• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label Agustus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agustus. Tampilkan semua postingan

GURU-GURU GOKIL (2020) REVIEW: Komedi dengan Isu Menarik Penuh Potensi

Setelah The Night Comes for Us, satu lagi film Indonesia yang diserahkan jadi Netflix Originals. Guru-Guru Gokil, film milik Base Entertainmentyang menggaet Dian Sastrowardoyo sebagai salah satu produser ini dilepas menjadi film asli Netflix dari Indonesia yang bisa ditonton hingga 190 negara. Sebelum pandemi dating, film ini tentu sudah dijadwalkan menjadi film yang rilis di Bioskop. Tetapi, sebuah keputusan yang menarik, karena Guru-Guru Gokil akhirnya dirilis di 17 Agustus kemarin lewat streaming service.

Film ini tentu punya kesempatan untuk hadir ke penontonnya dengan jangkauan yang lebih luas. Penonton yang sudah langganan Netflix memiliki privilege untuk bisa menyaksikan film arahan Sammaria Sari Simanjuntak ini terlebih dahulu. Melihat dari jajaran pemainnya, tentu saja menarik. Melihat performa Gading Marten, Faradina Mufti, Boris Bokir, Asri Welas, bahkan Dian Sastrowardoyo berada di satu film yang sama dengan genre komedi.

Kisah yang diambil juga punya perspektif yang unik. Berusaha untuk mengambil dunia pendidikan sebagai latar belakangan ceritanya dengan tambahan-tambahan intrik lain. Dari trailer, tentu penonton akan tahu, bahwa film ini bukan sekedar drama komedi slice of life, tapi juga menggabungkan unsur heist yang jarang ada di peerfilman Indonesia.


Unik, menarik, tapi kok……

Iya, tapi kok, kayanya kok belum keluar semua potensinya, ya. Ada banyak hal menarik yang diangkat dari film ini. Dari komedi tentang keluarga, pendidikan, dan juga sekaligus memberikan kritik tentang pendidikan itu sendiri. Hanya saja, ceritanya tumpang tindih, ada banyak yang ingin disampaikan tapi hanya sedikit waktu dan tak mau terlalu memperpanjangkan durasi film ini sendiri. Jadinya ya….. Guru-Guru Gokil belum representatif betul dengan kata “Gokil” di dalam judulnya.

Cerita dari Guru-Guru Gokilini awalnya datang dari seorang karakter bernama Taat Pribadi (Gading Marten). Dia adalah anak dari seorang guru yang terkenal di kampong halamannya. Tapi, Taat berbeda dengan namanya. Dia mencoba untuk memberontak, mencari peruntungan di kota lain untuk mencari nafkah. Sayang, usaha dia belum membuahkan hasil. Jadi, Taat harus kembali ke kampung halamannya. Mencari nafkah di sana dengan jadi profesi yang paling tidak dia inginkan.

Ya, Jadi Guru. Profesi yang ditakutin banget sama Taat. Tapi, ini salah satu caranya biar dia bisa mendapatkan uang agar bisa mendapatkan pekerjaan impiannya yang lain. Seketika dia jadi guru pun, ada aja masalahnya. Bukan cuma masalah pribadi, tapi masalah yang lebih besar. Ada perampokan yang terjadi di sekolah tempat Taat bekerja. Bersama guru-guru yang lain, seperti Rahmi (Faradina Mufti), Nirmala (Dian Sastrowardoyo), dan Pak Manul (Boris Bokir).


Lika-liku kehidupan pak Taat ini memang menarik. Sayang, tak semua kegelisahan pak Taat bisa tersampaikan dengan baik. 30 menit pertama dari Guru-Guru Gokil ini terasa penuh banget dengan konflik cerita yang ingin disampaikan. Semacam ada rasa buru-buru untuk mengenalkan karakter Taat hingga kahirnya masuk ke dalam konflik sebenenarnya di dalam film ini.

Mungkin benar, jika sang produser di beberapa interviewnya mengatakan bahwa film Guru-Guru Gokil ini mengatakan bahwa film ini tak menitikberatkan setting sekolahnya. Tapi, lebih tentang konflik lain yang lebih besar. Hanya saja, dengan karakter Taat dan keluarganya yang memiliki backgrounditu, sepertinya sedikit sayang apabila setting sekolahnya pun tak digali. Apalagi, dalam konklusinya, film ini menggunakan karakter-karakter pendukung di sekolah yang berperan penting.

Ini nih yang bikin Guru-Guru Gokil mungkin kurang terikat dengan karakternya satu sama lain. Tapi, buat kamu yang menonntonnya sebagai hiburan semata, tentu saja film ini bakal memenuni ekspektasi. Meski beberapa celotehan komedinya ada beberapa yang missed, tapi berkat jajaran pemainnya, ada vibe komedi yang bisa terbawa. Dan nuansa komedi kental itu berasal dari karakter Dian Sastrowardoyo.


Dian Sastrowardoyo dengan peran kecilnya yang mencuri perhatian.

Memang kita tak bisa mengelak fakta bahwa Dian Sastrowardoyo bisa selalu bisa mencuri perhatian di film-filmnya. Salah satunya juga di film Guru-Guru Gokil ini. Dalam peran kecilnya sebagai Ibu Nirmala yang berbeda disbanding karakter-karakter Dian Sastrowardoyo biasanya, dialah penyelamat filmnya. Setiap dirinya berada di adegan, berhasil mengubah filmnya jadi lebih ceria.

Tapi, bukan berarti casts yang lain tak bisa bermain dengan prima. Faradina Mufti sebagai Ibu Rahayu yang judes-judes lucu juga tetap kuat sebagai pemeran utama dalam perjalanan cerita di Guru-Guru Gokil. Meskipun, poin ketertarikan sisi lain dari Bu Rahayu ini belum tersampaikan dengan kuat lantaran cerita-cerita lain yang padat dan membuat semuanya terdistraksi.

Hanya saja kembali lagi, buat yang ingin nonton film Indonesia lagi di saat Pandemi, Guru-Guru Gokil ini bikin rindu nonton film Indonesia di bioskop. Guru-Guru Gokil masih punya cukup amunisi untuk menghibur karena masih dibuat gak main-main. Isunya juga penting sebagai refleksi meski tak digali lebih dalam. Masih bisa ditonton meski potensinya bisa diperkuat lagi.

SEBELUM IBLIS MENJEMPUT (2018) REVIEW : Mimpi Buruk dari Iblis Jahat


Setelah berkerjasama bersama Screenplay Infinite Films untuk membuat sebuah film action, Timo Tjahjanto kali ini bekerjasama ulang untuk menghasilkan film baru. Berganti nama rumah produksi meskipun masih di naungan yang sama, Sky Media dan Timo kembali mengarahkan filmnya sendiri tanpa bantuan rekannya Kimo Stamboel. Kembali ke akarnya untuk membuat film horor, tentu saja membuat penikmat film sangat senang.

Film-film horor buatan Timo selalu mendapatkan hati di penontonnya mulai dari Rumah Dara dan Killers. Keunggulan Timo dalam mengarahkan sebuah film horor juga tersaji lewat beberapa film pendeknya. Safe Haven yang pernah difitur menjadi segmen terakhir di omnibus V/H/S 2dan L for Libido di dalam omnibus The ABC’s of Death. Maka, tentu saja film terbarunya yang berjudul Sebelum Iblis Menjemput ini sangat dinantikan.

Sebelum Iblis Menjemput dibintangi oleh 2 aktris papan atas Indonesia yaitu Chelsea Islan dan Pevita Pearce. Kedua aktris ini pun juga baru pertama kali bermain dalam film horor sehingga semakin membuat calon penontonnya penasaran. Juga, film ini didukung oleh pemain-pemain seperti Karina Suwandi, Ray Sahetapi, dan Rafo Samael. Sebelum Iblis Menjemput tak hanya disutradarai oleh Timo sendiri tetapi juga naskahnya pun ditulis sendiri.


Dengan beragamnya film-film horor Indonesia yang berusaha untuk mengekspos film horor dengan plot menggunakan kultus, sekte, dan perjanjiannya, tentu saja membuat Sebelum Iblis Menjemput akan dibanding-bandingkan. Banyak yang akan beranggapan bahwa Sebelum Iblis Menjemput menyadur film-film horor Indonesia seperti Pengabdi Setan atau Kafir. Seharusnya, plot-plot seperti ini sudah sering digunakan oleh film-film horor baik domestik maupun luar negeri.

Tetapi, meski dengan penanda yang mirip satu sama lain, Sebelum Iblis Menjemput punya caranya sendiri untuk menuturkan ceritanya. Timo Tjahjanto dengan segala referensi film horornya, tentu tahu untuk mengemas Sebelum Iblis Menjemput. Timo akan mengantarkan penontonnya untuk menikmati mimpi buruk saat menonton Sebelum Iblis Menjemput dengan durasi mencapai 115 menit ini.


Timo membuat sebuah mimpi buruk yang dimulai dari seorang lelaki paruh baya bernama Lesmana (Ray Sahetapy) yang sedang koma di rumah sakit. Alfie (Chelsea Islan), anak perempuannya dari istri pertama datang menghampiri sang ayah yang sudah tidak berdaya. Alfie datang karena telepon dari Maya (Pevita Pearce) yang juga anak perempuannya tetapi hasil dari pernikahan keduanya.

Lesmana ditemukan jatuh sakit dan koma di sebuah rumah villa kecil di antah berantah. Alfie memutuskan untuk datang ke villa tersebut untuk mencari tahu apa yang terjadi oleh sang ayah. Tanpa disadari, keluarga dari istri kedua Lesmana datang ke villa tersebut. Alfie dan keluarga dari istri keduanya berusaha untuk membersihkan rumah tersebut dan mencari apa yang tersisa di rumah tersebut. Tetapi, kejadian aneh menyerang mereka di malam yang sunyi itu. 


Kejadian-kejadian di malam yang sangat mencekam itu berhasil diolah menjadi Timo untuk menjadi kekuatan di dalam filmnya. Sebelum Iblis Menjemput sukses membuat penontonnya bergidik ngeri sepanjang 115 menit. Timo terlihat berusaha keras untuk mengarahkan Sebelum Iblis Menjemputagar bisa membangun nuansa horor yang atmosferik. Untung saja, usaha kerasnya berhasil membuat setiap penampakan yang ada terasa maksimal.

Timo tak memberi ampun penontonnya saat menyaksikan Sebelum Iblis Menjemput. Timo langsung memulai Sebelum Iblis Menjemput dengan atmosfer yang sangat mencekam dan gelap. Di 30 menit pertamanya, penonton sudah langsung berhasil ditakuti lewat pembangunan atmosfer horor dan jumpscares yang tepat sasaran. Adrenalin penonton pun sudah naik sejak 30 menit pertamanya dan dengan antusias menyaksikan sisa durasinya.

Satu jam pertama Sebelum Iblis Menjemput memang benar-benar membuktikan bahwa Timo Tjahjanto sangat kompeten dalam mengarahkan sebuah film horor. Caranya mengarahkan film Sebelum Iblis Menjemput akan membuat film ini terasa bukan buatan dalam negeri. Timo yang sudah kaya akan referensi-referensi plot cerita serupa berusaha memaksimalkannya di film ini. Meskipun, Sebelum Iblis Menjemputmasih memiliki kendala di dalamnya.


115 menit di Sebelum Iblis Menjemput tidak bisa berjalan sangat mulus terlebih di paruh kedua. Timo Tjahjanto yang sudah berhasil mencengkram penontonnya di paruh pertama, tiba-tiba melepaskan cengkramannya perlahan. Paruh kedua film ini memang tak benar-benar mengalami penurunan drastis, tetapi penceritaannya yang terlalu ingin banyak yang diceritakan. Terlihat bahwasanya Timo menahan dirinya agar film ini tak berjalan terlalu jauh. Meskipun harus mengorbankan beberapa poinnya yang tidak bisa disampaikan dengan utuh. 

Sebelum pada akhirnya Sebelum Iblis Menjemputjatuh ke dalam lubang yang lebih dalam, Timo Tjahjanto langsung mencengkram penontonnya lagi. Paruh akhir film ini naik dengan cara Timo mengarahkan performa dua aktris utamanya. Pevita Pearce mampu mencuri hati penonton dengan performanya yang luar biasa dibandingkan dengan film-film sebelumnya. Begitu pula dengan Chelsea Islan yang berhasil menjadi sosok karakter yang kuat.

Keduanya mampu berkolaborasi sehingga performa Chelsea Islan dan Pevita Pearce bisa saling melengkapi. Timo Tjahjanto berhasil membuat dua aktris Indonesia ini keluar dari zona nyamannya lewat Sebelum Iblis Menjemput.Sekaligus, performa Karina Suwandi yang berhasil membuat penontonnya bergidik ngeri. Sisi teknis di Sebelum Iblis Menjemput juga menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan.


Bintang utama dalam teknis filmnya ini adalah gubahan musik yang tampil untuk menguatkan filmnya. Bukan menjadi hal yang membuat suasana horornya terasa manipulatif. Begitu pula dengan cara Timo untuk mengambil adegan demi adegannya. Menggunakan aspect ratio 1:85:1 ini ditujukan agar penonton bisa merasakan karakter dan suasananya dengan lebih intimate. Sehingga, tensinya bisa dirasakan betul oleh penontonnya.

Sehingga, setelah selesai menonton Sebelum Iblis Menjemput,rasa akhir yang dirasakan adalah rasa stres saat menonton. Bukan karena filmnya kurang bagus, tetapi Timo Tjahjanto terus menerus mengganjar kengeriannya tanpa ampun. Timo Tjahjanto sekali lagi membuktikan bahwa dirinya memang bisa diperhitungkan saat menangani film-film seperti ini. Sebelum Iblis Menjemput adalah sebuah pompa adrenalin yang ampuh untuk penikmat film horor Indonesia yang ingin merasakan dijemput oleh iblis jahat.

BAD GENIUS (2017) REVIEW : Kemasan Unik tentang Kecurangan di Dunia Pendidikan

 
Semenjak pecahan dari GTH entertainment berubah menjadi GDH, banyak film-film Thailand ini yang mendapatkan antusias lebih dari penonton. Mulai dari One Day dan A Gift, penonton cukup menanti film-film yang diproduksi dari rumah produksi ini. Penonton menunggu hal terbaru apa yang berusaha ditawarkan agar semua penonton mempercayai film yang dibuat oleh rumah produksi ini. Datanglah film ketiga dari rumah produksi ini yang cukup membuat penontonnya menantikan karena trailernya yang cukup menggugah selera.

Nattawut Poonpiriya menjadi pemegang kunci untuk mengarahkan produk film ketiga dari rumah produksi GDH ini. Berbeda dengan kedua film Thailand lainnya, film ketiganya ini ber-genre suspenseyang sudah biasa dia lakukan lewat debut filmnya Countdown. Proyek  terbarunya kali ini tidak mengombinasikan suspense-nya dengan thriller, tetapi dengan film heist  ala Ocean’s Eleven atau yang paling dekat dengan rentang tahunnya yaitu Now You See Me.

Tetapi, proyek heist-suspensefilm ini tak menggunakan magic trickatau pencurian besar-besaran yang memang akan memberikan problematika yang terlihat serius. Bad Genius, proyek terbaru dari Nattawut Poonpiriya ini fokus tentang kecurangan-kecurangan kecil yang mungkin dilakukan oleh setiap orang saat sekolah dulu. Mencontek, sesuatu yang mungkin akan lumrah terjadi di kehidupan akademis yang terlihat begitu kecil tetapi ternyata efeknya bisa jadi lebih dari itu. 


Inilah Bad Genius yang menceritakan tentang para siswa-siswi Sekolah Menengah Atas di Thailand yang sedang berusaha bertahan hidup di tengah kerasnya ujian sekolah. Lynn (Chutimon Chuengcharoensukying), seorang siswi pintar pindahan dari sekolah lain dan mendapatkan beasiswa di sekolah barunya. Di tengah perasaan asingnya dengan lingkungan sekolah barunya, Lynn menemukan seorang teman bernama Grace (Eisaya Hosuwan). Berbeda dengan Lynn, Grace memiliki problem dengan nilai-nilai di sekolahnya.

Dengan adanya hal tersebut, Lynn berusaha mencari cara agar bisa membuat Grace juga mendapatkan nilai yang bagus. Tetapi, cara yang ditempuh Lynn adalah cara yang salah dilakukan oleh Lynn. Dia berusaha memberikan contekan kepada Lynn di ujiannya dan tentu saja membantu meningkatkan nilai ujian dari Grace. Hal ini dimanfaatkan pula oleh pacar Grace, Pat (Teeradon Supapunpinyo) dan membuatnya menjadi lahan bisnis. Lynn pun menerima penawaran dari Pat dan Grace karena dia juga membutuhkan uang. 


Inilah Bad Genius yang memberikan sebuah realita tentang kehidupan pendidikan yang begitu relevan di berbagai masanya. Sebuah perilaku menyimpang yang dilakukan oleh para siswa di banyak sekolah yang sudah menjadi kebiasaan dan lumrah dilakukan oleh banyak orang. Nattawut Poonpiriya berusaha mengungkap berbagai cara bagi siswa-siswi di sebuah sekolah untuk mendapatkan jawaban dengan cara yang curang.

Mengungkapkan sebuah realita yang terjadi di lingkungan sosial sekitar pun bisa dikemas dengan berbagai genre yang dapat membuat penontonnya tak perlu merasa bosan. Dengan Bad Genius ini, Nattawut Poonpiriya membuat fenomena sosial yang terasa lumrah dilakukan di masyarakat ini menjadi sebuah sajian yang begitu menegangkan di durasinya yang mencapai 129 menit. Di durasinya yang cukup lama itu, Nattawut Poonpiriya memberikan banyak sekali keefektifan dalam pengarahanya.

Dengan premis yang mungkin terlihat begitu kacangan, Nattawut Poonpiriya berhasil menjadikannya sebagai sebuah heist film yang penuh akan komplikasi. Keefektifan yang dilakukan oleh Nattawut Poonpiriya adalah menggunakan 129 menitnya untuk menceritakan kerumitan yang muncul di dalam plot ceritanya. Menggali lebih dalam tentang setiap karakternya sehingga penonton bisa ikut bersimpati dengan para pion penggerak ceritanya. Hal ini penting agar penonton Bad Genius bisa tak memalingkan wajahnya dari layar. 


Terlebih, bagaimana Poonpiriya begitu berhasil membangun tensinya dengan sangat kuat. Dengan cerita yang diarahkan dan penggalian karakternya yang digarap begitu kuat, tensi yang dibangun susah payah oleh sutradaranya akan menambah kekuatan cengkraman kepada penontonnya. Sehingga, Bad Genius tak hanya sekedar menjadi sebuah film yang memberikan realita dan kritiknya terhadap dunia pendidikan dengan kemasan yang begitu-begitu saja. Tetapi sekaligus menjadi sebuah film yang sangat menghibur penontonnya dari awal hingga akhir.

Kerapatan dalam filmnya ini juga dipengaruhi oleh penulisan naskah filmnya yang berhasil memberikan cerita yang penuh komplikasi tetapi tidak basa-basi. Nattawut Poonpiriya, Tanida Hantaweewatana, dan Vasudhorn Piyaroma mengemas naskahnya dengan cara yang segar dengan premis cerita yang terlihat biasa saja. Segala pergerakan ceritanya memiliki alasan dan memiliki hubungan sebab-akibat yang lebih realistis dan memuaskan segala penontonnya. Hal ini terlihat dengan bagaimana cara Bad Genius mengakhiri filmnya. 


Bad Genius di awal film sebenarnya memberikan atribut optimisitik dan heroik kepada karakternya yang melakukan tindak kriminal cukup membuat penontonnya khawatir dengan bagaimana film ini akan berakhir. Tetapi, naskah yang ditulis oleh Nattawut Poonpiriya bersama teman-temannya ini berhasil memberikan penyelesaian yang memuaskan bagi penontonnya. Tak ada kesan glorifikasi atas kecurangan yang dilakukan karakternya dan memunculkan tentang keadilan, konsekuensi atas apapun yang dilakukan oleh setiap karakternya.

Poin itu yang berusaha ditekankan oleh Nattawut Poonpiriya ke dalam Bad Genius. Kritiknya terhadap siapapun yang terlibat di dalam dunia akademis yang memperlihatkan bahwa hasil akhir bukanlah sekedar angka. Tetapi, hasil akhir tersebut adalah hal yang perlu ditanggung jawabkan nantinya di dunia akademis. Kecurangan-kecurangan sekecil apapun yang dilakukan oleh pelaku dunia pendidikan ini pasti akan konsekuensinya. Kecurangan sekecil apapun tetaplah melanggar peraturan, ada konsekuensi yang tak bisa dikompromikan di dalam sebuah aturan tersebut.


Sehingga, Bad Genius tak hanya sekedar sebuah film dengan dosis hiburan yang sangat tinggi lewat heist genre-nya. Tetapi juga menjadi sebuah gambaran tentang realita dunia pendidikan yang masih saja memiliki celah untuk dapat dicurangi oleh para akademisinya. Tetapi, gambaran atas realita tersebut bisa dikemas dengan begitu rapat dan diarahkan dengan sangat baik oleh Nattawut Poonpiriya. Sehingga, efek yang ditimbulkan setelah menonton ini akan sangat kepada penontonnya. Ditutup dengan adegan penutup yang begitu adil sekaligus bisa dijadikan sebuah kontemplasi bagi penontonnya. Terlebih, bagi yang pernah melakukan kecurangan dan pemalsuan di dunia pendidikan. 

ANNABELLE : CREATION (2017) REVIEW : Kombinasi Dua Unsur Horor yang Efektif


Kemunculan film horor laris yang disutradarai oleh James Wan yaitu The Conjuring ini membuat Warner Bros ingin membuatnya lebih besar. Selain memberikan kesempatan yang selebar-lebarnya untuk membuat sebuah sekuel, tentu Warner Bros ingin membuat The Conjuring ini memiliki cerita-cerita pengantar lainnya. Salah satunya adalah cerita tentang boneka sebagai medium arwah penasaran yang mahsyur yaitu Annabelle.

Membuat film sendiri tentang Annabelle ini telah dilakukan oleh John R. Leonetti di tahun 2014. Sayangnya, film tentang boneka menyeramkan ini tak begitu disukai oleh penikmat filmnya meskipun secara kuantitas film ini bisa dikategorikan film laris. Seakan tak puas begitu saja, Annabelle pun mendapatkan kesempatan lain untuk diceritakan. Lewat sutradara David F. Sandberg, Annabelle mempunyai panggung untuk menceritakan kisahnya paling awal lewat Annabelle : Creation.

Respon yang didapatkan pun beragam. Ada yang sudah mulai jera karena presentasi dari film Annabelle sebelumnya yang tak terlalu bagus, tetapi ada pula yang masih menantikan film ini karena berharap bisa ditakut-takuti. Meski begitu, Annabelle sendiri telah menjadi sebuah produk yang akan dikonsumsi oleh penonton karena namanya yang sudah melambung itu sendiri. Tetapi, Annabelle : Creation ini sendiri secara mengejutkan berhasil membuat penonton bersenang-senang dengan segala keseruannya sebagai film horor. 


Annabelle Creation ini sendiri menceritakan tentang awal mula sosok boneka Annabelle. Di mana, boneka ini ditemukan di sebuah rumah milik keluarga Mullins. Rumah keluarga Mullins ini diperbolehkan untuk ditinggali oleh anak-anak yatim piatu. Mereka boleh memilih kamar semau mereka, hanya saja ada satu kamar di rumah tersebut yang tidak boleh ditinggali. Kamar tersebut adalah kamar dari anak keluarga Mullins yang telah meninggal.

Tetapi, secara tidak sengaja, salah satu anak yatim piatu bernama Janice (Talitha Bateman) dan Linda (Lulu Wilson) masuk ke dalam kamar tersebut dan menemukan sebuah boneka perempuan yang menyeramkan. Setelah menemukan boneka tersebut, kejadian-kejadian aneh menghiasi rumah keluarga Mullins. Teror-teror jahat dari arwah penasaran mulai menyerang seluruh penghuni rumah tersebut. Teror jahat itu berasal dari boneka menyeramkan yang ternyata berisi roh jahat. 


Dengan cerita yang sebenarnya familiar bahkan terkesan generik di dalam genre-nya, David F. Sandberg berhasil meningkatkan reputasi spin-offdari The Conjuring universe ini. Annabelle : Creation menjadi sebuah sajian film horor yang menyenangkan untuk diikuti dengan durasinya sepanjang 109 menit. Hal yang membuat Annabelle : Creation ini berhasil adalah bagaimana David F. Sandberg tak hanya sekedar membuat sebuah film horor yang bertumpu pada kengeriannya saja.

Ada cerita pengantar dengan karakter-karakter di dalam filmnya sebagai pion para penonton bertumpu dan menemukan seseorang untuk bersimpati. Penonton bisa dibuat bersimpati dengan setiap karakternya dengan problematika hidupnya. Sehingga, secara historikal, Annabelle memiliki cerita yang lebih meyakinkan apabila dibandingkan dengan film sebelumnya.

Annabelle : Creation memiliki bangunan cerita yang juga diarahkan dengan begitu baik oleh David F. Sandberg. Dengan begitu, efek kengerian yang terjadi di dalam Annabelle : Creation akan muncul dengan sangat efektif serta memberikan dampak yang sangat besar. Hal ini bagus bagi sebuah film horor, agar tak merasa terburu-buru untuk menakut-nakuti penontonnya. Dengan adanya cerita yang bergerak dengan runtut, dampak yang terjadi kepada penonton akan terasa lebih efektif dan memiliki efek jangka panjang setelah menontonnya. 


David F. Sandberg sebagai sutradara yang sudah menangani genre serupa lewat Lights Out, berhasil memunculkan atmosfir horor yang kuat di setiap adegannya. Sehingga, teror dari boneka Annabelle ini tak hanya sekedar dengan penggunaan Jump Scares berlebihan yang tak menimbulkan efek apapun bagi penontonnya. David F. Sandberg tahu benar bagaimana memberikan efektivitas kepada film Annabelle : Creation sebagai sebuah film horor.

Hal inilah yang menjadi kekuatan utama dari Annabelle : Creation di bawah komando dari David F. Sandberg. Annabelle : Creation memanfaatkan kombinasi antara horor atmosferik yang begitu kuat. Tetapi, tak melupakan formula jump scares efektif yang juga muncul sebagai kekuatan terbaik di dalam film Annabelle : Creation. Kombinasi dua formula umum dalam film horor yang muncul sama kuatnya inilah yang berhasil membuat Annabelle : Creation menjadi salah satu film horor yang begitu menyenangkan untuk diikuti.

Dengan ruang gerak durasinya yang mencapai 109 menit, David F. Sandberg memanfaatkan betul agar film horor yang diarahkannya tak sia-sia. Annabelle : Creation memunculkan atmosfir horor dan rasa ngeri kepada penontonnya dengan sangat perlahan namun pasti. Di awal film akan muncul rasa penasaran penonton terhadap teror yang terjadi kepada Janice dan Linda. Sehingga, ketika jurus pamungkasnya hadir di paruh ketiga akhirnya, penonton bisa merasakan sensasi seru menonton film horor dengan berbagai penampakan makhluk halus tersebut.


Dengan begitu, David F. Sandberg adalah kunci utama dari film Annabelle : Creation ini secara keseluruhan. Pengarahannya yang begitu kuat berhasil membuat The Conjuring Universe semakin mengeluarkan taringnya. Lewat Annabelle : Creation pula, secara resmi The Conjuring Universe diluncurkan kepada publik. Memberikan petunjuk tentang sosok-sosok di dalam film The Conjuring yang akan mendapatkan panggung lain untuk dikembangkan.

Dan bagaimana pula adegan penutup di dalam Annabelle : Creation yang berhasil memberikan benang merah atau koneksi dengan film-film yang ada di The Conjuring Universe. Sehingga, penonton pun akan mengerti bagaimana secara historis Annabelle ini nantinya. Sehingga, sebagai sebuah prekuel dari sebuah spin-off, Annabelle : Creation berhasil memperbesar dunianya dan begitu menarik untuk diikuti kelanjutannya. Apalagi adanya cameo Valak dan after credit’s scene tentang Valak yang akan ikut menghiasi kemegahan The Conjuring Universe ini nantinya.