• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label film indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film indonesia. Tampilkan semua postingan

10 FILM INDONESIA PILIHAN 2019 BY ARUL’S MOVIE REVIEW BLOG


2019 menjadi hal yang sangat signifikan berubah di perfilman Indonesia. Kepercayaan penonton film Indonesia sepertinya sudah mulai menguat.Salah satu faktor pendukungnya adalah dengan banyaknya film-film Indonesia yang sudah mencapai 1 juta penonton di daftar film terlaris tahun ini. Dilan 1991 saja sudah mengantongi angka 1 juta penonton hanya dengan 2 hari penayangan.

Selain itu, film-film Indonesia juga sudah mulai beragam dari genre-nya. Bahkan, lewat film Gundala, perfilman Indonesia mulai berani untuk punya film jagoan dan cinematic universe. Tentu sebuah langkah berani dan bahkan masih ada daftar-daftar film di Jagat Bumi Langit yang akan dirilis di tahun depan.

Dari 70 film Indonesia yang saya tonton tahun ini, tentu ada beberapa film yang merebut hati saya sebagai penonton. Yang membekas cukup lama, kalo diinget kadang bikin bahagia tetapi juga ikutan miris. Tergantung pesan apa yang mau disampaikan sama sutradaranya.

Ada banyak pilihan dari 99 Nama Cinta, sebuah drama reliji romantis yang tampil mengejutkan cukup solid karena naskah Garin Nugroho bisa mengemas tema agama tanpa menggurui. Jika masih suka dengan kisah cinta segitiga rumit antara Doel, Zaenab, dan Sarah, Si Doel The Movie 2ini menawarkan kisah-kisah dengan dialog dan pendekatan sederhana tetapi bisa bikin patah hati. Film horor yang berbeda seperti Sunyi dan Ratu Ilmu Hitamjuga menarik untuk dikulik. Kalo film action, jangan lupakan debut dari Randy Korompis lewat Foxtrot Six dan pembuka Jagat Bumi Langit lewat Gundala.

Tetapi, setelah diperhitungkan lagi dengan cukup pelik, ada 10 film Indonesia yang di tahun 2019 yang masuk daftar favorit. Tentu ini pilihan personal, kalo kamu ada yang lain boleh lah sharing di kolom komentar. So, here we go!


10. Hit N Run (Dir. Ody C. Harahap)Film aksi komedi yang dibikin dengan niat seperti ini jarang banget terjadi di perfilman Indonesia. Sekuens aksinya keren, komedinya cukup bekerja baik, bahkan performa ansambel aktingnya juga mendukung semuanya. Tentu, Tatjana Saphira lagi-lagi mencuri perhatian lewat performa Bukan Taman Safari.


9. Terlalu Tampan (Dir. Sabrina Rochelle Kalangie)
Nama Sabrina Rochelle Kalangie awalnya hanya menjadi pemeran pendukung di film produksi Visinema. Ternyata, ada bakat pengarahan yang luar biasa unik di dalam dirinya dan mengantarkan Terlalu Tampan menjadi film coming of age yang seru. Vibe-nya kayak film-film Thailand gitu.


8. Orang Kaya Baru (Dir. Ody C. Harahap)
Lewat film ini, Joko Anwar memperjelas tujuan film sebagai medium escapism yang menyenangkan. Kapan lagi kamu diajak bermimpi untuk jadi orang kaya raya dengan segala problematikanya. Cut Mini gila banget di sini.


7. Susi Susanti: Love All (Dir. Sim F.)
Tanpa ekspektasi apa-apa, ternyata debut pengarahan dari Sim F ini menjadi sebuah film biografi yang tampil solid. Semua elemen ceritanya bisa berpadu jadi satu kesatuan filmnya. Tak ada yang terasa terpisah, tak ada yang terkesan dipaksakan. Semuanya pas.


6. 27 Steps of May (Dir. Ravi  L. Bharwani)
Memberikan realita yang traumatis tentang rape culture terhadap perempuan. Film ini sungguh tragis, tetapi juga memberikan harapan untuk mereka para korban untuk mulai berdamai dengan dirinya, dengan traumanya. Performa Raihaanun di sana kuat sekali!


5. Bebas (Dir. Riri Riza)
Film yang diadaptasi dari film Sunny milik Korea ini berhasil mengadaptasi tanpa mengubah esensi film orisinilnya. Juga, berhasil mengadaptasi dengan perubahan budaya yang lebih lekat dengan penonton Indonesia. Performa para geng Bebas benar-benar bikin filmnya hangat!


4. Dua Garis Biru (Dir. Gina S. Noer)
Sebuah karya orisinil lahir dari sosok Gina S. Noer. Debut pengarahannya ini tak hanya berani dalam mengangkat tema tentang pendidikan seksual. Tetapi, juga bisa memberikan sebuah drama keluarga dengan banyak isu-isu budaya dan sosial yang ada di Indonesia. Chemistry Zara dan Angga bikin gemas.


3. Perempuan Tanah Jahanam. (Dir. Joko Anwar)
Lagi-lagi Joko Anwar memang membuktikan dirinya dalam genre favoritnya. Karyanya ini benar-benar mengusik dan mencekam penontonnya dari awal hingga akhir. Memberikan sensasi tidak nyaman hingga penonton akan merasa lelah tetapi juga puas. Sinting!


2. Keluarga Cemara (Dir. Yandy Laurens)
Tahun ini memang banyak sekali sutradara baru yang karyanya memuaskan. Yandy Laurens juga menjadi salah satunya. Adaptasi dari buku Arswendo Atmowiloto ini menjadi sebuah drama keluarga yang sangat emosional tanpa harus menggebu-gebu. Manis meski kehidupan karakternya sedang sendu. Sederhana tapi berhasil membuat penontonnya menyeka air mata mereka pakai tisu.



1. Kucumbu Tubuh Indahku (Dir. Garin Nugroho)
Banyak dikecam banyak orang karena temanya yang menyorot tentang LGBT, tetapi poin utama dari film karya Garin Nugroho ini adalah tentang sebuah identitas seseorang. Pencarian jati diri seseorang lewat budaya-budaya Jawa yang ternyata masih dekat dengan permainan gender dan seksualitas. Di film inilah, Garin benar-benar membuktikan sensitivitasnya sebagai sutradara. Murni menjadikan filmnya sebagai sebuah seni. Tanpa ada pretensi tetapi selesai menonton bisa jadi bahan diskusi.

Semua pilihan ini berdasarkan referensi dan pengalaman yang sangat personal. Subjektif? Tentu saja. Pasti kalian semua pun punya referensi sendiri dalam menentukan film-film mana yang jadi favorit kamu di 2019 ini. Jadi, apa nih film Indonesia favorit kamu di 2019 ini?

GHOST WRITER (2019) REVIEW: Premis Menarik dengan Presentasi Generik


Genre horor seakan menjadi portfolio wajib bagi seorang sutradara. Apalagi, genre ini ternyata cukup dinikmati oleh penonton secara universal. Tetapi, apabila dipadupadankan dengan genre komedi, mungkin masih belum terlalu banyak. Inilah yang menarik dari film lebaran tahun ini yang diproduseri oleh Ernest Prakasa. Diambil dari premis menarik di kelas skenario Ernest Prakasa, Ghost Writer menjadi salah proyek milik Starvision Plus yang terlihat menarik.

Bene Dion Rajagukguk dipercaya untuk menangani film ini. Dirinya sendiri telah lebih dulu menjalani karir sebagai penulis naskah di beberapa film besar dan salah satunya adalah Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur. Tentu, menulis naskah horor sudah bukan lagi kekhawatiran baginya, apalagi jika dibalut dengan komedi. Ghost Writer ini menjadi film pertamanya sebagai sutradara sekaligus menulis naskahnya sendiri dibantu oleh sang pemilik ide cerita yang berasal dari kelas skenario itu.

Tentu, dengan nama Ernest Prakasa sebagai taruhan, akan dengan mudah bagi film ini untuk mendapatkan jajaran pemain yang juga cukup menjanjikan. Tatjana Saphira, Endy Arfian, Deva Mahenra, hingga Asmara Abigail mau untuk berkolaborasi dalam film ini. Serta masih ada nama-nama besar lain yang juga ikut meramaikan mulai dari Slamet Rahardjo, Dayu Wijanto, dan juga Ge Pamungkas. Ini tentu membuat Ghost Writer punya magnet untuk calon penontonnya.


Dengan ide yang dianggap menarik dan promo yang lumayan masif, tentu saja Ghost Writer menarik hati penontonnya. Terlebih, film ini pun dirilis saat musim Lebaran tiba. Ini adalah waktunya film Indonesia menunjukkan taringnya untuk mendapatkan raihan jumlah penonton yang lumayan besar. Secara premis keseluruhan, Ghost Writer memang punya konsep yang cukup unik dan sangat menarik dengan perpaduan genre-nya.

Bene Dion Rajagukguk sebagai sutradara tentu saja berusaha untuk memberikan yang terbaik di atas konsepnya yang menarik. Memang, Ghost Writer secara filmnya sendiri bisa menyajikan sesuatu yang masih kategori baik. Filmnya bisa berjalan dengan lumayan lancar di durasinya yang mencapai 97 menit. Tetapi, Ghost Writer seperti berjalan dengan eksekusi yang masih bermain aman. Dengan premis yang sebesar itu, Ghost Writer harusnya masih bisa untuk dikembangkan lebih dalam lagi.

 
Ghost Writer, secara arti sebenarnya mungkin bisa diartikan sebagai seseorang yang membantu para penulis ketika menuliskan karyanya. Tetapi, Ghost Writer di dalam film ini diartikan secara harafiah tetapi dengan fungsi yang sama. Iya, hantu yang membantu seorang penulis bernama Naya (Tatjana Saphira) yang sedang menulis buku barunya. Awal pertemuannya terjadi ketika Naya baru pindah ke rumah kontrakan baru yang lebih murah karena sudah tak sanggup lagi membayar biasa yang makin mahal.

Naya hanya tinggal berdua dengan adik laki-lakinya, Darto (Endy Arfian). Di rumah kontrakan barunya inilah, dia menemukan sebuah buku harian milik seorang laki-laki bernama Galih (Ge Pamungkas). Ternyata, dia adalah bekas penghuni rumah ini yang sudah lama meninggal karena bunuh diri. Saat Naya memegang buku harian itu, Dia bisa melihat Galih. Dia pun meminta izin untuk menuliskan ulang cerita Galih untuk novel terbarunya nanti. Galih setuju dan membantu Naya menyelesaikan novelnya.


Setelah itu, penonton akan dibawa dalam pengalaman unik Naya saat menuliskan novelnya bersama Galih di dalam film Ghost Writer ini. Menarik sebenarnya, mengetahui setiap interaksi antara Naya dan Galih di dalam film ini. Melihat bagaimana seorang karakter hantu yang biasa dikenal sebagai sosok yang seram bisa berinteraksi. Bahkan, karakter hantu ini pun bisa menjadi sebuah comic relief yang bisa membuat penontonnya tertawa.

Ya, pemilihan karakternya juga sudah cocok, Ge Pamungkas sebagai hantu Galih bisa mengeluarkan comic reliefsecara alami. Kalau menurut salah satu dialog dari Galih, di sini karakter hantunya gak ada wibawanya sama sekali, secara tak langsung menggambarkan momen horor di filmnya. Sebagai kolaborasi dari dua genre, momen horor di film ini tak ditampilkan dengan kuat. Gak ada momen yang bikin merinding, bahkan komedinya pun beberapa masih tak tepat sasaran.


Inilah yang membuat Ghost Writeryang secara premis dan konsep bisa menjadi presentasi yang menjanjikan, malah berada dalam presentasi yang generik. Karakter Naya dan Galih bisa memiliki interaksi yang lebih dalam lagi. Mungkin terbatasnya durasi sehingga membuat kurangnya ruang untuk eksplor dan bergerak lagi. Sehingga, beberapa konfliknya pun masih belum bisa tersampaikan dengan lebih maksimal dan bahkan terasa tumpang tindih.

Memang, konflik utama dari film ini adalah interaksi antara Naya dan Galih. Tetapi Naya sebagai karakter utama memiliki banyak konflik dengan karakter pendukungnya. Mulai dengan adiknya hingga pasangannya tetapi setiap konfliknya hanya sebagai pelengkap saja. Bahkan, ada sedikit inkosistensi dalam memberikan peraturan saat ingin bertemu dengan sang hantu. Pengarahan dari Bene Dion Rajagukguk tak bisa memberikan penegasan untuk hal tersebut. 

Hal ini cukup berdampak saat penyampaian konflik utamanya. Sehingga, penonton baru saja sadar hal itu di babak terakhir filmnya. Hal-hal kecil inilah yang perlu untuk dieksplorasi lagi karena secara tak langsung membuat penonton tak bisa menaruh simpati lebih kepada setiap karakternya. Padahal masih ada cukup ruang dan cela untuk konfliknya berkembang lagi. Beruntung, Ghost Writermasih memiliki cukup amunisi di babak ketiga filmnya.


Ada nilai keluarga yang cukup membuat hati hangat untuk penonton filmnya. Iya, Ghost Writer rasanya baru terasa mengalami tanjakan konflik di bagian 30 menit terakhir. Mungkin, Bene Dion berusaha untuk menutupi bagian ini dan mengorbankan satu jam sebelumnya yang menahan emosi di beberapa adegannya. Padahal, jika mau lebih digali lagi, bisa saja impact di adegan 30 menit terakhir ini bisa lebih dalam lagi. Dengan premis yang ditekankan sangat menarik untuk dikulik, Ghost Writersebagai karya debut dari Bene Dion Rajagukguk masih dalam kategori bisa dinikmati. Hanya saja, memang masih banyak ruang untuk eksplorasi lebih lagi.

SINGLE PART 2 (2019) REVIEW: Sudah Waktunya Raditya Dika Eksplorasi Lebih Lagi


Raditya Dika dan karya-karyanya, sebuah polemik yang cukup membagi penontonnya. Ada yang suka, ada yang bukan cup of tea-nya. Meski begitu, beberapa filmnya masih saja laris manis. Setidaknya, ratusan ribu penonton pun masih bisa dikantongi. Bila ingat dengan kolaborasinya pertama kali dengan Soraya Intercine Films, pasti tahu dengan film Single. Film ketiga dari raditya dika yang dia tangani sendiri dalam penyutradaraannya.

Ada beberapa benchmark yang berusaha ditetapkan oleh Raditya Dika saat menangani Single ini. Menjadi salah satu karya terbaik dari Raditya Dika oleh beberapa orang, mulai dari pengarahan dan secara looks yang mewah berkat Soraya Intercine Films. Pun, kala itu, Single menjadi film kedua terlaris di tahun 2015 dan mendapatkan satu juta penonton. Angka yang lumayan prestige kala itu, sebelum angka penonton film Indonesia semakin membesar di beberapa tahun terakhir.

Munculnya Single Part 2 –yang cukup mendadak –ini tentu sedikit mengagetkan beberapa pecinta film Indonesia. Tanpa adanya gaung, Single Part 2muncul hanya bermodalkan nama Raditya Dika yang mungkin sudah menjadi brand besar di kalangan publik. Raditya Dika yang sempat menguji dirinya lewat film-film genre thriller, sedang berusaha kembali ke akarnya. Menangani kisah seorang insan manusia yang hidupnya hampa tanpa cinta dan tak ada pasangan.


Iya, tema seperti ini sudah menjadi ciri khas dari kisah yang dibuat oleh Raditya Dika. Tak hanya dalam materi filmnya, tetapi juga materi buku dan stand up comedy-nya. Sehingga, tak salah apabila calon penonton sedikit berharap dengan sekuelnya ini. Apalagi, film pertamanya pun memberikan pengalaman menonton yang seru. Sayangnya, meski berada di tema yang sama, bahkan dalam formula yang sama, Single Part 2 tak bisa mengeluarkan kekuatan yang sama.

Raditya Dika mungkin sadar akan hal itu dengan memberikan metajokes ke dalam naskah film Single Part 2. Problematika membahas hal yang itu-itu saja tanpa ada perkembangan ini dijadikan sebagai salah satu konfliknya adalah cara Raditya Dika menyadari kesalahannya. Tetapi, Single Part 2 pun bermain aman sehingga penonton akan merasakan keresahan yang sama dengan yang dialami oleh Raditya Dika itu sendiri.


Single Part 2 tenu saja masih berkutat di dunia Ebi dan masalah perjodohannya. Setelah bertemu dengan Angel (Annisa Rawles) di film pertamanya, ternyata tak membuat mereka berdua saling mengikat komitmen. Iya, Ebi yang umurnya sebentar lagi mencapai 30 tahun bahkan masih belum bisa mengatakan kalau dia sayang sama Angel. Ya tentu saja, Angel keburu pergi meninggalkan Ebi sendiri untuk melanjutkan sekolahnya di Bali.

Tetapi, Ebi gak sendiri banget karena masih ada dua temannya yang masih nemenin dia. Di sini lah, Ebi berusaha untuk mengasah kemampuannya berbicara dengan lawan jenis karena itu adalah kelemahannya. Tetapi, ketika dia memutuskan untuk berani mengungkapkan perasaan ke Angel, Ebi terlambat. Angel sudah ada yang mendekati dan membuat Ebi patah hati. Tetapi, tentu saja perjuangan cinta Ebi gak berhenti sampai di sini.


Iya, penonton sekali lagi mengikuti kisah Raditya Dika berpetualang mencari cinta sejati. Dengan segala upayanya keluar dari zona nyaman di dua film sebelumnya, ada rasa rindu dengan film Raditya Dika yang seperti ini. Awkward romantic comedy dengan jokes yang mungkin terinfluensi oleh film karya milik Judd Apatow. Tetapi, ternyata Single Part 2 bukan sepenuhnya menjawab kerinduan atas karya-karyanya itu.

Bukan berarti Single Part 2ini buruk, masih jauh dari kata itu. Hanya saja, penuturannya terlalu panjang apalagi durasinya yang mencapai 128 menit. Semuanya terasa berputar-putar sendiri dengan kurangnya penggalian motivasi dan konflik yang benar. Kurang ada letupan yang berarti untuk mempertajam konflik utamanya. Raditya Dika dalam naskahnya –yang dibantu oleh Sunil Soraya dan Donny Dhirgantoro –ini malah sibuk membuat konflik baru.

Tak bisa dipungkiri, adegan opening dari Single Part 2 yang melibatkan obrolan via Skype oleh Ebi dan Angel ini adalah bagian terbaik dari filmnya. Rasa manis-manis canggung yang tergambarkan dengan baik, didukung dengan tata kamera yang mempermanis suasananya. Tetapi, perjalanan Ebi mencari cinta sejati ini mengalami jalan terjal. Meskipun masih ada beberapa momen manis, lucu pun juga ada, tetapi tak selepas film pertamanya.


Setidaknya kita masih disuguhi permainan kamera yang indah di dalam film Single Part 2. Bisa memancarkan suasana moody tetapi hangat khas Soraya Intercine Films. Meskipun, filmnya tak terlihat semewah film pertamanya. Tetapi, set dan sinematografinya masih saja dikemas cantik. Poin plus lainnya ada di dalam jajaran soundtrackfilmnya. Lagu Kunci Hati milik Geisha akan dengan mudah membuat penonton jatuh hati serta ada lagu lain yang tampil pas dan mendukung adegannya.

Tentu saja, Single Part 2ini pengingat penontonnya bahwa Annisa Rawles butuh menjadi wajah segar di perfilman Indonesia. Bukan hanya paras cantiknya saja, tetapi performanya cukup membuat film ini menjadi manis.


Tetapi memang, masih banyak catatan bagi Raditya Dika saat membuat film. Bukan hanya dalam mengemas film dengan tema yang serupa ini saja, tetapi di karya-karya lainnya nanti. Raditya Dika butuh banyak lagi referensi agar karyanya bisa digali lebih dalam lagi, apalagi dalam penuturan konfliknya. Single Part 2 ini buktinya bahwa Raditya Dika butuh eksplorasi agar penontonnya tak  merasakan petualangan cinta Radit dengan jalur yang sama lagi.

14 Film Indonesia Pilihan Tahun 2018 versi Arul's Movie Review Blog


2018 menjadi tahun yang menyenangkan bagi perfilman Indonesia. Beberapa film Indonesia bisa mendapatkan raihan yang minimal berada di satu juta penonton. Tak hanya itu, mulai adanya genre yang semakin beragam di perfilman kita. Meskipun, lagi-lagi genre horor menjadi salah satu yang masih digandrungi oleh penonton-penonton kita. Tetapi, setidaknya ada yang kembali di perfilman Indonesia yaitu kembalinya film untuk anak-anak lewat Kulari ke Pantai, Koki-Koki Cilik dan Petualangan Menangkap Petir. 

Hingga sebuah film science fiction yang berbeda lewat film kecil berjudul Tengkorak hasil sineas kota Yogyakarta. 2018 ini menjadi tahun yang sulit bagi perfilman Indonesia karena beberapa film yang dirilis hanya ada beberapa film yang akan membekas di hati dan benar-benar solid. Dan akhirnya, saya sebagai penulis di blog ini, memilih 15 film Indonesia yang menjadi pilihan untuk Arul’s Movie Review Blog.

Mari dimulai dengan film-film yang mendapatkan mention khusus dan hampir saja masuk ke dalam 15 besar. Beberapa film ini setidaknya menjadi film-film Indonesia dengan kemasan yang solid dalam penuturan kisahnya Mereka adalah:

- Ananta (Dir. Rizki Balki/MD Pictures)

- Dear Nathan Hello Salma (Dir. Indra Gunawan/Rapi Films)

- Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara (Dir. Ray Nayoan/Drelin Amagra Pictures)

- Something in Between (Dir. Asep Kusdinar/Screenplay Films)

- Kafir: Bersekutu Dengan Setan (Dir. Azhar Kinoi Lubis/Starvision Films)

- Yowis Ben (Dir. Fajar Nugros & Bayu Skak/Starvision Films)

- Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (Dir. Anggy Umbara & Rocky Soraya/Soraya Intercine Films)

Dan masuklah kita pada 14 film pilihan dari Arul’s Movie Review Blog, ini dia listnya:


14. Menunggu Pagi (Dir. Teddy Soeriaatmadja/IFI Sinema)
Mungkin film ini menjadi film dengan resepsi yang mixed. Tetapi, meski layaknya sebuah after movie dari event DWP, tetapi Menunggu Pagi punya vibe yang asyik untuk diikuti. Seperti sebuah rendisi ulang dari Nick and Norah: Infinite Playlist, tetapi dengan caranya sendiri. Seru kok.


13. 22 Menit (Dir. Eugene Panji & Myrna Paramita/Button Ijo)
Seru juga ternyata kalau film Indonesia punya genre baru dalam filmnya. Dengan segala sudut pandang dalam ceritanya, 22 Menit masih menjadi sebuah action thriller dengan alur maju mundur yang menarik untuk diikuti. Editingnya juga bagus.


12. Belok Kanan, Barcelona (Dir. Guntur Soeharjanto/Starvision Films-CJ Entertainment)
Lupakan saja subplot religi yang tiba-tiba masuk dan menganggu performa film ini secara keseluruhan. Tetapi, chemistry keempat pemainnya tidak bisa dilupakan begitu saja. Apalagi ketika Anggika Bolsterli dan Deva Mahenra sedang tampil.


11. Rompis(Dir. Monty Tiwa/MNC Pictures)
Film ini muncul dan tampil secara mengejutkan. Di tengah film-film romansa remaja, Rompis -yang diangkat dari kisah sinetron -berhasil dikemas dengan manis oleh Monty Tiwa. Bahkan, bisa dinikmati oleh orang-orang yang tak pernah mengikuti sinetronnya.


10. Eiffel I’m In Love 2 (Dir. Rizal Mantovani/Soraya Intercine Films)
Mengikuti AADC 2, kisah Adit dan Tita pun ikut kembali di layar perak lewat Eiffel I’m In Love 2. Karakternya masih sama, rasa nostalgianya juga masih ada. Tetapi, film ini berkembang, dari segi konflik cerita dan juga karakternya. Warna pastel serta musik di film ini juga dibuat sangat manis. Pas dengan atmosfirnya.



9. The Night Comes For Us (Dir. Timo Tjahjanto/Netflix)
Ini adalah film pertama dari Indonesia yang dirilis langsung dalam format layanan streaming, Netflix. Film dari Timo Tjahjanto ini tak bisa dipungkiri punya tata teknis yang sangat baik. Action sequences-nya pun bisa bikin penontonnya berdecak kagum. Meski, beberapa penuturannya masih bisa lebih maksimal lagi.



8. Milly & Mamet: Ini Bukan Cinta dan Rangga (Dir. Ernest Prakasa/Starvision Films) 
Keduanya memiliki penuturan kisah dramanya yang menarik.
Dari kisah Ada Apa Dengan Cinta? lainnya, Milly & Mamet hadir sebagai film companion yang diarahkan oleh Ernest Prakasa dengan caranya yang menyenangkan persis dengan karakternya. Tak hanya berperan sebagai pendamping AADC, film ini juga berhasil menjadi refleksi tentang kehidupan berpasangan.


Hoax (Dir. Ifa Isfansyah/Indy Pictures-Fourcolours Films)
Film dari Ifa Isfansyah yang seharusnya memiliki judul Rumah dan Musim Hujan dan rilis 2013 ini akhirnya dirilis secara resmi tahun ini. Versi 2018 ini berjudul Hoax dan ada beberapa adegan dalam editingnya yang dibuat berbeda. Tetapi, menyaksikan Hoax memiliki sensasinya sendiri hingga di akhir film yang membuat judul filmnya jadi lebih relevan.



7. Kulari Ke Pantai (Dir. Riri Riza/Miles Films)
Riri Riza kembali mengarahkan sebuah film anak-anak. Kulari Ke Pantai milik Riri Riza ini tak hanya sebagai film anak-anak saja, tetapi juga sebagai kritikan sosial tentang beberapa isu. Meskipun, film sebagai film anak-anak film ini akan susah untuk segmentasinya.


6. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (Dir. Angga Dwimas Sasongko/Lifelike Pictures-20th Century Fox)
Film ini adalah puncak dari pencapaian teknis yang pernah dilakukan oleh film-film Indonesia sekaligus kembalinya genre superhero di film kita. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut 212 ini punya bangunan dunia yang sangat meyakinkan dan Vino G. Bastian sangat sableng memainkan Wiro Sableng. Tak sabar untuk film selanjutnya, semoga bisa dapat jumlah penonton yang lebih baik.


5. Sebelum Iblis Menjemput (Dir. Timo Tjahjanto/SkyMedia Films)
Film Timo Tjahjanto masuk lagi ke dalam daftar film pilihan tahun ini. Sebelum Iblis Menjemput ini menjadi puncak dari pengarahan dari Timo Tjahjanto yang lebih detil. Dia berhasil menggabungkan beberapa referensi horor di dalam filmnya. Chelsea Islan dan Pevita Pearce naik kelas!


4. #TemanTapiMenikah (Dir. Rako Prijanto/Falcon Pictures)
Adaptasi dari buku dengan judul yang sama ini berhasil dikemas oleh Rako Prijanto menjadi sebuah film cinta-cintaan remaja yang manis tetapi terasa berbeda dengan film-film remaja Indonesia yang ada. Meski ceritanya klise, tetapi Rako berhasil membuat filmnya terasa berbeda. Tata kamera dan penyuntingan gambarnya juara!


3. Aruna dan Lidahnya (Dir. Edwin/Palari Films)
Edwin kembali hadir dengan film adaptasi dari buku Laksmi Simanjuntak ini. Lewat film ini, Edwin berusaha untuk berdamai dengan ambisinya yang biasa memberikan plot yang lebih simbolik. Meski tetap ada permainan simbol di dalam film ini, tetapi Aruna dan Lidahnya punya kisah cinta dewasa yang meyakinkan. Keempat bintangnya chemistry-nya kuat sekali!


2. Love for Sale (Dir. Andibachtiar Yusuf/Visinema Pictures)
Sebagian orang mungkin akan menaruh film ini sebagai film terbaik tahun ini. Ya, Love For Sale sebagai sebuah kisah cinta dewasa berhasil memberikan nafas segar di perfilman Indonesia. Performa Gading Marten di film ini memang sangat baik, apalagi ketika berinteraksi dengan Della Dartyan. Film cinta ini bikin nyesek abis!


1. Sekala Niskala (Dir. Kamila Andini/Fourcolours Films)
Membuat sebuah film dengan dasar seni itu memang susah. Sekala Niskala ini adalah bukti bahwa film arthouse seharusnya tampil dengan cara yang seharusnya. Setiap adegannya menjelaskan tentang kehilangan dengan cara yang simbolik tetapi tampil tak pretensius seperti film-film independen lain yang berusaha tampil lebih pintar. Sekala Niskala menjadi sebuah perjalanan spiritual yang indah dan menguras hati. Pantas untuk berada di puncak film terpilih tahun 2018.

Ini nih, 15 film pilihan dari Arul’s Movie Review Blog tahun 2018. Kalau versi kamu yang mana? Bisa banget buat share di kolom komentar!

ARUNA DAN LIDAHNYA (2018) REVIEW: Sajian Yang Enak Untuk Disantap

Edwin Bersama dengan rumah produksi Palari Films kembali hadir membuat karya keduanya di tahun 2018 ini. Setelah berhasil memberikan sebuah karya kisah cinta remaja dengan sudut pandang yang berbeda lewat Posesif, kini Edwin berusaha mengeksplor dirinya membuat sebuah film adaptasi dari sebuah novel laris di Indonesia. Novel berjudul Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak ini menjadi kanvas baru bagi Edwin untuk menceritakan ceritanya.

Aruna dan Lidahnya mendapatkan jajaran pemain yang tidak bisa dipungkiri secara kualitas. Dari Dian Sastrowardoyo, Nicolas Saputra, Oka Antara, hingga Hannah Al Rashid. Dalam naskahnya pun, Aruna dan Lidahnyamemiliki Titien Wattimena yang secara rekam jejaknya sudah menangani beberapa film dari yang orisinil hingga adaptasi. Dengan banyaknya nama yang tak sembarangan di dalam filmnya, Aruna dan Lidahnya tentu sudah menarik perhatian golongan yang sudah terliterasi tentang film.

Aruna dan Lidahnya memiliki kompleksitas yang cukup rumit dalam bentuk tulisan. Banyak hal yang berusaha untuk diceritakan di dalam satu plot cerita utuh mulai tentang makanan, perjalanan diri, romansa, hingga politik. Dengan banyaknya muatan ceritanya ini, Edwin tahu bagaimana mengemas semuanya menjadi sebuah film komedi romantis yang ringan, segar, dan tetap memiliki signature penyutradaraan dari Edwin sendiri.


Aruna dan Lidahnya sebagai sebuah film bisa menjadi kanvas bagi Edwin untuk mengeksplorasi dirinya dan berkompromi dengan apa yang biasa dia lakukan di dalamnya. Lewat Aruna dan Lidahnya, Edwin berusaha keras untuk keluar dari zona nyamannya yang terbiasa membuat film yang lebih subtle, punya struktur unik, dan permainan simbol yang lebih kentara. Aruna dan Lidahnya tentu akan sangat berbeda dengan beberapa film Edwin sebelumnya, bahkan dengan Posesif.

Keambisiusan dalam setiap karyanya terasa berkurang pretensinya di dalam film Aruna dan Lidahnya. Sehingga, terasa betul bahwa Edwin sedang berusaha untuk membuat sebuah film komedi romantis yang lebih populer penyampaiannya meskipun secara plot cerita tetap terasa menjadi tontonan yang alternatif dibanding dengan beberapa film serupa. Belum lagi, Aruna dan Lidahnyamenggunakan breaking the fourth wall ini terasa unik dalam menceritakan ceritanya.


Hasilnya, penonton mungkin akan terasa dekat dengan karakter-karakter Aruna dan Lidahnya yang sedang berusaha menceritakan kisah mereka. Menceritakan tentang sosok Aruna (Dian Sastrowardoyo), seorang ahli wabah yang sedang melakukan investigasi. Aruna diutus untuk melakukan investigasi tentang flu burung yang menyebar di keempat kota berbeda di Indonesia. Dalam perjalanannya melakukan investigasi, Aruna mengajak temannya Bono (Nicholas Saputra) untuk sekalian melakukan kulineran di kota-kota tersebut.

Di dalam perjalanannya melakukan investigasi di hari pertama, Aruna baru tahu bahwa dia sudah ditunggu oleh Farish (Oka Antara) yang sedang melakukan supervisi dalam investigasinya. Keberadaan Farish dalam perjalanan investigasinya ini tentu saja membuat Aruna sedikit tidak fokus karena Aruna sempat naksir Farish diam-diam. Setelah melakukan berbagai investigasi, Aruna menemukan kejanggalan dalam wabah flu burung yang sedang menyebar tersebut.


Aruna dan Lidahnya tak hanya melakukan perjalanan investigasi tentang wabah flu burung di dalam filmnya tetapi juga menceritakan perjalanan spiritual Aruna yang sedang mencari tahu tentang dirinya. Seperti dalam judulnya, perjalanan spiritual itu tergambarkan dengan lidah Aruna yang selama perjalanan investigasi juga merasakan berbagai macam makanan yang berbeda. Edwin mentranslasikan itu dalam beberapa adegan di dalam filmnya baik lewat adegan utama dalam filmnya hingga adegan pendukung yang membutuhkan keaktifan penonton dalam mengartikan maknanya.

Edwin tetap berusaha memberikan kekhasan dalam penuturan ceritanya sehingga pesannya memang muncul secara implisit. Tetapi, hal itu tidak menganggu bagaimana Aruna dan Lidahnya tetaplah sebuah film populer yang dinikmati siapa saja. Hanya saja, dengan kekhasan dari Edwin akan membuat film ini nantinya tetap menjadi bahan perbincangan dan diskusi setelah menonton. Ada peletakan penyampaian pesan secara simbolik yang unik dan menarik untuk mendukung adegan dan dialog yang ditulis oleh Titien Wattimena.

Edwin tahu kapabilitasnya untuk mengemas Aruna dan Lidahnya yang memiliki banyak cabang cerita ini dengan bereksplorasi dalam ranah komedi romantis. Sehingga, kisah-kisah yang lebih mendapatkan sorotan adalah bagaimana hubungan antara keempat karakter yang ada di dalam filmnya. Sayangnya, hal ini juga yang membuat Aruna dan Lidahnya mungkin tak bisa menceritakan secara maksimal akar cerita dan permasalahannya dengan baik.


Ada banyak cabang cerita yang sebenarnya menjadi inti cerita di dalam filmnya menjadi tidak tersampaikan dengan baik. Kisah politik hingga perjalanan dirinya belum memiliki eksplorasi yang pas sehingga ketika cabang cerita itu berusaha diselesaikan tidak ada dampak apapun bagi penontonnya. Untungnya, kelemahan dalam bercerita di beberapa cabang cerita itu diperbaiki oleh Edwin dengan membangun chemistry yang kuat di antara 4 karakternya.

Dian Sastrowardoyo berhasil melepaskan citranya sebagai sosok Cinta dengan menjadi sosok Aruna yang lepas dan berbeda dari biasanya. Dian berhasil memainkan ekspresi wajahnya sehingga bisa membuat penonton ikut merasa gemas. Begitulah dengan Nicholas Saputra yang membangun chemistry dengan mudah Bersama Dian Sastrowardoyo meskipun tidak sebagai pasangan. Begitu pula yang terjadi dengan Oka Antara dan Hannah Al Rashid sehingga kekuatan Aruna dan Lidahnya adalah interaksi karakternya yang manis dan dinamis.


Dengan pengambilan gambar ke makanan yang terlihat eksotis ini, Aruna dan Lidahnya berhasil membuktikan dirinya sebagai sebuah film tentang kuliner yang menggoda lidah. Diperkuat dengan interaksi karakter yang manis dan pemilihan lagu daur ulang dengan nuansa 90an yang cantik, Aruna dan Lidahnya memang tak sempurna dalam presentasinya. Hanya saja, sebagai sebuah film Indonesia tahun ini, Aruna dan Lidahnya bisa menjadi sajian yang segar dan solid. Sedikit overcooked tetapi masih enak untuk disantap!

TARGET (2018) REVIEW : Uji Coba Kedua Raditya Dika di Luar Zona Nyaman


Raditya Dika bisa dikategorikan berhasil keluar dari zona nyamannya dalam membuat sebuah film lewat film Hangout. Hal ini terbukti lewat raihan penonton Hangoutyang mencapai 2,7 penonton. Dengan rekam jejak seperti ini, tentu saja Raditya Dika akan dipercaya untuk menangani hal-hal serupa untuk proyek selanjutnya. Bersama dengan Soraya Intercine Films, Raditya Dika membuat sebuah proyek dengan genre film yang hampir sama.

Bukan kali pertama pula Raditya Dika bekerjasama dengan Soraya Intercine Films. Proyek terbarunya berjudul Targetini adalah kerjasama ketiga kalinya setelah Single dan The Guys. Target ini disutradarai dan ditulis juga oleh Raditya Dika dengan bintang-bintang yang bertaburan. Mulai dari Willy Dozan hingga Ria Ricis, Targetmembuktikan bahwa film ini tak dikerjakan dengan sembarangan. Raditya Dika ingin sekali membuat Target mencapai semua kalangan usia sebagai penontonnya.

Dengan konsep yang hampir serupa dengan Hangout, penonton mungkin akan merasa skeptis dengan performa Target. Terlebih bagi mereka yang tak begitu menyukai pengarahan Raditya Dika dalam film Hangout. Sayangnya, skeptis penonton mungkin akan berakhir benar terhadap performa Target kali ini. Bagi penonton yang tak terlalu menyukai film Hangout, karya Raditya Dika terbaru ini mungkin harus segera dihindari karena Target tak bisa mengenai target yang ingin dibidik oleh Raditya Dika.


Dengan konsep serupa, ternyata Raditya Dika tak bisa mencoba lagi peruntungannya. Sebagai sebuah film dengan kombinasi genre thriller dan komedi, Target mencapai tujuan dari kedua genre tersebut. Sebagai sebuah film komedi, film ini memiliki amunisi tawa yang sangat minimalis. Hanya senyum kecil di beberapa bagian yang akan menghiasi raut muka penontonnya. Sebagai sebuah film thriller, film ini pun tak bisa menjaga intensitas misterinya dengan baik.

Kesalahan utama dari film Targettentu dari penulisan dan pengarahan yang tak diperhatikan betul oleh Raditya Dika. Sehingga, film Target ini benar-benar terasa sangat terburu-buru untuk tayang di slot film rilis Lebaran untuk memancing jumlah penonton yang cukup besar. Konsep menarik Raditya Dika dalam film Hangout sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi sebuah film dengan performa yang solid. Sayangnya, Target tak memenuhi ekspektasi konsepnya yang sudah besar tersebut.


Film Target sendiri menceritakan tentang para artis yang berperan sebagai dirinya sendiri. Mulai dari Raditya Dika, Cinta Laura, Rommy Rafael, Samuel Rizal, Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir, Anggika Bolsterli, dan Willy Dozan. Mereka diundang oleh seorang sutradara misterius yang mengirimi mereka sebuah naskah film berjudul Target. Kedelapan artis tersebut memenuhi undangan syuting misterius tersebut di sebuah bangunan kecil yang tersembunyi.

Setelah sampai di tempat dan mengikuti instruksi yang ada di dalamnya, barulah mereka mengetahui apa yang diinginkan oleh sang sutradara misterius tersebut. Mereka ternyata terjebak dalam sebuah permainan yang mengharuskan mereka bertahan hidup. Permainan ini dibuat oleh seorang Game Master dan direkam untuk dijadikan sebuah film. Bagi mereka yang melanggar dan memaksa keluar dari permainan ini akan diganjar oleh hukuman yang setimpal. Oleh karena itu, mereka harus mengikuti setiap permainan hingga selesai.


Konsep yang dimiliki oleh film Targetini sebenarnya sangat menarik untuk diikuti. Punya banyak misteri-misteri yang disebar sehingga penonton akan berpotensi memiliki rasa penasaran hingga akhir film. Target memang berbeda dengan Hangout, bahkan Raditya Dika memiliki kesempatan untuk melantunkan sindiran terhadap film Hangout sendiri. Sarkastik yang dilakukan oleh Raditya Dika ini memang bagus, sayangnya poin menarik film ini hanya ada segelintir saja.

Sisanya, naskah yang ditulis oleh Raditya Dika ini seperti digarap kurang matang. Karakter-karakter di dalam film ini tak memiliki latar belakang cerita yang kuat. Dampaknya, konflik cerita di dalam film Target ini tak bisa tersampaikan dengan baik. Film Target langsung dibuka dan fokus kepada konflik tentang naskah misterius tersebut. Tak ada pengenalan karakter yang berarti lalu film Target sudah sibuk untuk menjelaskan tentang permainan yang dibuat oleh seorang Game Master tersebut.

Raditya Dika seperti terlena dengan bagaimana dirinya mengemas misteri-misteri tersebut dibanding mengenalkan karakter-karakternya. Padahal, di tengah Raditya Dika berusaha untuk menyampaikan misteri tersebut, ada cerita-cerita yang mengusik masa lalu karakternya. Hal ini tentu akan semakin kuat jika Raditya Dika punya tujuan dalam mengembangkan karakternya. Akhirnya, keberadaan setiap karakter di film ini tak memiliki motivasi yang kuat juga akan membuat penontonnya kebingungan.


Meski Raditya Dika terlalu fokus dengan penyebaran misterinya, film Target tak benar-benar diolah dengan pas. Masih ada misteri-misteri yang disampaikan dengan cara yang canggung, sehingga film Target dengan jelas mempertunjukkan lubang-lubang kecil yang menganggu performanya secara keseluruhan. Pengarahan Raditya Dika yang tak sekuat dalam zona nyamannya, inilah yang tak bisa membaurkan karakter dengan konflik-konfliknya. Sehingga, muncul jarak antara keduanya yang membuat film Target tak bisa memiliki performa yang solid.

Beruntungnya, Target masih memiliki warna dan sinematografi yang cocok untuk filmnya. Begitu pula dengan sound editing dan sound mixing filmnya yang dibuat secara detil. Sehingga, film Target masih dapat dikategorikan sebuah film yang layak untuk dinikmati secara kemasan. Meskipun untuk production value dari rumah produksi sekelas Soraya Intercine Films, film Targetbisa dibilang tak seniat biasanya. Tetapi, apa yang ditampilkan cukup bisa mewakili konsep dari filmnya ini sendiri.


Boleh saja bagi Raditya Dika untuk kembali mengeksplor dirinya keluar dari zona nyaman. Tetapi kenyataannya, Raditya Dika belum bisa mengemas konsep genre thriller komedi ini. Targetbisa menjadi bukti bahwa uji coba kedua Raditya Dika di luar genre favoritnya ini ternyata memiliki performa yang semakin menurun dibanding Hangout. Padahal, ada satu adegan romantis di dalam film Target ini akan membuat penggemarnya rindu Raditya Dika menggarap film yang biasa dia buat sebelumnya.