• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label Leigh Whannel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Leigh Whannel. Tampilkan semua postingan

The Invisible Man (2020) Review: Thriller dengan Isu Domestik yang Menegangkan


Mendengar judul ini, seharusnya film ini akan dibuat menjadi film follow-up dari The Mummy yang menjadi bagian dari Dark Cinematic Universe. Sayang, di pertengahan jalan, proyek itu harus berhenti karena performa The Mummy yang tak baik di box office domestik. Iya, secara penghasilan worldwide, The Mummy masih cukup baik. Meski, penonton juga mengeluhkan betapa bosannya film yang diarahkan oleh Alex Kurtzman.


Maka dari itu, The Invisible Man ini berubah arah. Dari menggunakan Johnny Depp sebagai bintang utamanya menjadi Elisabeth Moss. Tapi, tetap saja film ini adalah adaptasi dari novel karya H.G. Wells. The Invisible Man disutradarai oleh Leigh Whannel yang sempat terangkat namanya saat menyutradarai Insidious: Chapter 3 dan Upgrade. Tentu saja dengan semua rekam jejaknya, The Invisible Man akan menitikberatkan filmnya sebagai sebuah film horor.

Ini jelas berbeda jauh dengan tujuan utama The Invisible Man di awal-awal yang akan menunjukkan classic monsters sesuai dengan film sebelumnya. Tetapi, bukan berarti berbeda dengan tujuan awal akan membuat film ini tak memiliki performa prima, kan?


Maka dari itu, sambutlah sebuah cerita yang dibuka dengan sebuah adegan yang sangat menegangkan. 10 menit pertama film ini, penonton sudah dihajar dengan banyaknya ketidakpastian yang membuat penontonnya bertanya-tanya tetapi bisa masuk merasakan intensitasnya. Cecilia (Elisabeth Moss) sedang berusaha kabur dari rumah sang suami. Dia ternyata sudah merencanakannya sejak jauh-jauh hari.

Iya, dia sedang tak nyaman dengan kelakuan sang Suami, Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen) hingga membuatnya tak tahan lagi. Tetapi, hal ini tak lantas membuat Cecilia bisa kembali menjalani hidupnya normal lagi. Dia tetap dihantui oleh sikap Adrian yang membuatnya merasa tak aman. Tetapi, hal mengejutkan terjadi. Adrian ternyata ditemukan meninggal bunuh diri. Cecilia mendapatkan warisan dari Adrian tetapi ternyata teror baru bagi dirinya baru dimulai hari ini


Tak hanya Cecilia yang merasakan teror dari Adrian. Tetapi, penonton juga ikut merasakan teror Adrian. 

Artinya, Leigh Whannel sebagai sutradara berhasil mengarahkan The Invisible Man dengan baik. Buktinya, segala intensitas yang ada di dalam film ini bisa dirasakan oleh penontonnya. Leigh Whannel tahu benar memanfaatkan konsep creature-nya. Sehingga, teror demi teror datang di setiap menitnya. The Invisible Man ini memang memberikan sebuah perubahan dalam adaptasinya.

Ada penambahan unsur fiksi ilmiah di dalam film ini ditambah dengan misteri yang berusaha disebar di sepanjang film. Sehingga, penonton pun penasaran seperti apa The Invisible Man ini akan diselesaikan. Penulisan naskahnya pun sangat pintar. Ada set-up cerita yang dibuat dengan pondasi yang sangat kuat untuk membangun tensi dan misterinya. Sehingga, film ini bukan sekedar merapatkan tensi seperti yang dilakukan oleh film-film serupa. Apabila penulisannya tak diperhatikan, maka film ini bisa jatuh ke sajian yang itu-itu saja.

Meski The Invisible Man merentang hingga 124 menit, tetapi dijamin tak akan timbul perasaan bosan. Sebuah atmosfir horor dibangun begitu kuat oleh Leigh Whannel. Sebuah adegan yang memperlihatkan kekosongan saja bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman dan jantung berdebar bagi penontonnya. Seru memang, sepanjang film merasakan sebuah teror dari makhluk yang wujudnya pun tak terlihat.

Tak hanya pengarahannya yang brilian, tetapi juga akting Elisabeth Moss yang sangat meyakinkan. Dirinya berhasil menangkap kegelisahan dari penonton yang terteror dengan makhluk yang tak kasat mata di layar. Tanpa performanya yang kuat, tentu film ini juga tak akan bisa tampil gemilang. Bahkan, berkat penampilannya pun, berhasil menggali lebih dalam sebuah pesan yang sebenarnya secara implisit menampar penontonnya.

The Invisible Man ingin sekali menyampaikan banyak pesan tentang sebuah sistem sosial dan gender di dalam filmnya. Menyelipkannya dalam kisah-kisah yang seru dan mise en scene yang mendukung membuat pesan di dalam The Invisible Man ini tersampaikan dengan cara yang lebih subtil.

Ini adalah sebuah gambaran tentang perempuan dan problematikan hidup di dunia

Perempuan selalu menjadi korban atas kedigdayaan seorang laki-laki. Bahkan, dunia pun sering mendapatkan sebuatan “man’s world”. Sebegitu jahatnya dunia yang ternyata sangat berpihak kepada laki-laki ini. Film ini berusaha memperlihatkan bagaimana perempuan berjuang untuk mendapatkan haknya memilih jalan hidupnya sendiri saja susahnya setengah mati.

Adrian, ditemukan bunuh diri tetapi digambarkan masih saja meneror sang istri. Iya, dalam wujudnya yang tak kasat mata saja, perempuan masih saja merasa tak aman dari serangan teror laki-laki. Perempuan dikontrol, tak bebas, tak punya banyak pilihan, dan menjadi pusat perhatian. Seakan-akan semua orang ingin mengatur perempuan agar kembali ke “kodratnya”. 

Hal ini muncul jelas dalam mise-en-scene yang membekas di ingatan. Adegan di saat Cecilia menghadap ke sebuah cermin dan sedang ingin mencoba pakaian barunya. Pergerakan kamera seakan-akan menjadi “mata” Adrian sebagai laki-laki yang menyorot Cecilia sebagai perempuan. Tentu, Cecilia merasa tak nyaman dan penuh akan intimidasi padahal yang memperhatikan dari belakang pun tak kasat mata.


Budaya di dunia ini acap kali membuat perempuan sebagai objektifikasi. Diperhatikan oleh banyak norma yang mempengaruhi bagaimana perempuan mengambil langkah selanjutnya. Tetapi, norma-norma itu terkonstruksi atas budaya patriarki yang memperlihatkan kekuatan laki-laki di dunia ini meski dalam wujud yang tak kasat mata sekalipun seperti Adrian di film ini.

The Invisible Man tak hanya sekedar menjadi sebuah film horor dengan unsur fiksi ilmiah yang menegangkan untuk disaksikan. Tetapi, juga menjadi tempat untuk menggambarkan realita tentang bagaimana masih banyaknya ketimpangan perempuan dan laki-laki di dunia ini. Kalau saja tak bisa menangkap pesan subtil di dalam filmnya, setidaknya kalian masih bisa merasakan tensinya yang mungkin bisa lebih padat tetapi masih bekerja sangat efektif untuk mencengkram penontonnya. Bagus!

INSIDIOUS : THE LAST KEY (2018) REVIEW : Trivia Kisah Elise dan Masa Lalunya


Franchise film horor satu ini memang sudah banyak mendapatkan antisipasi dari penontonnya. Sejak filmnya yang pertama, Insidious mendapatkan word of mouth yang sangat kuat. Tentu saja hal ini berpengaruh dengan bagaimana sang rumah produksi berperilaku untuk memberikan lampu hijau kepada film ini. Sukses secara finansial pun menjadi satu-satunya alasan kenapa Insidiousmasih bertahan meneruskan sisa-sisa warisan cerita yang bisa digunakan.

Meskipun kekuatan seri ini sudah melemah di seri ketiganya, nyatanya Insidious masih harus bangun dari tidur untuk membuat sebuah kisah baru. Maka, muncullah Insidious : The Last Key yang kali ini dibawahi oleh Sony Pictures dalam proses distribusinya. Pemegang kunci Insidious : The Last Key  ini diserahkan kepada Adam Robitel yang sudah pernah menangani sebuah film horor sebelumnya berjudul The Taking of Deborah Logan. Dibantu oleh Leigh Whannell yang sudah terbiasa menuliskan cerita-cerita dari Insidiouspertama.

Bisa jadi orang sudah lelah mengikuti seri dari franchise ini, tapi nyatanya Insidioussudah memiliki pamornya. Insidious : The Last Key akan dengan udah meraih banyak penonton di saat rilis tetapi bukan berarti hal tersebut akan dengan mudah merebut hati penontonnya. Insidious : The Last Key ini menunjukkan bahwa film ini sudah mulai tak menunjukkan taringnya sebagai film horor. Adam Robitel sebagai sutradara tak mampu membangkitkan amarah roh-roh jahat untuk sekali lagi menakut-nakuti penontonnya.


Problematika Insidious : The Last Key ini tak hanya sekedar tentang bagaimana caranya untuk menakut-nakuti penontonnya. Tetapi juga caranya untuk berusaha membuat penontonnya terjaga sepanjang durasi untuk ikut bersimpati dengan setiap karakter yang ada di dalamnya. Kali ini, fokus utama dari film ini adalah kisah tentang Elise, satu-satunya karakter yang masih bisa dikembangkan lagi untuk menjadi sebuah franchise yang baru.

Adam Robitel sangat berusaha menerjemahkan naskah yang ditulis oleh Leigh Whannell ke dalam layar. Hanya saja, usaha tersebut tak maksimal dan membuat Insidious : The Last Keysangat melelahkan untuk diikuti. Selama 104 menit, Insidious : The Last Key seperti menyaksikan kompilasi dua film pendek yang dipersatukan oleh satu karakter yang sama. Ada potensi menarik dalam kisahnya, tetapi sayangnya hal itu tak bisa berjalan dengan baik.


Menceritakan tentang Elise (Lin Shaye) yang harus menghadapi masa lalunya yang kelam. Dia mendapatkan sebuah telepon dari seseorang bernama Ted Garza (Kirk Acevedo) untuk membasmi hantu di rumahnya. Ternyata, rumah yang ditinggali oleh Ted Garza adalah rumah yang ditinggali oleh Elise dan keluarga saat masih kecil. Elise sudah tahu bahwa sejak kecil rumah yang ditinggali ini sudah berhantu yang membuat keluarganya dalam bahaya.

Elise berusaha untuk membasmi hantu yang ada di dalam rumah Ted Garza, tetapi apa yang dihadapi oleh Elise lebih dari itu. Ada hal lain yang harus berusaha diselesaikan oleh Elise selama sedang bertugas di rumah masa kecilnya. Oleh karena itu, Elise harus berkompromi dengan masa lalunya, menekan mimpi buruknya jauh-jauh agar bisa menghadapi makhluk astral yang sudah menganggunya dan keluarganya sejak kecil.



Insidious : The Last Keymungkin sedang berusaha untuk menggali lebih dalam siapa itu Elise, sosok yang selalu menjadi juru kunci di setiap seri Insidious. Tujuan inilah yang sedang berusaha dilakukan oleh Leigh Whannell saat menuliskan ceritanya di dalam naskah. Tetapi sayang, Adam Robitel tak bisa membuat penonton cukup bersimpati dengan cerita yang ada di Insidious : The Last Key. Jatuhnya, seri keempatnya ini terlihat hanya mementingkan untuk mengekspansi dunia franchise ini untuk demi kelangsungan seri-seri berikutnya.

Tak ada kekuatan sama sekali dalam pengarahannya, baik dalam porsi dramanya maupun dalam membangun teror. Insidious : The Last Key hanya berusaha memanipulasi penontonnya dengan berbagai scoring atau musik latar untuk memunculkan nuansanya. Ketika masuk ke bagian human drama, musik latarlah yang berusaha mengelabui penonton untuk ikut andil dalam kisah Elise. Begitu pula dalam bangunan tensi horornya.

Musik menjadi cara untuk mengelabui penonton dalam mendapatkan sensasi menonton film horor di dalam Insidious : The Last Key. Tak ada atmosfir horor yang bisa dibangun dengan baik oleh sang sutradara. Begitu pula dengan teknik jump scaresnya yang sudah tak lagi inovatif dan hanya mengulangi formula-formula yang usang. Teknik jump scares yang biasanya efektif ini pun tak digunakan terlalu banyak di dalam filmnya. Sehingga, penonton tak lagi bisa mendapatkan sensasi apapun saat menonton film ini.


Di dalam 104 menit filmnya, Insidious : The Last Key serasa terbagi menjadi dua babak yang berbeda. Konflik awal di dalam film ini mungkin ditujukan sebagai pengantar cerita yang memunculkan sebuah koneksi di akhir film. Nyatanya, ketika konflik awal tentang Ted Garza ini diselesaikan, fokus cerita tiba-tiba berpindah dan tak sesekali memiliki koneksi dengan cerita di awal film. Hal ini malah menjadi bumerang bagi filmnya, karena tanpa cerita di 1 jam pertama sebenarnya cerita di paruh kedua bisa berjalan sendirian.

Hal ini memunculkan sebuah isu di dalam Insidious : The Last Key bahwa film ini hanyalah sebagai sebuah fitur film tambahan untuk memperluas dunia milik Insidious. Sehingga, nantinya Insidiousbisa menggunakan celah-celah yang ada untuk melanjutkan serinya meskipun penonton sudah mulai lelah. Terbukti dengan adanya adegan di akhir film Insidious : The Last Key yang memberikan sebuah koneksi ke seri-seri sebelumnya. Insidious : The Last Key hanyalah sebuah film trivia yang sebenarnya tidak ada pun juga tidak apa-apa.