• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label Maret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maret. Tampilkan semua postingan

RAYA AND THE LAST DRAGON (2021) REVIEW: Misi Disney Memberikan Pesan Tentang Perdamaian

Disney kembali berusaha untuk merepresentasikan (baca: mengkapitalisasikan) kebudayaan yang ada di seluruh Dunia lewat karya-karya animasinya. Tujuannya (mungkin) mulia untuk bisa mengenalkan budaya tertentu yang mungkin belum pernah diketahui oleh orang sebelumnya. Sejak Moana yang sangat menitikberatkan nilai-nilai luhur budaya Polynesian di dalam filmnya. Mungkin belum seutuhnya benar dalam memberikan representasi, tapi Disney memiliki arah ke sana.

Kali ini, Disney menghadirkan kisah yang diambil dari kultur budaya Asia Tenggara. Bukan mewakili salah satu negara, tapi berusaha untuk menggabungkan budaya dari negara-negara tersebut.


Raya and The Last Dragon disutradarai oleh Don Hall yang pernah menggawangi Big Hero 6 yang juga mengangkat sedikit kultur asia. Serta, ada pula Carlos Lopez Estrada, sutradara yang pernah melahirkan kisah hebat dan penting dalam debutnya lewat film Blindspotting. Film ini juga dimeriahkan oleh pengisi suara dengan nama-nama besar seperti Awkwafina, Kelly Marie Tran, Gemma Chan, Benedict Wong, hingga Sandra Oh.


Usaha Disney untuk bisa memberikan sentuhan berbeda dalam karakter-karakter Princess Disney sudah ada sejak kemunculan Tangled. Di mana karakter perempuannya mulai sedikit mendominasi dan bisa mengambil keputusannya sendiri. Hal ini berkembang hingga titiknya adalah dalam film Moana di mana tak ada sedikit pun mengulik tentang problematika cinta dalam filmnya. Raya and The Last Dragon juga memiliki hal serupa di dalam filmnya. Fokus tentang bagaimana perempuan bisa menyelamatkan dunianya.



Begitulah yang terjadi dalam konflik yang diangkat di dalam film ini. Negara Kumandra yang ditinggali oleh Raya (Kelly Marie Tran) ini tak lagi bersatu. Negara Kumandra yang terdiri dari Heart, Tail, Fang, Talon,  dan Spine ini terpecah karena Dragon Gem yang disimpan di tempat milik Heart. Maka dari itu, untuk mengilangkan kebencian yang selama ini terjadi, Chief Benja (Daniel Dae Kim), ayah Raya, berusaha untuk mempersatukan kaum-kaum ini sehingga Kumandra menjadi satu lagi.


Tetapi yang terjadi malah terjadi pengkhianatan. Dragon Gem ini terpecah menjadi beberapa bagian yang disimpan oleh setiap kaum di dalam Kumandra. Hal ini mengakibatkan Druun datang kembali menyerang manusia dan mengubahnya menjadi batu. Hingga 6 tahun kemudian semenjak konflik ini berlangsung, Raya berusaha untuk menemukan kembali Naga terakhir untuk membantunya mengumpulkan kembali Dragon Gem yang terpecah dan membuat negara Kumandra bersatu kembali. Tetapi, yang terpenting bagi Raya adalah mengembalikan kembali sang Ayah yang terkena serangan Druun.



Kisah yang diangkat oleh Raya and The Last Dragon ini memang sangat khas Disney. Pernah dipakai oleh kisah-kisah Disney yang lain. Jadi, meskipun Raya and The Last Dragon ini tak diadaptasi dari kisah yang ada, tapi bukan berarti film ini sepenuhnya orisinil. Meski begitu, di kisahnya yang formulaik ini, Raya and The Last Dragon berhasil menjadi sebuah tontonan yang menarik untuk diikuti hingga akhir. Raya and The Last Dragon menjadi entry film animasi Disney yang ditangani dengan matang sehingga hasilnya pun solid.


Segala penuturan kisahnya berjalan lancar dengan berbagai filosofi tentang persatuan dalam perbedaan yang berusaha disematkan di dalam berjalannya plot di film ini. Pun, tetap diselingi dengan guyonan segar yang dengan Mudah membuat penontonnya tertawa. Inilah yang penting dalam Raya and The Last Dragon. Di mana kisahnya yang familiar ini berhasil dituturkan lagi dengan baik oleh Don Hall dan Carlos Lopez Estrada. Sehingga, mengikuti perjalanan Raya di 100 menitnya untuk mengumpulkan dragon gem di berbagai tempat ini akan terasa sangat mengasyikkan dan seru untuk dinikmati bagi penonton di semua kalangan usia.


Selain bagaimana penuturan kisah dan bagaimana kedua sutradara di film animasi ini berkolaborasi hingga menjadi harmoni, ada beberapa pesan simbolik lain yang berusaha disampaikan di dalam filmnya. ‘Misi penyelamatan dunia’ yang diangkat di film ini bukanlah usaha untuk memenuhi ego seseorang saja. Tetapi, dunia yang ditempati oleh banyak orang ini juga perlu usaha dari orang-orang lain dengan tujuan yang sama agar bisa ditinggali dengan damai.



Maka dari itu, kelima karakter yang ada di dalam film ini dan membantu Raya seakan memberikan pengertian tentang lintas generasi yang memiliki tujuan yang sama. Dari Raya, Namaari, Boun, Tong, hingga Noi adalah perwakilan dari setiap generasi dari Boomer hingga Gen Z. Seakan memberikan pengertian kepada penontonnya bahwa apabila setiap generasi memiliki tujuan yang sama tanpa adanya perasaan superior dibanding yang lain, sepertinya dunia akan lebih tentram. Begitu pula Druun yang menggambarkan tentang kebencian di dunia yang lahir dari manusia yang saling terpecah belah dan acuh atas satu sama lain. Memberikan pesan bahwa Druun yang mengubah manusia menjadi batu ini adalah hati mereka yang sudah sekeras batu dan mementingkan ego pribadi masing-masing.


Pun, setiap karakternya juga memiliki keberagaman dalam gender bahkan elemen dalam Dunia. Tak hanya manusia saja yang hadir sebagai makhluk hidup, tapi juga ada makhluk-makhluk lain yang sesungguhnya bisa hidup secara harmoni.


Pesan tentang perdamaian, tentang menjadi satu, adalah misi Raya and The Last Dragon dalam konfliknya. Semua elemen harus bisa berjalan beriringan dan saling mempercayai satu sama lain seperti kaum-kaum yang ada di film ini sehingga Kumandra bisa kembali Utuh. Pesan penting yang dituturkan secara simbolik ini dirangkum dengan sangat menyenangkan. Meski tidak dapat referensinya secara detil, pesannya pun tetap tersampaikan.



Untuk urusan representasi tentang negara Asia Tenggara di dalam Raya and The Last Dragon, mungkin para kreator menyematkan beberapa unsur dan menggabungkannya menjadi satu. Ini mungkin akan membuat representasinya sedikit kabur. Tapi, setidaknya lewat Raya and The Last Dragon, Disney mulai memunculkan awareness kepada dunia tentang eksistensi dari benua ini. Menjadikannya sebagai jalan pembuka tentang kultur Asia Tenggara lain yang menarik untuk diangkat di dalam film-film lainnya.


Sehingga, dengan segala pesan, kemegahan, dan keseruan dalam Raya and The Last Dragon, membuatnya menjadi salah satu Disney Canon terbaik di beberapa tahun terakhir ini. Bahkan, di antara kisah-kisah Disney Princess (bila mau disebut demikian untuk karakter satu ini) terbaru, Raya and The Last Dragon adalah yang terbaik yang pernah ada. Sebuah modern classic yang sayang untuk dilewatkan begitu saja! Bagus sekali!


US (2019) REVIEW: Social Commentary for America in Peele’s Way


Berhasil mengagetkan banyak pihak termasuk juri-juri Oscars, Jordan Peele dengan debutnya sebagai sutradara dalam Get Out dipuji oleh banyak kalangan. Filmnya pun berhasil menyabet penghargaan Best Original Screenplay di Academy Awards. Tentu, hal ini membuat nama Jordan Peele melambung tinggi dan banyak orang akan berantisipasi dengan karya-karya darinya karena namanya sudah layak diperhitungkan di industri perfilman Hollywood.

Ketika dirinya mengumumkan untuk membuat film baru, banyak orang sudah sangat mawas diri. Us, judul film terbaru dari Jordan Peele yang lagi-lagi kembali mengeksplorasi dirinya lewat genre horor. Setelah Get Out yang tak hanya berperan sebagai sebuah film horor saja tetapi juga sebagai sebuah kritik sosial, tentu akan menarik untuk tahu apa yang coba disampaikan oleh Jordan Peele lewat film keduanya ini. Tentu, film horornya memiliki sesuatu yang unik dan itulah yang dinantikan.

Us film milik Jordan Peele ini dibintangi oleh pemenang Academy Awards, Lupita Nyong’o dan Winston Duke yang pernah bertemu lewat film Black Panther. Us ini tak hanya disutradarai oleh Jordan Peele, tetapi naskah dari film ini pun juga ditulis langsung olehnya. Sehingga, tentu Jordan Peele sudah tahu benar film ini nantinya akan dibawa ke mana. Melihat trailernya yang sudah memiliki nuansa yang seram dan menganggu itu, tentu membuat beberapa orang menantikan film ini.


Us milik Jordan Peele ini berawal dari kisah seorang keluarga yang terdiri dari Adelaide (Lupita Nyong’o), Gabe (Winston Duke) –sebagai sepasang suami istri dengan kedua anaknya –Zora (Shahadi Wright Joseph), dan Jason (Evan Alex). Mereka sedang melakukan liburan musim panas di rumah tepi pantai milik orang tua Adelaide. Liburan mereka pada awalnya terasa tenang dan biasa saja, mereka bahkan tampak bahagia. Tetapi, malapetaka datang tiba-tiba.

Sekelompok orang tiba-tiba berhenti di depan rumah mereka di malam hari. Tentu hal ini membuat mereka semua ketakutan dan penasaran dengan apa yang terjadi. Mereka pun dengan sigap menyerang dan memberikan teror kepada mereka. Hingga ketika sekelompok orang tersebut masuk ke dalam rumah, barulah mereka menyadari ada yang janggal. Sekelompok orang yang menyerang mereka memiliki paras yang sama persis dengan mereka.


Jordan Peele sebagai sosok sutradara horor yang baru saja terjun, tentu memberikan wajah tersendiri untuk genre ini. Horornya bukan horor spiritual yang membahas tentang penampakan-penampakan makhluk astral. Dalam karya-karyanya, Jordan Peele memberikan definisi baru tentang genre horor itu sendiri. Memberikan suatu misteri dengan hal-hal yang tidak pasti dan memaparkan isu tertentu yang bilamana terjadi betul dalam tatanan masyarakat akan benar-benar mengerikan untuk kelangsungannya.

Hal itu sudah terbukti lewat film Get Out dan terjadi lagi dalam film keduanya ini. Film tahun kedua dari Jordan Peele ini sekali membuktikan bahwa film horornya bisa menyampaikan pesan kritik sosialnya tentang tatanan masyarakat di Amerika sana. Mari sebelumnya kita bahas Ussebagai sebuah film horor itu sendiri. Tanpa memahami alegori dan pembahasan lain tentang isu sosialnya, film Usini mampu memberikan teror yang signifikan untuk penontonnya.


Sepanjang filmnya yang mencapai 115 menit, Us mampu memberikan tensi yang luar biasa agar penontonnya terpacu adrenalinnya. Sebagai sebuah tontonan, Us tentu saja bisa dijadikan sebagai medium hiburan yang luar biasa menegangkan dan cocok untuk ditonton ramai-ramai dengan teman yang juga suka film horor. Jordan Peele bisa membangun atmosfir yang menganggu –dalam artian yang baik –kepada penontonnya. Hal ini cocok dengan Us yang memberikan jawaban sedikit demi sedikit dalam filmnya.

Us dibangun dengan misteri yang cukup kuat yang akan membuat penontonnya penasaran. Dengan teror yang dihajar habis-habisan, penonton tentu ingin tahu bagaimana film ini akan mengakhiri filmnya. Meskipun, dalam penuturannya, Jordan Peele tak seratus persen mulus untuk mengantarkan ceritanya. Paruh kedua filmnya menunjukkan bahwa Us memiliki cerita yang terasa ditarik ulur. Tensinya tak lagi dijaga hingga mungkin menimbulkan penentuan adegan yang kurang bijak demi tetap bisa memberikan tensi kepada penontonnya.

Minor kecil itu mungkin akan sedikit membuat Us terasa ditarik ulur apalagi di paruh ketiganya yang lagi-lagi Peele masih belum bisa menutup kisahnya dengan cara yang pas. Beruntungnya, minor-minor itu bisa sedikit tertutupi lewat penampilan Lupita Nyong’o yang luar biasa berkharisma. Memainkan dua karakter dengan dua sifat yang berbeda tetapi bisa membuat penontonnya bersimpati kepada keduanya. Serta, musik dari film ini yang juga tak dibuat dengan main-main dan terasa pas dengan atmosfir filmnya.


Jordan Peele memang memiliki alegori yang cukup besar saat memberikan kritik sosialnya tentang keadaan negara Amerika terhadap warganya. Mungkin, akan ada pertanyaan bagi beberapa orang saat film ini akhirnya selesai. Tetapi, bila saja lebih teliti lagi, Peele sudah menaruh simbol-simbol itu dari awal film. Mulai dari setting tahun, beberapa ayat alkitab, hingga cuplikan kecil tentang keadaan negara yang menjadi sorotan Peele untuk dikritisi.

Ini bukan lagi tentang ras seperti yang dilakukan oleh Peele dalam film Get Out. Ini tentang tatanan sosial masyarakat dan kesejahteraannya karena ulah pemerintahan. Film ini adalah tentang siapa yang berkuasa terhadap satu individu tersebut karena realita yang telah mereka pilih untuk dibentuk di dalam dirinya dan bagaimana hal itu akan berpengaruh terhadap reputasi seorang individu itu sendiri. Kritik sosial seperti ini tentu menjadi sangat menarik dan unik karena ternyata ditemukan lewat sajian film horor milik Jordan Peele.


Mungkin, penonton dengan kondisi sosiokultural dan berada di wilayah yang berbeda membutuhkan kembali riset yang mendalam agar semua nampak lebih jelas. Tetapi, Us ini mungkin akan sangat berarti dan memiliki relevansi terhadap warga Amerika di sana. Get Out masih menjadi karya dari Jordan Peele yang lebih baik karena naskah aslinya yang segar meski pengarahan dan teknisnya film Uslebih menonjol. Tetapi, Us masih sangat menarik untuk ditonton sebagai film horor itu sendiri dan sebagai alat untuk mengkritisi isu sosial di sana.

25 Film Pilihan Tahun 2018 versi Arul’s Movie Review Blog

 
Film-film rilisan tahun 2018 rasanya sudah banyak sekali yang dirilis dan beberapa bioskop sudah berusaha untuk mendatangkannya ke dalam negeri. Tak hanya itu, ada banyak pula film-film rilisan Netflix yang ternyata mencuri perhatian banyak orang. Bahkan, film-film mereka mampu menjadi nominasi Academy Awards tahun ini.

Iya, ini udah Maret 2019, tetapi aku juga pengen dong buat kasih kamu daftar 25 film Terbaik versi Arul’s Movie Review Blog. Tetapi, bisa dibilang list ini agak curang sih, karena di beberapa posisi ada yang benar-benar seimbang dan sayang untuk digeser menurutku. Jadi, mungkin ini lebih dari 25 film kalau dihitung secara total. Mungkin ada beberapa film yang dipuji banyak orang, tetapi malah tak berpengaruh sama sekali buatku. Ya, namanya selera sih dan preferensi orang pasti juga beda-beda. Film-film seperti A Star Is Born, Crazy Rich Asians, Searching, Mission Impossible: Fallout, BlacKkKlansmandan Bohemian Rhapsody ternyata tak bisa merebut hatiku.

Iya, film-film pilihan itu mungkin bahkan sedang dipuja-puja oleh banyak orang. Bukan berarti filmnya tak bagus, tetapi tidak cocok saja dengan diriku yang pemilih ini. Tetapi, sebelum akhirnya masuk ke daftar 25 film terbaik. 6 Film ini setidaknya sempat mencuri hatiku dan ku taruh dalam list honorable mention. Film-film ini adalah:

- Black Panther
- Upgrade
- Mamma Mia: Here We Go Again
- Ant-Man and the Wasp
- Brother of the Year
- Bad Times at the El Royale

Jadi, mari masuk ke dalam daftar 25 Film Pilihan versi Arul’s Movie Review Blog!
 

25. To All The Boys I've Loved Before (Dir. Susan Johnson/Netflix)
Film milik netflix ini diadaptasi dari buku Jenny Han yang ternyata tampil sangat manis. Chemistry Lana Condor dan Noah Centineo berhasil mencuri perhatian, sehingga kisahnya romansanya yang terlihat usang bisa tampil segar.


24. Capernaum (Dir. Nadine Labaki/Mooz Films)
Kisah seorang anak dengan perjuangannya menjalani hidup ini bisa tampil sangat nyata. Arti kata Capernaum yang berarti kekacauan ini berhasil diterjemahkan dengan baik di layar dan dalam kekacauannya, ternyata kisahnya begitu indah dan emosional. 

 
23. The Miseducation of Cameron Post (Dir. Desiree Arkhavan/FilmRise)
Kisah pencarian jati diri Cameron Post di film ini tampil dengan caranya yang tenang tetapi sekaligus menyerap penontonnya untuk sekaligus ikut larut dalam perjalanan Cameron Post yang sedang bingung dengan orientasi seksualnya. 


22. Sekala Niskala (Dir. Kamila Andini/Fourcolors Films)
Kamila Andini berhasil memberikan sebuah film tentang budaya dengan pendekatan seninya yang bisa tampil tanpa ada pretensi apapun. Sebuah perjalanan spritual yang jujur, unik, tetapi memberikan emosi dan nyawanya sendiri.


21. Widows (Dir. Steve McQueen/20th Century Fox)
Mungkin film ini lebih menyoroti drama para janda yang sedang ditinggal suaminya dengan pendekatan heist movie itu. Tetapi, itulah yang membuat film ini menjadi sajian yang menarik. Tensinya hadir lewat dialog dan adegannya yang sangat intens.


20. Leave No Trace (Dir. Debra Granik/Bleecker Street)
Menghadirkan sebuah kisah hubungan ayah dan anak dengan cara yang berbeda. Menghadirkan representasi kelas sosial lain dalam ceritanya dan berusaha mencari arti rumah itu sendiri dalam perjalanan kisahnya. Subtle, powerful, and also heartwarming!


19. Game Night (Dir. John Francis Daley and Jonathan Goldstein/Warner Bros Pictures)
Tak akan ada yang menyangka bahwa film ini ternyata memberikan sebuah performa yang solid. Premisnya menarik, eksekusinya apalagi. Sebuah film komedi asik yang bisa membuat penontonnya menaruh perhatian pada teka-tekinya serta membuat tertawa tanpa henti!


18.1. A Simple Favor (Dir. Paul Feig/Lionsgate) 
18.2. Thoroughbreds (Dir. Cory Finley/Focus Features)

Mereka seimbang, karena bisa menghadirkan sebuah black comedy di tengah plotnya yang serius. A Simple Favor milik Paul Feig bisa memberikan komedinya yang pas saat kisahnya sedang berjalan menuju jalan cerita yang penuh misteri.


Begitu pula dengan Thoroughbreds, yang komedi satirnya bisa berjalan seimbang dengan premisnya dan perkembangan karakternya yang gila.


17. A Quiet Place (Dir. John Krasinski/Universal Pictures)
Karya perdana John Krasinski sebagai sutradara ini ternyata berhasil menjadi sebuah thriller yang bisa memacu jantung penontonnya. Memainkan sebuah tensi di dalam 90 menitnya dengan tenang, perlahan, tetapi pasti. Penonton pun rasanya ikut menahan nafas saat menontonnya.


16. Wreck-It Ralph 2: Ralph Breaks The Internet (Dir. Phil Johnston, Rich Moore/Disney)
Sekuel dari Wreck-It Ralph ini berhasil menjadi sebuah tontonan yang luar biasa imajinatif. Film ini mampu memberikan gambaran tentang dunia digital dengan cara yang pintar, menyenangkan, dan juga memberikan referensi pop culture yang luar biasa melimpah. 


15. Christopher Robin (Dir. Marc Forster/Disney)
Terkadang, film dengan hati yang hangat seperti Christopher Robin ini perlu untuk ditonton. Apalagi bagi mereka yang sedang ingin lari sebentar dari realita dan mengingat masa kecilnya yang bahagia. Itulah, yang membuat Christopher Robin ini terasa spesial sekaligus membuat hati hangat.


14.1. Instant Family (Dir. Sean Anders/Paramount Pictures)
14.2. Green Book (Dir. Peter Farelly/Universal Pictures)
Instant Family menjadi sebuah film keluarga yang tak disangka bakal menghibur sekaligus membuat haru. Hubungan keluarga tanpa darah ini berhasil merebut hati penontonnya dengan segala perjuangannya agar bisa terlihat seperti keluarga normal.


Sama seperti Green Book yang juga berusaha agar hubungan pertemanan berbeda ras ini juga sedang berjuang dengan segala isu rasisme yang masih ada. Kisah dengan isunya yang sensitif itu dikemas dengan narasi yang lebih accesible. Pantas bila menang Best Picture di Oscars tahun ini.


13. Ready Player One (Dir. Steven Spielberg/Warner Bros Pictures)
Jangan ragukan Steven Spielberg dalam membuat sebuah film dengan cinematic experience luar biasa. Adaptasi dari buku Ernest Cline ini mampu memiliki teka-teki yang menyenangkan. Apalagi didukung dengan banyak referensi pop culture di dalam filmnya.


12.1. First Reformed (Dir. Paul Schrader/A24)
12.2. Blindspotting (Dir. Carlos Lopez Estrada/Foley Walkers Studio) 
Blindspotting berhasil membicarakan isu sosial dengan caranya yang stylish sekaligus emosional. Film ini berusaha untuk meyakinkan bahwa tak perlu berusaha menjadi bagian dari satu kaum tertentu, karena bukan malah membuatnya terangkat derajatnya tetapi malah menambahi masalah itu sendiri. 


Begitu pula dengan First Reformed yang berusaha mematahkan generalisasi tentang satu sosok tertentu. Karena pada dasarnya, manusia akan memiliki sebuah kesalahan yang sama satu sama lain.


11.1. Annihiliation (Dir. Alex Garland/Paramount Pictures)

11.2. Spider-Man: Into The Spider-Verse (Dir. Bob Persichetti, Peter Ramsey, Rodney Rothman/ Sony Pictures)
Keduanya bermain dalam ranah fiksi ilmiah yang sama serta memiliki alternate universe yang berusaha mereka angkat. Bila Annihilation menjadikan alternate universe-nya menjadi sajian dengan penuh teka-teki dan interpretasi tentang kebenaran.


Berbeda dengan Spider-Man: Into The Spider-Verse yang membuat alternate universe-nya menjadi sajian yang menyenangkan dan menghibur. Tetapi, keduanya sama-sama cerdas.


10.1. Cold War (Dir. Pawel Pawlikowski/Opus Film-Amazon Studios)

10.2. Can You Ever Forgive Me (Dir. Marielle Heller/Fox Searchlight Pictures)
Keduanya berhasil bermain dalam ranah kisah dengan sudut pandang yang berbeda.
Cold War menjadikan kisah cinta antara kedua insan manusia dengan latar belakang yang berbeda ini menjadi metafora tentang setting kisahnya yang sedang dalam perang dunia dengan sajian yang tragis tetapi manis.


Can You Ever Forgive Me ini bisa bermain dalam kisahnya yang menceritakan sosok kriminal tetapi berhasil menarik simpati dari penontonnya. Bahkan, ikut hanyut dalam kisah jatuh bangunnya dalam membangun karir kriminalnya. Keren!


9.1. Love Simon (Dir. Greg Berlanti/Fox 2000 Pictures)

9.2. Boy Erased (Dir. Joel Edgerton/Focus Features)
Keduanya mengisahkan kisah tentang gay dengan caranya yang berbeda.
Love Simon menyoroti kehidupan remaja gay yang sedang berusaha untuk mengakui dirinya dan menginginkan pasangan layaknya remaja pada umumnya.


Meski tetap dengan tema kisah gay, Boy Erased menyoroti hal lain. Filmnya berusaha menyorot praktek penyembuhan orientasi seksual di sebuah gereja yang ternyata berdampak buruk tanpa mengerdilkan kedua belah pihak yang bertolak belakang ini.


8.1. Eighth Grade (Dir. Bo Burnham/A24)
8.2. Mary Poppins Returns (Dir. Rob Marshall/Disney)
 Eighth Grade memberikan realita tentang kisah pubertas anak perempuan generasi zaman sekarang dan juga interaksinya dengan sebaya. Filmnya terasa jujur dan dalam.


Mary Poppins Returns mengajak kita untuk kembali menjadi sosok anak-anak yang polos dan itulah yang menjadi solusi dalam setiap masalah. Belum lagi, adegan musikalnya elegan dan filmnya sangat berwarna!


7. Incredibles 2 (Dir. Brad Bird/Disney)
Sekuel dari The Incredibles di tahun 2004 ini ternyata masih bisa menjadi sajian yang sangat asyik dan menyenangkan untuk ditonton. Bahkan, memberikan pesan tentang kesetaraan gender dengan cara yang ringan dan bisa diterima oleh semua kalangan.


6.1.  Hereditary (Dir. Ari Aster/A24)
6.2. Burning (Dir. Lee Chang-dong/Pinehouse Films-Now Film-NHK)
Kedua film ini dibalut oleh banyak misteri.
Hereditary memberikan kengerian lewat ketidakpastian penonton menerima informasi dalam filmnya dan membuatnya menerka-nerka apa yang terjadi sehingga asumsi itu menganggu pikiran penontonnya.


Burnng juga melakukan hal yang demikian. Ketidaktahuan penonton akan dibawa mengikuti perjalanan karakter utamanya yang ternyata menuju dalam sebuah misteri yang tak terungkap. Kedua film ini berhasil membuat penontonnya berasumsi sendiri dalam artian positif.


5. Tully (Dir. Jason Reitman/Focus Features)
Kisah seorang Ibu yang mulai lelah menjalani hidupnya ternyata seru untuk dinikmati. Tully menghadirkan realita bahwa perempuan juga ingin menjalani hidupnya dan tanpa harus terbebani oleh masalah domestiknya. Kisahnya menarik sekaligus emosional sekali.


4. Avengers: Infinity War (Dir. Anthony and Joe Russo/Disney)
Russo Brothers berhasil menjadikan Avengers: Infinity War menjadi sajian film manusia super yang super kompleks tetapi tidak terasa berlebihan. Semuanya pas hingga adegan akhirnya yang membuat penontonnya terperangah dan rela menunggu Avengers: Endgame datang untuk menjawabnya.


3. Shoplifters (Dir. Hirokazu Kore-eda/Aoi Pro-Gaga Pictures)
Koreeda berusaha merekonstruksi arti dari keluarga itu sendiri. Keluarga yang tak berjalan dengan semestinya ini berhasil menghangatkan hingga babak akhirnya yang membuat penonton tak sanggup berkata-kata lagi. Sebuah kritik keras tentang pemerintahan dengan kisah keluarga yang menyayat hati.


2.1. The Favourite (Dir. Yorgos Lanthimos/Fox Searchlight Pictures) 
2.2. Roma (Dir. Alfonso Cuaron/Netflix)
Keduanya sama-sama mengisahkan tentang perempuan.
The Favourite menceritakan bagaimana perempuan pun bisa melakukan apa saja demi kekuasaan. Menggunakan laki-laki hanya untuk sebatas melengkapi dirinya saja. Hal yang biasa dilakukan secara sebaliknya. Kemasan komedi unik dari Yorgos Lanthimos semakin menguatkan betapa sinisnya para perempuan terhadap apa yang dilakukan laki-laki.


Roma juga menceritakan tentang perempuan yang pernah jatuh akibat laki-laki. Tetapi mereka mampu berdiri dan saling menguatkan satu sama lain dan memberikan pernyataan bahwa mereka pun masih tetap bisa bertahan hidup seperti biasanya.


1. First Man (Dir. Damien Chazelle/Universal Pictures)
Kisah utamanya memang menyoroti tentang Neil Armstrong yang sedang berusaha untuk menjadi manusia pertama yang datang ke bulan. Tetapi, perjalanannya itu dibuat oleh Damien Chazelle untuk relevan dengan orang yang mengejar mimpinya. Ini adalah kisah tentang perjalanan mengejar mimpi, cinta, dan bahkan kehilangan. Ryan Gosling dan Claire Foy bermain dengan cantik. Adegan akhirnya itu tenang tetapi menyayat hati.

Jadi, ini dia film pilihan di tahun 2018 versi Arul's Movie Review Blog. Kalau pilihan kamu, yang mana nih? Tulis di kolom komentar aja!