• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label January. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label January. Tampilkan semua postingan

PAWN (2020) REVIEW: Kisah Keluarga Tak Utuh yang Bikin Air Mata Jatuh

Korea dan film drama tentang keluarga selalu mencuri perhatian. Negaranya yang masih berada di kawasan Asia ini membuat penonton Indonesia masih bisa terasa dekat dengan kisah yang ditawarkan. Masih ada kedekatan budaya Korea yang masih relatable bagi penonton Indonesia. Maka dari itu, penonton Indonesia dengan mudah terkoneksi. 

Kedatangan sebuah trailer dari film keluarga terbaru berjudul Pawn produksi CJ Entertainment ini seakan menjadi magnet bagi penggemar film Korea bertema keluarga. Apalagi, ada nama Sung Dong-Il yang sudah terbiasa bermain di film-film bertema serupa. Film ini garapan Kang Dae-gyu ini juga dibintangi oleh nama-nama terkenal seperti Kim Hee-Won hingga Ha Ji-Won. Bukan kali pertama Kang Dae-gyu mengarahkan sebuah film drama tentang dysfunctional family. Film berjudul Harmony juga adalah film yang diarahkan olehnya.

Sehingga, tak salah apabila Kang Dae-gyu sudah tahu bagaimana mengolah emosi untuk mengantarkan kisah keluarga tak utuh dari film Pawn ini. Dengan mudah bagi Kang Dae-gyu mengetahui ritmenya mengantarkan kisah dari filmnya untuk bisa membuat penontonnya bersimpati dengan para karakternya. Inilah yang penting karena bagaimana film Pawn ini mengajak penontonnya untuk mengikuti perjalanan hidup karakternya yang sedang berkembang dalam durasinya sepanjang 115 menit.

Karakter-karakternya bertemu dalam setting tahun 1993, di mana Doo-Seok (Sung Dong-Il) adalah seorang debt collector yang memiliki rekan kerja bernama Jong Bae (Kim Hee-Won). Mereka menjalankan tugas mereka untuk menagih orang-orang yang berhutang di perusahaan tempat dia dikerjakan. Hingga akhirnya, dia menagih kepada seorang Ibu bernama Myung Ja (Yunjin Kim). Dia memiliki satu orang anak bernama Seung Yi kecil (Park Seo-Yi).

Myung Ja belum bisa membayar hutangnya karena sang suami kabur dengan wanita lain. Hal ini semakin membuatnya bingung karena keesokan harinya, Myung Ja harus dideportasi dari Korea karena dia tak memiliki izin tinggal di sana karena dirinya berasal dari China. Karena tidak bisa membayar, akhirnya Doo-Seok menggunakan Seung Yi sebagai jaminan. Myung Ja pun harus memutar otak untuk bisa menebus anaknya dan hidup bersamanya.

Perjalanan untuk mengantarkan ceritanya dengan setting jadul hingga masa kini pun tak diantarkan dengan lurus saja. Kang Dae-gyu berusaha bermain dalam penuturannya sehingga adegan pembukanya pun sudah diperlihatkan bagaimana Seung Yi dewasa yang mencari tahu tentang seseorang di masa lalunya. Adegan ini akan dengan mudah memancing rasa penasaran penonton. Karena masa lalu dari seorang Seung Yi ini memiliki banyak pengertiannya.

Seiring dengan berjalannya durasi film Pawn ini berjalan, barulah penonton akan menemukan sebuah benang merah tentang apa yang dia cari. Hingga pada satu momen penting di paruh ketiga dari film ini, Pawn berjalan dari kisahnya yang hangat dan menyenangkan menjadi sesuatu yang mengoyak hati penontonnya. Mungkin penonton yang sudah paham benar dengan film bergenre serupa akan sudah bersiap-siap dengan apa yang terjadi di paruh ketiganya.

Tetapi, tetap saja, penontonnya juga tak bisa mengelak segala perasaan emosional yang terjadi dalam revealing conflict di film Pawn ini. Terutama, Kang Dae-Gyu Sudah mengajak penontonnya untuk bisa terhubung ke setiap karakternya. Dari segala jatuh Bangun, perubahan, hingga perkembangan yang ada. Dari Doo-Seok yang berusaha tak tahu harus handle karakter Seung Yi. Hingga akhirnya, ikatan emosi itu terjalin hingga akhirnya mereka berdua seakan seperti ayah dan anak kandung meskipun tak memiliki hubungan darah.

Bahkan, Pawn juga sempat menggunakan subplot yang sedikit kelam tentang human trafficking yang marak terjadi di Korea. Tetapi, meski berada dalam kisahnya yang kelam, film Pawn tetaplah sebuah drama keluarga yang sangat hangat. Bahkan, baru saja berjalan di paruh pertama filmnya saja, air mata penonton sudah diundang untuk ikut serta ke dalam filmnya. Lalu, ditutup manis dengan satu quote penting yang merujuk ke judul filmya dan menjadi punch emosi utama dalam filmnya. 

Pawn, lagi-lagi menjadi entry dalam film drama keluarga asal Korea yang sangat emosional dan wajib ditonton. Siapkan diri dan pasrah saja dengan segala emosi yang disampaikan di film ini. Sekedar saran, sedia tisu aja.

Kamu bisa tonton film ini lewat aplikasi GoPlay dengan harga rental per filmnya sebesar Rp35.000.



PROMISING YOUNG WOMAN (2020) REVIEW: Promising Debut From New Director

“I was busy thinking ‘bout boys.”

Opening dimulai dengan lagu milik Charli XCX berjudul Boys terdengar dengan setting di dalam sebuah club penuh gemuruh pesta. Shot kamera diarahkan kepada segala lekuk tubuh laki-laki hingga ke bagian personalnya. Seakan film ini memperjelas ke mana film ini ditujukan dan diarahkan. Apabila, seringnya laki-laki menggunakan point of view mereka dalam mengarahkan kameranya kepada perempuan. Kali ini, laki-laki lah yang mendapatkan treatment yang sama.


Begitulah adegan pembuka dari Promising Young Woman yang seakan mempertegas bagaimana film ini nantinya akan berlanjut. Dari bagaimana pengambilan gambar saja sudah jelas bahwa film ini akan menyorot tentang perempuan dan balas dendam. Bagaimana perempuan juga punya kekuatan yang sama untuk memperlakukan laki-laki dengan cara yang sama. Sehingga, di 115 menit ke depan, persoalan dari film ini juga akan membahas tentang perempuan dan problematikanya dengan society yang ada.


Promising Young Woman ini diarahkan oleh Emerald Fennell yang juga seorang perempuan. Tak hanya sebagai sutradara, tetapi dirinya juga memiliki kendali untuk menuliskan naskah filmnya. Dalam penulisan cerita, dirinya sudah memiliki jam terbang lewat serial Killing Eve. Tetapi, dalam mengarahkan sebuah film layar lebar dan menulisnya, ini adalah kali pertama untuk Emerald Fennell. Tetapi, lewat adegan pembuka saja, film ini sudah banyak menaruh perhatian.



Film ini juga dibintangi oleh Carey Mulligan yang berperan sebagai Cassie, sang pemeran utama di dalam film ini. Diramaikan juga oleh beberapa nama lain mulai dari Bo Burnham, Laverne Cox, Clancy Brown, Jennifer Coolidge, hingga Alison Brie dan Max Brody. Nama-nama ini berperan sebagai pendukung karakter utamanya untuk bersinar. Diperkuat dengan performa Carey Mulligan yang tak terhentikan, Promising Young Woman menjadi film balas dendam yang sangat menarik untuk diikuti.


Ini adalah kisah tentang seseorang bernama Cassie (Carey Mulligan), perempuan yang pernah mengenyam pendidikan kedokteran ini bekerja di sebuah coffee shop kecil di usianya yang memasuki 30 tahun. Tetapi, dia memang sedang berusaha menikmati hidupnya sendiri. Selain itu, dia juga memiliki misi dalam hidupnya yang memiliki hubungan dengan masa lalunya.


Membalaskan dendam. Hal itu yang ingin dia lakukan untuk membalaskan dendam tentang sahabatnya, Nina yang meninggal saat berada di sekolah. Dia menjadi korban atas tidak bisa dikontrolnya hasrat laki-laki dan berujung pemerkosaan secara publik. Tetapi, kasus ini seakan tidak dilanjutkan oleh pihak sekolahnya. Mereka dipaksa diam dan berujung Cassie dan Nina harus keluar dari sekolah. Hingga di saat waktunya tepat, Cassie memulai aksi balas dendamnya.



Film ini memulai rencana balas dendamnya perlahan. Pembalasan dendamnya bukan kepada para pelaku awalnya. Tetapi, ingin memberikan sebuah ‘awareness’ tentang rape culture kepada para pria-pria hidung belang yang ingin melakukan tipu daya kepada perempuan yang sedang dalam keadaan tidak sadar di sebuah bar. Menilik dan mempelajari segala background karakternya agar penonton bisa terasa dekat dengannya. Setelah di satu poin di mana Cassie bertemu dengan Ryan (Bo Burnham) yang juga berada di satu sekolah kedokteran barulah tensi film ini mulai naik perlahan.


Mengikuti segala rencana-rencana balas dendam seorang perempuan dengan masa lalunya yang kelam di film ini bisa sangat-sangat menyenangkan. Dilakukan dengan cara-cara yang intimidating dan bisa memperlihatkan bagaimana maskulinitas laki-laki sebenarnya bisa terlihat sangat rapuh. Cassie sebagai perempuan yang sangat lantang dan vokal atas suaranya ini bisa jadi ancaman bagi para lelaki yang ingin berlaku jahat padanya.


Film ini juga menggambarkan sebuah ketimpangan lewat tata artistik dengan cerita. Menggunakan warna-warna pastel yang lucu, menawan, dan enak dipandang mata. Tetapi, cerita film ini bergerak ke jalur yang lebih dark dan dalam dari warna-warna yang terlihat dipermukaan. Seperti perempuan itu sendiri yang juga memiliki kekuatan dan haknya untuk bisa tampil serta melakukan apa saja sesuai keinginan mereka.



Emerald Fennell sebagai sutradara perempuan bisa untuk menyampaikan suaranya tentang fenomena yang sering terjadi di perempuan itu sendiri. Bahkan, fenomena tentang rape culture ini terkadang juga sering diremehkan oleh perempuan itu sendiri karena sering termakan oleh kedigdayaan laki-laki yang menormalisasi hal tersebut. Sehingga, diperlihatkan oula beberapa target oleh Cassie ini juga adalah seorang perempuan di mana mereka seharusnya saling menguatkan. Tetapi, dalam realitanya, mereka juga secara tak sadar belum aware betul dengan isu tersebut.


Dari segala hal yang terlihat saklek tentang perempuan dan isu tentang rape culture yang sudah lantang dibicarakan dari awal. Satu hal yang membuat film ini mungkin sedikit bertentangan. Bagaimana paruh terakhirnya yang sedikit problematik. Keputusan yang terjadi dalam karakter Cassie ini sendiri terasa mengganjal. Meski sudah sedikit dipatahkan di konklusi paling akhirnya yang seakan memperlihatkan bahwa kekuatan perempuan masih bisa saja terasa meski secara fisik tidak terlihat. Tetapi, hal ini mungkin bisa saja diterjemahkan salah dan mengglorifikasi hal lain yang berada di luar konteksnya.



Tapi, di luar hal itu, Promising Young Woman tetaplah sebuah revenge thriller yang unik dan menarik. Membahas isu yang relevan tentang perempuan dan diarahkan oleh perempuan, setidaknya suaranya bisa terwakili dan bisa menggambarkan keadaan dengan lebih konkrit. Didukung dengan performa Carey Mulligan yang seduktif, kuat, tapi juga terlihat rapuh ketika dia mau, menjadikannya terlihat lebih manusiawi. Belum lagi pemilihan lagu-lagu dan musiknya yang juga menghipnotis membuat film ini menjadi debut yang menjanjikan dari Emerald Fennell.

THE SECRET GARDEN (2020) REVIEW: Adaptasi Terbaru tentang Kisah Masa Lalu


Mengunjungi kebun rahasia yang ada di The Secret Garden ini layaknya sedang menyelusuri tempat terpencil dalam hati manusia. Ketika sudah mulai mengetahui mana tempat paling personal di dalam dirinya untuk dibuka, barulah mereka mau untuk membuka hatinya, melepaskan segala keresahan di dalam dirinya. Begitu pula yang terjadi ketika menonton The Secret Garden ini. Menyusuri segala petualangan dari sang karakter utamanya untuk bisa menyembuhkan luka di masa lalu dan memahami segala hal yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya.


Sebuah perjalanan menarik yang ditawarkan oleh The Secret Garden terbaru sebagai sebuah adaptasi dari karya klasik yang ditulis oleh Frances Hodgson Burnett. Ini bukan kali pertama, buku beliau diadaptasi menjadi sebuah gambar bergerak dan (harusnya) ditonton di layar besar. Di tahun 1993, Agnieszka Holland telah mengadaptasinya. Tapi, tak ada salahnya untuk kembali mengenalkan kisah dari buku legendaris ini di tahun yang baru oleh sutradara yang baru.


Maka dari itu, hadirlah lagi The Secret Garden yang dirilis di tahun 2020. Di bawah naungan, Heyday Films, Marc Munden bertugas untuk menjadi sang sutradara bagi film ini. Film yang produksi Inggris ini dibintangi oleh beberapa nama besar di dalamnya. Mulai Colin Firth dan Julie Walters sebagai jajaran pemain pendukung karena sorotan utama dari film ini adalah sang karakter anak kecil bernama Mary yang diperankan oleh Dixie Egerickx. Didukung lagi dengan cast anak kecil lain yaitu Amir Wilson dan Edan Hayhurst yang juga memiliki peran penting untuk mengantarkan kisah Mary menyusuri taman rahasia.



Ya, kisah ini terpusat pada karakter Mary (Dixie Egerickx), yang baru saja ditinggal kedua orang tuanya.  Mary menjadi anak yatim piatu dan harus meninggalkan India, tempat dia tinggal sekarang. Dia pun harus  pindah untuk tinggal bersama pamannya, Archibald Craven (Colin Firth) yang ada di London. Saat tinggal bersama pamannya, Mary harus beradaptasi dengan beberapa peraturan di sana.


Salah satunya adalah Mary tidak boleh memasuki beberapa ruangan yang ada di dalam rumah milik pamannya. Tetapi, dia mendengar sebuah suara asing dari kamarnya yang ternyata bermuara dari kamar yang tak boleh dia masuki. Di dalam sana, Mary bertemu dengan Colin (Edan Hayhurst), anak dari pamannya yang sedang sakit. Mary pun berusaha untuk akrab dengan Colin sambil dirinya juga menyusuri segala penjuru rumah dan sekitarnya. Mary juga menemukan sebuah kebun rahasia yang dianggapnya ajaib.



Menelusuri kehidupan Mary, kebun rahasia, tentang Colin, hingga menyembuhkan masa lalu adalah masalah-masalah yang berusaha disampaikan di dalam film ini. Merangkumnya ke dalam satu cerita dengan durasi 97 menit memang sedikit kewalahan. Itulah yang terasa ketika menonton film ini dari awal hingga akhir. Akan sedikit kesusahan untuk menemukan benang merah yang bisa mengkompilasikan segala masalahnya ke dalam satu cerita yang utuh.


Hingga akhirnya, beberapa kali film ini terasa terpisah untuk menyampaikan ceritanya. Naskah milik Jack Thorne ini seakan tak mau kehilangan hal-hal penting di dalam novelnya sekaligus ingin membuat The Secret Garden terbaru ini memiliki cita rasa yang berbeda. Misi inilah yang mungkin akan menjadi bumerang bagi The Secret Garden menuturkan ceritanya secara utuh.


Beruntung, Marc Munden tak ingin terlalu fokus ke dalam cerita-ceritanya yang gelap dan metaforik ini ke dalam filmnya. Dia berusaha untuk tetap menjadikannya sebagai sebuah film keluarga dengan balutan fantasi yang bisa menghibur penontonnya. Alhasil, The Secret Garden memang menyajikan petualangan Mary dengan ringan. Petualangan ini adalah cara Mary untuk bisa mengenal dirinya, mengenal masa lalunya, sekaligus menerima kehidupannya yang mungkin tak sesuai dengan apa yang dia mau.



Inilah celah bagi Marc Munden untuk tetap memberikan sensitivitas dalam pengarahannya. Di tengah menumpuknya segala konflik yang terjadi di dalam filmnya, The Secret Garden masih bisa menyelipkan hati untuk bisa dirasakan oleh penontonnya. Perasaan menyentuh dan emosional di 30 menit terakhirnya cukup menjadi amunisi untuk menikmati The Secret Garden. Nilai-nilai keluarga di dalam The Secret Garden menjadi keunggulannya. Sehingga, The Secret Garden bisa jadi pilihan tepat untuk bisa dinikmati bersama.



Sekaligus, The Secret Garden menyajikan petualangan imajinatif yang penuh warna. Sehingga, Marc Munden berusaha untuk bisa menyampaikan hal itu ke dalam filmnya. Maka dari itu, visual dari The Secret Garden pun indah untuk disaksikan. Dengan tata sinematografi yang menarik, menonton The Secret Garden di tiap adegannya bakal menyejukkan mata. 


Menontonnya lewat layar kecil karena bisa rental lewat iTunes region US saja suka dengan warna-warnanya. Sehingga, kalau bisa, menonton The Secret Garden ini harusnya di layar besar. Filmnya akan tayang di tanggal 20 Januari nanti karena dibawa oleh CBI Pictures dari tahun lalu.




POSSESSOR (2020) REVIEW: Daur Ulang Kisah Horor Fiksi Ilmiah yang Serupa

Nama Cronenberg hadir di dalam film ini tapi bukan David, melainkan Brandon. Ya, dia adalah anak dari salah satu sutradara gila, David Cronenberg. Tak heran, apabila di dalam film-filmnya masih ada kegilaan yang serupa untuk dihadirkan kepada penontonnya.

Kata pepatah,  buah tak jatuh dari pohonnya.


Ya, pepatah itu yan cocok untuk menggambarkan karya dari Brandon Croneneberg. Semakin terasa pula persamaannya ketika dirinya menggarap film keduanya berjudul Possessor. Dari adegan pertamanya saja, film ini sudah menunjukkan ketidaknyamanan bagi penonton. Memperlihatkan sebuah teknologi yang berhubungan dengan kehidupan manusia dan yang akan mempengaruhinya. 


Benar apabila menganggap film ini adalah sebuah film fiksi ilmiah. Tetapi, tentu Brandon Cronenberg tak Hanya berhenti hingga sampai di situ saja. Dia berusaha menggabungkan elemen horror di dalam filmnya yang akan memberikan sensasi menonton yang berbeda bagi penontonnya. Possessor, sebagai karya keduanya, dibintangi oleh Andrea Riseborough, Jennifer Jason Leigh, Christopher Abbott. Film ini pun tak hanya diarahkan oleh Brandon Cronenberg, tetapi juga ditulis langsung olehnya. Jadi, tak salah apabila dia memiliki banyak ruang untuk mengekspresikan apa yang ada di otak gilanya ke dalam gambar bergerak.



Selama 100 menit, penonton akan diajak untuk mengarungi kisah yang dijalin oleh Brandon Cronenberg yang mungkin Sudah Sangat familiar dan pernah ditemui di beberapa film sebelumnya. Tentang seorang perempuan bernama Tasya Vos (Andrea Riseborough) yang menjadi agen rahasia untuk menjalankan misi yang melibatkan teknologi implan otak. Lewat teknologi inilah, Vos bisa untuk berpindah dari tubuhnya dan menjalankan tubuh manusia lain.


Dia sudah terbiasa melakukan hal tersebut, hingga akhrinya dia harus menjalankan misi terbaru yang lebih challenging dibanding biasanya. Dia memasuki tubuh dari seorang manusia bernama Colin (Christopher Abbott). Dia adalah kekasih dari anak seorang petinggi di salah satu perusahaan besar. Misinya tentu untuk menjatuhkan sang petinggi tersebut. Tetapi, dalam proses Tasya menjalankan misinya, ada kendala yang hadir dan tak pernah terjadi sebelumnya.



Bagi pecinta film-film fiksi ilmiah, (bukan penonton serial Black Mirror di Netflix yang gampang kagetan itu) menonton Possessor tak akan kaget dengan ceritanya yang groundbreaking. Nyatanya memang kisah film ini memang dengan Mudah ditemui di film-film serupa. Bahkan, sesekali Brandon Cronenberg seakan menyadur sedikit film dari sang Ayah yaitu Scanners. Di mana menggabungkan fiksi ilmiah dengan body horror yang cukup membuat penonton merasakan tidak nyaman saat menonton.


Rasa tidak nyaman, ngilu, dan hal sebagainya di dalam film ini bukan malah menjadi sajian yang buruk, malah inilah yang membuat Possessor menarik untuk diikuti. Ini adalah cara Brandon Cronenberg untuk menjaga penontonnya untuk mengikuti Possessor hingga akhir. Perasaan tidak nyaman saat menonton digabung dengan beberapa adegan gore yang bisa mengukuhkan film ini adalah sebuah kalibrasi dari film horor thriller.


Tapi, pintarnya Brandon Cronenberg adalah bisa mendaur ulang kisah-kisah familiar itu menjadi sebuah film yang terasa segar. Salah satu cara yang dia lakukan adalah dengan menyajikan adegan-aegan yang terasa berbeda dibandingkan dengan film-film yang lainnya.



Possesor adalah film yang visually pleasing.


Kata yang tepat untuk menggambarkan film ini secara keseluruhan. Visual yang aestetik kalau kata anak muda zaman sekarang yang bisa menghipnotis penontonnya sekaligus cara Brandon untuk menyalurkan rasa di dalam filmnya. Semuanya bisa tergambar secara visual. Dengan adegan-adegannya yang berdarah pun, Possessor bisa tampil ‘Indah’. Mengusik penontonnya selama 100 menit dengan segala kegelisahan yang tersampaikan dengan tepat di filmnya.


Kegelisahan ini juga tak bisa dirasakan penontonnya apabila bukan berkat penampilan dari Christopher Abbott yang berkolaborasi dengan Andrea Riseborough. Tanpa mereka berdua yang bisa menerjemahkan segala kegelisahan yang ada di dalam karakter utamanya, film ini tak mungkin terasa menghipnotis penontonnya hingga akhir.



Menarik juga, melihat isu yang diselipkan di dalam film ini di mana teknologi bisa saja memanipulasi kehidupan manusia. Melihat endingnya yang sedikit diberi ‘bumbu’, sangat menarik untuk mengulik apa yang terjadi ketika manusia bisa mengontrol kehidupan manusia lainnya dengan teknologi yang mereka punya. Possessor mungkin akan terasa sebagai sebuah film dengan karakter studi yang berlapis. Film ini mengembangkan karakternya dengan menggunakan karakter lain sebagai pionnya. Begitu pula dengan manusia di dunia nyata. Mereka bisa mempelajari life event manusia yang lain untuk bisa diaplikasikan ke dalam hidup mereka. Bisa saja berhasil, tapi bisa saja menjadi bumerang dan berdampak buruk bagi mereka.

SPONTANEOUS (2020) REVIEW: Kisah Remaja yang Sama Tapi Pengalaman Menontonnya Berbeda


Namanya juga menjadi remaja, pasti masih ada banyak terjadi ledakan-ledakan yang terjadi di dalam dirinya. Tetapi, bagaimana jika tiba-tiba ledakan itu terjadi secara harfiah? Ya, bagaimana jika di saat remaja ini sedang melakukan kegiatannya sehari-hari ternyata tubuh mereka meledak dan hilang begitu saja?

Ya, inilah yang terjadi sesaat film debut dari Brian Duffield ini mengenalkan kisahnya. Spontaneous, film pertama dari dirinya ini adalah sebuah adaptasi dari novel milik Aaron Stahmer. Memiliki pendekatan yang unik dan menarik memang. Meskipun tetap perlu digarisbawahi, bahwa film ini tetap mengangkat kisah remaja yang sedang beradaptasi dengan emosinya serta konflik-konflik yang sama. Tetapi, dengan sedikit sentuhan lain, tentu akan menjadi pendekatan kisah remaja yang lebih menarik untuk dikulik.

Spontaneous dibintangi oleh Katherine Langford, yang namanya mulai melambung lewat serial adaptasi Netflix, 13 Reasons Why. Dirinya juga pernah didapuk untuk ikut menjadi salah satu pemain di Avengers: Endgame meskipun adegannya tidak jadi ditayangkan di filmnya. Bermain di film-film coming of age, tentu bukan hal baru untuk Katherine Langford. Dirinya pun sudah pernah terlibat dengan adaptasi novel lain yaitu Love, Simon.


Tetapi, menjadi remaja yang lebih rebel dan lebih meledak-ledak di film terbarunya ini, sepertinya belum pernah dilihat sebelumnya. Ya, dia menjadi pemeran utama yang mengantarkan ceritadan menemani penonton untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan fenomena yang terjadi di film ini.

Narasi pertama pun sudah menunjukkan kamera menyorot ke karakter Mara (Katherine Langford) yang sedang berada di dalam kelas dan terlihat bosan. Hal itu tak bertahan lama, ketika tahu seorang temannya meledak di depan matanya. Darah, organ tubuh, tentu sudah tersebar di penjuru kelas dan membuat semua orang panik. Hal ini tentu membuat semua remaja di Covington High School merasa takut apabila mereka menjadi salah satu korbannya.

Mara, berusaha sekuat tenaga untuk bisa bertahan hidup dari fenomena aneh yang terjadi di sekolahnya ini. Meskipun, dirinya sudah mempersiapkan apabila hal tersebut terjadi padanya secara tiba-tiba. Tetapi, di tengah hidupnya yang mulai pesimis, dia bertemu dengan seseorang bernama Dylan (Charlie Plummer). Ya, Dylan diam-diam menyukai Mara sejak pertama bertemu meski tak pernah menyampaikannya. Dengan kondisi sekitar yang sedang tak menentu, keduanya memberanikan diri untuk membuka hati satu sama lain.


Jika dikulik dari sinopsis di atas, Spontaneous memang terlihat sebagai sebuah kisah coming of age yang sudah pernah dilihat di beberapa film serupa. Tetapi, hal ini tak bisa dipungkiri, bahwa Spontaneous adalah sebuah film yang solid dan menarik untuk diikuti. Terlebih, bagaimana penggambaran karakter Mara dengan segala perasaan cynical dan sarcastic tentang hidup ini menuntun penonton untuk menyusuri segala keanehan kisah utama di dalam filmnya.

Dengan adanya karakter yang bisa melontarkan dialog-dialog satir dan witty ini, semakin menarik untuk mengikuti Spontaneous. Karakternya menarik untuk diobservasi, konfliknya juga memberikan metafora lain tentang kehidupan remaja. Seakan wabah ledakan di film ini menggambarkan tentang remaja secara general yang memang condong untuk selalu meledak-ledak di dalam hidupnya. Belum paham benar untuk bisa mengontrol segala emosinya. Serta, mengingatkan para remaja untuk sesekali menikmati kehidupan karena bisa saja kamu akan melewatkan hal-hal seru di dalamnya. 

Pesan ini tentu tak akan bisa tersampaikan dengan baik apabila tidak ada performa Katherine Langford yang membius penontonnya hingga akhir. Menarik untuk mengulik kisah di Spontaneous yang asyik karena menyelipkan kisah wabah yang tak teridentifikasi. Penyampaiannya yang pintar ini tentu berkat Brian Duffield dalam menulis dan mengarahkan buku dari Aaron Stahmer.


Tanpa ketelitiannya dalam mengadaptasi kisahnya yang bizarre ini, mungkin Spontaneous akan menjadi film yang aneh untuk dinikmati. Sebagai karya perdana, Brian Duffield berhasil memberikan nafas segar dalam film remaja yang diarahkannya. Kisah-kisah tragisnya bisa dikemas menjadi sajian yang bisa membuat penonton tertawa dengan humor-humor gelapnya tentang kehidupan remaja.

Spontaneous seakan menjadi sebuah hybrid dari beberapa genre yang ada di film-film remaja mulai dari horror, romance, hingga comedy. Bagaimana tidak, film ini seakan memiliki 3 vibe film yang berbeda selama 100 menitnya. Menyadur vibe kisah anak remaja yang sedang melawan kehidupan layaknya film-film yang dibuat oleh John Hughes. Tetapi juga bisa memberikan sensasi tegang layaknya sebuah film horor Karena bisa saja kejadian ledakan atau di film ini disebut Snooze Button ini terjadi begitu saja. 


Belum lagi, film ini Menyelipkan referensi-referensi pop culture di dalam film ini juga bikin seru. Dari tribute-nya ke E.T. hingga Carrie membuat film ini terasa sangat geeky bagi penonton yang paham referensi komedinya. Tapi, tak masalah, bagi penonton yang tak familiar dengan referensi ini pun masih bisa menikmati film ini dengan maksimal. Karena tetap bisa menikmati bagaiman sang karakter saling menertawakan hidupnya yang tragis.

Penonton seakan diajak untuk merasakan emotional roller coaster dengan range yang cukup jauh. Di saat film ini sangat pintar mendistraksi penonton untuk menikmati sajian komedi dan manisnya jatuh cinta, muncul juga perasaan was-was. Mencurigai apa yang terjadi selanjutnya karena penonton merasakan hal yang terlalu manis di saat kondisi di sekitar karakternya sedang tidak baik-baik saja. Inilah letak serunya menonton Spontaneous, yang sesuai dengan judulnya, akan terjadi perasaan spontan yang muncul saat menikmati film ini di setiap menitnya.

Film ini juga punya waktu untuk bersinar saat mengulik sisi emosionalnya. Paruh ketiga film ini barulah menyoroti hal yang lebih dalam lagi. Mengulik sisi vulnerable dari karakternya yang sudah berkembang dari yang dingin hingga memiliki hati yang hangat. Menggali lebih dalam tentang diri sendiri hingga apapun yang berhubungan dengan orang-orang yang disayang.


Ya, menonton film ini di saat pandemi, seakan diajak untuk memikirkan lagi tujuan dan arti hidup bagi masing-masing individu. Meski film ini dibuat jauh sebelum pandemi melanda, tetapi Spontaneous seakan bisa relevan dengan keadaan yang ada. Ya, begitulah Brian Duffield dengan karya perdananya. Walau kisah remajanya pernah ada sebelumnya, tetapi bisa memberikan pengalaman menonton yang segar dan berbeda.

[NOW STREAMING] THE FIRST (2020)

Akan menjadi perjalanan menarik dalam sebuah film atau series untuk membahas bagaimana sebuah korporasi atau seseorang yang memiliki ambisi untuk terbang menembus atmosfir. Ada banyak beberapa film atau series yang mungkin akan membahas hal serupa. Tentu, ini bukan jadi hal baru bagi industri perfilman. Tapi, bagaimana para pembuatnya ini mengemas ceritanya itu yang menjadi pembeda bagi penontonnya.


Misi perjalanan ke Mars?


Sebuah perjalanan yang menarik bila menjadi sesuatu gambar bergerak. Sama persis yang dilakukan oleh sebuah serial televisi yang ada di Mola TV berjudul The First. Serial yang dibintangi oleh Sean Penn, Natascha McElhone, Lisa Gay Hamilton ini menyoroti sebuah misi pertama dari orang-orang di Bumi untuk melakukan perjalanan ke Mars. Tapi, bukan proses perjalanannya hingga akhirnya bisa sampai ke planet lain, tapi ada konflik yang berbeda yang disoroti oleh serial ini.


The First adalah sebuah series yang dibuat di tahun 2018 ini yang memiliki 1 season dalam penayangannya. Memiliki 8 episode di dalam musim pertamanya dengan mempunyai durasi kurang lebih 45 menit di setiap episodenya. Beau Willimon, menjadi orang dibalik serial ini dan pernah menangani serial lain yang tak kalah serunya. Meski dengan tema yang berat dan terlihat akan membahas lebih tentang segala perjalanan ilmiahnya. Tapi, The First memilih untuk menyoroti hal lain dalam prosesnya.



Bukan juga dibilang proses, karena perjalanan menuju Mars ini tak semulus yang akan dikira oleh orang-orang. Sebuah korporasi besar bernama Vista memiliki ambisi besar untuk bisa melakukan perjalanan ke Mars. Misinya ini pun penting karena ingin mencari alternatif kehidupan di Mars di mana orang-orang Bumi juga bisa ikut merasakannya. Maka dari itu, Laz Ingram (Natascha McElhone), berusaha keras agar misi ini tercapai.


Dikirimlah 5 orang untuk melakukan misi ini. Tetapi, misi harus menghadapi kenyataan pahit yang tak pernah dibayangkan oleh Laz Ingram sebelumnya. Ya, misi ini gagal. Pesawat luar angkasa yang mengangkut para astronot di dalamnya mengalami kecelakaan tragis dan menewaskan semuanya. Tentu, kejadian ini membuat banyak pihak terpukul. Tak hanya Laz Ingram sebagai seorang CEO dari korporasi ini. Tetapi, juga Tom Hagerty (Sean Penn), mantan pemimpin dari grup yang akan terbang ke Mars ini.


Kegagalan yang dialami oleh para karakter di dalam film ini menjadi sebuah hal yang menarik untuk dikulik. Biasanya, ada kesan hopeful dan memperlihatkan proses untuk menjalankan sebuah misi di Mars di beberapa film atau series serupa. Tapi, serial satu ini mengambil jalan lain. Memperlihatkan sisi vulnerability dari para karakternya untuk digali lebih dalam lagi untuk bisa menimbulkan simpati kepada penontonnya.



Menarik lagi, karena The First tak hanya bermain dan fokus terhadap proses menuju misinya. Tetapi, juga konflik lain dalam pro dan kontranya. Menggunakan kegagalan yang terjadi di awal episode ini sebagai pondasi cerita juga. Menjadikannya sebagai sebuah pelajaran untuk melakukan misi terbaru di dalam serialnya. Tak hanya drama memotivasi, tetapi juga menampilkan court room drama yang menarik untuk disimak. Memperlihatkan persuasi yang dilakukan oleh karakter-karakter utamanya yang bisa menarik simpati penontonnya.


Meyakinkan bahwa misi ini adalah misi terbaru yang belum pernah dilakukan oleh orang-orang lain sebelumnya. Menunjukkan pula bahwa misi ini juga dilakukan demi masa depan manusia yang lebih baik dengan berbagai alasan. Tetapi, juga ada zona abu-abu di dalam misinya yang membuat penontonnya akan mempertanyakan tujuannya dan itu sangat menarik untuk disimak.


Nah, jadi, buat yang udah gak sabar buat nonton The First ini bisa langsung ke Mola TV. Harga langganannya juga sangat terjangkau dengan cuma Rp12.500 aja. Ini sudah termasuk langganan 30 hari. Kalau mau langsung nonton serialnya bisa langsung di sini

1917 (2019) REVIEW: Pesan Tentang Perdamaian Yang Tak Lekang oleh Zaman

 
Sebuah pesan tentang perdamaian mungkin masih akan terus menjadi hal yang memiliki relevansi di kehidupan manusia hingga sekarang.

Apalagi, sedang dalam gencar-gencarnya isu tentang perang dunia ketiga yang sempat muncul dipermukaan. Usaha untuk menghentikan sebuah perang telah terjadi sejak perang dunia pertama di tahun 1910an. Mengetahui adanya relevansi itu mungkin yang mendorong Sam Mendes ingin menyampaikan pesan yang sama lewat sebuah proyek film terbaru yang dia buat.

1917, sebuah film dengan premis sederhana tetapi penuh akan keambisiusan Sam Mendes. Tak hanya dalam menyampaikan pesannya, tetapi juga dalam proses pembuatannya. Film ini pun telah meraih beberapa nominasi Academy Awards salah satunya menjadi Best Pictures. Bahkan, sedang digadang menjadi frontrunner untuk membawa pulang piala. Bagaimana tidak didukung oleh banyak pihak, film ini menggunakan ilusi agar sepanjang 120 menitnya terasa hanya dalam satu shot utuh agar terasa lebih nyata.


Yang dilakukan oleh Sam Mendes di film 1917 tentu bukan tentang menceritakan sebuah kisah yang penuh intrik. Sebuah kisah sederhana tentang bagaimana perang akan dihentikan saja sudah cukup. Maka dari itu, 1917 punya plot cerita yang sangat sederhana. Tentang dua orang tentara yang mengabdi untuk negaranya bernama Schofield (George McKay) dan Blake (Dean-Charles Chapman). Mereka mendapatkan perintah dari sang atasan, General Erinmore (Colin Firth) untuk memberikan sebuah pesan.

Pesan sederhana untuk menyuruh sejumlah pasukan untuk menghentikan serangan yang akan mulai menyerang musuh di sebuah daerah. Tetapi, Schofield dan Blake diburu oleh waktu ketika harus  menyampaikan pesan tersebut kepada Colonel Mackenzie (Benedict Cumberbatch), yang memimpin pasukan tersebut. Karena sejatinya apabila pesan tersebut terlambat untuk disampaikan, maka peperangan yang jauh lebih besar akan segera terjadi.


“Time is the enemy”

Sebuah tagline dari film ini yang mungkin menggambarkan sebagian besar dari film 1917. Tentang bagaimana dua karakter ini berusaha untuk menyampaikan pesan lewat keterbatasan waktu yang juga memburu mereka. Karena dalam sebuah pesan terdapat konteks yang perlu diperhatikan, baik tentang waktu atau pun keadaan yang mempengaruhi pesan tersebut. Nantinya hal itu akan berpengaruh pula terhadap relevansi pesan yang akan diterima.

Bagaimana pesan yang dibawa oleh kedua karakter dalam film 1917 memiliki peran penting dan bahkan bisa mengubah segalanya dalam sebuah peperangan. Maka dari itu, bisa dibilang bahwa event atau pesan yang dibawa inilah pemeran utama dari film ini. Tahu kapasitas dalam filmnya inilah yang menjadi kekuatan bagi Sam Mendes dalam mengarahkan film terbarunya ini.

Maka dirinya menitikberatkan pada bagaimana ceritanya bisa tersampaikan. Bagaimana tujuan dalam film 1917 yang sederhana ini bisa diracik menjadi sesuatu yang luar biasa. Sehingga, bukan ensemble casts-nya yang menjadi peran utama, tetapi bagaimana Sam Mendes mengkombinasikan segala hal teknis dalam film ini digabung dengan pesan apa yang ingin disampaikan dalam filmnya yang menjadi bintang utama dari filmnya. 


Meski ‘sang pesan’ adalah sang pemeran utama, tetapi penonton tetap bisa menaruh simpati kepada pemainnya. George MacKay bisa menaruh urgensi dalam karakternya untuk hadir dan merasakan suasana tragedi di perang dunia pertama yang terjadi. Hal ini tetap dirasa penting oleh Sam Mendes agar filmnya tetap terasa hangat dan Indah. Bukan hanya sebuah tempat bagi dirinya untuk melakukan eksperimen untuk mengarahkan teknis-teknis utama yang memang menjadi keunggulan dari filmnya. Sehingga, ketika dirasa tepat, ada satu adegan yang bisa membuat penonton ikut merasakan sensasi investasi emosi tentang melepaskan, kemenangan, dan bahkan kehilangan.

Sinema adalah sebuah trik sulap pertama yang ada di dunia dan film ini mampu menjelaskan hal itu. 1917 sebagai sebuah film perang berhasil menyodorkan trik sulapnya. Dengan memberikan ilusi kepada penonton sehingga suasana konfliknya terasa begitu nyata. One Continuous-Shot adalah triknya dan seakan seperti seorang pesulap asli, Roger Deaking mampu mengelabui dan mampu membuat penontonnya terperangah.

Trik sulapnya mampu membuat film 1917 dengan durasi 120 menit ini hanya seperti diambil dalam sekali take saja. Tetapi, tanpa visi yang kuat dari Sam Mendes, mungkin film 1917 ini hanyalah sebuah film penuh ambisi yang tak memiliki hasil sekuat ini. Sam Mendes berhasil mengolah film ini sehingga begitu terasa nyata. Musik milik Thomas Newman yang menghidupkan atmosfir mencekamnya dan tata set produksi yang juga berhasil menyakinkan penontonnya.


Jika dibilang film ini akan menjadi frontrunner di ajang Oscars tahun ini, tentu tak akan kaget. Selain bagaimana film ini dibuat dengan hati, pesan dari film ini pun jelas mewakili. Bagaimana pesan tentang perdamaian masih saja menjadi hal yang memiliki relevansi hingga kini.

Meski waktu adalah “musuh” di dalam film ini, tetapi pesan yang digaungkan oleh film 1917 ini tak akan pernah lekang diburu waktu. Sebuah film dengan setting perang dunia satu yang dibuat di masa kini ini berhasil menjadi sebuah karya klasik instan dan patut mendapatkan apresiasi. Sebuah pencapaian teknis yang mungkin akan jarang lagi terjadi di dalam dunia sinema terkini. Segera tonton di bioskop terdekat dengan layar besar dan tata sound system yang terbaik karena film ini luar biasa sekali!

UNDERWATER (2020) REVIEW: Masih Terjebak dalam Palung Samudra Terdalam

Menyelamatkan diri dari sesuatu bencana besar karena ulah manusia.

Bila diperhatikan premis ini mungkin sudah terasa biasa saja. Entah dengan setting mana pun dan bahkan karena alasan apa pun. Premis ini pula yang mau diangkat di film terbaru milik Kristen Stewart ini. Setelah beradua acting dengan cukup menarik lewat film Charlie’s Angels, awal tahun ini Kristen Stewart hadir lewat film Underwater.

Brian Duffield dan Adam Cozad berperan untuk menuliskan kisahnya selama 95 menit. Serta, William Eubank menjadi pemegang kendali utama untuk mengeksekusi naskah yang sudah ditulis oleh mereka. Dimeriahkan pula dengan beberapa nama seperti Jessica Chanwick, John Gallagher Jr. hingga sutradara Deadpool, T.J. Miller. Tak ada nama besar, karena memang kekuatan dari film ini berada di Kristen Stewart. Tak hanya sebagai nilai jual saja, tetapi juga secara untuk keseluruhan filmnya.

Selain menyelamatkan dirinya dari bencana yang terjadi di dasar laut, sesungguhnya Kristen Stewart juga perlu untuk menyelamatkan dirinya agar tak terjebak dengan film-film blockbuster yang generik. Atau bahkan, mensia-siakan potensi aktingnya yang gemilang. Karena yang sesungguhnya terjadi di film Underwater, performa Kristen Stewart lah yang bisa diunggulkan. Banyak sekali potensi untuk tontonan encekam, tetapi Underwatermalah memutuskan dirinya menjadi sebuah film yang semua tensinya serba diredam.


Diawali dengan sebuah tim yang sedang melakukan riset di bawah laut terdalam. Cerita diawali dengan narasi milik Norah Price (Kristen Stewart) yang sedang mempertanyakan hidupnya. Ketika dirinya merasa tak lagi merasakan apa-apa di bawah laut. Tetapi, setelah itu kejadian besar datang dalam kehidupan Norah. Sebuah gempa besar terjadi di tempat riset milik Norah dan timnya sehingga membuat tempat tersebut luluh lantak.

Mereka tentu berusaha untuk menyelamatkan diri dan berusaha untuk mencapai permukaan air laut. Tetapi, mereka harus ke pergi ke sebuah tempat yang berada di tempat yang jauh agar bisa selamat. Selama perjalanan, tak hanya mereka harus berjuang agar bisa sampai ke tempat tersebut dan menuju ke permukaan air saja. Tetapi, ada sesuatu lain yang mengejar mereka sehingga mereka benar-benar dalam keadaan terancam.


Sayang, keadaan terancam yang seharusnya bisa muncul dalam film Underwater ini tidak benar-benar terlihat. Tak dirasakan sama sekali tensi dari pengarahan William Eubank di film ini. Sehingga, tak ada urgensi yang cukup kuat untuk dirasakan penontonnya agar bersimpati kepada semua cerita yang berusaha disampaikan dan bahkan kepada setiap karakternya. Yang berusaha disampaikan oleh William Eubank adalah penyaduran beberapa film dalam genre-nya.

Ada yang berusaha untuk memberikan tribute untuk beberapa filmnya. Berusaha bahkan untuk menduplikasi apa yang dibuat oleh Ridley Scott dalam film Alien. Dari bagaimana film ini mencoba meniru set design karakter creature-nya hingga bagaimana film ini berusaha untuk membangun atmosfer horornya secara perlahan. Sayang, hal-hal yang berusaha untuk diterapkan di film ini malah belum punya pengarahan yang matang.

Ya, seharusnya ada banyak sekali potensi-potensi yang bisa digali dalam Underwater ini. Sebagai sebuah film thriller-survival, film ini tak berusaha mencekam penontonnya. Hingga film ini beralih ke sebuah creature feature yang juga tak punya identitasnya sendiri. Bahkan, terror sang musuh pun tak benar-benar ada di dalam film ini. Benar apabila Underwater ternyata malah menjadi tersesat dan terjatuh dalam palung terdalam di sebuah lautan atau Samudra. Padahal, bisa saja 94 menit film ini bisa benar-benar mengikat penontonnya.

Setidaknya, Kristen Stewart masih punya charisma yang kuat sebagai sebuah pemeran utama di dalam film ini. Tetapi, karakterisasi dalam naskah film ini juga belum kuat. Sehingga, problematika dari karakter yang diperankan oleh Kristen Stewart ini ternyata belum tentu bisa menarik perhatian penonton untuk bersimpati. Padahal, sejak awal film ini dimulai pun, narasi film sudah dimulai dari sudut pandang karakter ini.

Memang, Underwaterpunya banyak sekali potensi untuk menjadi sajian yang mencekam sepanjang durasi. Tetapi, apa boleh buat, usaha film ini untuk melesat naik menyelamatkan dirinya menuju permukaan dengan penuh harapan harus pupus begitu saja. Sebelum berhasil selamat, film ini sudah tenggelam duluan.


BOMBSHELL (2019) REVIEW: Sebuah Realita tentang Ketidakadilan Perempuan sebagai Pekerja Media

Pernah dalam sebuah kelas saat kuliah tahun 2015 lalu kalau tidak salah ingat. Seorang Dosen memberikan pertanyaan tentang bagaimana perempuan diperlakukan dalam sebuah media mereka bekerja. Berbeda atau tidak?

Dan dibuatlah menjadi sebuah tugas untuk menanyakan hal itu ke pekerjanya langsung. Temuan yang didapat adalah pekerja yang saya wawancara merasa bahwa tidak ada perbedaan. Bahkan, sang bos bilang bahwa dirinya sebagai perempuan adalah keuntungan bagi perusahaan. Soalnya, perempuan identik dengan kerjanya yang lebih teliti. Lantas, sang dosen malah berbalik tanya. “Lalu, bukankah statement dari bosnya itu malah membuat dirinya malah dibedakan? Harusnya, kamu tanya lagi lebih detil.”

Sejenak aku tertegun dan terdiam. Apa iya itu malah sebuah diskriminasi gender dalam pekerja media?


Pernyataan dosen ini kembali teringat di memori aku saat menonton Bombshell yang disutradarai oleh Jay Roach. Iya, film ini terinspirasi dari kisah nyata tentant 3 perempuan yang sedang bekerja di perusahaan media terbesar di Amerika sana. Dibintangi oleh 3 aktris utama dengan performa yang luar biasa, Charlize Theron, Nicole Kidman, dan Margot Robbie. Mereka benar-benar menghidupkan film dengan performanya yang luar biasa.

Film ini menceritakan tentang bagaimana 3 perempuan yang sedang bekerja di media yang menemukan banyak masalah dalam prosesnya berkarir. Megyn Kelly (Charlize Theron), Gretchen Carlson (Nicole Kidman), dan Kayla Pospisil (Margot Robbie) adalah salah tiga pekerja media perempuan yang mengalami diskriminasi dalam perjalanannya. Mereka memang sudah cukup punya nama dalam yang besar saat bekerja. Tetapi, dalam prosesnya banyak hal-hal keji yang dilakukan oleh petingginya, Roger Ailes (John Litgow) yang ternyata malah memanfaatkan mereka.


Tetapi, tentu mereka hanya bisa diam atas tindakan semena-mena yang didapatkan. Faktor kuasa yang bisa menyebabkan apa yang sudah mereka bangun selama bertahun-tahun berkarir bisa hancur begitu saja dalam sekejap. Hingga suatu ketika, Gretchen sudah merencanakan untuk menuntut keadilan atas tindakan tak wajar yang dilakukan oleh Roger kepadanya. Mulai dari sinilah, perjuangan para pekerja perempuan dalam media dimulai.

Terkadang sebuah peristiwa yang sudah biasa terjadi dan terus menerus terulang akan menjadi sebuah ‘budaya’ yang akan dengan mudah dianggap lumrah oleh banyak orang. Praktik-praktik kerja media yang terkadang suka mendiskreditkan perempuan ini seakan menjadi hal yang wajar dan sering dilakukan. Hal inilah yang membuat perempuan itu sendiri seakan tak sadar bahwa mereka sedang dilecehkan. Merasa laki-laki telah memberikan panggung pada perempuan sehingga saling menyalahkan terhadap perempuan lainnya karena dianggap terlalu terbawa perasaan.

Ya, hal ini tergambar jelas lewat mise-en-sceneyang dihadirkan dalan film Bombshell. Memperlihatkan di satu adegan penting di mana, hal itu menunjukkan ketidakselarasan antara apa yang diucapkan oleh para perempuan dengan apa yang mereka hadapi dalam realitanya. \

Hal itu adalah saat sosok Perempuan sedang berusaha mendukung Roger Ailes dan merasa bahwa dirinya tidak pernah dituntut untuk mengenakan pakaian yang mini. Tetapi, saat sedang menyatakan hal tersebut di depan temannya, dirinya sedang mendapatkan kritik dari seseorang bahwa baju yang dirinya kenakan saat itu juga dirasa kurang tepat untuk tampil di televisi. Serta, masih banyak adegan yang menunjukkan pengorbanan wanita untuk bisa tampil di televisi. Contoh kecil seperti tumit yang lecet karena memakai sepatu hak tinggi setiap saat.

Inilah yang menarik untuk didiskusikan. Ketika para pekerja perempuan media itu menunjukkan bahwa masih ada kesetaraan di dalam pekerjaannya. Tetapi, secara langsung, adegan tersebut juga mempertunjukkan bahwa masih ada banyak tuntutan dan apa yang harus diperhatiakan oleh perempuan dan tubuhnya untuk bisa tampil di media tersebut. Ini semua karena Roger Ailes sebagai laki-laki yang memegang kendali. Lagi-lagi, praktik male gaze, sebuah pandangan dari laki-laki, sedang berusaha dilakukan.


Hal ini tentu mendukung pernyataan dosen saya kala itu yang berusaha skeptis tentang praktik kesetaraan oleh pekerja perempuan dalam suatu media dalam realitanya. Apa iya pernyataan bos tentang pekerjaan perempuan yang lebih teliti itu adalah sebuah pujian dan afirmasi. Atau hal itu malah menunjukkan bahwa ada praktik stereotypical dari subjektivitas laki-laki terhadap perempuan?

Menarik untuk didiskusikan lebih dalam. Bombshell tentu bisa menjadi medium untuk diskusi atas representasi permasalahan yang mungkin saja masih relevan dengan budaya media saat ini.

Tetapi mungkin, sebagai sebuah film itu sendiri, Bombshell terlalu menggebu-gebu dalam emenuturkan isunya yang sangat menarik. Perempuan dan diskriminasi atas apa yang dilakukannya adalah poin utama dalam film ini. Tetapi, semuanya ingin berusaha dirangkum. Sehingga, ada beberapa bagian yang terasa masih perlu banyak waktu untuk diolah. Ceritanya yang terkadang tidak runtut, hingga turn over konflik yang terlalu cepat terjadi.

Mungkin, itulah kelemahan Jay Roach dalam mengarahkan film ini. Naskah yang rumit dari Charles Randolph ini mungkin tak sepenuhnya bisa tersampaikan. Bahkan, akan ada cita rasa yang sama persis seharusnya seperti The Big Short.
 

Beruntung, film ini punya “3 srikandi” yang kuat dan mendukung 109 menitnya (Ya, versi Indonesia. Ada mungkin 9 menit terpotong.)

Charlize Theron adalah hal terkuat yang ada di dalam film ini. Performanya sebagai pekerja perempuan tangguh seperti Megyn Kelly dengan mudah meyakinkan penontonnya. Begitu pula dengan Nicole Kidman sebagai Gretchen Carlson dan Margot Robbie yang berhasil memperlihatkan betapa ambisiusnya karakter Kayla dalam film ini. Semuanya padu padan dan cukup membuat kekurangan dalam film ini sedikit terobati.

Bombshell memang tak sempurna, tetapi isunya sedang menjadi relevansi di berbagai belahan dunia. Sebagai medium berdiskusi? Tentu saja. Film ini sedang berusaha realita tentang praktik diskriminasi yang sering terjadi kepada perempuan sebagai pekerja media. Karena keadilan terhadap wanita ternyata masih fiktif belaka.