• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label 2020. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2020. Tampilkan semua postingan

PAWN (2020) REVIEW: Kisah Keluarga Tak Utuh yang Bikin Air Mata Jatuh

Korea dan film drama tentang keluarga selalu mencuri perhatian. Negaranya yang masih berada di kawasan Asia ini membuat penonton Indonesia masih bisa terasa dekat dengan kisah yang ditawarkan. Masih ada kedekatan budaya Korea yang masih relatable bagi penonton Indonesia. Maka dari itu, penonton Indonesia dengan mudah terkoneksi. 

Kedatangan sebuah trailer dari film keluarga terbaru berjudul Pawn produksi CJ Entertainment ini seakan menjadi magnet bagi penggemar film Korea bertema keluarga. Apalagi, ada nama Sung Dong-Il yang sudah terbiasa bermain di film-film bertema serupa. Film ini garapan Kang Dae-gyu ini juga dibintangi oleh nama-nama terkenal seperti Kim Hee-Won hingga Ha Ji-Won. Bukan kali pertama Kang Dae-gyu mengarahkan sebuah film drama tentang dysfunctional family. Film berjudul Harmony juga adalah film yang diarahkan olehnya.

Sehingga, tak salah apabila Kang Dae-gyu sudah tahu bagaimana mengolah emosi untuk mengantarkan kisah keluarga tak utuh dari film Pawn ini. Dengan mudah bagi Kang Dae-gyu mengetahui ritmenya mengantarkan kisah dari filmnya untuk bisa membuat penontonnya bersimpati dengan para karakternya. Inilah yang penting karena bagaimana film Pawn ini mengajak penontonnya untuk mengikuti perjalanan hidup karakternya yang sedang berkembang dalam durasinya sepanjang 115 menit.

Karakter-karakternya bertemu dalam setting tahun 1993, di mana Doo-Seok (Sung Dong-Il) adalah seorang debt collector yang memiliki rekan kerja bernama Jong Bae (Kim Hee-Won). Mereka menjalankan tugas mereka untuk menagih orang-orang yang berhutang di perusahaan tempat dia dikerjakan. Hingga akhirnya, dia menagih kepada seorang Ibu bernama Myung Ja (Yunjin Kim). Dia memiliki satu orang anak bernama Seung Yi kecil (Park Seo-Yi).

Myung Ja belum bisa membayar hutangnya karena sang suami kabur dengan wanita lain. Hal ini semakin membuatnya bingung karena keesokan harinya, Myung Ja harus dideportasi dari Korea karena dia tak memiliki izin tinggal di sana karena dirinya berasal dari China. Karena tidak bisa membayar, akhirnya Doo-Seok menggunakan Seung Yi sebagai jaminan. Myung Ja pun harus memutar otak untuk bisa menebus anaknya dan hidup bersamanya.

Perjalanan untuk mengantarkan ceritanya dengan setting jadul hingga masa kini pun tak diantarkan dengan lurus saja. Kang Dae-gyu berusaha bermain dalam penuturannya sehingga adegan pembukanya pun sudah diperlihatkan bagaimana Seung Yi dewasa yang mencari tahu tentang seseorang di masa lalunya. Adegan ini akan dengan mudah memancing rasa penasaran penonton. Karena masa lalu dari seorang Seung Yi ini memiliki banyak pengertiannya.

Seiring dengan berjalannya durasi film Pawn ini berjalan, barulah penonton akan menemukan sebuah benang merah tentang apa yang dia cari. Hingga pada satu momen penting di paruh ketiga dari film ini, Pawn berjalan dari kisahnya yang hangat dan menyenangkan menjadi sesuatu yang mengoyak hati penontonnya. Mungkin penonton yang sudah paham benar dengan film bergenre serupa akan sudah bersiap-siap dengan apa yang terjadi di paruh ketiganya.

Tetapi, tetap saja, penontonnya juga tak bisa mengelak segala perasaan emosional yang terjadi dalam revealing conflict di film Pawn ini. Terutama, Kang Dae-Gyu Sudah mengajak penontonnya untuk bisa terhubung ke setiap karakternya. Dari segala jatuh Bangun, perubahan, hingga perkembangan yang ada. Dari Doo-Seok yang berusaha tak tahu harus handle karakter Seung Yi. Hingga akhirnya, ikatan emosi itu terjalin hingga akhirnya mereka berdua seakan seperti ayah dan anak kandung meskipun tak memiliki hubungan darah.

Bahkan, Pawn juga sempat menggunakan subplot yang sedikit kelam tentang human trafficking yang marak terjadi di Korea. Tetapi, meski berada dalam kisahnya yang kelam, film Pawn tetaplah sebuah drama keluarga yang sangat hangat. Bahkan, baru saja berjalan di paruh pertama filmnya saja, air mata penonton sudah diundang untuk ikut serta ke dalam filmnya. Lalu, ditutup manis dengan satu quote penting yang merujuk ke judul filmya dan menjadi punch emosi utama dalam filmnya. 

Pawn, lagi-lagi menjadi entry dalam film drama keluarga asal Korea yang sangat emosional dan wajib ditonton. Siapkan diri dan pasrah saja dengan segala emosi yang disampaikan di film ini. Sekedar saran, sedia tisu aja.

Kamu bisa tonton film ini lewat aplikasi GoPlay dengan harga rental per filmnya sebesar Rp35.000.



PROMISING YOUNG WOMAN (2020) REVIEW: Promising Debut From New Director

“I was busy thinking ‘bout boys.”

Opening dimulai dengan lagu milik Charli XCX berjudul Boys terdengar dengan setting di dalam sebuah club penuh gemuruh pesta. Shot kamera diarahkan kepada segala lekuk tubuh laki-laki hingga ke bagian personalnya. Seakan film ini memperjelas ke mana film ini ditujukan dan diarahkan. Apabila, seringnya laki-laki menggunakan point of view mereka dalam mengarahkan kameranya kepada perempuan. Kali ini, laki-laki lah yang mendapatkan treatment yang sama.


Begitulah adegan pembuka dari Promising Young Woman yang seakan mempertegas bagaimana film ini nantinya akan berlanjut. Dari bagaimana pengambilan gambar saja sudah jelas bahwa film ini akan menyorot tentang perempuan dan balas dendam. Bagaimana perempuan juga punya kekuatan yang sama untuk memperlakukan laki-laki dengan cara yang sama. Sehingga, di 115 menit ke depan, persoalan dari film ini juga akan membahas tentang perempuan dan problematikanya dengan society yang ada.


Promising Young Woman ini diarahkan oleh Emerald Fennell yang juga seorang perempuan. Tak hanya sebagai sutradara, tetapi dirinya juga memiliki kendali untuk menuliskan naskah filmnya. Dalam penulisan cerita, dirinya sudah memiliki jam terbang lewat serial Killing Eve. Tetapi, dalam mengarahkan sebuah film layar lebar dan menulisnya, ini adalah kali pertama untuk Emerald Fennell. Tetapi, lewat adegan pembuka saja, film ini sudah banyak menaruh perhatian.



Film ini juga dibintangi oleh Carey Mulligan yang berperan sebagai Cassie, sang pemeran utama di dalam film ini. Diramaikan juga oleh beberapa nama lain mulai dari Bo Burnham, Laverne Cox, Clancy Brown, Jennifer Coolidge, hingga Alison Brie dan Max Brody. Nama-nama ini berperan sebagai pendukung karakter utamanya untuk bersinar. Diperkuat dengan performa Carey Mulligan yang tak terhentikan, Promising Young Woman menjadi film balas dendam yang sangat menarik untuk diikuti.


Ini adalah kisah tentang seseorang bernama Cassie (Carey Mulligan), perempuan yang pernah mengenyam pendidikan kedokteran ini bekerja di sebuah coffee shop kecil di usianya yang memasuki 30 tahun. Tetapi, dia memang sedang berusaha menikmati hidupnya sendiri. Selain itu, dia juga memiliki misi dalam hidupnya yang memiliki hubungan dengan masa lalunya.


Membalaskan dendam. Hal itu yang ingin dia lakukan untuk membalaskan dendam tentang sahabatnya, Nina yang meninggal saat berada di sekolah. Dia menjadi korban atas tidak bisa dikontrolnya hasrat laki-laki dan berujung pemerkosaan secara publik. Tetapi, kasus ini seakan tidak dilanjutkan oleh pihak sekolahnya. Mereka dipaksa diam dan berujung Cassie dan Nina harus keluar dari sekolah. Hingga di saat waktunya tepat, Cassie memulai aksi balas dendamnya.



Film ini memulai rencana balas dendamnya perlahan. Pembalasan dendamnya bukan kepada para pelaku awalnya. Tetapi, ingin memberikan sebuah ‘awareness’ tentang rape culture kepada para pria-pria hidung belang yang ingin melakukan tipu daya kepada perempuan yang sedang dalam keadaan tidak sadar di sebuah bar. Menilik dan mempelajari segala background karakternya agar penonton bisa terasa dekat dengannya. Setelah di satu poin di mana Cassie bertemu dengan Ryan (Bo Burnham) yang juga berada di satu sekolah kedokteran barulah tensi film ini mulai naik perlahan.


Mengikuti segala rencana-rencana balas dendam seorang perempuan dengan masa lalunya yang kelam di film ini bisa sangat-sangat menyenangkan. Dilakukan dengan cara-cara yang intimidating dan bisa memperlihatkan bagaimana maskulinitas laki-laki sebenarnya bisa terlihat sangat rapuh. Cassie sebagai perempuan yang sangat lantang dan vokal atas suaranya ini bisa jadi ancaman bagi para lelaki yang ingin berlaku jahat padanya.


Film ini juga menggambarkan sebuah ketimpangan lewat tata artistik dengan cerita. Menggunakan warna-warna pastel yang lucu, menawan, dan enak dipandang mata. Tetapi, cerita film ini bergerak ke jalur yang lebih dark dan dalam dari warna-warna yang terlihat dipermukaan. Seperti perempuan itu sendiri yang juga memiliki kekuatan dan haknya untuk bisa tampil serta melakukan apa saja sesuai keinginan mereka.



Emerald Fennell sebagai sutradara perempuan bisa untuk menyampaikan suaranya tentang fenomena yang sering terjadi di perempuan itu sendiri. Bahkan, fenomena tentang rape culture ini terkadang juga sering diremehkan oleh perempuan itu sendiri karena sering termakan oleh kedigdayaan laki-laki yang menormalisasi hal tersebut. Sehingga, diperlihatkan oula beberapa target oleh Cassie ini juga adalah seorang perempuan di mana mereka seharusnya saling menguatkan. Tetapi, dalam realitanya, mereka juga secara tak sadar belum aware betul dengan isu tersebut.


Dari segala hal yang terlihat saklek tentang perempuan dan isu tentang rape culture yang sudah lantang dibicarakan dari awal. Satu hal yang membuat film ini mungkin sedikit bertentangan. Bagaimana paruh terakhirnya yang sedikit problematik. Keputusan yang terjadi dalam karakter Cassie ini sendiri terasa mengganjal. Meski sudah sedikit dipatahkan di konklusi paling akhirnya yang seakan memperlihatkan bahwa kekuatan perempuan masih bisa saja terasa meski secara fisik tidak terlihat. Tetapi, hal ini mungkin bisa saja diterjemahkan salah dan mengglorifikasi hal lain yang berada di luar konteksnya.



Tapi, di luar hal itu, Promising Young Woman tetaplah sebuah revenge thriller yang unik dan menarik. Membahas isu yang relevan tentang perempuan dan diarahkan oleh perempuan, setidaknya suaranya bisa terwakili dan bisa menggambarkan keadaan dengan lebih konkrit. Didukung dengan performa Carey Mulligan yang seduktif, kuat, tapi juga terlihat rapuh ketika dia mau, menjadikannya terlihat lebih manusiawi. Belum lagi pemilihan lagu-lagu dan musiknya yang juga menghipnotis membuat film ini menjadi debut yang menjanjikan dari Emerald Fennell.

THE SECRET GARDEN (2020) REVIEW: Adaptasi Terbaru tentang Kisah Masa Lalu


Mengunjungi kebun rahasia yang ada di The Secret Garden ini layaknya sedang menyelusuri tempat terpencil dalam hati manusia. Ketika sudah mulai mengetahui mana tempat paling personal di dalam dirinya untuk dibuka, barulah mereka mau untuk membuka hatinya, melepaskan segala keresahan di dalam dirinya. Begitu pula yang terjadi ketika menonton The Secret Garden ini. Menyusuri segala petualangan dari sang karakter utamanya untuk bisa menyembuhkan luka di masa lalu dan memahami segala hal yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya.


Sebuah perjalanan menarik yang ditawarkan oleh The Secret Garden terbaru sebagai sebuah adaptasi dari karya klasik yang ditulis oleh Frances Hodgson Burnett. Ini bukan kali pertama, buku beliau diadaptasi menjadi sebuah gambar bergerak dan (harusnya) ditonton di layar besar. Di tahun 1993, Agnieszka Holland telah mengadaptasinya. Tapi, tak ada salahnya untuk kembali mengenalkan kisah dari buku legendaris ini di tahun yang baru oleh sutradara yang baru.


Maka dari itu, hadirlah lagi The Secret Garden yang dirilis di tahun 2020. Di bawah naungan, Heyday Films, Marc Munden bertugas untuk menjadi sang sutradara bagi film ini. Film yang produksi Inggris ini dibintangi oleh beberapa nama besar di dalamnya. Mulai Colin Firth dan Julie Walters sebagai jajaran pemain pendukung karena sorotan utama dari film ini adalah sang karakter anak kecil bernama Mary yang diperankan oleh Dixie Egerickx. Didukung lagi dengan cast anak kecil lain yaitu Amir Wilson dan Edan Hayhurst yang juga memiliki peran penting untuk mengantarkan kisah Mary menyusuri taman rahasia.



Ya, kisah ini terpusat pada karakter Mary (Dixie Egerickx), yang baru saja ditinggal kedua orang tuanya.  Mary menjadi anak yatim piatu dan harus meninggalkan India, tempat dia tinggal sekarang. Dia pun harus  pindah untuk tinggal bersama pamannya, Archibald Craven (Colin Firth) yang ada di London. Saat tinggal bersama pamannya, Mary harus beradaptasi dengan beberapa peraturan di sana.


Salah satunya adalah Mary tidak boleh memasuki beberapa ruangan yang ada di dalam rumah milik pamannya. Tetapi, dia mendengar sebuah suara asing dari kamarnya yang ternyata bermuara dari kamar yang tak boleh dia masuki. Di dalam sana, Mary bertemu dengan Colin (Edan Hayhurst), anak dari pamannya yang sedang sakit. Mary pun berusaha untuk akrab dengan Colin sambil dirinya juga menyusuri segala penjuru rumah dan sekitarnya. Mary juga menemukan sebuah kebun rahasia yang dianggapnya ajaib.



Menelusuri kehidupan Mary, kebun rahasia, tentang Colin, hingga menyembuhkan masa lalu adalah masalah-masalah yang berusaha disampaikan di dalam film ini. Merangkumnya ke dalam satu cerita dengan durasi 97 menit memang sedikit kewalahan. Itulah yang terasa ketika menonton film ini dari awal hingga akhir. Akan sedikit kesusahan untuk menemukan benang merah yang bisa mengkompilasikan segala masalahnya ke dalam satu cerita yang utuh.


Hingga akhirnya, beberapa kali film ini terasa terpisah untuk menyampaikan ceritanya. Naskah milik Jack Thorne ini seakan tak mau kehilangan hal-hal penting di dalam novelnya sekaligus ingin membuat The Secret Garden terbaru ini memiliki cita rasa yang berbeda. Misi inilah yang mungkin akan menjadi bumerang bagi The Secret Garden menuturkan ceritanya secara utuh.


Beruntung, Marc Munden tak ingin terlalu fokus ke dalam cerita-ceritanya yang gelap dan metaforik ini ke dalam filmnya. Dia berusaha untuk tetap menjadikannya sebagai sebuah film keluarga dengan balutan fantasi yang bisa menghibur penontonnya. Alhasil, The Secret Garden memang menyajikan petualangan Mary dengan ringan. Petualangan ini adalah cara Mary untuk bisa mengenal dirinya, mengenal masa lalunya, sekaligus menerima kehidupannya yang mungkin tak sesuai dengan apa yang dia mau.



Inilah celah bagi Marc Munden untuk tetap memberikan sensitivitas dalam pengarahannya. Di tengah menumpuknya segala konflik yang terjadi di dalam filmnya, The Secret Garden masih bisa menyelipkan hati untuk bisa dirasakan oleh penontonnya. Perasaan menyentuh dan emosional di 30 menit terakhirnya cukup menjadi amunisi untuk menikmati The Secret Garden. Nilai-nilai keluarga di dalam The Secret Garden menjadi keunggulannya. Sehingga, The Secret Garden bisa jadi pilihan tepat untuk bisa dinikmati bersama.



Sekaligus, The Secret Garden menyajikan petualangan imajinatif yang penuh warna. Sehingga, Marc Munden berusaha untuk bisa menyampaikan hal itu ke dalam filmnya. Maka dari itu, visual dari The Secret Garden pun indah untuk disaksikan. Dengan tata sinematografi yang menarik, menonton The Secret Garden di tiap adegannya bakal menyejukkan mata. 


Menontonnya lewat layar kecil karena bisa rental lewat iTunes region US saja suka dengan warna-warnanya. Sehingga, kalau bisa, menonton The Secret Garden ini harusnya di layar besar. Filmnya akan tayang di tanggal 20 Januari nanti karena dibawa oleh CBI Pictures dari tahun lalu.




SPONTANEOUS (2020) REVIEW: Kisah Remaja yang Sama Tapi Pengalaman Menontonnya Berbeda


Namanya juga menjadi remaja, pasti masih ada banyak terjadi ledakan-ledakan yang terjadi di dalam dirinya. Tetapi, bagaimana jika tiba-tiba ledakan itu terjadi secara harfiah? Ya, bagaimana jika di saat remaja ini sedang melakukan kegiatannya sehari-hari ternyata tubuh mereka meledak dan hilang begitu saja?

Ya, inilah yang terjadi sesaat film debut dari Brian Duffield ini mengenalkan kisahnya. Spontaneous, film pertama dari dirinya ini adalah sebuah adaptasi dari novel milik Aaron Stahmer. Memiliki pendekatan yang unik dan menarik memang. Meskipun tetap perlu digarisbawahi, bahwa film ini tetap mengangkat kisah remaja yang sedang beradaptasi dengan emosinya serta konflik-konflik yang sama. Tetapi, dengan sedikit sentuhan lain, tentu akan menjadi pendekatan kisah remaja yang lebih menarik untuk dikulik.

Spontaneous dibintangi oleh Katherine Langford, yang namanya mulai melambung lewat serial adaptasi Netflix, 13 Reasons Why. Dirinya juga pernah didapuk untuk ikut menjadi salah satu pemain di Avengers: Endgame meskipun adegannya tidak jadi ditayangkan di filmnya. Bermain di film-film coming of age, tentu bukan hal baru untuk Katherine Langford. Dirinya pun sudah pernah terlibat dengan adaptasi novel lain yaitu Love, Simon.


Tetapi, menjadi remaja yang lebih rebel dan lebih meledak-ledak di film terbarunya ini, sepertinya belum pernah dilihat sebelumnya. Ya, dia menjadi pemeran utama yang mengantarkan ceritadan menemani penonton untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan fenomena yang terjadi di film ini.

Narasi pertama pun sudah menunjukkan kamera menyorot ke karakter Mara (Katherine Langford) yang sedang berada di dalam kelas dan terlihat bosan. Hal itu tak bertahan lama, ketika tahu seorang temannya meledak di depan matanya. Darah, organ tubuh, tentu sudah tersebar di penjuru kelas dan membuat semua orang panik. Hal ini tentu membuat semua remaja di Covington High School merasa takut apabila mereka menjadi salah satu korbannya.

Mara, berusaha sekuat tenaga untuk bisa bertahan hidup dari fenomena aneh yang terjadi di sekolahnya ini. Meskipun, dirinya sudah mempersiapkan apabila hal tersebut terjadi padanya secara tiba-tiba. Tetapi, di tengah hidupnya yang mulai pesimis, dia bertemu dengan seseorang bernama Dylan (Charlie Plummer). Ya, Dylan diam-diam menyukai Mara sejak pertama bertemu meski tak pernah menyampaikannya. Dengan kondisi sekitar yang sedang tak menentu, keduanya memberanikan diri untuk membuka hati satu sama lain.


Jika dikulik dari sinopsis di atas, Spontaneous memang terlihat sebagai sebuah kisah coming of age yang sudah pernah dilihat di beberapa film serupa. Tetapi, hal ini tak bisa dipungkiri, bahwa Spontaneous adalah sebuah film yang solid dan menarik untuk diikuti. Terlebih, bagaimana penggambaran karakter Mara dengan segala perasaan cynical dan sarcastic tentang hidup ini menuntun penonton untuk menyusuri segala keanehan kisah utama di dalam filmnya.

Dengan adanya karakter yang bisa melontarkan dialog-dialog satir dan witty ini, semakin menarik untuk mengikuti Spontaneous. Karakternya menarik untuk diobservasi, konfliknya juga memberikan metafora lain tentang kehidupan remaja. Seakan wabah ledakan di film ini menggambarkan tentang remaja secara general yang memang condong untuk selalu meledak-ledak di dalam hidupnya. Belum paham benar untuk bisa mengontrol segala emosinya. Serta, mengingatkan para remaja untuk sesekali menikmati kehidupan karena bisa saja kamu akan melewatkan hal-hal seru di dalamnya. 

Pesan ini tentu tak akan bisa tersampaikan dengan baik apabila tidak ada performa Katherine Langford yang membius penontonnya hingga akhir. Menarik untuk mengulik kisah di Spontaneous yang asyik karena menyelipkan kisah wabah yang tak teridentifikasi. Penyampaiannya yang pintar ini tentu berkat Brian Duffield dalam menulis dan mengarahkan buku dari Aaron Stahmer.


Tanpa ketelitiannya dalam mengadaptasi kisahnya yang bizarre ini, mungkin Spontaneous akan menjadi film yang aneh untuk dinikmati. Sebagai karya perdana, Brian Duffield berhasil memberikan nafas segar dalam film remaja yang diarahkannya. Kisah-kisah tragisnya bisa dikemas menjadi sajian yang bisa membuat penonton tertawa dengan humor-humor gelapnya tentang kehidupan remaja.

Spontaneous seakan menjadi sebuah hybrid dari beberapa genre yang ada di film-film remaja mulai dari horror, romance, hingga comedy. Bagaimana tidak, film ini seakan memiliki 3 vibe film yang berbeda selama 100 menitnya. Menyadur vibe kisah anak remaja yang sedang melawan kehidupan layaknya film-film yang dibuat oleh John Hughes. Tetapi juga bisa memberikan sensasi tegang layaknya sebuah film horor Karena bisa saja kejadian ledakan atau di film ini disebut Snooze Button ini terjadi begitu saja. 


Belum lagi, film ini Menyelipkan referensi-referensi pop culture di dalam film ini juga bikin seru. Dari tribute-nya ke E.T. hingga Carrie membuat film ini terasa sangat geeky bagi penonton yang paham referensi komedinya. Tapi, tak masalah, bagi penonton yang tak familiar dengan referensi ini pun masih bisa menikmati film ini dengan maksimal. Karena tetap bisa menikmati bagaiman sang karakter saling menertawakan hidupnya yang tragis.

Penonton seakan diajak untuk merasakan emotional roller coaster dengan range yang cukup jauh. Di saat film ini sangat pintar mendistraksi penonton untuk menikmati sajian komedi dan manisnya jatuh cinta, muncul juga perasaan was-was. Mencurigai apa yang terjadi selanjutnya karena penonton merasakan hal yang terlalu manis di saat kondisi di sekitar karakternya sedang tidak baik-baik saja. Inilah letak serunya menonton Spontaneous, yang sesuai dengan judulnya, akan terjadi perasaan spontan yang muncul saat menikmati film ini di setiap menitnya.

Film ini juga punya waktu untuk bersinar saat mengulik sisi emosionalnya. Paruh ketiga film ini barulah menyoroti hal yang lebih dalam lagi. Mengulik sisi vulnerable dari karakternya yang sudah berkembang dari yang dingin hingga memiliki hati yang hangat. Menggali lebih dalam tentang diri sendiri hingga apapun yang berhubungan dengan orang-orang yang disayang.


Ya, menonton film ini di saat pandemi, seakan diajak untuk memikirkan lagi tujuan dan arti hidup bagi masing-masing individu. Meski film ini dibuat jauh sebelum pandemi melanda, tetapi Spontaneous seakan bisa relevan dengan keadaan yang ada. Ya, begitulah Brian Duffield dengan karya perdananya. Walau kisah remajanya pernah ada sebelumnya, tetapi bisa memberikan pengalaman menonton yang segar dan berbeda.

TENET (2020) REVIEW: Yang Baru Dari Nolan, Tapi Bukan yang Terbaik

Christopher Nolan dengan filmografinya menjadi hal yang menarik untuk diikuti. Banyak penikmat film yang menunggu apa yang bakal dibuat olehnya. Hal unik apa lagi yang bakal diangkat oleh sutradara ini utnuk dijadikan sebagai sebuah gambar bergerak.

Konsep fiksi ilmiah.


Hal yang pasti selalu ada di dalam film-film miliknya. Bahkan, dengan cerita yang Berdasarkan kisah nyata pun, Nolan juga bisa menyelipkan unsur tersebut di dalam filmnya. Yes, dengan Dunkirk, penonton dibawa ke penuturan cerita yang menarik di dalam filmnya. Maka dari itu, sangat menarik pula untuk menyaksikan project terbaru dari Nolan yang rilis di tahun ini, Tenet.


Tenet, yang harusnya tayang di bioskop tahun ini, menjadi salah satu film yang ditunggu. Menarik, karena Nolan berusaha menyembunyikan sesuatu di balik Trailer. Cerita apa lagi yang bakal disampaikan Christopher Nolan lewat Tenet ini. Menurutnya, ini adalah film heist yang tentu masih dengan signature cerita dan pengarahannya. Dibintangi oleh beberapa nama yang menarik untuk dikulik. Mulai dari John David Washington, anak dari Denzel Washington. Lalu, juga ada Robert Pattinson, Elizabeth Debicki, Kenneth Branagh, hingga Michael Caine.



Lantas seperti apa Tenet berjalan?


Christopher Nolan tak membuat filmnya untuk bertele-tele menceritakan awal mula filmnya dengan perlahan. Perjalanan film Tenet langsung berjalan kencang memunculkan sebuah keriuhan yang terjadi di sebuah tempat dengan berbagai macam misi. Iya, ditemukan seorang tokoh utama yang tanpa nama dan diperankan oleh John David Washington ini sebut saja The Protagonist. Dia tengah melakukan sebuah misi yang penonton tak beri tahu secara detil.


Tapi, ketika hidupnya dikira akan berakhir sampai misi itu selesai, nyatanya tidak. The Protagonist mencari tahu sesuatu yang dia temukan di saat menjalankan misi sebelumnya. Ada seseorang yang melakukan time inversion tetapi bukan dari pihaknya. Ketika diusut, hal ini ada hal yang berhubungan dengan kepentingan orang dari masa depan yang ingin membuat dunia semakin berantakan dan penuh akan perang. The Protagonist berusaha mencari siapa dalang dari semua hal ini.



Bukan yang terbaik dari Nolan, tapi gak seburuk yang dikata orang.


Pernyataan itulah yang terlintas ketika selesai menonton film terbaru dari Christopher Nolan. Iya, dengan premis cerita yang ringan dan sederhana ini, Nolan mengajak penontonnya itu mengarungi pemikirannya yang seperti labirin. Perjalanan untuk bisa mengetahui inti ceritanya tak semudah dari titik awal lalu lurus ke garis akhir. Tapi, akan diajak dulu ke alternatif jalan lain yang lebih berkelok untuk akhirnya bisa menemukan garis akhirnya. Lama, tapi sebenarnya perjalanan itu akan dibuat menarik oleh Nolan.


Ya, begitulah film-film Nolan. Tenet seakan ingin mengulang apa yang dia lakukan dengan Memento. Terlihat dengan bagaimana adegan utama di film ini sudah menyuguhkan keriuhan yang membuat penontonnya bertanya-tanya apa yang terjadi selanjutnya. Tapi, Nolan pun sudah menyuguhi tanda untuk penontonnya untuk tak terlalu ambil pusing dengan segala keribetan yang terjadi di dalam plotnya lewat dialog dari salah satu karakternya.


“Don’t try to understand it, just feel it”


Gak perlu kamu berusaha untuk memahami secara detail dengan segala keribetan teori tentang time inversion  di dalam film ini. Tentu masih ada hubungan di dalam ceritanya, tapi time inversion digunakan sebagai distraksi penonton untuk tetap terjaga, untuk tetap penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya. Karena setelahnya, segala keribetan itu pun akan terjawab sudah di sepertiga akhir dari filmnya. Semuanya akan terjawab dengan mudah sebenarnya.



Benar adanya dialog yang sudah ditebar di awal film ini. Tonton saja film berdurasi 150 menit ini dengan seksama, dengan berbagai macam cabang cerita yang menarik untuk diikuti. Tak Hanya fokus tentang heist motive menjadi jalan cerita utamanya. Tapi, cabang cerita lain tentang perjuangan seorang Ibu demi selalu dekat dengan anaknya yang juga cukup menyita perhatian. Itu pun diperkuat dengan pesona dan penampilan Elizabeth Debicki yang menarik.


Tenet, bila diartikan secara harfiah pun adalah sebuah keyakinan atau sebuah prinsip. Ya, ini yang berusaha ditekankan oleh Christopher Nolan di dalam filmnya. Keyakinan dari karakter yang dibuatnya ini memahami realita yang ada di sekitarnya. Begitu pula dengan pemahaman dari penontonnya karena segala cerita yang berusaha disampaikan oleh Christopher Nolan dalam Tenet ini sebetulnya adalah sebuah lingkaran yang tak tanpa henti. Berputar di situ-situ saja intinya, tapi terserah kamu mau memulai garis awalnya dari mana.


Maka dari itu, benar apabila menggunakan Time Inversion untuk menjalankan plot ceritanya. Konsep yang menarik sebenarnya. Apalagi untuk penonton yang memang mencintai atau gemar dengan film-film bertema serupa. Hanya saja, menyampaikan kisahnya yang terlalu bercabang dan rumit sendiri ini lah yang terkadang membuat filmnya agak sedikit kewalahan. Fokus yang terlalu banyak inilah yang membuat segalanya agak rumit untuk diikuti. Andai saja, Christopher Nolan fokus untuk menceritakan segala riweuhnya time inversion yang dia buat. Mungkin, segalanya berjalan dengan lancar.



Tapi, tetap saja, Tenet masih menjadi sebuah sajian yang menyenangkan untuk diikuti dengan segala action sequences yang sangat menarik. Dengan segala ledakan-ledakan tanpa CGI yang membuat penontonnya kagum. Akan sangat menarik apabila film ini disaksikan dengan layar yang besar. Jadi, tunggu saja, mungkin ketika waktunya tepat, film ini akan segera dirilis di Indonesia dengan format yang lebih layak dan sesuai. Mungkin buat yang Sudah tidak sabar seperti saya, menontonnya dalam format Bluray pun juga bisa.


Cuma, tentu akan rela untuk menonton film ini lagi di bioskop (Jika bioskop di sekitar daerah tempat saya tinggal sudah buka)

[NOW STREAMING] MOLA LIVING LIVE: Menilik Kehidupan Para Bintang


Pernah gak sih punya keinginan untuk tahu lebih dekat dengan beberapa nama terkenal dan mengetahui apa aja sih yang dibahas sama mereka? Mencari-cari info tentang mereka mungkin bisa jadi salah satu cara. Tapi, itu pun belum tentu bisa menjawab beberapa kebutuhan informasi yang ingin kita dapat.

Nah, Mola TV, sebagai salah satu platform streaming ini punya segmen sendiri biar bisa mengenal lebih dekat dengan nama-nama terkenal. Maka dari itu, Mola TV menyediakan ruang untuk mendekatkan penonton dengan nama-nama besar ini dengan lebih intimate yaitu Mola Living Live. Ini adalah acara di mana nama-nama besar akan bisa memberikan inspirasi secara langsung bagi para penontonnya agar bisa terasa lebih dekat.

Sudah ada banyak nama yang terlibat dalam acara Mola Living Live ini. Pastinya, nama-nama lain yang bakal terlibat bakal terus bertambah, nih. Mulai dari Luc Besson, Mike Tyson, Sharon Stone, Darren Aronofsky, hingga Spike Lee sudah dihadirkan untuk menginspirasi penonton yang memang passion dengan bidang yang ditekuni oleh nama-nama tersebut.


Dengan banyaknya nama-nama terkenal yang ada di dalam acara ini, tak membuat mereka membicarakan hal-hal yang sama. Tentu ada banyak topik yang bakal diangkat di setiap episode di Mola Living Live ini dan ternyata setiap nama-nama besar memiliki hal-hal yang menarik untuk dikulik. Ada sisi lain pula yang membuat wawancara yang dilakukan di acara ini tetap menarik untuk ditonton sampai akhir.


Tenang, bakal ada moderator keren yang nemenin sampai acara ini selesai juga kok. Para moderator ini juga disesuaikan dengan para bintang yang sedang hadir dan sesuai dengan bidang masing-masing. Mulai dari Reza Rahadian, Timo Tjahjanto, hingga Susi Pudjiastuti. Wah, jelas bakal menarik banget mengetahui moderatornya pun memiliki dasar pengetahuan yang sama yang membuat penonton bisa mendapatkan informasi yang jadi lebih kaya.


Membahas tentang perjalanan hidup para bintang dari awal hingga akhir. Problematika apa yang ditemukan oleh mereka. Hingga, membahas tentang proyek-proyek apa yang mereka kerjakan. Wah, ini pasti jadi bocoran buat kamu biar tahu apa aja sih yang mereka lakukan. Siapa tahu, kamu sebagai penggemar dari nama-nama tersebut bisa semakin kenal dan tahu bahkan bisa semakin excited untuk menantikan karya-karya terbaru yang akan mereka buat.


Maka dari itu, Mola Living Live juga gak bakal berhenti untuk terus mencari narasumber lain untuk bisa memberikan tontonan yang menginspirasi. Di tanggal 16 Desember 2020 nanti, Robert De Niro yang bakal hadir untuk membagikan ceritanya kepada penonton Mola TV yang ada di rumah. Jadi, buat kamu yang sudah mengagumi performa akting dari aktor legendaris ini saatnya siap-siap menyiapkan pertanyaan, karena kamu bisa tanya langsung di sesi tanya jawab.


Menilik dulu, siapa itu Robert De Niro, dia adalah salah satu aktor legendaris yang pernah terjun ke beberapa film dalam rekam jejaknya. Sudah juga bekerjasama dengan berbagai macam sineas legendaris pula seperti Martin Scorsese dengan berbagai judul. Dari Taxi Driver hingga The Irishman. Ada pula kolaborasinya dengan Michael Mann lewat Heat dan masih banyak lagi.


“One of the things about acting is it allows you to live other people's lives without having to pay the price.” - Robert De-Niro.


Sebuah kalimat menarik dari Robert De-Niro tentang bagaimana dirinya mencintai dunia perannya. Wah, bakal menjadi diskusi yang menarik nih.


Jadi, langsung siap-siap buat langganan Mola TV sekarang. Cuma Rp12.500 aja, kamu udah bisa akses selama satu bulan. Gak cuma bisa nonton acara keren ini, kamu juga bisa cari-cari film hidden gem yang keren-keren nih. Dengan pembayaran yang mudah pula, karena bisa memakai banyak metode pembayaran. Jadi, langsung streaming sekarang di sini dan jangan sampai ketinggalan ya!

NEVER RARELY SOMETIMES ALWAYS (2020) REVIEW: Perjalanan Perempuan Menentukan Keputusan Untuk Tubuhnya


Remaja dan eksplorasi terhadap tubuhnya. Menjadi sebuah persoalan yang mungkin akan terus terjadi selama mereka tak memiliki ruang untuk bisa mempelajarinya dengan tepat. Realita-realita tentang remaja dan kehidupan seksualnya yang beberapa tak ada yang mengerti dengan benar inilah yang perlu disebarkan. Dengan tujuan, memberikan realita kepada orang lain bahwa masih ada banyak orang-orang yang belum terpapar benar terhadap pendidikan seks.


Film dengan beragam fungsi, menjadi salah satu medium untuk memberi gambaran tentang realita yang ada. Mungkin dengan dasar inilah, Eliza Hittman membuat karya terbarunya. Never Rarely Sometimes Always, karya terbarunya ini tak hanya bertanggungjawab di kursi sutradara saja. Tapi, dia juga bertanggungjawab atas naskah di filmnya. Menarik, karena film ini pun menyoroti kehidupan karakter utama perempuan yang diperankan oleh Sidney Flanigan.


Menarik mendapatkan kisah tentang perempuan yang ditulis sendiri oleh perempuan. Karena pasti ada sensitivitas yang berbeda yang tak mungkin didapatkan dari sutradara dengan jenis kelamin berbeda. Seakan ini adalah medium bagi perempuan untuk menyuarakan pendapat dari sudut pandang mereka. Begitu pula yang terjadi di film Never Rarely Sometimes Always. Menyoroti problematika remaja perempuan yang sedang kehilangan arah saat menemui dirinya sedang hamil.



Ya, film ini dimulai dari masalah milik remaja perempuan usia 17 tahun bernama Autumn (Sidney Flanigan). Entah setelah berhubungan dengan siapa, di film ini diceritakan dia telah mengandung seorang bayi berumur 10 minggu kata klinik dekat rumahnya. Tapi, Autumn memutuskan untuk tak mempertahankan anak yang ada di dalam kandungannya. Dia berusaha melakukan aborsi agar bisa meneruskan hidupnya sebagai remaja SMA yang memasuki tahun terakhir sekolahnya.


Autumn pun tak memberitahukan perihal kehamilannya dengan keluarganya. Tapi, Autumn berusaha menceritakan problemnya ini ke sepupunya bernama Skylar (Taila Ryder). Tak berusaha untuk malah menilai perbuatan Autumn, Skylar berusaha mendukung apa yang ingin dilakukan oleh Autumn. Pergilah dia ke tempat di mana Autumn bisa ‘menghilangkan’ kandungan yang ada di dalam perutnya.



Memfokuskan filmnya ke masalah perempuan dengan tubuhnya.

Seperti yang sudah dibilang di sinopsis tadi, tak ada cerita tentang bagaimana Autumn bisa mengandung anaknya. Bersama siapa dia telah melakukan hubungan intimnya. Tapi, Never Rarely Sometimes Always ini lebih fokus terhadap Masalah Autumn dengan dirinya, dengan keputusan dalam hidupnya. Eliza Hittman seperti menggunakan filmnya sebagai medium perempuan untuk bersuara.


Menggunakan Autumn sebagai karakter yang bisa diasosiasikan dengan problematika perempuan yang relevan dengan kondisi masa kini. Di mana dia tetap teguh dengan pendiriannya, teguh akan pilihannya untuk menentukan hidupnya bakal seperti apa. Penonton akan diajak ke perjalanan Autumn yang atmosfirnya cukup gelap. Tetapi, Eliza Hittman tetap bisa memberikan ruang bagi penonton untuk bisa menaruh simpati terhadap karakternya.


Ini didukung dengan performa dari Sidney Flanigan yang bisa menghinoptis penontonnya. Mungkin tak banyak bicara, tapi subtlety dalam permainan perannya bisa mengungkapkan segala keresahan dalam dirinya. Memperlihatkan kebingungan, kehampaan, dan kecemasan karakter Autumn tanpa harus terlihat meluap-luap. Biarkan pula masalah di sekitar karakternya berkembang dan pada akhirnya sang karakter utamanya ini bisa mulai perlahan-lahan terbuka. Memeluk segala masalah dan trauma dari dalam dirinya hingga bisa melepaskan segala keresahannya.


Never. Rarely. Sometimes. Always. Empat kata yang menyusun menjadi judulnya ini ternyata berperan penting menjadi kunci di dalam filmnya. Autumn yang sudah lama memendam perasaan hanya bisa mengungkapkan apa yang dia rasa lewat empat opsi kata ini dalam yang biasa muncul dalam survey. Hingga pada akhirnya, penonton bisa mengetahui apa yang menyebabkan Autumn memutuskan untuk mengugurkan kandungannya.



HER LIFE. HER CHOICE. HER DECISION.

Mungkin itu juga yang pas menggambarkan film ini. Setelah filmnya berakhir pun, tak ada mengulik lagi seperti apa kehidupan Autumn setelahnya. Ini murni sebagai pengingat, sebagai medium bagi sang sutradara untuk lebih fokus terhadap problem yang dihadapi oleh seorang perempuan. 


Mereka hidup dengan penuh ancaman, kekerasan, dan kontrol atas tubuh serta keputusannya. Laki-laki dan kuasanya memiliki kontrol atas perempuan. Tetapi, perempuan sendiri tak pernah punya ruang untuk bergerak, mengekspresikan dirinya, memiliki kontrol pula atas dirinya. Yang mereka butuhkan pun sederhana. Mereka butuh ruang untuk menyampaikan suaranya, mereka butuh perempuan yang juga tahu akan perjalanannya. Mereka juga butuh perempuan yang memberikan support agar dirinya tahu bahwa dia tidak sendirian. Seperti yang dilakukan oleh Skylar kepada Autumn di film ini.


Maka, penting untuk menonton Never Rarely Sometimes Always ini. Sebuah film yang mungkin akan menampar penontonnya. Menyusuri realita kehidupan yang gelap tentang perempuan dan tubuhnya hingga bagaimana perempuan mengambil keputusan dalam hidupnya. Setelah nonton pun, penonton akan merasa dihantui dengan penuturan filmnya yang lembut tapi berdampak sangat besar. Salah satu film penting dan terbaik di tahun ini.


Available on HBO MAX


GODMOTHERED (2020) REVIEW: Kisah Familiar dari Disney yang Membuat Hati Senang

Natal dan Tahun Baru. Menjadi momentum bagi film makers Hollywood untuk membuat film untuk menemani para penikmat film. Film-film bertema keluarga yang ringan tapi menyenangkan ini perlu hadir untuk memeriahkan momennya. Tentu, ini lahan Disney untuk membuat film dengan tema seperti ini. Meski bukan untuk dirilis secara teatrikal -selain kondisi pandemi yang tak kunjung mereda -tapi, Disney mencoba untuk menghadirkan semangat liburan ini ke dalam film yang dirilis langsung ke layanan streamingnya.

Tak hanya berkutat dengan setting waktu yang menyesuaikan momen liburan Natal dan Tahun Baru, tapi di film original-nya ini Disney bermain di ranahnya. Mengulik lagi tema fairy tale yang biasa diangkat oleh rumah produksi satu ini dengan sedikit twist yang lain. Godmothered, film persemabahan dari Disney untuk memeriahkan festive liburan tahun ini berasal dari sutradara Bridget Jones yaitu Sharon Maguire. Dimeriahkan pula oleh Jillian Bell dan Isla Fisher yang berkolaborasi di dalam film ini.


Dengan sajian trailer yang menarik, orang-orang yang suka dengan film tema serupa akan dengan mudah jatuh cinta dan menantikan film Godmothered ini. Apalagi, buat penonton yang Sudah familiar dengan cerita-cerita Disney dengan tema seperti ini. Godmothered tentu menjadi sajian yang sangat ringan untuk dinikmati sambil bersantai di rumah bersama keluarga. Jalinan ceritanya memang sederhana, tapi Godmothered bisa membuat penontonnya merasakan kenyamanan untuk menonton hingga akhir.



Gimana gak ringan? Kisahnya juga cuma menceritakan tentang seorang Ibu peri baru bernama Eleanor (Jillian Bell) yang tak Punya kesempatan untuk membuktikan skillnya. Sampai akhirnya dia menemukan sebuah pesan dari seorang anak yang ingin punya kehidupan bahagia. Eleanor merasa ini waktu yang tepat untuknya. Sehingga, dia memutuskan kabur dari negeri ‘dongeng’nya dan menyelesaikan misi dari anak ini untuk menemukan ‘hidup bahagia selamanya’.


Ketika Eleanor sudah rela kabur dan bertemu dengan anak ini, ternyata sang anak sudah berusia paruh baya. Ya, dia adalah Mackenzie (Isla Fisher) yang menjadi seorang janda anak dua yang ditinggal suaminya. Pertemuan pertama mereka tentu membingungkan. Apalagi Mackenzie yang notabene Sudah menjadi dewasa tentu akan susah percaya Eleanor adalah seorang Ibu Peri. Tapi, Eleanor tak patah semangat. Dia mencoba untuk terus membuat Mackenzie percaya dan mewujudkan impiannya.



Disney dan kisah di zona aman tapi bikin nyaman.


Inilah yang dirasakan setelah nonton Godmothered dari Disney yang diarahkan oleh Sharon Maguire yang menjadi Disney+ Originals. Kisah-kisahnya mungkin familiar dengan beberapa film-film Disney yang lain. Tak ada sesuatu yang baru yang dihadirkan di dalam Godmothered sebenarnya. Kisahnya juga sangat predictable. Ya, namanya juga film buat keluarga, jadi plotnya begitu sederhana dan ringan. Tapi, charm-nya masih bisa dirasakan dengan sangat kuat. Tipe-tipe film yang kalau kelar nonton, bisa bikin hati bahagia.


Perjalanan filmnya juga pas untuk diikuti berkat performa Jillian Bell dan Isla Fisher yang bisa menghidupkan suasana filmnya. Atmosfir film liburan yang menyenangkan ini melekat dengan mudah di dalam film ini. Tentu, menjadi teman tontonan liburan bersama keluarga yang sesuai. Tapi, ada beberapa perubahan pesan yang berusaha disampaikan tentang film ini. Godmothered berusaha medaur ulang pesan usang dari Disney tentang kehidupan “bahagia selamanya”.


Inilah menariknya Disney dengan karya-karya terbarunya. Meski tetap berada di zona aman dalam jalinan ceritanya, tapi ada redefinisi dalam pesan-pesan usangnya. Godmothered juga melakukan tren yang sama. Memberikan pengertian kepada penontonnya bahwa standar “bahagia selamanya” bagi Setiap orang mungkin berbeda-beda. Terutama pada karakter-karakter perempuan di dalam film ini.



Iya, perempuan biasanya menganggap bahwa “hidup bahagia selamanya” adalah dengan menikahi seorang “pangeran” tampan dalam hidupnya. Standar inilah yang berusaha dipatahkan dalam film Godmothered. Begitu pula dengan apa yang ditulis di dalam film ini. Perempuan bisa memilih apapun keputusan dalam hidupnya selama dia bahagia. Bahkan, lewat dominasi karakter perempuan di dalam film ini, menunjukkan bahwa sesama perempuan pun bisa menguatkan satu sama lain. Karena tak selamanya memiliki pendamping hidup adalah goals utama dari semua perempuan di dunia.


Dengan pesan yang cukup berat ini, tapi Godmothered tahu bahwa film ini punya targetnya. Siapa lagi kalau bukan penonton keluarga dan untuk semua usia. Dengan pesannya yang besar, mungkin penyelesaian ceritanya juga dianggap terlalu mudah. Ini adalah kelemahan dari Godmothered. Penutupnya yang terlalu mudah, terlalu padat, tapi emosi yang disampaikan di film ini tak terlalu kuat. Jadinya, penyelesaian film ini akan berlalu begitu saja.


Belum lagi subplot lain yang hadir di film ini yang malah kesannya hanya sebagai pendamping. Mungkin hanya digunakan sebagai syarat agar plot ceritanya bisa berjalan sampai 100 menit. Tapi, semuanya terasa terlalu cepat, tanpa perlu dikulik lebih. Mungkin ini juga yang dilakukan agar film ini tetap terasa ringan untuk ditonton. 



Ya, tapi Godmothered tetap menyenangkan untuk disaksikan di tengah suasana pandemi yang tak kunjung mereda. Menonton film ini akan membuat hati bahagia. Apalagi, Godmothered serasa berusaha untuk mengingatkan penontonnya dengan film yang lain. Seperti kisah-kisah klasiknya, Cinderella hingga kisah klasik moderen-nya lewat Enchanted. Meski film ini belum bisa menyaingi keduanya, tapi ini adalah feel-good film yang sayang buat dilewatin gitu aja.