• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label DC Comics. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DC Comics. Tampilkan semua postingan

BIRDS OF PREY AND THE FANTABULOUS OF THE ONE HARLEY QUINN (2020) REVIEW: Mengacak Narasi tapi Bingung Sendiri

Anti-hero.

Akan lebih cocok disebut untuk film ini dibandingkan sebagai sebuah film tentang superhero. Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini.

Dia adalah Harley Quinn.

Karakter ini pun pada awalnya diangkat dari origin story dengan sudut pandang seorang penjahat. Tetapi, Harley Quinn diangkat untuk mendapatkan sebuah simpati untuk dan dihadirkan untuk penontonnya. Karakter ini pun sempat naik daun berkat penampilan dari Margot Robbie di film Suicide Squad. Dan tentu saja, Warner Bros dan Geoff Johns mempertahankan aktris ini untuk memerankan karakter yang sama untuk film-film DC lainnya.

Melepaskan diri dari Suicide Squad yang mendapatkan banyak sekali kritikan pedas, Harley Quinn pun mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan tim lain. Kali ini, semua timnya beranggotakan para perempuan –yang menurut sang karakter utamanya –yang membutuhkan emansipasi. Iya, sudah tidak ada lagi DC Extended Universe. Warner Bros pun katanya ingin fokus membuat film-film solid untuk adaptasi komik dari DC.


Dan kali ini pun, Cathy Yan didapuk menjadi sang sutradara dan membuat filmnya terpisah dari beberapa linimasa. Masih membahas sedikit tentang Suicide Squad milik David Ayer, tapi tak menjadi momok utama darinya. Selain Margot Robbie sebagai Harley Quinn, film ini juga dibintangi oleh beberapa aktor perempuan. Dari Mary Elizabeth Winstead, Rosie Perez, Jurnee Smollett-Bell, dan Ella Jay Basco. Tenang, masih ada Ewan McGregor dan Chris Messina juga kok.

Birds of Prey and The Fantabulous of Emancipation One Harley Quinn (iya, panjang banget aku tahu) adalah judul untuk film dari adaptasi komik DC kali ini. Filmnya pun diadaptasi dari karakter milik komik Birds of Prey dan berusaha memberikan judul yang intriguing biar cocok dengan karakter Harley Quinn yang agak quirky. Tapi, ujung-ujungnya pun Warner Bros tetap saja mengganti judulnya menjadi Harley Quinn: Birds of Prey agar gampang dicari orang dan (diharapkan) mendatangkan banyak uang.

Lantas, mari kita setujui untuk memanggil film ini sebagai Birds of Prey di sepanjang tulisan. Ya, biar gampang aja.


Patah hati menjadi awal mula film Birds of Prey ini. Iya, Harley Quinn (Margot Robbie) sedang patah hati karena ditinggalkan oleh Joker begitu saja tanpa ada penjelasan. Tentu saja, Harley Quinn tak membuat patah hatinya larut lebih dalam. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk memberitahu seisi Gotham bahwa dirinya tak lagi bersama sang kekasih. Mengetahui ini, tentu seisi Gotham mengincar Harley Quinn.

Bukan, bukan untuk menjadikannya pasangan. Tetapi, banyak sekali musuh-musuh berkeliaran untuk memburunya. Ya, bisa dibilang dulu Harley Quinn selalu dilindungi oleh kekasihnya. Tetapi, Harley Quinn tetap sosok yang tangguh untuk dikejar. Salah satu orang yang ternyata harus berurusan dengannya adalah Roman (Ewan McGregor) atau Black Mask. Tentu saja, Harley Quinn berusaha untuk melepaskan dirinya dari kejaran sang musuh.

Ketika baca sinopsis ini pun pasti akan bertanya-tanya, ini kisah tentang Birds of Prey atau Harley Quinn ya?


Film Birds of Prey ini memang memiliki Harley Quinn sebagai salah satu karakternya. Bahkan, dirinya lah yang menguasai narasi utama. Sejak menit awal film pun, cerita di film ini dibawakan oleh Harley Quinn. Dibawakan dengan unik, meskipun tidak baru, tetapi Birds of Prey sebenarnya punya usaha untuk mengatur sendiri narasinya sehingga terlihat segar. Narasi non-linearnya bisa menjadi sesuatu yang ditawarkan kepada penonton dan ada intensi dari sang sutradara membuat filmnya terkesan stylish.

Sayangnya......

Seperti judulnya yang membuat orang berusaha keras untuk dipahami, begitu pula dengan narasi filmnya. Plot ceritanya harusnya pun sederhana, tetapi Cathy Yan mengambil langkah yang beresiko untuk menuturkannya. Hasilnya, Birds of Prey malah berputar-putar sendiri saat menuturkan setiap konfliknya. Ada beberapa kendala dalam menuturkan narasi dari film ini.

Pertama, banyaknya ambisi dalam pengarahan milik Cathy Yan di dalam filmnya. Ingin terlihat berbeda dalam menuturkan cerita hingga bagaimana sang sutradara ingin menyampaikan pesan tentang woman power.  enuturannya yang menggebu-gebu itulah yang terkadang malah membuat pesan dan tujuan dari Cathy Yan belum bisa mencapai ekspektasi yang diinginkan. Relevansi cerita dengan judulnya, pun terkadang juga menjadi kendala.

Kedua, film Birds of Prey memiliki banyak sekali karakter di dalamnya. Cathy Yan memiliki kendala untuk mengenalkan setiap karakternya dan urgensi setiap karakternya untuk muncul di layar kecuali karena semua karakternya ada di dalam komiknya. Inilah yang membuat filmnya akan terasa tumpang tindih. 109 menit mengikuti setiap karakternya akan terasa melelahkan. Cathy Yan sebagai sutradaranya harusnya bisa memutuskan apa yang menjadi fokus utama dalam filmnya. Tak perlu berambisi untuk memberikan arc masing-masing karakter di dalam filmnya. Tetapi, bagaimana caranya agar penonton bisa memberikan simpati kepada setiap karakternya.

Ketiga, action spectacle yang ada di dalam filmnya. Masih ada banyak yang perlu dibenahi. Action sequences di film ini berasa seperti sebuah tarian yang perlu dihafalkan gerakannya. Terlihat stylish karena berkat tata artistik yang mampu bermain dengan warna. Ya, ini adalah bagian paling lemah dari Birds of Prey. Padahal, dalam reshoots-nya, adegan-adegan ini sudah disupervisi oleh Chad Stahelski yang biasa terlibat dalam John Wick universe.

DC mungkin memang harus tak lagi mengulik kesalahan-kesalahan lama dari film-film sebelumnya. Buang saja jauh-jauh dan restart semua dari awal. Sekalinya akan ada pembahasan dari film sebelumnya, linimasanya pun berantakan belum lagi legacy-nya ternyata bisa berdampak cukup signifikan dalam filmnya. Birds of Prey ini salah satunya. Mari kita lihat saja, The Suicide Squad yang sekali lagi menggunakan adanya karakter Harley Quinn nanti akan berada di linimasa yang mana. Berharap saja lebih baik nantinya.

JOKER (2019) REVIEW: Adaptasi Komik Yang Berbeda Sekaligus Menghantui Pikiran



DC comics memang sedang berusaha untuk mencari jati diri untuk film adaptasinya. Apalagi setelah berkali-kali jatuh bangun saat membuat sebuah cinematic universe-nya. Sehingga, DC pun lebih memilih untuk fokus membuat film-film spin-off yang bergantung pada kualitas daripada fokus membuat cinematic universe. Iya, mungkin ada beberapa filmnya yang berhasil. Tetapi, perjalanan DC masih sangat panjang.

Sebuah harapan hadir ketika Joker yang diarahkan oleh Todd Phillips ini lebih berusaha untuk keluar dari usaha DC membangun dunianya. Rasa skeptis tetap saja hadir, karena ada pergantian cast dari Jared Leto ke Joaquin Pheonix. Meskipun, sebenarnya, film ini juga tak memberikan koneksi apa-apa untuk film DC yang lain. Belum lagi, hype yang terlalu dini untuk film ini. Meskipun pada akhirnya, film ini meraih berbagai macam atensi dari berbagai festival film di luar sana.

Siapa yang bisa melupakan performa keren Heath Ledger saat menjadi Joker di The Dark Knight trilogy? Tentu, dia tak akan bisa terganti dan menjadi salah satu pemeran Joker terbaik. Beruntungnya, Joaquin Pheonix tak berusaha untuk terlihat sama-sama sintingnya layaknya Heath Ledger. Dia berusaha untuk menjadi Joker dengan caranya sendiri dibantu dengan origin story-nya yang memang menggali karakter Joker dengan lebih dalam.


Ya, Todd Phillips berhasil membuat origin dari seorang villain dengan pendekatan studi karakter yang akan membuat penonton menyelami apa yang dilakukan sepanjang hari. Penuh akan perasaan yang problematis saat menyaksikan film Joker. Bukan karena film ini tak bagus, tetapi pesan yang tersampaikan lewat plot dan penuturan ceritanya. Ada perasaan tidak nyaman, yang membuat penontonnya mungkin refleksi tentang bagaimana dirinya melihat kehidupan.

Dunia yang ditinggali oleh Joker memang tak sejelas itu hitam dan putihnya. Ada area abu-abu yang mungkin perlu untuk dicerna dan didiskusikan oleh penonton setelah menyaksikan film ini di bioskop. Menonton Joker seakan menonton sebuah realita kehidupan yang ada di sekitar. Apa yang kamu lihat tergantung dengan apa yang kamu ketahui. Joker sebagai karakter villain pun seakan abu-abu. Apa benar dirinya adalah konstruksi dari lingkungannya, atau memang dirinya dalam keadaan yang tidak stabil pada awalnya.


Hal ini terjadi karena Joker menceritakan tentang Arthur Fleck (Joaquin Pheonix) yang tinggal bersama dengan orang tuanya ini hidup dalam keadaan yang kurang beruntung. Dirinya harus mencari nafkah setiap harinya, menjadi seorang badut dengan bayaran yang pas-pasan. Asal bisa cukup untuk dirinya dan ibunya saja sudah beruntung. Arthur juga mengalami beberapa gangguan yang membuat dirinya bertingkah aneh di saat yang tidak tepat.

Tetapi, hal ini malah menjadi senjata untuk orang-orang melakukan penganiayaan terhadap dirinya. Arthur merasa hidupnya tak adil. Hingga suatu ketika, segerombolan orang berusaha menyerang Arthur di sebuah kereta. Arthur membunuh mereka dengan senjata api miliknya tanpa belas kasihan. Dirinya pun menjadi buronan. Tetapi, hal itu malah membuat Arthur merasa bahwa itulah jati dirinya.


Todd Phillips mungkin mau untuk memberikan sebuah realita tentang bagaimana seseorang terbentuk pada mulanya. Entah nantinya dia akan menjadi sosok yang baik atau jahat, itu tergantung bagaimana nanti penonton akan melihat. Tetapi, Joker ini tampil solid berkat pengarahan Todd Phillips yang kuat. Dia mampu membuat 122 menit milik Joker ini indah sekaligus menghantui pikiran penontonnya seusai menonton film ini.

Alurnya memang terasa pelan, tetapi ini membangun karakternya perlahan menjadi sosok yang lebih kaya akan rasa. Penonton bisa menaruh simpati kepada karakter Arthur Fleck yang sedang melakukan transformasi dalam hidupnya. Bagaimana setiap problematika dalam hidupnya bisa membentuk dirinya. Sehingga, meskipun film ini minim akan adegan aksi, tetapi Joker memiliki tensi yang sangat kuat untuk diikuti.

Hal ini juga diperkuat lagi dengan bagaimana tata teknis dari sinematografi hingga gubahan musiknya yang berhasil membangun suasananya hingga terasa semakin menyayat hati. Adanya simpati dari penonton ini membuat karakter Joker menjadi sangat abu-abu sekaligus problematis. Mungkin ada rasa iba yang muncul untuk karakter ini, tetapi hal penting yang perlu digarisbawahi adalah apa yang akan dilakukan oleh karakter Arthur Fleck dalam film ini.


Melakukan tindak kejahatan sebagai sebuah cara untuk melepaskan amarah mungkin sangat kontroversi. Todd Phillips seakan meromantisasi kejahatan sebagai cara untuk menyelesaikan masalah dalam hidup Arthur. Sehingga, mungkin ini akan menjadi sesuatu yang problematik bagi beberapa wilayah di luar sana yang sedang menghadapi isu serupa. Mass shootersyang terjadi di mana-mana ini membuat usaha beberapa wilayah untuk mencegah, mungkin bisa jadi bertambah.

Semua orang akan menganggap bahwa hal-hal seperti ini akan menjadi hal lumrah karena society yang ada di sekitarnya yang menuntut dirinya membalaskan dendam dengan cara yang tidak tepat. Tetapi, isu yang dilemparkan oleh film Joker milik Todd Phillips ini mungkin juga bisa menjadi refleksi bagi penontonnya. Joker sebagai karakter villain adalah gambaran seseorang yang akan melakukan tindak kejahatan beserta motifnya. Penonton akan tahu bahwa ada seseorang di luar sana yang mungkin sedang berencana jahat dan kita harus waspada.


Sehingga, menonton Joker sendiri harus dengan mata dan pikiran terbuka. Sebagai sebuah film, Joker berhasil mengajak penontonnya untuk aktif memahami karakter utamanya dengan penuturan yang sangat solid. Tetapi, kamu sendiri yang menentukan. Apakah kamu akan menjadi orang yang lebih peka dengan orang-orang sekitarmu untuk mencegah tindak kejahatan ataupun memiliki penyakit kejiwaan. Atau kamu memilih untuk memahami mereka sebagai korban atas ketidakadilan dan mengamini apa yang akan mereka lakukan. Hal inilah yang membuat film adaptasi dari komik DC ini berbeda dan sebagai salah satu alternatif bercerita. Bagus sekali.

PSA: Jangan bawa anak kecil menonton film ini. Meski diangkat dari komik berlabel superhero, tetapi film ini tak akan bisa diterima anak-anak.