• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label Gal Gadot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gal Gadot. Tampilkan semua postingan

WONDER WOMAN 1984 (2020) REVIEW: Petualangan Terbaru Diana Prince yang Lebih Personal

Di antara semua judul-judul besar yang mau mundur atau lari ke streaming services, ada beberapa judul pula yang memberanikan diri untuk tetap rilis di tengah keringnya film-film yang tayang di bioskop. Tentu, semua dengan harapan ingin ditonton oleh penontonnya. Meskipun dengan protokol kesehatan yang ketat, limitasi kursi penonton, dan masih banyak hal-hal kecil lain yang bisa jadi perhatian.

Warner Bros Pictures telah merilis dua filmnya ke pasar domestik dan internasional. Tenet milik Christopher Nolan dan selanjutnya adalah Wonder Woman 1984. Iya, sekuel dari Wonder Woman ini akhirnya dilepas untuk penontonnya. Tetapi, ada 2 cara penontonnya bisa menikmati film ini. Lewat bioskop tentu saja serta langganan streaming service HBO Max yang hanya dimiliki oleh para penduduk di Amerika Serikat sana.


Langkah yang berani.


Mungkin itu yang sedang dijalankan oleh Warner Bros Karena tak mau terus menerus menahan filmnya tanpa ada yang menghasilkan. Wonder Woman 1984 ini tetap dipegang kendalinya oleh sang sutradara film pertamanya, Patty Jenkins. Tentu saja, Gal Gadot tetap menjadi sang superhero bernama Diana Prince ini. Semakin meriah, Karena ada banyak nama-nama baru yang bergabung menjalankan proyek satu ini.


Kristen Wiig dan Pedro Pascal. Dua nama yang bergabung di dalam sekuel pahlawan super Perempuan dari Themyscira ini. Mereka menjadi super villain yang menghadang jalan Wonder Woman untuk bisa menyelamatkan dunia.



Lantas, apa yang terjadi oleh Diana Prince kali ini?


Berpuluh-puluh tahun semenjak Wonder Woman pertama, kali ini Diana Prince (Gal Gadot) hidup di tahun 1980-an. Di mana, banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam hidupnya. Tetapi, satu hal yang tak berubah adalah kebenaran yang dianut olehnya sebagai sosok Wonder Woman dan cintanya kepada belahan hatinya, Steve (Chris Pine). Meski dia sudah pergi berpuluh-puluh tahun dan Diana telah menjalani berbagai macam kehidupan, tetapi hidupnya tetap dibayangi oleh sang kekasih hati.


Hingga akhirnya, di tempat Diana sedang bekerja, dia menemukan Sebuah batu yang sedang diteliti. Konon Katanya, batu tersebut bisa mengabulkan keinginan siapapun yang memegangnya. Tetapi, batu tersebut diteliti terlebih oleh Diana dan rekan kerja barunya, Barbara Minerva (Kristen Wiig). Di lain hal pula, seorang pengusaha bernama Maxwell Lord (Pedro Pascal) juga mengincar batu tersebut untuk menguasai dunia.



Mengantarkan satu film dengan adanya dua villain yang berbeda menjadi hal yang harus benar-benar diperhatikan. Meskipun, adanya villain yang tak Hanya satu ini sudah sering dipakai formulanya oleh DC films lantas tak semuanya berhasil dilakukan. Wonder Woman pertama pun sudah pernah memakai formula serupa. Nyatanya, semuanya terlalu dipermukaan dengan motif yang tak terlalu kuat.


Kelemahan yang ada di film pertamanya inilah yang sepertinya ingin diperbaiki oleh Patty Jenkins di film keduanya. Lewat Wonder Woman 1984, Patty Jenkins bisa mengenalkan karakter-karakter villain-nya dengan matang. Tetapi, dengan adanya ruang yang besar untuk para karakter-karakter lain untuk berkembang, ada juga yang harus dikorbankan. Durasi dari Wonder Woman 1984 harus merentang hingga 150 menit.


Mengurangi pula spektakel aksi di dalam filmnya hingga Wonder Woman 1984 ini berfokus kepada plot cerita. Tidak ada yang salah memang, Karena Wonder Woman 1984 juga cukup berhasil mengantarkan ceritanya dengan sangat menarik. Bukan karakter penjahatnya saja, tetapi juga karakter Diana yang juga ikut berkembang, ikut memperlihatkan berbagai macam emosi yang memperlihatkan sisi manusiawi di dalam dirinya sebagai pahlawan super.



Menunjukkan hati yang besar untuk bisa dirasakan penontonnya.


Inilah yang menjadi hal utama dari Wonder Woman 1984. Selama spektakel aksi tak bisa ditunjukkan terlalu banyak, tetapi penuturan kisahnya yang Penuh hati ini sangat menarik untuk diikuti. Penyampaian kisahnya yang emosional dan penuh harapan ini membuat Wonder Woman 1984 sangat nyaman untuk diikuti. Meski membangun tensinya perlahan, tapi penonton bisa paham benar dengan semua latar belakang kisahnya setiap karakternya.


Apa yang membuat Diana bisa memperlihatkan sisi vulnerability-nya yang jarang terlihat seperti di film sebelumnya. Bagaimana Barbara dan Maxwell akhirnya bisa mendapatkan kekuatan dan tak mau melepaskan hal tersebut dari hidupnya. Meskipun, harus ditutup dengan penyelesaian yang seperti ala kadarnya dan terasa penuh khutbah. Tetapi, masih ada segala macam emosi yang ditunjukkan di dalam filmnya.


Perasaan penuh kasih, penuh cinta, dan penuh harapan. Hal-hal itu yang bisa dirasakan selama menonton film ini. Penuturan Patty Jenkins yang lembut di dalam film ini seakan menunjukkan bahwa perempuan dalam mengarahkan sebuah film memiliki keunggulannya dalam menuturkan rasa di dalamnya. Dibalut pula dengan akting Gal Gadot yang terlihat semakin matang. Chemistry-nya dengan Chris Pine sebagai sepasang kekasih yang sudah lama tak Bertemu bisa membuat penontonnya menaruh simpati.



Tak dengan kekurangan pula. Film yang sudah dibangun megah ini memiliki penyelesaian konflik yang terlalu mudah. Mungkin karena penggambaran karakter villain yang terlalu kuat juga jadi faktor utamanya. Terlebih final battle yang ada di film ini tak bisa menyamai kualitasnya dengan beberapa battle

scene yang ada di paruh awal dan tengahnya. Satu mitos legenda yang digunakan di dalam cerita di film ini tentang Asteria pun tak bisa tampil sempurna. Sehingga beberapa build-up cerita di awal seperti tidak ada pengaruh apa-apa. 


Tak ada kesan cynical di dalam Wonder Woman 1984 yang membuat filmnya semakin menyenangkan untuk diikuti. Apalagi, menyematkan Sebuah tribute ke beberapa film Superman di awal-awal film ini dan atmosfir yang sama ini juga menjadi kelebihan Wonder Woman 1984 dibanding film sebelumnya. Tak salah, apabila Warner Bros dan DC Films menunjuk Patty Jenkins untuk mengarahkan seri ketiga dari Wonder Woman nanti.


RALPH BREAKS THE INTERNET (2018) REVIEW: Babak Permainan Terbaru Yang Lebih Besar

Kedatangan Wreck-It Ralphpertama sebagai karya dari DisneyAnimation Studios cukup membuat orang terkagum-kagum. Film animasi ini berani untuk menyadur berbagai macam budaya populer untuk dimasukkan ke dalam filmnya. Meskipun, film ini harus kalah saing di ajang bergengsi sebagai film animasi terbaik dengan Brave yang dirilis oleh DisneyPixar kala itu. Pendapatan box office untuk film ini pun sebenarnya tak terlalu besar. Bisa jadi, ini adalah salah satu film animasi underrated kala itu.

Tetapi, tahun ini Disneymemutuskan untuk membuatkan kesempatan kedua untuk Ralph agar kembali bersinar seperti film pertamanya. Rich Moore sebagai sutradara film pertamanya masih ikut andil di film keduanya dengan bantuan oleh Phil Johnston. Mereka juga merangkap sebagai penulis naskah seperti film pertamanya tapi kali ini Pamela Ribon ikut membantu untuk menuliskan petualangan terbaru dari sosok Ralph dan Vanelloppe ini.

Tentu saja John C. Reily dan Sarah Silverman kembali mengisi suara duo Ralph dan Vanelloppe. Tetapi, di film keduanya tentu lebih meriah karena ada beberapa nama baru yang terlibat. Mulai dari Gal Gadot, Taraji P. Henson, dan beberapa nama besar lain yang dijadikan sebagai cameo di film ini. Petualangan kedua dari Wreck-It Ralph kali ini bertopik Ralph Breaks The Internet. Ya, di era digital, tentu karakter permainan analog seperti Ralph dan Vanellope akan bersaing dengan permainan daring yang lebih fleksibel.


Ralph Breaks The Internetmengusung tema dunia daring yang sedang menyerang kehidupan semua orang saat ini. Tentu saja, akan muncul banyak sekali relevansi yang muncul di dalam film ini terlebih tentang dunia digital. Rich Moore dan Phil Johnston memvisualisasikan bagaimana cara kerja kehidupan dunia maya yang digandrungi oleh banyak orang ini ke dalam filmnya. Hasilnya, Ralph Breaks The Internet bisa menawarkan dunia digital yang sangat imajinatif untuk semua usia.

Bukan hanya sekedar visualnya yang imajinatif, tetapi Ralph Breaks The Internet juga punya penuturan cerita yang sangat menyenangkan untuk diikuti. Tak hanya bisa dinikmati untuk anak-anak saja, Ralph Breaks The Internet juga bisa dijadikan medium mencari keseruan dan kesenangan untuk orang dewasa karena Ralph Breaks The Internet menyajikan budaya populer di dalam filmnya dengan kuantitas yang lebih banyak dan lebih megah dibanding film pertamanya.


Petualangan mereka berdua dimulai ketika Vanellope (Sarah Silverman) merasa bahwa kehidupannya di permainan Sugar Rush sudah tak lagi ada yang berbeda. Dirinya merasa bahwa segala sesuatu yang dilakukan di Sugar Rush sudah mudah ditebak. Adanya keluhan dari Vanellope ini menggerakkan hati Ralph sebagai temannya. Dia berusaha untuk memberikan sedikit sentuhan kecil di permainannya agar Vanellope tak lagi bosan dengan kehidupannya di Sugar Rush.

Saat seseorang memainkan permainannya, Ralph mengubah sedikit apa yang ada di sana. Mengetahui hal ini tentu Vanellope sungguh senang bisa menemukan perubahan dalam permainannya. Sayangnya, hal ini berbuah buruk untuk kelangsungan permainan Sugar Rush. Permainan miliki Vanellope pun rusak dan harus dicabut dari Arcade. Tentu saja, Ralph dan Vanellope berusaha untuk memperbaiki keadaan dan tersesatlah mereka di dalam dunia yang disebut Internet.


Jika film pertamanya lebih kepada tribute terhadap permainan-permainan analog dan budaya populer yang ada, film keduanya adalah cara Ralph Breaks The Internetmemberikan pengertian tentang dunia digital. Rich Moore dan Phil Johnston berusaha untuk menjelaskan mekanisme tentang dunia digital yang semua berada di satu linimasa dengan sistem kerja yang lebih cepat. Menunjukkan bagaimana budaya pengguna internet di zaman sekarang yang memiliki banyak platform.

Meski dengan pesan yang berat, tentu saja Rich Moore dan Phil Johnston tahu benar takaran dan target segmentasinya. Ralph Breaks The Internet memiliki penuturan cerita yang sederhana meskipun sebenarnya cara bertuturnya lebih kompleks daripada yang terlihat di layar. Caranya adalah dengan memberikan sebuah petualangan seru yang bisa dinikmati oleh semua kalangan. Durasinya yang mencapai 115 menit pun berhasil dimanfaatkan menjadi ruang bagi karakternya untuk berkembang.

Ralph Breaks The Internet jauh berkembang dan menggali lebih dalam perihal pertemanan kedua karakter utamanya. Bagaimana keduanya saling mengikhlaskan dan menyadari bahwa setiap orang punya jalannya masing-masing untuk menjadi sosok yang lebih baik. Ralph dan Venellope menjadi sebuah pion untuk mengantarkan pesan tentang persahabatan itu. Menjadi sahabat harus ikut senang dengan perkembangan mereka, bukan malah menghalangi apa yang mereka inginkan.


Hingga, dalam poin tertentu di dalam filmnya, Ralph Breaks The Internet bisa memunculkan sebuah momen yang sangat emosional. Perjalanan Ralph dan Venellope di dunia internet juga diwarnai dengan bertemu karakter-karakter baru. Karakter pendukungnya juga menjadi momentum penting bagi karakter utamanya untuk berkembang. Seperti karakter Shank dan Yas yang masing-masing memiliki caranya sendiri untuk membentuk karakter Ralph dan Venellope.

Jangan lupakan bagaimana Ralph Breaks The Internet memberikan surat cinta kepada budaya populer terutama budaya Disney sebagai korporasi besar yang menjadi bagian dari masa kecil banyak orang. Semua karakter Disney Princess bisa hadir di dalam satu frame dengan kekhasannya masing-masing. Memberikan satire jokestentang bagaimana princessdiinterpretasi oleh masyarakat luas dengan berbagai problematika dan lagu-lagunya. Meski sudah muncul di salah satu trailernya, tetapi porsi para Disney Princess di dalam film ini ternyata cukup krusialn dan banyak  di dalam filmnya.

Kejeniusan Rich Moore dan Phil Johnston tentang memberikan tributekepada karakter Disney Princess adalah dengan memberikan satu lagu tema bagi Vanellope yang notabene adalah seorang putri juga di permainannya. A Place Called Slaughter Race menjadi lagu tema Vanellope yang digubah oleh Alan Menken yang sudah biasa membuat lagu untuk DisneyPrincess. Belum lagi, beberapa scoringmilik Henry Jackman juga mengkomposisi ulang beberapa nada lagu-lagu Disney Princess menjadi satu dan tentu saja musik dari Star Wars juga tak kalah ketinggalan lengkap dengan adegan yang memiliki nuansa yang sama.


Tak salah bagi kalian yang ingin sejenakmelepaskan penat dengan menonton Ralph Breaks The Internet. 115 menit yang dibuat oleh Rich Moore dan Phil Johnston untuk film punya petualangan yang seru, referensi budaya populer yang jauh lebih megah, serta kisahnya yang emosional menjadi amunisi yang lebih dari cukup untuk merebut hati penontonnya. Ralph Breaks The Internet tak hanya menyamakan kualitasnya dengan film pendahulunya, tetapi juga menjadi sebuah babak baru dalam permainan Ralph dan Vanellope yang lebih besar dan lebih baik dari pendahulunya. Sangat menyenangkan! Dan jangan beranjak dari kursi ya, karena ada 2 adegan di mid dan after credit (abaikan klip video Payung Teduh).

JUSTICE LEAGUE (2017) REVIEW : Kesalahan DC yang Sama Lagi


DC Films lagi-lagi mengeluarkan sebuah film tentang manusia supernya di tahun ini. Setelah bulan Juni lalu, akhirnya Wonder Woman dirilis dan mendapatkan hati di banyak penontonnya. Dengan begitu, DC dan Warner Bros semakin percaya diri dengan line up film-film manusia super milik DC lainnya. Meskipun, masih belum ada lini waktu yang benar-benar tertata seperti yang dilakukan oleh film manusia super milik brand sebelah.

Dengan lini waktunya yang tak terarah, Warner Bros dan DC sepertinya masih juga tak takut untuk mengeluarkan film Justice League di tahun ini. Justice League ini adalah tempat para manusia super milik DC berkumpul. Film ini disutradarai oleh Zack Snyder pada awalnya hingga sebuah musibah datang menghampirinya. Di tengah filmnya yang sudah selesai dan dalam proses penyuntingan, Joss Whedon ini ditunjuk untuk melakukan supervisi terhadap film Justice League.

Hal ini yang membuat Justice League harus melakukan syuting ulang yang membuat film ini memiliki budget yang membengkak. Dengan budget dua kali lipat, Joss Whedon pun harus memotong durasi film yang awalnya dari 170 menit menjadi 120 menit. Upaya mempersingkat durasi ini cukup menyita banyak perhatian calon penontonnya karena mungkin ada harapan bahwa Justice League akan kembali memukau dan harapan baru bagi DC films selanjutnya.


Memiliki 6 manusia super di dalam satu film tentu punya story device yang perlu dijelaskan lebih agar penonton tak kebingungan dengan setiap karakternya. Dengan linimasa cerita yang kacau balau dalam menentukan origin story, durasi 120 menit ini tentu adalah sebuah bencana besar bagi Justice League. Alih-alih akan punya sebuah pace cerita yang lebih dinamis, durasinya yang pendek ini membuat performa Justice League tak lagi mengikat dan jatuh menjadi sebuah sajian yang mengecewakan.

Justice League mengisahkan tentang kota yang sedang mengalami kehancuran karena musuh besar datang dan berusaha menguasai bumi. Paska kematian Superman, orang-orang di kota tak lagi punya manusia super yang melindungi mereka. Untuk itu, Bruce Wayne (Ben Affleck) sebagai seorang Batman berusaha untuk mengumpulkan para manusia super seperti Wonder Woman (Gal Gadot), Aquaman (Jason Momoa), The Flash (Ezra Miller), dan Cyborg (Ray Fisher).

Mereka harus berhadapan dengan Steppenwolf (Ciaran Hinds) yang datang dari legenda Amazon yang berusaha mengumpulkan kekuatan dari 3 artefak yang bisa membuatnya lebih kuat. Para manusia super ini bergabung dan berusaha untuk mengalahkan Steppenwolf. Para manusia super yang sedang kewalahan mengalahkan Steppenwolf ini mencari strategi lain. Bruce Wayne berambisi untuk membangunkan lagi Superman agar tim manusia supernya ini menjadi sebuah tim yang kuat.


Ketika secara garis besar sebuah plot dari Justice League bisa sesederhana itu, hanya saja dalam presentasinya hal tersebut berkata lain. Justice League ini tampil bagaikan sebuah kompilasi 5 film pendek yang terasa seperti omnibus di 1 jam pertama. Setiap manusia super di dalam Justice League ini seperti punya kisahnya sendiri yang perlu untuk dijelaskan agar penonton bisa memihak karakter mana yang akan jadi idolanya. Sayangnya, hal ini berpengaruh dengan performa Justice League secara keseluruhan.

Meski diberi ruang untuk bergerak bagi karakter-karakternya, itu pun tak membuat setiap karakternya punya porsi yang kuat sebagai sebuah karakter utuh. Selama 120 menit, Justice League bingung harus fokus dengan kisah yang mana. Plot utamanya pun beberapa kali harus tersingkirkan demi cabang cerita lain yang sama tak kuatnya. Tak ada koneksi yang bisa saling berkesinambungan antar setiap kerangka ceritanya sehingga Justice League punya kesan sangat berantakan.

Motif-motif setiap karakternya dan alasan-alasan untuk setiap plotnya ini terasa hilang dari dalam filmnya. Ketika penonton sedang berusaha menerima informasi tentang setiap karakternya, dalam waktu itu juga penonton merasa adanya informasi yang terputus karena cerita sudah beralih dengan cara yang tak halus. Sehingga, muncul kesan bahwa Justice League seperti sebuah gabungan kisah-kisah pendek superhero dengan benang merah kecil dan bahkan benang merah tersebut dilupakan.


Dengan begitu, Justice League tak punya daya dan upaya untuk mengembalikan konsentrasi penontonnya yang sangat terdistraksi dengan plot yang saling tumpang tindih di 1 jam awal. Kisah ceritanya yang sebenarnya sederhana ini malah menjadi blunder karena film ini terasa menyibukkan dirinya tanpa memperhatikan plot utama sebagai penggeraknya. Alhasil, Justice League hanya sebagai sekedar sebuah parade manusia super idola dari komik DC yang tak ada kekuatannya sama sekali.

Entah siapa yang perlu disalahkan dari presentasi Justice League ini. Yang jelas pengarahan dari Zack Snyder dan kolaborasi supervisinya dari Joss Whedon tak bisa memberikan rasa dan tensi yang kuat. Sehingga, dalam 120 menitnya, Justice League memiliki performa yang begitu hambar hingga mungkin paruh akhir filmnya yang menampilkan adegan pertarungan para manusia super ini. Itupun, Justice League tak lagi menawarkan hal baru di dalam genre-nya.


Justice League memiliki visual efek yang begitu kasar dengan warna yang tak terlalu indah. Penonton yang akan menantikan parade visual efek pun akan sangat kecewa. Maka, amunisi senjata Justice League untuk mendistraksi segala kelemahan filmnya pun sama sekali tak tersisa. Hanya sosok Superman yang muncul di 1 jam terakhir inilah yang menjadi poin menarik dan satu-satunya dalam Justice League. Meskipun, penonton harus lagi-lagi terdistraksi dengan CGI yang membuat wajah Henry Cavill nampak berbeda dan berpotensi menjadi sesuatu yang menggelikan untuk dilihat. DC Films nampak jatuh ke lubang yang sama lagi.

WONDER WOMAN (2017) REVIEW : Hanya Film Manusia Super Seperti Biasanya



DC Extended Universe kembali mengeluarkan sebuah kisah salah satu manusia supernya untuk dikenalkan agar bangunan dunianya semakin memiliki dimensinya. Digadang sebagai sebuah film manusia super wanita pertama yang dibuatkan filmnya sendiri –meskipun sebenarnya sudah ada beberapa film-film manusia super yang dibuat sebelumnya –DC Extended Universe menunjukkan taringnya bahwa dunianya sudah menjadi sesuatu yang perlu diantisipasi.

Wonder Woman yang diperankan oleh Gal Gadot ini akhirnya mendapatkan porsinya untuk bercerita tentang dirinya. Patty Jenkins, seorang sutradara perempuan yang kredibilitasnya sudah diakui oleh Academy Awards lewat film Monster memiliki kesempatan untuk mengarahkan cerita manusia super wanita ini. Selain itu, film ini juga dibintangi oleh Chris Pine dan beberapa aktor aktris lainnya sehingga Wonder Woman menjadi salah satu film yang diantisipasi oleh banyak orang.

Setelah Batman V Superman : Dawn of Justice dan Suicide Squad, film-film milik DC Extended Universe tak memliki performa yang bisa membuat terkagum. Bahkan, kedua film tersebut memiliki performa jauh di bawah film-film manusia super lainnya. Sehingga, menantikan film-film DC Extended Universe tak bisa membuat hati berdegup kencang, kecuali para penggemar komik yang telah begitu dekat dengan karakter-karakter di dalam DC Comics. 


Ketika Wonder Woman dirilis, film ini mendapatkan resepsi kritik yang begitu dipuji-puji. Wonder Woman digadang menjadi sebuah kisah asli manusia super yang sangat segar dibandingkan dengan kisah-kisah dari manusia super lainnya. Dengan munculnya klaim hiperbolis seperti itu, Seketika muncul sebuah harapan baru bagi kelanjutan DC Extended Universe selanjutnya. Tentu semua berharap DC Extended Universe bisa menjadi alternatif tontonan kisah-kisah manusia super di sebuah pengalaman sinematis yang ada.

Tetapi, semua kembali dari bagaimana pengalaman dan referensi setiap penonton yang ada ketika menonton Wonder Woman. Sejujurnya, Wonder Woman memang memiliki nafas yang terasa berbeda daripada film-film DC Extended Universe. Hanya saja, ketika disangkutpautkan dengan kata-kata “sangat segar” rasanya Wonder Woman juga tidak bisa dikatakan demikian. Wonder Woman punya kisah asli yang sudah pernah dirasakan oleh penonton di film-film manusia super 4 atau 5 tahun lalu secara sinematis. 


Menceritakan tentang Diana (Gal Gadot) seorang putri amazon yang hidup dengan tenang pada awalnya. Tetapi, dengan keadaan tenang tersebut, Diana tetap diperingatkan tentang kejahatan di luar sana yang melibatkan sosok Ares. Dengan begitu, Diana akan selalu waspada apabila suatu saat kejahatan datang dan menghancurkan Amazon yang mereka cintai. Hingga pada akhirnya, kekacauan datang ketika seorang pemuda tiba-tiba terdampar di pinggiran pantai Amazon.

Steve Trevor (Chris Pine), seorang mata-mata yang sedang bertugas ini terdampar ketika para musuhnya mengejar dirinya. Sehingga, para musuhnya juga ikut menganggu ketenangan para Amazonian ini. Perang pun terjadi antara Amazonian dengan musuh dari Steve Trevor yang menyebabkan banyaknya korban salah satunya adalah saudara perempuan Diana yaitu Antiope (Robin Wright). Diana menganggap ini semua adalah ulah Ares dan menggunakan Steve Trevor untuk mencari keberadaan Ares ini.  


Mendapatkan sebuah klaim tentang kesegaran dan kejeniusan di dalam film Wonder Woman, rasanya hal tersebut kurang pas. Sebagai sebuah film origin story, Wonder Woman sebenarnya memiliki formula yang pernah digunakan oleh berbagai film asal mula superhero lainnya. Memang, ada rasa naif di dalam sosok manusia super yang muncul dari karakter Wonder Woman. Tetapi, Wonder Woman tak sepenuhnya menjadi sebuah tontonan yang mendapat klaim kata “segar”. Wonder Woman mungkin akan lebih tepat dikatakan sebagai pemicu rasa nostalgia.

Dengan durasinya yang mencapai 141 menit, Wonder Woman muncul menceritakan sesuatu yang terlalu biasa.. Tetapi, secara bertutur, Wonder Woman tak ayal adalah sebuah film dengan plot yang lurus-lurus saja dengan penyelesaian konflik yang seadanya. Pembangunan dunia para Amazonian muncul terlalu sebentar, sehingga tak ada korelasi emosi yang muncul antara karakter dan juga penontonnya. Ketika penonton sudah mulai terkoneksi dengan ceritanya, poin pemantik konflik di dalam film ini muncul terlalu cepat. Sehingga, bangunan dunia milik Wonder Woman tak bisa mengikat begitu kuat.

Kejeniusan Allan Heinberg di dalam naskah yang ditulisnya adalah ketika menggunakan Wonder Woman sebagai medium untuk menyampaikan kesetaraan perempuan yang sedang menjadi isu sosial di berbagai belahan dunia. Kenaifan yang muncul menjadi sifat dari Wonder Woman adalah cara bagaimana Allan Heinberg memberikan pengertian tentang bagaimana peran gender muncul dari setiap manusia. Bukan ingin berprasangka buruk, mungkin hal inilah yang membuat Wonder Woman mendapat resepsi baik. Wonder Woman adalah sebuah propaganda politik tentang marjinalitas kaum perempuan. Tetapi, ketika melihat Wonder Woman sebagai film itu sendiri, sebenarnya tampil baik tetapi performanya tak muncul sebaik itu. 


Dengan durasi 141 menit, Wonder Woman seharusnya bisa memiliki komplikasi yang lebih baik lagi untuk membangun setiap plot beserta subplotnya. Tetapi, di akhir 20 menit, Wonder Woman masih memiliki keterbatasan dalam menyelesaikan konflik. Membuat filmnya terkesan memiliki banyak sekali subplot yang perlu diselesaikan karena munculnya 2 karakter villain yang tertuduh menjadi karakter yang penting. Tetapi dengan konklusi seperti itu di dalam filmnya, dalih tentang 2 karakter penjahat tersebut terkesan sia-sia dan tak memiliki tujuan utamanya. Belum lagi keklisean yang muncul di dalam konklusi Wonder Woman yang melihatkan bahwa tak ada lagi unsur “segar” di dalam film ini.

Memang, sebagai sebuah film yang berada di dalam DC Extended Universe, ini adalah sebuah film yang segar. Tetapi, ketika dibandingkan dengan berbagai film manusia super yang ada, Wonder Woman hanyalah repetitif bahkan adaptasi dari berbagai referensi dengan performa yang cukup tapi tak semegah itu. Menonton Wonder Woman dan memahaminya butuh referensi dan pengalaman dari dalam diri. Sehingga, ketika selesai menonton, Wonder Woman adalah hal yang bisa didiskusikan untuk saling berbagi pengalaman dan referensi. Wonder Woman mungkin lebih tepat untuk mendapatkan predikat “nostalgic” ketimbang menggunakan kata-kata “segar” yang sebenarnya menimbulkan anomali.