• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label December. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label December. Tampilkan semua postingan

SOUL (2020) REVIEW: Perjalanan Mencari Arti Kehidupan yang Menyenangkan dan Bermakna


Setelah di awal tahun sebelum pandemi melanda, Pixar telah merilis Sebuah kisah tentang perjalanan kakak dan adik dengan usaha menemui adiknya. Di akhir tahun, Pixar juga menyiapkan satu kisah terbaru lagi untuk bisa dinikmati oleh penggemarnya. Ya, Soul, project milik Pete Docter ini harusnya bisa dinikmati di layar besar di bulan Juni 2020 kemarin. Tetapi, dengan situasi dan kondisi yang belum juga membaik, Disney memutuskan untuk memindahkan Soul ke jadwal rilis yang lebih aman.

Tetapi, bukan lagi menjadi film yang dirilis di bioskop. Soul harus rela dan puas dirilis dalam streaming platform pribadi milik Disney yaitu Disney+. Yes, Soul hadir untuk memeriahkan Hari Natal tahun 2020 kemarin karena rilis bertepatan di tanggal 25 Desember 2020. Pete Docter sepertinya memang tertarik dengan kehidupan di lain dimensi seperti yang dia kulik lewat Inside Out. Bukan tentang perasaan, tetapi Soul mengulik kisah tentang:


“Bagaimana ya proses jiwa-jiwa manusia sebelum lahir ke dalam kehidupan aslinya?”


Bisa saja premis dari kisah yang diangkat di dalam film Soul ini berangkat dari satu pertanyaan menggelitik ini. Akhirnya, Soul hadir menjadi satu fitur film yang dibintangi oleh beberapa nama menarik yang terlibat. Dari Jamie Foxx hingga Tina Fey. Pete Docter juga menulis sendiri kisah tentang kehidupan tentang jiwa-jiwa manusia ini.



Hasilnya, Soul menjadi salah satu karya dari Pixar yang bisa dibilang lebih dewasa dibanding film-film yang lainnya. Bila Inside Out pun mengulik tentang perasaan anak kecil yang sedang berkembang. Soul hadir untuk mengingatkan para manusia paruh baya untuk bisa semangat menjalani hidupnya yang terkadang sudah mulai hilang arah. Ya gimana tidak, kisahnya saja diantarkan dengan karakter orang dewasa yang mulai merasakan krisis identitas di dalam hidupnya. 


Dia adalah Joe Gardner (Jamie Foxx), seorang Musisi yang terjebak dalah kehidupan orang dewasa yang menuntutnya untuk hidup dengan lebih Mawas diri. Dia tetap menjalani kehidupan dengan passion-nya yaitu musik. Tetapi, dia hanyalah menjadi guru musik yang terjebak di situasi itu-itu saja. Hingga akhirnya, sebuah panggilan telepon akan mengubah hidupnya.


Salah satu mantan muridnya, mengajaknya untuk bisa tampil dengan musisi yang dia idamkan, Dorothea Williams. Joe diminta hadir untuk bisa menunjukkan kemampuannya dalam bermain musik Jazz seperti yang biasa dia lakukan. Pada akhirnya, Joe berhasil mendapatkan panggung pertamanya untuk main musik di depan umum. Tetapi, di saat perjalanan pulang dan di mana Joe sedang bahagia-bahagianya, dia malah terjatuh ke dalam lubang pembangunan jalan. Hal ini membuat dirinya koma dan jiwanya tersesat di dunia lain.



Lantas, seperti apa perjalanan Joe setelah memasuki dunia penuh jiwa ini?


Di tengah usahanya untuk bisa kembali ke tubuhnya, kisah Joe di dalam Pixar’s Soul akan memberikan perjalanan yang akan membuka mata penontonnya. Menyampaikan pesan tentang kehidupan yang sangat bermakna bagi penonton-penonton yang sedang mengalami krisis dalam hidupnya. Ya, Pixar mungkin berusaha mendobrak paradigma untuk menggunakan mediumnya— yaitu film animasi— untuk bisa dinikmati oleh penonton dewasa. Tujuan film animasi bukan sebatas memberikan kisah-kisah yang dinikmati oleh penonton anak kecilnya. Serta, film animasi bukan juga untuk menuntun bagaimana anak-anak harus berperilaku.


Lewat Pixar’s Soul, Pete Docter tak memberikan limitasi tentang film animasi harus seperti apa. Dia menceritakan apa yang ingin dia sampaikan dengan medium yang dikuasainya. Hasilnya, film ini memberikan perjalanan yang sangat thoughtful. Apa sih yang kamu mau dalam hidup? Bukankah bertahan dalam kehidupan yang suka ada-ada saja itu sudah lebih dari cukup? Nah, pertanyaan ini yang berusaha dijawab oleh Pete Docter lewat Pixar’s Soul.


Belum jatuh terlalu dalam untuk hadir sebagai film animasi yang terlampau depresif. Mungkin, karena Pixar masih berada di bawah naungan Disney dan masih ingin kisah-kisahnya diterima oleh target segmentasi anak-anak. Pixar’s Soul menyajikan petualangan tentang kehidupan yang masih menyenangkan. Masih menyajikan desain-desain animasi yang menggemaskan dengan warna-warnanya yang colorful ketika berada di The Great Beyond dan The Great Before sebagai settingnya.



Tetapi ketika berada di kehidupan dewasa milik Joe, Pixar’s Soul berusaha untuk menyajikan animasi yang lebih realistis. Dengan penataan kamera dalam film-film animasinya terasa seperti film-film live action yang dengan pencahayaan yang lebih moody. Penuturan kisah yang dilakukan oleh Pete Docter di film Soul mungkin tidak akan sekompleks Inside Out. Ini adalah cara Pete Docter untuk menyampaikan kisah tentang kehidupannya. Mungkin, tahu bahwa membicarakan persoalan kehidupan itu akan menyita waktu dan tenaga. Menyampaikan filmnya pun harus sesantai mungkin agar pesannya bisa diterima dengan maksimal oleh penontonnya.


Benar saja, Pixar’s Soul pun menyajikan kisahnya dengan ringan lewat cerita body swap yang ada di dalam film ini. Menyenangkan mengikuti perjalanan Joe dan si gemas, Mr. Mittens untuk menjadi melihat dunia dan kehidupan di sekitarnya. Naskahnya seakan tak berusaha untuuk pretensius layaknya Inside Out. Tetapi, setelah menonton film ini dampak yang dihadirkan akan lebih bermakna. Ya, seakan Pete Docter berusaha untuk membuat filmnya juga sama bermaknanya dengan kehidupan yang dijalani oleh Joe dan bisa diaplikasikan kepada kehidupan penontonnya.


Bukan film Pixar namanya apabila tidak menyelipkan adegan-adegan emosional yang bisa membuat penontonnya merenung atau bisa menjatuhkan air mata. Yes, Pixar’s Soul tentu memiliki adegan-adegan tersebut. Tetapi, rasanya kali ini berbeda dengan film-film Pixar yang lain. Bukan adegan emosional yang akan memberikan perasaan sedih, tetapi perasaan lega. Menontonnya akan membuat penonton untuk berkontemplasi akan kehidupannya, merenungkan apa yang sudah pernah dilakukan. Lalu, membawa penonton untuk bisa menangis bahagia di akhir film karena seakan ikut sudah menemukan sparks dalam hidup mereka seperti karakter Joe dan 22 di dalam film ini.



Keindahan dari Pixar’s Soul dilengkapi dengan scoring dari Trent Raznor & Atticus Ross yang berkolaborasi dengan musik Jazz dari Jon Batiste. Memperkuat segala vibe Jazz tetapi juga bisa memperkuat nuansa dunia The Great Beyond dan The Great Before dengan musik techno yang terasa futuristik ini. Menjadikan setiap perjalanannya memiliki musik temanya masing-masing ditutup dengan lagu It’s Alright yang dilantunkan oleh Jon Batiste berkolaborasi dengan Celeste untuk menutup filmnya.


Maka dari itu, Pixar’s Soul adalah sebuah perjalanan menelusuri arti tentang kehidupan yang lengkap. Tak sekedar perjalanan yang menyenangkan untuk diikuti. Tetapi juga memberikan arti tentang kehidupan yang sangat bermakna sekaligus dibawa ke dunia imajinatif Pixar dan sangat emosional. Layaknya kehidupan yang kamu jalani sekarang. Meski banyak naik turunnya, tapi tetap sebuah perjalanan yang layak kamu nikmati segala prosesnya. Ya, Pixar’s Soul pun berusaha untuk terlihat demikian. Bagus sekali!

GODMOTHERED (2020) REVIEW: Kisah Familiar dari Disney yang Membuat Hati Senang

Natal dan Tahun Baru. Menjadi momentum bagi film makers Hollywood untuk membuat film untuk menemani para penikmat film. Film-film bertema keluarga yang ringan tapi menyenangkan ini perlu hadir untuk memeriahkan momennya. Tentu, ini lahan Disney untuk membuat film dengan tema seperti ini. Meski bukan untuk dirilis secara teatrikal -selain kondisi pandemi yang tak kunjung mereda -tapi, Disney mencoba untuk menghadirkan semangat liburan ini ke dalam film yang dirilis langsung ke layanan streamingnya.

Tak hanya berkutat dengan setting waktu yang menyesuaikan momen liburan Natal dan Tahun Baru, tapi di film original-nya ini Disney bermain di ranahnya. Mengulik lagi tema fairy tale yang biasa diangkat oleh rumah produksi satu ini dengan sedikit twist yang lain. Godmothered, film persemabahan dari Disney untuk memeriahkan festive liburan tahun ini berasal dari sutradara Bridget Jones yaitu Sharon Maguire. Dimeriahkan pula oleh Jillian Bell dan Isla Fisher yang berkolaborasi di dalam film ini.


Dengan sajian trailer yang menarik, orang-orang yang suka dengan film tema serupa akan dengan mudah jatuh cinta dan menantikan film Godmothered ini. Apalagi, buat penonton yang Sudah familiar dengan cerita-cerita Disney dengan tema seperti ini. Godmothered tentu menjadi sajian yang sangat ringan untuk dinikmati sambil bersantai di rumah bersama keluarga. Jalinan ceritanya memang sederhana, tapi Godmothered bisa membuat penontonnya merasakan kenyamanan untuk menonton hingga akhir.



Gimana gak ringan? Kisahnya juga cuma menceritakan tentang seorang Ibu peri baru bernama Eleanor (Jillian Bell) yang tak Punya kesempatan untuk membuktikan skillnya. Sampai akhirnya dia menemukan sebuah pesan dari seorang anak yang ingin punya kehidupan bahagia. Eleanor merasa ini waktu yang tepat untuknya. Sehingga, dia memutuskan kabur dari negeri ‘dongeng’nya dan menyelesaikan misi dari anak ini untuk menemukan ‘hidup bahagia selamanya’.


Ketika Eleanor sudah rela kabur dan bertemu dengan anak ini, ternyata sang anak sudah berusia paruh baya. Ya, dia adalah Mackenzie (Isla Fisher) yang menjadi seorang janda anak dua yang ditinggal suaminya. Pertemuan pertama mereka tentu membingungkan. Apalagi Mackenzie yang notabene Sudah menjadi dewasa tentu akan susah percaya Eleanor adalah seorang Ibu Peri. Tapi, Eleanor tak patah semangat. Dia mencoba untuk terus membuat Mackenzie percaya dan mewujudkan impiannya.



Disney dan kisah di zona aman tapi bikin nyaman.


Inilah yang dirasakan setelah nonton Godmothered dari Disney yang diarahkan oleh Sharon Maguire yang menjadi Disney+ Originals. Kisah-kisahnya mungkin familiar dengan beberapa film-film Disney yang lain. Tak ada sesuatu yang baru yang dihadirkan di dalam Godmothered sebenarnya. Kisahnya juga sangat predictable. Ya, namanya juga film buat keluarga, jadi plotnya begitu sederhana dan ringan. Tapi, charm-nya masih bisa dirasakan dengan sangat kuat. Tipe-tipe film yang kalau kelar nonton, bisa bikin hati bahagia.


Perjalanan filmnya juga pas untuk diikuti berkat performa Jillian Bell dan Isla Fisher yang bisa menghidupkan suasana filmnya. Atmosfir film liburan yang menyenangkan ini melekat dengan mudah di dalam film ini. Tentu, menjadi teman tontonan liburan bersama keluarga yang sesuai. Tapi, ada beberapa perubahan pesan yang berusaha disampaikan tentang film ini. Godmothered berusaha medaur ulang pesan usang dari Disney tentang kehidupan “bahagia selamanya”.


Inilah menariknya Disney dengan karya-karya terbarunya. Meski tetap berada di zona aman dalam jalinan ceritanya, tapi ada redefinisi dalam pesan-pesan usangnya. Godmothered juga melakukan tren yang sama. Memberikan pengertian kepada penontonnya bahwa standar “bahagia selamanya” bagi Setiap orang mungkin berbeda-beda. Terutama pada karakter-karakter perempuan di dalam film ini.



Iya, perempuan biasanya menganggap bahwa “hidup bahagia selamanya” adalah dengan menikahi seorang “pangeran” tampan dalam hidupnya. Standar inilah yang berusaha dipatahkan dalam film Godmothered. Begitu pula dengan apa yang ditulis di dalam film ini. Perempuan bisa memilih apapun keputusan dalam hidupnya selama dia bahagia. Bahkan, lewat dominasi karakter perempuan di dalam film ini, menunjukkan bahwa sesama perempuan pun bisa menguatkan satu sama lain. Karena tak selamanya memiliki pendamping hidup adalah goals utama dari semua perempuan di dunia.


Dengan pesan yang cukup berat ini, tapi Godmothered tahu bahwa film ini punya targetnya. Siapa lagi kalau bukan penonton keluarga dan untuk semua usia. Dengan pesannya yang besar, mungkin penyelesaian ceritanya juga dianggap terlalu mudah. Ini adalah kelemahan dari Godmothered. Penutupnya yang terlalu mudah, terlalu padat, tapi emosi yang disampaikan di film ini tak terlalu kuat. Jadinya, penyelesaian film ini akan berlalu begitu saja.


Belum lagi subplot lain yang hadir di film ini yang malah kesannya hanya sebagai pendamping. Mungkin hanya digunakan sebagai syarat agar plot ceritanya bisa berjalan sampai 100 menit. Tapi, semuanya terasa terlalu cepat, tanpa perlu dikulik lebih. Mungkin ini juga yang dilakukan agar film ini tetap terasa ringan untuk ditonton. 



Ya, tapi Godmothered tetap menyenangkan untuk disaksikan di tengah suasana pandemi yang tak kunjung mereda. Menonton film ini akan membuat hati bahagia. Apalagi, Godmothered serasa berusaha untuk mengingatkan penontonnya dengan film yang lain. Seperti kisah-kisah klasiknya, Cinderella hingga kisah klasik moderen-nya lewat Enchanted. Meski film ini belum bisa menyaingi keduanya, tapi ini adalah feel-good film yang sayang buat dilewatin gitu aja.

MARY POPPINS RETURNS (2018) REVIEW: A New Rendition With Beautiful Old Charm


Disney memiliki banyak stok film untuk dihadirkan kembali di layar lebar. Tak hanya film animasinya saja yang ditayangkan kembali dalam bentuk live-action, tetapi Disney juga punya memiliki misi menghadirkan nostalgia kepada penontonnya. Salah satunya lewat menghadirkan kembali sosok-sosok legendaris dari Disney dan hal ini sudah dicoba lewat sosok Winnie The Pooh yang hadir lewat film arahan Marc Forster, Christopher Robin.

Kali ini giliran kisah yang film pertamanya diadaptasi dari buku P.L. Travers yaitu Mary Poppins. Sosok penjaga anak-anak yang magis ini kembali hadir dengan rentang waktu yang cukup lama. Film pertama Mary Poppins dirilis di tahun 1964 dengan Julie Andrews sebagai pemeran utamanya. Robert Stevenson kala itu menjadi sutradara untuk Mary Poppins. Berselang 54 tahun, Mary Poppins kembali menyapa penonton generasi sekarang dengan banyak perubahan.

Perubahan pertama tentu pada pengarahnya, Rob Marshall ditunjuk sebagai komando tertinggi untuk film ini. Tak hanya itu, Julie Andrews tentu saja tak kembali menjadi sosok Mary Poppins dan aktor perempuan bertalenta bernama Emily Blunt yang berkesempatan untuk menggantikannya. Diramaikan oleh nama-nama lain mulai dari Ben Whishaw, Lin-Imanuel Miranda, Julie Walters, Meryl Streep, Colin Firth hingga Dick Van Dyke. Mary Poppins Returns dipilih menjadi judul untuk sekuelnya ini.


Dengan selang waktu yang cukup lama, tentu akan menjadi tugas dari Rob Marshall mengembalikan daya magis untuk Mary Poppins Returns. Bahkan, tugas utamanya tentu tak hanya mengembalikan nostalgia tetapi juga untuk mengenalkan sosok Mary Poppins dengan generasi sekarang yang mungkin tak banyak yang mengenal karakter film ini. Kepercayaan penonton zaman sekarang terhadap Mary Poppins Returns ini tentu hanya bertumpu pada nama Disney sebagai sebuah korporasi yang besar dan ternama.

Yang terjadi adalah Mary Poppins Returns tidak benar-benar bertumpu pada kesan nostalgia saja di dalam filmnya. Mary Poppins Returns berkerja sebagai rendisi baru dari nada-nada yang sudah ada di dalam film Mary Poppins sebelumnya. Dengan dasar itu, tentu saja Rob Marshall memiliki semangat menyampaikan misinya mengenalkan Mary Poppins kepada semua generasi baik yang mengenal maupun yang belum kenal. Belum lagi, performa Emily Blunt yang semakin memperkuat indahnya film ini.


Memang masih ada benang merah antara Mary Poppins Returns dengan film pendahulunya. Kisahnya masih berkutat pada karakter yang sama meskipun setting tahunnya sudah berbeda. Mary Poppins masih mendatangi keluarga Banks yang kali ini dirundung masalah. Michael (Ben Whishaw) sedang dalam kondisi terpuruk secara finansial dan datanglah berita buruk bahwa rumah yang ditinggali sejak kecil bersama orang tua dan Jane (Emily Mortimer), adik perempuannya, harus disita oleh bank.

Kebingungan Michael semakin menjadi-jadi karena dia juga baru ditinggal oleh istri tercintanya dengan ditinggal 3 anak yang dia sayangi. Ketika Michael mulai sibuk dengan kesedihannya, datanglah pengasuh dengan daya magis saat Michael dan Jane masih belia. Ya, Mary Poppins (Emily Blunt) hadir kembali ke keluarga Banks dan membantu Michael menjaga ketiga anaknya yaitu John (Nathanael Saleh), Anabel (Pixie Davies), dan George (Joel Dawson).


Mary Poppins Returns sebagai sebuah film berusaha untuk menjadi medium bagi penontonnya merasakan kembali kesenangan dan kebahagiaan menjadi anak kecil yang senang berimajinasi. Layaknya kisah dalam filmnya di mana Mary Poppins hadir untuk ketiga anak kecil ini untuk sedikit melupakan kejadian-kejadian sedih yang bahkan membuat masa kecil mereka tak bahagia. Selagi itu, masih diceritakan tanggung jawab Michael sebagai orang dewasa yang mencari sertifikat yang bisa menyelamatkan rumahnya.

Rob Marshall selaku sutradara dari Mary Poppins Returns masih memiliki visi untuk mewarisi keindahan dan daya pikat yang ada di dalam film Mary Poppins milik Robert Stevenson. Masih menjadikan film ini sebagai sebuah film musikal adalah salah satunya. Rob Marshall tentu tak lagi baru dalam menggarap sebuah film musikal. Akan dengan mudah bagi Mary Poppins Returns untuk memiliki sekuens-sekuens musikal yang sangat indah.

Musikalnya masih memiliki ciri khas dari Rob Marshall yang sangat teatrikal. Mulai dari prelude dari film ini yang sudah mengantisipasi penontonnya agar tahu apa yang mereka saksikan selebihnya dalam 130 menit. Beberapa sekuens musikalnya pun juga masih mengambil referensi dari film pendahulunya dengan tambahan animasi dua dimensi dengan pembaruan yang sangat memanjakan mata. Tentu saja, sekuens-sekuens dengan mudah memancarkan kemagisannya.


Tak hanya mewarisi keindahan lewat sekuens musikalnya, Mary Poppins Returns masih menjadi sebuah pengingat tentang semangat menjadi anak-anak. Baik di film pertama maupun di Mary Poppins Returns ini masih membahas tentang imajinasi seorang anak yang tak boleh dibatasi. Terkadang seseorang yang telah dewasa pun lupa bagaimana pentingnya sesekali menjadi anak-anak. Entah menjadikannya sebagai sebuah medium pelarian diri terhadap konflik orang dewasa yang semakin pelik, atau menjadikannya sebagai mencari sudut pandang yang lain.

Mary Poppins sebagai sosok karakter pengasuh ini adalah perwakilan dari pengontrol pentingnya bersenang-senang selagi masih bisa. Sepelik apapun hidup yang ada di sekitarmu, pastikan masih ada waktu dan kesempatan untuk tetap sadar dan tak menjadi gila karena dirundung masalah. Ya, Mary Poppins tentu cocok sekali dengan korporasi Disneyyang selalu memproduksi mimpi-mimpi yang penuh kebahagiaan sehingga apapun produk anak-anaknya selalu dijadikan standar tentang perilaku seorang anak.

 
Mary Poppins Returns memang datang tak sebagai sebuah karya yang sempurna. Dengan durasinya yang mencapai 130 menit, Mary Poppins Returnsmungkin hadir cukup panjang dengan beberapa konflik yang ditarik ulur. Meskipun, beberapa adegannya ini dijadikan sebagai sebuah pesan implisit dan simplifikasi tentang konflik dewasa agar bisa diceritakan kepada anak-anak. Meski tak baru, tetapi semangat itu selalu ada di dalam film Mary Poppins.

Diluar durasinya yang sedikit terlalu panjang, masih ada performa musikal yang indah untuk dinikmati mulai dari Can You Imagine That, Trip A Little Light Fantastic, The Place Where The Lost Things Go, hingga Nowhere To Go But Up yang menghangatkan hati. Tentu hal ini tak muncul begitu kuat apabila tak ada performa yang sangat menarik hati dari Emily Blunt. Dirinya bisa mentranslasikan Mary Poppins milik Julie Andrews dengan sangat baik di film terbarunya.


Lagu-lagunya pun memiliki nada-nada yang sama dengan beberapa lagu milik Mary Poppins di film sebelumnya seperti Lets Go Fly A Kite hingga A Spoonful of Sugar yang digubah oleh Marc Shaiman. Inilah juga menjadi bukti bahwa Mary Poppins Returns milik Rob Marshall ini tak hanya sekedar meneruskan legacy dari film Mary Poppins sebelumnya. Tetapi, lebih kepada usaha Rob Marshall melakukan rendisi ulang dari nada-nada yang ada sehingga Mary Poppins Returns tetap menjadi karya yang bisa berdiri sendiri tetapi tak melupakan akarnya. Indah sekali.

SPIDER-MAN: INTO THE SPIDER-VERSE (2018) REVIEW : Salah satu Film Spider-Man Terbaik


Setelah lisensi Spider-Manmenjadi bagian dari Disney, Sony Pictures tentu kehilangan salah satu pundi uang terbesarnya. Tetapi, Sony tak melepaskan semua lisensinya ke Disney, dia masih memiliki sebagian hak untuk mengontrol karakter Spider-Mansebagai karakter dari komik Marvel. Maka, muncul ide dari Sony Picturesuntuk membuat sebuah film animasi tentang karakter Spider-Man ini. Proyek ini tentu dianggap sebelah mata oleh penikmat film.

Spider-Man: Into The Spider-Verse menjadi proyek film animasi berdasarkan karakter Spider-Man terbaru dari Sony Pictures. Film ini disutradarai oleh Bob Persichetti, Peter Ramsey, dan Rodney Rothman. Film ini juga mendapatkan supervisi naskah dari Phil Lord yang mendapatkan bantuan penulisan dari Rodney Rothman. Ketika sudah cukup banyak karakter Peter Parker di dalam film Spider-Man, film ini mengambil arc character Miles Morales sebagai gantinya.

Meskipun, ketika trailer film ini keluar, masih banyak yang beranggapan bahwa sudah terlalu banyak film dari karakter Spider-Man yang dibuat oleh Hollywood. Spider-Man: Into The Spider-Versediramaikan oleh banyak bintang yang menjanjikan. Ada Jake Johnson, Hailee Steinfield, dan Mahershala Ali di pengisi suaranya. Serta, Shameik Moore sebagai pengisi suara karakter utamanya, dan masih ada banyak nama seperti Nicolas Cage, Zoe Kravitz, hingga Liev Schreiber.


Hingga diwaktu film ini rilis, banyak reaksi positif yang keluar saat itu. Beberapa orang bahkan ada yang menobatkan film ini sebagai film Spider-Man terbaik yang pernah dibuat dan salah satu film animasi terbaik tahun ini. Sebagai film animasi, Spider-Man: Into the Spider-Verse memang bisa memberikan visual animai yang berbeda dengan film-film animasi komersial pada umumnya dan memberikan warna baru dalam medium film animasinya.

Sebagai sebuah film Spider-Man, film ini memang belum bisa dikategorikan sebagai yang terbaik dari yang sudah ada. Salah satu yang terbaik mungkin lebih tepat, karena Spider-Man: Into The Spider-Verse adalah sebuah film yang sangat solid. Spider-Man: Into The Spider-Versememiliki ide cerita yang gila tetapi juga memiliki pengarahan cerita yang sangat mumpuni sehingga ide gila itu bisa berubah menjadi sebuah film yang keren luar biasa.


Spider-Man: Into the Spider-Verseini memang terfokus pada sosok Miles Morales (Shameik Moore), seorang murid pintar yang merasa terjebak di sekolahnya dan keluarganya. Dia merasa keluarganya tidak mendukung hobinya yang suka membuat mural. Sehingga, dia pergi ke rumah pamannya untuk melampiaskan hal itu. Sang paman bernama Aaron (Mahershala Ali) ini mengajaknya ke sebuah tempat agar melampiaskan keinginan Miles.

Miles melampiaskan semua hobinya ke dalam mural yang dia buat hingga dirinya tak sadar bahwa ada laba-laba mutan yang mengigitnya. Keesokan harinya, Miles pun memiliki perubahan dan kekuatan. Ya, cerita Miles Morales masih terasa memiliki cerita Spider-Mansecara generik. Tetapi ide gila itu muncul ketika konflik utamanya muncul. Memberikan sebuah nafas segar sekaligus tributekepada komik-komik Spider-Man yang pernah ada.  

Di mana di dunia Miles, Peter Parker (Jake Johnson) masih lah menjadi sosok Spider-Man yang diagungkan banyak orang. Datanglah sang musuh bernama Wilson Fisk (Liev Schrieber) yang sedang berusaha membuat mesin yang bisa membuat dunia dari dimensi lain saling berdatangan. Hal inilah yang membuat semua karakter Spider-Man yang pernah dibuat bisa datang berada di satu dunia. Mulai dari Spider-Gwen, Spider-Ham, Spider-Noir, dan Spider-Man Peter Parker lain yang berbeda.


Ide gila macam ini tentu akan sangat susah untuk dijadikan sebuah film live action. Mengumpulkan bermacam-macam Spider-Man dengan berbagai konfliknya, selain budget yang akan membengkak sehingga sangat berisiko, juga belum tentu ceritanya bisa tersampaikan dengan baik seutuhnya. Bob Persichetti, Peter Ramsey, dan Rodney Rothman berhasil membuat Spider-Man: Into The Spider-Versemenjadi sebuah film animasi yang rumit tetapi masih sangat nikmat untuk diikuti.

Kerumitan di dalam filmnya masih dalam taraf yang menyenangkan. Seakan mereka bertiga tahu, bila film ini dijadikan sebagai sebuah film animasi, masih ada target segmentasi anak-anak yang juga harus bisa dicakup. Terlebih, film animasi ini juga membawa karakter superhero yang sangat dikenal oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Mereka bertiga seakan secara pelan-pelan menuntun semua penontonnya agar menikmati setiap alur cerita beserta konfliknya yang sedang ditawarkan.


Tak hanya sekedar rumit, tetapi setiap karakternya juga bisa digali dengan baik. Akan ada rasa simpati yang muncul kepada setiap karakter Spider-Man yang muncul dan karakter-karakter pendukung yang semakin mengembangkan karakter Miles Morales sebagai karakter utama. Dengan pengembangan karakter dan penuturan yang tepat, film ini tak hanya sekedar menghibur dan menyenangkan penontonnya. Di saat yang tepat, Spider-Man: Into The Spider-Verseakan bisa menyentuh penontonnya.

Selain bagaimana film ini bisa menuturkan kisah rumitnya dengan baik, Spider-Man: Into The Spider-Verse juga memiliki visual yang unik dan menarik. Kecantikan setiap menit animasinya akan terasa sangat berbeda dibandingkan dengan film-film animasi pada umumnya. Tidak berusaha menjadikannya menjadi senyata mungkin, tetapi lebih kepada menjadikannya sebagai tribut gambar pada komik yang terlihat di setiap framing filmnya.


Spider-Man: Into The Spider-Versepun masih dipercantik lagi dengan balutan musik dan soundtrack yang nuansanya makin mendukung filmnya. Sehingga, tentu saja Spider-Man: Into The Spider-Versemenjadi salah satu tontonan yang mencuri perhatian di tahun ini ketika menuju akhir tahun 2018. Menjadi yang terbaik bukan salah satu inti dari film ini, tetapi menjadi salah satu yang terbaik dan unik sepertinya lebih tepat dengan tujuan Spider-Man: Into The Spider-Verse. Hal itu sesuai dengan pesan di dalam filmnya, bahwa semua orang bisa menjadi yang terbaik.

AQUAMAN (2018) REVIEW : Another DC Films and Their Mess


Setelah mendapatkan film ensembel pahlawan super dari DC yaitu Justice League yang dirilis tahun lalu, tentu banyak orang yang ingin tahu bagaimana cerita masing-masing pahlawannya. Untuk tahun ini, datanglah kesempatan dari sosok Aquaman yang mendapatkan kisahnya sendiri. Keberadaannya mungkin sudah mulai diperhatikan di Justice League. Itupun terlebih karena pemeran Aquamanadalah Jason Momoa yang lebih dahulu terkenal sebelumnya.

Proyek Aquaman ini sudah direncanakan cukup lama dengan adanya James Wan sebagai komando dalam pengarahan filmnya. Tentu ada nama-nama lain yang cukup menggugah selera penonton untuk menunggu Aquaman. Selain Jason Momoa, ada nama Amber Heard sebagai Mera yang sudah muncul di film Justice League. Lalu tentu saja Patrick Wilson sebagai aktor favorit James Wan, ditemani oleh Nicole Kidman, Dolph Lundgren, hingga William Dafoe.

Melihat rekam jejak James Wan dalam mengarahkan film mulai dari franchise Fast & Furious hingga film horor sukses The Conjuring, tentu memberikan sedikit rasa percaya dengan performa Aquaman nantinya. Terlebih, beberapa set up milik Worlds of DC ini bisa dibilang masih belum cukup kuat meskipun sudah mengeluarkan film ensembel pahlawan supernya. Apalagi secara apa yang ditampilkan di layar, sebenarnya Aquaman memiliki daya tariknya sendiri karena menceritakan tentang dunia bawah lautnya.


Naskah dari Aquaman ditulis oleh David Leslie Johnson-McGoldrick dan Will Beall yang berangkat dari ide cerita ramai-ramai dari James Wan sendiri dan produser Worlds of DC, Geoff Johns. Dengan turunnya sang produser dari Worlds of DC dalam proses membentuk ide cerita, seharusnya bisa membuat Aquamanmenjadi awal baru yang pas untuk melanjutkan linimasa yang ada. Sayangnya, dengan durasi yang sudah mencapai 143 menit, Aquaman tak bisa menyampaikan cerita yang dia mau.

James Wan mungkin bisa mentranslasikan keinginan film ini secara visual. Aquaman tak dapat dipungkiri memiliki konsep dunia dan visual yang sangat menarik untuk dilihat. Sayangnya, sebagai sebuah standalone film pahlawan super yang baru saja memiliki film pertamanya, Aquaman terlihat memiliki keinginan untuk secara instan membuat dunianya menjadi sangat besar. Sehingga, banyak sekali kisah yang ingin disampaikan hingga membuat 143 menitnya pun terasa tak cukup menampungnya.


Seharusnya, mulainya Aquamanbisa diceritakan dengan cukup sederhana. Dimulai ketika Atlanna (Nicole Kidman) yang terdampar di sebuah tepian. Dia ditemukan oleh seorang manusia biasa bernama Tom Curry (Temuera Morrison). Atlanna dan Tom pun pada akhirnya menjalin cinta lalu menikah dan lahirlah seorang anak laki-lakinya bernama Arthur Curry. Tetapi, Atlanna harus  kembali lagi ke Atlantis yang berada di dalam lautan, tempat dia tinggal sebelumnya.  

Arthur (James Momoa) yang sudah menjadi sosok dewasa didatangi oleh Mera (Amber Heard) untuk memberikan kabar tentang dirinya yang masih menjadi bagian dari penduduk Atlantis. Arthur yang sudah mengetahui dirinya sebagai seorang manusia berkekuatan super kembali ke Atlantis untuk mencari tahu silsilahnya. Keberadaan Arthur yang dicemooh karena hasil hubungan gelap Atlanna harus memperebutkan tahta kerajaan Atlantis yang menjadi haknya.


Dengan sinopsis cerita seperti itu, Aquaman tentu punya banyak plot yang bisa dikembangkan dalam satu film. Tetapi, Aquaman tak hanya berhenti tentang perebutan tahta saja, film ini harus ditambahi dengan datangnya musuh Aquaman dari kejadian masa lalu. Black Manta yang juga ikut mengejar Aquaman untuk membalaskan dendam. Dan inilah yang membuat 143 menit dari Aquaman menjadi sangat berantakan meski visualnya cukup menarik.

Aquaman mengenalkan 15 menit pertamanya dengan sangat baik. Penonton diajak untuk mengenal bagaimana Atlanna dan Tom bisa saling mengenal satu sama lain hingga hadirnya Arthur sebagai buah cinta mereka. Tetapi, hal itu ternyata hanya berhenti sampai di 15 menit pertama saja. James Wan tak melanjutkan kisah dasar dari sosok Aquaman ini agar penonton semakin dekat dengannya. Film ini seakan lupa sebuah fakta bahwa sebenarnya sosok Aquaman yang telah muncul di film-film sebelumnya ini masih belum dikenalkan dengan lebih rinci.

Hasilnya, ketika masuk ke dalam konflik utama dari film ini, akan ada missing link yang membuat kurangnya rasa menaruh simpati kepada karakter utamanya. Seakan tak menghiraukan, James Wan pun tetap melanjutkan Aquaman dengan dihajar oleh visual spectacle yang cukup menawan. Warna-warnanya memang tak bisa segelap film-film DC sebelumnya, sehingga Aquaman tentu masih memiliki visual yang cukup memanjakan mata.


Dengan pengenalan karakter yang belum matang, film ini memiliki konflik dengan intrik perebutan tahta yang memerlukan penggalian karakter lebih dalam seharusnya. Membahas tentang nepotisme dalam sebuah kerajaan tentu sebenarnya sangat menarik dalam sebuah film pahlawan super. Sayangnya, Aquaman membuat konflik semacam ini hanya sebagai aksesoris saja karena poin utamanya tetap berada di bagaimana menjadikan film ini sebagai ajang unjuk visual yang megah.

Masih berusaha untuk bertahan dengan konfliknya yang semakin rumit, ternyata film ini semakin merumitkan dirinya dengan menambahkan banyak karakternya. Bahkan, masih memiliki intensi untuk menambahkan karakter villain yang menjadi setup. Mungkin, Warner Bros dan DC sudah memiliki ancang-ancang dan visi ke depan untuk membuat seri-seri selanjutnya dari film ini. Sehingga, terlalu banyak membangun cerita yang berpotensi menjadi sekuel.


Dengan segala konflik-konflik yang merumitkan diri sendiri, Aquaman menyelesaikan konflik demi konfliknya dengan cara yang terlalu mudah. Film ini ditutup dengan cara yang hampir mirip dengan bagaimana Batman V Superman : Dawn of Justice menyelesaikan filmnya meskipun tidak seburuk itu. Andai saja Warner Bros dan DC mau untuk menurunkan sedikit ambisinya, membuat Aquamanbenar-benar lepas dari bayang-bayang Justice League yang sudah porak poranda itu, film ini mungkin akan lebih baik. Sayangnya, Aquaman lagi-lagi menjadi entrydalam film Worlds of DC yang masih berantakan.

JUMANJI : WELCOME TO THE JUNGLE (2017) REVIEW : Old Game, New Look, Generic Taste


Mungkin ada beberapa dari penonton yang telah tumbuh menjadi dewasa dengan Jumanji. Ya, film tentang permainan papan yang menjadi nyata itu sudah sangat melegenda pada zamannya. Sehingga, ada beberapa orang yang mungkin tak menghiraukan rencana Sony Pictures untuk menghadirkan kembali kisah tentang permainan tersebut. Tetapi, Sony Pictures masih saja berusaha optimis dengan rencananya menghidupkan kembali Jumanji.

Tentu, para orang yang sudah tumbuh dengan Jumanji akan merasa ragu dengan apa yang dilakukan Sony Pictures. Banyak yang skeptis dengan bagaimana performa Jumanji : Welcome To The Jungle ini nantinya. Tetapi, Sony Pictures tetap percaya diri dengan performa Jumanji : Welcome To The Jungle. Dibintangi oleh banyak pemain terkenal seperti Dwayne Johnson, Kevin Hart, Karen Gillan, dan Jack Black, Jumanji : Welcome To The Jungle disutradarai oleh Jake Kasdan yang biasa menangani film komedi.

Jumanji : Welcome To The Jungleini rupanya tak digubah menjadi sebuah remake. Tetapi, film ini adalah sebuah kisah lanjutan yang diadaptasi lebih kekinian agar penonton baru pun bisa lebih relevan dengan apa yang ditampilkan. Adaptasinya pun mengubah permainan papan menjadi permainan konsol dengan cerita yang juga mengikuti perubahan tersebut. Secara cukup mengagetkan, Jumanji : Welcome To The Jungle memiliki performa yang pas untuk dapat dinikmati sebagai sebuah film yang sangat menghibur penontonnya.


Inilah kisah Jumanji : Welcome To The Jungle yang sedang menyasar sosok remaja sekolah menengah atas. 4 remaja yang sedang mendapatkan hukuman dan terjebak di satu ruangan untuk segera mereka bersihkan. Mereka adalah Spencer (Alex Wolff), Fridge (Ser’Darius Blain), Bethany (Madison Iseman), dan Martha (Morgan Turner). Di tengah mereka sedang membersihkan ruangan tersebut, mereka menemukan sebuah permainan konsol tua dan memutuskan untuk bermain dengan permainan tersebut.

Setelah memilih karakter permainan sesuai dengan yang mereka pilih, sesuatu aneh terjadi dengan diri mereka. Permainan tersebut menghisap keempat remaja tersebut dan masuk ke dalam dunia permainan yang datang dari antah berantah. Di sana, mereka menjadi sosok yang mereka pilih. Mereka tak bisa keluar dari permainan tersebut. Satu-satunya jalan keluar adalah dengan menyelesaikan permainan tersebut yang ternyata bukan sesuatu yang mudah.


Jumanji : Welcome To The Junglememiliki konsep cerita yang sama dengan film pendahulunya. Sehingga, secara cerita pun sebenarnya tak ada hal baru yang berusaha ditampilkan oleh film ini. Tetapi, Jumanji : Welcome To The Junglediberkahi dengan jajaran aktor dan aktris yang berhasil membuat 115 menit filmnya memiliki performa yang sangat menyenangkan. Keputusan pintar dari Jake Kasdan untuk tak terlalu lama menceritakan kisah awal mula dari Jumanji : Welcome to the Jungle ini.

Cerita latar belakang setiap karakter dan alasan-alasan kenapa mereka bisa terjebak ke dalam permainan ini bisa disampaikan dengan cara yang pas. Kesibukan lainnya yang perlu untuk diperhatikan adalah bagaimana keempat remaja yang terjebak dengan karakter pilihan mereka bisa keluar dari permainan tersebut. Jumanji : Welcome To The Junglepunya segala keseruan dalam ceritanya yang bisa diandalkan. Sehingga, penonton akan sangat dengan mudah terhibur dengan apa yang ditampilkan oleh Jake Kasdan.

Punya paket lengkap dalam amunisinya untuk menghibur penonton lewat petualangan yang seru di dunia Jumanjiyang baru. Segala petualangan tersebut pun bisa semakin dinikmati karena dalam naskahnya diinjeksi lagi dengan humor segar yang semakin membuat Jumanji : Welcome To The Jungle ini terlihat segar. Segala keseruan itu tak hadir begitu saja, hal ini tentu berkat performa dari Dwayne Johnson, Kevin Hart, Jack Black, dan Karen Gillan yang berhasil meyakinkan penontonnya bahwa mereka tetap empat remaja yang sedang terjebak dalam dunia permainan konsol.


Pun, pemain pendukung seperti Nick Jonas pun bisa bermain dengan sangat baik. Sehingga, kelima karakter dalam Jumanji : Welcome To The Jungle ini memiliki ikatan emosi yang sangat baik. Ini pula yang mengangkat setiap sekuens aksi dan petualangan dalam Jumanji : Welcome To The Jungle sehingga dalam perjalanannya film ini tak terasa hambar. Meskipun, ada beberapa minor yang membuat Jumanji : Welcome To The Jungle tak selalu bisa menjaga tensinya dengan kuat. Pun, humor yang ada di dalam film ini pun beberapa kali memudar.

Selain itu, ikon legendaris tentang permainan papan yang berubah jadi nyata ini pun tak lagi diulik lebih dalam lagi. Tak ada penghormatan lain tentang permainan papan Jumanji yang bisa membuat penontonnya yang tumbuh dengan film tersebut bisa merasakan rasa nostalgia. Menyaksikan Jumanji : Welcome To The Jungle pun hanya seperti menyaksikan film action pada umumnya meskipun sama-sama menggunakan nama besar Jumanji untuk filmnya dan ini cukup disayangkan sekali.


Tetapi, bagi yang tak terlalu mengenal Jumanji, tentu saja film terbaru dari Jake Kasdan ini adalah sebuah film yang akan menghibur Anda dengan sangat baik. Jake Kasdan sepertinya ingin membuat Jumanji : Welcome To The Junglesebagai sebuah film lanjutan yang bisa dinikmati secara universal tanpa perlu memikirkan sensasi nostalgia dengan beberapa easter eggs yang berlebihan. Cukup memberikan pengertian tentang seperti apa Jumanjipada zamannya. Ya, usahanya itu harus diakui cukup berhasil, tetapi sebagai film dengan nama besar Jumanji, film ini tak bisa mewarisi kelegendarisannya.

THE GREATEST SHOWMAN (2017) REVIEW : An Ordinary Musical Sequence


Di ujung tahun 2017, datanglah sebuah drama musikal yang diarahkan oleh Michael Gracey. The Greatest Showman, film musikal yang sudah bertahun-tahun mengalami pengembangan dalam banyak hal, akhirnya bisa tayang dan rilis juga di tahun 2017. Sebelum rilis, The Greatest Showman mendapatkan kesempatan untuk masuk ke dalam nominasi Best Comedy or Musical Motion Picture di Golden Globes 2017.

Banyak nama-nama besar yang ikut terlibat dalam film The Greatest Showman. Mulai dari Hugh Jackman, Michelle Williams, Zac Efron, hingga Zendaya dan nama-nama baru yang meramaikan film ini. Sehingga, film ini pun sudah memiliki antisipasi yang cukup besar dari calon penontonnya. Belum lagi, The Greatest Showman menggunakan duo musisi, Benj Pasek dan Justin Paul, yang sudah memenangkan banyak penghargaan lewat film La La Land tahun lalu.

Ini adalah debut awal Michael Gracey di kursi sutradara sebuah film besar. Michael Gracey pada awalnya bermain di ranah visual effects dan art departments dan di film debutnya kali ini dia berusaha menceritakan sebuah kisah nyata dari sosok P.T. Barnum. Meski begitu, Michael Gracey berusaha untuk membuat filmnya tak sekedar menjadi kisah seseorang semata. Melainkan, Michael Gracey berusaha membuat The Greatest Showman sebagai sebuah anthem untuk mereka yang terpinggirkan.


The Greatest Showman menceritakan sosok P.T. Barnum (Hugh Jackman), seorang anak dari pembuat sepatu yang hidup serba kekurangan. Kehidupannya yang serba kekurangan ini tak membuat Barnum mundur untuk mengejar siapa yang dicintai. Dialah Charity (Michelle Williams), perempuan yang sangat dicintai oleh Barnum meskipun orang tua Charity tak menyetujui hubungan mereka. Selepas menikah, mereka hidup jauh dari orang tua Charity.

Selama hidupnya, Barnum memiliki kesusahan secara finansial padahal dia harus membiayai kehidupan istri dan dua anaknya. Kehidupannya semakin susah ketika Barnum harus diberhentikan secara paksa di tempatnya bekerja karena bangkrut. Barnum bertekad untuk membeli sebuah museum patung lilin dengan sisa uang dan pinjaman dari bank. Sempat sepi, tetapi Barnum mengubah museum itu menjadi sebuah tempat pertunjukkan dan hiburan unik untuk semua orang.


The Greatest Showman memberikan sebuah sensasi menarik untuk mengikuti kisah perjuangan hidup seseorang. Menggunakan genre musikal dalam kemasannya untuk memberikan inovasi dalam menuturkan cerita yang berpotensi biasa saja ini menjadi sesuatu yang sangat berbeda dan segar.  Hal ini sangat efektif bagi The Greatest Showman yang memiliki tujuan tak hanya sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai media menyebarkan semangat positivistik bagi setiap penontonnya.

Tak diragukan lagi, dengan rekam jejak Michael Gracey yang pernah berada di art departments membuat The Greatest Showman terlihat begitu mewah untuk ukuran film-film musikal yang ada. Set-set musikalnya dibuat begitu menghentak dan bisa membuat penonton berdecak kagum saat menontonnya. Segala musical sequence punya segala kedinamisannnya sehingga penonton bisa tahu alasan kenapa sosok P.T. Barnum adalah sosok yang sangat berpengaruh bagi semua orang yang ingin membuat sebuah pertunjukkan besar.

Belum lagi lagu-lagu gubahan Benj Pasek dan Justin Paul yang sangat ear-catchy. Sehingga, ketika penonton selesai menonton film ini, akan banyak beberapa lagu yang tetap terngiang di dalam pikirannya. Dengan begitu, perilaku yang timbul selanjutnya adalah penonton akan mencari setiap lagu yang ada di dalam The Greatest Showman. Lalu muncul sebuah efek domino bagi penontonnya yang terpukau dengan film dan berujung pada memberikan rekomendasi kepada orang lain.


Hanya saja, The Greatest Showman sebagai sebuah film musikal sebenarnya tidak memberikan sebuah pertunjukkan yang baru. Michael Gracey mampu membuat ilusi bagi penontonnya agar tak bisa melihat kekurangan pengarahannya lewat berbagai musical sequencenya. Itu pun sebenarnya segala keemosionalan The Greatest Showman hanya bertumpu dengan lagu-lagu gubahan dari Benj Pasek dan Justin Paul. Tanpa gubahan lagunya yang kuat, The Greatest Showman pun tak bisa tampil sekuat itu.

Dengan durasinya sepanjang 104 menit, banyak sekali cabang cerita dan sudut pandang yang harus dibebankan kepada film ini. Michael Gracey pun kesusahan memiliki kefokusan dalam pengarahan, sehingga The Greatest Showman hanya bisa bisa meraih permukaan setiap konfliknya. Ada banyak kisah yang berusaha disorot di dalam film ini. Hal ini sebenarnya bisa berpotensi bagi presentasi The Greatest Showman, hanya saja masih belum ada penanganan yang pas dari Michael Gracey untuk bisa memperdalam setiap konflik dan karakternya.

Pun, setelah tembang ‘This Is Me’ yang tampil begitu megah sekaligus menjadi anthem di dalam film ini, The Greatest Showman menunjukkan performanya yang melemah di 40 menit terakhir. Michael Gracey mungkin cukup bisa memberikan bridging karakter dan plot di satu jam pertama. Efeknya, Michael Gracey harus mulai kewalahan untuk menyelesaikan konfliknya yang ada di awal. Itu pun masih ada intensi dalam naskahnya untuk memberikan konflik tambahan lagi di 30 menit terakhir sehingga beban Michael Gracey pun harus semakin bertambah.


Segala kemegahan yang ada di awal film The Greatest Showman pun sayangnya tak bisa memiliki sebuah penutup yang bisa sama megahnya dengan apa yang sudah ada di awal. Adanya sebuah rendition yang jauh lebih kekinian di dalam setiap lagunya ini pula yang membuat beberapa musical sequencenya tak bisa kuat. Sehingga, The Greatest Showman pun tak bisa memiliki identitasnya dalam sebagai sebuah film musikal. Efek akhirnya, penonton mungkin akan bisa berkali-kali mendengarkan lagunya dan tak lagi merasakan atau bahkan tak mengenali kekuatan di dalam adegannya.

Sehingga, The Greatest Showman pun bisa saja hanya dinikmati sebagai sebuah album lepas tanpa harus disangkutpautkan dengan filmnya. Ini karena lagu gubahan Benj Pasek dan Justin Paul pun sudah sangat bisa diterima di telinga pendengarnya. Tetapi, The Greatest Showman perlu mendapatkan apresiasi dengan caranya berusaha memberikan inovasi dalam menceritakan kisah sosok nyata di dunia. Masih punya kekuatannya sebagai film yang menghibur, tetapi sebagai sebuah film akan gampang berlalu begitu saja.