• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label Bradley Cooper. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bradley Cooper. Tampilkan semua postingan

A STAR IS BORN (2018) REVIEW: Debut Dengan Potensi Yang Terlewat


Berhasil masuk ke dalam nominasi Best Actor di beberapa ajang penghargaan film tak membuat Bradley Cooper lantas berpuas diri. Di tahun ini, Bradley Cooper memberanikan diri untuk mengarahkan sebuah film untuk pertama kalinya. Bradley Cooper memilih untuk mengarahkan cerita yang sudah pernah ada di perfilman Hollywood. A Star Is Bornmenjadi film yang diarahkan ulang oleh Bradley Cooper dan mendapatkan banyak sorotan.

A Star Is Born milik Bradley Cooper ini adalah kali keempatnya judul ini mendapat kesempatan untuk diceritakan ulang. Dimulai dari tahun 1937 yang dibintangi oleh Janet Gaynor, lalu di tahun 1954 yang dibintangi Judy Garland, hingga di tahun 1976 yang dibintangi oleh Barbra Streisand. Belum lagi, A Star Is Born pun pernah diadaptasi ulang oleh perfilman Bollywood. Lantas di tahun 2018 ini, Bradley Cooper memilih Lady Gaga untuk membintangi film debut arahannya ini.

Film ini tentu saja mendapat sorotan karena tak hanya ingin tahu bagaimana Bradley Cooper mengarahkan sebuah film tetapi juga ingin tahu bagaimana Lady Gaga bermain di dalamnya. Tak hanya berperan sebagai pengarah filmnya, Bradley Cooper juga memiliki andil dalam menuliskan naskah dari film ini. Meskipun, naskahnya tak benar-benar murni ditulis sendiri olehnya, Bradley Cooper masih mendapatkan bantuan dari Eric Roth dan Will Fetters.


Dengan kemasan trailer yang menarik, A Star Is Born milik Bradley Cooper ini terlihat punya potensi besar untuk bisa memuaskan penontonnya yang harus akan melodrama dalam sebuah film. Bahkan, beberapa orang menggadang film ini bakal bisa bersaing di beberapa ajang penghargaan film. Dengan segala hype yang ada di luar sana dan trailer yang sangat menarik, A Star Is Born ternyata tak memiliki hal yang spesial untuk dinikmati. Pengarahan dari Bradley Cooper ternyata tak cukup kuat untuk menceritakan ulang kisah yang sudah usang ini.

Secara plot besar, tentu saja A Star Is Born milik Bradley Cooper ini tak punya sesuatu yang baru. Kisahnya pun disadur dari film-film sebelumnya, namanya juga film yang diceritakan ulang. Hanya saja, A Star Is Bornmilik Bradley Cooper ini belum memiliki pengarahan yang cukup kuat. Dengan durasi yang mencapai 134 menit, tentu saja perlu ketelitian dari Bradley Cooper untuk menjaga tensinya di setiap babak. Babak pertamanya memang berjalan cukup memikat meski turbulensinya dalam penuturannya tetap ada. Sayang, semakin bertambahnya menit, A Star Is Bornsemakin hilang daya pikatnya.


Babak pertama dari A Star Is Born dimulai ketika Ally (Lady Gaga), seorang perempuan biasa yang sedang bekerja di bar bertemu dengan seorang bintang bernama Jack (Bradley Cooper). Di pertemuan pertama mereka, Ally sedang menunjukkan kemampuannya bernyanyi. Jack dengan mudah terpesona dengan kemampuan yang dimiliki Ally. Setelah pertemuan itu, Jack dan Ally terasa begitu akrab satu sama lain. Jack sering mengajak Ally untuk datang ke konsernya.

Hingga suatu ketika, Jack benar-benar meminta Ally untuk tampil di salah satu konsernya. Pada awalnya, Ally tidak mengindahkan permintaan tersebut hingga pada akhirnya Ally pun mengiyakan apa yang dimau oleh Jack. Penampilan mereka berdua ternyata memikat penonton, hingga Ally pun dilirik oleh seorang produser musik. Ally pun bangkit menjadi seorang penyanyi terkenal dan menjalani kehidupannya yang penuh liku bersama dengan Jack.


Perjalanan babak pertama dari A Star Is Born ini punya daya magisnya. Penonton merasakan betapa manisnya hubungan antara Jack dan Ally sebagai seseorang yang baru mengenal satu sama lain. Emosi keduanya muncul di beberapa bagian yang penting. Terlebih, ketika keduanya sedang melakukan performance di atas panggung membawakan lagunya yang berjudul Shallow. Daya magisnya muncul dengan baik dan memikat penontonnya. Meskipun dalam penuturannya, babak pertamanya masih sedikit terbata-bata.

Tetapi, perjalanan mereka tak malah membaik di paruh kedua hingga akhir. Pengarahan dari Bradley Cooper sebagai sutradara debut tak cukup kuat untuk menjalankan konflik yang semakin bertambahnya durasi semakin banyak untuk dihadapi. Kurang menampilkan proses berkembangnya Ally dan Jack di paruh kedua inilah yang membuat penonton tak bisa benar-benar bersimpati dengan karakternya. Sehingga, ketika konflik di dalam film ini semakin kompleks, penonton sudah cukup lelah untuk mengikutinya.

Ada banyak perjalanan yang sebenarnya terjadi di antara kedua karakternya. Tetapi, setiap perjalanannya terasa berjalan terlalu cepat untuk bisa membuat penontonnya terpikat dengan pesona kedua karakternya. Proses Ally menjadi bintang terjadi begitu cepat hingga saat Ally sudah menjadi sosok bintang yang karirnya cemerlang, film ini tiba-tiba terasa melambat. Penonton pun tak seberapa ingat seberapa spesialnya Ally hingga bisa lahir sebagai bintang karir yang meroket cepat. Inilah yang membuat A Star Is Born kurang maksimal padahal Bradley Cooper punya potensinya.


Dengan durasi sepanjang 134 menit, A Star Is Born seharusnya bisa memiliki ruang yang cukup untuk pelan-pelan menceritakan yang terjadi dalam proses kehidupan Ally. Begitu pula dalam mengarahkan karakter Jack yang memiliki konflik batin yang cukup menarik untuk diulik lebih lagi. Bradley Cooper berhasil menghidupkan karakter Jack yang hidupnya semakin pelik dengan adanya karir Ally yang semakin disorot oleh banyak pihak. Sayangnya, konflik batin itu tak cukup kuat untuk dirasakan oleh penontonnya.

Di babak penyelesaiannya pun, masih ada banyak subplot yang masuk ke dalam ceritanya. Jack dan Ally mengalami hidup yang semakin pelik ini ternyata cukup membuat lelah untuk diikuti. Hingga dalam penyelesaiannya, kurang memiliki efek emosional yang diharapkan oleh Bradley Cooper ketika tembang I’ll Never Love Again dilantunkan. Hingga yang diingat adalah A Star Is Born memiliki cukup banyak tembang yang bisa dinikmati oleh penontonnya.


Bradley Cooper sebagai sutradara debut untuk film ini terasa seperti kewalahan bagaimana caranya mengemas kehidupan Ally dan Jack yang masalah hidupnya sangat kompleks. Tetapi, Bradley Cooper memiliki sensitivitasnya untuk menghidupkan daya magis karakter dan lagu-lagunya sehingga A Star Is Born masih punya sinar di paruh pertamanya. Sesuai dengan judulnya, Lady Gaga memiliki potensi sebagai seseorang yang lahir sebagai bintang karena performa darinya ini mampu memikat penontonnya dengan baik meskipun filmnya bisa diarahkan dengan lebih baik lagi seharusnya.

GUARDIANS OF THE GALAXY Vol. 2 (2017) REVIEW : Sekuel Dengan Kemeriahannya Yang Berbeda


Marvel Cinematic Universe fase ketiga sudah berjalan dengan diawali dari Captain America : Civil War di April 2016 lalu. Perjalanan fase ketiga ini memiliki lebih banyak komplikasi dibandingkan dengan beberapa fase sebelumnya. Tibalah di mana fase ketiga ini akan lebih membahas banyak tentang orang-orang yang berada di sekitar Infinity Stone. Mulai dari Doctor Strange, Guardians of The Galaxy Vol. 2, dan Thor : Ragnarok. Semuanya akan berada di titik temu fase ketiga yaitu Avengers : Infinity War yang akan bertarung melawan Thanos.

Di bulan April ini, para mantan penjahat dengan tujuan heroik ini akan menyapa penontonnya di edisi kedua filmnya. Guardians of The Galaxy Vol. 2 tetap diarahkan oleh sutradara film pertamanya yaitu James Gunn dengan naskah yang juga ditulis olehnya. Film pertamanya telah sukses merebut perhatian banyak orang sebagai sebuah film manusia super dengan latar belakang cerita yang cukup unik di jajaran film milik Marvel Cinematic Universe. Kelanjutan filmnya pun tentu dinanti banyak orang karena selain menjadi superhero yang berbeda, tetapi warna cerita di dalam filmnya pun unik dibanding yang lain.

Guardians of The Galaxy Vol. 2hadir dengan performa yang sama menyenangkannya dengan film pertamanya. James Gunn berusaha untuk agar Guardians of The Galaxy Vol. 2 masih memiliki ritme dan tempo yang sama dengan film pertamanya. Hanya saja, sebagai film sekuel tentu James Gunn berusaha memikirkan poin pembeda dari filmnya. Apabila Guardians of The Galaxy edisi pertama konflik yang lebih universal, di film keduanya para mantan penjahat ini lebih terfokus terhadap permasalahan internal yang bisa mendekatkan penontonnya kepada setiap karakternya. 


Kali ini masalah hadir saat para penjaga galaksi ini sedang pergi ke sebuah planet yang menjadi kliennya. Mereka membantu Ayesha (Elizabeth Debicki) dengan imbalan membebaskan saudara perempuan Gamora (Zoe Saldana) yaitu Nebula (Karen Gillan). Tetapi, Rocket Raccoon (Bradley Cooper) mencuri benda penting milik Ayesha sehingga mereka pun menjadi buron dan dikejar oleh anak buahnya. Di tengah pelarian dan membela dirinya, mereka diselamatkan oleh ayah dari Star Lord (Chris Pratt).

Star Lord sudah lama menanyakan perihal ayahnya yang menghilang begitu saja dari kehidupannya yang ternyata adalah seorang dewa bernama Ego (Kurt Russell). Ketika Star Lord memiliki banyak pertanyaan tentang hidupnya, bahaya telah datang dan mengancam Star Lord beserta timnya yaitu Drax (Dave Bautista), Rocket, Groot (Vin Diesel), dan Gamora. Mereka diincar oleh The Ravager, tim yang diketuai oleh Yondu (Michael Rooker), mereka ditugaskan oleh Ayesha untuk menangkap para penjaga galaksi ini. 


Tak mungkin bagi banyak orang untuk tak membandingkan sekuelnya kali ini dengan film pertamanya. Guardians of The Galaxy memang menjadi salah satu fenomena baru di Marvel Cinematic Universe. Filmnya yang pertama ternyata tak disangka akan memunculkan penggemar baru sehingga edisi kedua ini akan sangat dinantikan. Beruntung, James Gunn tetap memiliki cita rasa yang sama dan dijadikan dasar dalam pengarahannya untuk tetap memuaskan para penggemarnya di edisi kedua.

Sebagai sebuah sekuel, James Gunn memang berusaha agar Guardians of The Galaxy Vol. 2 memiliki pembeda dengan film pertamanya. Guardians of The Galaxy Vol. 2 memiliki lingkup cerita yang lebih kecil dibandingkan dengan film pertamanya. Konflik yang ada di dalam Guardians of The Galaxy Vol. 2 lebih menyorot kepada internal setiap karakternya. Alih-alih Guardians of The Galaxy Vol. 2 menjadi sebuah film yang baru, film ini lebih menekankan sebagai sebuah film pelengkap dari seri pertamanya.

Volume kedua bukan berarti tak menjadi sebuah film yang bagus, tetapi kedua film ini memiliki kemeriahannya masing-masing. Dengan konfliknya yang begitu personal, Guardians of The Galaxy Vol. 2 bisa membuat penontonnya untuk lebih dekat kepada setiap karakternya dan bagaimana mereka sebagai sebuah tim. James Gunn berusaha menjelaskan kepada penontonnya bahwa para penjaga galaksi ini bukan sekedar menjadi sebuah tim dengan ketidaksengajaan, tetapi mereka secara tak langusng semakin lama semakin memiliki ikatan emosional dengan para anggotanya. 


Dengan durasi yang mencapai 135 menit, James Gunn memiliki pendalaman karakter yang sangat menarik dan kuat dari setiap karakternya. Dengan begitu, penonton akan bisa mengetahui siapa saja para penjaga galaksi yang mungkin tak begitu ditekankan di film pertamanya. Keputusan untuk menggunakan konflik internal sebagai pion cerita di film keduanya ini tepat guna untuk memberikan pondasi setiap karakternya agar penonton dapat terasa lebih dekat dengan mereka.

Menumbuhkan nilai tentang kekeluargaan menjadi beberapa topik yang sering ada di dalam banyak film akhir-akhir ini. Guardians of The Galaxy Vol. 2 juga mengeksplorasi nilai tentang kekeluargaan itu agar edisi kedua film para penjaga galaksi ini memiliki perbedaan di film pertamanya. Eksplorasi akan sisi humanis yang nantinya akan  berdampak dengan keemosionalan cerita di akhir film. James Gunn berhasil untuk mengeksplorasi itu dan berdampak pada penontonnya. Hanya saja, kembali kepada referensi penontonnya yang mungkin memiliki sensitivitas lain tentang nilai-nilai dan kaitannya dengan sebuah keluarga.

Tentu saja, Guardians of The Galaxy Vol. 2 sudah menghantam penontonnya dengan berbagai spektakel aksi dan visual dari awal hingga akhir. Guardians of The Galaxy Vol. 2 penuh akan visual efek bombastis yang tak hanya sekedar menghibur tetapi juga akan membuat penontonnya berdecak kagum. James Gunn lagi-lagi bisa menghasilkan tensi yang kuat dan bisa membuat penontonnya tak akan memalingkan wajah dari layar. Tentu tak akan ketinggalan bagaimana James Gunn memberikan unsur komedi yang sangat bisa membuat penontonnya menikmati setiap menit dari durasinya. Apalagi dengan iringan lagu-lagu ngetop di era tahun 70 hingga 80an. 


Maka, inilah para penjaga galaksi dari dunia buatan milik Marvel yang telah memiliki babak baru. Guardians of The Galaxy Vol. 2 lebih menjadi sebuah film pelengkap dari edisi pertamanya yang dikemas dengan sangat menyenangkan dengan konflik yang lingkupnya lebih kecil dan lebih personal. Tetapi, James Gunn berhasil menggunakannya sebagai medium untuk memperdalam setiap karakternya dan menjawab setiap pertanyaan yang akan muncul saat menonton film pertamanya. Juga, menyelipkan nilai yang berkaitan dengan keluarga yang muncul sebagai cara memunculkan keemosionalan cerita. Sehingga, Guardians of The Galaxy Vol. 2menjadi sebuah film sekuel yang memiliki pembeda dari film pertamanya. Tak hanya berbeda, tetapi juga meriah dan menyenangkan dengan caranya sendiri.