• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label October. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label October. Tampilkan semua postingan

THE ONE AND ONLY IVAN (2020) REVIEW: Ada Sudut Pandang Berbeda dengan Hasil yang Masih Sama

Banyak sekali jadwal-jadwal film-film Disney yang harus mengalah karena pandemi. Dari Hamilton hingga Mulan punya nasib sama untuk melenggang cantik ke streaming service milik Disney sendiri. Sebelum Mulan, The One and Only Ivan juga bernasib sama. Film ini sebetulnya sudah direncanakan untuk ditayangkan secara theatrical. Tapi, kondisi tak menentu, membuat film ini harus mengalah.

The One and Only Ivan diangkat dari sebuah buku yang memenangkan award di kategori buku anak-anak. Buku karya K.A. Applegate ini diadaptasi oleh Disney dan mendapatkan Thea Sherrock sebagai pengarah filmnya dan naskah adaptasinya ditulis oleh Mike White. Pengisi suara di film ini juga penuh akan nama-nama besar. Mulai dari Sam Rockwell, Brooklyn Prince, Helen Mirren, hingga Angelina Jolie.

Bukan, ini bukan film animasi. Tapi nama-nama besar di film ini akan mengisi suara untuk sebuah cerita yang digerakkan dari sudut pandang para binatang untuk melihat kehidupan. Salah satunya adalah seekor Gorila bernama Ivan yang ternyata memiliki pandangan lain tentang dirinya dan dunia

The One and Only Ivan tentu diantarkan oleh narasi dari seorang Gorila bernama Ivan (Sam Rockwell). Dia hidup di Big Top Mall dan melakukan pertunjukkan di sana. Tak hanya dirinya, ada beberapa hewan lain seperti Stella (Angelina Jolie), sang Gajah yang juga melakukan pertunjukkan yang sama. Tapi, sang bintang utama di pertunjukan ini tetaplah Ivan. Hingga suatu ketika, kedigdayaan Ivan sebagai bintang yang mahsyur di pertunjukan harus berhenti.

Ivan tak lagi mendatangkan penonton dan menguntungkan sang pemilik pertunjukan. Hingga akhirnya, datanglah seekor bayi Gajah bernama Ruby (Brooklyn Prince). Ruby tentu mudah dekat dengan Stella dengan jenis hewan yang sama. Tetapi, Stella menitipkan pesan kepada Ivan, bahwa Ruby harus tetap berada di tempat yang aman dan layak. Hal ini lah yang akhirnya membuat Ivan mencoba untuk belajar dan membuka dunia baru untuknya.

Ivan mengajarkan hal yang lebih dalam, tapi Disney tetap memegang kendali.

Mau sedalam apa pun cerita yang dimiliki oleh The One and Only Ivan, Disney pasti masih berusaha untuk menemukan jalan tengah agar produk miliknya masih bisa ditonton oleh keluarga. Apalagi dengan materi seperti ini, tentu Disney tak ingin kehilangan penonton anak-anaknya. Sehingga, The One and Only Ivan mungkin terbatas dalam stigmanya sebagai film keluarga yang tak bisa digali terlalu dalam. Takutnya, penonton dengan usia dini tak bisa memahami ceritanya.

Tak salah memang tujuan Disney melakukan hal itu. Mungkin Disney ingin membuat film ini lebih accessible untuk semua kalangan. Toh, Thea Sherrock sebagai sutradara pun berhasil menerjemahkan tujuan dari Disney tersebut. Sebagai sebuah film utuh, The One and Only Ivan bisa menjadi sebuah film keluarga yang menghibur dan menghangatkan hati.

Hal ini muncul tentu karena bagaimana para pengisi suara bisa deliver segala kesenangan hingga keresahan di dalam film ini. Jadi, penonton masih bisa menaruh simpati terhadap setiap karakternya yang notabene bahkan bukan sesama manusia. Bahkan, di beberapa adegan emosional, Thea Sherrock berhasil menyampaikan itu dengan baik. Cuma, kisah Ivan akan jauh lebih menarik lagi bila Mike White dan Disney memutuskan untuk menggali lebih dalam point of view dari karakter utamanya dalam mempelajari hal baru dalam hidupnya.

Keputusan Disney untuk lebih family-friendly jadi ada dampaknya juga, sih.

Ya, gimana penonton akan paham betul dengan segala lika-liku pemikiran Ivan yang harusnya lebih kompleks dari yang ada di layar. Mungkin, penonton juga bisa merasakan gimana rasanya tersesat dalam pemikiran Ivan yang lain. Tapi, Thea Sherrock belum cukup berhasil untuk bisa mengeluarkan potensinya. Yang terjadi, ya penonton pun ikutan tersesat. Bingung dengan apa yang dirasakan oleh Ivan sebagai karakter utama.

Malah, penonton akan lebih relate dengan karakter Ruby di dalam film ini. Bisa jadi, kisah tentang Ruby adalah cara Ivan untuk berkembang menjadi karakter yang lebih baik dan mempelajari hal sekitar. Berdamai dengan trauma dan masa lalu. Tapi, adaptasi ini seperti tak ingin menampilkan cerita itu terlalu dalam. Ya, film ini macam main aplikasi jodoh. Dari luar menarik, tapi pas diajak kenalan lebih dalem, eh masih ada aja yang ditutup-tutupin.

Belum lagi, pesan utama dari The One and Only Ivan pun jadi blur. Apa yang mau disampaikan? Hidup bebas di habitat aslinya? Atau tujuan akhirnya hanya untuk hidup dengan kehidupan yang layak dan mematahkan argumen tentang pertunjukkan hewan?

Penyampaian pesan yang dirasa belum bisa terlihat tegas inilah yang membuat The One and Only Ivan ini ya sekedar tontonan untuk anak-anak yang menghangatkan hati. Padahal, potensi dari adaptasi ini bisa saja lebih dari itu. Tapi, ya mungkin itu tujuan utama Disney mengadaptasi film ini. Untuk bisa mengenalkan literature satu ini dengan segmentasi yang lebih layak. Tonton saja, masih oke kok.

Available at Disney+/Disney+ Hotstar

JOKER (2019) REVIEW: Adaptasi Komik Yang Berbeda Sekaligus Menghantui Pikiran



DC comics memang sedang berusaha untuk mencari jati diri untuk film adaptasinya. Apalagi setelah berkali-kali jatuh bangun saat membuat sebuah cinematic universe-nya. Sehingga, DC pun lebih memilih untuk fokus membuat film-film spin-off yang bergantung pada kualitas daripada fokus membuat cinematic universe. Iya, mungkin ada beberapa filmnya yang berhasil. Tetapi, perjalanan DC masih sangat panjang.

Sebuah harapan hadir ketika Joker yang diarahkan oleh Todd Phillips ini lebih berusaha untuk keluar dari usaha DC membangun dunianya. Rasa skeptis tetap saja hadir, karena ada pergantian cast dari Jared Leto ke Joaquin Pheonix. Meskipun, sebenarnya, film ini juga tak memberikan koneksi apa-apa untuk film DC yang lain. Belum lagi, hype yang terlalu dini untuk film ini. Meskipun pada akhirnya, film ini meraih berbagai macam atensi dari berbagai festival film di luar sana.

Siapa yang bisa melupakan performa keren Heath Ledger saat menjadi Joker di The Dark Knight trilogy? Tentu, dia tak akan bisa terganti dan menjadi salah satu pemeran Joker terbaik. Beruntungnya, Joaquin Pheonix tak berusaha untuk terlihat sama-sama sintingnya layaknya Heath Ledger. Dia berusaha untuk menjadi Joker dengan caranya sendiri dibantu dengan origin story-nya yang memang menggali karakter Joker dengan lebih dalam.


Ya, Todd Phillips berhasil membuat origin dari seorang villain dengan pendekatan studi karakter yang akan membuat penonton menyelami apa yang dilakukan sepanjang hari. Penuh akan perasaan yang problematis saat menyaksikan film Joker. Bukan karena film ini tak bagus, tetapi pesan yang tersampaikan lewat plot dan penuturan ceritanya. Ada perasaan tidak nyaman, yang membuat penontonnya mungkin refleksi tentang bagaimana dirinya melihat kehidupan.

Dunia yang ditinggali oleh Joker memang tak sejelas itu hitam dan putihnya. Ada area abu-abu yang mungkin perlu untuk dicerna dan didiskusikan oleh penonton setelah menyaksikan film ini di bioskop. Menonton Joker seakan menonton sebuah realita kehidupan yang ada di sekitar. Apa yang kamu lihat tergantung dengan apa yang kamu ketahui. Joker sebagai karakter villain pun seakan abu-abu. Apa benar dirinya adalah konstruksi dari lingkungannya, atau memang dirinya dalam keadaan yang tidak stabil pada awalnya.


Hal ini terjadi karena Joker menceritakan tentang Arthur Fleck (Joaquin Pheonix) yang tinggal bersama dengan orang tuanya ini hidup dalam keadaan yang kurang beruntung. Dirinya harus mencari nafkah setiap harinya, menjadi seorang badut dengan bayaran yang pas-pasan. Asal bisa cukup untuk dirinya dan ibunya saja sudah beruntung. Arthur juga mengalami beberapa gangguan yang membuat dirinya bertingkah aneh di saat yang tidak tepat.

Tetapi, hal ini malah menjadi senjata untuk orang-orang melakukan penganiayaan terhadap dirinya. Arthur merasa hidupnya tak adil. Hingga suatu ketika, segerombolan orang berusaha menyerang Arthur di sebuah kereta. Arthur membunuh mereka dengan senjata api miliknya tanpa belas kasihan. Dirinya pun menjadi buronan. Tetapi, hal itu malah membuat Arthur merasa bahwa itulah jati dirinya.


Todd Phillips mungkin mau untuk memberikan sebuah realita tentang bagaimana seseorang terbentuk pada mulanya. Entah nantinya dia akan menjadi sosok yang baik atau jahat, itu tergantung bagaimana nanti penonton akan melihat. Tetapi, Joker ini tampil solid berkat pengarahan Todd Phillips yang kuat. Dia mampu membuat 122 menit milik Joker ini indah sekaligus menghantui pikiran penontonnya seusai menonton film ini.

Alurnya memang terasa pelan, tetapi ini membangun karakternya perlahan menjadi sosok yang lebih kaya akan rasa. Penonton bisa menaruh simpati kepada karakter Arthur Fleck yang sedang melakukan transformasi dalam hidupnya. Bagaimana setiap problematika dalam hidupnya bisa membentuk dirinya. Sehingga, meskipun film ini minim akan adegan aksi, tetapi Joker memiliki tensi yang sangat kuat untuk diikuti.

Hal ini juga diperkuat lagi dengan bagaimana tata teknis dari sinematografi hingga gubahan musiknya yang berhasil membangun suasananya hingga terasa semakin menyayat hati. Adanya simpati dari penonton ini membuat karakter Joker menjadi sangat abu-abu sekaligus problematis. Mungkin ada rasa iba yang muncul untuk karakter ini, tetapi hal penting yang perlu digarisbawahi adalah apa yang akan dilakukan oleh karakter Arthur Fleck dalam film ini.


Melakukan tindak kejahatan sebagai sebuah cara untuk melepaskan amarah mungkin sangat kontroversi. Todd Phillips seakan meromantisasi kejahatan sebagai cara untuk menyelesaikan masalah dalam hidup Arthur. Sehingga, mungkin ini akan menjadi sesuatu yang problematik bagi beberapa wilayah di luar sana yang sedang menghadapi isu serupa. Mass shootersyang terjadi di mana-mana ini membuat usaha beberapa wilayah untuk mencegah, mungkin bisa jadi bertambah.

Semua orang akan menganggap bahwa hal-hal seperti ini akan menjadi hal lumrah karena society yang ada di sekitarnya yang menuntut dirinya membalaskan dendam dengan cara yang tidak tepat. Tetapi, isu yang dilemparkan oleh film Joker milik Todd Phillips ini mungkin juga bisa menjadi refleksi bagi penontonnya. Joker sebagai karakter villain adalah gambaran seseorang yang akan melakukan tindak kejahatan beserta motifnya. Penonton akan tahu bahwa ada seseorang di luar sana yang mungkin sedang berencana jahat dan kita harus waspada.


Sehingga, menonton Joker sendiri harus dengan mata dan pikiran terbuka. Sebagai sebuah film, Joker berhasil mengajak penontonnya untuk aktif memahami karakter utamanya dengan penuturan yang sangat solid. Tetapi, kamu sendiri yang menentukan. Apakah kamu akan menjadi orang yang lebih peka dengan orang-orang sekitarmu untuk mencegah tindak kejahatan ataupun memiliki penyakit kejiwaan. Atau kamu memilih untuk memahami mereka sebagai korban atas ketidakadilan dan mengamini apa yang akan mereka lakukan. Hal inilah yang membuat film adaptasi dari komik DC ini berbeda dan sebagai salah satu alternatif bercerita. Bagus sekali.

PSA: Jangan bawa anak kecil menonton film ini. Meski diangkat dari komik berlabel superhero, tetapi film ini tak akan bisa diterima anak-anak.
 

A STAR IS BORN (2018) REVIEW: Debut Dengan Potensi Yang Terlewat


Berhasil masuk ke dalam nominasi Best Actor di beberapa ajang penghargaan film tak membuat Bradley Cooper lantas berpuas diri. Di tahun ini, Bradley Cooper memberanikan diri untuk mengarahkan sebuah film untuk pertama kalinya. Bradley Cooper memilih untuk mengarahkan cerita yang sudah pernah ada di perfilman Hollywood. A Star Is Bornmenjadi film yang diarahkan ulang oleh Bradley Cooper dan mendapatkan banyak sorotan.

A Star Is Born milik Bradley Cooper ini adalah kali keempatnya judul ini mendapat kesempatan untuk diceritakan ulang. Dimulai dari tahun 1937 yang dibintangi oleh Janet Gaynor, lalu di tahun 1954 yang dibintangi Judy Garland, hingga di tahun 1976 yang dibintangi oleh Barbra Streisand. Belum lagi, A Star Is Born pun pernah diadaptasi ulang oleh perfilman Bollywood. Lantas di tahun 2018 ini, Bradley Cooper memilih Lady Gaga untuk membintangi film debut arahannya ini.

Film ini tentu saja mendapat sorotan karena tak hanya ingin tahu bagaimana Bradley Cooper mengarahkan sebuah film tetapi juga ingin tahu bagaimana Lady Gaga bermain di dalamnya. Tak hanya berperan sebagai pengarah filmnya, Bradley Cooper juga memiliki andil dalam menuliskan naskah dari film ini. Meskipun, naskahnya tak benar-benar murni ditulis sendiri olehnya, Bradley Cooper masih mendapatkan bantuan dari Eric Roth dan Will Fetters.


Dengan kemasan trailer yang menarik, A Star Is Born milik Bradley Cooper ini terlihat punya potensi besar untuk bisa memuaskan penontonnya yang harus akan melodrama dalam sebuah film. Bahkan, beberapa orang menggadang film ini bakal bisa bersaing di beberapa ajang penghargaan film. Dengan segala hype yang ada di luar sana dan trailer yang sangat menarik, A Star Is Born ternyata tak memiliki hal yang spesial untuk dinikmati. Pengarahan dari Bradley Cooper ternyata tak cukup kuat untuk menceritakan ulang kisah yang sudah usang ini.

Secara plot besar, tentu saja A Star Is Born milik Bradley Cooper ini tak punya sesuatu yang baru. Kisahnya pun disadur dari film-film sebelumnya, namanya juga film yang diceritakan ulang. Hanya saja, A Star Is Bornmilik Bradley Cooper ini belum memiliki pengarahan yang cukup kuat. Dengan durasi yang mencapai 134 menit, tentu saja perlu ketelitian dari Bradley Cooper untuk menjaga tensinya di setiap babak. Babak pertamanya memang berjalan cukup memikat meski turbulensinya dalam penuturannya tetap ada. Sayang, semakin bertambahnya menit, A Star Is Bornsemakin hilang daya pikatnya.


Babak pertama dari A Star Is Born dimulai ketika Ally (Lady Gaga), seorang perempuan biasa yang sedang bekerja di bar bertemu dengan seorang bintang bernama Jack (Bradley Cooper). Di pertemuan pertama mereka, Ally sedang menunjukkan kemampuannya bernyanyi. Jack dengan mudah terpesona dengan kemampuan yang dimiliki Ally. Setelah pertemuan itu, Jack dan Ally terasa begitu akrab satu sama lain. Jack sering mengajak Ally untuk datang ke konsernya.

Hingga suatu ketika, Jack benar-benar meminta Ally untuk tampil di salah satu konsernya. Pada awalnya, Ally tidak mengindahkan permintaan tersebut hingga pada akhirnya Ally pun mengiyakan apa yang dimau oleh Jack. Penampilan mereka berdua ternyata memikat penonton, hingga Ally pun dilirik oleh seorang produser musik. Ally pun bangkit menjadi seorang penyanyi terkenal dan menjalani kehidupannya yang penuh liku bersama dengan Jack.


Perjalanan babak pertama dari A Star Is Born ini punya daya magisnya. Penonton merasakan betapa manisnya hubungan antara Jack dan Ally sebagai seseorang yang baru mengenal satu sama lain. Emosi keduanya muncul di beberapa bagian yang penting. Terlebih, ketika keduanya sedang melakukan performance di atas panggung membawakan lagunya yang berjudul Shallow. Daya magisnya muncul dengan baik dan memikat penontonnya. Meskipun dalam penuturannya, babak pertamanya masih sedikit terbata-bata.

Tetapi, perjalanan mereka tak malah membaik di paruh kedua hingga akhir. Pengarahan dari Bradley Cooper sebagai sutradara debut tak cukup kuat untuk menjalankan konflik yang semakin bertambahnya durasi semakin banyak untuk dihadapi. Kurang menampilkan proses berkembangnya Ally dan Jack di paruh kedua inilah yang membuat penonton tak bisa benar-benar bersimpati dengan karakternya. Sehingga, ketika konflik di dalam film ini semakin kompleks, penonton sudah cukup lelah untuk mengikutinya.

Ada banyak perjalanan yang sebenarnya terjadi di antara kedua karakternya. Tetapi, setiap perjalanannya terasa berjalan terlalu cepat untuk bisa membuat penontonnya terpikat dengan pesona kedua karakternya. Proses Ally menjadi bintang terjadi begitu cepat hingga saat Ally sudah menjadi sosok bintang yang karirnya cemerlang, film ini tiba-tiba terasa melambat. Penonton pun tak seberapa ingat seberapa spesialnya Ally hingga bisa lahir sebagai bintang karir yang meroket cepat. Inilah yang membuat A Star Is Born kurang maksimal padahal Bradley Cooper punya potensinya.


Dengan durasi sepanjang 134 menit, A Star Is Born seharusnya bisa memiliki ruang yang cukup untuk pelan-pelan menceritakan yang terjadi dalam proses kehidupan Ally. Begitu pula dalam mengarahkan karakter Jack yang memiliki konflik batin yang cukup menarik untuk diulik lebih lagi. Bradley Cooper berhasil menghidupkan karakter Jack yang hidupnya semakin pelik dengan adanya karir Ally yang semakin disorot oleh banyak pihak. Sayangnya, konflik batin itu tak cukup kuat untuk dirasakan oleh penontonnya.

Di babak penyelesaiannya pun, masih ada banyak subplot yang masuk ke dalam ceritanya. Jack dan Ally mengalami hidup yang semakin pelik ini ternyata cukup membuat lelah untuk diikuti. Hingga dalam penyelesaiannya, kurang memiliki efek emosional yang diharapkan oleh Bradley Cooper ketika tembang I’ll Never Love Again dilantunkan. Hingga yang diingat adalah A Star Is Born memiliki cukup banyak tembang yang bisa dinikmati oleh penontonnya.


Bradley Cooper sebagai sutradara debut untuk film ini terasa seperti kewalahan bagaimana caranya mengemas kehidupan Ally dan Jack yang masalah hidupnya sangat kompleks. Tetapi, Bradley Cooper memiliki sensitivitasnya untuk menghidupkan daya magis karakter dan lagu-lagunya sehingga A Star Is Born masih punya sinar di paruh pertamanya. Sesuai dengan judulnya, Lady Gaga memiliki potensi sebagai seseorang yang lahir sebagai bintang karena performa darinya ini mampu memikat penontonnya dengan baik meskipun filmnya bisa diarahkan dengan lebih baik lagi seharusnya.

FIRST MAN (2018) REVIEW : Pengalaman Bercerita dan Merasakan Kehidupan Neil Armstrong


Setelah memenangkan penghargaan sutradara terbaik di ajang Academy Awards berkat La La Land, Damien Chazelle pun menjadi salah satu sutradara muda yang menjanjikan. Film sebelumnya, Whiplash, juga berhasil masuk ke dalam beberapa nominasi di Academy Awardstermasuk Best Picture. Berkat dua filmnya yang menarik inilah, karya selanjutnya dari Damien Chazelle tentu akan sangat menarik untuk diikuti agar tahu apa yang berusaha ditawarkan oleh Damien Chazelle nantinya.

Di karya terbarunya, Damien Chazelle berusaha untuk keluar dari zona nyamannya yang biasanya membahas masalah musik. Karyanya ini berusaha untuk mengarahkan sebuah cerita tentang seseorang yang dipercaya pertama kali mendaratkan diri ke bulan. First Man, karya selanjutnya dari Damien Chazelle ini menceritakan tentang Neil Armstrong yang diadaptasi dari memoirnya yang ditulis oleh James R. Hansen.

Damien Chazelle mengajak Josh Singer sebagai penulis naskah adaptasi yang juga pernah memenangkan Best Original Screenplay dari film Spotlightdi ajang Academy Awards 2016 lalu. Sekali lagi, Damien Chazelle juga bekerjasama dengan Ryan Gosling untuk memerankan Neil Armstrong di dalam First Man. Juga, mengajak beberapa aktor lain seperti Claire Foy, Jason Clarke, dan Kyle Chandler. Tetapi, sorotan utama dari First Man ini sendiri adalah Damien Chazelle sebagai pengarah film yang sebenarnya sudah jauh dari zona nyamannya.


Dari sebuah film drama suspensehingga drama romance, Damien Chazelle membuktikan bahwa dirinya adalah sosok sutradara versatile yang mampu mengarahkan banyak genre. Meskipun, masih punya benang merah dalam elemen mesinnya. First Man seperti berusaha menggabungkan keduanya karena film terbarunya ini tak sekedar fokus untuk menceritakan bagaimana Neil Armstrong bisa mendaratkan dirinya ke bulan. First Man lebih dari itu, menceritakan tentang kehidupan pribadi Neil Armstrong dengan segala problematika dan gejolak batinnya menghadapi kehidupannya.

Damien Chazelle memiliki sensitivitas dalam pengarahannya sehingga berhasil memadukan First Man menjadi satu harmoni yang kuat dan emosional. First Man bisa menjadi sebuah film bertema space yang memiliki intensitas yang kuat. Tetapi ketika film ini berbicara tentang love and loss, First Man juga bisa memberikan sesuatu yang emosional dan begitu dekat dengan penontonnya. Damien Chazelle berhasil mengeluarkan emosi para pemainnya dengan dialog yang tak meluap-luap tetapi tatapan matanya bisa berbicara lebih dari semua dialognya.


Memang, First Manmenceritakan tentang bagaimana Neil Armstrong (Ryan Gosling) yang sangat menyenangi profesinya sebagai seorang astronot. Neil Armstrong terlibat ambisi negaranya untuk bisa melakukan misi perjalanan mustahil ke bulan. Segala upaya Neil Armstrong dan NASA memang tak semuanya berjalan mulus. Banyak sekali jalan terjal yang harus dihadapi oleh Neil Armstrong. Mulai dari beberapa pesawat yang gagal, kecaman dari publik, hingga remehan banyak orang tentang misi ini.

Tak hanya problematika dalam menghadapi misinya yang berkali-kali gagal, Neil Armstrong juga menghadapi kehidupannya yang juga tak kalah terjal. Menikah dengan Janet (Claire Foy), Armstrong dikaruniai 3 anak. Tetapi, kehidupan Neil masih saja terpaku pada masa lalunya yang sangat mencintai anak perempuannya bernama Karen. Dengan banyaknya kehidupannya yang terjal, Janet tetap berusaha untuk mendampingi Neil Armstrong agar tetap kuat.


Pendekatan Damien Chazelle yang lebih personal kepada sosok Neil Armstrong ini diperkuat tak hanya dengan bagaimana dirinya mengemas cerita. Tetapi juga dengan pendekatan teknis yang lebih personal. Sinematografinya ditata untuk memunculkan kesan personal dan sangat intim lewat beberapa pengambilan gambar yang pan close up di wajah. Serta, pengadeganan yang sering memunculkan suasana yang sangat dilematis bagi karakter utamanya. Tak hanya untuk Neil Armstrong tetapi juga dengan anggota keluarganya yang lain seperti Janet.

Belum lagi diperkuat dengan tata suara yang dibuat secara teknis lebih kompleks untuk memberikan pengalaman di luar angkasa lewat layar perak. Tetapi, Damien Chazelle juga ingin membuat penonton semakin larut dengan problematika Neil Armstrong sehingga dibuat agar beberapa tata suara lebih menekankan sudut pandang orang pertama. Hal inilah yang membuat First Man tampil sangat luar biasa sebagai sebuah film biografi yang tak hanya menceritakan kisahnya tetapi juga ikut merasakan setiap perjalanan sosok yang diangkat.


Tentu saja, kekuatan dari First Man tak hanya datang dari pengarahan Damien Chazelle saja. Tetapi bagaimana pengarahan Damien Chazelle ini akan mempengaruhi performa Ryan Gosling dan Claire Foy yang luar biasa. Penonton akan merasakan gejolak-gejolak yang ada di dalam diri mereka tanpa perlu adegan yang meluap-luap. Cukup memunculkan ketenangan tetapi emosinya berakumulasi dan lebih berdampak di beberapa adegan kunci termasuk ending film ini.

Meski tak bermain di ranah musikal, Damien Chazelle tetap memberikan ambience di dalam First Man sehingga film ini terasa sangat dirinya. Mulai dari memasukkan lagu syahdu ke dalam adegannya, sedikit bermain dengan musik dalam menuturkan narasi, hingga pengadeganan di dalam endingnya yang akan membuat penontonnya berkata “ini Damien Chazelle sekali”. Belum lagi dipermanis dengan balutan musik dengan komposer favorit Damien Chazelle yaitu Justin Hurwitz yang semakin membuat perjalanan Neil Armstrong di dalam film First Man ini semakin indah.


Dengan kompleksitas teknis yang lebih besar terlebih penggunaan kamera IMAX dan perubahan genre di setiap filmnya, tentu saja First Man memberikan deklarasi bahwa Damien Chazelle adalah sutradara yang menjanjikan. Lewat First Man, Damien Chazelle tetap memiliki kekhasan dalam pengarahan dan juga berhasil mengulik cara lain untuk mengulik kisah seseorang. First Man bukan sekedar menceritakan, tetapi juga membuat penonton merasakan semua kegelisahan, kehilangan, dan rasa cinta Neil Armstrong terhadap hidupnya. Indah sekali!