• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label Jason Momoa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jason Momoa. Tampilkan semua postingan

AQUAMAN (2018) REVIEW : Another DC Films and Their Mess


Setelah mendapatkan film ensembel pahlawan super dari DC yaitu Justice League yang dirilis tahun lalu, tentu banyak orang yang ingin tahu bagaimana cerita masing-masing pahlawannya. Untuk tahun ini, datanglah kesempatan dari sosok Aquaman yang mendapatkan kisahnya sendiri. Keberadaannya mungkin sudah mulai diperhatikan di Justice League. Itupun terlebih karena pemeran Aquamanadalah Jason Momoa yang lebih dahulu terkenal sebelumnya.

Proyek Aquaman ini sudah direncanakan cukup lama dengan adanya James Wan sebagai komando dalam pengarahan filmnya. Tentu ada nama-nama lain yang cukup menggugah selera penonton untuk menunggu Aquaman. Selain Jason Momoa, ada nama Amber Heard sebagai Mera yang sudah muncul di film Justice League. Lalu tentu saja Patrick Wilson sebagai aktor favorit James Wan, ditemani oleh Nicole Kidman, Dolph Lundgren, hingga William Dafoe.

Melihat rekam jejak James Wan dalam mengarahkan film mulai dari franchise Fast & Furious hingga film horor sukses The Conjuring, tentu memberikan sedikit rasa percaya dengan performa Aquaman nantinya. Terlebih, beberapa set up milik Worlds of DC ini bisa dibilang masih belum cukup kuat meskipun sudah mengeluarkan film ensembel pahlawan supernya. Apalagi secara apa yang ditampilkan di layar, sebenarnya Aquaman memiliki daya tariknya sendiri karena menceritakan tentang dunia bawah lautnya.


Naskah dari Aquaman ditulis oleh David Leslie Johnson-McGoldrick dan Will Beall yang berangkat dari ide cerita ramai-ramai dari James Wan sendiri dan produser Worlds of DC, Geoff Johns. Dengan turunnya sang produser dari Worlds of DC dalam proses membentuk ide cerita, seharusnya bisa membuat Aquamanmenjadi awal baru yang pas untuk melanjutkan linimasa yang ada. Sayangnya, dengan durasi yang sudah mencapai 143 menit, Aquaman tak bisa menyampaikan cerita yang dia mau.

James Wan mungkin bisa mentranslasikan keinginan film ini secara visual. Aquaman tak dapat dipungkiri memiliki konsep dunia dan visual yang sangat menarik untuk dilihat. Sayangnya, sebagai sebuah standalone film pahlawan super yang baru saja memiliki film pertamanya, Aquaman terlihat memiliki keinginan untuk secara instan membuat dunianya menjadi sangat besar. Sehingga, banyak sekali kisah yang ingin disampaikan hingga membuat 143 menitnya pun terasa tak cukup menampungnya.


Seharusnya, mulainya Aquamanbisa diceritakan dengan cukup sederhana. Dimulai ketika Atlanna (Nicole Kidman) yang terdampar di sebuah tepian. Dia ditemukan oleh seorang manusia biasa bernama Tom Curry (Temuera Morrison). Atlanna dan Tom pun pada akhirnya menjalin cinta lalu menikah dan lahirlah seorang anak laki-lakinya bernama Arthur Curry. Tetapi, Atlanna harus  kembali lagi ke Atlantis yang berada di dalam lautan, tempat dia tinggal sebelumnya.  

Arthur (James Momoa) yang sudah menjadi sosok dewasa didatangi oleh Mera (Amber Heard) untuk memberikan kabar tentang dirinya yang masih menjadi bagian dari penduduk Atlantis. Arthur yang sudah mengetahui dirinya sebagai seorang manusia berkekuatan super kembali ke Atlantis untuk mencari tahu silsilahnya. Keberadaan Arthur yang dicemooh karena hasil hubungan gelap Atlanna harus memperebutkan tahta kerajaan Atlantis yang menjadi haknya.


Dengan sinopsis cerita seperti itu, Aquaman tentu punya banyak plot yang bisa dikembangkan dalam satu film. Tetapi, Aquaman tak hanya berhenti tentang perebutan tahta saja, film ini harus ditambahi dengan datangnya musuh Aquaman dari kejadian masa lalu. Black Manta yang juga ikut mengejar Aquaman untuk membalaskan dendam. Dan inilah yang membuat 143 menit dari Aquaman menjadi sangat berantakan meski visualnya cukup menarik.

Aquaman mengenalkan 15 menit pertamanya dengan sangat baik. Penonton diajak untuk mengenal bagaimana Atlanna dan Tom bisa saling mengenal satu sama lain hingga hadirnya Arthur sebagai buah cinta mereka. Tetapi, hal itu ternyata hanya berhenti sampai di 15 menit pertama saja. James Wan tak melanjutkan kisah dasar dari sosok Aquaman ini agar penonton semakin dekat dengannya. Film ini seakan lupa sebuah fakta bahwa sebenarnya sosok Aquaman yang telah muncul di film-film sebelumnya ini masih belum dikenalkan dengan lebih rinci.

Hasilnya, ketika masuk ke dalam konflik utama dari film ini, akan ada missing link yang membuat kurangnya rasa menaruh simpati kepada karakter utamanya. Seakan tak menghiraukan, James Wan pun tetap melanjutkan Aquaman dengan dihajar oleh visual spectacle yang cukup menawan. Warna-warnanya memang tak bisa segelap film-film DC sebelumnya, sehingga Aquaman tentu masih memiliki visual yang cukup memanjakan mata.


Dengan pengenalan karakter yang belum matang, film ini memiliki konflik dengan intrik perebutan tahta yang memerlukan penggalian karakter lebih dalam seharusnya. Membahas tentang nepotisme dalam sebuah kerajaan tentu sebenarnya sangat menarik dalam sebuah film pahlawan super. Sayangnya, Aquaman membuat konflik semacam ini hanya sebagai aksesoris saja karena poin utamanya tetap berada di bagaimana menjadikan film ini sebagai ajang unjuk visual yang megah.

Masih berusaha untuk bertahan dengan konfliknya yang semakin rumit, ternyata film ini semakin merumitkan dirinya dengan menambahkan banyak karakternya. Bahkan, masih memiliki intensi untuk menambahkan karakter villain yang menjadi setup. Mungkin, Warner Bros dan DC sudah memiliki ancang-ancang dan visi ke depan untuk membuat seri-seri selanjutnya dari film ini. Sehingga, terlalu banyak membangun cerita yang berpotensi menjadi sekuel.


Dengan segala konflik-konflik yang merumitkan diri sendiri, Aquaman menyelesaikan konflik demi konfliknya dengan cara yang terlalu mudah. Film ini ditutup dengan cara yang hampir mirip dengan bagaimana Batman V Superman : Dawn of Justice menyelesaikan filmnya meskipun tidak seburuk itu. Andai saja Warner Bros dan DC mau untuk menurunkan sedikit ambisinya, membuat Aquamanbenar-benar lepas dari bayang-bayang Justice League yang sudah porak poranda itu, film ini mungkin akan lebih baik. Sayangnya, Aquaman lagi-lagi menjadi entrydalam film Worlds of DC yang masih berantakan.

JUSTICE LEAGUE (2017) REVIEW : Kesalahan DC yang Sama Lagi


DC Films lagi-lagi mengeluarkan sebuah film tentang manusia supernya di tahun ini. Setelah bulan Juni lalu, akhirnya Wonder Woman dirilis dan mendapatkan hati di banyak penontonnya. Dengan begitu, DC dan Warner Bros semakin percaya diri dengan line up film-film manusia super milik DC lainnya. Meskipun, masih belum ada lini waktu yang benar-benar tertata seperti yang dilakukan oleh film manusia super milik brand sebelah.

Dengan lini waktunya yang tak terarah, Warner Bros dan DC sepertinya masih juga tak takut untuk mengeluarkan film Justice League di tahun ini. Justice League ini adalah tempat para manusia super milik DC berkumpul. Film ini disutradarai oleh Zack Snyder pada awalnya hingga sebuah musibah datang menghampirinya. Di tengah filmnya yang sudah selesai dan dalam proses penyuntingan, Joss Whedon ini ditunjuk untuk melakukan supervisi terhadap film Justice League.

Hal ini yang membuat Justice League harus melakukan syuting ulang yang membuat film ini memiliki budget yang membengkak. Dengan budget dua kali lipat, Joss Whedon pun harus memotong durasi film yang awalnya dari 170 menit menjadi 120 menit. Upaya mempersingkat durasi ini cukup menyita banyak perhatian calon penontonnya karena mungkin ada harapan bahwa Justice League akan kembali memukau dan harapan baru bagi DC films selanjutnya.


Memiliki 6 manusia super di dalam satu film tentu punya story device yang perlu dijelaskan lebih agar penonton tak kebingungan dengan setiap karakternya. Dengan linimasa cerita yang kacau balau dalam menentukan origin story, durasi 120 menit ini tentu adalah sebuah bencana besar bagi Justice League. Alih-alih akan punya sebuah pace cerita yang lebih dinamis, durasinya yang pendek ini membuat performa Justice League tak lagi mengikat dan jatuh menjadi sebuah sajian yang mengecewakan.

Justice League mengisahkan tentang kota yang sedang mengalami kehancuran karena musuh besar datang dan berusaha menguasai bumi. Paska kematian Superman, orang-orang di kota tak lagi punya manusia super yang melindungi mereka. Untuk itu, Bruce Wayne (Ben Affleck) sebagai seorang Batman berusaha untuk mengumpulkan para manusia super seperti Wonder Woman (Gal Gadot), Aquaman (Jason Momoa), The Flash (Ezra Miller), dan Cyborg (Ray Fisher).

Mereka harus berhadapan dengan Steppenwolf (Ciaran Hinds) yang datang dari legenda Amazon yang berusaha mengumpulkan kekuatan dari 3 artefak yang bisa membuatnya lebih kuat. Para manusia super ini bergabung dan berusaha untuk mengalahkan Steppenwolf. Para manusia super yang sedang kewalahan mengalahkan Steppenwolf ini mencari strategi lain. Bruce Wayne berambisi untuk membangunkan lagi Superman agar tim manusia supernya ini menjadi sebuah tim yang kuat.


Ketika secara garis besar sebuah plot dari Justice League bisa sesederhana itu, hanya saja dalam presentasinya hal tersebut berkata lain. Justice League ini tampil bagaikan sebuah kompilasi 5 film pendek yang terasa seperti omnibus di 1 jam pertama. Setiap manusia super di dalam Justice League ini seperti punya kisahnya sendiri yang perlu untuk dijelaskan agar penonton bisa memihak karakter mana yang akan jadi idolanya. Sayangnya, hal ini berpengaruh dengan performa Justice League secara keseluruhan.

Meski diberi ruang untuk bergerak bagi karakter-karakternya, itu pun tak membuat setiap karakternya punya porsi yang kuat sebagai sebuah karakter utuh. Selama 120 menit, Justice League bingung harus fokus dengan kisah yang mana. Plot utamanya pun beberapa kali harus tersingkirkan demi cabang cerita lain yang sama tak kuatnya. Tak ada koneksi yang bisa saling berkesinambungan antar setiap kerangka ceritanya sehingga Justice League punya kesan sangat berantakan.

Motif-motif setiap karakternya dan alasan-alasan untuk setiap plotnya ini terasa hilang dari dalam filmnya. Ketika penonton sedang berusaha menerima informasi tentang setiap karakternya, dalam waktu itu juga penonton merasa adanya informasi yang terputus karena cerita sudah beralih dengan cara yang tak halus. Sehingga, muncul kesan bahwa Justice League seperti sebuah gabungan kisah-kisah pendek superhero dengan benang merah kecil dan bahkan benang merah tersebut dilupakan.


Dengan begitu, Justice League tak punya daya dan upaya untuk mengembalikan konsentrasi penontonnya yang sangat terdistraksi dengan plot yang saling tumpang tindih di 1 jam awal. Kisah ceritanya yang sebenarnya sederhana ini malah menjadi blunder karena film ini terasa menyibukkan dirinya tanpa memperhatikan plot utama sebagai penggeraknya. Alhasil, Justice League hanya sebagai sekedar sebuah parade manusia super idola dari komik DC yang tak ada kekuatannya sama sekali.

Entah siapa yang perlu disalahkan dari presentasi Justice League ini. Yang jelas pengarahan dari Zack Snyder dan kolaborasi supervisinya dari Joss Whedon tak bisa memberikan rasa dan tensi yang kuat. Sehingga, dalam 120 menitnya, Justice League memiliki performa yang begitu hambar hingga mungkin paruh akhir filmnya yang menampilkan adegan pertarungan para manusia super ini. Itupun, Justice League tak lagi menawarkan hal baru di dalam genre-nya.


Justice League memiliki visual efek yang begitu kasar dengan warna yang tak terlalu indah. Penonton yang akan menantikan parade visual efek pun akan sangat kecewa. Maka, amunisi senjata Justice League untuk mendistraksi segala kelemahan filmnya pun sama sekali tak tersisa. Hanya sosok Superman yang muncul di 1 jam terakhir inilah yang menjadi poin menarik dan satu-satunya dalam Justice League. Meskipun, penonton harus lagi-lagi terdistraksi dengan CGI yang membuat wajah Henry Cavill nampak berbeda dan berpotensi menjadi sesuatu yang menggelikan untuk dilihat. DC Films nampak jatuh ke lubang yang sama lagi.