• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label 4.5 stars. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 4.5 stars. Tampilkan semua postingan

RAYA AND THE LAST DRAGON (2021) REVIEW: Misi Disney Memberikan Pesan Tentang Perdamaian

Disney kembali berusaha untuk merepresentasikan (baca: mengkapitalisasikan) kebudayaan yang ada di seluruh Dunia lewat karya-karya animasinya. Tujuannya (mungkin) mulia untuk bisa mengenalkan budaya tertentu yang mungkin belum pernah diketahui oleh orang sebelumnya. Sejak Moana yang sangat menitikberatkan nilai-nilai luhur budaya Polynesian di dalam filmnya. Mungkin belum seutuhnya benar dalam memberikan representasi, tapi Disney memiliki arah ke sana.

Kali ini, Disney menghadirkan kisah yang diambil dari kultur budaya Asia Tenggara. Bukan mewakili salah satu negara, tapi berusaha untuk menggabungkan budaya dari negara-negara tersebut.


Raya and The Last Dragon disutradarai oleh Don Hall yang pernah menggawangi Big Hero 6 yang juga mengangkat sedikit kultur asia. Serta, ada pula Carlos Lopez Estrada, sutradara yang pernah melahirkan kisah hebat dan penting dalam debutnya lewat film Blindspotting. Film ini juga dimeriahkan oleh pengisi suara dengan nama-nama besar seperti Awkwafina, Kelly Marie Tran, Gemma Chan, Benedict Wong, hingga Sandra Oh.


Usaha Disney untuk bisa memberikan sentuhan berbeda dalam karakter-karakter Princess Disney sudah ada sejak kemunculan Tangled. Di mana karakter perempuannya mulai sedikit mendominasi dan bisa mengambil keputusannya sendiri. Hal ini berkembang hingga titiknya adalah dalam film Moana di mana tak ada sedikit pun mengulik tentang problematika cinta dalam filmnya. Raya and The Last Dragon juga memiliki hal serupa di dalam filmnya. Fokus tentang bagaimana perempuan bisa menyelamatkan dunianya.



Begitulah yang terjadi dalam konflik yang diangkat di dalam film ini. Negara Kumandra yang ditinggali oleh Raya (Kelly Marie Tran) ini tak lagi bersatu. Negara Kumandra yang terdiri dari Heart, Tail, Fang, Talon,  dan Spine ini terpecah karena Dragon Gem yang disimpan di tempat milik Heart. Maka dari itu, untuk mengilangkan kebencian yang selama ini terjadi, Chief Benja (Daniel Dae Kim), ayah Raya, berusaha untuk mempersatukan kaum-kaum ini sehingga Kumandra menjadi satu lagi.


Tetapi yang terjadi malah terjadi pengkhianatan. Dragon Gem ini terpecah menjadi beberapa bagian yang disimpan oleh setiap kaum di dalam Kumandra. Hal ini mengakibatkan Druun datang kembali menyerang manusia dan mengubahnya menjadi batu. Hingga 6 tahun kemudian semenjak konflik ini berlangsung, Raya berusaha untuk menemukan kembali Naga terakhir untuk membantunya mengumpulkan kembali Dragon Gem yang terpecah dan membuat negara Kumandra bersatu kembali. Tetapi, yang terpenting bagi Raya adalah mengembalikan kembali sang Ayah yang terkena serangan Druun.



Kisah yang diangkat oleh Raya and The Last Dragon ini memang sangat khas Disney. Pernah dipakai oleh kisah-kisah Disney yang lain. Jadi, meskipun Raya and The Last Dragon ini tak diadaptasi dari kisah yang ada, tapi bukan berarti film ini sepenuhnya orisinil. Meski begitu, di kisahnya yang formulaik ini, Raya and The Last Dragon berhasil menjadi sebuah tontonan yang menarik untuk diikuti hingga akhir. Raya and The Last Dragon menjadi entry film animasi Disney yang ditangani dengan matang sehingga hasilnya pun solid.


Segala penuturan kisahnya berjalan lancar dengan berbagai filosofi tentang persatuan dalam perbedaan yang berusaha disematkan di dalam berjalannya plot di film ini. Pun, tetap diselingi dengan guyonan segar yang dengan Mudah membuat penontonnya tertawa. Inilah yang penting dalam Raya and The Last Dragon. Di mana kisahnya yang familiar ini berhasil dituturkan lagi dengan baik oleh Don Hall dan Carlos Lopez Estrada. Sehingga, mengikuti perjalanan Raya di 100 menitnya untuk mengumpulkan dragon gem di berbagai tempat ini akan terasa sangat mengasyikkan dan seru untuk dinikmati bagi penonton di semua kalangan usia.


Selain bagaimana penuturan kisah dan bagaimana kedua sutradara di film animasi ini berkolaborasi hingga menjadi harmoni, ada beberapa pesan simbolik lain yang berusaha disampaikan di dalam filmnya. ‘Misi penyelamatan dunia’ yang diangkat di film ini bukanlah usaha untuk memenuhi ego seseorang saja. Tetapi, dunia yang ditempati oleh banyak orang ini juga perlu usaha dari orang-orang lain dengan tujuan yang sama agar bisa ditinggali dengan damai.



Maka dari itu, kelima karakter yang ada di dalam film ini dan membantu Raya seakan memberikan pengertian tentang lintas generasi yang memiliki tujuan yang sama. Dari Raya, Namaari, Boun, Tong, hingga Noi adalah perwakilan dari setiap generasi dari Boomer hingga Gen Z. Seakan memberikan pengertian kepada penontonnya bahwa apabila setiap generasi memiliki tujuan yang sama tanpa adanya perasaan superior dibanding yang lain, sepertinya dunia akan lebih tentram. Begitu pula Druun yang menggambarkan tentang kebencian di dunia yang lahir dari manusia yang saling terpecah belah dan acuh atas satu sama lain. Memberikan pesan bahwa Druun yang mengubah manusia menjadi batu ini adalah hati mereka yang sudah sekeras batu dan mementingkan ego pribadi masing-masing.


Pun, setiap karakternya juga memiliki keberagaman dalam gender bahkan elemen dalam Dunia. Tak hanya manusia saja yang hadir sebagai makhluk hidup, tapi juga ada makhluk-makhluk lain yang sesungguhnya bisa hidup secara harmoni.


Pesan tentang perdamaian, tentang menjadi satu, adalah misi Raya and The Last Dragon dalam konfliknya. Semua elemen harus bisa berjalan beriringan dan saling mempercayai satu sama lain seperti kaum-kaum yang ada di film ini sehingga Kumandra bisa kembali Utuh. Pesan penting yang dituturkan secara simbolik ini dirangkum dengan sangat menyenangkan. Meski tidak dapat referensinya secara detil, pesannya pun tetap tersampaikan.



Untuk urusan representasi tentang negara Asia Tenggara di dalam Raya and The Last Dragon, mungkin para kreator menyematkan beberapa unsur dan menggabungkannya menjadi satu. Ini mungkin akan membuat representasinya sedikit kabur. Tapi, setidaknya lewat Raya and The Last Dragon, Disney mulai memunculkan awareness kepada dunia tentang eksistensi dari benua ini. Menjadikannya sebagai jalan pembuka tentang kultur Asia Tenggara lain yang menarik untuk diangkat di dalam film-film lainnya.


Sehingga, dengan segala pesan, kemegahan, dan keseruan dalam Raya and The Last Dragon, membuatnya menjadi salah satu Disney Canon terbaik di beberapa tahun terakhir ini. Bahkan, di antara kisah-kisah Disney Princess (bila mau disebut demikian untuk karakter satu ini) terbaru, Raya and The Last Dragon adalah yang terbaik yang pernah ada. Sebuah modern classic yang sayang untuk dilewatkan begitu saja! Bagus sekali!


SAINT MAUD (2020) REVIEW: Debut Horor Spiritual yang Sangat Menjanjikan

Tanpa menunjukkan keberadaan makhluk astralnya, film horor bisa saja tetap mencekam bagi penontonnya. Seperti saat melihat bagaimana perjalanan Maud mengalami perjalanan spiritualnya dalam film debut penyutradaraan yang dari Rose Glass. Siapa sangka kisah yang relijius ini bisa sangat menghantui pikiran penontonnya dari awal hingga akhir film.

Saint Maud, film yang dibintangi oleh Morfydd Clark ini diproduseri oleh salah satu rumah produksi yang selalu melahirkan film-film dengan tema alternatif, A24. Tanpa nama-nama populer, tapi film dengan genre horor saja sudah memiliki penggemarnya sendiri. Ditambah dengan bagaimana penasarannya penonton genre tersebut dengan apa yang dibuat Oleh rumah produksi satu ini. Rekam jejaknya sudah jelas terlihat lewat film-filmnya yang selalu memberikan sesuatu yang baru.

Dari It Follows hingga Midsommar, A24 selalu memberikan faktor lain dalam karya horornya dan memiliki magnetnya sendiri. Menekankan horor atmosferik dibanding dengan jump scare menjadi formula bagi rumah produksi satu ini. Begitu pula yang terjadi dalam film Saint Maud. Bahkan, tema dalam Saint Maud juga sangat provokatif. Menilik karakternya yang hilang arah dalam ajaran tuhan yang dia yakini.

Begitulah Maud (Morfydd Clark) yang sedang berusaha keras menghilangkan rasa bersalah atas masa lalunya. Dia pun berusaha untuk mendekatkan diri dengan agama yang dia yakini dan melayani seseorang sebagai balas budinya. Maud menjadi seorang perawat untuk mantan penari terkenal yang terkena penyakit kanker ganas bernama Amanda (Jennifer Ehle). Maud berusaha sekuat tenaga untuk bisa mendampingi Amanda hingga akhir hidupnya.

Tetapi, apa yang dilakukan Maud ternyata melewati batas. Dia secara tidak langsung ingin menjadi pusat perhatian dari Amanda. Melakukan banyak hal-hal lain demi mendapatkan reassurance dari Amanda. Semua ini dia lakukan atas nama ajaran keyakinan yang dia percaya. Tetapi, dia pun berusaha mempertanyakan dirinya, apakah yang dilakukan ini benar dan sesuai dengan jalan sosok teratas dari sesuatu yang dia yakini (re: agama).

Perjalanan spiritual yang mencekam.

Mungkin pernyataan itulah yang cocok untuk menggambarkan bagaimana Saint Maud ini berlangsung. Film yang diarahkan oleh Rose Glass ini terfokus menjadi sebuah studi karakter seseorang menemukan jalan spiritualnya menemukan apa yang dianggap benar. Hal inilah yang dikonversi oleh sang sutradara menjadi sebuah tontonan yang mencekam. Karena membahas tentang kebenaran itu siapa yang tahu. Bisa saja dalam perjalanannya, seseorang itu bisa tersesat di dalamnya.

Maud mungkin menjalankan setiap perintah yang dianggap dirinya benar. Tetapi, penonton akan merasakan kengerian itu. Ada banyak ketidakpastian yang terjadi di dalam film ini sehingga membuat penontonnya merasa tak nyaman. Selama 95 menit, penonton mungkin akan ikut lelah dan terhanyut dengan segala tingkah karakter utamanya. Selain tentang kebenaran, ada pengalaman-pengalaman masa lalu yang membuat karakter Maud semakin kompleks.

Maka penonton pun akan merasakan apa yang dilakukan oleh Maud ini adalah cara dia mencari kebenaran atau Malah dia mencari pembenaran atas segala hal yang dia lakukan. Menarik ketika Rose Glass menggunakan sudut pandang orang ketiga atau penonton sebagai seseorang yang mengikuti perjalanan Maud sepanjang film. Tetapi, menuju konklusi film, bagaimana Maud berusaha untuk ‘mensucikan’ dirinya, Rose Glass menggunakan sudut pandang karakter utamanya. Di situlah, sebuah adegan dengan dua perspektif berbeda dengan cepat dijadikan konklusi. Menunjukkan bahwa tentang kebenaran yang diyakini seseorang adalah sebuah perdebatan yang tak akan habis untuk dibahas.

Saint Maud, sebagai sebuah film horor itu sendiri juga berhasil membuat penontonnya bergidik ngeri. Mungkin bisa dibilang Saint Maud adalah sebuah psychological horor yang berhasil menghantui penontonnya sepanjang film. Karena kekuatan Saint Maud dalam menakut-nakuti penontonnya adalah dengan bagaimana sang penonton berinterpretasi atau menerka-nerka tentang apa yang terjadi di dalam filmnya. Hingga di akhir filmnya itu pun, perasaan ‘terganggu’ itu masih ada dan membekas. 

Hal ini juga didukung oleh performa Morfydd Clark yang berhasil menggambarkan kebingungan sosok Maud yang hilang arah. Performanya yang subtle tapi sangat mencekam ini mempengaruhi tujuan Rose Glass untuk membuat Saint Maud menjadi sebuah horor atmosferik yang mengikat penontonnya. Untuk sebuah debut penyutradaraan, karya pertamanya ini sangat menjanjikan. Gila!

PAWN (2020) REVIEW: Kisah Keluarga Tak Utuh yang Bikin Air Mata Jatuh

Korea dan film drama tentang keluarga selalu mencuri perhatian. Negaranya yang masih berada di kawasan Asia ini membuat penonton Indonesia masih bisa terasa dekat dengan kisah yang ditawarkan. Masih ada kedekatan budaya Korea yang masih relatable bagi penonton Indonesia. Maka dari itu, penonton Indonesia dengan mudah terkoneksi. 

Kedatangan sebuah trailer dari film keluarga terbaru berjudul Pawn produksi CJ Entertainment ini seakan menjadi magnet bagi penggemar film Korea bertema keluarga. Apalagi, ada nama Sung Dong-Il yang sudah terbiasa bermain di film-film bertema serupa. Film ini garapan Kang Dae-gyu ini juga dibintangi oleh nama-nama terkenal seperti Kim Hee-Won hingga Ha Ji-Won. Bukan kali pertama Kang Dae-gyu mengarahkan sebuah film drama tentang dysfunctional family. Film berjudul Harmony juga adalah film yang diarahkan olehnya.

Sehingga, tak salah apabila Kang Dae-gyu sudah tahu bagaimana mengolah emosi untuk mengantarkan kisah keluarga tak utuh dari film Pawn ini. Dengan mudah bagi Kang Dae-gyu mengetahui ritmenya mengantarkan kisah dari filmnya untuk bisa membuat penontonnya bersimpati dengan para karakternya. Inilah yang penting karena bagaimana film Pawn ini mengajak penontonnya untuk mengikuti perjalanan hidup karakternya yang sedang berkembang dalam durasinya sepanjang 115 menit.

Karakter-karakternya bertemu dalam setting tahun 1993, di mana Doo-Seok (Sung Dong-Il) adalah seorang debt collector yang memiliki rekan kerja bernama Jong Bae (Kim Hee-Won). Mereka menjalankan tugas mereka untuk menagih orang-orang yang berhutang di perusahaan tempat dia dikerjakan. Hingga akhirnya, dia menagih kepada seorang Ibu bernama Myung Ja (Yunjin Kim). Dia memiliki satu orang anak bernama Seung Yi kecil (Park Seo-Yi).

Myung Ja belum bisa membayar hutangnya karena sang suami kabur dengan wanita lain. Hal ini semakin membuatnya bingung karena keesokan harinya, Myung Ja harus dideportasi dari Korea karena dia tak memiliki izin tinggal di sana karena dirinya berasal dari China. Karena tidak bisa membayar, akhirnya Doo-Seok menggunakan Seung Yi sebagai jaminan. Myung Ja pun harus memutar otak untuk bisa menebus anaknya dan hidup bersamanya.

Perjalanan untuk mengantarkan ceritanya dengan setting jadul hingga masa kini pun tak diantarkan dengan lurus saja. Kang Dae-gyu berusaha bermain dalam penuturannya sehingga adegan pembukanya pun sudah diperlihatkan bagaimana Seung Yi dewasa yang mencari tahu tentang seseorang di masa lalunya. Adegan ini akan dengan mudah memancing rasa penasaran penonton. Karena masa lalu dari seorang Seung Yi ini memiliki banyak pengertiannya.

Seiring dengan berjalannya durasi film Pawn ini berjalan, barulah penonton akan menemukan sebuah benang merah tentang apa yang dia cari. Hingga pada satu momen penting di paruh ketiga dari film ini, Pawn berjalan dari kisahnya yang hangat dan menyenangkan menjadi sesuatu yang mengoyak hati penontonnya. Mungkin penonton yang sudah paham benar dengan film bergenre serupa akan sudah bersiap-siap dengan apa yang terjadi di paruh ketiganya.

Tetapi, tetap saja, penontonnya juga tak bisa mengelak segala perasaan emosional yang terjadi dalam revealing conflict di film Pawn ini. Terutama, Kang Dae-Gyu Sudah mengajak penontonnya untuk bisa terhubung ke setiap karakternya. Dari segala jatuh Bangun, perubahan, hingga perkembangan yang ada. Dari Doo-Seok yang berusaha tak tahu harus handle karakter Seung Yi. Hingga akhirnya, ikatan emosi itu terjalin hingga akhirnya mereka berdua seakan seperti ayah dan anak kandung meskipun tak memiliki hubungan darah.

Bahkan, Pawn juga sempat menggunakan subplot yang sedikit kelam tentang human trafficking yang marak terjadi di Korea. Tetapi, meski berada dalam kisahnya yang kelam, film Pawn tetaplah sebuah drama keluarga yang sangat hangat. Bahkan, baru saja berjalan di paruh pertama filmnya saja, air mata penonton sudah diundang untuk ikut serta ke dalam filmnya. Lalu, ditutup manis dengan satu quote penting yang merujuk ke judul filmya dan menjadi punch emosi utama dalam filmnya. 

Pawn, lagi-lagi menjadi entry dalam film drama keluarga asal Korea yang sangat emosional dan wajib ditonton. Siapkan diri dan pasrah saja dengan segala emosi yang disampaikan di film ini. Sekedar saran, sedia tisu aja.

Kamu bisa tonton film ini lewat aplikasi GoPlay dengan harga rental per filmnya sebesar Rp35.000.



PROMISING YOUNG WOMAN (2020) REVIEW: Promising Debut From New Director

“I was busy thinking ‘bout boys.”

Opening dimulai dengan lagu milik Charli XCX berjudul Boys terdengar dengan setting di dalam sebuah club penuh gemuruh pesta. Shot kamera diarahkan kepada segala lekuk tubuh laki-laki hingga ke bagian personalnya. Seakan film ini memperjelas ke mana film ini ditujukan dan diarahkan. Apabila, seringnya laki-laki menggunakan point of view mereka dalam mengarahkan kameranya kepada perempuan. Kali ini, laki-laki lah yang mendapatkan treatment yang sama.


Begitulah adegan pembuka dari Promising Young Woman yang seakan mempertegas bagaimana film ini nantinya akan berlanjut. Dari bagaimana pengambilan gambar saja sudah jelas bahwa film ini akan menyorot tentang perempuan dan balas dendam. Bagaimana perempuan juga punya kekuatan yang sama untuk memperlakukan laki-laki dengan cara yang sama. Sehingga, di 115 menit ke depan, persoalan dari film ini juga akan membahas tentang perempuan dan problematikanya dengan society yang ada.


Promising Young Woman ini diarahkan oleh Emerald Fennell yang juga seorang perempuan. Tak hanya sebagai sutradara, tetapi dirinya juga memiliki kendali untuk menuliskan naskah filmnya. Dalam penulisan cerita, dirinya sudah memiliki jam terbang lewat serial Killing Eve. Tetapi, dalam mengarahkan sebuah film layar lebar dan menulisnya, ini adalah kali pertama untuk Emerald Fennell. Tetapi, lewat adegan pembuka saja, film ini sudah banyak menaruh perhatian.



Film ini juga dibintangi oleh Carey Mulligan yang berperan sebagai Cassie, sang pemeran utama di dalam film ini. Diramaikan juga oleh beberapa nama lain mulai dari Bo Burnham, Laverne Cox, Clancy Brown, Jennifer Coolidge, hingga Alison Brie dan Max Brody. Nama-nama ini berperan sebagai pendukung karakter utamanya untuk bersinar. Diperkuat dengan performa Carey Mulligan yang tak terhentikan, Promising Young Woman menjadi film balas dendam yang sangat menarik untuk diikuti.


Ini adalah kisah tentang seseorang bernama Cassie (Carey Mulligan), perempuan yang pernah mengenyam pendidikan kedokteran ini bekerja di sebuah coffee shop kecil di usianya yang memasuki 30 tahun. Tetapi, dia memang sedang berusaha menikmati hidupnya sendiri. Selain itu, dia juga memiliki misi dalam hidupnya yang memiliki hubungan dengan masa lalunya.


Membalaskan dendam. Hal itu yang ingin dia lakukan untuk membalaskan dendam tentang sahabatnya, Nina yang meninggal saat berada di sekolah. Dia menjadi korban atas tidak bisa dikontrolnya hasrat laki-laki dan berujung pemerkosaan secara publik. Tetapi, kasus ini seakan tidak dilanjutkan oleh pihak sekolahnya. Mereka dipaksa diam dan berujung Cassie dan Nina harus keluar dari sekolah. Hingga di saat waktunya tepat, Cassie memulai aksi balas dendamnya.



Film ini memulai rencana balas dendamnya perlahan. Pembalasan dendamnya bukan kepada para pelaku awalnya. Tetapi, ingin memberikan sebuah ‘awareness’ tentang rape culture kepada para pria-pria hidung belang yang ingin melakukan tipu daya kepada perempuan yang sedang dalam keadaan tidak sadar di sebuah bar. Menilik dan mempelajari segala background karakternya agar penonton bisa terasa dekat dengannya. Setelah di satu poin di mana Cassie bertemu dengan Ryan (Bo Burnham) yang juga berada di satu sekolah kedokteran barulah tensi film ini mulai naik perlahan.


Mengikuti segala rencana-rencana balas dendam seorang perempuan dengan masa lalunya yang kelam di film ini bisa sangat-sangat menyenangkan. Dilakukan dengan cara-cara yang intimidating dan bisa memperlihatkan bagaimana maskulinitas laki-laki sebenarnya bisa terlihat sangat rapuh. Cassie sebagai perempuan yang sangat lantang dan vokal atas suaranya ini bisa jadi ancaman bagi para lelaki yang ingin berlaku jahat padanya.


Film ini juga menggambarkan sebuah ketimpangan lewat tata artistik dengan cerita. Menggunakan warna-warna pastel yang lucu, menawan, dan enak dipandang mata. Tetapi, cerita film ini bergerak ke jalur yang lebih dark dan dalam dari warna-warna yang terlihat dipermukaan. Seperti perempuan itu sendiri yang juga memiliki kekuatan dan haknya untuk bisa tampil serta melakukan apa saja sesuai keinginan mereka.



Emerald Fennell sebagai sutradara perempuan bisa untuk menyampaikan suaranya tentang fenomena yang sering terjadi di perempuan itu sendiri. Bahkan, fenomena tentang rape culture ini terkadang juga sering diremehkan oleh perempuan itu sendiri karena sering termakan oleh kedigdayaan laki-laki yang menormalisasi hal tersebut. Sehingga, diperlihatkan oula beberapa target oleh Cassie ini juga adalah seorang perempuan di mana mereka seharusnya saling menguatkan. Tetapi, dalam realitanya, mereka juga secara tak sadar belum aware betul dengan isu tersebut.


Dari segala hal yang terlihat saklek tentang perempuan dan isu tentang rape culture yang sudah lantang dibicarakan dari awal. Satu hal yang membuat film ini mungkin sedikit bertentangan. Bagaimana paruh terakhirnya yang sedikit problematik. Keputusan yang terjadi dalam karakter Cassie ini sendiri terasa mengganjal. Meski sudah sedikit dipatahkan di konklusi paling akhirnya yang seakan memperlihatkan bahwa kekuatan perempuan masih bisa saja terasa meski secara fisik tidak terlihat. Tetapi, hal ini mungkin bisa saja diterjemahkan salah dan mengglorifikasi hal lain yang berada di luar konteksnya.



Tapi, di luar hal itu, Promising Young Woman tetaplah sebuah revenge thriller yang unik dan menarik. Membahas isu yang relevan tentang perempuan dan diarahkan oleh perempuan, setidaknya suaranya bisa terwakili dan bisa menggambarkan keadaan dengan lebih konkrit. Didukung dengan performa Carey Mulligan yang seduktif, kuat, tapi juga terlihat rapuh ketika dia mau, menjadikannya terlihat lebih manusiawi. Belum lagi pemilihan lagu-lagu dan musiknya yang juga menghipnotis membuat film ini menjadi debut yang menjanjikan dari Emerald Fennell.

SPONTANEOUS (2020) REVIEW: Kisah Remaja yang Sama Tapi Pengalaman Menontonnya Berbeda


Namanya juga menjadi remaja, pasti masih ada banyak terjadi ledakan-ledakan yang terjadi di dalam dirinya. Tetapi, bagaimana jika tiba-tiba ledakan itu terjadi secara harfiah? Ya, bagaimana jika di saat remaja ini sedang melakukan kegiatannya sehari-hari ternyata tubuh mereka meledak dan hilang begitu saja?

Ya, inilah yang terjadi sesaat film debut dari Brian Duffield ini mengenalkan kisahnya. Spontaneous, film pertama dari dirinya ini adalah sebuah adaptasi dari novel milik Aaron Stahmer. Memiliki pendekatan yang unik dan menarik memang. Meskipun tetap perlu digarisbawahi, bahwa film ini tetap mengangkat kisah remaja yang sedang beradaptasi dengan emosinya serta konflik-konflik yang sama. Tetapi, dengan sedikit sentuhan lain, tentu akan menjadi pendekatan kisah remaja yang lebih menarik untuk dikulik.

Spontaneous dibintangi oleh Katherine Langford, yang namanya mulai melambung lewat serial adaptasi Netflix, 13 Reasons Why. Dirinya juga pernah didapuk untuk ikut menjadi salah satu pemain di Avengers: Endgame meskipun adegannya tidak jadi ditayangkan di filmnya. Bermain di film-film coming of age, tentu bukan hal baru untuk Katherine Langford. Dirinya pun sudah pernah terlibat dengan adaptasi novel lain yaitu Love, Simon.


Tetapi, menjadi remaja yang lebih rebel dan lebih meledak-ledak di film terbarunya ini, sepertinya belum pernah dilihat sebelumnya. Ya, dia menjadi pemeran utama yang mengantarkan ceritadan menemani penonton untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan fenomena yang terjadi di film ini.

Narasi pertama pun sudah menunjukkan kamera menyorot ke karakter Mara (Katherine Langford) yang sedang berada di dalam kelas dan terlihat bosan. Hal itu tak bertahan lama, ketika tahu seorang temannya meledak di depan matanya. Darah, organ tubuh, tentu sudah tersebar di penjuru kelas dan membuat semua orang panik. Hal ini tentu membuat semua remaja di Covington High School merasa takut apabila mereka menjadi salah satu korbannya.

Mara, berusaha sekuat tenaga untuk bisa bertahan hidup dari fenomena aneh yang terjadi di sekolahnya ini. Meskipun, dirinya sudah mempersiapkan apabila hal tersebut terjadi padanya secara tiba-tiba. Tetapi, di tengah hidupnya yang mulai pesimis, dia bertemu dengan seseorang bernama Dylan (Charlie Plummer). Ya, Dylan diam-diam menyukai Mara sejak pertama bertemu meski tak pernah menyampaikannya. Dengan kondisi sekitar yang sedang tak menentu, keduanya memberanikan diri untuk membuka hati satu sama lain.


Jika dikulik dari sinopsis di atas, Spontaneous memang terlihat sebagai sebuah kisah coming of age yang sudah pernah dilihat di beberapa film serupa. Tetapi, hal ini tak bisa dipungkiri, bahwa Spontaneous adalah sebuah film yang solid dan menarik untuk diikuti. Terlebih, bagaimana penggambaran karakter Mara dengan segala perasaan cynical dan sarcastic tentang hidup ini menuntun penonton untuk menyusuri segala keanehan kisah utama di dalam filmnya.

Dengan adanya karakter yang bisa melontarkan dialog-dialog satir dan witty ini, semakin menarik untuk mengikuti Spontaneous. Karakternya menarik untuk diobservasi, konfliknya juga memberikan metafora lain tentang kehidupan remaja. Seakan wabah ledakan di film ini menggambarkan tentang remaja secara general yang memang condong untuk selalu meledak-ledak di dalam hidupnya. Belum paham benar untuk bisa mengontrol segala emosinya. Serta, mengingatkan para remaja untuk sesekali menikmati kehidupan karena bisa saja kamu akan melewatkan hal-hal seru di dalamnya. 

Pesan ini tentu tak akan bisa tersampaikan dengan baik apabila tidak ada performa Katherine Langford yang membius penontonnya hingga akhir. Menarik untuk mengulik kisah di Spontaneous yang asyik karena menyelipkan kisah wabah yang tak teridentifikasi. Penyampaiannya yang pintar ini tentu berkat Brian Duffield dalam menulis dan mengarahkan buku dari Aaron Stahmer.


Tanpa ketelitiannya dalam mengadaptasi kisahnya yang bizarre ini, mungkin Spontaneous akan menjadi film yang aneh untuk dinikmati. Sebagai karya perdana, Brian Duffield berhasil memberikan nafas segar dalam film remaja yang diarahkannya. Kisah-kisah tragisnya bisa dikemas menjadi sajian yang bisa membuat penonton tertawa dengan humor-humor gelapnya tentang kehidupan remaja.

Spontaneous seakan menjadi sebuah hybrid dari beberapa genre yang ada di film-film remaja mulai dari horror, romance, hingga comedy. Bagaimana tidak, film ini seakan memiliki 3 vibe film yang berbeda selama 100 menitnya. Menyadur vibe kisah anak remaja yang sedang melawan kehidupan layaknya film-film yang dibuat oleh John Hughes. Tetapi juga bisa memberikan sensasi tegang layaknya sebuah film horor Karena bisa saja kejadian ledakan atau di film ini disebut Snooze Button ini terjadi begitu saja. 


Belum lagi, film ini Menyelipkan referensi-referensi pop culture di dalam film ini juga bikin seru. Dari tribute-nya ke E.T. hingga Carrie membuat film ini terasa sangat geeky bagi penonton yang paham referensi komedinya. Tapi, tak masalah, bagi penonton yang tak familiar dengan referensi ini pun masih bisa menikmati film ini dengan maksimal. Karena tetap bisa menikmati bagaiman sang karakter saling menertawakan hidupnya yang tragis.

Penonton seakan diajak untuk merasakan emotional roller coaster dengan range yang cukup jauh. Di saat film ini sangat pintar mendistraksi penonton untuk menikmati sajian komedi dan manisnya jatuh cinta, muncul juga perasaan was-was. Mencurigai apa yang terjadi selanjutnya karena penonton merasakan hal yang terlalu manis di saat kondisi di sekitar karakternya sedang tidak baik-baik saja. Inilah letak serunya menonton Spontaneous, yang sesuai dengan judulnya, akan terjadi perasaan spontan yang muncul saat menikmati film ini di setiap menitnya.

Film ini juga punya waktu untuk bersinar saat mengulik sisi emosionalnya. Paruh ketiga film ini barulah menyoroti hal yang lebih dalam lagi. Mengulik sisi vulnerable dari karakternya yang sudah berkembang dari yang dingin hingga memiliki hati yang hangat. Menggali lebih dalam tentang diri sendiri hingga apapun yang berhubungan dengan orang-orang yang disayang.


Ya, menonton film ini di saat pandemi, seakan diajak untuk memikirkan lagi tujuan dan arti hidup bagi masing-masing individu. Meski film ini dibuat jauh sebelum pandemi melanda, tetapi Spontaneous seakan bisa relevan dengan keadaan yang ada. Ya, begitulah Brian Duffield dengan karya perdananya. Walau kisah remajanya pernah ada sebelumnya, tetapi bisa memberikan pengalaman menonton yang segar dan berbeda.

NEVER RARELY SOMETIMES ALWAYS (2020) REVIEW: Perjalanan Perempuan Menentukan Keputusan Untuk Tubuhnya


Remaja dan eksplorasi terhadap tubuhnya. Menjadi sebuah persoalan yang mungkin akan terus terjadi selama mereka tak memiliki ruang untuk bisa mempelajarinya dengan tepat. Realita-realita tentang remaja dan kehidupan seksualnya yang beberapa tak ada yang mengerti dengan benar inilah yang perlu disebarkan. Dengan tujuan, memberikan realita kepada orang lain bahwa masih ada banyak orang-orang yang belum terpapar benar terhadap pendidikan seks.


Film dengan beragam fungsi, menjadi salah satu medium untuk memberi gambaran tentang realita yang ada. Mungkin dengan dasar inilah, Eliza Hittman membuat karya terbarunya. Never Rarely Sometimes Always, karya terbarunya ini tak hanya bertanggungjawab di kursi sutradara saja. Tapi, dia juga bertanggungjawab atas naskah di filmnya. Menarik, karena film ini pun menyoroti kehidupan karakter utama perempuan yang diperankan oleh Sidney Flanigan.


Menarik mendapatkan kisah tentang perempuan yang ditulis sendiri oleh perempuan. Karena pasti ada sensitivitas yang berbeda yang tak mungkin didapatkan dari sutradara dengan jenis kelamin berbeda. Seakan ini adalah medium bagi perempuan untuk menyuarakan pendapat dari sudut pandang mereka. Begitu pula yang terjadi di film Never Rarely Sometimes Always. Menyoroti problematika remaja perempuan yang sedang kehilangan arah saat menemui dirinya sedang hamil.



Ya, film ini dimulai dari masalah milik remaja perempuan usia 17 tahun bernama Autumn (Sidney Flanigan). Entah setelah berhubungan dengan siapa, di film ini diceritakan dia telah mengandung seorang bayi berumur 10 minggu kata klinik dekat rumahnya. Tapi, Autumn memutuskan untuk tak mempertahankan anak yang ada di dalam kandungannya. Dia berusaha melakukan aborsi agar bisa meneruskan hidupnya sebagai remaja SMA yang memasuki tahun terakhir sekolahnya.


Autumn pun tak memberitahukan perihal kehamilannya dengan keluarganya. Tapi, Autumn berusaha menceritakan problemnya ini ke sepupunya bernama Skylar (Taila Ryder). Tak berusaha untuk malah menilai perbuatan Autumn, Skylar berusaha mendukung apa yang ingin dilakukan oleh Autumn. Pergilah dia ke tempat di mana Autumn bisa ‘menghilangkan’ kandungan yang ada di dalam perutnya.



Memfokuskan filmnya ke masalah perempuan dengan tubuhnya.

Seperti yang sudah dibilang di sinopsis tadi, tak ada cerita tentang bagaimana Autumn bisa mengandung anaknya. Bersama siapa dia telah melakukan hubungan intimnya. Tapi, Never Rarely Sometimes Always ini lebih fokus terhadap Masalah Autumn dengan dirinya, dengan keputusan dalam hidupnya. Eliza Hittman seperti menggunakan filmnya sebagai medium perempuan untuk bersuara.


Menggunakan Autumn sebagai karakter yang bisa diasosiasikan dengan problematika perempuan yang relevan dengan kondisi masa kini. Di mana dia tetap teguh dengan pendiriannya, teguh akan pilihannya untuk menentukan hidupnya bakal seperti apa. Penonton akan diajak ke perjalanan Autumn yang atmosfirnya cukup gelap. Tetapi, Eliza Hittman tetap bisa memberikan ruang bagi penonton untuk bisa menaruh simpati terhadap karakternya.


Ini didukung dengan performa dari Sidney Flanigan yang bisa menghinoptis penontonnya. Mungkin tak banyak bicara, tapi subtlety dalam permainan perannya bisa mengungkapkan segala keresahan dalam dirinya. Memperlihatkan kebingungan, kehampaan, dan kecemasan karakter Autumn tanpa harus terlihat meluap-luap. Biarkan pula masalah di sekitar karakternya berkembang dan pada akhirnya sang karakter utamanya ini bisa mulai perlahan-lahan terbuka. Memeluk segala masalah dan trauma dari dalam dirinya hingga bisa melepaskan segala keresahannya.


Never. Rarely. Sometimes. Always. Empat kata yang menyusun menjadi judulnya ini ternyata berperan penting menjadi kunci di dalam filmnya. Autumn yang sudah lama memendam perasaan hanya bisa mengungkapkan apa yang dia rasa lewat empat opsi kata ini dalam yang biasa muncul dalam survey. Hingga pada akhirnya, penonton bisa mengetahui apa yang menyebabkan Autumn memutuskan untuk mengugurkan kandungannya.



HER LIFE. HER CHOICE. HER DECISION.

Mungkin itu juga yang pas menggambarkan film ini. Setelah filmnya berakhir pun, tak ada mengulik lagi seperti apa kehidupan Autumn setelahnya. Ini murni sebagai pengingat, sebagai medium bagi sang sutradara untuk lebih fokus terhadap problem yang dihadapi oleh seorang perempuan. 


Mereka hidup dengan penuh ancaman, kekerasan, dan kontrol atas tubuh serta keputusannya. Laki-laki dan kuasanya memiliki kontrol atas perempuan. Tetapi, perempuan sendiri tak pernah punya ruang untuk bergerak, mengekspresikan dirinya, memiliki kontrol pula atas dirinya. Yang mereka butuhkan pun sederhana. Mereka butuh ruang untuk menyampaikan suaranya, mereka butuh perempuan yang juga tahu akan perjalanannya. Mereka juga butuh perempuan yang memberikan support agar dirinya tahu bahwa dia tidak sendirian. Seperti yang dilakukan oleh Skylar kepada Autumn di film ini.


Maka, penting untuk menonton Never Rarely Sometimes Always ini. Sebuah film yang mungkin akan menampar penontonnya. Menyusuri realita kehidupan yang gelap tentang perempuan dan tubuhnya hingga bagaimana perempuan mengambil keputusan dalam hidupnya. Setelah nonton pun, penonton akan merasa dihantui dengan penuturan filmnya yang lembut tapi berdampak sangat besar. Salah satu film penting dan terbaik di tahun ini.


Available on HBO MAX


MULAN (2020) REVIEW: Remake yang Berbeda Tapi Masih Magis!

“Who is that girl I see… Staring straight, back at me.”

Iya, lagu di atas adalah lagu dari proyek live-action Disney terbaru, Mulan. Film yang diadaptasi dari film animasinya ini melanjutkan misi Disney untuk menceritakan ulang kisah-kisah animasinya terutama karakter Disney Princess. Setelah Cinderella, Beauty and The Beast, dan Aladdin, kini tiba saatnya seorang Disney Princess yang terlibat dalam perang penting, Mulan.


Ada keputusan berbeda yang dilakukan Disney dan sutradaranya, Niki Caro, dalam menerjemahkan ulang kisah dari Mulan ini, yaitu….


Menghilangkan unsur musikal di dalamnya.


Keputusan yang besar dan berisiko apalagi untuk para penggemar film animasi Mulan versi Disney ini. Mungkin akan hilang sakralnya bila tidak ada lagu “Reflection” dan lagu-lagu lainnya di dalam versi live action ini. Ada beberapa perubahan pula dalam karakter di dalam film ini terlebih ke karakter love interest dari karakter Mulan itu sendiri yaitu Li Shang. Serta, Mushu dan Cricket, dua karakter sidekick yang cukup ikonik.



Tapi, Disney tetap berusaha untuk meyakinkan penggemarnya. Diawali dengan pemilihan casts yang tepat. Apalagi, Liu Yifei yang berhasil menyita perhatian banyak orang karena dianggap sangat cocok untuk memerankan karakter ini. Beberapa nama besar pun juga turut andil. Mulai dari Donnie Yen, Andy Lau, hingga Gong Li. Serta, trailer film yang sangat menggugah selera. Lantas, hal ini membuat orang-orang menantikan filmnya rilis. Hingga, 2 minggu sebelum rilis, Mulan terpaksa harus berubah tanggal karena pandemi menyerang.


Nasib Mulan berada di ambang batas hingga akhirnya Disney memutuskan untuk merilis film ini lewat streaming service miliknya, Disney+. Tetapi, untuk bisa menonton film ini pun, Disney mematok harga tambahan untuk Disney+ Premier Access di negara US yaitu 29.99 dolar dan dalam rupiah sebesar Rp439.000.


Ya, sangat disayangkan memang. Mulan hanya bisa disaksikan dalam format yang tak seharusnya. Dari trailer pun, mise-en-scene film ini pantas untuk disaksikan di layar lebar.



Di luar nasibnya yang hanya tayang eksklusif di VOD dengan akses tambahan, Mulan sebagai film ini sendiri berhasil tampil sangat prima. Segala perubahan dan perbedaan yang terjadi di film live action-nya ini tak bisa menutupi segala kemagisan Mulan secara keseluruhan. Tak hanya magis, film ini pun penuh akan aksi yang megah dengan sentuhan emosi yang kuat.


Oh tentu saja, Mulan versi ini sebenarnya inti ceritanya tak jauh berbeda dengan film animasinya. Di mana, di sebuah pojokan kampung kecil ini, tinggallah salah satu keluarga dari Hua Zhou (Tzi Ma) yang beranggotakan Istri dan 2 orang anak perempuannya. Salah satunya bernama Hua Mulan (Liu Yifei). Dia menjadi sosok perempuan yang lebih suka melakukan hal-hal yang berbeda dibanding perempuan yang lain. Hingga suatu ketika, The Emperor memutuskan untuk mencari balada perang untuk melawan Bori Khan (Jason Scott Lee) yang ingin berkuasa. 


Setiap anggota keluarga wajib mengutus satu anggota laki-laki dalam keluarganya untuk menjadi relawan. Hua Zhou yang menjadi satu-satunya anggota laki-laki di keluarga ini tentu merelakan dirinya. Tapi, Mulan tak tinggal diam. Dia berkorban untuk menyelamatkan sang Ayah dan keluarganya untuk berperang melawan Bori Khan dan menyelamatkan The Emperor dari kehancuran.



Dengan cerita yang sama, tapi ada yang beda. Apa ya?


Remake dari Mulan ini memang sedikit berbeda dengan yang lainnya. Jika diperhatikan, Mulan versi Niki Caro ini memang sedikit berkurang rasa “Disney” seperti remake live action sebelumnya. Tanpa musikal, tanpa kesan-kesan fantasinya, Mulan live action ini punya rasa baru tapi tak kehilangan identitasnya sebagai film dari Disney.


Sang sutradara tahu bahwa Mulan ini memang ingin melakukan misi baru pula sebagai sebuah film yang berdasarkan kisah yang pernah ada. Tapi, Niki Caro juga tak ingin begitu saja menghilangkan kekhasan dari film-film Disney yang lain. Masih ada sedikit sentuhan fantasi yang berusaha ditempelkan di beberapa mise-en-scene di filmnya. Mulai dari warna, pengambilan kamera, hingga sedikit sentuhan fantasi di dalam filmnya meski tak sesignifikan itu.


Niki Caro mengubah Mulan ini tetap menarik untuk diikuti meskipun kisahnya familiar. Rendisi terbarunya ini malah mengulik bagaimana karakter Mulan ini berkembang dan bisa menjadi representasi bagi para perempuan untuk menentukan hidupnya sendiri. Perjalanan karakternya bisa menggugah hati penontonnya untuk simpati. Ditambah Liu Yifei berhasil bermain dengan sangat kuat sebagai karakter Mulan itu sendiri.

Poin menarik yang ditambah dari film Mulan ini adalah dengan adanya karakter tambahan bernama Xianning. Karakter seakan berusaha memberikan kasus tentang dua mata pedang.  Dengan dua problem yang sama, perempuan bisa saja dipersepsikan berbeda. Hingga bagaimana perempuan itu sendiri bisa menyikapi dan membuktikan dirinya bahwa persepsi buruk yang dibuat oleh masyarakat itu salah. Maka dari itu, perempuan juga membutuhkan bantuan dari perempuan lain. Dengan bersama-sama, mereka saling membantu untuk menghilangkan paradigma itu.


Nilai-nilai konversi ini mungkin muncul dari sutradara Niki Caro sebagai seorang perempuan. Bisa jadi dia ingin sekali menjadikan Mulan sebagai simbol akan perempuan yang berbeda dan dipersepsikan dengan baik oleh masyarakat. Bahwa, perempuan juga bisa melakukan pekerjaan laki-laki tanpa perlu takut untuk dipersepsikan buruk. Melawan paradigma “kodrat perempuan” harus di rumah untuk mengharumkan nama keluarga. Padahal, potensi seorang perempuan bisa saja lebih dari itu.



Jangan lupakan bagaimana Niki Caro juga berhasil memunculkan adegan pertempuran yang luar biasa mengagumkan. Diambil dengan shot-shot cantik tapi tak mengurangi intensitas dari adegan pertempuran itu sendiri. Lalu, ada tribute shot by shot di film animasinya yang dilakukan di film live action-nya ini. Sehingga, Mulan live action tidak melupakan source utamanya.


Jadi, sebagai film live action remake dari cerita klasik Disney, Mulan adalah sajian yang sangat memuaskan. Meskipun berbeda pendekatan dibanding film-film remake Disney sebelumnya, tapi film ini teteap berhasil tampil sangat prima dan sangat menghibur penontonnya. Dibalut pula dengan gambar cantik dengan scoring megah dengan hint lagu Reflection. Sehingga, tanpa adegan musikalnya pun, Mulan sangat menghipnotis. Masih magis!



Sebuah catatan kecil dari penulis:
Nonton film ini dengan Disney+ Premier Access (iya, akhirnya purchase juga) dan layar kecil saja masih magis. Dampaknya mungkin bisa lebih besar lagi, jika film ini bisa tayang di Bioskop. Mari berharap, semoga saja film ini bisa tayang di saat bioskop nanti bisa buka.