• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label Josh Gad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Josh Gad. Tampilkan semua postingan

FROZEN 2 (2019) REVIEW: Sekuel tentang Elsa dan Perjalanannya yang Lebih Dewasa.


Setelah berhasil mendapatkan kuantitas box office yang cukup masif untuk ukuran film animasi, perjalanan Anna dan Elsa tentu mudah dapatkan sekuelnya. Selang 6 tahun dari film pertamanya, Frozen 2 hadir dengan sutradara yang sama. Chris Buck dan Jennifer Lee kali ini bukan mengadaptasi lagi kisah dari Hans Christian Andersen seperti yang dilakukan di film pertamanya. Inilah tugas mereka untuk membuat Frozen 2 mengekspansi dunianya sekaligus membuat sekuelnya tetap prima.

Tentu saja semua castnya kembali menjadi karakter-karakter yang sudah banyak dikenal oleh penggemarnya. Dari Anna, Elsa, Kristoff dan Olaf tetap diisi oleh voice cast yang sama. Bila dilihat dari trailernya, Frozen 2 memang seakan mengajak penontonnya untuk memasuki babak baru dari perjalanan para karakternya yang lebih dewasa dan kelam. Tentu ini akan mengarah ke cerita Frozen 2 yang akan jauh lebih kompleks dibanding seri pertamanya.


Dan benar saja, Frozen 2 kali ini memiliki babak baru yang sangat berbeda dengan film pertamanya. Semua kisahnya dititikberatkan ke karakter Elsa yang sedang berusaha mencari jati diri dan kekuatannya. Dimulai ketika Elsa (Idina Menzel) mulai mendengar suara-suara asing yang hanya didengar oleh dirinya dan tak begitu fokus untuk mencari tahu asalnya. Tetapi, semakin lama suara itu mulai menuntun Elsa untuk mencari jawaban.

Elsa pun memulai petualangannya yang tentu saja ditemani oleh sang adik, Anna (Kristen Bell), Kristoff (Jonathan Groff), Olaf (Josh Gad), dan Sven. Mereka pun menemukan sebuah hutan ajaib yang tak pernah dijamah oleh orang. Mereka mulai memasuki hutan tersebut dan menemukan fakta bahwa ada sesuatu yang berkaitan dengan masa lalu orang tua Elsa dan Anna serta Arendelle sebagai sebuah kerajaan. Di sinilah mereka mulai untuk memecahkan misteri masa lalu tersebut.


Frozen pertama memang dengan mudah merebut hati penontonnya karena berhasil membuat sebuah instant classic yang berhasil menggambarkan Disney Princess di masa kejayaannya. Terlebih, tembang-tembang di film pertama ini sangat mudah terngiang di telinga penontonnya. Tetapi, Frozen 2 memiliki lebih banyak aspek yang membuat filmnya bisa tampil lebih baik. Frozen 2 adalah penantian 6 tahun yang terbayar lunas untuk penontonnya (dan tentu untuk penggemarnya).

Memang, akan susah bagi sekuelnya untuk bisa menyaingi cita rasa klasik lagu-lagu di film pertamanya. Tetapi, lagu-lagu di sekuelnya ini memiliki pilihan lirik dan musik yang lebih kompleks. Tembang seperti “Into The Unknown”, “When I am Older”, dan “Show Yourself” memiliki lirik tentang transisi kehidupan para karakternya yang lebih dewasa saat memahami problematika hidup mereka. Hal inilah yang juga menjadi kunci utama dalam pemilihan konflik dan plot cerita yang ada di Frozen 2.

Dengan semakin dewasanya plot cerita yang ada di Frozen 2 ini, semakin menunjukkan bahwa film ini juga diarahkan dengan semakin matang. Naskah milik Jennifer Lee berusaha untuk membuat semua karakternya ikut berkembang dan tak melupakan apapun yang terjadi di film pertamanya juga beberapa short filmnya. Sehingga, ada akumulasi perkembangan karakter yang sangat signifikan tanpa membuat penontonnya merasa asing dengan mereka.


Dengan menggunakan pendekatan yang lebih dewasa pula, intensi dari Frozen 2 tentu tak hanya menyerang range usia tertentu saja (baca: anak-anak). Tetapi juga bisa membuat film ini bisa dikonsumsi oleh semua target usia. Pemilihan konfliknya akan menjadi faktor yang bisa membuat penonton dewasa bisa penasaran dengan apa yang terjadi di dalam film ini. Tetapi, film ini masih sangat menghibur dari penyampaian komedinya yang tampil di luar batas. Seperti usaha tribute-nya dengan balada tahun 90an lewat lagu “Lost In The Woods”.

Tentu isu yang ada di dalam Frozen 2 ini sudah menyesuaikan dengan isu yang relevan di masa kini. Ketika perempuan bisa memiliki kekuatan untuk memutuskan banyak hal. Masalah-masalah yang dialami oleh perempuan juga memiliki prioritas untuk diselesaikan. Hingga isu Future is Female yang menjadi Anna dan Elsa sebagai pionnya tanpa perlu mendiskreditkan laki-laki dalam perjalanannya. Mereka tetap bisa berjalan seimbang satu sama lain.

Frozen 2 tentu menjadi investasi bagi Disney dalam meraup jumlah box office yang fantastis. Maka dari itu, terlihat pula bahwa Frozen 2 digarap dengan sangat serius dalam hal visual. Dunia Arendelle dan setiap karakternya dibuat semakin detail lagi di sini. Belum lagi, ada banyak sekali adegan-adegan yang dibuat jauh lebih imajinatif dan memanjakan mata dibandingkan dengan film pertamanya. Terlebih ke desain karakter dan tata busana yang luar biasa indah. Jika saja film animasi bisa eligible untuk kategori tata busana, mungkin Frozen 2 bisa masuk menjadi nominasinya.


Maka dari itu, meski Frozen 2 masih tak memiliki tembang-tembang yang mudah untuk langsung menancap di pikiran penontonnya, tetapi Frozen 2 tetaplah sebuah sekuel yang lebih baik dari film pertamanya. Ada banyak aspek mulai dari konflik yang lebih kompleks dan masih bisa dicerna oleh target segmentasi utamanya hingga visualnya yang cantik sekali. Sehingga, Frozen 2 masih bisa memunculkan cita rasa klasik dan magisnya sama seperti yang pertama. Memuaskan!

BEAUTY AND THE BEAST (2017) REVIEW : Rejuvenasi Sebuah Dongeng Klasik yang Magis


Disney sedang rajin menggalakkan kampanye untuk menghidupkan kembali dunia dongeng di film-film animasinya sebagai sebuah film live-action. Sudah ada Cinderella di tahun 2015, The Jungle Book di Tahun 2016, dan akan lebih banyak lagi di tahun-tahun berikutnya. Harta karun Disney yang sudah berdebu ini mulai dimanfaatkan sebagai ladang emas yang sangat berkilau. Dan tahun ini, Disney kembali melakukan peremajaan terhadap karyanya yang fenomenal dan menjadi film animasi pertama yang masuk nominasi Best Picture di tahun 1991 yaitu Beauty and The Beast.

Bill Condon adalah komandan yang punya kendali penuh saat mengarahkan film live-action dari mahakarya milik Disney yang diambil dari dongeng legenda perancis ini. Banyak orang yang cukup khawatir atas ambisi Disney yang sedang berusaha keras mengenalkan kembali seluruh film-film animasinya di zaman sekarang. Pintarnya, Beauty and The Beast yang memiliki Emma Watson dan Dan Stevens di deretan pemainnya ini gampang meyakinkan calon penontonnya bahwa mereka bisa mengemban misi tersebut lewat trailernya.

Tentu misi yang sedang dijalani oleh Disney adalah misi yang susah, karena mengembalikan rasa magis dalam setiap dongeng yang diceritakan ulang di zaman sekarang ini perlu tangan yang handal. Beauty and The Beast adalah sumber materi yang memiliki beban yang berat untuk diceritakan ulang berkat kredibilitasnya sebagai film animasi pertama yang masuk nominasi Best Picture di ajang Oscars. Bill Condon yang pernah mengarahkan Dreamgirls berhasil mengembalikan betapa magisnya Beauty And The Beast di tahun 1991 lalu di tahun 2017 ini dengan pengalaman sinematis yang luar biasa indah. 


Bill Condon memutuskan agar Beauty and The Beast terbaru ini tetap menjadi sebuah film musikal. Orang yang tak terbiasa dengan film-film musikal, mungkin akan menganggap bahwa Beauty and The Beast adalah pengalaman sinematis yang membosankan. Tetapi, telusuri kembali bagaimana Beauty and The Beast milik Disney terdahulu, sejatinya Bill Condon hanya berusaha menduplikasi formulanya. Tentu, hal itu dengan maksud agar Beauty and The Beast miliknya tetap memiliki daya magis sekuat film animasinya. Beruntunglah bagi orang yang punya referensi itu, karena Beauty and The Beast akan dengan mudah menyihir mereka.

Menonton Beauty and The Beast tak perlu membawa keinginan menggebu-gebu agar film terbarunya ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Tentu, Beauty And The Beast akan memiliki cerita yang itu-itu saja, mungkin versi terbarunya ini memiliki sedikit pembaharuan. Hal yang perlu digarisbawahi adalah keberhasilan Bill Condon untuk menyampaikan ulang kisah cinta legendaris ini kepada penontonya. Ini adalah cara dari Disney mengembalikan budaya bernama “dongeng” kepada anak-anak, terlepas ambisi Disney sebagai brand besar yang juga ingin mendapatkan keuntungan melimpah. 


Maka inilah sebuah kisah dongeng melegenda tentang seorang gadis desa yang impiannya sangat sederhana, ingin mendapatkan kehidupan yang lebih menyenangkan dari desanya. Gadis itu bernama Belle (Emma Watson), seorang gadis menawan ini sangat gemar sekali membaca hingga orang-orang di sekitarnya menganggapnya aneh. Kehidupan Belle begitu tenang dan cukup bahagia, hingga suatu saat sang ayah, Maurice (Kevin Kline) terlibat masalah saat perjalanannya ke kota. Maurice ditangkap dan ditahan di sebuah kastil tua yang ternyata milik seseorang.

Belle berusaha untuk menyelamatkan ayahnya yang dikurung di dalam kastil tersebut dan saat itulah dia bertemu dengan pemilik kastil tua ini. Beast (Dan Stevens), seorang pangeran yang ternyata dikutuk oleh seorang peri karena tindakannya yang semena-mena. Belle pun menggantikan posisi ayahnya untuk menjadi tawanan Beast. Tetapi, ketika menjadi tawanan, Belle dan Beast yang semakin sering berinteraksi tumbuh sesuatu yang lain di dalam diri mereka masing-masing. 


Kisah cinta Belle dan Beast dalam Beauty and The Beast tentu masih dengan ceritanya yang lama. Tetapi, Beauty and The Beast terbaru ini masih memiliki rasa magis yang sama dengan film animasinya. Bill Condon tahu benar bagaimana cara mengemas Beauty and The Beast live action ini. Lewat kepiawaiannya, film ini tetap memiliki cita rasa klasik dan rasa magis yang begitu besar bagi penontonnya, apalagi bagi penonton yang sudah dekat dengan film animasi dari Disney-nya. Bill Condon berhasil menciptakan suasana manis sekaligus romantis di sepanjang filmnya.

Ada beberapa pembaharuan yang terjadi dalam cerita milik Beauty and The Beast ini. Stephen Chbosky dan Evan Spiliotopoulos menambahkan detil cerita yang dapat memperkaya setiap karakter yang ada di dalam filmnya. Sehingga, penonton tahu apa yang sedang terjadi di setiap karakternya dan dengan begitu penonton akan mudah terkoneksi, menyepakati informasi untuk melanjutkan setiap plot cerita yang bergerak di dalam durasinya yang mencapai 129 menit.

Beauty and The Beast milik Bill Condon ini adalah sebuah rejuvenasi atas film animasinya yang sudah ada 26 tahun yang lalu. Sehingga, meskipun diadaptasi dari sumber yang sudah ada berpuluh-puluh tahun lalu, Bill Condon bisa mengemasnya agar relevan dengan keadaan sosial masa sekarang. Beauty and The Beast tak hanya sebagai cara Disney mengembalikan budaya mendongeng, tetapi juga sebagai media untuk membicarakan tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan.  


Menarik ketika dalam salah satu adegannya, Belle sedang didapati mengajari seorang anak perempuan untuk lebih terliterasi dengan membaca. Seluruh warga desa pun sangat kesal dengan kejadian tersebut dan menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Belle telah menyalahi struktur sistem yang ada. Ini memperlihatkan bagaimana Ilmu pengetahuan menjadi sebuah atribut patriarki sehingga seorang perempuan yang berusaha mendapat pengetahuan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang salah.

Dengan film Beauty and The Beast ini, Bill Condon berusaha memperlihatkan tentang keadaan sosial tersebut dan menaruh referensi itu terhadap karakter Belle. Bagaimana Bill Condon berusaha membuat Belle sebagai perempuan yang tak berusaha mengungguli laki-laki tetapi lebih kepada berada dalam posisi sejajar dengan laki-laki. Belle hanya ingin mendapatkan perlakuan yang sama terlebih tentang literasi yang dapat memperkaya wawasannya untuk melihat dunia lebih luas.

Kekuatan lain dari Beauty and The Beast live-action ini adalah bagaimana Bill Condon dan Disney tak main-main dalam tata produksinya. Beauty and The Beast ini punya cita rasa yang begitu mewah dan elegan yang dapat membuat penonton terkesima. Dipercantik dengan tata sinematografinya yang mampu memperlihatkan cita rasa itu. Sehingga, ketika adegan-adegan krusial dalam film ini keluar, penonton akan mudah jatuh cinta akan semua keindahan yang dikemas oleh Bill Condon. 


Tetapi perlu diakui bahwa Beauty and The Beast ini memang tak bisa dengan mudah diakses dan disukai oleh semua kalangan. Kemasan dan pengarahan dari Bill Condon dalam Beauty and The Beast ini begitu mengingatkan dengan drama musikal panggung mulai dari set, tata kamera, dan kemasan musikalnya. Sehingga, penonton yang tak terbiasa dengan kemasan dari Bill Condon akan merasa keberatan dengan keputusan Bill Condon dalam film ini. Apalagi bagi mereka yang tak begitu kenal dengan film animasi milik Disney-nya yang sebenarnya dikemas hampir serupa.

Beauty and The Beast adalah film yang indah dan sempurna dalam mengembalikan cita rasa klasik dan magis yang diadaptasi dari film animasinya. Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Josh Gad, dan semua jajaran pemainnya mampu memberikan performa yang sangat luar biasa. Sehingga, Beauty and The Beast ini berhasil tampil begitu kuat dalam membangun suasana yang manis dan adegan musikal yang cantik. Ada pembaruan yang memberikan detil cerita lebih ke dalam setiap karakternya dan memiliki pengaruh yang kuat untuk memberikan informasi lebih kepada penontonnya. Juga, pembaruan misi untuk refleksi atas kondisi sosial terhadap gender yang dilekatkan atributnya pada karakter Belle. Tetapi hal itu kembali lagi kepada setiap referensi setiap orang dalam memahami bagaimana performa Beauty and The Beast milik Bill Condon ini.