• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label Lupita Nyong'o. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lupita Nyong'o. Tampilkan semua postingan

US (2019) REVIEW: Social Commentary for America in Peele’s Way


Berhasil mengagetkan banyak pihak termasuk juri-juri Oscars, Jordan Peele dengan debutnya sebagai sutradara dalam Get Out dipuji oleh banyak kalangan. Filmnya pun berhasil menyabet penghargaan Best Original Screenplay di Academy Awards. Tentu, hal ini membuat nama Jordan Peele melambung tinggi dan banyak orang akan berantisipasi dengan karya-karya darinya karena namanya sudah layak diperhitungkan di industri perfilman Hollywood.

Ketika dirinya mengumumkan untuk membuat film baru, banyak orang sudah sangat mawas diri. Us, judul film terbaru dari Jordan Peele yang lagi-lagi kembali mengeksplorasi dirinya lewat genre horor. Setelah Get Out yang tak hanya berperan sebagai sebuah film horor saja tetapi juga sebagai sebuah kritik sosial, tentu akan menarik untuk tahu apa yang coba disampaikan oleh Jordan Peele lewat film keduanya ini. Tentu, film horornya memiliki sesuatu yang unik dan itulah yang dinantikan.

Us film milik Jordan Peele ini dibintangi oleh pemenang Academy Awards, Lupita Nyong’o dan Winston Duke yang pernah bertemu lewat film Black Panther. Us ini tak hanya disutradarai oleh Jordan Peele, tetapi naskah dari film ini pun juga ditulis langsung olehnya. Sehingga, tentu Jordan Peele sudah tahu benar film ini nantinya akan dibawa ke mana. Melihat trailernya yang sudah memiliki nuansa yang seram dan menganggu itu, tentu membuat beberapa orang menantikan film ini.


Us milik Jordan Peele ini berawal dari kisah seorang keluarga yang terdiri dari Adelaide (Lupita Nyong’o), Gabe (Winston Duke) –sebagai sepasang suami istri dengan kedua anaknya –Zora (Shahadi Wright Joseph), dan Jason (Evan Alex). Mereka sedang melakukan liburan musim panas di rumah tepi pantai milik orang tua Adelaide. Liburan mereka pada awalnya terasa tenang dan biasa saja, mereka bahkan tampak bahagia. Tetapi, malapetaka datang tiba-tiba.

Sekelompok orang tiba-tiba berhenti di depan rumah mereka di malam hari. Tentu hal ini membuat mereka semua ketakutan dan penasaran dengan apa yang terjadi. Mereka pun dengan sigap menyerang dan memberikan teror kepada mereka. Hingga ketika sekelompok orang tersebut masuk ke dalam rumah, barulah mereka menyadari ada yang janggal. Sekelompok orang yang menyerang mereka memiliki paras yang sama persis dengan mereka.


Jordan Peele sebagai sosok sutradara horor yang baru saja terjun, tentu memberikan wajah tersendiri untuk genre ini. Horornya bukan horor spiritual yang membahas tentang penampakan-penampakan makhluk astral. Dalam karya-karyanya, Jordan Peele memberikan definisi baru tentang genre horor itu sendiri. Memberikan suatu misteri dengan hal-hal yang tidak pasti dan memaparkan isu tertentu yang bilamana terjadi betul dalam tatanan masyarakat akan benar-benar mengerikan untuk kelangsungannya.

Hal itu sudah terbukti lewat film Get Out dan terjadi lagi dalam film keduanya ini. Film tahun kedua dari Jordan Peele ini sekali membuktikan bahwa film horornya bisa menyampaikan pesan kritik sosialnya tentang tatanan masyarakat di Amerika sana. Mari sebelumnya kita bahas Ussebagai sebuah film horor itu sendiri. Tanpa memahami alegori dan pembahasan lain tentang isu sosialnya, film Usini mampu memberikan teror yang signifikan untuk penontonnya.


Sepanjang filmnya yang mencapai 115 menit, Us mampu memberikan tensi yang luar biasa agar penontonnya terpacu adrenalinnya. Sebagai sebuah tontonan, Us tentu saja bisa dijadikan sebagai medium hiburan yang luar biasa menegangkan dan cocok untuk ditonton ramai-ramai dengan teman yang juga suka film horor. Jordan Peele bisa membangun atmosfir yang menganggu –dalam artian yang baik –kepada penontonnya. Hal ini cocok dengan Us yang memberikan jawaban sedikit demi sedikit dalam filmnya.

Us dibangun dengan misteri yang cukup kuat yang akan membuat penontonnya penasaran. Dengan teror yang dihajar habis-habisan, penonton tentu ingin tahu bagaimana film ini akan mengakhiri filmnya. Meskipun, dalam penuturannya, Jordan Peele tak seratus persen mulus untuk mengantarkan ceritanya. Paruh kedua filmnya menunjukkan bahwa Us memiliki cerita yang terasa ditarik ulur. Tensinya tak lagi dijaga hingga mungkin menimbulkan penentuan adegan yang kurang bijak demi tetap bisa memberikan tensi kepada penontonnya.

Minor kecil itu mungkin akan sedikit membuat Us terasa ditarik ulur apalagi di paruh ketiganya yang lagi-lagi Peele masih belum bisa menutup kisahnya dengan cara yang pas. Beruntungnya, minor-minor itu bisa sedikit tertutupi lewat penampilan Lupita Nyong’o yang luar biasa berkharisma. Memainkan dua karakter dengan dua sifat yang berbeda tetapi bisa membuat penontonnya bersimpati kepada keduanya. Serta, musik dari film ini yang juga tak dibuat dengan main-main dan terasa pas dengan atmosfir filmnya.


Jordan Peele memang memiliki alegori yang cukup besar saat memberikan kritik sosialnya tentang keadaan negara Amerika terhadap warganya. Mungkin, akan ada pertanyaan bagi beberapa orang saat film ini akhirnya selesai. Tetapi, bila saja lebih teliti lagi, Peele sudah menaruh simbol-simbol itu dari awal film. Mulai dari setting tahun, beberapa ayat alkitab, hingga cuplikan kecil tentang keadaan negara yang menjadi sorotan Peele untuk dikritisi.

Ini bukan lagi tentang ras seperti yang dilakukan oleh Peele dalam film Get Out. Ini tentang tatanan sosial masyarakat dan kesejahteraannya karena ulah pemerintahan. Film ini adalah tentang siapa yang berkuasa terhadap satu individu tersebut karena realita yang telah mereka pilih untuk dibentuk di dalam dirinya dan bagaimana hal itu akan berpengaruh terhadap reputasi seorang individu itu sendiri. Kritik sosial seperti ini tentu menjadi sangat menarik dan unik karena ternyata ditemukan lewat sajian film horor milik Jordan Peele.


Mungkin, penonton dengan kondisi sosiokultural dan berada di wilayah yang berbeda membutuhkan kembali riset yang mendalam agar semua nampak lebih jelas. Tetapi, Us ini mungkin akan sangat berarti dan memiliki relevansi terhadap warga Amerika di sana. Get Out masih menjadi karya dari Jordan Peele yang lebih baik karena naskah aslinya yang segar meski pengarahan dan teknisnya film Uslebih menonjol. Tetapi, Us masih sangat menarik untuk ditonton sebagai film horor itu sendiri dan sebagai alat untuk mengkritisi isu sosial di sana.

BLACK PANTHER (2018) REVIEW : Genre Superhero dan Urgensinya Tentang Representasi dalam Media


Menjajaki fasenya yang semakin dekat dengan akhir dari fase ketiganya, Marvel menawarkan sebuah representasi lain dari sosok manusia super. Berasal dari manusia super yang kedatangannya hanya muncul sebagai cameo di dalam Captain America : Civil War, Black Pantherpada akhirnya dikagumi oleh banyak orang. Tentu, tak sedikit orang yang menginginkan superhero yang masih dalam kategori baru ini memiliki filmnya sendiri.

Maka, untuk menyanggupi kemauan penonton, Black Panther hadir memiliki filmnya sendiri untuk disaksikan oleh banyak orang di dunia. Menggaet sutradara handal yang pernah mengarahkan film-film kecil seperti Fruitvale Station dan Creed, Ryan Coogler. Tentu, Black Panther tak hanya sekedar film yang hadir sebagai kemauan Marvel mengenalkan produk superhero baru dalam ranah sinematik. Tetapi juga sebagai jawaban atas representasi yang ada di dalam film-film serupa di Hollywood.

Minimnya representasi yang tepat atas kaum people of color, menjadikan Black Panther sebagai sebuah mega hit blockbuster yang rilis di bulan Februari dengan pencapaian yang sangat fantastis. Mendulang sukses dalam segi kuantitas ternyata juga berbanding lurus dengan kualitas yang dihasilkan oleh Ryan Coogler di dalam film Black Panther. Film ini mendapatkan pujian yang sangat luar biasa baik dari kritikus maupun dari pencinta film.


Black Panther main tak hanya dalam memuaskan ranah politik minoritas yang menjadi isu terkuat di luar sana. Sejatinya, sebagai sebuah film manusia super, Black Panther benar-benar memberikan sebuah hal yang baru di dalam filmnya. Tak sekedar menunjukkan Black Panther sebagai sosok superheroyang baru, tetapi juga memberikan pendekatan baru dalam kemasannya. Sehingga, Black Panther tentu adalah sebuah euforia bagi pecinta adaptasi komik manusia super sekaligus sebuah pesta representasi yang tepat.

Tak seperti Thor : Ragnarok, Spider-Man : Homecoming, maupun Guardians of the Galaxy yang hanya mengemas formula usangnya dengan cara mengutak-atik genre-nya, Black Panther bermain jauh daripada itu. Film superhero arahan Ryan Coogler ini memasukkan unsur budaya yang kental sehingga bisa memberikan nuansa yang sangat berbeda di film-film superheroyang ada, bahkan untuk jajaran film Marvel sendiri. Meskipun, sebenarnya Black Panther tetap bermain di ranah-ranah cerita yang sudah pernah dipakai dalam film-film bertema medieval.


Wakanda, sebuah negara yang didiami ini telah memiliki rajanya hingga suatu ketika sang raja meninggal. T’Challa (Chadwick Boseman) sebagai anak lelaki dari sang raja tentu secara tak langsung mewarisi tahta tertinggi di Wakanda. Tetapi, keberadaan T’Challa pada awalnya sangat diragukan untuk menjadi raja. Beberapa pihak masih belum terima bahwa T’Challa mampu untuk memimpin Wakanda yang terdiri dari berbagai suku dan budaya yang berbeda.

Kepantasannya sebagai seorang raja diuji dengan adanya Vibranium yang sedang diincar oleh banyak pihak yang ingin menyalahgunakan kegunaannya. T’Challa pun pergi memburu orang tersebut dibantu oleh Okoye (Danai Gurira) dan Nakia (Lupita Nyong’o). Tetapi, orang-orang yang sedang memburu Vibranium tersebut memiliki satu benang merah ke satu orang bernama Erik Killmonger (Michael B. Jordan) yang ternyata adalah seseorang dari masa lalu negara Wakanda ini.


Perebutan tahta dan kekuasaan yang terjadi kepada T’Challa mungkin sudah pernah dialami oleh beberapa karakter di dalam film-film dengan genre yang berbeda. Bahkan yang paling dekat adalah plot utama dari Thor yang membahas tentang mitos-mitos kerajaan yang mungkin sama. Perbedaannya adalah bagaimana Ryan Coogler memberikan identitas bagi filmnya sehingga memiliki sentuhan yang berbeda dengan film-film superhero yang ada.

Adanya nilai-nilai etnis yang sangat beragam dan begitu kental masuk ke dalam film Black Panther. Membaur menjadi satu dengan plot utamanya sehingga menghasilkan perpaduan menarik yang membuat Black Panther memiliki cita rasa yang lebih signifikan berbeda dengan yang lain. Representasi yang tepat akan kekuatan people of color yang juga bisa memiliki kehidupan yang layak dengan orang-orang yang ada di sekitarnya ini terangkum dengan kemasan yang sangat menyenangkan.

Tak ada pretensi dalam Black Panther untuk menjadi sebuah film yang penuh akan muatan pesan dan perwakilan yang berat. Ryan Coogler masih tahu porsinya dan ingat bahwa Black Panther bukanlah drama satir dengan muatan pesan yang kuat seperti film-film yang pernah dia tangani sebelumnya. Dengan berbagai kekentalan budaya dan representasi yang tepat tersebut, Black Panther masih menjalankan misinya sebagai film manusia super yang layak untuk dikonsumsi semua pihak. Tetapi, masih memiliki signature khas dari Ryan Coogler yang berusaha memberikan urgensi representasi dalam media tentang people of color


Mungkin perjalanan cerita di paruh awal tak semulus yang dibayangkan banyak orang. Begitu pula dengan sekuens aksinya yang mungkin masih patah sehingga ada beberapa yang tensinya tak terjaga. Ryan Coogler menempatkan tensinya ke dalam kekuatan emosional bercerita tentang rumitnya perebutan tahta yang ada di Wakanda. Ini mungkin secara tak sadar membuat konfliknya terulur tetapi sesuai dengan kerumitan yang memang ditawarkan ke dalam konfliknya.

134 menit di dalam film Black Panther pun secara efektif terjalin dengan baik mulai dari performa deretan pemainnya hingga permainan gambar serta musik yang sangat dikelola dengan baik. Injeksi komedinya memang tak sebanyak Thor : Ragnarok, tetapi memiliki keefektifan yang maksimal untuk menghibur penontonnya. Tak juga lupa nilai dan desain produksi di dalam Black Panther yang diperhatikan dengan sangat detil. Sehingga, setiap karakternya memang sejatinya memiliki identitasnya masing-masing. Penonton akan dengan mudah membedakan setiap karakternya.


Black Panther memang hadir untuk menjadi sebuah pesan bagi khalayak tentang pentingnya sebuah representasi dalam media terlebih terhadap kaum people of color. Lewat film Black Panther, pesan ini seharusnya bisa secara efektif menimbulkan perilaku signifikan dari penonton dengan realita yang ada. Misinya memang sangat berat tetapi nyatanya sebuah pesan tentang representasi ini bisa dikemas semenarik mungkin untuk bisa diterima dan bahkan menghibur penontonnya. Sebuah perpaduan yang menarik.