• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label Robert Pattinson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Robert Pattinson. Tampilkan semua postingan

TENET (2020) REVIEW: Yang Baru Dari Nolan, Tapi Bukan yang Terbaik

Christopher Nolan dengan filmografinya menjadi hal yang menarik untuk diikuti. Banyak penikmat film yang menunggu apa yang bakal dibuat olehnya. Hal unik apa lagi yang bakal diangkat oleh sutradara ini utnuk dijadikan sebagai sebuah gambar bergerak.

Konsep fiksi ilmiah.


Hal yang pasti selalu ada di dalam film-film miliknya. Bahkan, dengan cerita yang Berdasarkan kisah nyata pun, Nolan juga bisa menyelipkan unsur tersebut di dalam filmnya. Yes, dengan Dunkirk, penonton dibawa ke penuturan cerita yang menarik di dalam filmnya. Maka dari itu, sangat menarik pula untuk menyaksikan project terbaru dari Nolan yang rilis di tahun ini, Tenet.


Tenet, yang harusnya tayang di bioskop tahun ini, menjadi salah satu film yang ditunggu. Menarik, karena Nolan berusaha menyembunyikan sesuatu di balik Trailer. Cerita apa lagi yang bakal disampaikan Christopher Nolan lewat Tenet ini. Menurutnya, ini adalah film heist yang tentu masih dengan signature cerita dan pengarahannya. Dibintangi oleh beberapa nama yang menarik untuk dikulik. Mulai dari John David Washington, anak dari Denzel Washington. Lalu, juga ada Robert Pattinson, Elizabeth Debicki, Kenneth Branagh, hingga Michael Caine.



Lantas seperti apa Tenet berjalan?


Christopher Nolan tak membuat filmnya untuk bertele-tele menceritakan awal mula filmnya dengan perlahan. Perjalanan film Tenet langsung berjalan kencang memunculkan sebuah keriuhan yang terjadi di sebuah tempat dengan berbagai macam misi. Iya, ditemukan seorang tokoh utama yang tanpa nama dan diperankan oleh John David Washington ini sebut saja The Protagonist. Dia tengah melakukan sebuah misi yang penonton tak beri tahu secara detil.


Tapi, ketika hidupnya dikira akan berakhir sampai misi itu selesai, nyatanya tidak. The Protagonist mencari tahu sesuatu yang dia temukan di saat menjalankan misi sebelumnya. Ada seseorang yang melakukan time inversion tetapi bukan dari pihaknya. Ketika diusut, hal ini ada hal yang berhubungan dengan kepentingan orang dari masa depan yang ingin membuat dunia semakin berantakan dan penuh akan perang. The Protagonist berusaha mencari siapa dalang dari semua hal ini.



Bukan yang terbaik dari Nolan, tapi gak seburuk yang dikata orang.


Pernyataan itulah yang terlintas ketika selesai menonton film terbaru dari Christopher Nolan. Iya, dengan premis cerita yang ringan dan sederhana ini, Nolan mengajak penontonnya itu mengarungi pemikirannya yang seperti labirin. Perjalanan untuk bisa mengetahui inti ceritanya tak semudah dari titik awal lalu lurus ke garis akhir. Tapi, akan diajak dulu ke alternatif jalan lain yang lebih berkelok untuk akhirnya bisa menemukan garis akhirnya. Lama, tapi sebenarnya perjalanan itu akan dibuat menarik oleh Nolan.


Ya, begitulah film-film Nolan. Tenet seakan ingin mengulang apa yang dia lakukan dengan Memento. Terlihat dengan bagaimana adegan utama di film ini sudah menyuguhkan keriuhan yang membuat penontonnya bertanya-tanya apa yang terjadi selanjutnya. Tapi, Nolan pun sudah menyuguhi tanda untuk penontonnya untuk tak terlalu ambil pusing dengan segala keribetan yang terjadi di dalam plotnya lewat dialog dari salah satu karakternya.


“Don’t try to understand it, just feel it”


Gak perlu kamu berusaha untuk memahami secara detail dengan segala keribetan teori tentang time inversion  di dalam film ini. Tentu masih ada hubungan di dalam ceritanya, tapi time inversion digunakan sebagai distraksi penonton untuk tetap terjaga, untuk tetap penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya. Karena setelahnya, segala keribetan itu pun akan terjawab sudah di sepertiga akhir dari filmnya. Semuanya akan terjawab dengan mudah sebenarnya.



Benar adanya dialog yang sudah ditebar di awal film ini. Tonton saja film berdurasi 150 menit ini dengan seksama, dengan berbagai macam cabang cerita yang menarik untuk diikuti. Tak Hanya fokus tentang heist motive menjadi jalan cerita utamanya. Tapi, cabang cerita lain tentang perjuangan seorang Ibu demi selalu dekat dengan anaknya yang juga cukup menyita perhatian. Itu pun diperkuat dengan pesona dan penampilan Elizabeth Debicki yang menarik.


Tenet, bila diartikan secara harfiah pun adalah sebuah keyakinan atau sebuah prinsip. Ya, ini yang berusaha ditekankan oleh Christopher Nolan di dalam filmnya. Keyakinan dari karakter yang dibuatnya ini memahami realita yang ada di sekitarnya. Begitu pula dengan pemahaman dari penontonnya karena segala cerita yang berusaha disampaikan oleh Christopher Nolan dalam Tenet ini sebetulnya adalah sebuah lingkaran yang tak tanpa henti. Berputar di situ-situ saja intinya, tapi terserah kamu mau memulai garis awalnya dari mana.


Maka dari itu, benar apabila menggunakan Time Inversion untuk menjalankan plot ceritanya. Konsep yang menarik sebenarnya. Apalagi untuk penonton yang memang mencintai atau gemar dengan film-film bertema serupa. Hanya saja, menyampaikan kisahnya yang terlalu bercabang dan rumit sendiri ini lah yang terkadang membuat filmnya agak sedikit kewalahan. Fokus yang terlalu banyak inilah yang membuat segalanya agak rumit untuk diikuti. Andai saja, Christopher Nolan fokus untuk menceritakan segala riweuhnya time inversion yang dia buat. Mungkin, segalanya berjalan dengan lancar.



Tapi, tetap saja, Tenet masih menjadi sebuah sajian yang menyenangkan untuk diikuti dengan segala action sequences yang sangat menarik. Dengan segala ledakan-ledakan tanpa CGI yang membuat penontonnya kagum. Akan sangat menarik apabila film ini disaksikan dengan layar yang besar. Jadi, tunggu saja, mungkin ketika waktunya tepat, film ini akan segera dirilis di Indonesia dengan format yang lebih layak dan sesuai. Mungkin buat yang Sudah tidak sabar seperti saya, menontonnya dalam format Bluray pun juga bisa.


Cuma, tentu akan rela untuk menonton film ini lagi di bioskop (Jika bioskop di sekitar daerah tempat saya tinggal sudah buka)

WAITING FOR THE BARBARIANS (2020) REVIEW: Kisah menarik Tentang Keadilan untuk Barbarians

Sekarang udah ada banyak banget aplikasi streaming yang bisa kamu cobain. Apalagi saat gak bisa ke mana-mana seperti ini, asupan nonton film juga harus makin beragam. Setelah iseng lama mencari, ketemu lagi dengan salah satu streaming providers namanya Mola TV. Ya, tentu aja, setiap streaming providers punya library yang berbeda-beda. Tapi, Mola TV ini juga gak kalah kerennya.

Hidden gems film di library filmnya bikin tertarik!

Ini dia alasan kenapa Mola TV bisa jadi pilihan buat kamu yang suka nonton film. Beberapa filmnya unik-unik dan jarang kamu temuin di streaming providers yang lain. Satu film yang bikin tertarik adalah Waiting for The Barbarians. Dari poster terlihat menarik, karena ada Mark Rylance sebagai pemeran utamanya. Tapi, ada juga Johnny Depp dan Robert Pattinson. Sehingga, langsung ada keinginan untuk cari tahu film ini lebih dalam.

Waiting for The Barbarians adalah fitur film terbaru dari sutradara Ciro Guerra. Salah satu sutradara asal Columbia yang filmnya berjudul Embrace of the Serpants mendapatkan nominasi Best Foreign Language Film di tahun 2015. Film keduanya berjudul Birds of Passage juga mendapatkan banyak respon positif. Sehingga, cukup menarik ketika Ciro Guerra memutuskan untuk membuat project film satu ini.

Film ini diangkat dari novel yang cukup legendaris dari J.M. Coetzee dengan judul yang sama dan mendapatkan penghargaan. Menarik melihat gimana Ciro Guerra mengarahkan film berbahasa inggris pertamanya dan mengadaptasi langsung novel yang mendapatkan penghargaan.

Menceritakan tentang seorang Magistrate (Mark Rylance) yang berada di sebuah daerah yang terisolasi. Di tengah dirinya yang akan pensiun, datanglah sosok Kolonel Joll (Johnny Depp) yang otoriter. Dia suka sekali menyiksa para Barbarians saat menginterogasi. Sang Magistrate yang tak sanggup hatinya ini berusaha untuk melakukan pembelaan dan pemberontakan.

Hingga ketika sang Kolonel Joll pergi dari daerah tersebut, sang Magistrate memikirkan rencana agar Barbarians mendapatkan keadilan. Bahkan, membebaskan para tawanan yang diinterogasi oleh Kolonel Joll. Hingga suatu ketika, Magistrate menemukan seseorang bekas tawanan yang mengalami patah tulang kaki keduanya akibat disiksa. Magistrate merasa terikat dengannya dan berusaha mengembalikan dirinya ke keluarga asalnya.

Kisah menarik tentang otoritas, pemberontakan, dan perjuangan demi keadilan.

Menarik mengikuti Waiting for The Barbarians ini di durasinya yang mencapai 110 menit. Memperlihatkan kisah sang Magistrate yang berusaha keras mengembalikan keadaan yang sangat otoritas dari Kolonel Joll. Mark Rylance mampu memberikan performa yang menarik sebagai karakter utama di dalam film ini. Sehingga, kegundahan dan keresahan karakter utamanya ini bisa tersampaikan ke penontonnya.

Film ini memperlihatkan betul bagaimana masih ada banyak orang yang menyalahkan kuasa di era sebelumnya. Bahkan, kisah-kisah ini tentu masih saja relevan bagi segelintir orang yang tak bertanggung jawab seperti karakter Kolonel Joll. Kekuasaan menjadi hal yang paling utama tanpa memikirkan rasa kemanusiaan terhadap sesama.

Juga, tentang bagaimana seseorang berusaha keras untuk membuat semua orang merasakan kesempatan hidup yang sama bebasnya dengan yang lain. Magistrate yang berusaha menegakkan keadilan ini pun malah mempunyai banyak jalan terjal. Banyak sekali hal-hal yang harus dia korbankan dan juga penuh perjuangan.

Kisahnya bergulir perlahan dan pelan dengan konflik cerita penuh akan intrik. Bagi yang suka film dengan penuturan drama seperti ini, pasti akan tertarik untuk menontonnya sampai habis. Tapi, sebuah catatan kecil untuk film ini adalah bagaimana beberapa karakternya masih belum digali lebih dalam. Padahal, jika ada sedikit saja latar belakang cerita di satu karakter utama yang penting ini, film ini mungkin akan lebih bagus dan emosional lagi.

Tapi, tata set dan sinematografi di film ini juga berhasil membuat penonton merasakan bahwa Waiting for The Barbarians dibuat tidak main-main. Ada kemegahan yang bisa terpancar dibantu dengan beberapa sinematografi yang indah untuk menangkap set-set itu.

Ada banyak intrik yang hadir di Waiting for The Barbarians yang perlu untuk disimak. Kisahnya relevan, penting, dan menarik untuk diikuti sampai habis. Mengetahui Johnny Depp, Robert Pattinson, dan Mark Rylance berada di satu film dan saling adu akting menjadi kekuatan utama dari filmnya. Tanpa mereka, film ini mungkin tak sekuat sekarang. Bahkan, bisa jadi menjadi salah satu daya Tarik buat penonton untuk nonton film ini.

Buat yang penasaran sama filmnya, Waiting For The Barbarians hanya tayang secara eksklusif di Mola TV. Cara nontonnya tinggal langganan aja sebulan dan kamu bisa akses berbagai macem film yang keren-keren. Murah pula, cuma Rp12.500 per bulannya! Atau kamu bisa langsung bisa tonton di sini.