• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label Aurelie Moeremans. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aurelie Moeremans. Tampilkan semua postingan

STORY OF KALE: WHEN SOMEONE’S IN LOVE (2020) REVIEW: Skalanya Kecil, Tapi Takarannya Pas

Siapa yang lupa sama si Kale-Kale itu?

Buat yang udah nonton film adaptasi buku Marchella FP yang digarap oleh Angga Dwimas Sasongko, pasti udah kenal sama karakter Kale. Sosok fakboi katanya, karena telah menghancurkan hati Awan yang minta lebih dari sekedar temen. Tak disangka, karakter ini ternyata mencuri banyak perhatian orang. Perilakunya kepada Awan menarik perhatian karena sosok seperti ini dianggap dekat dengan kisah-kisah cinta para penontonnya di dunia nyata.

Keputusan sikap Kale ke Awan inilah yang membuat orang penasaran dan bertanya-tanya. Apa sih yang terjadi sama Kale sebelum ketemu sama Awan? Siapa sih yang udah nyakitin hati Kale sampe berani seperti sama Awan?

“Bahagia itu milik sendiri, bukan tanggung jawab orang lain.”

Kira-kira begitulah yang dikatakan Kale kepada Awan. Sekaligus membuat penontonnya sering mengutip perkataan Kale satu ini. Banyak orang-orang yang penasaran dengan kisah Kale hasilnya menarik minat Angga Dwimas Sasongko membuat spin-off nya. Di tengah pandemi, Angga Dwimas Sasongko berusaha untuk produktif. Dengan segala keterbatasan, spin-off Kale pun dibuat. Bukan dirilis secara teatrikal, tapi dirilis untuk streaming platform miliknya sendiri yaitu Bioskop Online.

Story of Kale: When Someone’s In Love, judul yang dipakai untuk menceritakan kisah Kale. Ardhito Pramono tentu kembali didapuk menjadi Kale. Dibantu oleh Aurelie Moeremans, yang menjadi karakter love interest masa lalu Kale. Film ini ditulis oleh Irfan Ramli dan langsung ditangani oleh Angga Dwimas Sasongko. Karakter kecil dari adaptasi Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini mendapatkan kesempatan untuk bersinar. Meski skalanya juga kecil, tapi sepanjang kisahnya bisa tersampaikan dengan baik.


Tak perlu banyak menceritakan tentang kisah yang lebih dalam, Story of Kale: When Someone’s In Love langsung menghadirkan konflik antara Kale dengan Dinda. Dibuka dengan menyoroti kehidupan Dinda (Aurelie Moeremans) dengan pasangannya, Argo (Aryo Saloka). Dinda terjebak dengan hubungan yang manipulatif dengan Argo. Hingga akhirnya, Kale datang di tengah pertikaian mereka. Berusaha melerai, tetapi Kale juga kena getahnya.

Tetapi, Kale tak berhenti sampai sana. Usahanya meyakinkan Dinda untuk meninggalkan Argo dan menjalin hubungan dengannya juga berbuah manis. Kale dan Dinda menjadi satu. Hingga suatu ketika, Dinda juga berusaha untuk menghentikan hubungannya dengan Kale. Tentu, Kale yang sudah berusaha menyerahkan segalanya merasa tidak adil dengan keputusan Dinda.  Di sinilah, penonton diajak untuk menyelami apa yang terjadi antara Dinda dan Kale.


Selamat datang di kehidupan kisah asmara Dinda dan Kale.

Iya, penonton akan diajak menyelami kehidupan asmara mereka yang manis awalnya tapi pahit setelah terlalu lama. Seperti Kale dan Dinda yang sedang berusaha untuk meyakinkan satu sama lain sebelum akhirnya berpisah, Angga Dwimas Sasongko juga melakukan hal yang sama dalam menuturkan kisahnya ini. Maka dari itu, menggunakan alur maju mundur di dalam film ini terasa tepat dan tak hanya menjadi signature saja karena Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini juga melakukan yang sama.

Di tengah konflik antara keduanya yang berusaha meyakinkan agar tetap tinggal di ‘rumah’ mereka, ada selipan sedikit memori tentang hubungan mereka. Sehingga, tak hanya Dinda dan Kale saja yang berusaha untuk napak tilas dengan segala hal yang terjadi di dalam hubungan mereka dan berkontemplasi. Tetapi, penonton juga disuguhkan dengan realita tersebut. Penonton pun bisa menilai sendiri seperti apa hubungan mereka selama ini. 

Apa iya yang dilakukan oleh Kale benar? Atau ternyata Kale sendiri juga melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh Argo kepada Dinda? Hanya saja yang dilakukan Kale mungkin sedikit berbeda? Pertanyaan-pertanyaan ini yang akan terjawab sendiri dengan kisah yang dituturkan di dalam film Story of Kale: When Someone’s In Love. Film ini juga ingin mendefinisikan tentang abusive atau toxic relationship yang bisa dateng dalam berbagai bentuk dan cara.


Menarik juga, ketika melihat hasil akhir film ini. Bahwa jika disadari, ada keterbatasan dalam setting cerita-nya. Mungkin memang berputar di tempat yang sama sepanjang durasinya yang hanya mencapi 78 menit, tetapi Angga Dwimas Sasongko bisa berhasil menjaga emosinya hingga akhir. Hingga pada satu adegan penting di menuju akhir film ini. Sederhana, tapi penting dan kuat. Sekaligus mengetahui segala perasaan yang dirasakan oleh kedua karakternya.

Lalu, barulah penonton bisa memahami apa yang dilakukan oleh keduanya. Mencintai dengan risiko dapat ditinggalkan itu tidak dapat terelakkan. Hal itu adalah sebab akibat dari apa yang terjadi jika kamu sudah memilih untuk mencintai seseorang. Yang perlu kamu lakukan tentu hanya berusaha mempertahankan. Tapi, apakah yang kamu lakukan sudah benar? Bersama dengan Kale dan Dinda, penonton bisa bersama-sama berkontemplasi atas yang sudah dilakukan.

Ya, Story of Kale: When Someone’s In Love ini adalah sebuah spin-off dengan skala kecil. Tapi, emotional impact yang dihadirkan di film ini juga tak kalah besarnya. Meskipun, konfliknya lebih juga lebih personal tapi cukup menarik untuk ditonton. Angga Dwimas Sasongko berhasil menjadikannya spin-off hasil on demand ini dengan sangat baik.

KUNTILANAK (2018) REVIEW : Potensi Yang Kurang Maksimal


Film horor sedang menjadi genreyang sedang mendapatkan hype sangat besar di perfilman Indonesia. Dimulai dari Danur, Jailangkung, hingga Pengabdi Setan, ketiganya memiliki raihan penonton yang sangat fantastis. Lantas, banyak judul-judul lain yang juga kena getahnya yang setidaknya mendapatkan raihan ratusan ribu penonton. Hal ini akhirnya juga membuat rumah produksi Multivision Plus ikut meramaikan genre ini.

Multivision Plus dulunya pernah memiliki franchise horor yang menjanjikan yaitu trilogi Kuntilanak. Multivision Plus ingin membangkitkan lagi mitos tentang Kuntilanak tersebut untuk ditonton oleh penonton masa kini. Rizal Mantovani adalah juru kunci atas ketiga cerita Kuntilanak yang melibatkan Julie Estelle. Di tahun 2018 ini, Kuntilanakkembali dipanggil dengan juru kunci yang sama tetapi melibatkan artis muda Aurelie Moeremans, Fero Walandouw, dan artis-artis cilik lainnya.

Naskah yang digunakan sebagai dasar pengarahan dari Rizal Mantovani ini ditulis oleh Alim Sudio. Dengan rekam jejak Rizal Mantovani dalam mengarahkan film horor, tentu banyak orang yang meragukan performa Kuntilanak sebagai sebuah film utuh. Sebuah prediksi yang kurang menyenangkan ini sayangnya benar-benar terjadi di film Kuntilanak terbaru ini. Jika harus dibandingkan dengan versi sebelumnya, Kuntilanakini tampil kurang sempurna sebagai sebuah film horor.


Film Kuntilanak terbaru ini memang masih menggunakan mitos yang sama. Bahkan, beberapa nama dan ciri-cirinya pun seperti masih menggunakan benang merah film trilogi Kuntilanak sebelumnya. Secara tulisan, Alim Sudio sebenarnya sudah berusaha untuk memberikan penuturan cerita yang runtut di dalam naskahnya. Problematika utama dari Kuntilanak terbaru ini adalah pengarahan dari Rizal Mantovani yang terasa tak matang.

Kuntilanak sebagai sebuah film horor, tak bisa mengeluarkan taringnya secara maksimal. Film ini tak bisa memberikan sensi ngeri yang harusnya ada di dalam sebuah film horor. Hanya saja sebagai sebuah film, Kuntilanak mampu memberikan cara berceritanya yang runtut meskipun harus banting setir ke genre lain. Berbedanya di film Kuntilanak kali ini adalah bagaimana karakter dari artis-artis cilik yang membuat film ini lebih memiliki cita rasa film dengan genre petualangan.


Kuntilanak terbaru ini menceritakan tentang mitos makhluk ini yang datang dari sebuah rumah tak berpenghuni. Rumah tersebut ternyata bekas dari sebuah keluarga yang anaknya pernah menghilang karena diambil oleh Kuntilanak. Cermin tempat Kuntilanak bersarang ini sayangnya berpindah ke rumah seorang Ibu Rumah Tangga bernama Donna (Nena Rosier). Donna hidup sebagai seorang Ibu yang mengadopsi banyak anak.

Cermin tersebut dibawa oleh Glenn (Fero Walandouw), pacar dari Lydia (Aurelie Moeremans) yang tinggal bersama Donna. Ketika Donna pergi ke luar negeri, anak-anak di dalam rumah tersebut ternyata harus berurusan dengan makhluk astral tersebut. Banyak kejadian-kejadian janggal yang terjadi di rumah tersebut. Mereka diganggu oleh Kuntilanakyang berasal dari rumah tersebut. Hingga suatu ketika, anak-anak kecil tersebut berusaha untuk membuktikan mitos tersebut.


Jika memang intensinya untuk mengubah nuansa film terbarunya agar memiliki perbedaan dengan film sebelumnya, Kuntilanaksebenarnya memiliki potensi untuk menjadi berbeda. Bahkan, bisa menjadi sebuah film horor dengan pendekatan yang lebih segar. Tak dapat dipungkiri bahwa Kuntilanak memiliki referensi seperti Super 8, Stranger Things, atau IT yang memadukan genre supernatural dengan petualangan bersama anak kecil. Jangan asal skeptis, karena menyadur referensi seperti ini bukan berarti langsung menduplikasi.

Kuntilanak bisa saja menjadi sebuah sajian film horor yang segar, terlebih dengan banyaknya film horor yang diproduksi akhir-akhir ini. Sayangnya, Rizal Mantovani tak bisa memanfaatkan potensi itu agar bisa tampil maksimal. Naskah dari Alim Sudio memang masih memiliki beberapa penceritaan yang terkesan tumpang tindih. Bermain baik dalam komposisi dramanya, tetapi naskahnya belum bisa mempadu padankan kedua genre yang ada agar bisa melebur satu sama lain.


Tak sepenuhnya salah dalam penulisan naskah, tetapi Rizal Mantovani juga tak bisa menyampaikan kelemahan dalam naskah dengan pengarahannya yang kuat. Rizal Mantovani yang sudah lama terjun dalam mengarahkan sebuah film horor, Kuntilanak tak bisa menjawab kerinduan penonton untuk ditakut-takuti. Sayang, padahal bagaimana sebuah film horor bisa menakut-nakuti penontonnya adalah amunisi yang harusnya dimiliki.

Tak seperti film sebelumnya, Kuntilanakterbaru ini tak bisa mengantarkan mitos tentang makhluk astral ini dengan cara yang lebih otentik seperti film sebelumnya. Cerita tentang budaya sekte pemanggilan Kuntilanak yang tak lagi lebih detil di film ini, membuat Kuntilanakmenjadi sebuah film horor Indonesia yang generik. Pun, Kuntilanak dalam film ini memiliki tata rias yang kurang bisa menakut-nakuti penontonnya. Padahal cara ini bisa jadi salah satu ilusi bagi penontonnya untuk bisa merasa takut dengan makhluk tersebut.


Dengan berbagai film horor yang ada di Indonesia akhir-akhir ini, Kuntilanak memang masih bisa dikategorikan sebagai film yang dibuat dengan layak. Mulai dari tata suara, sinematografi, warna, dan nilai produksi yang masih bisa dinikmati. Juga, usaha film Kuntilanak terbaru ini yang ingin tampil dengan berbeda ini masih menjadi poin menarik di film ini. Sayang, segala potensinya yang bisa mambuat Kuntilanakini akan terasa segar tak bisa tersampaikan dengan baik.