• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label Jamie Foxx. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jamie Foxx. Tampilkan semua postingan

SOUL (2020) REVIEW: Perjalanan Mencari Arti Kehidupan yang Menyenangkan dan Bermakna


Setelah di awal tahun sebelum pandemi melanda, Pixar telah merilis Sebuah kisah tentang perjalanan kakak dan adik dengan usaha menemui adiknya. Di akhir tahun, Pixar juga menyiapkan satu kisah terbaru lagi untuk bisa dinikmati oleh penggemarnya. Ya, Soul, project milik Pete Docter ini harusnya bisa dinikmati di layar besar di bulan Juni 2020 kemarin. Tetapi, dengan situasi dan kondisi yang belum juga membaik, Disney memutuskan untuk memindahkan Soul ke jadwal rilis yang lebih aman.

Tetapi, bukan lagi menjadi film yang dirilis di bioskop. Soul harus rela dan puas dirilis dalam streaming platform pribadi milik Disney yaitu Disney+. Yes, Soul hadir untuk memeriahkan Hari Natal tahun 2020 kemarin karena rilis bertepatan di tanggal 25 Desember 2020. Pete Docter sepertinya memang tertarik dengan kehidupan di lain dimensi seperti yang dia kulik lewat Inside Out. Bukan tentang perasaan, tetapi Soul mengulik kisah tentang:


“Bagaimana ya proses jiwa-jiwa manusia sebelum lahir ke dalam kehidupan aslinya?”


Bisa saja premis dari kisah yang diangkat di dalam film Soul ini berangkat dari satu pertanyaan menggelitik ini. Akhirnya, Soul hadir menjadi satu fitur film yang dibintangi oleh beberapa nama menarik yang terlibat. Dari Jamie Foxx hingga Tina Fey. Pete Docter juga menulis sendiri kisah tentang kehidupan tentang jiwa-jiwa manusia ini.



Hasilnya, Soul menjadi salah satu karya dari Pixar yang bisa dibilang lebih dewasa dibanding film-film yang lainnya. Bila Inside Out pun mengulik tentang perasaan anak kecil yang sedang berkembang. Soul hadir untuk mengingatkan para manusia paruh baya untuk bisa semangat menjalani hidupnya yang terkadang sudah mulai hilang arah. Ya gimana tidak, kisahnya saja diantarkan dengan karakter orang dewasa yang mulai merasakan krisis identitas di dalam hidupnya. 


Dia adalah Joe Gardner (Jamie Foxx), seorang Musisi yang terjebak dalah kehidupan orang dewasa yang menuntutnya untuk hidup dengan lebih Mawas diri. Dia tetap menjalani kehidupan dengan passion-nya yaitu musik. Tetapi, dia hanyalah menjadi guru musik yang terjebak di situasi itu-itu saja. Hingga akhirnya, sebuah panggilan telepon akan mengubah hidupnya.


Salah satu mantan muridnya, mengajaknya untuk bisa tampil dengan musisi yang dia idamkan, Dorothea Williams. Joe diminta hadir untuk bisa menunjukkan kemampuannya dalam bermain musik Jazz seperti yang biasa dia lakukan. Pada akhirnya, Joe berhasil mendapatkan panggung pertamanya untuk main musik di depan umum. Tetapi, di saat perjalanan pulang dan di mana Joe sedang bahagia-bahagianya, dia malah terjatuh ke dalam lubang pembangunan jalan. Hal ini membuat dirinya koma dan jiwanya tersesat di dunia lain.



Lantas, seperti apa perjalanan Joe setelah memasuki dunia penuh jiwa ini?


Di tengah usahanya untuk bisa kembali ke tubuhnya, kisah Joe di dalam Pixar’s Soul akan memberikan perjalanan yang akan membuka mata penontonnya. Menyampaikan pesan tentang kehidupan yang sangat bermakna bagi penonton-penonton yang sedang mengalami krisis dalam hidupnya. Ya, Pixar mungkin berusaha mendobrak paradigma untuk menggunakan mediumnya— yaitu film animasi— untuk bisa dinikmati oleh penonton dewasa. Tujuan film animasi bukan sebatas memberikan kisah-kisah yang dinikmati oleh penonton anak kecilnya. Serta, film animasi bukan juga untuk menuntun bagaimana anak-anak harus berperilaku.


Lewat Pixar’s Soul, Pete Docter tak memberikan limitasi tentang film animasi harus seperti apa. Dia menceritakan apa yang ingin dia sampaikan dengan medium yang dikuasainya. Hasilnya, film ini memberikan perjalanan yang sangat thoughtful. Apa sih yang kamu mau dalam hidup? Bukankah bertahan dalam kehidupan yang suka ada-ada saja itu sudah lebih dari cukup? Nah, pertanyaan ini yang berusaha dijawab oleh Pete Docter lewat Pixar’s Soul.


Belum jatuh terlalu dalam untuk hadir sebagai film animasi yang terlampau depresif. Mungkin, karena Pixar masih berada di bawah naungan Disney dan masih ingin kisah-kisahnya diterima oleh target segmentasi anak-anak. Pixar’s Soul menyajikan petualangan tentang kehidupan yang masih menyenangkan. Masih menyajikan desain-desain animasi yang menggemaskan dengan warna-warnanya yang colorful ketika berada di The Great Beyond dan The Great Before sebagai settingnya.



Tetapi ketika berada di kehidupan dewasa milik Joe, Pixar’s Soul berusaha untuk menyajikan animasi yang lebih realistis. Dengan penataan kamera dalam film-film animasinya terasa seperti film-film live action yang dengan pencahayaan yang lebih moody. Penuturan kisah yang dilakukan oleh Pete Docter di film Soul mungkin tidak akan sekompleks Inside Out. Ini adalah cara Pete Docter untuk menyampaikan kisah tentang kehidupannya. Mungkin, tahu bahwa membicarakan persoalan kehidupan itu akan menyita waktu dan tenaga. Menyampaikan filmnya pun harus sesantai mungkin agar pesannya bisa diterima dengan maksimal oleh penontonnya.


Benar saja, Pixar’s Soul pun menyajikan kisahnya dengan ringan lewat cerita body swap yang ada di dalam film ini. Menyenangkan mengikuti perjalanan Joe dan si gemas, Mr. Mittens untuk menjadi melihat dunia dan kehidupan di sekitarnya. Naskahnya seakan tak berusaha untuuk pretensius layaknya Inside Out. Tetapi, setelah menonton film ini dampak yang dihadirkan akan lebih bermakna. Ya, seakan Pete Docter berusaha untuk membuat filmnya juga sama bermaknanya dengan kehidupan yang dijalani oleh Joe dan bisa diaplikasikan kepada kehidupan penontonnya.


Bukan film Pixar namanya apabila tidak menyelipkan adegan-adegan emosional yang bisa membuat penontonnya merenung atau bisa menjatuhkan air mata. Yes, Pixar’s Soul tentu memiliki adegan-adegan tersebut. Tetapi, rasanya kali ini berbeda dengan film-film Pixar yang lain. Bukan adegan emosional yang akan memberikan perasaan sedih, tetapi perasaan lega. Menontonnya akan membuat penonton untuk berkontemplasi akan kehidupannya, merenungkan apa yang sudah pernah dilakukan. Lalu, membawa penonton untuk bisa menangis bahagia di akhir film karena seakan ikut sudah menemukan sparks dalam hidup mereka seperti karakter Joe dan 22 di dalam film ini.



Keindahan dari Pixar’s Soul dilengkapi dengan scoring dari Trent Raznor & Atticus Ross yang berkolaborasi dengan musik Jazz dari Jon Batiste. Memperkuat segala vibe Jazz tetapi juga bisa memperkuat nuansa dunia The Great Beyond dan The Great Before dengan musik techno yang terasa futuristik ini. Menjadikan setiap perjalanannya memiliki musik temanya masing-masing ditutup dengan lagu It’s Alright yang dilantunkan oleh Jon Batiste berkolaborasi dengan Celeste untuk menutup filmnya.


Maka dari itu, Pixar’s Soul adalah sebuah perjalanan menelusuri arti tentang kehidupan yang lengkap. Tak sekedar perjalanan yang menyenangkan untuk diikuti. Tetapi juga memberikan arti tentang kehidupan yang sangat bermakna sekaligus dibawa ke dunia imajinatif Pixar dan sangat emosional. Layaknya kehidupan yang kamu jalani sekarang. Meski banyak naik turunnya, tapi tetap sebuah perjalanan yang layak kamu nikmati segala prosesnya. Ya, Pixar’s Soul pun berusaha untuk terlihat demikian. Bagus sekali!

BABY DRIVER (2017) REVIEW : Baby’s Exciting Life Ride



Menggarap The Cornetto Trilogymembuat Edgar Wright menjadi begitu dikenal oleh banyak orang karena gaya penuturannya yang sangat stylish. Hal ini pun pernah diterapkan di dalam film Marvel berjudul Ant-Man. Edgar Wright memiliki sumbangsih dalam penulisan skenario film Ant-Man sehingga terasa bahwa Ant-Man memliki khas pengarahan milik Edgar Wright. Setelah itu, Edgar Wright hiatus untuk memikirkan sesuatu yang orisinil untuk disajikan kepada penontonnya.

Datanglah proyek terbaru dari Edgar Wright yang mendapatkan antisipasi oleh banyak pihak dan disokong dengan word of mouth yang sangat besar di media sosial. Baby Driver, sebuah film terbaru dari Edgar Wright ini dibintangi oleh Ansel Elgort, Kevin Spacey, Lily James, hingga Jamie Foxx. Mendapatkan resepsi kritik yang begitu bagus lewat pemutaran perdananya di sebuah film festival, tentu mengundang banyak sekali ekspektasi dari penontonnya.

Hingga pada hari pemutarannya, Baby Driver sebagai film dengan budget yang kecil mendapatkan perolehan box office secara domestik yang luar biasa. Hype yang muncul luar biasa besar dari obrolan di sosial media dan berbagai pengalaman langsung dari penonton membuat Baby Driver begitu diminati oleh penonton. Maka, percayalah dengan berbagai omongan banyak orang di media sosial atau di manapun bahwa Baby Driver adalah sebuah film aksi yang sangat menyenangkan. 


Edgar Wright berusaha memberikan sesuatu dalam genre film aksi yang tak sekedar menghibur tetapi juga membuat penontonnya terkagum. Lewat Baby Driverinilah, Edgar Wright ini berusaha membuktikan hal tersebut. Baby Driver bukan sekedar film aksi dengan kemasan yang klise. Tak hanya sekedar menggelegar dengan berbagai ledakan tetapi memiliki penyampaian yang lebih unik dan lebih stylish dibanding dengan film-film aksi lainnya.

Mengombinasikan musik dan aksi di dalam Baby Driver ini adalah suatu kelebihan yang perlu mendapatkan apresiasi. Pengarahan dari Edgar Wright ini bisa memberikan sebuah harmoni agar kedua elemen di dalam film ini bisa berjalan dengan seirama. Musik tak hanya sebagai pemanis agar film Baby Driverterkesan memiliki gayanya sendiri. Tetapi, musik menjadi elemen penggerak cerita untuk karakter utama di film ini.

Mari perkenalkan karakter fiksi dari Edgar Wright bernama Baby (Ansel Elgort), seorang supir yang bukan sekedar supir biasa. Dia adalah seorang supir yang biasa mengantarkan orang-orang jahat untuk melancarkan misi jahatnya. Baby terjebak dalam lingkungan ini karena dia harus berhutang budi kepada Doc (Kevin Spacey) yang juga sebagai bosnya. Baby berusaha mengikuti segala kemauan Doc hingga tugas terakhir yang bisa membuatnya bebas dari cengkraman Doc. 


Sebelum tugas terakhirnya dimulai, dia bertemu dengan seorang perempuan yang memikat hatinya, Debora (Lily James). Di akhir tugasnya sebagai seorang supir pengantar kejahatan, Baby dan Debora pun terlihat semakin akrab dan berencana untuk melarikan diri dari kota tempat tinggal mereka. Tetapi, Doc menghubungi Baby lagi dan menyuruhnya untuk melakukan tindak kejahatan lainnya. Baby tidak bisa berkutik dan kembali menjalankan perannya dengan bantuan tim penjahat baru bernama Bats (Jamie Foxx).

Edgar Wright memang pada dasarnya adalah seorang sutradara yang biasa memberikan alternatif tontonan di dalam setiap filmnya. Begitu pula yang dia berusaha lakukan di dalam Baby Driverini. Meski sebenarnya ceritanya pun tak bisa diklaim begitu saja menjadi sesuatu yang orisinil, tetapi Baby Drivermengemas ceritanya yang generik dengan sebuah pengalaman sinematis yang begitu segar. Cerita-cerita seperti ini sudah bisa ditemui penontonnya lewat film-film seperti Transporter yang dibintangi oleh Jason Statham atau pun Drive yang dibintangi oleh Ryan Gosling.

Cerita sederhana tentang tindak kejahatan dikemas dengan memilih action sebagai genre utama tentu menjadi sesuatu yang pernah ditemui sebelumnya. Pun, Baby Driver tak berusaha untuk tampil begitu berbeda dengan film-film di genreserupa. Pendekatannya tetap saja populer sehingga tetap bisa diakses untuk segala jenis penonton dengan segala referensinya. Sehingga, Baby Driver adalah sebuah tontonan dengan paket komplit dengan dosis kesenangan yang luar biasa besar. 


Film ini penuh akan adegan aksi yang akan menyenangkan para pecinta film penuh adrenalin untuk bersenang-senang. Tetapi juga memiliki plot cerita yang diceritakan dengan baik dan kuat oleh Edgar Wright dan akan memuaskan para penonton yang bosan akan tontonan film aksi tanpa cerita kuat. Pun, dilengkapi pula dengan bumbu kisah romantis dari Baby dan Debora yang semakin mewarnai 115 menit dari Baby Driver ini.

Sebuah kisah cinta yang berbeda dari Baby dan Debora ini tak bisa muncul dengan kuat tanpa performa yang kuat dari Ansel Elgort dan Lily James. Kisah cintanya tak sekedar pemanis tetapi juga digunakan sebagai penggerak agar karakter memiliki perkembangan sekaligus transisi. Ini juga yang mempengaruhi penontonnya agar bisa bersimpati dengan karakter Baby. Sehingga, Baby dan Debora bisa tampil dengan rasa manis yang kuat dan bisa jadi menobatkan mereka sebagai pasangan terbaik tahun ini di dalam sebuah film.

Baby Driver memang paket komplit, tak hanya sekedar film aksi dengan bumbu roman fiksi antara Baby dan Debora untuk pemanis sekaligus penguat cerita. Tetapi, Baby Driver juga menjadi pengalaman sinematis musikal yang unik. Kompilasi lagu-lagu yang didengarkan oleh Baby tak hanya sekedar menjadi referensi saja tetapi juga memiliki keselarasan irama dalam editing filmnya. Segala editing dalam sekuens aksinyan memiliki irama dan ketukan yang sama sesuai dengan lagu yang sedang digunakan di dalam filmnya.


Poin-poin itulah yang membuat Baby Driver menjadi sebuah pengalaman sinematis yang tak akan dilupakan penontonnya. Pengarahan yang begitu pas dalam meramu kompilasi lintas genre ini membuat Baby Driver adalah proyek paket komplit milik Edgar Wright. 115 menit yang menyenangkan sekaligus emosional dan ditutup dengan adegan yang akan menyisakan rasa manis sekaligus pahit bagi siapapun yang berpihak pada Baby dan Debora. What a ride!