatkan satu sama lain. Karena tak selamanya memiliki pendamping hidup adalah goals utama dari semua perempuan di dunia.


Dengan pesan yang cukup berat ini, tapi Godmothered tahu bahwa film ini punya targetnya. Siapa lagi kalau bukan penonton keluarga dan untuk semua usia. Dengan pesannya yang besar, mungkin penyelesaian ceritanya juga dianggap terlalu mudah. Ini adalah kelemahan dari Godmothered. Penutupnya yang terlalu mudah, terlalu padat, tapi emosi yang disampaikan di film ini tak terlalu kuat. Jadinya, penyelesaian film ini akan berlalu begitu saja.


Belum lagi subplot lain yang hadir di film ini yang malah kesannya hanya sebagai pendamping. Mungkin hanya digunakan sebagai syarat agar plot ceritanya bisa berjalan sampai 100 menit. Tapi, semuanya terasa terlalu cepat, tanpa perlu dikulik lebih. Mungkin ini juga yang dilakukan agar film ini tetap terasa ringan untuk ditonton. 



Ya, tapi Godmothered tetap menyenangkan untuk disaksikan di tengah suasana pandemi yang tak kunjung mereda. Menonton film ini akan membuat hati bahagia. Apalagi, Godmothered serasa berusaha untuk mengingatkan penontonnya dengan film yang lain. Seperti kisah-kisah klasiknya, Cinderella hingga kisah klasik moderen-nya lewat Enchanted. Meski film ini belum bisa menyaingi keduanya, tapi ini adalah feel-good film yang sayang buat dilewatin gitu aja.

STORY OF KALE: WHEN SOMEONE’S IN LOVE (2020) REVIEW: Skalanya Kecil, Tapi Takarannya Pas

Siapa yang lupa sama si Kale-Kale itu?

Buat yang udah nonton film adaptasi buku Marchella FP yang digarap oleh Angga Dwimas Sasongko, pasti udah kenal sama karakter Kale. Sosok fakboi katanya, karena telah menghancurkan hati Awan yang minta lebih dari sekedar temen. Tak disangka, karakter ini ternyata mencuri banyak perhatian orang. Perilakunya kepada Awan menarik perhatian karena sosok seperti ini dianggap dekat dengan kisah-kisah cinta para penontonnya di dunia nyata.

Keputusan sikap Kale ke Awan inilah yang membuat orang penasaran dan bertanya-tanya. Apa sih yang terjadi sama Kale sebelum ketemu sama Awan? Siapa sih yang udah nyakitin hati Kale sampe berani seperti sama Awan?

“Bahagia itu milik sendiri, bukan tanggung jawab orang lain.”

Kira-kira begitulah yang dikatakan Kale kepada Awan. Sekaligus membuat penontonnya sering mengutip perkataan Kale satu ini. Banyak orang-orang yang penasaran dengan kisah Kale hasilnya menarik minat Angga Dwimas Sasongko membuat spin-off nya. Di tengah pandemi, Angga Dwimas Sasongko berusaha untuk produktif. Dengan segala keterbatasan, spin-off Kale pun dibuat. Bukan dirilis secara teatrikal, tapi dirilis untuk streaming platform miliknya sendiri yaitu Bioskop Online.

Story of Kale: When Someone’s In Love, judul yang dipakai untuk menceritakan kisah Kale. Ardhito Pramono tentu kembali didapuk menjadi Kale. Dibantu oleh Aurelie Moeremans, yang menjadi karakter love interest masa lalu Kale. Film ini ditulis oleh Irfan Ramli dan langsung ditangani oleh Angga Dwimas Sasongko. Karakter kecil dari adaptasi Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini mendapatkan kesempatan untuk bersinar. Meski skalanya juga kecil, tapi sepanjang kisahnya bisa tersampaikan dengan baik.


Tak perlu banyak menceritakan tentang kisah yang lebih dalam, Story of Kale: When Someone’s In Love langsung menghadirkan konflik antara Kale dengan Dinda. Dibuka dengan menyoroti kehidupan Dinda (Aurelie Moeremans) dengan pasangannya, Argo (Aryo Saloka). Dinda terjebak dengan hubungan yang manipulatif dengan Argo. Hingga akhirnya, Kale datang di tengah pertikaian mereka. Berusaha melerai, tetapi Kale juga kena getahnya.

Tetapi, Kale tak berhenti sampai sana. Usahanya meyakinkan Dinda untuk meninggalkan Argo dan menjalin hubungan dengannya juga berbuah manis. Kale dan Dinda menjadi satu. Hingga suatu ketika, Dinda juga berusaha untuk menghentikan hubungannya dengan Kale. Tentu, Kale yang sudah berusaha menyerahkan segalanya merasa tidak adil dengan keputusan Dinda.  Di sinilah, penonton diajak untuk menyelami apa yang terjadi antara Dinda dan Kale.


Selamat datang di kehidupan kisah asmara Dinda dan Kale.

Iya, penonton akan diajak menyelami kehidupan asmara mereka yang manis awalnya tapi pahit setelah terlalu lama. Seperti Kale dan Dinda yang sedang berusaha untuk meyakinkan satu sama lain sebelum akhirnya berpisah, Angga Dwimas Sasongko juga melakukan hal yang sama dalam menuturkan kisahnya ini. Maka dari itu, menggunakan alur maju mundur di dalam film ini terasa tepat dan tak hanya menjadi signature saja karena Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini juga melakukan yang sama.

Di tengah konflik antara keduanya yang berusaha meyakinkan agar tetap tinggal di ‘rumah’ mereka, ada selipan sedikit memori tentang hubungan mereka. Sehingga, tak hanya Dinda dan Kale saja yang berusaha untuk napak tilas dengan segala hal yang terjadi di dalam hubungan mereka dan berkontemplasi. Tetapi, penonton juga disuguhkan dengan realita tersebut. Penonton pun bisa menilai sendiri seperti apa hubungan mereka selama ini. 

Apa iya yang dilakukan oleh Kale benar? Atau ternyata Kale sendiri juga melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh Argo kepada Dinda? Hanya saja yang dilakukan Kale mungkin sedikit berbeda? Pertanyaan-pertanyaan ini yang akan terjawab sendiri dengan kisah yang dituturkan di dalam film Story of Kale: When Someone’s In Love. Film ini juga ingin mendefinisikan tentang abusive atau toxic relationship yang bisa dateng dalam berbagai bentuk dan cara.


Menarik juga, ketika melihat hasil akhir film ini. Bahwa jika disadari, ada keterbatasan dalam setting cerita-nya. Mungkin memang berputar di tempat yang sama sepanjang durasinya yang hanya mencapi 78 menit, tetapi Angga Dwimas Sasongko bisa berhasil menjaga emosinya hingga akhir. Hingga pada satu adegan penting di menuju akhir film ini. Sederhana, tapi penting dan kuat. Sekaligus mengetahui segala perasaan yang dirasakan oleh kedua karakternya.

Lalu, barulah penonton bisa memahami apa yang dilakukan oleh keduanya. Mencintai dengan risiko dapat ditinggalkan itu tidak dapat terelakkan. Hal itu adalah sebab akibat dari apa yang terjadi jika kamu sudah memilih untuk mencintai seseorang. Yang perlu kamu lakukan tentu hanya berusaha mempertahankan. Tapi, apakah yang kamu lakukan sudah benar? Bersama dengan Kale dan Dinda, penonton bisa bersama-sama berkontemplasi atas yang sudah dilakukan.

Ya, Story of Kale: When Someone’s In Love ini adalah sebuah spin-off dengan skala kecil. Tapi, emotional impact yang dihadirkan di film ini juga tak kalah besarnya. Meskipun, konfliknya lebih juga lebih personal tapi cukup menarik untuk ditonton. Angga Dwimas Sasongko berhasil menjadikannya spin-off hasil on demand ini dengan sangat baik.

CLOUDS (2020) REVIEW: Story that Inspired and Makes Your Heart Warm

How does it feel like to become a terminal? How do you live with that kind of thing in your life?


Pertanyaan ini yang mungkin saja membuat Zach Sobiech, seorang remaja yang menderita osteosarcoma bingung pada awalnya. Tapi, dirinya memilih untuk menjalani hari-harinya untuk terus bahagia dan menikmati hidupnya hingga hembusan nafas terakhirnya. Zach Sobiech (Fin Argus) sudah menderita osteosarcoma sejak narasi awal filmnya. Dia tetap menjadi sosok yang ceria, tampil di sebuah pentas seni sekolahnya membawakan lagu “I’m Sexy and I Know It” dengan caranya sendiri.


Pembawaan Zach yang bahagia-bahagia saja dengan kondisi hidupnya membuat dirinya disukai oleh banyak teman-temannya. Dia pun punya sahabat sejak kecil bernama Sammy (Sabrina Carpenter) dan tetap bisa punya kisah cinta yang terlihat seperti remaja pada umumnya dengan Amy (Madison Iseman). Di sisa-sisa hidupnya, dia ingin membuat sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Akhirnya dia memutuskan untuk membuat sebuah mini album yang ternyata berhasil merebut perhatian banyak orang.


Kisah dari Zach Sobiech ini ternyata memang terjadi di kehidupan nyata. Karena memang Clouds adalah sebuah film yang diangkat dari kisah inspiratif milik Zach Sobiech yang karyanya masih membekas hingga sekarang. Clouds ini disutradarai oleh Justin Baldoni yang pernah mengarahkan Five Feet Apart sebagai debut karyanya. Kali ini dia kembali dengan cerita yang mirip-mirip dengan karya sebelumnya. Tentu, menjadi hal yang mudah bagi Justin Baldoni untuk bisa mengarahkan kisah tentang seseorang yang berjuang menghadapi penyakitnya.



Tetapi, kali ini, Justin Baldoni tidak terlalu berlebihan dalam menghadirkan kisah tear jerking di dalam film Clouds. Karena Justin Baldoni mengemban sebuah kisah yang diangkat dari kisah nyata. Mendramatisir kisahnya pun tetap berada di jalur dan tidak berlebihan sehingga filmnya tidak terasa manipulatif dalam menghadirkan rasanya. Juga, naskahnya kali ini ditulis oleh Kara Holden bukan oleh dirinya sendiri. Sehingga, bisa fokus mengarahkan film terbarunya ini.


Ada Fin Argus, yang mengemban tugas penting untuk memerankan Zach Sobiech di dalam film ini. Menjadi pemegang kunci utama film ini dan sekaligus bisa memerankan sosok Zach dengan baik. Sehingga, penonton yang tak familiar dengan sosok tersebut bisa terkoneksi dengan baik. Mengerti benar naik turunnya kehidupan Zach Sobiech dengan cara yang sangat meyakinkan. Penonton bisa meyakini bahwa Fin Argus lah sosok Zach yang asli.


Selain itu, ada pula Sabrina Carpenter dan Madison Iseman yang berperan sebagai karakter pendukung yang mampu memperkaya karakter Zach Sobiech di dalam film Clouds ini sendiri.


Film yang menghangatkan hati dan bisa membuat menangis.


Kali ini Justin Baldoni berhasil mengarahkan film terbarunya dengan cara yang pas. Tak memaksakan penontonnya untuk menangis, tetapi memang bisa membuat hati hangat. Kisahnya pun disampaikan cara yang mulus. Tak ada sesuatu yang mengglorifikasi kondisi karakternya yang sedang mengidap penyakit mematikan demi meraih simpati penonton. Tetapi, menuturkannya secara perlahan dan Justin Baldoni tahu tempatnya untuk menaruh adegan-adegan yang bisa membuat menangis sehingga semuanya terasa pas.


Sehingga, di dalam durasinya yang mencapai 121 menit ini, penonton mampu menggunakan film Clouds untuk tahu benar tentang sosok Zach Sobiech dengan pas. Segala perjalanan hidupnya selama menjadi orang yang mengalami Terminal Cancer ini mampu merebut hati penontonnya. Tujuan Justin Baldoni untuk mengingatkan (lagi) penontonnya bahwa ada sosok inspiratif seperti ini bisa tercapai. Pun, setelah film Clouds berhasil, penonton akan dengan sukarela mencari sendiri informasi tentang Zach.


Justin Baldoni tak hanya fokus untuk memperlihatkan bagaimana Zach berusaha untuk survive dengan penyakitnya. Tetapi juga memperlihatkan interaksi dengan karakter lainnya yang menyokong kehidupan Zach. Dari kisah cintanya dengan Amy yang manis, interaksi dengan teman dekatnya, Sammy hingga dengan keluarganya. Justin Baldoni mengajak penontonya untuk menikmati interaksi itu. Jadi, ketika Justin Baldoni punya tempat untuk bisa memberikan titik emosional di dalam adegannya, penonton bisa ikut merasakannya.


Yang mana, mungkin itu adalah tujuan dari film Clouds itu sendiri. Menyebarkan pesan kepada seseorang bahwa pernah ada sosok inspiratif yang karakternya dekat dengan penontonnya.



Keterbatasan bukan jadi alasan untuk tidak bisa terinspirasi


Ini adalah pesan utama dari film Clouds. Di tengah keterbatasan waktu yang dimiliki oleh Zach, dia ingin membuat sisa waktunya lebih berguna dengan sekitarnya. Tidak terlalu berlarut dalam kesedihan dan menyampaikan pesan-pesan inspiratifnya lewat sebuah lagu yang yang berjudul sama dengan judulnya filmnya, Clouds.


Lagu ini juga menjadi salah satu kunci dari filmnya. Penggunaan lagu ini di penghujung film menjadi sebuah adegan yang sangat emosional. Meski caranya klise, tetapi masih punya banyak hati yang berhasil dikeluarkan oleh Justin Baldoni. Sehingga, penonton akan dengan mudah meneteskan air matanya ketika adegan itu muncul. Sehingga kalo bisa, nontonnya siap-siap tisu saja. Clouds memang bertujuan untuk membuat menangis tetapi dengan perasaan bahagia dan hati hangat tanpa dibuat-buat. Bagus!