• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label September. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label September. Tampilkan semua postingan

THE MYSTERY OF DRAGON SEAL (2020) REVIEW: Film Kolaborasi 3 Negara yang Menarik

C:\Users\user\Downloads\Poster.jpg

Emang Mola TV ini banyak banget hidden gems-nya. Apalagi, ada banyak banget pula film-film eksklusif yang tayang di sana. Setelah kemarin, Waiting for The Barbarians yang baru saja ditonton lewat streaming service satu ini. Akhirnya berkesempatan juga nonton The Mystery of Dragon Seal yang hanya tayang eksklusif di sana. Yang bikin menarik adalah di film ini adalah hasil kolaborasi dari 3 negara yaitu Inggris, Rusia, dan China.


Selain itu, ada dua aktor legendaris yang ternyata bisa juga bermain di dalam satu frame. Mereka udah jago-jago banget pula kalo mainnya di film-film aksi kayak gini. Mereka adalah Jackie Chan dan Arnold Schwarzenegger!


Nonton Jackie Chan dan Arnold Schwarzenegger di satu film?


Ini nih yang ditunggu-tunggu. Dua legend film action bisa ada di satu frame. Ini nih yang terjadi di film The Mystery of Dragon Seal. Film ini disutradarai oleh Oleg Stepchenko yang berkebangsaan Rusia. Itu lah kenapa film ini juga syuting di 3 negara yang berbeda. Dari negara Inggris, Rusia, dan China. Menarik karena ada banyak budaya juga yang bisa ditampilkan di dalam filmnya.


Yang menarik adalah ternyata film ini adalah sekuel dari film Forbidden Empire yang juga disutradarai oleh Oleg Stepchenko. Film ini pun berdasarkan buku yang ditulis oleh Nikolai Gogol. Selain Jackie Chan dan Arnold Schawarzenegger, film ini juga dibintangi oleh actor Inggris bernama Jason Flemyng. Tentu, film ini bakal penuh dengan banyak aksi.


Meski sebagai sebuah sekuel, The Mystery of Dragon Seal ini bisa berjalan sebagai sebuah film sendiri. Penonton awam yang tak mengikuti film ini juga tetap bisa terhibur dengan segala petualangannya dan aksinya yang lumayan menghibur. Ini mungkin menjadi daya Tarik dari film The Mystery of Dragon Seal selain dua nama aktor legendaris yang berada di satu frame.


Masalah cerita, ini mungkin agak rumit untuk diikuti bagi yang belum mengikuti film pertamanya. Jadi, harus diperhatikan betul agar nantinya bisa mengikuti segala keseruan petualangan cerita di 2 jam film ini.


The Mystery of Dragon Seal ini menceritakan tentang seorang penjelajah dari Inggris bernama Jonathan Green yang melanjutkan misi perjalanannya. Dia diutus oleh Peter The Great (Yuri Kolokolnikov) untuk melakukan perjalanan ke daerah Rusia Timur. Perjalanannya ini bakal berlangsung sampai China. Tapi, di tengah perjalanannya, dia bertemu dengan berbagai macam karakter dan petualangan baru. Di sini nih masalah muncul, ada misteri yang perlahan terkuak hingga akhirnya memunculkan peperangan yang besar. 


Mungkin ada berbagai macam cerita yang berusaha disampaikan dari The Mystery of Dragon Seal. Ini yang membuat penonton untuk ekstra perhatian agar tidak salah memahami jalan ceritanya. Tapi, penonton pun bisa menikmati kisah-kisah dunia di dalam film ini yang sangat menarik. Ada banyak creatures lucu, menggemaskan, dan menarik yang bisa ditonton sepanjang film. Bagi penonton yang suka dengan film-film serupa ini mungkin gak boleh ketinggalan. 


Building universe dan sinematografi di The Mystery of Dragon Seal ini punya banyak banget potensi untuk jadi sajian yang lebih besar. Dengan segala unsur fantasi yang ada, The Mystery of Dragon Seal masih bisa jadi tontonan hiburan. Memandangi visual efeknya dengan vibran yang menarik saja sudah oke. Ditambah dengan melihat Jackie Chan dan Arnold Schwarzenegger berada di dalam satu adegan dengan spektakel aksi yang lumayan seru.


Film kerjasama dengan 3 negara ini dinaungi oleh salah satu production house dari China yang juga Jackie Chan turut andil. Jadi, bisa banget buat kamu masukin The Mystery of Dragon Seal di dalam daftar tontonan kamu. Setidaknya kamu tahu gimana sih film yang menggabungkan 3 negara dalam pembuatannya. Kultur seperti apa yang bakal tampil di dalam film tersebut.


Nah, film ini tayang secara eksklusif hanya di Mola TV nih. Dengan langganan paket yang murah juga kok. Cuma Rp12.500 per bulannya dan kamu bisa tonton The Mystery of Dragon Seal bagi yang penasaran. Selain itu, ada banyak hidden gems juga di dalam streaming service satu ini! Tonton filmnya di SINI

MULAN (2020) REVIEW: Remake yang Berbeda Tapi Masih Magis!

“Who is that girl I see… Staring straight, back at me.”

Iya, lagu di atas adalah lagu dari proyek live-action Disney terbaru, Mulan. Film yang diadaptasi dari film animasinya ini melanjutkan misi Disney untuk menceritakan ulang kisah-kisah animasinya terutama karakter Disney Princess. Setelah Cinderella, Beauty and The Beast, dan Aladdin, kini tiba saatnya seorang Disney Princess yang terlibat dalam perang penting, Mulan.


Ada keputusan berbeda yang dilakukan Disney dan sutradaranya, Niki Caro, dalam menerjemahkan ulang kisah dari Mulan ini, yaitu….


Menghilangkan unsur musikal di dalamnya.


Keputusan yang besar dan berisiko apalagi untuk para penggemar film animasi Mulan versi Disney ini. Mungkin akan hilang sakralnya bila tidak ada lagu “Reflection” dan lagu-lagu lainnya di dalam versi live action ini. Ada beberapa perubahan pula dalam karakter di dalam film ini terlebih ke karakter love interest dari karakter Mulan itu sendiri yaitu Li Shang. Serta, Mushu dan Cricket, dua karakter sidekick yang cukup ikonik.



Tapi, Disney tetap berusaha untuk meyakinkan penggemarnya. Diawali dengan pemilihan casts yang tepat. Apalagi, Liu Yifei yang berhasil menyita perhatian banyak orang karena dianggap sangat cocok untuk memerankan karakter ini. Beberapa nama besar pun juga turut andil. Mulai dari Donnie Yen, Andy Lau, hingga Gong Li. Serta, trailer film yang sangat menggugah selera. Lantas, hal ini membuat orang-orang menantikan filmnya rilis. Hingga, 2 minggu sebelum rilis, Mulan terpaksa harus berubah tanggal karena pandemi menyerang.


Nasib Mulan berada di ambang batas hingga akhirnya Disney memutuskan untuk merilis film ini lewat streaming service miliknya, Disney+. Tetapi, untuk bisa menonton film ini pun, Disney mematok harga tambahan untuk Disney+ Premier Access di negara US yaitu 29.99 dolar dan dalam rupiah sebesar Rp439.000.


Ya, sangat disayangkan memang. Mulan hanya bisa disaksikan dalam format yang tak seharusnya. Dari trailer pun, mise-en-scene film ini pantas untuk disaksikan di layar lebar.



Di luar nasibnya yang hanya tayang eksklusif di VOD dengan akses tambahan, Mulan sebagai film ini sendiri berhasil tampil sangat prima. Segala perubahan dan perbedaan yang terjadi di film live action-nya ini tak bisa menutupi segala kemagisan Mulan secara keseluruhan. Tak hanya magis, film ini pun penuh akan aksi yang megah dengan sentuhan emosi yang kuat.


Oh tentu saja, Mulan versi ini sebenarnya inti ceritanya tak jauh berbeda dengan film animasinya. Di mana, di sebuah pojokan kampung kecil ini, tinggallah salah satu keluarga dari Hua Zhou (Tzi Ma) yang beranggotakan Istri dan 2 orang anak perempuannya. Salah satunya bernama Hua Mulan (Liu Yifei). Dia menjadi sosok perempuan yang lebih suka melakukan hal-hal yang berbeda dibanding perempuan yang lain. Hingga suatu ketika, The Emperor memutuskan untuk mencari balada perang untuk melawan Bori Khan (Jason Scott Lee) yang ingin berkuasa. 


Setiap anggota keluarga wajib mengutus satu anggota laki-laki dalam keluarganya untuk menjadi relawan. Hua Zhou yang menjadi satu-satunya anggota laki-laki di keluarga ini tentu merelakan dirinya. Tapi, Mulan tak tinggal diam. Dia berkorban untuk menyelamatkan sang Ayah dan keluarganya untuk berperang melawan Bori Khan dan menyelamatkan The Emperor dari kehancuran.



Dengan cerita yang sama, tapi ada yang beda. Apa ya?


Remake dari Mulan ini memang sedikit berbeda dengan yang lainnya. Jika diperhatikan, Mulan versi Niki Caro ini memang sedikit berkurang rasa “Disney” seperti remake live action sebelumnya. Tanpa musikal, tanpa kesan-kesan fantasinya, Mulan live action ini punya rasa baru tapi tak kehilangan identitasnya sebagai film dari Disney.


Sang sutradara tahu bahwa Mulan ini memang ingin melakukan misi baru pula sebagai sebuah film yang berdasarkan kisah yang pernah ada. Tapi, Niki Caro juga tak ingin begitu saja menghilangkan kekhasan dari film-film Disney yang lain. Masih ada sedikit sentuhan fantasi yang berusaha ditempelkan di beberapa mise-en-scene di filmnya. Mulai dari warna, pengambilan kamera, hingga sedikit sentuhan fantasi di dalam filmnya meski tak sesignifikan itu.


Niki Caro mengubah Mulan ini tetap menarik untuk diikuti meskipun kisahnya familiar. Rendisi terbarunya ini malah mengulik bagaimana karakter Mulan ini berkembang dan bisa menjadi representasi bagi para perempuan untuk menentukan hidupnya sendiri. Perjalanan karakternya bisa menggugah hati penontonnya untuk simpati. Ditambah Liu Yifei berhasil bermain dengan sangat kuat sebagai karakter Mulan itu sendiri.

Poin menarik yang ditambah dari film Mulan ini adalah dengan adanya karakter tambahan bernama Xianning. Karakter seakan berusaha memberikan kasus tentang dua mata pedang.  Dengan dua problem yang sama, perempuan bisa saja dipersepsikan berbeda. Hingga bagaimana perempuan itu sendiri bisa menyikapi dan membuktikan dirinya bahwa persepsi buruk yang dibuat oleh masyarakat itu salah. Maka dari itu, perempuan juga membutuhkan bantuan dari perempuan lain. Dengan bersama-sama, mereka saling membantu untuk menghilangkan paradigma itu.


Nilai-nilai konversi ini mungkin muncul dari sutradara Niki Caro sebagai seorang perempuan. Bisa jadi dia ingin sekali menjadikan Mulan sebagai simbol akan perempuan yang berbeda dan dipersepsikan dengan baik oleh masyarakat. Bahwa, perempuan juga bisa melakukan pekerjaan laki-laki tanpa perlu takut untuk dipersepsikan buruk. Melawan paradigma “kodrat perempuan” harus di rumah untuk mengharumkan nama keluarga. Padahal, potensi seorang perempuan bisa saja lebih dari itu.



Jangan lupakan bagaimana Niki Caro juga berhasil memunculkan adegan pertempuran yang luar biasa mengagumkan. Diambil dengan shot-shot cantik tapi tak mengurangi intensitas dari adegan pertempuran itu sendiri. Lalu, ada tribute shot by shot di film animasinya yang dilakukan di film live action-nya ini. Sehingga, Mulan live action tidak melupakan source utamanya.


Jadi, sebagai film live action remake dari cerita klasik Disney, Mulan adalah sajian yang sangat memuaskan. Meskipun berbeda pendekatan dibanding film-film remake Disney sebelumnya, tapi film ini teteap berhasil tampil sangat prima dan sangat menghibur penontonnya. Dibalut pula dengan gambar cantik dengan scoring megah dengan hint lagu Reflection. Sehingga, tanpa adegan musikalnya pun, Mulan sangat menghipnotis. Masih magis!



Sebuah catatan kecil dari penulis:
Nonton film ini dengan Disney+ Premier Access (iya, akhirnya purchase juga) dan layar kecil saja masih magis. Dampaknya mungkin bisa lebih besar lagi, jika film ini bisa tayang di Bioskop. Mari berharap, semoga saja film ini bisa tayang di saat bioskop nanti bisa buka. 

DANUR 3: SUNYARURI (2019) REVIEW: Seri Ketiga dengan Problematika yang Sama


Datang dari sebuah kisah novel milik Risa Sarasvati, Danur cukup banyak menorehkan kuantitas box office yang gemilang di Indonesia. Iya, nama Danur sudah menjadi brand tersendiri bagi penonton Indonesia saat menonton film horor Indonesia. Danur sudah menginjak ke seri ketiganya tahun ini. Universe-nya pun juga semakin luas. Sudah ada film Asih, yang diatur sebagai prekuel dari Danur pertama yang menjelaskan tentang mitos tentang dirinya.

Mungkin, masih ada rencana-rencana lain yang berusaha dilakukan oleh MD Pictures untuk tetap menghidupkan franchise yang menguntungkan ini. Tetapi, kembali ke seri ketiga dari Danur itu sendiri, film ketiganya masih disutradarai oleh Awi Suryadi. Tetap dibintangi pula oleh Prilly Latuconsina, film ketiganya kali ini bertajuk Sunyaruri. Diramaikan pula oleh beberapa nama-nama terkenal lainnya seperti Rizky Nazar, Umay Shahab, Syifa Hadju, dan Steffi Zamora.

Teaser trailer Danur 3: Sunyaruri yang ditempelkan lewat film Awi Suryadi di film Sunyi tentu mengundang rasa penasaran penonton. Apalagi ketika film ini sudah mencapai seri ketiga, entah ini masih akan berlanjut atau tidak, jelas penonton berharap untuk datang sebuah perbaikan atas kesalahan-kesalahan yang pernah ada di dua film sebelumnya. Bahkan, Asih pun memiliki performa yang jauh lebih stabil dibandingkan dua film Danur lainnya.


Tentu saja, Danur 3: Sunyarurimasih berpusat dari kisah Risa (Prilly Latuconsina) yang selalu mengalami kejadian-kejadian dengan makhluk astral dalam hidupnya. Dia dan kelima teman astralnya ini mulai tak begitu akrab. Hal itu dikarenakan oleh kemauan Risa yang ingin terlihat normal di depan teman-temannya. Apalagi saat berhadapan dengan kekasihnya, Dimas (Rizky Nazar). Bahkan, dia tak mengakui bahwa dia memiliki penglihatan kepada sang kekasih.

Keresahan yang dialami oleh Risa ini ternyata menjadi sasaran empuk bagi arwah jahat untuk merasuki pikirannya. Risa ingin menghilangkan kemampuannya untuk tak lagi melihat makhluk-makhluk tak kasat mata ini. Sang arwah jahat ini berusaha membantu untuk mengabulkan keinginan Risa ini. Ternyata, hal ini malah berujung petaka sendiri untuk Risa dan 5 teman tak kasat matanya itu.


Babak pertama hingga kedua film dari Danur 3: Sunyaruri adalah bagian terbaik dari filmnya. Setidaknya, meskipun naskah dari Lele Laila ini setipis kertas dengan memiliki alur cerita yang generik, tetapi Awi Suryadi berusaha sekuat tenaga untuk mengantarkan kisahnya tanpa ada pretensi menjadi sesuatu yang superior. Awi tahu untuk mengulik keresahan Risa dengan kemampuan mata batinnya yang terkadan menjadi beban baginya.

Terlihat betul bahwa 45 menit pertama dari Danur 3: Sunyaruri dituturkan dan digarap dengan hati-hati. Semacam Awi Suryadi menggunakan formula pengarahannya di film Sunyi di film ini. Membangun perlahan cerita dan atmosfernya, menelaah lebih dalam ke dalam karakter Risa, sehingga penonton tahu harus bersimpati kepada siapa di sepanjang film. Hal inilah yang tak biasa terjadi di seri-seri Danur sebelumnya.

Tetapi sayangnya, semua hal yang dibangun oleh Awi Suryadi di babak pertama hingga kedua harus runtuh dengan signifikan di babak ketiganya. Munculnya sebuah twist dalam plotnya yang entah dari mana ini bukan malah membuat penontonnya kaget, tetapi malah muncul banyak pertanyaan. Apa yang terjadi dalam karakter tersebut sehingga sangat berpengaruh signifikan dengan karakter utamanya. Hal-hal itu terasa janggal karena hal itu hanya diceritakan dengan singkat menuju akhir.\


Apabila penyelesaian yang terjadi di film Danur 3: Sunyaruri tak melibatkan karakter sampingan yang begitu signfikan, mungkin tak akan seproblematik ini. Bahkan, konfliknya pun tak pernah disinggung sedikit pun di sepanjang filmnya. Sehingga, ada tuntutan dari penonton untuk mengenal lebih dekat dengan karakter-karakter sampingannya yang bahkan tak ada ruang yang cukup untuk mereka berkembang. Sehingga, hal ini tak bisa menjawab dengan baik masalah cause and effect dalam plot ceritanya.

Padahal, Danur 3: Sunyarurisudah memiliki tata teknis yang berkembang secara signifikan dibandingkan dengan film pertama dan keduanya. Bahkan, Prilly Latuconsina pun juga bermain semakin bagus dibanding yang lainnya. Memang, secara atmosferik horor dan jumpscares masih saja generik, apalagi dalam pemilihan plotnya. Tentu, hal ini membuktikan bahwa Danur 3: Sunyaruribukanlah horor yang dibuat tak sembarangan.


Masih ada perhatian khusus dari sang sutradara dan rumah produksinya agar Danur 3: Sunyaruri bisa terlihat mewah di kelasnya. Apalagi, film ketiganya sudah dilengkapi dengan format Dolby Atmos. Meskipun, hal terbaik dalam ini masih ada di dalam teaser filmnya. Danur 3: Sunyaruri harus terjerembab dengan permasalahan film horor Indonesia yang itu-itu aja. Tensi horornya pun tak begitu kuat, tetapi setidaknya Danur 3: Sunyaruri masih menyampaikan ceritanya dengan utuh. Setidaknya di 45 menit pertamanya, sih.

AD ASTRA (2019) REVIEW: Perjalanan Spiritual yang Personal ke Luar Angkasa


Perjalanan menuju luar angkasa memang bukan hal baru di perfilman Hollywood. Bahkan, film dengan tema-tema seperti ini sudah sering diangkat di beberapa tahun terakhir ini. Seperti wajib ada di setiap tahunnya. Maka dari itu, adanya karya terbaru dari sutradara James Gray ini sungguh menjadi hal yang patut untuk dinantikan. Apalagi ketika tahu bahwa film ini dibintangi oleh salah satu aktor Hollywood yang sudah jarang sekali bermain di layar perak.

Iya, siapa lagi kalau bukan Brad Pitt. Di tahun ini, mungkin penonton sudah menemuinya lewat film teranyar milik Quentin Tarantino berjudul Once Upon A Time... In Hollywood. Performanya sebagai supporting actor di film milik Quentin ini memang luar biasa menarik perhatian. ­Tentu saja, melihat Brad Pitt sebagai leading actor di film ini akan sangat menarik. Terlebih, bagi yang sudah familiar dengan film-film milik James Gray, tentu Ad Astra bukan hanya sekedar film perjalanan luar angkasa yang biasa.



Secara garis besar ceritanya, memang Ad Astra terlihat akan lebih dalam mengulik karakternya. Ini adalah kisah perjalanan Roy McBride (Brad Pitt), seorang astronot yang baru saja mengalami sebuah tragedi dalam pekerjaannya. Tragedi tersebut tentu akan mengancam keberadaan planet tempat dia tinggal. Sehingga, dia pun berusaha untuk mengusut masalah ini agar bisa ditemukan solusinya. Dan ditemukanlah sebuah fakta tentang tragedi tersebut.

Ternyata, Roy memiliki benang merah dengan solusi atas tragedi yang terjadi itu. Dia harus menemukan ayahnya, H. Clifford McBride (Tommy Lee Jones) seorang astronot senior yang luar biasa hebat. Tetapi, dirinya menghilang sesaat setelah menjalankan satu misi penting dan berhubungan dengan tragedi yang dialami oleh Roy. Mendengar hal ini, tentu Roy berusaha untuk menyelesaikan misinya dan menemukan kembali ayahnya yang telah lama tak dia ketahui kabarnya.


 
Jika kamu udah pernah nonton karya James Gray berjudul The Lost City of Z, mungkin akan sangat familiar dengan Ad Astra ini. Formula penuturan yang digunakan hingga pesan utama dalam film ini pun hampir terasa sama. Bedanya, The Lost City of Zdiadaptasi dari sebuah novel milik David Grann, sedangkan Ad Astra adalah naskah asli yang ditulis oleh James Gray dan Ethan Gross. Jika ingin menikmati Ad Astrayang dibutuhkan hanyalah perhatian ekstra.

Penuturan James Gray yang lebih subtle ini mungkin membuat Ad Astra tak bisa dinikmati oleh penonton yang belum pernah mengalami pengalaman sinematis serupa. Tetapi, bila mau untuk memberikan perhatian ekstra, Ad Astra adalah sebuah perjalanan luar angkasa yang tak hanya membahas tentang misinya saja. Film ini menekankan dirinya tentang sebuah perjalanan dalam diri dengan cara yang indah dan personal.

James Gray menuturkan kisahnya sangat perlahan, memberikan ruang untuk karakternya berkembang dengan segala konflik batinnya. Membahas tentang diri seorang karakternya yang selalu merasa hampa dalam hidupnya dengan segala yang dicapainya. Membahas tentang bagaimana seseorang mencerna segala informasi dalam hidupnya dan membahas pula tentang seorang laki-laki yang tetap saja malu membahas sisi rapuhnya. Hal ini tergambar betul dalam karakter Roy yang direka oleh James Gray dalam karya terbarunya.



Diperkuat lagi dengan performa yang begitu menawan dari Brad Pitt. Dirinya bisa mengantarkan karakter rekaan ini menjadi karakter yang bisa menanamkan simpati kepada penontonnya. Melihat Roy dalam Ad Astra, penonton pun akan merasa ikut dalam pergolakan batin di dalam karakternya. Di setiap perjalanannya saat menjalankan misi ini adalah tempat bagi karakternya untuk berkontemplasi akan apa yang sudah lakukan dalam hidupnya.

Sehingga, sesuai dengan judulnya Ad Astra yang disadur dari kata Ad Astra Per Aspera yang artinya to the stars through diffculties, tak salah apabila Ad Astra menjadi perjalanan spiritual bagi sang karakter utamanya. Setiap perjalanan adalah medium untuk Roy menemukan jawaban, jati diri, atas keluh kesah dan keraguan dalam hidupnya saat menentukan pilihan dan menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya.

Tetapi sayangnya, bila kamu sudah terlalu sering terpapar oleh film-film serupa, tentu Ad Astrabukan sebuah presentasi yang luar biasa. Masih ada banyak film-film lainnya yang bisa memiliki performa yang jauh lebih baik dari Ad Astra. Problematika dari film ini adalah ketika film ini berusaha untuk menekankan sisi fiksi ilmiahnya, tetapi menggunakan penuturan yang lebih realistis. Sehingga, ada cabang cerita di dalam filmnya yang terasa mengganjal dan menjadi keputusan yang kurang tepat untuk ada di dalam film Ad Astra.


 
Hanya saja, bagi yang sudah mencintai film-film dengan tema serupa, tentu saja Ad Astra adalah sebuah film yang tak bisa dilewatkan begitu saja. Dalam sisi teknis pun, film ini tak ada sesuatu yang luar biasa. Hanya saja, sinematografi milik Hoyte Van Hoytema ini menggugah mata dan cukup memiliki visi yang sama dengan sutradaranya. Sehingga, Ad Astra menjadi sebuah sajian perjalanan luar angkasa yang puitis dan menjadi medium bagi Brad Pitt untuk semakin menangguhkan dirinya sebagai aktor yang tak bisa dipandang sebelah mata.