• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.

WAITING FOR THE BARBARIANS (2020) REVIEW: Kisah menarik Tentang Keadilan untuk Barbarians

Sekarang udah ada banyak banget aplikasi streaming yang bisa kamu cobain. Apalagi saat gak bisa ke mana-mana seperti ini, asupan nonton film juga harus makin beragam. Setelah iseng lama mencari, ketemu lagi dengan salah satu streaming providers namanya Mola TV. Ya, tentu aja, setiap streaming providers punya library yang berbeda-beda. Tapi, Mola TV ini juga gak kalah kerennya.

Hidden gems film di library filmnya bikin tertarik!

Ini dia alasan kenapa Mola TV bisa jadi pilihan buat kamu yang suka nonton film. Beberapa filmnya unik-unik dan jarang kamu temuin di streaming providers yang lain. Satu film yang bikin tertarik adalah Waiting for The Barbarians. Dari poster terlihat menarik, karena ada Mark Rylance sebagai pemeran utamanya. Tapi, ada juga Johnny Depp dan Robert Pattinson. Sehingga, langsung ada keinginan untuk cari tahu film ini lebih dalam.

Waiting for The Barbarians adalah fitur film terbaru dari sutradara Ciro Guerra. Salah satu sutradara asal Columbia yang filmnya berjudul Embrace of the Serpants mendapatkan nominasi Best Foreign Language Film di tahun 2015. Film keduanya berjudul Birds of Passage juga mendapatkan banyak respon positif. Sehingga, cukup menarik ketika Ciro Guerra memutuskan untuk membuat project film satu ini.

Film ini diangkat dari novel yang cukup legendaris dari J.M. Coetzee dengan judul yang sama dan mendapatkan penghargaan. Menarik melihat gimana Ciro Guerra mengarahkan film berbahasa inggris pertamanya dan mengadaptasi langsung novel yang mendapatkan penghargaan.

Menceritakan tentang seorang Magistrate (Mark Rylance) yang berada di sebuah daerah yang terisolasi. Di tengah dirinya yang akan pensiun, datanglah sosok Kolonel Joll (Johnny Depp) yang otoriter. Dia suka sekali menyiksa para Barbarians saat menginterogasi. Sang Magistrate yang tak sanggup hatinya ini berusaha untuk melakukan pembelaan dan pemberontakan.

Hingga ketika sang Kolonel Joll pergi dari daerah tersebut, sang Magistrate memikirkan rencana agar Barbarians mendapatkan keadilan. Bahkan, membebaskan para tawanan yang diinterogasi oleh Kolonel Joll. Hingga suatu ketika, Magistrate menemukan seseorang bekas tawanan yang mengalami patah tulang kaki keduanya akibat disiksa. Magistrate merasa terikat dengannya dan berusaha mengembalikan dirinya ke keluarga asalnya.

Kisah menarik tentang otoritas, pemberontakan, dan perjuangan demi keadilan.

Menarik mengikuti Waiting for The Barbarians ini di durasinya yang mencapai 110 menit. Memperlihatkan kisah sang Magistrate yang berusaha keras mengembalikan keadaan yang sangat otoritas dari Kolonel Joll. Mark Rylance mampu memberikan performa yang menarik sebagai karakter utama di dalam film ini. Sehingga, kegundahan dan keresahan karakter utamanya ini bisa tersampaikan ke penontonnya.

Film ini memperlihatkan betul bagaimana masih ada banyak orang yang menyalahkan kuasa di era sebelumnya. Bahkan, kisah-kisah ini tentu masih saja relevan bagi segelintir orang yang tak bertanggung jawab seperti karakter Kolonel Joll. Kekuasaan menjadi hal yang paling utama tanpa memikirkan rasa kemanusiaan terhadap sesama.

Juga, tentang bagaimana seseorang berusaha keras untuk membuat semua orang merasakan kesempatan hidup yang sama bebasnya dengan yang lain. Magistrate yang berusaha menegakkan keadilan ini pun malah mempunyai banyak jalan terjal. Banyak sekali hal-hal yang harus dia korbankan dan juga penuh perjuangan.

Kisahnya bergulir perlahan dan pelan dengan konflik cerita penuh akan intrik. Bagi yang suka film dengan penuturan drama seperti ini, pasti akan tertarik untuk menontonnya sampai habis. Tapi, sebuah catatan kecil untuk film ini adalah bagaimana beberapa karakternya masih belum digali lebih dalam. Padahal, jika ada sedikit saja latar belakang cerita di satu karakter utama yang penting ini, film ini mungkin akan lebih bagus dan emosional lagi.

Tapi, tata set dan sinematografi di film ini juga berhasil membuat penonton merasakan bahwa Waiting for The Barbarians dibuat tidak main-main. Ada kemegahan yang bisa terpancar dibantu dengan beberapa sinematografi yang indah untuk menangkap set-set itu.

Ada banyak intrik yang hadir di Waiting for The Barbarians yang perlu untuk disimak. Kisahnya relevan, penting, dan menarik untuk diikuti sampai habis. Mengetahui Johnny Depp, Robert Pattinson, dan Mark Rylance berada di satu film dan saling adu akting menjadi kekuatan utama dari filmnya. Tanpa mereka, film ini mungkin tak sekuat sekarang. Bahkan, bisa jadi menjadi salah satu daya Tarik buat penonton untuk nonton film ini.

Buat yang penasaran sama filmnya, Waiting For The Barbarians hanya tayang secara eksklusif di Mola TV. Cara nontonnya tinggal langganan aja sebulan dan kamu bisa akses berbagai macem film yang keren-keren. Murah pula, cuma Rp12.500 per bulannya! Atau kamu bisa langsung bisa tonton di sini.

SCOOB (2020) REVIEW: Babak Pertama sebuah Universe yang Belum Berkesan

Buat anak kecil di tahun 90an, nonton Scooby Doo di stasiun televisi lokal saat sore hari emang masa-masa yang indah. Film animasi dari Hanna Barbera ini tentu melekat di hati. Tak salah, apabila di era yang baru ini, karakter-karakter ikonik berusaha dikenalkan kembali. Sebelumnya pun, geng Mystery Inc. sudah punya kesempatan untuk tampil lewat versi live action dan memiliki 2 seri.

Pendekatan Scooby Doo kali ini menggunakan genre animasi. Salah satu cara yang tepat sebenarnya karena masih in line serial ini dirilis. Scoob, proyek terbaru dari Warner Bros Animation ini digadang sebagai pembuka utama di Hanna Barbera Animation Universe. Ditangani juga dengan orang-orang yang sudah pernah berkecimpung di project Hanna Barbera yaitu Tony Cervone. Dibantu oleh Kelly Fermon Craig di lini penulisan naskah.


Scoob tentu dengan mudah merebut hati orang-orang yang tumbuh dan besar dengan Scooby Doo saat kecil. Pecinta film animasi pun juga menunggu Scoob dengan animasinya yang menggemaskan dari trailernya. Sayangnya, hal-hal menarik itu hanya bisa terpancar dari trailer saja. Secara keseluruhan, Scoob ternyata penuh banyak ambisi dan tak bisa menjadi sajian yang solid.


Ambisi membuka universe yang tak sepenuhnya berhasil.

Mungkin kata itu lebih tepat untuk menggambarkan film Scoob secara keseluruhan. Scoob hanya tempat bagi Warner Bros Animation Pictures menaruh banyak pion untuk membuka universe baru. Tujuan itu sebenarnya tidak menjadi problem jika filmnya sendiri bisa diarahkan dengan baik. Sayangnya, Tony Cervone ini malah menjadikan Scoob menjadi film animasi yang generik.

Mungkin niat Kelly Fermon Craig ingin membuat Scoob tak terpaku dengan formula dari serial animasinya. Sayangnya, itulah yang malah membuat Scoob seakan kehilangan identitas. Tidak ada petualangan menarik dari tim Mystery Inc. yang bisa diikuti. Tanpa karakter-karakter dari serial animasi Scooby Doo, plot ceritanya bisa ditemukan di film-film animasi yang lain. Padahal, Scoob dimulai dengan cerita persahabatan Shaggy (Will Forte) dan Scooby Doo (Frank Welker) yang cukup menjanjikan.

Setelah itu, cerita bergulir seakan-akan penonton sudah mengetahui problem-problem yang pernah dilalui oleh para karakter Mystery Inc. Di mana, Fred (Zac Efron), Daphne (Amanda Seyfried), dan Velma (Gina Rodriguez) sudah merencanakan untuk melakukan misi terbaru dengan rekan lama mereka Simon Cowell (Simon Cowell). Seakan-akan penonton sudah tahu kerjasama apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya.

Ada missing line yang membuat penonton terasa berjarak dengan para karakter dan plot ceritanya. Inilah yang membuat Scoob tidak spesial dan terasa menjadi sebuah sekuel dari film-film Scooby Doo yang gak pernah ada. Cerita kedatangan Blue Falcon (Mark Wahlberg) juga terasa tiba-tiba. Seketika itu, Shaggy dan Scooby ditarik untuk bergabung dalam misi Blue Falcon membasmi kejahatan. Mereka harus mencari cara untuk menghentikan misi musuhnya, Dick Dastardly (Jason Isaacs) yang ingin menculik Scooby menjadi umpan datangnya Dogpocalypse.

Ajang nostalgia yang menjadi bumerang.

Karakter-karakter seperti Dick Dastardly, Dynomutt, Blue Falcon, Captain Caveman yang dimasukkan ke dalam film ini terasa hanya sebagai pelengkap. Sebagai hint atau teaser untuk universe baru memang, hanya saja keberadaannya hanya menambah kontribusi atas tumpang tindihnya cerita. Scoob yang sudah kehilangan identitas ceritanya, ditambah ceritanya yang menumpuk menjadikan 95 menit film ini sangat melelahkan untuk diikuti.

Fans-fans karakter fiksi Hanna Barbera tentu akan notice dengan keberadaan mereka dan cukup membuat mereka bahagia. Tetapi, tentu keberadaan mereka hanya sebagai cameo yang datang dan pergi. Tidak memberikan kesan dan signifikansi untuk keberlangsungan plotnya. Bahkan, dengan nama-nama besar di dalamnya, Scoob juga belum bersinar terang.

Karakter-karakter dari tim Mystery Inc. tidak bisa hidup. Bahkan, Shaggy dan Scooby di film ini pun tak terasa memiliki ikatan satu sama lain. Dampaknya, film ini berjalan begitu saja tanpa memberikan satu tanjakan emosi yang bisa menarik perhatian penonton. Potensi-potensi yang dimiliki oleh Scoob seakan sirna karena pengarahan Tony Cervone yang masih lemah.


Sehingga, setelah filmnya selesai, Scoob hanya menjadi hiburan di kala senggang yang tak meninggalkan kesan. Bisa saja, ini akan berdampak kepada Hanna Barbera Cinematic Universe selanjutnya. Tidak ada hype yang dibangun dari film Scoob dan membuat linimasa film selanjutnya belum disambut meriah. Mungkin hanya sebagian pasarnya saja yang bergairah untuk menantikan babak selanjutnya. Ditunggu saja.

Available on HBO Max and Rent on iTunes.

HAMILTON (2020) REVIEW: Pertunjukkan Broadway yang Fenomenal dan Magis




Menjadi salah satu pertunjukkan broadway yang fenomenal, tak salah jika Hamilton mendapatkan kesempatan untuk dikenalkan ke penonton yang tak punya akses ke sana. Maka dari itu, Lin Imanuel-Miranda menjanjikan kepada penonton film untuk menyaksikan original recording dengan original casts. Pada awalnya, pengalaman ini bakal bisa dinikmati di layar perak. Tapi, gara-gara pandemi, Hamilton pun dirilis langsung ke streaming services milik Disney yaitu Disney+

Apakah ini keputusan yang tepat? Bisa jadi!

Karena film-film dengan experience unik seperti ini pun mungkin akan menjadi hit di negara asalnya. Tapi, tak akan bisa memiliki performa bagus secara Box Office dari worldwide release. Apalagi, penonton Indonesia yang masih saja sanksi dengan film-film musikal yang katanya "ah, kok nyanyi mulu sih?"

Padahal, Hamilton menyajikan sebuah pengalaman menonton pertunjukkan broadway yang sangat magis. Rendisi lagu-lagu moderen yang dilakukan di film ini tak mengurangi kesakralan dari pertunjukkan teatrikalnya ini. 160 menit milik Hamilton adalah sebuah pengalaman baru yang menyenangkan dan mengagumkan. Bisa jadi mereka juga merasakan pengalaman baru terutama untuk penonton yang tak pernah pergi ke broadway dan menonton pertunjukkan di sana.


Hamilton sendiri ternyata diangkat kisah nyata tentang seorang imigran yang menjadi orang penting di Amerika. Alexander Hamilton (Lin-Imanuel Miranda) berjalan sendiri menyusuri kota New York untuk mengadu nasibnya. Hamilton bertemu dengan orang-orang asing yang ternyata bisa mendukung segala perjalanan hidupnya. Bahkan, mereka percaya bahwa Hamilton bisa menjadi orang besar nantinya.

Segala perjuangan Hamilton saat Amerika sedang melakukan gerakan revolusi membuat dirinya menjadi seorang yang dikagumi banyak orang. Tapi, perjuangan Hamilton tak berhenti sampai sana. Masih ada banyak terjal dari kisah hidupnya. Mulai dari asmara dengan kakak-adik Schuyler, Angelica (Renee Elise Goldsberry) dan Eliza (Phillipa Soo). Sampai kisah perjuangannya menjadi seorang personal asisten dari George Washington (Christopher Jackson).



Bercerita lewat lirik dengan musik rendisi moderen yang tak kehilangan esensinya.

Namanya juga sebuah pertunjukkan musikal Broadway, jelas Hamilton menceritakan segala plot cerita lewat musik-musiknya. Lirik tiap lirik adalah barisan dialog dan plot cerita yang disambung hingga akhir. Bagi yang tak pernah merasakan pengalaman seperti ini, akan sangat susah mengikuti cerita yang dihadirkan oleh Hamilton. Tapi, ini pun hanya menghadirkan rekaman ulang pertunjukkannya. Jadi, bukan dikontruksi ulang untuk menjadi sebuah adegan-adegan seperti dalam sebuah film layaknya Les Miserables.

Tapi, bukan berarti Hamilton tak bisa memberikan cinematic experience di sepanjang pertunjukkannya. Sang pengarah pertunjukkan, Thomas Kail yang juga didapuk sebagai sutradara untuk Original Broadway Production ini bisa menunjukkan segala magis pertunjukkan fenomenal ini tanpa kehilangan esensinya. Meski hanya merekam ulang, tapi Thomas Kail bisa menegaskan bagian-bagian penting di dalam film ini hingga emosinya pun tetap terasa.

Ada banyak pengadeganan di dalam pertunjukkannya yang diatur dengan sangat pintar. Keterbatasan sebuah pertunjukkan untuk memvisualisasikan adegan membuat Thomas Kail berusaha untuk memperkaya setiap ceritanya dengan efektif. Seperti yang dia lakukan di adegan "Satistfied" yang melakukan adegan flashback hingga akhirnya kembali maju ke waktu semula. 

Memvisualisasikan adegan rewind dengan tarian yang megah. Ini adalah sebuah adegan flashback untuk memperkaya emosi Angelica yang saat itu rela berkorban untuk adiknya, Eliza yang ingin menikahi Hamilton. Di dalam rekaman ulangnya pun, ada beberapa editing dan permainan kamera yang ditekankan. Sehingga, penonton pun menyadari bahwa ini adalah adegan masa lalu untuk memberikan narasi lain di tengah narasi milik Hamilton di sepanjang pertunjukkan.


Lagu-lagu hip-hop di pertunjukkan Hamilton ini adalah kunci utamanya. Menjadikan kisah usang ini menjadi lebih bisa diterima di tengah tren moderen. Sekaligus, menjadikan kunci bahwa dengan rendisi lagu yang mengikuti zaman sekarang, tema-tema seperti ini tetap saja penting untuk diangkat. Memberikan pengertian kepada penonton pertunjukkan ini bahwa seorang imigran saja bisa mengabdi ke negara tempat dia tinggal. Agar tidak ada lagi praktik rasisme yang terjadi di negara tersebut.

Performa musikal di Hamilton juga tak akan lengkap tanpa kehadiran aktor dan aktris yang mendukung. Lin-Imanuel Miranda, Renee Elise Goldsberry, dan Phillipa Soo menghadirkan performa yang luar biasa. Memberikan banyak emosi di setiap lirik di dalam musiknya baik upbeat atau pun tidak. Sehingga, penonton bisa merasakan emotional turmoil yang signifikan.


Sebagai peran pendukung pun, ada Jonathan Groff yang meski muncul dengan screen time yang sedikit tapi bisa sangat memorable. Perannya sebagai King George dengan performa "You'll Be Back" bisa sangat powerful. Menekankan bahwa dirinya adalah seorang diktator yang licik, rakus, tapi permainannya sangat mulus. Gimmick kecil dalam ekspresi dan gerak tubuh dari Jonathan Groff bisa mewakili hal itu dengan sangat baik.

Jadi, buat kamu yang belum pernah merasakan pertunjukkan Broadway, bisa langsung subscribe Disney+ dan menonton Hamilton. Ini adalah sebuah pengalaman yang berbeda, baru, tetapi sangat menyenangkan dan magis. Semua lagu-lagunya yang catchy, tata panggung megah dan berkelas membuat Hamilton memang sepadan dengan hype-nya yang besar. Sekali tonton, pasti langsung jatuh cinta!


Onward (2020) REVIEW: Another Pixar Works That Still Hit You Home

Setahun ada 2 film Pixar yang dirilis? Wah, pertanda nih.

Seakan-akan hal itu adalah sebuah hal buruk yang akan terjadi dengan kualitas filmnya. Ini bukan tidak dengan fakta atas ketidakpercayaan diri Pixar dengan film rilisannya. Hal ini pernah terjadi di tahun 2015 dan 2017, di mana The Good Dinosaur dan Inside Out harus dirilis di tahun yang sama. Begitu pula dengan Cars 3 dengan Coco.

Tidak. Film-filmnya tidak sampai jatuh ke palung terdalam layaknya Cars 2 di deretan rekam jejak Pixar. Tetapi, memang salah satu filmnya tidak bisa tampil dengan prima. Tentu, hal ini membuat fans Pixar atau penikmat film harus waspada di tahun 2020. Karena akan ada 2 film Pixar yang rilis di tahun yang sama meski berbeda bulan yaitu Onward dan Soul. Sesuai dengan judul reviewnya, mari kita tilik lebih dalam tentang Onward yang disutradarai oleh Dan Scanlon.

Ini adalah kali keduanya mengarahkan film dari Pixar setelah debutnya di prekuel Monsters Inc. yaitu Monsters University. Dirinya juga menuliskan kisahnya dibantu oleh Jason Headley dan Keith Bunin. Menarik adalah film ini dibintangi oleh beberapa nama besar untuk mengisi suaranya. Tom Holland, Chris Pratt, Julia Louis Dreyfous hingga Octavia Spencer. Setting film ini pun di sebuah dunia yang penuh keajaiban. Tentu saja, banyak orang berharap film ini sama ajaibnya dengan film-film Pixar yang lain.



Kisahnya terpusat oleh sosok keluarga Lightfoot yang terdiri dari sang Ibu dan 2 anaknya. Terlihat tidak lengkap memang, apalagi Ian (Tom Holland) terlihat sangat ingin sekali bertemu dengan sang ayah karena tak memiliki kesempatan untuk sering berinteraksi dengan sang Ayah. Tepat di hari ulang tahun Ian, Laurel (Julia Dreyfous- Louis) sebagai Ibu menyampaikan sebuah pesan bahwa ada barang yang ditinggalkan oleh sang ayah. Hadiah ini harus diberikan setelah Ian dan kakaknya, Barley (Chris Pratt) sudah berusia lebih dari 16 tahun.

Mengetahui hal ini, tentu Ian dan Barley sangat terlihat senang. Ternyata, barang itu adalah sebuah tongkat dengan mantra kunjungan. Dengan begitu, Ian dan Barley bisa bertemu dengan sang Ayah selama sehari sebelum matahari terbenam. Tetapi, usahanya untuk mengucapkan mantra ternyata tak sepenuhnya berhasil. Pheonix gems untuk membangkitkan sang Ayah ternyata telah habis terkuras tenaganya. Menyisakan sang Ayah yang hanya berbentuk sepasang kaki saja. Hal ini membuat Barley dan Ian harus melakukan perjalanan menemukan gems tersebut.


Memang bukan pixar yang terbaik, tetapi tetap merebut hati penontonnya.

Ketakutan para fans Pixar dengan kutukan 2 film rilis di tahun yang sama nyatanya harus dipatahkan. Onward yang digadang tak memiliki sebuah performa gemilang, ternyata masih berhasil membius penontonnya dengan segala magisnya. Onward menjadi sajian film animasi penuh petualangan yang menyenangkan. Tetapi, tetap memperhatikan unsur hati yang besar seperti film-film Pixar pada umumnya.

Kesederhanaan dalam ceritanya memang tak menjadi hal baru bagi film-film Pixar. Apalagi yang sudah terbiasa dengan tonton Pixar yang lebih rumit atau kompleks dibanding yang satu ini. Onward menjadi sajian yang sangat ringan. Meski pesan yang diangkat di dalam filmnya cukup kompleks dan memiliki hati yang sangat besar. Tentu, ini seakan menjadi kekuatan bagi Onward dan mampu bersanding dengan karya-karya Pixar lainnya.

Dan Scanlon berhasil mengemas kisahnya yang mengharu biru ini menjadi sajian yang tetap menyenangkan bagi penontonnya. Dengan 104 menitnya dan premisnya yang mengharu biru, film ini punya banyak humor yang berhasil memecahkan tawa. Perjalanannya yang Barley dan Ian yang penuh misteri ini berhasil memikat penontonnya. Tetapi, hati yang diselipkan di film ini tak hanya sekedar berada di penghujung saja.



Ada banyak sekali momen-momen di dalam film ini yang membuat penontonnya menitikkan air mata. Apalagi untuk kamu yang lemah dengan film-film penuh pesan tenatng keluarga. Ya, Onward akan dengan mudah merebut hati penontonnya. Seakan menjadi sebuah surat cinta untuk mengingatkan kita semua bahwa keluarga utama bukan hanya orang tua, tetapi masih ada anggota lainnya.

The one with big smile is the one who hid the pain.

Hal inilah yang ingin disampaikan oleh film Onward di dalam filmnya. Siapa tak merasa kehilangan jika sang Ayah harus pergi terlebih dahulu meninggalkan dunia. Semua akan merasa kehilangan, tak terkecuali orang yang sedang terlihat tertawa bahagia. Iya, cara seseorang untuk merespon dan menghadapi kematian bisa sangat berbeda-beda. Bisa jadi, mereka lah yang memendam perasaan mereka agar tetap terasa normal dalam hidupnya.



Yes, seperti judulnya sendiri, Onward mengajarkan kita untuk selalu maju meneruskan hidup. Apapun yang terjadi, setidaknya tetaplah bahagia dan bersyukur dengan orang yang selalu ada di sekitarmu. Maka dari itu, Onward hadir untuk mengingatkan kamu agar pulang dan memeluk orang yang tersayang. Buktikan kepada mereka bahwa kamu akan selalu ada dan menerima mereka dalam kondisi apapun.

Peluk mereka setelah nonton film ini atau ajak mereka untuk menonton filmnya. Setidaknya, mereka akan terhibur oleh tingkah laku para karakternya dan perjalananannya yang luar biasa indah. Ya, kalo soal visual, Pixar gak perlu ditanya lah. Punya daya magisnya sendiri dan termasuk film ini.

The Invisible Man (2020) Review: Thriller dengan Isu Domestik yang Menegangkan


Mendengar judul ini, seharusnya film ini akan dibuat menjadi film follow-up dari The Mummy yang menjadi bagian dari Dark Cinematic Universe. Sayang, di pertengahan jalan, proyek itu harus berhenti karena performa The Mummy yang tak baik di box office domestik. Iya, secara penghasilan worldwide, The Mummy masih cukup baik. Meski, penonton juga mengeluhkan betapa bosannya film yang diarahkan oleh Alex Kurtzman.


Maka dari itu, The Invisible Man ini berubah arah. Dari menggunakan Johnny Depp sebagai bintang utamanya menjadi Elisabeth Moss. Tapi, tetap saja film ini adalah adaptasi dari novel karya H.G. Wells. The Invisible Man disutradarai oleh Leigh Whannel yang sempat terangkat namanya saat menyutradarai Insidious: Chapter 3 dan Upgrade. Tentu saja dengan semua rekam jejaknya, The Invisible Man akan menitikberatkan filmnya sebagai sebuah film horor.

Ini jelas berbeda jauh dengan tujuan utama The Invisible Man di awal-awal yang akan menunjukkan classic monsters sesuai dengan film sebelumnya. Tetapi, bukan berarti berbeda dengan tujuan awal akan membuat film ini tak memiliki performa prima, kan?


Maka dari itu, sambutlah sebuah cerita yang dibuka dengan sebuah adegan yang sangat menegangkan. 10 menit pertama film ini, penonton sudah dihajar dengan banyaknya ketidakpastian yang membuat penontonnya bertanya-tanya tetapi bisa masuk merasakan intensitasnya. Cecilia (Elisabeth Moss) sedang berusaha kabur dari rumah sang suami. Dia ternyata sudah merencanakannya sejak jauh-jauh hari.

Iya, dia sedang tak nyaman dengan kelakuan sang Suami, Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen) hingga membuatnya tak tahan lagi. Tetapi, hal ini tak lantas membuat Cecilia bisa kembali menjalani hidupnya normal lagi. Dia tetap dihantui oleh sikap Adrian yang membuatnya merasa tak aman. Tetapi, hal mengejutkan terjadi. Adrian ternyata ditemukan meninggal bunuh diri. Cecilia mendapatkan warisan dari Adrian tetapi ternyata teror baru bagi dirinya baru dimulai hari ini


Tak hanya Cecilia yang merasakan teror dari Adrian. Tetapi, penonton juga ikut merasakan teror Adrian. 

Artinya, Leigh Whannel sebagai sutradara berhasil mengarahkan The Invisible Man dengan baik. Buktinya, segala intensitas yang ada di dalam film ini bisa dirasakan oleh penontonnya. Leigh Whannel tahu benar memanfaatkan konsep creature-nya. Sehingga, teror demi teror datang di setiap menitnya. The Invisible Man ini memang memberikan sebuah perubahan dalam adaptasinya.

Ada penambahan unsur fiksi ilmiah di dalam film ini ditambah dengan misteri yang berusaha disebar di sepanjang film. Sehingga, penonton pun penasaran seperti apa The Invisible Man ini akan diselesaikan. Penulisan naskahnya pun sangat pintar. Ada set-up cerita yang dibuat dengan pondasi yang sangat kuat untuk membangun tensi dan misterinya. Sehingga, film ini bukan sekedar merapatkan tensi seperti yang dilakukan oleh film-film serupa. Apabila penulisannya tak diperhatikan, maka film ini bisa jatuh ke sajian yang itu-itu saja.

Meski The Invisible Man merentang hingga 124 menit, tetapi dijamin tak akan timbul perasaan bosan. Sebuah atmosfir horor dibangun begitu kuat oleh Leigh Whannel. Sebuah adegan yang memperlihatkan kekosongan saja bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman dan jantung berdebar bagi penontonnya. Seru memang, sepanjang film merasakan sebuah teror dari makhluk yang wujudnya pun tak terlihat.

Tak hanya pengarahannya yang brilian, tetapi juga akting Elisabeth Moss yang sangat meyakinkan. Dirinya berhasil menangkap kegelisahan dari penonton yang terteror dengan makhluk yang tak kasat mata di layar. Tanpa performanya yang kuat, tentu film ini juga tak akan bisa tampil gemilang. Bahkan, berkat penampilannya pun, berhasil menggali lebih dalam sebuah pesan yang sebenarnya secara implisit menampar penontonnya.

The Invisible Man ingin sekali menyampaikan banyak pesan tentang sebuah sistem sosial dan gender di dalam filmnya. Menyelipkannya dalam kisah-kisah yang seru dan mise en scene yang mendukung membuat pesan di dalam The Invisible Man ini tersampaikan dengan cara yang lebih subtil.

Ini adalah sebuah gambaran tentang perempuan dan problematikan hidup di dunia

Perempuan selalu menjadi korban atas kedigdayaan seorang laki-laki. Bahkan, dunia pun sering mendapatkan sebuatan “man’s world”. Sebegitu jahatnya dunia yang ternyata sangat berpihak kepada laki-laki ini. Film ini berusaha memperlihatkan bagaimana perempuan berjuang untuk mendapatkan haknya memilih jalan hidupnya sendiri saja susahnya setengah mati.

Adrian, ditemukan bunuh diri tetapi digambarkan masih saja meneror sang istri. Iya, dalam wujudnya yang tak kasat mata saja, perempuan masih saja merasa tak aman dari serangan teror laki-laki. Perempuan dikontrol, tak bebas, tak punya banyak pilihan, dan menjadi pusat perhatian. Seakan-akan semua orang ingin mengatur perempuan agar kembali ke “kodratnya”. 

Hal ini muncul jelas dalam mise-en-scene yang membekas di ingatan. Adegan di saat Cecilia menghadap ke sebuah cermin dan sedang ingin mencoba pakaian barunya. Pergerakan kamera seakan-akan menjadi “mata” Adrian sebagai laki-laki yang menyorot Cecilia sebagai perempuan. Tentu, Cecilia merasa tak nyaman dan penuh akan intimidasi padahal yang memperhatikan dari belakang pun tak kasat mata.


Budaya di dunia ini acap kali membuat perempuan sebagai objektifikasi. Diperhatikan oleh banyak norma yang mempengaruhi bagaimana perempuan mengambil langkah selanjutnya. Tetapi, norma-norma itu terkonstruksi atas budaya patriarki yang memperlihatkan kekuatan laki-laki di dunia ini meski dalam wujud yang tak kasat mata sekalipun seperti Adrian di film ini.

The Invisible Man tak hanya sekedar menjadi sebuah film horor dengan unsur fiksi ilmiah yang menegangkan untuk disaksikan. Tetapi, juga menjadi tempat untuk menggambarkan realita tentang bagaimana masih banyaknya ketimpangan perempuan dan laki-laki di dunia ini. Kalau saja tak bisa menangkap pesan subtil di dalam filmnya, setidaknya kalian masih bisa merasakan tensinya yang mungkin bisa lebih padat tetapi masih bekerja sangat efektif untuk mencengkram penontonnya. Bagus!

BIRDS OF PREY AND THE FANTABULOUS OF THE ONE HARLEY QUINN (2020) REVIEW: Mengacak Narasi tapi Bingung Sendiri

Anti-hero.

Akan lebih cocok disebut untuk film ini dibandingkan sebagai sebuah film tentang superhero. Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini.

Dia adalah Harley Quinn.

Karakter ini pun pada awalnya diangkat dari origin story dengan sudut pandang seorang penjahat. Tetapi, Harley Quinn diangkat untuk mendapatkan sebuah simpati untuk dan dihadirkan untuk penontonnya. Karakter ini pun sempat naik daun berkat penampilan dari Margot Robbie di film Suicide Squad. Dan tentu saja, Warner Bros dan Geoff Johns mempertahankan aktris ini untuk memerankan karakter yang sama untuk film-film DC lainnya.

Melepaskan diri dari Suicide Squad yang mendapatkan banyak sekali kritikan pedas, Harley Quinn pun mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan tim lain. Kali ini, semua timnya beranggotakan para perempuan –yang menurut sang karakter utamanya –yang membutuhkan emansipasi. Iya, sudah tidak ada lagi DC Extended Universe. Warner Bros pun katanya ingin fokus membuat film-film solid untuk adaptasi komik dari DC.


Dan kali ini pun, Cathy Yan didapuk menjadi sang sutradara dan membuat filmnya terpisah dari beberapa linimasa. Masih membahas sedikit tentang Suicide Squad milik David Ayer, tapi tak menjadi momok utama darinya. Selain Margot Robbie sebagai Harley Quinn, film ini juga dibintangi oleh beberapa aktor perempuan. Dari Mary Elizabeth Winstead, Rosie Perez, Jurnee Smollett-Bell, dan Ella Jay Basco. Tenang, masih ada Ewan McGregor dan Chris Messina juga kok.

Birds of Prey and The Fantabulous of Emancipation One Harley Quinn (iya, panjang banget aku tahu) adalah judul untuk film dari adaptasi komik DC kali ini. Filmnya pun diadaptasi dari karakter milik komik Birds of Prey dan berusaha memberikan judul yang intriguing biar cocok dengan karakter Harley Quinn yang agak quirky. Tapi, ujung-ujungnya pun Warner Bros tetap saja mengganti judulnya menjadi Harley Quinn: Birds of Prey agar gampang dicari orang dan (diharapkan) mendatangkan banyak uang.

Lantas, mari kita setujui untuk memanggil film ini sebagai Birds of Prey di sepanjang tulisan. Ya, biar gampang aja.


Patah hati menjadi awal mula film Birds of Prey ini. Iya, Harley Quinn (Margot Robbie) sedang patah hati karena ditinggalkan oleh Joker begitu saja tanpa ada penjelasan. Tentu saja, Harley Quinn tak membuat patah hatinya larut lebih dalam. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk memberitahu seisi Gotham bahwa dirinya tak lagi bersama sang kekasih. Mengetahui ini, tentu seisi Gotham mengincar Harley Quinn.

Bukan, bukan untuk menjadikannya pasangan. Tetapi, banyak sekali musuh-musuh berkeliaran untuk memburunya. Ya, bisa dibilang dulu Harley Quinn selalu dilindungi oleh kekasihnya. Tetapi, Harley Quinn tetap sosok yang tangguh untuk dikejar. Salah satu orang yang ternyata harus berurusan dengannya adalah Roman (Ewan McGregor) atau Black Mask. Tentu saja, Harley Quinn berusaha untuk melepaskan dirinya dari kejaran sang musuh.

Ketika baca sinopsis ini pun pasti akan bertanya-tanya, ini kisah tentang Birds of Prey atau Harley Quinn ya?


Film Birds of Prey ini memang memiliki Harley Quinn sebagai salah satu karakternya. Bahkan, dirinya lah yang menguasai narasi utama. Sejak menit awal film pun, cerita di film ini dibawakan oleh Harley Quinn. Dibawakan dengan unik, meskipun tidak baru, tetapi Birds of Prey sebenarnya punya usaha untuk mengatur sendiri narasinya sehingga terlihat segar. Narasi non-linearnya bisa menjadi sesuatu yang ditawarkan kepada penonton dan ada intensi dari sang sutradara membuat filmnya terkesan stylish.

Sayangnya......

Seperti judulnya yang membuat orang berusaha keras untuk dipahami, begitu pula dengan narasi filmnya. Plot ceritanya harusnya pun sederhana, tetapi Cathy Yan mengambil langkah yang beresiko untuk menuturkannya. Hasilnya, Birds of Prey malah berputar-putar sendiri saat menuturkan setiap konfliknya. Ada beberapa kendala dalam menuturkan narasi dari film ini.

Pertama, banyaknya ambisi dalam pengarahan milik Cathy Yan di dalam filmnya. Ingin terlihat berbeda dalam menuturkan cerita hingga bagaimana sang sutradara ingin menyampaikan pesan tentang woman power.  enuturannya yang menggebu-gebu itulah yang terkadang malah membuat pesan dan tujuan dari Cathy Yan belum bisa mencapai ekspektasi yang diinginkan. Relevansi cerita dengan judulnya, pun terkadang juga menjadi kendala.

Kedua, film Birds of Prey memiliki banyak sekali karakter di dalamnya. Cathy Yan memiliki kendala untuk mengenalkan setiap karakternya dan urgensi setiap karakternya untuk muncul di layar kecuali karena semua karakternya ada di dalam komiknya. Inilah yang membuat filmnya akan terasa tumpang tindih. 109 menit mengikuti setiap karakternya akan terasa melelahkan. Cathy Yan sebagai sutradaranya harusnya bisa memutuskan apa yang menjadi fokus utama dalam filmnya. Tak perlu berambisi untuk memberikan arc masing-masing karakter di dalam filmnya. Tetapi, bagaimana caranya agar penonton bisa memberikan simpati kepada setiap karakternya.

Ketiga, action spectacle yang ada di dalam filmnya. Masih ada banyak yang perlu dibenahi. Action sequences di film ini berasa seperti sebuah tarian yang perlu dihafalkan gerakannya. Terlihat stylish karena berkat tata artistik yang mampu bermain dengan warna. Ya, ini adalah bagian paling lemah dari Birds of Prey. Padahal, dalam reshoots-nya, adegan-adegan ini sudah disupervisi oleh Chad Stahelski yang biasa terlibat dalam John Wick universe.

DC mungkin memang harus tak lagi mengulik kesalahan-kesalahan lama dari film-film sebelumnya. Buang saja jauh-jauh dan restart semua dari awal. Sekalinya akan ada pembahasan dari film sebelumnya, linimasanya pun berantakan belum lagi legacy-nya ternyata bisa berdampak cukup signifikan dalam filmnya. Birds of Prey ini salah satunya. Mari kita lihat saja, The Suicide Squad yang sekali lagi menggunakan adanya karakter Harley Quinn nanti akan berada di linimasa yang mana. Berharap saja lebih baik nantinya.

#OnTerusss Streaming Film pake Tri Biar Gak Ketinggalan


“Internet cepat buat apa?” 

Sebuah pertanyaan klasik yang kadang masih aja jadi perdebatan sampai sekarang. Padahal, internet cepat itu kegunaannya banyak banget. Mulai dari kerja bahkan bayar pas belanja di mall pun butuh internet. Apalagi buat gue yang udah butuh banget internet cepet buat streaming film di beberapa streaming providers yang biasa gue subscribe.

Kalau udah kebutuhannya itu buat streaming film kayak gue, pasti butuh banget internet yang kenceng. Gak seru juga dong pas lagi seru sampe tengah film dan lagi klimaks eh malah masih nungguin buffering. Mood nonton film juga bakal hilang gitu aja.

Buat kamu pengguna 3 Indonesia, ada solusinya kok. Gak Cuma 3G atau 4G, tapi 3 Indonesia udah bakal kasih kamu jaringan 4.5G yang bikin streaming film gak lagi buffering.


“Yakin udah secepet itu internetnya?”

Tentu, namanya udah 4.5G pasti kecepatannya udah bakalan nambah. Bahkan, udah sampe 8 kali lipat lebih cepat dan siap buat jadi jaringan 5G lebih dulu di masa depan. Kalau kata Desmond Cheung, selaku Chief Technical Officer 3 Indonesia, jaringan ini gak cuma cepet tapi juga stabil untuk menjangkau 200 juta pengguna nantinya.

Jadi, kamu harus yakin jaringan internet ini bakal dukung kamu buat ngelakuin kegiatan apapun. Gak cuma streaming film aja, mau main games juga bisa banget. 3 Indonesia paham banget deh kegiatan-kegiatan anak muda yang kekinian karena itulah tujuan 3 Indonesia. Mendukung anak muda Indonesia dan menjawab kebutuhannya.

Buktinya, di tempat gue sekarang paket Tri sinyalnya kenceng. Streaming film-film yang ada di watchlist bisa #OnTerusss karena internet juga cepet banget!


“Emang 3 Indonesia mau kasih apa lagi?”

3 Indonesia punya produk keren namanya #AlwaysOn. Jadi, ketika kamu beli paket data dan kuotanya belum abis tapi masa berlakunya udah abis duluan, nanti kuotanya bisa diakumulasi. Jadi, kuota kamu bisa deh kamu pake buat Internetan, main games, push rank, atau streaming film sampai bosen.

Buat sesama pecinta film kayak gue, 3 Indonesia pun punya produk KeepOn+ yang bundling sama Amazon Prime Video. Di sana ada banyak banget film atau series keren yang sayang banget buat dilewatin. Buat yang penasaran sama serial Amazon berjudul Modern Love, bisalah pakai provider 3 Indonesia mulai dari sekarang buat langganan.

Jadi gimana? Udah siap buat #OnTerusss dan #AktifSelamanya bareng #TriIndonesia? Pasti siap sih!

1917 (2019) REVIEW: Pesan Tentang Perdamaian Yang Tak Lekang oleh Zaman

 
Sebuah pesan tentang perdamaian mungkin masih akan terus menjadi hal yang memiliki relevansi di kehidupan manusia hingga sekarang.

Apalagi, sedang dalam gencar-gencarnya isu tentang perang dunia ketiga yang sempat muncul dipermukaan. Usaha untuk menghentikan sebuah perang telah terjadi sejak perang dunia pertama di tahun 1910an. Mengetahui adanya relevansi itu mungkin yang mendorong Sam Mendes ingin menyampaikan pesan yang sama lewat sebuah proyek film terbaru yang dia buat.

1917, sebuah film dengan premis sederhana tetapi penuh akan keambisiusan Sam Mendes. Tak hanya dalam menyampaikan pesannya, tetapi juga dalam proses pembuatannya. Film ini pun telah meraih beberapa nominasi Academy Awards salah satunya menjadi Best Pictures. Bahkan, sedang digadang menjadi frontrunner untuk membawa pulang piala. Bagaimana tidak didukung oleh banyak pihak, film ini menggunakan ilusi agar sepanjang 120 menitnya terasa hanya dalam satu shot utuh agar terasa lebih nyata.


Yang dilakukan oleh Sam Mendes di film 1917 tentu bukan tentang menceritakan sebuah kisah yang penuh intrik. Sebuah kisah sederhana tentang bagaimana perang akan dihentikan saja sudah cukup. Maka dari itu, 1917 punya plot cerita yang sangat sederhana. Tentang dua orang tentara yang mengabdi untuk negaranya bernama Schofield (George McKay) dan Blake (Dean-Charles Chapman). Mereka mendapatkan perintah dari sang atasan, General Erinmore (Colin Firth) untuk memberikan sebuah pesan.

Pesan sederhana untuk menyuruh sejumlah pasukan untuk menghentikan serangan yang akan mulai menyerang musuh di sebuah daerah. Tetapi, Schofield dan Blake diburu oleh waktu ketika harus  menyampaikan pesan tersebut kepada Colonel Mackenzie (Benedict Cumberbatch), yang memimpin pasukan tersebut. Karena sejatinya apabila pesan tersebut terlambat untuk disampaikan, maka peperangan yang jauh lebih besar akan segera terjadi.


“Time is the enemy”

Sebuah tagline dari film ini yang mungkin menggambarkan sebagian besar dari film 1917. Tentang bagaimana dua karakter ini berusaha untuk menyampaikan pesan lewat keterbatasan waktu yang juga memburu mereka. Karena dalam sebuah pesan terdapat konteks yang perlu diperhatikan, baik tentang waktu atau pun keadaan yang mempengaruhi pesan tersebut. Nantinya hal itu akan berpengaruh pula terhadap relevansi pesan yang akan diterima.

Bagaimana pesan yang dibawa oleh kedua karakter dalam film 1917 memiliki peran penting dan bahkan bisa mengubah segalanya dalam sebuah peperangan. Maka dari itu, bisa dibilang bahwa event atau pesan yang dibawa inilah pemeran utama dari film ini. Tahu kapasitas dalam filmnya inilah yang menjadi kekuatan bagi Sam Mendes dalam mengarahkan film terbarunya ini.

Maka dirinya menitikberatkan pada bagaimana ceritanya bisa tersampaikan. Bagaimana tujuan dalam film 1917 yang sederhana ini bisa diracik menjadi sesuatu yang luar biasa. Sehingga, bukan ensemble casts-nya yang menjadi peran utama, tetapi bagaimana Sam Mendes mengkombinasikan segala hal teknis dalam film ini digabung dengan pesan apa yang ingin disampaikan dalam filmnya yang menjadi bintang utama dari filmnya. 


Meski ‘sang pesan’ adalah sang pemeran utama, tetapi penonton tetap bisa menaruh simpati kepada pemainnya. George MacKay bisa menaruh urgensi dalam karakternya untuk hadir dan merasakan suasana tragedi di perang dunia pertama yang terjadi. Hal ini tetap dirasa penting oleh Sam Mendes agar filmnya tetap terasa hangat dan Indah. Bukan hanya sebuah tempat bagi dirinya untuk melakukan eksperimen untuk mengarahkan teknis-teknis utama yang memang menjadi keunggulan dari filmnya. Sehingga, ketika dirasa tepat, ada satu adegan yang bisa membuat penonton ikut merasakan sensasi investasi emosi tentang melepaskan, kemenangan, dan bahkan kehilangan.

Sinema adalah sebuah trik sulap pertama yang ada di dunia dan film ini mampu menjelaskan hal itu. 1917 sebagai sebuah film perang berhasil menyodorkan trik sulapnya. Dengan memberikan ilusi kepada penonton sehingga suasana konfliknya terasa begitu nyata. One Continuous-Shot adalah triknya dan seakan seperti seorang pesulap asli, Roger Deaking mampu mengelabui dan mampu membuat penontonnya terperangah.

Trik sulapnya mampu membuat film 1917 dengan durasi 120 menit ini hanya seperti diambil dalam sekali take saja. Tetapi, tanpa visi yang kuat dari Sam Mendes, mungkin film 1917 ini hanyalah sebuah film penuh ambisi yang tak memiliki hasil sekuat ini. Sam Mendes berhasil mengolah film ini sehingga begitu terasa nyata. Musik milik Thomas Newman yang menghidupkan atmosfir mencekamnya dan tata set produksi yang juga berhasil menyakinkan penontonnya.


Jika dibilang film ini akan menjadi frontrunner di ajang Oscars tahun ini, tentu tak akan kaget. Selain bagaimana film ini dibuat dengan hati, pesan dari film ini pun jelas mewakili. Bagaimana pesan tentang perdamaian masih saja menjadi hal yang memiliki relevansi hingga kini.

Meski waktu adalah “musuh” di dalam film ini, tetapi pesan yang digaungkan oleh film 1917 ini tak akan pernah lekang diburu waktu. Sebuah film dengan setting perang dunia satu yang dibuat di masa kini ini berhasil menjadi sebuah karya klasik instan dan patut mendapatkan apresiasi. Sebuah pencapaian teknis yang mungkin akan jarang lagi terjadi di dalam dunia sinema terkini. Segera tonton di bioskop terdekat dengan layar besar dan tata sound system yang terbaik karena film ini luar biasa sekali!

UNDERWATER (2020) REVIEW: Masih Terjebak dalam Palung Samudra Terdalam

Menyelamatkan diri dari sesuatu bencana besar karena ulah manusia.

Bila diperhatikan premis ini mungkin sudah terasa biasa saja. Entah dengan setting mana pun dan bahkan karena alasan apa pun. Premis ini pula yang mau diangkat di film terbaru milik Kristen Stewart ini. Setelah beradua acting dengan cukup menarik lewat film Charlie’s Angels, awal tahun ini Kristen Stewart hadir lewat film Underwater.

Brian Duffield dan Adam Cozad berperan untuk menuliskan kisahnya selama 95 menit. Serta, William Eubank menjadi pemegang kendali utama untuk mengeksekusi naskah yang sudah ditulis oleh mereka. Dimeriahkan pula dengan beberapa nama seperti Jessica Chanwick, John Gallagher Jr. hingga sutradara Deadpool, T.J. Miller. Tak ada nama besar, karena memang kekuatan dari film ini berada di Kristen Stewart. Tak hanya sebagai nilai jual saja, tetapi juga secara untuk keseluruhan filmnya.

Selain menyelamatkan dirinya dari bencana yang terjadi di dasar laut, sesungguhnya Kristen Stewart juga perlu untuk menyelamatkan dirinya agar tak terjebak dengan film-film blockbuster yang generik. Atau bahkan, mensia-siakan potensi aktingnya yang gemilang. Karena yang sesungguhnya terjadi di film Underwater, performa Kristen Stewart lah yang bisa diunggulkan. Banyak sekali potensi untuk tontonan encekam, tetapi Underwatermalah memutuskan dirinya menjadi sebuah film yang semua tensinya serba diredam.


Diawali dengan sebuah tim yang sedang melakukan riset di bawah laut terdalam. Cerita diawali dengan narasi milik Norah Price (Kristen Stewart) yang sedang mempertanyakan hidupnya. Ketika dirinya merasa tak lagi merasakan apa-apa di bawah laut. Tetapi, setelah itu kejadian besar datang dalam kehidupan Norah. Sebuah gempa besar terjadi di tempat riset milik Norah dan timnya sehingga membuat tempat tersebut luluh lantak.

Mereka tentu berusaha untuk menyelamatkan diri dan berusaha untuk mencapai permukaan air laut. Tetapi, mereka harus ke pergi ke sebuah tempat yang berada di tempat yang jauh agar bisa selamat. Selama perjalanan, tak hanya mereka harus berjuang agar bisa sampai ke tempat tersebut dan menuju ke permukaan air saja. Tetapi, ada sesuatu lain yang mengejar mereka sehingga mereka benar-benar dalam keadaan terancam.


Sayang, keadaan terancam yang seharusnya bisa muncul dalam film Underwater ini tidak benar-benar terlihat. Tak dirasakan sama sekali tensi dari pengarahan William Eubank di film ini. Sehingga, tak ada urgensi yang cukup kuat untuk dirasakan penontonnya agar bersimpati kepada semua cerita yang berusaha disampaikan dan bahkan kepada setiap karakternya. Yang berusaha disampaikan oleh William Eubank adalah penyaduran beberapa film dalam genre-nya.

Ada yang berusaha untuk memberikan tribute untuk beberapa filmnya. Berusaha bahkan untuk menduplikasi apa yang dibuat oleh Ridley Scott dalam film Alien. Dari bagaimana film ini mencoba meniru set design karakter creature-nya hingga bagaimana film ini berusaha untuk membangun atmosfer horornya secara perlahan. Sayang, hal-hal yang berusaha untuk diterapkan di film ini malah belum punya pengarahan yang matang.

Ya, seharusnya ada banyak sekali potensi-potensi yang bisa digali dalam Underwater ini. Sebagai sebuah film thriller-survival, film ini tak berusaha mencekam penontonnya. Hingga film ini beralih ke sebuah creature feature yang juga tak punya identitasnya sendiri. Bahkan, terror sang musuh pun tak benar-benar ada di dalam film ini. Benar apabila Underwater ternyata malah menjadi tersesat dan terjatuh dalam palung terdalam di sebuah lautan atau Samudra. Padahal, bisa saja 94 menit film ini bisa benar-benar mengikat penontonnya.

Setidaknya, Kristen Stewart masih punya charisma yang kuat sebagai sebuah pemeran utama di dalam film ini. Tetapi, karakterisasi dalam naskah film ini juga belum kuat. Sehingga, problematika dari karakter yang diperankan oleh Kristen Stewart ini ternyata belum tentu bisa menarik perhatian penonton untuk bersimpati. Padahal, sejak awal film ini dimulai pun, narasi film sudah dimulai dari sudut pandang karakter ini.

Memang, Underwaterpunya banyak sekali potensi untuk menjadi sajian yang mencekam sepanjang durasi. Tetapi, apa boleh buat, usaha film ini untuk melesat naik menyelamatkan dirinya menuju permukaan dengan penuh harapan harus pupus begitu saja. Sebelum berhasil selamat, film ini sudah tenggelam duluan.


BOMBSHELL (2019) REVIEW: Sebuah Realita tentang Ketidakadilan Perempuan sebagai Pekerja Media

Pernah dalam sebuah kelas saat kuliah tahun 2015 lalu kalau tidak salah ingat. Seorang Dosen memberikan pertanyaan tentang bagaimana perempuan diperlakukan dalam sebuah media mereka bekerja. Berbeda atau tidak?

Dan dibuatlah menjadi sebuah tugas untuk menanyakan hal itu ke pekerjanya langsung. Temuan yang didapat adalah pekerja yang saya wawancara merasa bahwa tidak ada perbedaan. Bahkan, sang bos bilang bahwa dirinya sebagai perempuan adalah keuntungan bagi perusahaan. Soalnya, perempuan identik dengan kerjanya yang lebih teliti. Lantas, sang dosen malah berbalik tanya. “Lalu, bukankah statement dari bosnya itu malah membuat dirinya malah dibedakan? Harusnya, kamu tanya lagi lebih detil.”

Sejenak aku tertegun dan terdiam. Apa iya itu malah sebuah diskriminasi gender dalam pekerja media?


Pernyataan dosen ini kembali teringat di memori aku saat menonton Bombshell yang disutradarai oleh Jay Roach. Iya, film ini terinspirasi dari kisah nyata tentant 3 perempuan yang sedang bekerja di perusahaan media terbesar di Amerika sana. Dibintangi oleh 3 aktris utama dengan performa yang luar biasa, Charlize Theron, Nicole Kidman, dan Margot Robbie. Mereka benar-benar menghidupkan film dengan performanya yang luar biasa.

Film ini menceritakan tentang bagaimana 3 perempuan yang sedang bekerja di media yang menemukan banyak masalah dalam prosesnya berkarir. Megyn Kelly (Charlize Theron), Gretchen Carlson (Nicole Kidman), dan Kayla Pospisil (Margot Robbie) adalah salah tiga pekerja media perempuan yang mengalami diskriminasi dalam perjalanannya. Mereka memang sudah cukup punya nama dalam yang besar saat bekerja. Tetapi, dalam prosesnya banyak hal-hal keji yang dilakukan oleh petingginya, Roger Ailes (John Litgow) yang ternyata malah memanfaatkan mereka.


Tetapi, tentu mereka hanya bisa diam atas tindakan semena-mena yang didapatkan. Faktor kuasa yang bisa menyebabkan apa yang sudah mereka bangun selama bertahun-tahun berkarir bisa hancur begitu saja dalam sekejap. Hingga suatu ketika, Gretchen sudah merencanakan untuk menuntut keadilan atas tindakan tak wajar yang dilakukan oleh Roger kepadanya. Mulai dari sinilah, perjuangan para pekerja perempuan dalam media dimulai.

Terkadang sebuah peristiwa yang sudah biasa terjadi dan terus menerus terulang akan menjadi sebuah ‘budaya’ yang akan dengan mudah dianggap lumrah oleh banyak orang. Praktik-praktik kerja media yang terkadang suka mendiskreditkan perempuan ini seakan menjadi hal yang wajar dan sering dilakukan. Hal inilah yang membuat perempuan itu sendiri seakan tak sadar bahwa mereka sedang dilecehkan. Merasa laki-laki telah memberikan panggung pada perempuan sehingga saling menyalahkan terhadap perempuan lainnya karena dianggap terlalu terbawa perasaan.

Ya, hal ini tergambar jelas lewat mise-en-sceneyang dihadirkan dalan film Bombshell. Memperlihatkan di satu adegan penting di mana, hal itu menunjukkan ketidakselarasan antara apa yang diucapkan oleh para perempuan dengan apa yang mereka hadapi dalam realitanya. \

Hal itu adalah saat sosok Perempuan sedang berusaha mendukung Roger Ailes dan merasa bahwa dirinya tidak pernah dituntut untuk mengenakan pakaian yang mini. Tetapi, saat sedang menyatakan hal tersebut di depan temannya, dirinya sedang mendapatkan kritik dari seseorang bahwa baju yang dirinya kenakan saat itu juga dirasa kurang tepat untuk tampil di televisi. Serta, masih banyak adegan yang menunjukkan pengorbanan wanita untuk bisa tampil di televisi. Contoh kecil seperti tumit yang lecet karena memakai sepatu hak tinggi setiap saat.

Inilah yang menarik untuk didiskusikan. Ketika para pekerja perempuan media itu menunjukkan bahwa masih ada kesetaraan di dalam pekerjaannya. Tetapi, secara langsung, adegan tersebut juga mempertunjukkan bahwa masih ada banyak tuntutan dan apa yang harus diperhatiakan oleh perempuan dan tubuhnya untuk bisa tampil di media tersebut. Ini semua karena Roger Ailes sebagai laki-laki yang memegang kendali. Lagi-lagi, praktik male gaze, sebuah pandangan dari laki-laki, sedang berusaha dilakukan.


Hal ini tentu mendukung pernyataan dosen saya kala itu yang berusaha skeptis tentang praktik kesetaraan oleh pekerja perempuan dalam suatu media dalam realitanya. Apa iya pernyataan bos tentang pekerjaan perempuan yang lebih teliti itu adalah sebuah pujian dan afirmasi. Atau hal itu malah menunjukkan bahwa ada praktik stereotypical dari subjektivitas laki-laki terhadap perempuan?

Menarik untuk didiskusikan lebih dalam. Bombshell tentu bisa menjadi medium untuk diskusi atas representasi permasalahan yang mungkin saja masih relevan dengan budaya media saat ini.

Tetapi mungkin, sebagai sebuah film itu sendiri, Bombshell terlalu menggebu-gebu dalam emenuturkan isunya yang sangat menarik. Perempuan dan diskriminasi atas apa yang dilakukannya adalah poin utama dalam film ini. Tetapi, semuanya ingin berusaha dirangkum. Sehingga, ada beberapa bagian yang terasa masih perlu banyak waktu untuk diolah. Ceritanya yang terkadang tidak runtut, hingga turn over konflik yang terlalu cepat terjadi.

Mungkin, itulah kelemahan Jay Roach dalam mengarahkan film ini. Naskah yang rumit dari Charles Randolph ini mungkin tak sepenuhnya bisa tersampaikan. Bahkan, akan ada cita rasa yang sama persis seharusnya seperti The Big Short.
 

Beruntung, film ini punya “3 srikandi” yang kuat dan mendukung 109 menitnya (Ya, versi Indonesia. Ada mungkin 9 menit terpotong.)

Charlize Theron adalah hal terkuat yang ada di dalam film ini. Performanya sebagai pekerja perempuan tangguh seperti Megyn Kelly dengan mudah meyakinkan penontonnya. Begitu pula dengan Nicole Kidman sebagai Gretchen Carlson dan Margot Robbie yang berhasil memperlihatkan betapa ambisiusnya karakter Kayla dalam film ini. Semuanya padu padan dan cukup membuat kekurangan dalam film ini sedikit terobati.

Bombshell memang tak sempurna, tetapi isunya sedang menjadi relevansi di berbagai belahan dunia. Sebagai medium berdiskusi? Tentu saja. Film ini sedang berusaha realita tentang praktik diskriminasi yang sering terjadi kepada perempuan sebagai pekerja media. Karena keadilan terhadap wanita ternyata masih fiktif belaka.