• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label 3 stars. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3 stars. Tampilkan semua postingan

GURU-GURU GOKIL (2020) REVIEW: Komedi dengan Isu Menarik Penuh Potensi

Setelah The Night Comes for Us, satu lagi film Indonesia yang diserahkan jadi Netflix Originals. Guru-Guru Gokil, film milik Base Entertainmentyang menggaet Dian Sastrowardoyo sebagai salah satu produser ini dilepas menjadi film asli Netflix dari Indonesia yang bisa ditonton hingga 190 negara. Sebelum pandemi dating, film ini tentu sudah dijadwalkan menjadi film yang rilis di Bioskop. Tetapi, sebuah keputusan yang menarik, karena Guru-Guru Gokil akhirnya dirilis di 17 Agustus kemarin lewat streaming service.

Film ini tentu punya kesempatan untuk hadir ke penontonnya dengan jangkauan yang lebih luas. Penonton yang sudah langganan Netflix memiliki privilege untuk bisa menyaksikan film arahan Sammaria Sari Simanjuntak ini terlebih dahulu. Melihat dari jajaran pemainnya, tentu saja menarik. Melihat performa Gading Marten, Faradina Mufti, Boris Bokir, Asri Welas, bahkan Dian Sastrowardoyo berada di satu film yang sama dengan genre komedi.

Kisah yang diambil juga punya perspektif yang unik. Berusaha untuk mengambil dunia pendidikan sebagai latar belakangan ceritanya dengan tambahan-tambahan intrik lain. Dari trailer, tentu penonton akan tahu, bahwa film ini bukan sekedar drama komedi slice of life, tapi juga menggabungkan unsur heist yang jarang ada di peerfilman Indonesia.


Unik, menarik, tapi kok……

Iya, tapi kok, kayanya kok belum keluar semua potensinya, ya. Ada banyak hal menarik yang diangkat dari film ini. Dari komedi tentang keluarga, pendidikan, dan juga sekaligus memberikan kritik tentang pendidikan itu sendiri. Hanya saja, ceritanya tumpang tindih, ada banyak yang ingin disampaikan tapi hanya sedikit waktu dan tak mau terlalu memperpanjangkan durasi film ini sendiri. Jadinya ya….. Guru-Guru Gokil belum representatif betul dengan kata “Gokil” di dalam judulnya.

Cerita dari Guru-Guru Gokilini awalnya datang dari seorang karakter bernama Taat Pribadi (Gading Marten). Dia adalah anak dari seorang guru yang terkenal di kampong halamannya. Tapi, Taat berbeda dengan namanya. Dia mencoba untuk memberontak, mencari peruntungan di kota lain untuk mencari nafkah. Sayang, usaha dia belum membuahkan hasil. Jadi, Taat harus kembali ke kampung halamannya. Mencari nafkah di sana dengan jadi profesi yang paling tidak dia inginkan.

Ya, Jadi Guru. Profesi yang ditakutin banget sama Taat. Tapi, ini salah satu caranya biar dia bisa mendapatkan uang agar bisa mendapatkan pekerjaan impiannya yang lain. Seketika dia jadi guru pun, ada aja masalahnya. Bukan cuma masalah pribadi, tapi masalah yang lebih besar. Ada perampokan yang terjadi di sekolah tempat Taat bekerja. Bersama guru-guru yang lain, seperti Rahmi (Faradina Mufti), Nirmala (Dian Sastrowardoyo), dan Pak Manul (Boris Bokir).


Lika-liku kehidupan pak Taat ini memang menarik. Sayang, tak semua kegelisahan pak Taat bisa tersampaikan dengan baik. 30 menit pertama dari Guru-Guru Gokil ini terasa penuh banget dengan konflik cerita yang ingin disampaikan. Semacam ada rasa buru-buru untuk mengenalkan karakter Taat hingga kahirnya masuk ke dalam konflik sebenenarnya di dalam film ini.

Mungkin benar, jika sang produser di beberapa interviewnya mengatakan bahwa film Guru-Guru Gokil ini mengatakan bahwa film ini tak menitikberatkan setting sekolahnya. Tapi, lebih tentang konflik lain yang lebih besar. Hanya saja, dengan karakter Taat dan keluarganya yang memiliki backgrounditu, sepertinya sedikit sayang apabila setting sekolahnya pun tak digali. Apalagi, dalam konklusinya, film ini menggunakan karakter-karakter pendukung di sekolah yang berperan penting.

Ini nih yang bikin Guru-Guru Gokil mungkin kurang terikat dengan karakternya satu sama lain. Tapi, buat kamu yang menonntonnya sebagai hiburan semata, tentu saja film ini bakal memenuni ekspektasi. Meski beberapa celotehan komedinya ada beberapa yang missed, tapi berkat jajaran pemainnya, ada vibe komedi yang bisa terbawa. Dan nuansa komedi kental itu berasal dari karakter Dian Sastrowardoyo.


Dian Sastrowardoyo dengan peran kecilnya yang mencuri perhatian.

Memang kita tak bisa mengelak fakta bahwa Dian Sastrowardoyo bisa selalu bisa mencuri perhatian di film-filmnya. Salah satunya juga di film Guru-Guru Gokil ini. Dalam peran kecilnya sebagai Ibu Nirmala yang berbeda disbanding karakter-karakter Dian Sastrowardoyo biasanya, dialah penyelamat filmnya. Setiap dirinya berada di adegan, berhasil mengubah filmnya jadi lebih ceria.

Tapi, bukan berarti casts yang lain tak bisa bermain dengan prima. Faradina Mufti sebagai Ibu Rahayu yang judes-judes lucu juga tetap kuat sebagai pemeran utama dalam perjalanan cerita di Guru-Guru Gokil. Meskipun, poin ketertarikan sisi lain dari Bu Rahayu ini belum tersampaikan dengan kuat lantaran cerita-cerita lain yang padat dan membuat semuanya terdistraksi.

Hanya saja kembali lagi, buat yang ingin nonton film Indonesia lagi di saat Pandemi, Guru-Guru Gokil ini bikin rindu nonton film Indonesia di bioskop. Guru-Guru Gokil masih punya cukup amunisi untuk menghibur karena masih dibuat gak main-main. Isunya juga penting sebagai refleksi meski tak digali lebih dalam. Masih bisa ditonton meski potensinya bisa diperkuat lagi.

IP MAN 4: THE FINALE (2019) REVIEW: Babak Terakhir yang Tak Spesial dari Master Wing Cun


Bagi penggemar Donnie Yen, salah satu karakter yang menancap adalah saat dirinya sedang berperan sebagai IP Man.

Ya, karakter Ip Man sangat melekat dan filmnya pun sudah banyak penggemar. Dari seri pertama hingga tahun 2019 ini memasuki ke babak ke empat. Sekaligus, ini adalah seri terakhir dari kisah Ip Man yang terkenal sebagai master bela diri Wing Chun ini. Tetap disutradarai oleh Wilson Yip, Ip Man 4: The Finale ini digunakan sebagai kisah pamungkas untuk menutup kisahnya.

Lalu, bagaimana kisah ini diakhiri? Dimulai dari Master Yip (Donnie Yen) yang sedang divonis dokter terkena penyakit kanker. Tentu, hal ini sangat membuat dirinya terpukul dan ingin melakukan sesuatu di sisa-sisa hidupnya. Apalagi, dirinya memiliki satu anak laki-laki satu-satunya yang ternyata baru saja dikeluarkan dari sekolah karena sering membuat kegaduhan. Tentu, masa depan sang anak menjadi prioritas dari Master Yip.

Maka dari itu, terbanglah dirinya ke Amerika untuk mencari tahu sekolah-sekolah yang cocok untuk sang anak. Tetapi, perjalanan Master Yip tak semudah itu. Ada banyak konflik yang terjadi setibanya dia di Amerika. Apalagi di sana sedang sering sekali terjadi aksi rasisme terhadap keturunan Tiong Hoa yang menyebabkan hidup mereka di sana benar-benar tidak nyaman dan mengalami ketidakadilan.


Iya, Ip Man 4: The Finalemembahas isu yang seserius itu di dalam filmnya. Tetapi, tentu ini tetap saja film Ip Man yang tak mungkin akan membahas hal itu dengan sesuatu yang serius pula. Ip Man 4: The Finale mungkin lebih sederhana dalam penceritaannya. Bahkan terkadang terlalu menyedarhanakan konfliknya. Dalam 109 menit milik Ip Man 4: The Finale ada banyak cabang-cabang cerita yang muncul untuk dimasukkan ke dalam film ini.

Naskah yang ditulis oleh Hiroshi Fukazawa dan Edmond Wong ini terasa tumpang tindih saat memasukkan ceritanya. Terasa bahwa masih ada banyak kisah-kisah dari master Yip yang ingin disampaikan. Hanya saja, ini adalah kesempatan terakhir dari mereka untuk menceritakannya. Akhirnya, Wilson Yip pun seakan bingung bagaimana untuk menerjemahkan setiap konklusi yang dari setiap konflik yang telah disampaikan di dalam filmnya.


Ada yang benar-benar diselesaikan, ada yang benar-benar dilupakan.

Mungkin konflik kecil itu niatnya akan digunakan sebagai pemicu akumulasi konflik di bagian klimaksnya. Tetapi, pionnya terlalu lemah dan terlalu prematur untuk dijadikan sebagai penguat filmnya. Jadi, ada banyak sekali alasan yang terkadang akan membuat dahi mengkerut. Atau bahkan, dilupakan begitu saja konklusinya agar tak terlalu lama.

Ya, itu ada benarnya juga sih. Karena apalah film-film Ip Man kalau terlalu fokus dalam ceritanya dan melupakan Wing Cun fighting sequences-nya. Meskipun, skalanya tak sebesar dua film pertamanya, tetapi yang keempat ini masih cukup seru untuk dilihat. Tak ada yang istimewa sebenarnya, tetapi setidaknya hal itu masih menjadi daya tarik untuk menyelesaikan menonton film ini.

Tentu, tujuan dari Ip Man 4: The Finale bukanlah menjadi sajian superior dalam kelas penuturan cerita. Menjadi film yang bisa dinikmati saja selama 109 menit ini saja sudah lebih dari cukup. Menonton film seperti ini tentu harus bisa menaruh ekspektasi seperti apa ketika masuk di dalam bioskop. Karena yang ditawarkan di film ini tentu saja bukan hal yang baru dan tak bertahan lama dipikiran penontonnya.


Ip Man 4: The Finale cukup memiliki amunisi untuk memenuhi kesenangan sementara untuk penontonnya. Selain fighting sequences, adegan tribute di menuju akhir film ini juga menjadi salah satu kekuatannya. Bagi penonton yang sudah menghabiskan waktu dan tenaga menonton semua seri film ini, tentu akan merasakan tanjakan emosional berkat formula nostalgianya.

Ya, sebagai penutup, mungkin ini pentutup yang rasanya kurang spesial. Formula ceritanya sama, bahkan fighting sequences-nya juga tak semegah di dua film pertamanya. Tetapi, buat kamu yang memang sudah mengikuti film ini dari awal. Rasanya mungkin kurang afdol jika melewatkannya begitu saja. Tonton saja, yang penting ekspektasinya juga dijaga ya.

GHOST WRITER (2019) REVIEW: Premis Menarik dengan Presentasi Generik


Genre horor seakan menjadi portfolio wajib bagi seorang sutradara. Apalagi, genre ini ternyata cukup dinikmati oleh penonton secara universal. Tetapi, apabila dipadupadankan dengan genre komedi, mungkin masih belum terlalu banyak. Inilah yang menarik dari film lebaran tahun ini yang diproduseri oleh Ernest Prakasa. Diambil dari premis menarik di kelas skenario Ernest Prakasa, Ghost Writer menjadi salah proyek milik Starvision Plus yang terlihat menarik.

Bene Dion Rajagukguk dipercaya untuk menangani film ini. Dirinya sendiri telah lebih dulu menjalani karir sebagai penulis naskah di beberapa film besar dan salah satunya adalah Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur. Tentu, menulis naskah horor sudah bukan lagi kekhawatiran baginya, apalagi jika dibalut dengan komedi. Ghost Writer ini menjadi film pertamanya sebagai sutradara sekaligus menulis naskahnya sendiri dibantu oleh sang pemilik ide cerita yang berasal dari kelas skenario itu.

Tentu, dengan nama Ernest Prakasa sebagai taruhan, akan dengan mudah bagi film ini untuk mendapatkan jajaran pemain yang juga cukup menjanjikan. Tatjana Saphira, Endy Arfian, Deva Mahenra, hingga Asmara Abigail mau untuk berkolaborasi dalam film ini. Serta masih ada nama-nama besar lain yang juga ikut meramaikan mulai dari Slamet Rahardjo, Dayu Wijanto, dan juga Ge Pamungkas. Ini tentu membuat Ghost Writer punya magnet untuk calon penontonnya.


Dengan ide yang dianggap menarik dan promo yang lumayan masif, tentu saja Ghost Writer menarik hati penontonnya. Terlebih, film ini pun dirilis saat musim Lebaran tiba. Ini adalah waktunya film Indonesia menunjukkan taringnya untuk mendapatkan raihan jumlah penonton yang lumayan besar. Secara premis keseluruhan, Ghost Writer memang punya konsep yang cukup unik dan sangat menarik dengan perpaduan genre-nya.

Bene Dion Rajagukguk sebagai sutradara tentu saja berusaha untuk memberikan yang terbaik di atas konsepnya yang menarik. Memang, Ghost Writer secara filmnya sendiri bisa menyajikan sesuatu yang masih kategori baik. Filmnya bisa berjalan dengan lumayan lancar di durasinya yang mencapai 97 menit. Tetapi, Ghost Writer seperti berjalan dengan eksekusi yang masih bermain aman. Dengan premis yang sebesar itu, Ghost Writer harusnya masih bisa untuk dikembangkan lebih dalam lagi.

 
Ghost Writer, secara arti sebenarnya mungkin bisa diartikan sebagai seseorang yang membantu para penulis ketika menuliskan karyanya. Tetapi, Ghost Writer di dalam film ini diartikan secara harafiah tetapi dengan fungsi yang sama. Iya, hantu yang membantu seorang penulis bernama Naya (Tatjana Saphira) yang sedang menulis buku barunya. Awal pertemuannya terjadi ketika Naya baru pindah ke rumah kontrakan baru yang lebih murah karena sudah tak sanggup lagi membayar biasa yang makin mahal.

Naya hanya tinggal berdua dengan adik laki-lakinya, Darto (Endy Arfian). Di rumah kontrakan barunya inilah, dia menemukan sebuah buku harian milik seorang laki-laki bernama Galih (Ge Pamungkas). Ternyata, dia adalah bekas penghuni rumah ini yang sudah lama meninggal karena bunuh diri. Saat Naya memegang buku harian itu, Dia bisa melihat Galih. Dia pun meminta izin untuk menuliskan ulang cerita Galih untuk novel terbarunya nanti. Galih setuju dan membantu Naya menyelesaikan novelnya.


Setelah itu, penonton akan dibawa dalam pengalaman unik Naya saat menuliskan novelnya bersama Galih di dalam film Ghost Writer ini. Menarik sebenarnya, mengetahui setiap interaksi antara Naya dan Galih di dalam film ini. Melihat bagaimana seorang karakter hantu yang biasa dikenal sebagai sosok yang seram bisa berinteraksi. Bahkan, karakter hantu ini pun bisa menjadi sebuah comic relief yang bisa membuat penontonnya tertawa.

Ya, pemilihan karakternya juga sudah cocok, Ge Pamungkas sebagai hantu Galih bisa mengeluarkan comic reliefsecara alami. Kalau menurut salah satu dialog dari Galih, di sini karakter hantunya gak ada wibawanya sama sekali, secara tak langsung menggambarkan momen horor di filmnya. Sebagai kolaborasi dari dua genre, momen horor di film ini tak ditampilkan dengan kuat. Gak ada momen yang bikin merinding, bahkan komedinya pun beberapa masih tak tepat sasaran.


Inilah yang membuat Ghost Writeryang secara premis dan konsep bisa menjadi presentasi yang menjanjikan, malah berada dalam presentasi yang generik. Karakter Naya dan Galih bisa memiliki interaksi yang lebih dalam lagi. Mungkin terbatasnya durasi sehingga membuat kurangnya ruang untuk eksplor dan bergerak lagi. Sehingga, beberapa konfliknya pun masih belum bisa tersampaikan dengan lebih maksimal dan bahkan terasa tumpang tindih.

Memang, konflik utama dari film ini adalah interaksi antara Naya dan Galih. Tetapi Naya sebagai karakter utama memiliki banyak konflik dengan karakter pendukungnya. Mulai dengan adiknya hingga pasangannya tetapi setiap konfliknya hanya sebagai pelengkap saja. Bahkan, ada sedikit inkosistensi dalam memberikan peraturan saat ingin bertemu dengan sang hantu. Pengarahan dari Bene Dion Rajagukguk tak bisa memberikan penegasan untuk hal tersebut. 

Hal ini cukup berdampak saat penyampaian konflik utamanya. Sehingga, penonton baru saja sadar hal itu di babak terakhir filmnya. Hal-hal kecil inilah yang perlu untuk dieksplorasi lagi karena secara tak langsung membuat penonton tak bisa menaruh simpati lebih kepada setiap karakternya. Padahal masih ada cukup ruang dan cela untuk konfliknya berkembang lagi. Beruntung, Ghost Writermasih memiliki cukup amunisi di babak ketiga filmnya.


Ada nilai keluarga yang cukup membuat hati hangat untuk penonton filmnya. Iya, Ghost Writer rasanya baru terasa mengalami tanjakan konflik di bagian 30 menit terakhir. Mungkin, Bene Dion berusaha untuk menutupi bagian ini dan mengorbankan satu jam sebelumnya yang menahan emosi di beberapa adegannya. Padahal, jika mau lebih digali lagi, bisa saja impact di adegan 30 menit terakhir ini bisa lebih dalam lagi. Dengan premis yang ditekankan sangat menarik untuk dikulik, Ghost Writersebagai karya debut dari Bene Dion Rajagukguk masih dalam kategori bisa dinikmati. Hanya saja, memang masih banyak ruang untuk eksplorasi lebih lagi.

SUZZANNA : BERNAPAS DALAM KUBUR (2018) REVIEW : Film Horor Untuk Bersenang-senang

Perfilman Indonesia sedang dipenuhi oleh bangkitnya kembali legenda-legenda industri hiburan ke dalam layar lebar. Warkop DKI Reborn salah satu pencetus kembalinya para legenda dan berhasil mengundang minta banyak orang. Kuantitas peraihan jumlah penontonnya pun fantastis dan menjadi film terlaris sepanjang masa di Indonesia. Tentu, ini membuat banyak insan perfilman mengembalikan lagi sosok legendaris mereka mulai dari Benyamin, Ateng, dan bahkan Koes Plus.

Tak salah bila Soraya Intercine Films pun tertarik untuk mengembalikan sosok legendaris di dunia perfilman horor di tahun 2018 ini. Ya, Soraya Intercine Films membangkitkan kembali sosok Suzzanna yang sangat legendaris itu. Tentu saja, nama Suzzanna sudah menjadi sebuah brand tersendiri di mata penonton. Proyek ini tentu mendapatkan sorotan dari berbagai macam pihak. Terlebih, ketika Soraya Intercine Films merilis salah satu foto dari filmnya yang tampak sangat meyakinkan.

Aktor perempuan yang mendapatkan kesempatan untuk menjadi sosok legendaris ini adalah Luna Maya. Foto Luna Maya sebagai Suzzanna beredar dan membuat calon penonton kagum karena tampak sangat mirip dengan sosok aslinya. Film Suzzanna ini hadir dengan tajuk Bernapas Dalam Kubur yang disutradarai oleh Anggy Umbara dan Rocky Soraya. Naskah dari film ini ditulis oleh Bene Dion Rajagukguk dan disemarakkan oleh Herjunot Ali, Asri Welas, Ence Bagus, Opie Kumis, dan masih banyak nama terkenal lainnya.


Suzzanna : Bernapas Dalam Kuburbukanlah sebuah remake dari salah satu judul di dalam filmografi milik Suzzanna. Kali ini lebih ke sebuah cerita baru meskipun tetap diadaptasi dari salah satu filmnya terdahulu. Serta memberikan sebuah penghormatan atas karya-karya film yang dibintangi oleh sosok legendaris itu. Tentu, dengan adanya sebuah nama legendaris yang diangkat dalam film ini akan muncul tanggung jawab untuk dihadirkan kepada penontonnya.

Tak bisa dipungkiri, Suzzanna : Bernapas Dalam Kubur adalah sebuah film horo yang tentu saja tak dibuat sembarangan. Segi visual, tentu saja filmini digarap dengan sangat teliti mulai dari tata produksi, tata gambar, hingga tata rias wajah untuk Luna Maya yang mendatangkan langsung orang rusia yang sudah biasa berkecimpung dengan hal tersebut. Hal ini agar Luna Maya bisa secara visual sangat mirip dengan sosok aslinya saat di layar.


Penuturan setiap kisahnya mungkin masih belum sempurna, padahal plot ceritanya sebenarnya begitu sederhana. Menceritakan tentang Suzzanna (Luna Maya) dan suaminya Satria (Herjunot Ali), mereka adalah pasangan yang sangat bahagia. Kebahagian mereka dirasa makin sempurna ketika Suzzanna mengabarkan sebuah berita bahagia kepada sang suami bahwa dirinya sedang mengandung anaknya. Tentu, berita ini membuat mereka bahagia bukan kepalang.

Tetapi, kebahagiaan itu tak berlangsung begitu lama ketika tiga anak buah dari Satria di kantornya ingin merampok rumah mereka karena tak mendapatkan kenaikan gaji seperti yang mereka inginkan. Secara tidak sengaja, Suzzanna memergoki ketiganya sedang memorakporandakan isi rumahnya. Melihat situasi ini, tentu saja membuat ketiga anak buah Satria ini panik dan melakukan tindakan di luar akal sehat mereka. Mereka tak sengaja membunuh Suzzanna dan menguburnya hidup-hidup. Suzzanna bangkit menjadi arwah gentayangan yang ingin balas dendam.


Ekspektasi penonton ketika mendengar kata Suzzanna sontak yang dipikir adalah betapa ngeri dan mistisnya sosok tersebut. Tentu, kembalinya Suzzanna lewat Bernapas Dalam Kubur tentu menjadi sebuah hal yang dinantikan. Tak lain karena penonton zaman sekarang ingin sekali lagi merasakan sensasi ngeri yang muncul dari sosok tersebut. Tentu saja, dengan mudah film ini akan mendapatkan raihan jumlah penonton yang fantastis. Film ini tentu medium yang cocok untuk ditonton ramai-ramai.

Suzzanna : Bernapas dalam Kuburdiawali dengan penggalian cerita yang cukup baik. Membangun simpati penonton agar karakternya terkesan lebih memiliki dimensi untuk cerita selanjutnya. Kedua karakter utama di dalam film ini adalah kuncinya. Interaksi satu sama lain dibuat seintim mungkin agar memiliki kontinuitas yang pas dengan apa yang terjadi di setiap adegan berikutnya. Hanya saja, dengan durasinya yang mencapai 120 menit, pembangunan karakternya itu terasa terlalu panjang.

Sesaat film ini lupa untuk masih memiliki misi sebagai sebuah film horor yang dinantikan oleh penontonnya. Suzzanna : Bernapas Dalam Kubur terlambat untuk menakut-nakuti penonton sehingga penonton mungkin akan bergumam dan menanyakan bagian seram dalam filmnya. Sayang, Anggy Umbara dan Rocky Soraya masih belum bisa membangun atmosfer horor yang kuat. Bahkan, jump scare yang digunakan film ini pun cukup lemah.


Tetapi, tak bisa dipungkiri, ada beberapa cara penyampaian ceritanya yang menarik untuk diikuti. Teror yang dilakukan oleh Suzzanna tak hanya menyerang secara langsung ke fisik manusia tetapi bagaimana karakter Suzzanna yang juga menyerang psikis pelakunya. Hal inilah yang membuat Suzzanna : Bernapas Dalam Kubur masih menyenangkan untuk diikuti apalagi ketika ditonton ramai-ramai dengan yang lain.

Jangan lupakan performa Luna Maya sebagai Suzzanna yang mungkin masih memiliki inkonsistensi dalam setiap adegannya. Tetapi, Luna Maya tentu saja mengerahkan semua performa terbaiknya dan di beberapa adegan masih bisa meyakinkan penonton bahwa dirinya adalah jelmaan sang sosok legendaris yang “bangkit dari kuburnya”. Juga, 3 pemain pendukung yaitu Asri Welas, Ence Bagus, dan Opie Kumis yang berhasil membuat film ini punya sisi komedi yang menyenangkan.


Suzzanna : Bernapas dalam Kuburmungkin masih belum sempurna, penceritaan setiap babaknya masih terbata-bata, apalagi di babak ketiga dari filmnya yang terasa dipercepat karena durasi sudah membengkak. Anggap saja ini adalah film untuk medium senang-senang. Film horor arahan Anggy Umbara dan Rocky Soraya masih bisa mengajak penonton merasakan kehidupan karakter hantunya, tertawa dengan keberadaan pemain pendukungnya, dan merasakan serunya aksi balas dendam di 20 menit akhir filmnya. Mari berharap, jika ada seri lainnya, bisa lebih baik dari ini.

MISSION: IMPOSSIBLE - FALLOUT (2018) REVIEW : Misi Ambisius dari Christopher McQuarrie

 
Seakan semakin bertambahnya seri, Mission: Impossible ini semakin mengeluarkan taringnya untuk membuat penonton terkesima. Hal inilah yang membuat Tom Cruise ingin sekali mempertahankan dirinya untuk tetap memerankan sosok agen rahasia bernama Ethan Hunt ini. Hal ini terjadi sejak Brad Bird berhasil menaikkan intensitas franchise ini dalam Mission: Impossible - Ghost Protocol yang sekaligus menjadi seri keempat.

Keseruan Ghost Protocol bisa disaingi dengan mudah oleh seri kelimanya yang bertajuk Rogue Nation yang disutradarai oleh Christopher McQuarrie. Lewat seri inilah, Paramount Pictures tetap menunjuknya sebagai sutradara di seri keenamnya. Mission: Impossible - Fallout menjadi seri keenam yang sempat tertunda sebentar karena Tom Cruise mengalami cedera di bagian ankle kakiknya. Film ini kembali lagi dibintangi oleh Rebecca Ferguson, Simon Pegg, dan pemilik kumis kontroversial yaitu Henry Cavill.

Mission: Impossible - Fallouttanpa basa-basi langsung menjadikan filmnya sebagai sekuel langsung dari Mission: Impossible – Rogue Nation. Sehingga, film ini mungkin terasa sedikit lebih menantang untuk dipahami bagi penonton pemula yang tak sempat menonton seri kelimanya. Tetapi, tentu saja film Mission: Impossible berusaha untuk tetap bisa dinikmati oleh banyak orang. Sehingga, penonton pemula hanya butuh untuk menyaksikan satu film saja sebelum menonton seri ini.


Mission: Impossible - Falloutmenjadi film dengan durasi yang cukup panjang dibandingkan dengan film-film sebelumnya di dalam franchise ini. Di dalam durasinya yang mencapai 149 menit, terasa benar bahwa Mission: Impossible - Fallout terasa begitu ambisius untuk menyampaikan ceritanya. Tone ceritanya pun seketika berubah dengan rasa yang lebih kelam dibandingkan dengan film kelimanya, apalagi jika dibandingkan dengan film keempatnya.

Keambisiusan Christopher McQuarrie dalam mengarahkan Fallout ini ternyata sedikit berdampak terhadap keseruan menikmati seri-seri dari Mission: Impossible. Kesannya yang serius membuat 149 menit di dalam Mission: Impossible - Fallout berjalan sangat lambat dan tak seperti biasanya. Keambisiusannya dalam menuliskan naskahnya seharusnya bertujuan baik karena agar seri ini tidak terjebak dengan formula yang sama. Tetapi, sayangnya Mission: Impossible - Fallout harus mengurangi sedikit intensitasnya.


Mission: Impossible - Falloutberfokus pada kisah Ethan Hunt (Tom Cruise) yang baru saja menyelesaikan misi sebelumnya. Kali ini, dia harus mendapatkan misi baru untuk menyelamatkan plutonium yang berusaha disalahgunakan oleh sebuah organisasi bernama The Apostles yang tak lain adalah organisasi yang sebelumnya bernama Syndicate. Organisasi ini diketuai oleh John Lark. Tetapi, Ethan Hunt juga tidak tahu siapa John Lark ini sebenarnya.

Dengan caranya sendiri, Ethan berusaha mengungkap organisasi gelap yang sudah mencuri Plutoniumnya ini. Sayangnya, IMF tak mengizinkan Ethan Hunt melaksanakan misinya sendiri. Dikirimlah seorang bernama August Walker (Henry Cavill) yang berusaha untuk menemani Ethan Hunt saat menjalankan misinya. Di saat menjalankan misinya, Ethan Hunt harus dihadapkan dengan musuh masa lalunya yang membuat dirinya mulai krisis akan kepercayaan dirinya.


Christopher McQuarrie memang berusaha untuk memberikan sebuah sajian film spionase yang memiliki plot cerita berlapis dengan segala penyampaiannya yang rumit. Selain mengarahkan, cerita dari Mission: Impossible - Fallout ini memang ditulis sendiri olehnya. Hanya saja, Christopher McQuarrie seperti tak bisa menyampaikan niat baik dan ambisius naskah yang ditulisnya dalam sebuah visual layar perak sepanjang 147 menit.

Mission: Impossible - Falloutmemiliki plot cerita yang saling tumpang tindih satu sama lain. Banyak sekali cabang cerita yang mungkin ingin berdampak menjadi perubahan cerita menjadi 180 derajat malah belum bisa tersampaikan dengan baik. Christopher McQuarrie serasa sangat menggebu-gebu untuk segera menyampaikan plot ceritanya yang berlapis. Sayangnya, ketika penonton berusaha untuk memahaminya satu persatu, tetapi Christopher McQuarrie langsung menghajarnya dengan cepat.

Caranya dalam menyampaikan plot ceritanya inilah yang berdampak terhadap pengalaman menontonnya. Christopher McQuarrie seperti sedang menyuapi makanan ke dalam penontonnya dengan sangat tidak sabar. Ketika penonton masih berusaha mengecap dan menelan makanan pertamanya, Christopher McQuarrie sudah memasukkan suapan selanjutnya ke dalam mulut penonton. Sehingga, penonton belum tentu bisa merasakan semua rasa dan keseruan yang terjadi di dalam Mission: Impossible - Fallout dengan baik dan detil.


Akan ada sedikit miskomunikasi dalam plot ceritanya yang tak selamanya linear di dalam film ini. Sehingga muncul missing link di dalam benak penonton saat menikmati Mission: Impossible - Fallout. Beruntung, Christopher McQuarrie masih memiliki cita rasa untuk mengemas sekuens aksinya dengan baik. Mission: Impossible - Fallout tentu saja memiliki kualitas sekuens aksi yang sembarangan. Bahkan, semua adegan aksinya ini mayoritas benar-benar dilakukan sendiri oleh sang aktor yaitu Tom Cruise.

Christopher McQuarrie berusaha untuk memasukkan signature pengarahannya ke dalam Mission: Impossible - Fallout ini. Sekuens aksinya yang minim akan scoring ini memang akan membuatnya tampak nyata. Sekuens aksinya tampil terlalu panjang dan tak memiliki porsi yang pas sehingga tak bisa menimbulkan intensitas seperti kedua film pendahulunya. Terlebih ketika sekuens aksinya melibatkan adegan akrobatik motor. Tetapi, hal itu dibalas lunas dengan sekuens aksi terakhir dengan menggunakan kamera IMAX yang cukup terjaga intensitasnya dengan baik.


Bukan berarti Mission: Impossible - Fallout ini diarahkan oleh Christopher McQuarrie dengan sembarangan. Misinya bagus untuk membuat seri ini tak terjebak dengan formula yang sama dan akan membuat pecinta seri ini merasa bosan. Hanya saja, Christopher McQuarrie hanya ingin membuat sesuatu yang besar tanpa memperhitungkan pengarahnnya sehingga segalanya terasa berlebihan di beberapa tempat. Inilah yang membuat Mission: Impossible - Fallout kehilangan daya intensitasnya.

OCEAN’S 8 (2018) REVIEW : Tempat Para Aktris Terkenal Bersenang-senang

 
Sebuah film bertema perampokan dengan artis perempuan sebagai para pelakunya? Hal ini mungkin akan sangat segar dilakukan perfilman Hollywood saat ini. Inilah yang berusaha dilakukan oleh Warner Bros Pictures bersama dengan sutradara Gary Ross untuk mengembalikan keluarga Ocean kembali ke layar lebar. Tak ada George Clooney, Brad Pitt, dan Matt Damon, kali ini kehormatan keluarga Ocean berada di tangan para perempuan tangguh untuk merampok harta berharga di Amerika.

Inilah dia proyek bernama Ocean’s 8 yang sangat ambisius mengedepankan nama-nama aktris besar dari Sandra Bullock, Cate Blancett, Anne Hathaway hingga Rihanna untuk melakukan tindakan kriminal. Ocean’s 8 bisa dibilang bukanlah sebuah reboot, tetapi menceritakan sisi lain dari keluarga Ocean yang berbeda. Setelah George Clooney yang berperan sebagai Danny Ocean di Ocean’s trilogy milik Steven Soderbergh. Kali ini, Ocean’s 8 akan menyorot kehidupan Debbie Ocean yang juga sama-sama memiliki rencana untuk mendapatkan sesuatu yang besar.

Meski dengan sutradara yang berbeda, Ocean’s 8 tentu sangat diminati banyak orang hanya berkat nama-nama besar yang terlibat di dalam filmnya. Ocean’s 8 ini sepertinya tetap memberikan sebuah film hiburan yang ringan dan seru untuk dinikmati oleh penontonnya. Akan tetapi, teknik pengarahan dari Gary Ross yang tak bisa sekuat apa yang dilakukan oleh Steven Soderbergh bisa mengurangi performa Ocean’s 8 yang berpotensi lebih prima.


Babak penceritaan dari Ocean’s 8pun bisa dikategorikan bermain aman. Tak ada yang segar dalam babak penceritaan dari Ocean’s 8 ini. Naskah yang juga ditulis oleh Gary Ross bersama dengan Olivia Milch ini tak bisa mengeksplorasi trik-trik pencurian baru di dalam genre filmnya. Naskah milik Ocean’s 8 hanya mengulangi formula-formula yang sama yang dimiliki oleh film Ocean’s Trilogy sebelumnya atau film-film bertema serupa.

Ocean’s 8 menceritakan tentang seorang perempuan paruh baya bernama Debbie Ocean (Sandra Bullock) yang baru saja keluar dari penjara karena telah melakukan pencurian. Tetapi, hal itu tak membuat dirinya kapok dan berhenti melakukan kegiatan tersebut. Debbie merencanakan sebuah tindak kriminal baru dengan mengajak rekan yang sudah dirinya kenal lama yaitu Lou (Cate Blanchett). Mereka akan mencuri sebuah perhiasan termahal yang ada di New York.

Sayangnya, rencana ini tak bisa mereka lakukan berdua saja. Debbie dan Lou merekrut banyak perempuan-perempuan kriminal lainnya untuk ikut andil dalam rencana ini. Mulai dari teman lama mereka bernama Tammy (Sarah Paulson), seorang peretas canggih bernama Nine Ball (Rihanna), hingga seorang mantan desainer terkenal bernama Rose Weil (Helena Bonham Carter). Mereka akan mencuri sebuah perhiasan bernilai jutaan dolar yang akan dipakai oleh seorang aktris, Daphne Kruger (Anne Hathaway).


Dengan formula cerita yang diadaptasi dari beberapa film dengan tema serupa memang tak ada salahnya jika bisa dikemas dengan baik pula. Sayangnya, Gary Ross masih tak bisa memaksimalkan potensi yang ada di dalam Ocean’s 8 sehingga bisa tampil dengan performa yang juga bisa mencuri perhatian. Ocean’s 8 terjebak dalam penuturan cerita yang tak istimewa tak seperti nama-nama yang ikut serta di dalam film ini.

Paruh awal dari Ocean’s 8ini belum bisa menemukan ritmenya yang pas. Sehingga, beberapa motif dan latar belakang cerita dari setiap karakter di dalam film ini tak bisa disampaikan dengan baik. Terlebih, kedelapan karakter perempuan di dalam film ini punya perannya masing-masing. Sehingga, akan lebih baik jika penonton pun juga bisa ikut kenal dan simpati dengan setiap karakternya. Dengan durasinya yang mencapai 115 menit, Ocean’s 8 hanya berputar di tempat.


Gary Ross nampaknya ragu untuk mengeksplorasi dan mengembangkan potensi dari Ocean’s 8 hingga mencapai titik puncaknya. Banyak sekali pesan yang berusaha disampaikan tak bisa diterima utuh oleh penontonnya. Perlu waktu bagi Gary Ross untuk bisa menyampaikan apa yang dirinya mau kepada penonton. Beruntungnya, di paruh kedua film ini, Gary Ross bisa memberikan tempo yang jauh lebih pas dibandingkan dengan satu jam awalnya.

Setelah cerita fokus ke rencana pencurian, barulah Ocean’s 8 bisa mengeluarkan kekuatannya sehingga dapat menghibur penontonnya. Meski tak ada yang baru dengan rencana pencuriannya, tetapi Gary Ross masih bisa mengemasnya dengan takaran yang pas. Sehingga, saat rencana pencurian berlangsung, penonton bisa juga ikut bersenang-senang dengan apa yang dilakukan oleh para pemeran perempuan yang ada di dalam film ini.


Meskipun, beberapa cerita yang tak meyakinkan di awal bisa membuat pelaksanaan pencurian ini tak bisa semencengkram yang semestinya. Tetapi, bagaimana Sandra Bullock, Cate Blanchett, Sarah Paulson, Anne Hathaway, Mindy Kailing, Rihanna, Helena Bonham Carter, dan Awkwafina bisa terlihat sangat senang bermain di dalam film ini bisa menutupi kekurangan Ocean’s 8. Kesenangan para ensemble cast film ini bisa disalurkan menjadi sebuah performa yang keren dan memiliki kharismanya yang kuat. Serta inilah nyawa dari film ini sehingga bisa menghibur penontonnya.

JUMANJI : WELCOME TO THE JUNGLE (2017) REVIEW : Old Game, New Look, Generic Taste


Mungkin ada beberapa dari penonton yang telah tumbuh menjadi dewasa dengan Jumanji. Ya, film tentang permainan papan yang menjadi nyata itu sudah sangat melegenda pada zamannya. Sehingga, ada beberapa orang yang mungkin tak menghiraukan rencana Sony Pictures untuk menghadirkan kembali kisah tentang permainan tersebut. Tetapi, Sony Pictures masih saja berusaha optimis dengan rencananya menghidupkan kembali Jumanji.

Tentu, para orang yang sudah tumbuh dengan Jumanji akan merasa ragu dengan apa yang dilakukan Sony Pictures. Banyak yang skeptis dengan bagaimana performa Jumanji : Welcome To The Jungle ini nantinya. Tetapi, Sony Pictures tetap percaya diri dengan performa Jumanji : Welcome To The Jungle. Dibintangi oleh banyak pemain terkenal seperti Dwayne Johnson, Kevin Hart, Karen Gillan, dan Jack Black, Jumanji : Welcome To The Jungle disutradarai oleh Jake Kasdan yang biasa menangani film komedi.

Jumanji : Welcome To The Jungleini rupanya tak digubah menjadi sebuah remake. Tetapi, film ini adalah sebuah kisah lanjutan yang diadaptasi lebih kekinian agar penonton baru pun bisa lebih relevan dengan apa yang ditampilkan. Adaptasinya pun mengubah permainan papan menjadi permainan konsol dengan cerita yang juga mengikuti perubahan tersebut. Secara cukup mengagetkan, Jumanji : Welcome To The Jungle memiliki performa yang pas untuk dapat dinikmati sebagai sebuah film yang sangat menghibur penontonnya.


Inilah kisah Jumanji : Welcome To The Jungle yang sedang menyasar sosok remaja sekolah menengah atas. 4 remaja yang sedang mendapatkan hukuman dan terjebak di satu ruangan untuk segera mereka bersihkan. Mereka adalah Spencer (Alex Wolff), Fridge (Ser’Darius Blain), Bethany (Madison Iseman), dan Martha (Morgan Turner). Di tengah mereka sedang membersihkan ruangan tersebut, mereka menemukan sebuah permainan konsol tua dan memutuskan untuk bermain dengan permainan tersebut.

Setelah memilih karakter permainan sesuai dengan yang mereka pilih, sesuatu aneh terjadi dengan diri mereka. Permainan tersebut menghisap keempat remaja tersebut dan masuk ke dalam dunia permainan yang datang dari antah berantah. Di sana, mereka menjadi sosok yang mereka pilih. Mereka tak bisa keluar dari permainan tersebut. Satu-satunya jalan keluar adalah dengan menyelesaikan permainan tersebut yang ternyata bukan sesuatu yang mudah.


Jumanji : Welcome To The Junglememiliki konsep cerita yang sama dengan film pendahulunya. Sehingga, secara cerita pun sebenarnya tak ada hal baru yang berusaha ditampilkan oleh film ini. Tetapi, Jumanji : Welcome To The Junglediberkahi dengan jajaran aktor dan aktris yang berhasil membuat 115 menit filmnya memiliki performa yang sangat menyenangkan. Keputusan pintar dari Jake Kasdan untuk tak terlalu lama menceritakan kisah awal mula dari Jumanji : Welcome to the Jungle ini.

Cerita latar belakang setiap karakter dan alasan-alasan kenapa mereka bisa terjebak ke dalam permainan ini bisa disampaikan dengan cara yang pas. Kesibukan lainnya yang perlu untuk diperhatikan adalah bagaimana keempat remaja yang terjebak dengan karakter pilihan mereka bisa keluar dari permainan tersebut. Jumanji : Welcome To The Junglepunya segala keseruan dalam ceritanya yang bisa diandalkan. Sehingga, penonton akan sangat dengan mudah terhibur dengan apa yang ditampilkan oleh Jake Kasdan.

Punya paket lengkap dalam amunisinya untuk menghibur penonton lewat petualangan yang seru di dunia Jumanjiyang baru. Segala petualangan tersebut pun bisa semakin dinikmati karena dalam naskahnya diinjeksi lagi dengan humor segar yang semakin membuat Jumanji : Welcome To The Jungle ini terlihat segar. Segala keseruan itu tak hadir begitu saja, hal ini tentu berkat performa dari Dwayne Johnson, Kevin Hart, Jack Black, dan Karen Gillan yang berhasil meyakinkan penontonnya bahwa mereka tetap empat remaja yang sedang terjebak dalam dunia permainan konsol.


Pun, pemain pendukung seperti Nick Jonas pun bisa bermain dengan sangat baik. Sehingga, kelima karakter dalam Jumanji : Welcome To The Jungle ini memiliki ikatan emosi yang sangat baik. Ini pula yang mengangkat setiap sekuens aksi dan petualangan dalam Jumanji : Welcome To The Jungle sehingga dalam perjalanannya film ini tak terasa hambar. Meskipun, ada beberapa minor yang membuat Jumanji : Welcome To The Jungle tak selalu bisa menjaga tensinya dengan kuat. Pun, humor yang ada di dalam film ini pun beberapa kali memudar.

Selain itu, ikon legendaris tentang permainan papan yang berubah jadi nyata ini pun tak lagi diulik lebih dalam lagi. Tak ada penghormatan lain tentang permainan papan Jumanji yang bisa membuat penontonnya yang tumbuh dengan film tersebut bisa merasakan rasa nostalgia. Menyaksikan Jumanji : Welcome To The Jungle pun hanya seperti menyaksikan film action pada umumnya meskipun sama-sama menggunakan nama besar Jumanji untuk filmnya dan ini cukup disayangkan sekali.


Tetapi, bagi yang tak terlalu mengenal Jumanji, tentu saja film terbaru dari Jake Kasdan ini adalah sebuah film yang akan menghibur Anda dengan sangat baik. Jake Kasdan sepertinya ingin membuat Jumanji : Welcome To The Junglesebagai sebuah film lanjutan yang bisa dinikmati secara universal tanpa perlu memikirkan sensasi nostalgia dengan beberapa easter eggs yang berlebihan. Cukup memberikan pengertian tentang seperti apa Jumanjipada zamannya. Ya, usahanya itu harus diakui cukup berhasil, tetapi sebagai film dengan nama besar Jumanji, film ini tak bisa mewarisi kelegendarisannya.

THE GREATEST SHOWMAN (2017) REVIEW : An Ordinary Musical Sequence


Di ujung tahun 2017, datanglah sebuah drama musikal yang diarahkan oleh Michael Gracey. The Greatest Showman, film musikal yang sudah bertahun-tahun mengalami pengembangan dalam banyak hal, akhirnya bisa tayang dan rilis juga di tahun 2017. Sebelum rilis, The Greatest Showman mendapatkan kesempatan untuk masuk ke dalam nominasi Best Comedy or Musical Motion Picture di Golden Globes 2017.

Banyak nama-nama besar yang ikut terlibat dalam film The Greatest Showman. Mulai dari Hugh Jackman, Michelle Williams, Zac Efron, hingga Zendaya dan nama-nama baru yang meramaikan film ini. Sehingga, film ini pun sudah memiliki antisipasi yang cukup besar dari calon penontonnya. Belum lagi, The Greatest Showman menggunakan duo musisi, Benj Pasek dan Justin Paul, yang sudah memenangkan banyak penghargaan lewat film La La Land tahun lalu.

Ini adalah debut awal Michael Gracey di kursi sutradara sebuah film besar. Michael Gracey pada awalnya bermain di ranah visual effects dan art departments dan di film debutnya kali ini dia berusaha menceritakan sebuah kisah nyata dari sosok P.T. Barnum. Meski begitu, Michael Gracey berusaha untuk membuat filmnya tak sekedar menjadi kisah seseorang semata. Melainkan, Michael Gracey berusaha membuat The Greatest Showman sebagai sebuah anthem untuk mereka yang terpinggirkan.


The Greatest Showman menceritakan sosok P.T. Barnum (Hugh Jackman), seorang anak dari pembuat sepatu yang hidup serba kekurangan. Kehidupannya yang serba kekurangan ini tak membuat Barnum mundur untuk mengejar siapa yang dicintai. Dialah Charity (Michelle Williams), perempuan yang sangat dicintai oleh Barnum meskipun orang tua Charity tak menyetujui hubungan mereka. Selepas menikah, mereka hidup jauh dari orang tua Charity.

Selama hidupnya, Barnum memiliki kesusahan secara finansial padahal dia harus membiayai kehidupan istri dan dua anaknya. Kehidupannya semakin susah ketika Barnum harus diberhentikan secara paksa di tempatnya bekerja karena bangkrut. Barnum bertekad untuk membeli sebuah museum patung lilin dengan sisa uang dan pinjaman dari bank. Sempat sepi, tetapi Barnum mengubah museum itu menjadi sebuah tempat pertunjukkan dan hiburan unik untuk semua orang.


The Greatest Showman memberikan sebuah sensasi menarik untuk mengikuti kisah perjuangan hidup seseorang. Menggunakan genre musikal dalam kemasannya untuk memberikan inovasi dalam menuturkan cerita yang berpotensi biasa saja ini menjadi sesuatu yang sangat berbeda dan segar.  Hal ini sangat efektif bagi The Greatest Showman yang memiliki tujuan tak hanya sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai media menyebarkan semangat positivistik bagi setiap penontonnya.

Tak diragukan lagi, dengan rekam jejak Michael Gracey yang pernah berada di art departments membuat The Greatest Showman terlihat begitu mewah untuk ukuran film-film musikal yang ada. Set-set musikalnya dibuat begitu menghentak dan bisa membuat penonton berdecak kagum saat menontonnya. Segala musical sequence punya segala kedinamisannnya sehingga penonton bisa tahu alasan kenapa sosok P.T. Barnum adalah sosok yang sangat berpengaruh bagi semua orang yang ingin membuat sebuah pertunjukkan besar.

Belum lagi lagu-lagu gubahan Benj Pasek dan Justin Paul yang sangat ear-catchy. Sehingga, ketika penonton selesai menonton film ini, akan banyak beberapa lagu yang tetap terngiang di dalam pikirannya. Dengan begitu, perilaku yang timbul selanjutnya adalah penonton akan mencari setiap lagu yang ada di dalam The Greatest Showman. Lalu muncul sebuah efek domino bagi penontonnya yang terpukau dengan film dan berujung pada memberikan rekomendasi kepada orang lain.


Hanya saja, The Greatest Showman sebagai sebuah film musikal sebenarnya tidak memberikan sebuah pertunjukkan yang baru. Michael Gracey mampu membuat ilusi bagi penontonnya agar tak bisa melihat kekurangan pengarahannya lewat berbagai musical sequencenya. Itu pun sebenarnya segala keemosionalan The Greatest Showman hanya bertumpu dengan lagu-lagu gubahan dari Benj Pasek dan Justin Paul. Tanpa gubahan lagunya yang kuat, The Greatest Showman pun tak bisa tampil sekuat itu.

Dengan durasinya sepanjang 104 menit, banyak sekali cabang cerita dan sudut pandang yang harus dibebankan kepada film ini. Michael Gracey pun kesusahan memiliki kefokusan dalam pengarahan, sehingga The Greatest Showman hanya bisa bisa meraih permukaan setiap konfliknya. Ada banyak kisah yang berusaha disorot di dalam film ini. Hal ini sebenarnya bisa berpotensi bagi presentasi The Greatest Showman, hanya saja masih belum ada penanganan yang pas dari Michael Gracey untuk bisa memperdalam setiap konflik dan karakternya.

Pun, setelah tembang ‘This Is Me’ yang tampil begitu megah sekaligus menjadi anthem di dalam film ini, The Greatest Showman menunjukkan performanya yang melemah di 40 menit terakhir. Michael Gracey mungkin cukup bisa memberikan bridging karakter dan plot di satu jam pertama. Efeknya, Michael Gracey harus mulai kewalahan untuk menyelesaikan konfliknya yang ada di awal. Itu pun masih ada intensi dalam naskahnya untuk memberikan konflik tambahan lagi di 30 menit terakhir sehingga beban Michael Gracey pun harus semakin bertambah.


Segala kemegahan yang ada di awal film The Greatest Showman pun sayangnya tak bisa memiliki sebuah penutup yang bisa sama megahnya dengan apa yang sudah ada di awal. Adanya sebuah rendition yang jauh lebih kekinian di dalam setiap lagunya ini pula yang membuat beberapa musical sequencenya tak bisa kuat. Sehingga, The Greatest Showman pun tak bisa memiliki identitasnya dalam sebagai sebuah film musikal. Efek akhirnya, penonton mungkin akan bisa berkali-kali mendengarkan lagunya dan tak lagi merasakan atau bahkan tak mengenali kekuatan di dalam adegannya.

Sehingga, The Greatest Showman pun bisa saja hanya dinikmati sebagai sebuah album lepas tanpa harus disangkutpautkan dengan filmnya. Ini karena lagu gubahan Benj Pasek dan Justin Paul pun sudah sangat bisa diterima di telinga pendengarnya. Tetapi, The Greatest Showman perlu mendapatkan apresiasi dengan caranya berusaha memberikan inovasi dalam menceritakan kisah sosok nyata di dunia. Masih punya kekuatannya sebagai film yang menghibur, tetapi sebagai sebuah film akan gampang berlalu begitu saja.