• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label 2019. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2019. Tampilkan semua postingan

BOMBSHELL (2019) REVIEW: Sebuah Realita tentang Ketidakadilan Perempuan sebagai Pekerja Media

Pernah dalam sebuah kelas saat kuliah tahun 2015 lalu kalau tidak salah ingat. Seorang Dosen memberikan pertanyaan tentang bagaimana perempuan diperlakukan dalam sebuah media mereka bekerja. Berbeda atau tidak?

Dan dibuatlah menjadi sebuah tugas untuk menanyakan hal itu ke pekerjanya langsung. Temuan yang didapat adalah pekerja yang saya wawancara merasa bahwa tidak ada perbedaan. Bahkan, sang bos bilang bahwa dirinya sebagai perempuan adalah keuntungan bagi perusahaan. Soalnya, perempuan identik dengan kerjanya yang lebih teliti. Lantas, sang dosen malah berbalik tanya. “Lalu, bukankah statement dari bosnya itu malah membuat dirinya malah dibedakan? Harusnya, kamu tanya lagi lebih detil.”

Sejenak aku tertegun dan terdiam. Apa iya itu malah sebuah diskriminasi gender dalam pekerja media?


Pernyataan dosen ini kembali teringat di memori aku saat menonton Bombshell yang disutradarai oleh Jay Roach. Iya, film ini terinspirasi dari kisah nyata tentant 3 perempuan yang sedang bekerja di perusahaan media terbesar di Amerika sana. Dibintangi oleh 3 aktris utama dengan performa yang luar biasa, Charlize Theron, Nicole Kidman, dan Margot Robbie. Mereka benar-benar menghidupkan film dengan performanya yang luar biasa.

Film ini menceritakan tentang bagaimana 3 perempuan yang sedang bekerja di media yang menemukan banyak masalah dalam prosesnya berkarir. Megyn Kelly (Charlize Theron), Gretchen Carlson (Nicole Kidman), dan Kayla Pospisil (Margot Robbie) adalah salah tiga pekerja media perempuan yang mengalami diskriminasi dalam perjalanannya. Mereka memang sudah cukup punya nama dalam yang besar saat bekerja. Tetapi, dalam prosesnya banyak hal-hal keji yang dilakukan oleh petingginya, Roger Ailes (John Litgow) yang ternyata malah memanfaatkan mereka.


Tetapi, tentu mereka hanya bisa diam atas tindakan semena-mena yang didapatkan. Faktor kuasa yang bisa menyebabkan apa yang sudah mereka bangun selama bertahun-tahun berkarir bisa hancur begitu saja dalam sekejap. Hingga suatu ketika, Gretchen sudah merencanakan untuk menuntut keadilan atas tindakan tak wajar yang dilakukan oleh Roger kepadanya. Mulai dari sinilah, perjuangan para pekerja perempuan dalam media dimulai.

Terkadang sebuah peristiwa yang sudah biasa terjadi dan terus menerus terulang akan menjadi sebuah ‘budaya’ yang akan dengan mudah dianggap lumrah oleh banyak orang. Praktik-praktik kerja media yang terkadang suka mendiskreditkan perempuan ini seakan menjadi hal yang wajar dan sering dilakukan. Hal inilah yang membuat perempuan itu sendiri seakan tak sadar bahwa mereka sedang dilecehkan. Merasa laki-laki telah memberikan panggung pada perempuan sehingga saling menyalahkan terhadap perempuan lainnya karena dianggap terlalu terbawa perasaan.

Ya, hal ini tergambar jelas lewat mise-en-sceneyang dihadirkan dalan film Bombshell. Memperlihatkan di satu adegan penting di mana, hal itu menunjukkan ketidakselarasan antara apa yang diucapkan oleh para perempuan dengan apa yang mereka hadapi dalam realitanya. \

Hal itu adalah saat sosok Perempuan sedang berusaha mendukung Roger Ailes dan merasa bahwa dirinya tidak pernah dituntut untuk mengenakan pakaian yang mini. Tetapi, saat sedang menyatakan hal tersebut di depan temannya, dirinya sedang mendapatkan kritik dari seseorang bahwa baju yang dirinya kenakan saat itu juga dirasa kurang tepat untuk tampil di televisi. Serta, masih banyak adegan yang menunjukkan pengorbanan wanita untuk bisa tampil di televisi. Contoh kecil seperti tumit yang lecet karena memakai sepatu hak tinggi setiap saat.

Inilah yang menarik untuk didiskusikan. Ketika para pekerja perempuan media itu menunjukkan bahwa masih ada kesetaraan di dalam pekerjaannya. Tetapi, secara langsung, adegan tersebut juga mempertunjukkan bahwa masih ada banyak tuntutan dan apa yang harus diperhatiakan oleh perempuan dan tubuhnya untuk bisa tampil di media tersebut. Ini semua karena Roger Ailes sebagai laki-laki yang memegang kendali. Lagi-lagi, praktik male gaze, sebuah pandangan dari laki-laki, sedang berusaha dilakukan.


Hal ini tentu mendukung pernyataan dosen saya kala itu yang berusaha skeptis tentang praktik kesetaraan oleh pekerja perempuan dalam suatu media dalam realitanya. Apa iya pernyataan bos tentang pekerjaan perempuan yang lebih teliti itu adalah sebuah pujian dan afirmasi. Atau hal itu malah menunjukkan bahwa ada praktik stereotypical dari subjektivitas laki-laki terhadap perempuan?

Menarik untuk didiskusikan lebih dalam. Bombshell tentu bisa menjadi medium untuk diskusi atas representasi permasalahan yang mungkin saja masih relevan dengan budaya media saat ini.

Tetapi mungkin, sebagai sebuah film itu sendiri, Bombshell terlalu menggebu-gebu dalam emenuturkan isunya yang sangat menarik. Perempuan dan diskriminasi atas apa yang dilakukannya adalah poin utama dalam film ini. Tetapi, semuanya ingin berusaha dirangkum. Sehingga, ada beberapa bagian yang terasa masih perlu banyak waktu untuk diolah. Ceritanya yang terkadang tidak runtut, hingga turn over konflik yang terlalu cepat terjadi.

Mungkin, itulah kelemahan Jay Roach dalam mengarahkan film ini. Naskah yang rumit dari Charles Randolph ini mungkin tak sepenuhnya bisa tersampaikan. Bahkan, akan ada cita rasa yang sama persis seharusnya seperti The Big Short.
 

Beruntung, film ini punya “3 srikandi” yang kuat dan mendukung 109 menitnya (Ya, versi Indonesia. Ada mungkin 9 menit terpotong.)

Charlize Theron adalah hal terkuat yang ada di dalam film ini. Performanya sebagai pekerja perempuan tangguh seperti Megyn Kelly dengan mudah meyakinkan penontonnya. Begitu pula dengan Nicole Kidman sebagai Gretchen Carlson dan Margot Robbie yang berhasil memperlihatkan betapa ambisiusnya karakter Kayla dalam film ini. Semuanya padu padan dan cukup membuat kekurangan dalam film ini sedikit terobati.

Bombshell memang tak sempurna, tetapi isunya sedang menjadi relevansi di berbagai belahan dunia. Sebagai medium berdiskusi? Tentu saja. Film ini sedang berusaha realita tentang praktik diskriminasi yang sering terjadi kepada perempuan sebagai pekerja media. Karena keadilan terhadap wanita ternyata masih fiktif belaka.

10 FILM INDONESIA PILIHAN 2019 BY ARUL’S MOVIE REVIEW BLOG


2019 menjadi hal yang sangat signifikan berubah di perfilman Indonesia. Kepercayaan penonton film Indonesia sepertinya sudah mulai menguat.Salah satu faktor pendukungnya adalah dengan banyaknya film-film Indonesia yang sudah mencapai 1 juta penonton di daftar film terlaris tahun ini. Dilan 1991 saja sudah mengantongi angka 1 juta penonton hanya dengan 2 hari penayangan.

Selain itu, film-film Indonesia juga sudah mulai beragam dari genre-nya. Bahkan, lewat film Gundala, perfilman Indonesia mulai berani untuk punya film jagoan dan cinematic universe. Tentu sebuah langkah berani dan bahkan masih ada daftar-daftar film di Jagat Bumi Langit yang akan dirilis di tahun depan.

Dari 70 film Indonesia yang saya tonton tahun ini, tentu ada beberapa film yang merebut hati saya sebagai penonton. Yang membekas cukup lama, kalo diinget kadang bikin bahagia tetapi juga ikutan miris. Tergantung pesan apa yang mau disampaikan sama sutradaranya.

Ada banyak pilihan dari 99 Nama Cinta, sebuah drama reliji romantis yang tampil mengejutkan cukup solid karena naskah Garin Nugroho bisa mengemas tema agama tanpa menggurui. Jika masih suka dengan kisah cinta segitiga rumit antara Doel, Zaenab, dan Sarah, Si Doel The Movie 2ini menawarkan kisah-kisah dengan dialog dan pendekatan sederhana tetapi bisa bikin patah hati. Film horor yang berbeda seperti Sunyi dan Ratu Ilmu Hitamjuga menarik untuk dikulik. Kalo film action, jangan lupakan debut dari Randy Korompis lewat Foxtrot Six dan pembuka Jagat Bumi Langit lewat Gundala.

Tetapi, setelah diperhitungkan lagi dengan cukup pelik, ada 10 film Indonesia yang di tahun 2019 yang masuk daftar favorit. Tentu ini pilihan personal, kalo kamu ada yang lain boleh lah sharing di kolom komentar. So, here we go!


10. Hit N Run (Dir. Ody C. Harahap)Film aksi komedi yang dibikin dengan niat seperti ini jarang banget terjadi di perfilman Indonesia. Sekuens aksinya keren, komedinya cukup bekerja baik, bahkan performa ansambel aktingnya juga mendukung semuanya. Tentu, Tatjana Saphira lagi-lagi mencuri perhatian lewat performa Bukan Taman Safari.


9. Terlalu Tampan (Dir. Sabrina Rochelle Kalangie)
Nama Sabrina Rochelle Kalangie awalnya hanya menjadi pemeran pendukung di film produksi Visinema. Ternyata, ada bakat pengarahan yang luar biasa unik di dalam dirinya dan mengantarkan Terlalu Tampan menjadi film coming of age yang seru. Vibe-nya kayak film-film Thailand gitu.


8. Orang Kaya Baru (Dir. Ody C. Harahap)
Lewat film ini, Joko Anwar memperjelas tujuan film sebagai medium escapism yang menyenangkan. Kapan lagi kamu diajak bermimpi untuk jadi orang kaya raya dengan segala problematikanya. Cut Mini gila banget di sini.


7. Susi Susanti: Love All (Dir. Sim F.)
Tanpa ekspektasi apa-apa, ternyata debut pengarahan dari Sim F ini menjadi sebuah film biografi yang tampil solid. Semua elemen ceritanya bisa berpadu jadi satu kesatuan filmnya. Tak ada yang terasa terpisah, tak ada yang terkesan dipaksakan. Semuanya pas.


6. 27 Steps of May (Dir. Ravi  L. Bharwani)
Memberikan realita yang traumatis tentang rape culture terhadap perempuan. Film ini sungguh tragis, tetapi juga memberikan harapan untuk mereka para korban untuk mulai berdamai dengan dirinya, dengan traumanya. Performa Raihaanun di sana kuat sekali!


5. Bebas (Dir. Riri Riza)
Film yang diadaptasi dari film Sunny milik Korea ini berhasil mengadaptasi tanpa mengubah esensi film orisinilnya. Juga, berhasil mengadaptasi dengan perubahan budaya yang lebih lekat dengan penonton Indonesia. Performa para geng Bebas benar-benar bikin filmnya hangat!


4. Dua Garis Biru (Dir. Gina S. Noer)
Sebuah karya orisinil lahir dari sosok Gina S. Noer. Debut pengarahannya ini tak hanya berani dalam mengangkat tema tentang pendidikan seksual. Tetapi, juga bisa memberikan sebuah drama keluarga dengan banyak isu-isu budaya dan sosial yang ada di Indonesia. Chemistry Zara dan Angga bikin gemas.


3. Perempuan Tanah Jahanam. (Dir. Joko Anwar)
Lagi-lagi Joko Anwar memang membuktikan dirinya dalam genre favoritnya. Karyanya ini benar-benar mengusik dan mencekam penontonnya dari awal hingga akhir. Memberikan sensasi tidak nyaman hingga penonton akan merasa lelah tetapi juga puas. Sinting!


2. Keluarga Cemara (Dir. Yandy Laurens)
Tahun ini memang banyak sekali sutradara baru yang karyanya memuaskan. Yandy Laurens juga menjadi salah satunya. Adaptasi dari buku Arswendo Atmowiloto ini menjadi sebuah drama keluarga yang sangat emosional tanpa harus menggebu-gebu. Manis meski kehidupan karakternya sedang sendu. Sederhana tapi berhasil membuat penontonnya menyeka air mata mereka pakai tisu.



1. Kucumbu Tubuh Indahku (Dir. Garin Nugroho)
Banyak dikecam banyak orang karena temanya yang menyorot tentang LGBT, tetapi poin utama dari film karya Garin Nugroho ini adalah tentang sebuah identitas seseorang. Pencarian jati diri seseorang lewat budaya-budaya Jawa yang ternyata masih dekat dengan permainan gender dan seksualitas. Di film inilah, Garin benar-benar membuktikan sensitivitasnya sebagai sutradara. Murni menjadikan filmnya sebagai sebuah seni. Tanpa ada pretensi tetapi selesai menonton bisa jadi bahan diskusi.

Semua pilihan ini berdasarkan referensi dan pengalaman yang sangat personal. Subjektif? Tentu saja. Pasti kalian semua pun punya referensi sendiri dalam menentukan film-film mana yang jadi favorit kamu di 2019 ini. Jadi, apa nih film Indonesia favorit kamu di 2019 ini?

KIM JI-YOUNG, BORN 1982 (2019) REVIEW: Film tentang Perempuan Dari Perempuan

Perempuan dan problematikanya menjadi hal yang sangat menarik untuk diangkat. Film menjadi salah satu media untuk menyampaikan keresahan tentang perempuan dalam realitanya. Bahwa penting untuk menghadirkan representasi tentang masalah tersebut untuk setidaknya menunjukkan adanya secuil realita yang perlu untuk dibahas lebih. Hal ini pula yang berusaha menjadi tujuan dari film yang diadaptasi dari judul yang sama yaitu Kim Ji-Young, Born 1982.

Film ini memang terlihat sangat sederhana dalam premisnya. Memperlihatkan tentang problematika seorang perempuan yang berkomitmen menjadi ibu rumah tangga dan kehidupan setelahnya. Tetapi, hal ini justru menarik untuk disampaikan karena sekilas pekerjaan ibu rumah tangga akan tampak mudah. Tetapi nyatanya, perempuan dan pekerjaan domestik adalah hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih terlebih ketika berada di dunia yang condong ke patriarki.

Kim Ji-Young, Born 1982 dibintangi oleh Jung Yu-Mi dan Gong Yoo ini disutradarai oleh Kim Do-Young, seorang sutradara perempuan. Film ini adalah debut dirinya menjadi sutradara. Tentu akan terlihat menarik bahwa film tentang perempuan disutradarai oleh seorang perempuan pula. Dan nyatanya, sebagai debut, Kim Ji-Young, Born 1982 sangat berhasil menyampaikan dan mewakili keresahan hati untuk para perempuan di luar sana yang suka dirugikan oleh sebuah sistem yang sudah terpatri.


Kim Ji-Young, Born 1982 bagaikan merangkum semua kegelisahan suara perempuan yang tak pernah dianggap berarti. Ini adalah sebuah kisah nyata dari sosok Kim Ji-Young (Jung Yu-Mi) yang menikahi sesosok pria yang dia cintai, Dae Hyon (Gong Yoo). Tetapi, setelah menikah kehidupannya membuat dirinya mulai tak bahagia. Dae-Hyeon menemukan adanya perubahan sikap dari sang istri yang membuat dirinya mulai mulai khawatir.

Bukan hanya sekedar membuat dia lebih sering murung, tetapi juga membuatnya depresi. Sehingga, Kim Ji-Young secara tak sadar menirukan perilaku orang-orang yang dekat dengannya. Dari sinilah, awal mula perjalanan Kim Ji-Young mencari jawaban dan ‘obat’ atas masalah yang dialaminya. Muncul banyak sekali pergulatan batin dan dengan orang lain saat menghadapi masalahnya ini.


Menyaksikan film ini seperti sedang mengikuti secara langsung perjalanan seseorang. Kim Ji-Young, Born 1982 memang berusaha menampilkan realita sejujur-jujurnya tentang perjuangan seorang perempuan dan posisi mereka di realita. Sehingga, mereka bisa menjadi korban dari sistem atau pun tradisi yang sering kali menyudutkan. Dengan menggunakan pendekatan yang lebih realis ini, seakan penting agar penontonnya sadar tentang isu perempuan ini, terlebih kepada laki-laki.

Di tangan Kim Do-Young, film ini seakan memiliki sensitivitas yang membuat adanya banyak momen emosional yang bisa menarik simpati penontonnya. Ini penting untuk film Kim Ji-Young, Born 1982 karena memiliki pace cerita yang lambat. Dengan memberikan rasa itu ke dalam filmnya, hal ini akan membuat penonton mau untuk mengikuti perjalanan ceritanya dengan durasi hingga 118 menit ini. Apabila penonton mau untuk diajak mengikuti setiap menit ceritanya, setidaknya film ini membuat penonton mulai menyadari bahwa realitanya perempuan masih sering dimarjinalkan.

Sungguh beruntung pula film ini memilii Kim Do-Young sebagai sutradara. Dirinya sebagai seorang sutradara perempuan menjadi kekuatan penting di dalam film ini. Bisa memberikan gambaran atas realitas getir tersebut dengan subjektivitas perempuan itu sendiri. Hal ini penting karena membuat suara perempuan mulai didengar oleh khalayak ramai. Menjadikan film Kim Ji-Young, Born 1982 tak hanya sekedar film tentang perempuan. Tetapi, juga sebagai medium perempuan untuk menyuarakan pendapatnya.


Jung Yu-Mi juga sangat berhasil memerankan karakter Kim Ji-Young di dalam film ini. Performanya yang sangat kuat bisa membuat penontonnya sangat yakin bahwa dirinya adalah Kim Ji-Young asli dan menaruh simpati kepadanya. Sehingga, di momen klimaks film ini, tentu penonton akan dengan mudah mendonasikan air matanya. Gong Yoo yang memerankan karakter pendukung di film ini bisa berperan sesuai porsinya juga.

Sehingga, kompilasi realita-realita getir tentang perempuan banyak sekali muncul di dalam film ini. Mulai dari sexual harassment hingga posisi perempuan dalam lingkungan apapun. Mau dari pekerjaan atau pun dalam rumah tangga itu sendiri yang bisa menganggu psikologis mereka. Memberikan pengertian bahwa sebagian besar negara Asia masih saja memanangkan sistem patriarki yang membuat laki-laki memiliki privilege dalam hidupnya. Dengan adanya privilege itu, laki-laki merasa dirinya superior. Memiliki wewenang untuk membuat dunia berpusat pada dirinya.

Padahal sesungguhnya maskulinitas seorang laki-laki itu masih saja fluid dan sangat rapuh untuk didefinisikan. Sebuah adegan dalam film ini pun menggambarkannya dengan sangat jelas ketika Kim Ji-Young berusaha mengkonfrontasi seorang laki-laki di dalam sebuah kafe. Karena sistem patriarki yang membuat laki-laki memiliki banyak privilege, sehingga tak ada yang berani melawan mereka. Sehingga, ketika ada satu perempuan yang berusaha melawan, maka akan muncul kekhawatiran dan muncul perasaan tidak aman dalam dirinya. Begitu pula yang terjadi dalam penonton Korea Selatan yang menerima film ini. Masih ada banyak yang laki-laki yang rapuh berusaha menentang film ini.


Maka dari itu, Kim Ji-Young 1982 adalah sebuah film tentang perempuan yang penting untuk ditonton oleh banyak orang. Sehingga, pesannya untuk menebarkan sebuah realita tentang perempuan yang masih saja didiskreditkan hingga hari ini bisa tersampaikan dengan jelas ke pemikiran penontonnya. Terutama, untuk laki-laki yang masih saja berpikir konvensional bahwa perempuan harus melayani mereka di rumah. Mau kamu secakep Gong Yoo atau enggak, memang sudah seharusnya mulai untuk tak lagi memandang inferior perempuan.

FROZEN 2 (2019) REVIEW: Sekuel tentang Elsa dan Perjalanannya yang Lebih Dewasa.


Setelah berhasil mendapatkan kuantitas box office yang cukup masif untuk ukuran film animasi, perjalanan Anna dan Elsa tentu mudah dapatkan sekuelnya. Selang 6 tahun dari film pertamanya, Frozen 2 hadir dengan sutradara yang sama. Chris Buck dan Jennifer Lee kali ini bukan mengadaptasi lagi kisah dari Hans Christian Andersen seperti yang dilakukan di film pertamanya. Inilah tugas mereka untuk membuat Frozen 2 mengekspansi dunianya sekaligus membuat sekuelnya tetap prima.

Tentu saja semua castnya kembali menjadi karakter-karakter yang sudah banyak dikenal oleh penggemarnya. Dari Anna, Elsa, Kristoff dan Olaf tetap diisi oleh voice cast yang sama. Bila dilihat dari trailernya, Frozen 2 memang seakan mengajak penontonnya untuk memasuki babak baru dari perjalanan para karakternya yang lebih dewasa dan kelam. Tentu ini akan mengarah ke cerita Frozen 2 yang akan jauh lebih kompleks dibanding seri pertamanya.


Dan benar saja, Frozen 2 kali ini memiliki babak baru yang sangat berbeda dengan film pertamanya. Semua kisahnya dititikberatkan ke karakter Elsa yang sedang berusaha mencari jati diri dan kekuatannya. Dimulai ketika Elsa (Idina Menzel) mulai mendengar suara-suara asing yang hanya didengar oleh dirinya dan tak begitu fokus untuk mencari tahu asalnya. Tetapi, semakin lama suara itu mulai menuntun Elsa untuk mencari jawaban.

Elsa pun memulai petualangannya yang tentu saja ditemani oleh sang adik, Anna (Kristen Bell), Kristoff (Jonathan Groff), Olaf (Josh Gad), dan Sven. Mereka pun menemukan sebuah hutan ajaib yang tak pernah dijamah oleh orang. Mereka mulai memasuki hutan tersebut dan menemukan fakta bahwa ada sesuatu yang berkaitan dengan masa lalu orang tua Elsa dan Anna serta Arendelle sebagai sebuah kerajaan. Di sinilah mereka mulai untuk memecahkan misteri masa lalu tersebut.


Frozen pertama memang dengan mudah merebut hati penontonnya karena berhasil membuat sebuah instant classic yang berhasil menggambarkan Disney Princess di masa kejayaannya. Terlebih, tembang-tembang di film pertama ini sangat mudah terngiang di telinga penontonnya. Tetapi, Frozen 2 memiliki lebih banyak aspek yang membuat filmnya bisa tampil lebih baik. Frozen 2 adalah penantian 6 tahun yang terbayar lunas untuk penontonnya (dan tentu untuk penggemarnya).

Memang, akan susah bagi sekuelnya untuk bisa menyaingi cita rasa klasik lagu-lagu di film pertamanya. Tetapi, lagu-lagu di sekuelnya ini memiliki pilihan lirik dan musik yang lebih kompleks. Tembang seperti “Into The Unknown”, “When I am Older”, dan “Show Yourself” memiliki lirik tentang transisi kehidupan para karakternya yang lebih dewasa saat memahami problematika hidup mereka. Hal inilah yang juga menjadi kunci utama dalam pemilihan konflik dan plot cerita yang ada di Frozen 2.

Dengan semakin dewasanya plot cerita yang ada di Frozen 2 ini, semakin menunjukkan bahwa film ini juga diarahkan dengan semakin matang. Naskah milik Jennifer Lee berusaha untuk membuat semua karakternya ikut berkembang dan tak melupakan apapun yang terjadi di film pertamanya juga beberapa short filmnya. Sehingga, ada akumulasi perkembangan karakter yang sangat signifikan tanpa membuat penontonnya merasa asing dengan mereka.


Dengan menggunakan pendekatan yang lebih dewasa pula, intensi dari Frozen 2 tentu tak hanya menyerang range usia tertentu saja (baca: anak-anak). Tetapi juga bisa membuat film ini bisa dikonsumsi oleh semua target usia. Pemilihan konfliknya akan menjadi faktor yang bisa membuat penonton dewasa bisa penasaran dengan apa yang terjadi di dalam film ini. Tetapi, film ini masih sangat menghibur dari penyampaian komedinya yang tampil di luar batas. Seperti usaha tribute-nya dengan balada tahun 90an lewat lagu “Lost In The Woods”.

Tentu isu yang ada di dalam Frozen 2 ini sudah menyesuaikan dengan isu yang relevan di masa kini. Ketika perempuan bisa memiliki kekuatan untuk memutuskan banyak hal. Masalah-masalah yang dialami oleh perempuan juga memiliki prioritas untuk diselesaikan. Hingga isu Future is Female yang menjadi Anna dan Elsa sebagai pionnya tanpa perlu mendiskreditkan laki-laki dalam perjalanannya. Mereka tetap bisa berjalan seimbang satu sama lain.

Frozen 2 tentu menjadi investasi bagi Disney dalam meraup jumlah box office yang fantastis. Maka dari itu, terlihat pula bahwa Frozen 2 digarap dengan sangat serius dalam hal visual. Dunia Arendelle dan setiap karakternya dibuat semakin detail lagi di sini. Belum lagi, ada banyak sekali adegan-adegan yang dibuat jauh lebih imajinatif dan memanjakan mata dibandingkan dengan film pertamanya. Terlebih ke desain karakter dan tata busana yang luar biasa indah. Jika saja film animasi bisa eligible untuk kategori tata busana, mungkin Frozen 2 bisa masuk menjadi nominasinya.


Maka dari itu, meski Frozen 2 masih tak memiliki tembang-tembang yang mudah untuk langsung menancap di pikiran penontonnya, tetapi Frozen 2 tetaplah sebuah sekuel yang lebih baik dari film pertamanya. Ada banyak aspek mulai dari konflik yang lebih kompleks dan masih bisa dicerna oleh target segmentasi utamanya hingga visualnya yang cantik sekali. Sehingga, Frozen 2 masih bisa memunculkan cita rasa klasik dan magisnya sama seperti yang pertama. Memuaskan!

PEREMPUAN TANAH JAHANAM (2019) REVIEW: Penuturan Kisah Misteri yang Jahanam


Cukup mengagetkan, film Pengabdi Setan milik Joko Anwar ternyata bisa menjadi film horor terlaris sepanjang masa di Indonesia. Mengetahui hal ini, tentu penonton-penonton awam pun akan menunggu karya apalagi yang akan ditelurkan oleh salah satu sutradara yang menjanjikan di perfilman Indonesia ini. Mencapai lebih dari 4 juta penonton, tentu membuat banyak pihak percaya dengan apa yang akan dikerjakan oleh Joko Anwar.

Salah satunya adalah Impetigore. Naskah yang sudah didevelop di 10 tahun lalu, akhirnya mendapatkan kesempatan untuk hadir ke layer lebar. Meskipun, judulnya pun harus menyesuaikan agar tidak susah untuk diterima oleh penonton dengan cakupan yang lebih luas. Maka dari itu, Joko Anwar memutuskan untuk menggunakan judul Perempuan Tanah Jahanam untuk proyek horor terbarunya. Tara Basro, Marissa Anita, Asmara Abigail, hingga Christine Hakim ikut meramaikan film ini.

Kembalinya Joko Anwar di dalam genre horor setelah Gundala mungkin membuat beberapa penonton menunggu. Apalagi ketika tahu bahwa Perempuan Tanah Jahanam ini adalah project yang cukup dinantikan kehadirannya setelah beberapa tahun lalu belum terjadi. Bila dibandingkan dengan Pengabdi Setan, meski sama dalam satu genre tetapi Perempuan Tanah Jahanam ini berbeda. Film ini tanpa basa-basi langsung memberikan pengalaman menonton yang sangat menegangkan dengan pembangunan atmosfir mencekam yang sangat kuat.

 
Perempuan Tanah Jahanam menceritakan tentang dua sahabat bernama Maya (Tara Basro) dan Dini (Marissa Anita) yang bekerja sepanjang hari demi mencari sesuap nasi. Tetapi, sesuatu hal terjadi kepada Maya hingga dirinya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan membuka usaha sendiri dengan sahabatnya. Tetapi, kejadian itu tetap menghantui Maya hingga suatu ketika dia memutuskan untuk mencari informasi keluarganya.

Setelah diusut, keluarga Maya ternyata memiliki sebuah rumah besar di desa Sukaharjo. Maya pun ingin mencari tahu apa yang terjadi dengan rumah itu dan dirinya. Berkelanalah Maya dan Dini ke desa tersebut. Setibanya di sana, Maya dan Dini merasa aneh dengan penduduk lokal di desa Sukaharjo. Mereka pun curiga dan bahkan sempat mengalami hal-hal aneh ketika dirinya berusaha untuk mencari tahu informasi tentang keluarga Maya.


Meski penonton dari awal sudah diganjar dengan adegan intens yang tak henti-henti, tetapi Joko Anwar tetap bisa memberikan misteri. Perempuan Tanah Jahanam memiliki cara yang menarik untuk menuturkan setiap detil ceritanya. Dialog-dialog yang witty, muncul dari kepiawaian Joko Anwar menuliskan naskahnya. Tak perlu menjelaskan sedikit demi sedikit tentang karakternya, tetapi penonton sudah sangat bisa menaruh empati kepadanya.

Semuanya terasa begitu efektif, terlebih ketika 10 menit awalnya yang digarap dengan cerdas. Membangun dua orang karakter dengan penuturan dialog yang efektif sekaligus membangun tensi dengan baik. Memberikan sebuah pemanasan dari celetukan-celetukan kecil yang membuat tertawa hingga ketika momennya dirasa tepat, baru jantung penonton mulai diolah dan diberi peringatan. Hal ini juga sekaligus semakin mengasah bakat pengarahan Joko Anwar.

Ada banyak detil-detil yang benar-benar diperhatikan Joko Anwar. Ketika dia ingin membangun sesosok karakter dan sebuah adegan, dia pasti sudah tahu alasannya. Sehingga, semua tensi dan penuturan ceritanya mengalir dengan rapi. Tak ada karakter atau adegan yang berujung sia-sia dan hanya menjadi pemanis belaka. Meskipun ada jump scares, tetapi nampaknya hal itu hanya digunakan oleh Joko Anwar sebagai cara dia menggoda penonton film horor yang terlalu sering diganjar oleh jump scares yang tak berarti.


Tetapi, meski minim sekali muncul sosok-sosok astral, Perempuan Tanah Jahanam berhasil menghantui pikiran penontonnya dengan segala ketidakpastian yang ada. Ini adalah Joko Anwar untuk membangun suasana mencekamnya. Menyebar banyak misteri dengan cara yang sangat kuat hingga penonton akan penasaran dengan bagaimana film ini akan ditutup.Sehingga, muncul sebuah adegan yang melibatkan karakter Maya yang sedang dihantui.

Adegan ini menarik untuk dibahas. Sebenarnya bagaimana Joko Anwar berusaha untuk menuturkan adegan ini pun menarik. Masih punya cara untuk memberikan sebuah misteri meskipun caranya memang tak se-subtle yang biasa dilakukan oleh Joko Anwar. Hal ini menjadi menarik karena adegan tersebut membuat penonton yang butuh dijelaskan pun tetap terjawab dan sebenarnya Joko Anwar pun terasa seperti membuka tabir baru untuk penonton cerna.

Mungkin untuk sebagian orang, hal ini adalah kelemahan.Tetapi, masih ada juga penonton yang perlu untuk diceritakan dengan gamblang agar pesan yang disampaikan oleh sebuah film itu bisa diterima secara utuh. Perlu untuk diketahui bahwa sebuah film pun tak hanya menjadi sebuah ekslusivitas untuk penonton tertentu. Sehingga, memang tergantung kamu mengategorikan dirimu sebagai penonton yang seperti apa. 


Tetapi, apa yang berusaha dijelaskan oleh Joko Anwar secara gamblang ini pun belum tentu malah membuat filmnya terlihat mudah-mudah saja. Ketidakpastian adalah kunci utama dari film Perempuan Tanah Jahanam. Sebuah informasi yang datang terlalu banyak pun menjadi sebuah ketidakpastian. Penonton akan tetap merasa dihantui dengan banyak pertanyaan tentang hitam dan putih di dalam filmnya. Padahal, banyak sekali hal abu-abu yang berusaha muncul di film ini.

Tak hanya konflik yang datang begitu abu-abu, tetapi juga karakter-karakter yang ada di Perempuan Tanah Jahanam ini. Semuanya menimbulkan kecurigaan penonton terlebih kepada karakter yang diperankan oleh Asmara Abigail. Semua yang serba abu-abu inilah yang digunakan oleh Joko Anwar sebagai kekuatan membangun horor atmosferiknya. Menetapkan pula bahwa sosok yang menyeramkan bukanlah sosok tak kasat mata. Tetapi, manusia itu sendiri dengan segala kuasanya.


Belum lagi didukung oleh tata teknisnya yang juga menjadi komponen penting di dalam film ini. Perempuan Tanah Jahanamdianugerahi sebuah tata sinematografi yang indah oleh Ical Tanjung. Serta, tata suara hingga scoring yang bisa membuat penonton bergidik ngeri. Detil-detil kecil ini yang membuat Perempuan Tanah Jahanam memang terasa begitu Jahanam. Dan lewat film ini, Joko Anwar sekali lagi membuktikan dirinya adalah sutradara yang sangat menjanjikan. Dan Lewat Perempuan Tanah Jahanampula, standar film horor Indonesia semakin naik! Gila!

 

JOKER (2019) REVIEW: Adaptasi Komik Yang Berbeda Sekaligus Menghantui Pikiran



DC comics memang sedang berusaha untuk mencari jati diri untuk film adaptasinya. Apalagi setelah berkali-kali jatuh bangun saat membuat sebuah cinematic universe-nya. Sehingga, DC pun lebih memilih untuk fokus membuat film-film spin-off yang bergantung pada kualitas daripada fokus membuat cinematic universe. Iya, mungkin ada beberapa filmnya yang berhasil. Tetapi, perjalanan DC masih sangat panjang.

Sebuah harapan hadir ketika Joker yang diarahkan oleh Todd Phillips ini lebih berusaha untuk keluar dari usaha DC membangun dunianya. Rasa skeptis tetap saja hadir, karena ada pergantian cast dari Jared Leto ke Joaquin Pheonix. Meskipun, sebenarnya, film ini juga tak memberikan koneksi apa-apa untuk film DC yang lain. Belum lagi, hype yang terlalu dini untuk film ini. Meskipun pada akhirnya, film ini meraih berbagai macam atensi dari berbagai festival film di luar sana.

Siapa yang bisa melupakan performa keren Heath Ledger saat menjadi Joker di The Dark Knight trilogy? Tentu, dia tak akan bisa terganti dan menjadi salah satu pemeran Joker terbaik. Beruntungnya, Joaquin Pheonix tak berusaha untuk terlihat sama-sama sintingnya layaknya Heath Ledger. Dia berusaha untuk menjadi Joker dengan caranya sendiri dibantu dengan origin story-nya yang memang menggali karakter Joker dengan lebih dalam.


Ya, Todd Phillips berhasil membuat origin dari seorang villain dengan pendekatan studi karakter yang akan membuat penonton menyelami apa yang dilakukan sepanjang hari. Penuh akan perasaan yang problematis saat menyaksikan film Joker. Bukan karena film ini tak bagus, tetapi pesan yang tersampaikan lewat plot dan penuturan ceritanya. Ada perasaan tidak nyaman, yang membuat penontonnya mungkin refleksi tentang bagaimana dirinya melihat kehidupan.

Dunia yang ditinggali oleh Joker memang tak sejelas itu hitam dan putihnya. Ada area abu-abu yang mungkin perlu untuk dicerna dan didiskusikan oleh penonton setelah menyaksikan film ini di bioskop. Menonton Joker seakan menonton sebuah realita kehidupan yang ada di sekitar. Apa yang kamu lihat tergantung dengan apa yang kamu ketahui. Joker sebagai karakter villain pun seakan abu-abu. Apa benar dirinya adalah konstruksi dari lingkungannya, atau memang dirinya dalam keadaan yang tidak stabil pada awalnya.


Hal ini terjadi karena Joker menceritakan tentang Arthur Fleck (Joaquin Pheonix) yang tinggal bersama dengan orang tuanya ini hidup dalam keadaan yang kurang beruntung. Dirinya harus mencari nafkah setiap harinya, menjadi seorang badut dengan bayaran yang pas-pasan. Asal bisa cukup untuk dirinya dan ibunya saja sudah beruntung. Arthur juga mengalami beberapa gangguan yang membuat dirinya bertingkah aneh di saat yang tidak tepat.

Tetapi, hal ini malah menjadi senjata untuk orang-orang melakukan penganiayaan terhadap dirinya. Arthur merasa hidupnya tak adil. Hingga suatu ketika, segerombolan orang berusaha menyerang Arthur di sebuah kereta. Arthur membunuh mereka dengan senjata api miliknya tanpa belas kasihan. Dirinya pun menjadi buronan. Tetapi, hal itu malah membuat Arthur merasa bahwa itulah jati dirinya.


Todd Phillips mungkin mau untuk memberikan sebuah realita tentang bagaimana seseorang terbentuk pada mulanya. Entah nantinya dia akan menjadi sosok yang baik atau jahat, itu tergantung bagaimana nanti penonton akan melihat. Tetapi, Joker ini tampil solid berkat pengarahan Todd Phillips yang kuat. Dia mampu membuat 122 menit milik Joker ini indah sekaligus menghantui pikiran penontonnya seusai menonton film ini.

Alurnya memang terasa pelan, tetapi ini membangun karakternya perlahan menjadi sosok yang lebih kaya akan rasa. Penonton bisa menaruh simpati kepada karakter Arthur Fleck yang sedang melakukan transformasi dalam hidupnya. Bagaimana setiap problematika dalam hidupnya bisa membentuk dirinya. Sehingga, meskipun film ini minim akan adegan aksi, tetapi Joker memiliki tensi yang sangat kuat untuk diikuti.

Hal ini juga diperkuat lagi dengan bagaimana tata teknis dari sinematografi hingga gubahan musiknya yang berhasil membangun suasananya hingga terasa semakin menyayat hati. Adanya simpati dari penonton ini membuat karakter Joker menjadi sangat abu-abu sekaligus problematis. Mungkin ada rasa iba yang muncul untuk karakter ini, tetapi hal penting yang perlu digarisbawahi adalah apa yang akan dilakukan oleh karakter Arthur Fleck dalam film ini.


Melakukan tindak kejahatan sebagai sebuah cara untuk melepaskan amarah mungkin sangat kontroversi. Todd Phillips seakan meromantisasi kejahatan sebagai cara untuk menyelesaikan masalah dalam hidup Arthur. Sehingga, mungkin ini akan menjadi sesuatu yang problematik bagi beberapa wilayah di luar sana yang sedang menghadapi isu serupa. Mass shootersyang terjadi di mana-mana ini membuat usaha beberapa wilayah untuk mencegah, mungkin bisa jadi bertambah.

Semua orang akan menganggap bahwa hal-hal seperti ini akan menjadi hal lumrah karena society yang ada di sekitarnya yang menuntut dirinya membalaskan dendam dengan cara yang tidak tepat. Tetapi, isu yang dilemparkan oleh film Joker milik Todd Phillips ini mungkin juga bisa menjadi refleksi bagi penontonnya. Joker sebagai karakter villain adalah gambaran seseorang yang akan melakukan tindak kejahatan beserta motifnya. Penonton akan tahu bahwa ada seseorang di luar sana yang mungkin sedang berencana jahat dan kita harus waspada.


Sehingga, menonton Joker sendiri harus dengan mata dan pikiran terbuka. Sebagai sebuah film, Joker berhasil mengajak penontonnya untuk aktif memahami karakter utamanya dengan penuturan yang sangat solid. Tetapi, kamu sendiri yang menentukan. Apakah kamu akan menjadi orang yang lebih peka dengan orang-orang sekitarmu untuk mencegah tindak kejahatan ataupun memiliki penyakit kejiwaan. Atau kamu memilih untuk memahami mereka sebagai korban atas ketidakadilan dan mengamini apa yang akan mereka lakukan. Hal inilah yang membuat film adaptasi dari komik DC ini berbeda dan sebagai salah satu alternatif bercerita. Bagus sekali.

PSA: Jangan bawa anak kecil menonton film ini. Meski diangkat dari komik berlabel superhero, tetapi film ini tak akan bisa diterima anak-anak.
 

DANUR 3: SUNYARURI (2019) REVIEW: Seri Ketiga dengan Problematika yang Sama


Datang dari sebuah kisah novel milik Risa Sarasvati, Danur cukup banyak menorehkan kuantitas box office yang gemilang di Indonesia. Iya, nama Danur sudah menjadi brand tersendiri bagi penonton Indonesia saat menonton film horor Indonesia. Danur sudah menginjak ke seri ketiganya tahun ini. Universe-nya pun juga semakin luas. Sudah ada film Asih, yang diatur sebagai prekuel dari Danur pertama yang menjelaskan tentang mitos tentang dirinya.

Mungkin, masih ada rencana-rencana lain yang berusaha dilakukan oleh MD Pictures untuk tetap menghidupkan franchise yang menguntungkan ini. Tetapi, kembali ke seri ketiga dari Danur itu sendiri, film ketiganya masih disutradarai oleh Awi Suryadi. Tetap dibintangi pula oleh Prilly Latuconsina, film ketiganya kali ini bertajuk Sunyaruri. Diramaikan pula oleh beberapa nama-nama terkenal lainnya seperti Rizky Nazar, Umay Shahab, Syifa Hadju, dan Steffi Zamora.

Teaser trailer Danur 3: Sunyaruri yang ditempelkan lewat film Awi Suryadi di film Sunyi tentu mengundang rasa penasaran penonton. Apalagi ketika film ini sudah mencapai seri ketiga, entah ini masih akan berlanjut atau tidak, jelas penonton berharap untuk datang sebuah perbaikan atas kesalahan-kesalahan yang pernah ada di dua film sebelumnya. Bahkan, Asih pun memiliki performa yang jauh lebih stabil dibandingkan dua film Danur lainnya.


Tentu saja, Danur 3: Sunyarurimasih berpusat dari kisah Risa (Prilly Latuconsina) yang selalu mengalami kejadian-kejadian dengan makhluk astral dalam hidupnya. Dia dan kelima teman astralnya ini mulai tak begitu akrab. Hal itu dikarenakan oleh kemauan Risa yang ingin terlihat normal di depan teman-temannya. Apalagi saat berhadapan dengan kekasihnya, Dimas (Rizky Nazar). Bahkan, dia tak mengakui bahwa dia memiliki penglihatan kepada sang kekasih.

Keresahan yang dialami oleh Risa ini ternyata menjadi sasaran empuk bagi arwah jahat untuk merasuki pikirannya. Risa ingin menghilangkan kemampuannya untuk tak lagi melihat makhluk-makhluk tak kasat mata ini. Sang arwah jahat ini berusaha membantu untuk mengabulkan keinginan Risa ini. Ternyata, hal ini malah berujung petaka sendiri untuk Risa dan 5 teman tak kasat matanya itu.


Babak pertama hingga kedua film dari Danur 3: Sunyaruri adalah bagian terbaik dari filmnya. Setidaknya, meskipun naskah dari Lele Laila ini setipis kertas dengan memiliki alur cerita yang generik, tetapi Awi Suryadi berusaha sekuat tenaga untuk mengantarkan kisahnya tanpa ada pretensi menjadi sesuatu yang superior. Awi tahu untuk mengulik keresahan Risa dengan kemampuan mata batinnya yang terkadan menjadi beban baginya.

Terlihat betul bahwa 45 menit pertama dari Danur 3: Sunyaruri dituturkan dan digarap dengan hati-hati. Semacam Awi Suryadi menggunakan formula pengarahannya di film Sunyi di film ini. Membangun perlahan cerita dan atmosfernya, menelaah lebih dalam ke dalam karakter Risa, sehingga penonton tahu harus bersimpati kepada siapa di sepanjang film. Hal inilah yang tak biasa terjadi di seri-seri Danur sebelumnya.

Tetapi sayangnya, semua hal yang dibangun oleh Awi Suryadi di babak pertama hingga kedua harus runtuh dengan signifikan di babak ketiganya. Munculnya sebuah twist dalam plotnya yang entah dari mana ini bukan malah membuat penontonnya kaget, tetapi malah muncul banyak pertanyaan. Apa yang terjadi dalam karakter tersebut sehingga sangat berpengaruh signifikan dengan karakter utamanya. Hal-hal itu terasa janggal karena hal itu hanya diceritakan dengan singkat menuju akhir.\


Apabila penyelesaian yang terjadi di film Danur 3: Sunyaruri tak melibatkan karakter sampingan yang begitu signfikan, mungkin tak akan seproblematik ini. Bahkan, konfliknya pun tak pernah disinggung sedikit pun di sepanjang filmnya. Sehingga, ada tuntutan dari penonton untuk mengenal lebih dekat dengan karakter-karakter sampingannya yang bahkan tak ada ruang yang cukup untuk mereka berkembang. Sehingga, hal ini tak bisa menjawab dengan baik masalah cause and effect dalam plot ceritanya.

Padahal, Danur 3: Sunyarurisudah memiliki tata teknis yang berkembang secara signifikan dibandingkan dengan film pertama dan keduanya. Bahkan, Prilly Latuconsina pun juga bermain semakin bagus dibanding yang lainnya. Memang, secara atmosferik horor dan jumpscares masih saja generik, apalagi dalam pemilihan plotnya. Tentu, hal ini membuktikan bahwa Danur 3: Sunyaruribukanlah horor yang dibuat tak sembarangan.


Masih ada perhatian khusus dari sang sutradara dan rumah produksinya agar Danur 3: Sunyaruri bisa terlihat mewah di kelasnya. Apalagi, film ketiganya sudah dilengkapi dengan format Dolby Atmos. Meskipun, hal terbaik dalam ini masih ada di dalam teaser filmnya. Danur 3: Sunyaruri harus terjerembab dengan permasalahan film horor Indonesia yang itu-itu aja. Tensi horornya pun tak begitu kuat, tetapi setidaknya Danur 3: Sunyaruri masih menyampaikan ceritanya dengan utuh. Setidaknya di 45 menit pertamanya, sih.

MIDSOMMAR (2019) REVIEW: Medium Ari Aster Mendefinisikan Ulang (Lagi) Genre Horor


Ari Aster kembali dengan karya sophomore-nya di tahun ini. Setelah di tahun 2018, Hereditary berhasil menjadi buah bibir di kalangan penikmat film. Tentu saja, horor yang dibuat oleh Ari Aster tak sekedar horor dengan makhluk-makhluk astral. Dia berusaha untuk bermain dalam genre horor dan mendefinisikan ulang horor di dalam filmnya. Tentu, hal inilah yang membuat karya kedua dari Ari Aster ini menjadi menarik untuk ditunggu.

Midsommar, karya kedua dari Ari Aster ini dari trailernya saja sudah berusaha memberikan definisi lain tentang genre horor sendiri. Ari Aster sedang berusaha untuk mematahkan salah satu ciri dari genre film horor itu sendiri. Bermain dalam setting waktu siang hari yang membuat Midsommar menjadi salah satu film horor yang berbeda di era yang baru ini. Midsommar ditulis sendiri oleh Ari Aster dalam naskahnya. Dibintangi oleh Florence Pugh, Jack Reynor, hingga Will Poulter, Midsommar berusaha untuk menghantui penontonnya dengan cara sendiri.


Menceritakan tentang sosok Dani (Florench Pugh) yang sedang mengalami banyak sekali tekanan dalam hidupnya, apalagi tentang keluarganya. Tetapi, sebuah kabar duka mendatanginya dan membuat hidupnya semakin berantakan. Tetapi, dia masih memiliki Christian (Jack Reynor), kekasihnya yang berusaha mendampinginya. Hanya saja, Christian ternyata telah memilki rencana lain sebelum ada bencana yang menimpa Dani. Dirinya sudah berencana untuk pergi ke Swedia untuk riset tesisnya sekaligus pergi liburan bersama teman-temannya.

Christian tak memberitahu rencana ini ke Dani, hingga akhirnya Dani memutuskan untuk ikut Christian ke Swedia. Tibalah mereka ke sebuah desa terpencil di sana bernama Harga. Mereka sedang dalam sebuah festival tradisi selama 9 hari. Tentu, hal ini diterima dengan senang hati oleh Dani, Christian, dan teman-teman mereka. Hingga suatu ketika, tradisi yang dilakukan oleh para penduduk di desa tersebut berjalan terlalu jauh dan memiliki arti lain. Membuat liburan mereka yang awalnya terlihat menyenangkan menjadi sebuah kegiatan yang mengganggu pikiran.


Dalam karyanya, memang Ari Aster bermain dalam ranah horor yang lebih menganggu pikiran dibandingkan dengan menggunakan formula jumpscares. Hal ini yang perlu diketahui oleh penonton sebelum akhirnya memutuskan untuk menonton Midsommar. Hingga nanti saat keluar dari bioskop, tak berusaha membandingkannya dengan film-film horor seperti karya-karya milik James Wan dan yang sejenisnya.

Setelah Ari Aster berusaha mendefinisikan horor tentang sebuah ketidakpastian dalam Hereditary, Midsommar juga berusaha melakukan hal yang sama. Ari Aster menggunakan Midsommar untuk mendefinisikan ulang horor sebagai cara melepaskan beban. Entah beban tentang masa lalu atau beban yang dipikul sekarang. Dani menjadi pion yang digunakan oleh Ari Aster untuk karakter studi bagi penontonnya tentang perjalanannya menghadapi masalah dalam hidupnya.

Midsommar memang bukan film horor dengan penuturan yang seperti ditemui oleh horor-horor pada umumnya. Ari Aster membangun atmosfirnya secara perlahan hingga membuat penontonnya masuk ke dalam konflik Dani dan ikut mengalami beban di dalam dirinya. Tujuannya adalah ketika di akhir film penontonnya pun juga ikut merasa lega saat Dani berusaha melepaskan beban dalam dirinya. Tetapi, dalam perjalanannya melepaskan beban milik Dani ini, Ari Aster sedikit menemukan jalan berliku.


Banyak yang ingin disampaikan oleh Ari Aster dan dirinya berusaha untuk membuat setiap plotnya berjalan seimbang. Tetapi, hal itu malah membuat Midsommar sedikit tidak rapi jika dibandingkan dengan Hereditary. Di paruh kedua filmnya, Midsommar terlalu sibuk memperlihatkan tradisi-tradisi dan konsekuensi yang terjadi di desa Harga dan lupa untuk memberikan signifikansi dalam karakter utamanya. Sehingga, tensi di pertengahannya terasa sedikit merenggang. Barulah di paruh ketiga menuju konklusi, Ari Aster berusaha mengencangkan tensinya.

Di sinilah problematika Ari Aster dalam karya-karyanya. Midsommar dan Hereditary memiliki babak revealing yang berusaha membuat filmnya masih bisa dicerna oleh penontonnya. Sehingga, dengan apa yang dibangun oleh Ari Aster di awal film, penutup filmnya terasa menggebu-gebu. Tetapi, dengan adanya hal ini juga memberikan pengertian bahwa film-film Ari Aster pun memiliki penuturan dengan narasi yang popular. Hanya saja, label ‘alternatif’ dan premisnya yang terlihat unik –meskipun sebenarnya banyak ditemui di film lain –ini  menutupi narasinya yang masih sangat mudah dicerna.


Inilah yang mungkin membuat para penontonnya gampang terkesima dan berusaha menjadikan film-film Ari Aster sebagai ajang pembuktian diri menemukan hal-hal lain. Tetapi, di luar tujuan penontonnya, Midsommar menjadi sebuah pengalaman film horor yang berbeda dan perlu untuk ditonton. Mematahkan salah satu ciri genre horor dan mendefinisikan ulang tentang horor adalah tujuannya. Dibalut dengan visual yang cerah tetapi tak nyaman hingga scoring yang haunting membuat Midsommar ini sangat menarik untuk dikulik.