• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label Angga Dwimas Sasongko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angga Dwimas Sasongko. Tampilkan semua postingan

STORY OF KALE: WHEN SOMEONE’S IN LOVE (2020) REVIEW: Skalanya Kecil, Tapi Takarannya Pas

Siapa yang lupa sama si Kale-Kale itu?

Buat yang udah nonton film adaptasi buku Marchella FP yang digarap oleh Angga Dwimas Sasongko, pasti udah kenal sama karakter Kale. Sosok fakboi katanya, karena telah menghancurkan hati Awan yang minta lebih dari sekedar temen. Tak disangka, karakter ini ternyata mencuri banyak perhatian orang. Perilakunya kepada Awan menarik perhatian karena sosok seperti ini dianggap dekat dengan kisah-kisah cinta para penontonnya di dunia nyata.

Keputusan sikap Kale ke Awan inilah yang membuat orang penasaran dan bertanya-tanya. Apa sih yang terjadi sama Kale sebelum ketemu sama Awan? Siapa sih yang udah nyakitin hati Kale sampe berani seperti sama Awan?

“Bahagia itu milik sendiri, bukan tanggung jawab orang lain.”

Kira-kira begitulah yang dikatakan Kale kepada Awan. Sekaligus membuat penontonnya sering mengutip perkataan Kale satu ini. Banyak orang-orang yang penasaran dengan kisah Kale hasilnya menarik minat Angga Dwimas Sasongko membuat spin-off nya. Di tengah pandemi, Angga Dwimas Sasongko berusaha untuk produktif. Dengan segala keterbatasan, spin-off Kale pun dibuat. Bukan dirilis secara teatrikal, tapi dirilis untuk streaming platform miliknya sendiri yaitu Bioskop Online.

Story of Kale: When Someone’s In Love, judul yang dipakai untuk menceritakan kisah Kale. Ardhito Pramono tentu kembali didapuk menjadi Kale. Dibantu oleh Aurelie Moeremans, yang menjadi karakter love interest masa lalu Kale. Film ini ditulis oleh Irfan Ramli dan langsung ditangani oleh Angga Dwimas Sasongko. Karakter kecil dari adaptasi Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini mendapatkan kesempatan untuk bersinar. Meski skalanya juga kecil, tapi sepanjang kisahnya bisa tersampaikan dengan baik.


Tak perlu banyak menceritakan tentang kisah yang lebih dalam, Story of Kale: When Someone’s In Love langsung menghadirkan konflik antara Kale dengan Dinda. Dibuka dengan menyoroti kehidupan Dinda (Aurelie Moeremans) dengan pasangannya, Argo (Aryo Saloka). Dinda terjebak dengan hubungan yang manipulatif dengan Argo. Hingga akhirnya, Kale datang di tengah pertikaian mereka. Berusaha melerai, tetapi Kale juga kena getahnya.

Tetapi, Kale tak berhenti sampai sana. Usahanya meyakinkan Dinda untuk meninggalkan Argo dan menjalin hubungan dengannya juga berbuah manis. Kale dan Dinda menjadi satu. Hingga suatu ketika, Dinda juga berusaha untuk menghentikan hubungannya dengan Kale. Tentu, Kale yang sudah berusaha menyerahkan segalanya merasa tidak adil dengan keputusan Dinda.  Di sinilah, penonton diajak untuk menyelami apa yang terjadi antara Dinda dan Kale.


Selamat datang di kehidupan kisah asmara Dinda dan Kale.

Iya, penonton akan diajak menyelami kehidupan asmara mereka yang manis awalnya tapi pahit setelah terlalu lama. Seperti Kale dan Dinda yang sedang berusaha untuk meyakinkan satu sama lain sebelum akhirnya berpisah, Angga Dwimas Sasongko juga melakukan hal yang sama dalam menuturkan kisahnya ini. Maka dari itu, menggunakan alur maju mundur di dalam film ini terasa tepat dan tak hanya menjadi signature saja karena Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini juga melakukan yang sama.

Di tengah konflik antara keduanya yang berusaha meyakinkan agar tetap tinggal di ‘rumah’ mereka, ada selipan sedikit memori tentang hubungan mereka. Sehingga, tak hanya Dinda dan Kale saja yang berusaha untuk napak tilas dengan segala hal yang terjadi di dalam hubungan mereka dan berkontemplasi. Tetapi, penonton juga disuguhkan dengan realita tersebut. Penonton pun bisa menilai sendiri seperti apa hubungan mereka selama ini. 

Apa iya yang dilakukan oleh Kale benar? Atau ternyata Kale sendiri juga melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh Argo kepada Dinda? Hanya saja yang dilakukan Kale mungkin sedikit berbeda? Pertanyaan-pertanyaan ini yang akan terjawab sendiri dengan kisah yang dituturkan di dalam film Story of Kale: When Someone’s In Love. Film ini juga ingin mendefinisikan tentang abusive atau toxic relationship yang bisa dateng dalam berbagai bentuk dan cara.


Menarik juga, ketika melihat hasil akhir film ini. Bahwa jika disadari, ada keterbatasan dalam setting cerita-nya. Mungkin memang berputar di tempat yang sama sepanjang durasinya yang hanya mencapi 78 menit, tetapi Angga Dwimas Sasongko bisa berhasil menjaga emosinya hingga akhir. Hingga pada satu adegan penting di menuju akhir film ini. Sederhana, tapi penting dan kuat. Sekaligus mengetahui segala perasaan yang dirasakan oleh kedua karakternya.

Lalu, barulah penonton bisa memahami apa yang dilakukan oleh keduanya. Mencintai dengan risiko dapat ditinggalkan itu tidak dapat terelakkan. Hal itu adalah sebab akibat dari apa yang terjadi jika kamu sudah memilih untuk mencintai seseorang. Yang perlu kamu lakukan tentu hanya berusaha mempertahankan. Tapi, apakah yang kamu lakukan sudah benar? Bersama dengan Kale dan Dinda, penonton bisa bersama-sama berkontemplasi atas yang sudah dilakukan.

Ya, Story of Kale: When Someone’s In Love ini adalah sebuah spin-off dengan skala kecil. Tapi, emotional impact yang dihadirkan di film ini juga tak kalah besarnya. Meskipun, konfliknya lebih juga lebih personal tapi cukup menarik untuk ditonton. Angga Dwimas Sasongko berhasil menjadikannya spin-off hasil on demand ini dengan sangat baik.

WIRO SABLENG PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 (2018) REVIEW : Universe Superhero Lokal Yang Patut Dinantikan!


Mengembalikan kepercayaan penonton terhadap film laga dan seni silat sudah pernah dilakukan oleh Miles Films lewat Pendekar Tongkat Emas. Meski tak mendapat sambutan yang cukup meriah, Pendekar Tongkat Emas masih memiliki tujuannya yang mulia. Di tahun ini, Lifelike Pictures dengan usahanya menggandeng rumah produksi luar negeri yaitu 20th Century Fox, membangkitkan karakter silat legendaris milik tanah air.

Karakter silat rekaan dari Bastian Tito ini tentu sudah sangat dekat oleh penonton Indonesia. Lewat serial televisi, karakter ini tentu menjadi sosok yang sangat legendaris. Wiro Sableng, sang pendekar kapak maut naga geni ini mendapatkan kesempatan untuk diarahkan oleh Angga Dwimas Sasongko dalam versi layer lebarnya. Menggandeng Seno Gumira Ajidarma dan Tumpal Tampubolon dalam penulisan naskah, Lifelike Pictures membuka jalan karakter ini untuk membangun dunianya.

Vino G. Bastian ditunjuk sebagai orang yang tepat untuk mewarisi karakter Wiro Sableng yang dibuat alm. Bastian Tito, di mana Vino adalah anak dari pembuatnya. Tentu saja, Wiro Sableng akan diperankan dan dibuat dengan sepenuh hati karena inti hatinya ikut andil dalam pembuatannya. Pun, film Wiro Sableng dengan sub judul Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 ini mengajak Sherina untuk kembali berakting di layer lebar. Serta, mengajak nama baru seperti Fariz Al Farizi di dalam filmnya.


Tak berhenti di nama-nama seperti itu, banyak aktor dan aktris dengan nama besar juga ikut di dalam filmnya. Mulai Dwi Sasono, Yayan Ruhian, Yayu Unru, hingga sang istri dari Vino sendiri yaitu Marsha Timothy. Dengan nama-nama besar dan kerjasamanya dengan rumah produksi Hollywood, tentu membuat Angga Dwimas Sasongko mendapatkan tanggung jawab yang besar saat membuat film ini. Terlebih, ini tentu saja pertama kalinya Angga Dwimas Sasongko membuat film dengan genre berbeda.

Mungkin masih ada sedikit rasa khawatir dari penonton saat membuat Wiro Sableng ini ke sebuah film layer lebar. Mulai dari ketakutan membawa suasana nostalgia hingga mengelaborasi teknis dan pengarahannya dengan baik. Tetapi, dengan rekam jejak Angga Dwimas Sasongko, tentu saja Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 berhasil diarahkan menjadi sebuah film action fantasy yang menawan. Sekaligus, menetapkan standar yang tinggi dalam Raihan teknis di film Indonesia.


Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 mengadaptasi empat cerita novelnya menjadi satu cerita utuh di filmnya. Menceritakan tentang penyerangan sebuah desa oleh Mahesa Birawa (Yayan Ruhian) dan komplotannya sehingga membuat Wiro kecil harus terpisah dengan orang tuanya. Sinto Gendeng (Ruth Marini) lah yang pada akhirnya merebut Wiro kecil dari tangan Mahesa Birawa dan merawatnya hingga melatih Wiro menjadi sosok pendekar yang kuat.

Wiro (Vino G. Bastian) dianggap sudah dewasa dan cukup kuat untuk melanjutkan jalan hidupnya. Wiro Sableng pun dilepas untuk menemukan sosok Mahesa Birawa yang pada awalnya Wiro belum benar-benar tahu bahwa dia adalah sosok yang memisahkan dirinya dengan orang tuanya. Di tengah perjalanannya, Wiro bertemu dengan Pendekar Tapak Sakti (Fariz Al Farizi) dan Anggini (Sherina) dan terlibat konflik sebuah tahta kerajaan yang menuju ke satu titik utama yaitu Mahesa Birawa.


Dengan mengadaptasi 4 cerita sekaligus, tentu perlu ketelitian agar ceritanya tak terasa tumpang tindih. Tentu saja hal itu adalah misi yang sangat susah untuk dilakukan oleh Sheila Timothy, Seno Gumira Ajidarma, dan Tumpal Tampubolon. Mereka harus menahan egonya agar tidak terlalu ingin memaksakan setiap ceritanya tetapi juga tetap harus tahu bahwa Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 ini juga memiliki universe yang harus berkembang dan berpotensi membesar nantinya.

Alih-alih memperbanyak konflik yang bakal membuat film ini tidak fokus, Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 ini fokus terhadap satu konflik utama dengan sedikit cabang cerita. Yang dikorbankan memanglah pengembangan karakter yang banyak di dalam filmnya. Sehingga, beberapa karakter yang ada di dalam film ini hanya bisa tampil tanpa digali lebih dalam. Meskipun, setiap kemunculannya tidak ada kesan yang dipaksa.

Dengan segala kelemahan dalam segi cerita dan pengembangan karakternya ini, filmnya tetap bisa menyampaikan plot ceritanya dengan baik lantaran pengarahan Angga Dwimas Sasongko yang kuat. Di dalam durasinya yang mencapai 123 menit, penonton akan disuguhi setiap intrik perjalanan Wiro Sableng yang menarik untuk ditonton. Angga Dwimas Sasongko tahu untuk mengemas film ini agar tetap berjalan sesuai tujuannya yaitu untuk menghibur penontonnya.


Kelemahan dalam penulisan naskahnya diubahnya menjadi ladang emas untuk memiliki celah agar dikembangkan menjadi universe yang lebih besar. Sehingga, dengan banyak karakter yang tak tergali dengan baik, bisa membuat penontonnya yakin bahwa nantinya film ini akan memiliki sekuel yang patut untuk dinantikan. Sehingga, nantinya penikmat film Indonesia tentu akan memiliki film-film manusia berkekuatan super dengan dunianya yang sangat dekat dengan budaya Indonesia.

Meski berada di setting waktu dan universe yang berjarak dengan penontonnya, tetapi Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 masih diselipi dengan dialog-dialog satir masa kini. Angga Dwimas Sasongko tahu benar bagaimana menyampaikannya agar semua dialog itu tetap bisa terasa tak dipaksakan. Dialognya tersampaikan dengan dinamis, dipadu dengan dialog-dialog tengil dan menggelitik yang mampu menjadi punchline komedinya.

Performa Vino G. Bastian sebagai Wiro Sableng berhasil mengeluarkan kharismanya dan menjadi inti hati film ini. Vino G. Bastian mampu menginterpretasikan sosok Wiro Sableng yang tengil tetapi juga memiliki sisi-sisi kemanusiaannya yang bisa membuat penontonnya bersimpati. Kolaborasinya juga kuat dengan sang guru, Sinto Gendeng yang diperankan oleh Ruth Marini. Sehingga, hubungan guru dan murid antara mereka berdua tampil secara natural.


Didukung oleh tata suara megah, sinematografi dengan warna yang memanjakan mata, dan visual efek yang bagus untuk ukuran film mega budget di Indonesia, Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 memiliki hasil yang sangat memuaskan. Film ini berhasil menjadi sebuah pencapaian tertinggi dalam hal teknis dalam filmmaking di film-film Indonesia. Kapan lagi film Indonesia memiliki sebuah karya yang bisa membangun universe-nya dengan sangat baik dan berpotensi untuk semakin besar. Inilah kekuatan dalam Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 yang tak pernah dimiliki film-film Indonesia sebelumnya, bisa membuat universe superhero lokal yang bisa nantikan selanjutnya. Keren sekali!

FILOSOFI KOPI 2 : BEN & JODY (2017) REVIEW : Revisi Nilai Hidup Untuk Sebuah Kedai Kopi

 
Kisah pendek yang diambil dari Dewi Lestari ini telah dibudidayakan menjadi sebuah produk yang namanya sudah mahsyur. Selain film, produk dari Filosofi Kopi ini diabadikan menjadi sebuah kedai kopi yang nyata. Dengan adanya konsistensi itu, tak akan kaget apabila film yang diarahkan oleh Angga Dwimas Sasongko ini akan mendapatkan sekuel sebagai perlakuan selanjutnya. Tentu, kekhawatiran akan muncul karena cerita pendek dari Filosofi Kopi pun hanya berhenti di satu sub bab yang telah dibahas di film pertamanya.

Sayembara muncul ditujukan kepada semua orang untuk membuat kisah lanjutan dari Ben dan Jody ini. Sayembara ini sekaligus memberikan bukti kepada semua orang bahwa Filosofi Kopi tetap menjadi film yang terkonsentrasi dari penonton seperti film pertamanya. Yang jelas, Angga Dwimas Sasongko tetap mengarahkan Chicco Jericho dan juga Rio Dewanto sebagai Ben dan Jody. Angga Dwimas Sasongko pun berkontribusi dalam pembuatan naskah dari cerita terpilih yang ditulis oleh Jenny Jusuf serta M. Irfan Ramli.

Meski tetap dipegang oleh sutradara dan orang-orang yang sama, sekuel dari Filosofi Kopi ini pun cukup membuat penonton khawatir. Ketakutan Filosofi Kopi 2 dengan subjudul Ben & Jody ini memunculkan penyakit dari film-film sekuel yang bisa saja jatuh dan tak sebagus film terdahulunya. Juga, kurang adanya urgensi di dalam latar belakang ceritanya yang dapat mendukung apa yang ditampilkan di layar. Tetapi percayalah dengan Angga Dwimas Sasongko, karena Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody tetap akan memikatmu dengan manis dan pahit kisahnya seperti kopi di pagi hari.

Ada formula yang diulang di dalam Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini di dalam ceritanya. Tetapi, fokus cerita yang ada di Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini tak lagi mengenai bagaimana Filosofi Kopi sebagai kedai kopi ternama, melainkan tentang ranah domestik dalangnya. Menggali lagi personifikasi yang muncul dalam Filosofi Kopi yang dikonsumsi oleh penikmatnya. Sehingga, muncul problematika yang di film keduanya ini jauh memiliki nilai yang lebih personal dibanding film pertamanya. 

Rasanya tidak relevan membandingkan film keduanya ini dengan film pertamanya. Dengan konflik cerita yang lebih personal, tentu tujuan yang berusaha dicapai oleh Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini juga pasti akan berbeda. Dengan adanya nilai yang lebih personal di dalam konflik ceritanya, mungkin inilah yang membuat Filosofi Kopi 2 memberikan tambahan nama karakternya –Ben dan Jody –sebagai sub judulnya. Apabila dalam film pertamanya menggunakan kopi sebagai medium refleksi, di film keduanya ini menggunakan Kedai Kopi sebagai medium berkontemplasi atas filosofi hidup mereka sendiri.  


Melanjutkan kisah Filosofi Kopi pertama di mana Ben (Chicco Jericho) dan Jody (Rio Dewanto) yang sudah menjual kedainya dan memilih berjualan keliling Indonesia menggunakan Kombi. Setelah lama berkeliling menggunakan kombi berjualan dan membagikan Kopi, Ben merasa perjalanannya tak memiliki akhir dan tujuan dalam hidupnya. Ben pun membujuk Jody untuk kembali ke Jakarta dan menghidupkan lagi kedai Filosofi Kopi yang pernah dibangunnya itu.

Tetapi, membangun kembali kedai tak semudah yang dibayangkan. Jody harus memutar lagi otaknya untuk membeli lagi kedai yang telah dijualnya karena harga yang ditawarkan kepadanya sangat tinggi. Lalu, datanglah Tarra (Luna Maya), seorang perempuan yang menawarkan diri menjadi investor untuk Filosofi Kopi agar kembali bangkit seperti dulu. Dengan adanya Filosofi Kopi kembali, problematika tak hanya berhenti di situ saja. Ada konflik pribadi yang memacu mereka untuk kembali merenungi tentang apa yang mereka cari selama ini. 


Kesulitan untuk membuka kedai lagi tak hanya dialami oleh Rio Dewanto sebagai Jody, tetapi juga Angga Dwimas Sasongko untuk kembali membuat penonton percaya dengan sekuel Filosofi Kopi. Beruntung Angga Dwimas Sasongko selalu memiliki energi dalam setiap film yang diarahkan. Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody memasuki sebuah babak baru di dalam konfliknya yang tetap memiliki cita rasanya yang begitu kuat dan emosional untuk dinikmati penontonnya.

Konflik yang lebih personal ini adalah sebuah kunci tentang bagaimana karakter Ben dan Jody ini pada akhirnya bertransisi. Angga Dwimas Sasongko berusaha untuk memberikan pertanyaan kembali kepada karakternya tentang filosofi hidup seperti apa yang mereka ambil. Ada di setiap adegan dan dialog dalam Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody memberikan banyak sekali rujukan yang juga membuat penontonnya ikut mempertanyakan tujuan dan nilai apa yang digunakan dalam hidup setiap orang.

Nyawa dari Kedai Filosofi Kopi ini adalah Ben dan Jody dengan sifat-sifatnya sendiri yang meskipun bertolak belakang tetapi bisa saling mengimbangi. Dengan keputusan mereka untuk kedai kembali,  ada ideologi yang mengalami revisi dan dipertanyakan lagi agar kedai Filosofi Kopi bisa berjalan lancar lagi. Hal itu dikarenakan bagaimana Ben dan Jody mengalami banyak sekali kejadian dan referensi dalam hidup yang membuat mereka mengalami kontemplasi. 


Poin-poin itu muncul di dalam naskah yang ditulis oleh Jenny Jusuf, M. Irfan Ramli, dan Angga Dwimas Sasongko sendiri. Dituliskan secara implisit di dalam adegannya dan Angga Dwimas Sasongko berhasil menyampaikannya dengan baik dan dapat dirasakan oleh penontonnya. Sensitivitas dalam mengarahkan inilah yang menjadi poin penting dalam Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody. Bagi penonton yang mengikuti film pertamanya, akan terasa kontinuitas dari karakter Ben dan Jody yang mengalami transisi. Penonton seakan-akan tahu bahwa ada nilai-nilai yang direvisi dalam diri Ben dan Jody seperti kedai kopi mereka yang berusaha lahir kembali.

Kedai Filosofi Kopi kembali hadir tak hanya sekedar mengalami transisi dalam memberikan esensi, tetapi juga estetika yang memperkuat visualisasi. Gambar dan musik menjadi medium bernarasi lain dari Angga Dwimas Sasongko yang semakin memperkuat dialog-dialog antar karakter di dalam film Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody. Ada rasa khusyuk dan syahdu yang muncul yang bisa mempengaruhi penonton untuk dapat dinikmati setiap seduhannya. Sehingga penonton bisa ikut larut dan ikut merenungi bagaimana Ben dan Jody menemukan solusi yang tak saling menyakiti satu sama lain. 


Sesuai dengan sub judulnya, Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody memiliki penekanan khusus terhadap karakter utamanya. Sehingga, konflik yang muncul di dalam Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini memiliki problematika dengan lingkup domestik yang akan terasa berbeda dengan film sebelumnya. Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini tak hanya sekedar memberikan konflik yang jauh lebih personal tetapi juga menjadi ruang bagi Ben dan Jody untuk berusaha berkontemplasi atas filosofi hidup yang mereka pegang selama ini. Dengan pengarahan Angga Dwimas Sasongko yang penuh atas kesensitivitasan ini, pesan yang secara implisit muncul itu dan berhasil disampaikan. Sehingga, di dalam Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini terasa sekali berusaha memunculkan transisi Ben dan Jody seperti kedai mereka yang berusaha lahir kembali. 

BUKA’AN 8 (2017) REVIEW : Kapsul Waktu Penuh Kritik Sosial


Di setiap tahunnya, Angga Dwimas Sasongko akan selalu melahirkan sebuah film dengan kemasan yang berbeda. Kekuatan Angga Dwimas Sasongko dalam mengarahkan film-filmnya adalah ketika dia berhasil membuat karakternya sangat terkoneksi dengan penontonnya. Mulai dari Hari Untuk Amanda hingga Surat Dari Praha, Angga Dwimas Sasongko berhasil memberikan intimasi yang membuat penonton memiliki kedekatan dan simpati kepada karakter-karakter dan problematika yang ada di dalam filmnya.

Di tahun 2017 ini, Angga Dwimas Sasongko kembali menyuguhkan karya terbarunya. Proyek film besutannya kali ini bekerjasama dengan Salman Aristo sebagai penulis naskah. Film terbarunya ini dibintangi oleh Chicco Jerikho dan aktris pendatang baru, Lala Karmela. Angga Dwimas Sasongko mendedikasikan film ini sebagai bentuk kapsul waktu anak pertamanya. Kali ini, Angga Dwimas Sasong bermain dalam genre drama komedi lewat Buka’an 8.

Sebuah kapsul waktu untuk anak dari Angga Dwimas Sasongko, jelas membuat film terbarunya ini akan terasa sangat personal. Akan banyak referensi dan pengalaman pribadi dari sang sutradara yang mempengaruhi kemasan dari Buka’an 8. Meski film ini punya tujuan personal, tetapi Angga Dwimas Sasongko membuat Buka’an 8 dengan mudah dinikmati secara universal. Buka’an 8 bukan sekedar sebuah drama komedi yang dapat membuat penontonnya terhibur, tetapi juga penuh akan komedi satir yang emosional karena dibuat dengan hati yang besar.


Ada banyak isu yang berusaha disampaikan oleh Angga Dwimas Sasongko saat mengarahkan Buka’an 8. Lewat film ini, sang sutradara berusaha memberikan informasi dan pengertian tentang isu menjadi orang tua yang penuh dengan tanggung jawab. Belum lagi isu-isu sosial dan politik lainnya yang disematkan oleh setiap karakternya. Film Buka’an 8 memang akan terasa penuh akan tujuan-tujuan yang pretensius, tetapi Salman Aristo sebagai penulis naskah berhasil memberikan porsi yang baik sehingga semua isu itu terasa seimbang.

Buka’an 8 bertumpu pada cerita tentang satu titik kejadian yang terjadi pada karakternya, bukan berusaha mengenalkan siapa Alam dan Mia secara runtut dari awal hingga akhir. Berangkat akan satu premis yang sederhana dan satu titik kejadian dalam hidup mereka, Angga Dwimas Sasongko sangat berhasil membuat konflik dan setiap karakternya begitu kaya. Penonton pun dengan mudah menaruh simpati kepada Alam dan Mia dan problematikanya menantikan anak pertama. 


Problematika film ini sederhana, menceritakan bagaimana Alam (Chicco Jerikho) dan Mia (Lala Karmela) yang sedang menantikan kelahiran anak pertamanya. Tetapi, proses adminitrasi di rumah sakit tak semudah dan baik-baik saja seperti yang dikira oleh Alam. Kendala ada pada biaya administrasi Rumah Sakit yang kurang. Alam pun memutar otak untuk mencari sisa uang agar Mia dapat melahirkan dengan perawatan yang layak.

Konflik ini sudah terjadi di berbagai kalangan, tetapi yang menjadi berbeda adalah sosok Alam yang unik. Dia adalah selebtwit yang memiliki banyak followers di sosial media. Tak berhenti di sana, Alam sering melakukan perang opini di sosial terbuka yang membuat dirinya semakin mendapat masalah dengan opininya. Inilah yang membuat proses menantikan kelahiran anak pertama keluarga Alam dan Mia menjadi berbeda. 


Dengan menekankan pada konflik keluarga yang rumit ini, akan terasa terlalu berat apabila Buka’an 8 malah dikemas terlalu serius. Angga Dwimas Sasongko menyiasatinya dengan mengemas Buka’an 8 menjadi film komedi. Film ini penuh akan misi untuk memberikan kritik sosial yang ada di sekitar masyarakat. Buka’an 8membangun relevansi antara karakter fiksi dengan realita sosial yang ada. Sehingga, sang sutradara mengajak penontonnya untuk bersama-sama menertawakan problematika sosial yang sebenarnya mereka jalani.

Angga Dwimas Sasongko tahu benar atas segala konflik di dalam Buka’an 8 dan berhasil diterjemahkan lewat naskah yang disusun begitu rapi dan detil oleh Salman Aristo. Keduanya berhasil memberikan sebuah kolaborasi yang pintar. Penonton akan tahu bahwa film ini sangat personal yang didasari pengalaman pembuatnya. Bila dapat diibaratkan, Buka’an 8 adalah anak dari Angga Dwimas Sasongko yang dirawat penuh dengan kasih dan penuh tanggung jawab.

Dengan problematika dan kritikan sosial yang pretensius itu, Angga Dwimas Sasongko tak menyampaikannya dengan menggebu-gebu. Angga Dwimas Sasongko menuturkan setiap konflik ceritanya dengan begitu lembut. Sang sutradara berusaha untuk memberikan romantisasi atas konfliknya yang sudah terlalu berat ini. Dengan begitu, penonton akan dengan mudah menangkap maksud dan tujuan di dalam Buka’an 8. Film ini tak akan menjadi personal bagi pembuatnya, tetapi juga bagi siapa saja yang menontonnya.  


Buka’an 8 sebenarnya sebuah surat cinta kepada masyarakat yang menganggap bahwa menikah adalah jawaban atas segala masalah kehidupan satu individu yang bertambah berat. Buka’an 8 membuka fakta bahwa sebenarnya menikah pun akan membuat tanggung jawab akan semakin besar. Keluarga bukan tentang satu individu dengan problematikanya, tetapi tentang sekelompok individu yang memiliki masalah masing-masing. Butuh kepala dingin agar dapat mendapatkan solusi atas setiap masalah yang akan mereka hadapi.

Nilai tentang Tanggung jawab inilah yang berusaha ditekankan di dalam film Buka’an 8. Mulai dari tanggung jawab menjadi kepala keluarga, hingga bertanggung jawab dalam opini yang disampaikan. Entah opini tersebut dilayangkan secara verbal atau pun di ruang publik yang berpindah ke sosial media. Poin ini dilekatkan pada karakter Alam yang meskipun tak perlu kilas balik latar belakang ceritanya, akan terasa bagaimana tranformasi Alam dalam mengemban tanggung jawabnya.

Tak hanya kolaborasi Angga Dwimas Sasongko dan Salman Aristo saja yang bersinergi, tetapi juga performa dari Chicco Jerikho dan Lala Karmela. Mereka dapat menumbuhkan ikatan kuat yang meyakinkan penontonnya. Mereka bisa memperkuat setiap adegan demi adegan dan ketika mencapai pada adegan kunci, penonton bisa merasakan emosinya. Belum lagi Dayu Wijanto dan Sarah Sechan sebagai pemeran pembantu juga bisa mengiringi tanpa perlu mendominasi peran mereka. Semua pemainnya bersinergi dengan iringan musik yang tahu tempat. 


Maka dari itu, Buka’an 8bukan hanya karya personal dari Angga Dwimas Sasongko tetapi juga mampu membuat karyanya ini terasa personal bagi siapa saja yang menontonnya. Meskipun personal, film ini mampu memberikan kritik sosial yang bersinergi dengan baik. Buka’an 8 penuh akan misi tentang banyak hal pretensius yang bagusnya bisa berjalan seimbang dan tak menggebu-gebu. Ada penuturan yang lembut layaknya seorang ayah yang menasihati anaknya di dalam film. Dengan penulisan naskah Salman Aristo yang detil dan pengarahan Angga Dwimas Sasongko yang kuat,  Buka’an 8 adalah sebuah opini dari Angga Dwimas Sasongko tentang tanggung jawab dalam setiap aspek kehidupan. Sebuah kapsul waktu yang didedikasikan kepada para buah hati yang sangat emosional. Luar biasa!