• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label Donnie Yen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Donnie Yen. Tampilkan semua postingan

MULAN (2020) REVIEW: Remake yang Berbeda Tapi Masih Magis!

“Who is that girl I see… Staring straight, back at me.”

Iya, lagu di atas adalah lagu dari proyek live-action Disney terbaru, Mulan. Film yang diadaptasi dari film animasinya ini melanjutkan misi Disney untuk menceritakan ulang kisah-kisah animasinya terutama karakter Disney Princess. Setelah Cinderella, Beauty and The Beast, dan Aladdin, kini tiba saatnya seorang Disney Princess yang terlibat dalam perang penting, Mulan.


Ada keputusan berbeda yang dilakukan Disney dan sutradaranya, Niki Caro, dalam menerjemahkan ulang kisah dari Mulan ini, yaitu….


Menghilangkan unsur musikal di dalamnya.


Keputusan yang besar dan berisiko apalagi untuk para penggemar film animasi Mulan versi Disney ini. Mungkin akan hilang sakralnya bila tidak ada lagu “Reflection” dan lagu-lagu lainnya di dalam versi live action ini. Ada beberapa perubahan pula dalam karakter di dalam film ini terlebih ke karakter love interest dari karakter Mulan itu sendiri yaitu Li Shang. Serta, Mushu dan Cricket, dua karakter sidekick yang cukup ikonik.



Tapi, Disney tetap berusaha untuk meyakinkan penggemarnya. Diawali dengan pemilihan casts yang tepat. Apalagi, Liu Yifei yang berhasil menyita perhatian banyak orang karena dianggap sangat cocok untuk memerankan karakter ini. Beberapa nama besar pun juga turut andil. Mulai dari Donnie Yen, Andy Lau, hingga Gong Li. Serta, trailer film yang sangat menggugah selera. Lantas, hal ini membuat orang-orang menantikan filmnya rilis. Hingga, 2 minggu sebelum rilis, Mulan terpaksa harus berubah tanggal karena pandemi menyerang.


Nasib Mulan berada di ambang batas hingga akhirnya Disney memutuskan untuk merilis film ini lewat streaming service miliknya, Disney+. Tetapi, untuk bisa menonton film ini pun, Disney mematok harga tambahan untuk Disney+ Premier Access di negara US yaitu 29.99 dolar dan dalam rupiah sebesar Rp439.000.


Ya, sangat disayangkan memang. Mulan hanya bisa disaksikan dalam format yang tak seharusnya. Dari trailer pun, mise-en-scene film ini pantas untuk disaksikan di layar lebar.



Di luar nasibnya yang hanya tayang eksklusif di VOD dengan akses tambahan, Mulan sebagai film ini sendiri berhasil tampil sangat prima. Segala perubahan dan perbedaan yang terjadi di film live action-nya ini tak bisa menutupi segala kemagisan Mulan secara keseluruhan. Tak hanya magis, film ini pun penuh akan aksi yang megah dengan sentuhan emosi yang kuat.


Oh tentu saja, Mulan versi ini sebenarnya inti ceritanya tak jauh berbeda dengan film animasinya. Di mana, di sebuah pojokan kampung kecil ini, tinggallah salah satu keluarga dari Hua Zhou (Tzi Ma) yang beranggotakan Istri dan 2 orang anak perempuannya. Salah satunya bernama Hua Mulan (Liu Yifei). Dia menjadi sosok perempuan yang lebih suka melakukan hal-hal yang berbeda dibanding perempuan yang lain. Hingga suatu ketika, The Emperor memutuskan untuk mencari balada perang untuk melawan Bori Khan (Jason Scott Lee) yang ingin berkuasa. 


Setiap anggota keluarga wajib mengutus satu anggota laki-laki dalam keluarganya untuk menjadi relawan. Hua Zhou yang menjadi satu-satunya anggota laki-laki di keluarga ini tentu merelakan dirinya. Tapi, Mulan tak tinggal diam. Dia berkorban untuk menyelamatkan sang Ayah dan keluarganya untuk berperang melawan Bori Khan dan menyelamatkan The Emperor dari kehancuran.



Dengan cerita yang sama, tapi ada yang beda. Apa ya?


Remake dari Mulan ini memang sedikit berbeda dengan yang lainnya. Jika diperhatikan, Mulan versi Niki Caro ini memang sedikit berkurang rasa “Disney” seperti remake live action sebelumnya. Tanpa musikal, tanpa kesan-kesan fantasinya, Mulan live action ini punya rasa baru tapi tak kehilangan identitasnya sebagai film dari Disney.


Sang sutradara tahu bahwa Mulan ini memang ingin melakukan misi baru pula sebagai sebuah film yang berdasarkan kisah yang pernah ada. Tapi, Niki Caro juga tak ingin begitu saja menghilangkan kekhasan dari film-film Disney yang lain. Masih ada sedikit sentuhan fantasi yang berusaha ditempelkan di beberapa mise-en-scene di filmnya. Mulai dari warna, pengambilan kamera, hingga sedikit sentuhan fantasi di dalam filmnya meski tak sesignifikan itu.


Niki Caro mengubah Mulan ini tetap menarik untuk diikuti meskipun kisahnya familiar. Rendisi terbarunya ini malah mengulik bagaimana karakter Mulan ini berkembang dan bisa menjadi representasi bagi para perempuan untuk menentukan hidupnya sendiri. Perjalanan karakternya bisa menggugah hati penontonnya untuk simpati. Ditambah Liu Yifei berhasil bermain dengan sangat kuat sebagai karakter Mulan itu sendiri.

Poin menarik yang ditambah dari film Mulan ini adalah dengan adanya karakter tambahan bernama Xianning. Karakter seakan berusaha memberikan kasus tentang dua mata pedang.  Dengan dua problem yang sama, perempuan bisa saja dipersepsikan berbeda. Hingga bagaimana perempuan itu sendiri bisa menyikapi dan membuktikan dirinya bahwa persepsi buruk yang dibuat oleh masyarakat itu salah. Maka dari itu, perempuan juga membutuhkan bantuan dari perempuan lain. Dengan bersama-sama, mereka saling membantu untuk menghilangkan paradigma itu.


Nilai-nilai konversi ini mungkin muncul dari sutradara Niki Caro sebagai seorang perempuan. Bisa jadi dia ingin sekali menjadikan Mulan sebagai simbol akan perempuan yang berbeda dan dipersepsikan dengan baik oleh masyarakat. Bahwa, perempuan juga bisa melakukan pekerjaan laki-laki tanpa perlu takut untuk dipersepsikan buruk. Melawan paradigma “kodrat perempuan” harus di rumah untuk mengharumkan nama keluarga. Padahal, potensi seorang perempuan bisa saja lebih dari itu.



Jangan lupakan bagaimana Niki Caro juga berhasil memunculkan adegan pertempuran yang luar biasa mengagumkan. Diambil dengan shot-shot cantik tapi tak mengurangi intensitas dari adegan pertempuran itu sendiri. Lalu, ada tribute shot by shot di film animasinya yang dilakukan di film live action-nya ini. Sehingga, Mulan live action tidak melupakan source utamanya.


Jadi, sebagai film live action remake dari cerita klasik Disney, Mulan adalah sajian yang sangat memuaskan. Meskipun berbeda pendekatan dibanding film-film remake Disney sebelumnya, tapi film ini teteap berhasil tampil sangat prima dan sangat menghibur penontonnya. Dibalut pula dengan gambar cantik dengan scoring megah dengan hint lagu Reflection. Sehingga, tanpa adegan musikalnya pun, Mulan sangat menghipnotis. Masih magis!



Sebuah catatan kecil dari penulis:
Nonton film ini dengan Disney+ Premier Access (iya, akhirnya purchase juga) dan layar kecil saja masih magis. Dampaknya mungkin bisa lebih besar lagi, jika film ini bisa tayang di Bioskop. Mari berharap, semoga saja film ini bisa tayang di saat bioskop nanti bisa buka. 

IP MAN 4: THE FINALE (2019) REVIEW: Babak Terakhir yang Tak Spesial dari Master Wing Cun


Bagi penggemar Donnie Yen, salah satu karakter yang menancap adalah saat dirinya sedang berperan sebagai IP Man.

Ya, karakter Ip Man sangat melekat dan filmnya pun sudah banyak penggemar. Dari seri pertama hingga tahun 2019 ini memasuki ke babak ke empat. Sekaligus, ini adalah seri terakhir dari kisah Ip Man yang terkenal sebagai master bela diri Wing Chun ini. Tetap disutradarai oleh Wilson Yip, Ip Man 4: The Finale ini digunakan sebagai kisah pamungkas untuk menutup kisahnya.

Lalu, bagaimana kisah ini diakhiri? Dimulai dari Master Yip (Donnie Yen) yang sedang divonis dokter terkena penyakit kanker. Tentu, hal ini sangat membuat dirinya terpukul dan ingin melakukan sesuatu di sisa-sisa hidupnya. Apalagi, dirinya memiliki satu anak laki-laki satu-satunya yang ternyata baru saja dikeluarkan dari sekolah karena sering membuat kegaduhan. Tentu, masa depan sang anak menjadi prioritas dari Master Yip.

Maka dari itu, terbanglah dirinya ke Amerika untuk mencari tahu sekolah-sekolah yang cocok untuk sang anak. Tetapi, perjalanan Master Yip tak semudah itu. Ada banyak konflik yang terjadi setibanya dia di Amerika. Apalagi di sana sedang sering sekali terjadi aksi rasisme terhadap keturunan Tiong Hoa yang menyebabkan hidup mereka di sana benar-benar tidak nyaman dan mengalami ketidakadilan.


Iya, Ip Man 4: The Finalemembahas isu yang seserius itu di dalam filmnya. Tetapi, tentu ini tetap saja film Ip Man yang tak mungkin akan membahas hal itu dengan sesuatu yang serius pula. Ip Man 4: The Finale mungkin lebih sederhana dalam penceritaannya. Bahkan terkadang terlalu menyedarhanakan konfliknya. Dalam 109 menit milik Ip Man 4: The Finale ada banyak cabang-cabang cerita yang muncul untuk dimasukkan ke dalam film ini.

Naskah yang ditulis oleh Hiroshi Fukazawa dan Edmond Wong ini terasa tumpang tindih saat memasukkan ceritanya. Terasa bahwa masih ada banyak kisah-kisah dari master Yip yang ingin disampaikan. Hanya saja, ini adalah kesempatan terakhir dari mereka untuk menceritakannya. Akhirnya, Wilson Yip pun seakan bingung bagaimana untuk menerjemahkan setiap konklusi yang dari setiap konflik yang telah disampaikan di dalam filmnya.


Ada yang benar-benar diselesaikan, ada yang benar-benar dilupakan.

Mungkin konflik kecil itu niatnya akan digunakan sebagai pemicu akumulasi konflik di bagian klimaksnya. Tetapi, pionnya terlalu lemah dan terlalu prematur untuk dijadikan sebagai penguat filmnya. Jadi, ada banyak sekali alasan yang terkadang akan membuat dahi mengkerut. Atau bahkan, dilupakan begitu saja konklusinya agar tak terlalu lama.

Ya, itu ada benarnya juga sih. Karena apalah film-film Ip Man kalau terlalu fokus dalam ceritanya dan melupakan Wing Cun fighting sequences-nya. Meskipun, skalanya tak sebesar dua film pertamanya, tetapi yang keempat ini masih cukup seru untuk dilihat. Tak ada yang istimewa sebenarnya, tetapi setidaknya hal itu masih menjadi daya tarik untuk menyelesaikan menonton film ini.

Tentu, tujuan dari Ip Man 4: The Finale bukanlah menjadi sajian superior dalam kelas penuturan cerita. Menjadi film yang bisa dinikmati saja selama 109 menit ini saja sudah lebih dari cukup. Menonton film seperti ini tentu harus bisa menaruh ekspektasi seperti apa ketika masuk di dalam bioskop. Karena yang ditawarkan di film ini tentu saja bukan hal yang baru dan tak bertahan lama dipikiran penontonnya.


Ip Man 4: The Finale cukup memiliki amunisi untuk memenuhi kesenangan sementara untuk penontonnya. Selain fighting sequences, adegan tribute di menuju akhir film ini juga menjadi salah satu kekuatannya. Bagi penonton yang sudah menghabiskan waktu dan tenaga menonton semua seri film ini, tentu akan merasakan tanjakan emosional berkat formula nostalgianya.

Ya, sebagai penutup, mungkin ini pentutup yang rasanya kurang spesial. Formula ceritanya sama, bahkan fighting sequences-nya juga tak semegah di dua film pertamanya. Tetapi, buat kamu yang memang sudah mengikuti film ini dari awal. Rasanya mungkin kurang afdol jika melewatkannya begitu saja. Tonton saja, yang penting ekspektasinya juga dijaga ya.