• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.

ORANG KAYA BARU THE MOVIE (2019) REVIEW: Proyeksi Mimpi Yang Cerdas dan Menghibur

Dengan adanya nama Joko Anwar yang terlibat dalam sebuah film, mungkin ada sebagian penikmat film yang langsung antusias. Nama Joko Anwar telah memberikan sebuah jaminan mutu untuk sebuah film. Meskipun, Joko Anwar hanya terlibat dalam penulisan naskahnya saja. Ambil saja contoh film Stip & Pensil yang diarahkan oleh Ardy Octaviand. Stip & Pensiltampil mengejutkan, menjadi salah satu film drama komedi satir yang sangat menghibur di tengah low profile-nya film ini.

Tahun ini, naskah milik Joko Anwar diarahkan oleh Ody C. Harahap dan kembali ke genre komedi. Setelah menyoroti dunia pendidikan, komedi satir kali ini sedang menyoroti kehidupan sosial menengah ke atas yang diakui oleh Joko Anwar terinspirasi dari mimpinya sendiri semasa kecil.  Proyek ini pun dibintangi oleh nama-nama yang tak sembarangan, mulai dari Raline Shah, Cut Mini, Lukman Sardi, Derby Romero hingga aktor cilik yang sedang naik daun bernama Fatih Unru dengan judul Orang Kaya Baru The Movie.

Orang Kaya Baru The Movie ini berada di bawah naungan Screenplay Films bersama dengan Legacy Pictures. Sungguh menarik ketika tahu Joko Anwar dan Ody C. Harahap bisa berada di bawah rumah produksi ini. Selanjutnya pun, kedua orang ini juga punya proyek terbaru bersama yaitu Gundala dan Hit N Run. Tetapi, mari kita bahas terlebih dahulu Orang Kaya Baru The Movie ini sebagai sebuah drama komedi satir yang dari trailernya terlihat sangat menarik.


Tak perlu disangsikan lagi, Joko Anwar dan film drama satir komedi sebenarnya sudah berteman sejak lama. Mulai dari Arisan!, Janji Joni, Quickie Express, hingga masih banyak lagi lainnya, Joko Anwar membuktikan bahwa dirinya memiliki kapabilitas untuk menulis sebuah drama komedi. Sehingga, tentu saja banyak orang yang antusias dengan kedatangan Orang Kaya Baru The Movie yang lahir dari tangan Joko Anwar dan pengarahan Ody C. Harahap yang suka solid di beberapa karyanya.

Dengan 96 menitnya, Orang Kaya Baru The Movie --yang terinspirasi dari mimpi Joko Anwar saat kecil --berhasil diproyeksikan dalam bentuk film layar lebar yang mampu menghibur penontonnya. Film sebagai salah satu fungi memproyeksikan mimpi dan melarikan diri dari realita yang ada, Orang Kaya Baru The Movie berhasil benar memaksimalkan fungsinya. Film ini pas untuk penonton yang sedang ingin melepaskan penat dan berangan-angan menjadi orang kaya dengan kadar humornya yang luar biasa kuat.


Kisahnya terpusat kepada kisah sebuah keluarga yang hidupnya serba pas-pasan. Ayah yang bekerja di bengkel (Lukman Sardi), seorang Ibu yang hanya menjual kue (Cut Mini), serta tiga anak yang sedang melanjutkan sekolahnya masing-masing. Tetapi, plot utamanya diceritakan oleh anak perempuannya bernama Tika (Raline Shah) yang mulai memimpikan dirinya menjadi orang kaya. Meskipun pada dasarnya, dia merasa hidupnya sudah serba cukup karena keluarganya yang selalu ada.

Tetapi, hidup mereka berubah 180 derajat ketika sang ayah harus meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Pada awalnya mereka merasa bahwa kehidupannya akan menjadi bencana karena keadaan ekonomi yang tidak mendukung. Hingga di suatu siang, seorang pengacara datang ke rumah mereka untuk mendapatkan sebuah kabar yang mengejutkan. Selama ini, ternyata sang ayah tak semiskin yang mereka kira. Sang ayah memiliki harta warisan yang mengubah mereka menjadi orang kaya baru untuk menjalani hidup selanjutnya.


Kisahnya ini sederhana, tentang seorang keluarga pas-pasan yang tiba-tiba berubah menjadi orang kaya. Kisah yang mungkin terjadi dalam sebuah mimpi seseorang saja ketika penat dalam menjalani hidupnya yang semakin begitu-begitu saja. Premisnya hanya mengembangkan dari pertanyaan “kapan aku bisa kaya ya?” yang muncul ketika seseorang sudah mulai lelah melakukan rutinitasnya dan ingin hidup lebih sejahtera. Selain muncul di dalam mimpinya, Joko Anwar tahu bahwa premis ini adalah problematika kelas menengah dan tahu benar cara mengembangkannya.

Tepat rasanya untuk membahas mimpi ini dalam film genre komedi sekaligus untuk menertawakan kehidupan dan Orang Kaya Baru The Movie tahu benar potensinya. Sebagai sebuah film komedi, Orang Kaya Baru The Moviehadir dengan bahan tertawaan yang tepat sasaran. Tak sekedar membuatnya sebagai film komedi dengan bahan bercandaan yang jatuhnya dipaksa, semua dialognya yang pintar itu muncul sebagai sebuah gong yang efektif bagi penontonnya untuk tertawa.


Begitu pula dengan adegan-adegan yang berusaha dideskripsikan oleh Joko Anwar di dalam film Orang Kaya Baru The Movie, muncul dengan mudahnya menjadi sesuatu yang bisa membuat orang terhibur. Tentu, tujuan film ini sebagai sebuah film komedi sudah bisa dilaksanakan dengan baik. Hanya saja, pengarahan oleh Ody C. Harahap kali ini mungkin belum serapi itu untuk bisa mengembangkan lagi naskah milik Joko Anwar yang sudah ditulis dari hati ini.

Ada beberapa kontinuitas adegan yang mungkin belum terkoneksi satu sama lain. Sehingga, dalam durasinya yang mencapai 96 menit, membuat beberapa timeline cerita di dalam film ini terasa belum rinci. Keterbatasan durasi mungkin menjadi penyebab beberapa kisahnya belum benar-benar berkembang. Ada beberapa kisahnya yang mungkin terasa terlalu cepat untuk dituturkan dan menemukan konklusinya dengan cepat.

Jika saja digali lebih kuat lagi, kisahnya mungkin tak hanya sekedar menghibur tetapi juga memiliki rasa emosional yang bisa lebih berdampak ke penontonnya. Bukan berarti hasil akhirnya tak emosional, tentu saja Orang Kaya Baru The Movie punya hal itu. Hanya saja, bisa saja hal itu akan tampil lebih kuat dari yang sudah ada. Tentu saja, itu berkat jajaran pemainnya yang menampilkan performa luar biasa terutama untuk Cut Mini yang sebagai pemeran pendukung tetapi memiliki nyawa utama di dalam filmnya.


Sebagai sebuah film komedi, Orang Kaya Baru The Movie menyanggupi tujuannya untuk menghibur penontonnya dengan baik. Selain itu, film ini juga memaksimalkan fungsinya sebagai media untuk melarikan diri dari realita yang pas dengan genrenya. Memproyeksikan mimpi gila Joko Anwar bisa menjadi sajian yang menarik seperti ini. Apalagi bila diperhatikan lagi, sebuah dialog kunci dari seorang karakternya menjadi penanda, bahwa film ini adalah selebrasi dari dua genre film yang dipersatukan, persis seperti film ini sendiri. Drama keluarga yang dekat, tetapi komedinya menghibur. Cerdas!

KELUARGA CEMARA (2019) REVIEW: Wahana Pengingat Untuk Selalu Kembali Ke Keluarga


Visinema Pictures tak hanya hadir dengan film-film yang diarahkan oleh Angga Dwimas Sasongko saja. Banyak sutradara lain yang diberikan oleh kesempatan untuk bernaung di rumah produksi ini. Salah satunya adalah Andibachtiar Yusuf yang mengarahkan Love For Sale dan menjadi salah satu film terkuat di tahun 2018. Visinema Pictures pun berusaha memberikan kontribusinya dengan berbagai macam proyeknya yang akan dirilis di tahun 2019 ini.

Salah satunya adalah proyek Visinema Pictures dengan sutradara baru berbakat yaitu Yandy Laurens. Sutradara satu ini sempat memenangkan XXI Short Film Festival dengan film pendeknya berjudul Wan An. Belum lagi, dia juga pernah mengarahkan sebuah web series berjudul Sore yang sangat digandrungi oleh banyak orang. Tak salah, jika Visinema Picturesmelirik Yandy Laurens yang memiliki banyak potensi untuk mengarahkan sebuah film.

Visinema Pictures pun langsung mempercayakan Yandy Laurens dengan judul yang cukup besar. Film ini diangkat dari kisah televisi dan novel milik Arswendo Atmowiloto dengan karakter bernama Abah, Emak, Euis, dan Ara. Ya, Keluarga Cemara menjadi karya layar lebar pertama dari Yandy Laurens untuk perfilman Indonesia. Adaptasi dari Keluarga Cemara ini naskahnya ditulis oleh Gina S. Noer tetapi Yandy Laurens tetap ikut andil dalam penulisannya.


Adaptasi dari Keluarga Cemaraini dibintangi oleh banyak artis ternama. Ringgo Agus Rahman dan Nirina Zubir dipercaya menjadi dua pemeran utama sebagai Abah dan Emak. Masih ada Asri Welas, Maudy Koesnaedi, hingga Abdurrahman Arif yang memeriahkan film ini. Juga, dua aktor perempuan cilik pendatang baru bernama Widuri Puteri dan Adhisty Zara, salah satu member JKT48 yang memerankan karakter penting di dalam film ini yaitu Ara dan Euis.

Keluarga Cemara milik Yandy Laurens ini tak sekedar dibuat ulang dengan cerita yang sama dengan materi yang ada. Yandy Laurens membuat Keluarga Cemaramiliknya ini sebagai adaptasi bebas dengan perubahan yang disesuaikan dengan apa yang ada di masa kini. Hal ini mungkin dianggap riskan oleh sebagian orang dan mengganggu inti cerita dari materi ini sendiri. Percayakan saja, Yandy Laurens ternyata bisa mengemas pembaruan dari materi aslinya dengan cara yang cerdas dan sangat hangat.


Tentu kisah film ini dimulai dari kisah satu keluarga yang terdiri dari Abah (Ringgo Agus Rahman), Emak (Nirina Zubir), Euis (Zara JKT48), dan Ara (Widuri Puteri) yang hidupnya sangat berkecukupan dan bahagia. Meskipun Abah selalu tak memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan anak-anaknya. Hingga suatu ketika, masalah besar datang menghampiri keluarga ini. Di tengah ulang tahun Euis yang ke 13, Abah ditipu dan jatuh bangkrut.

Dengan jatuh bangkrutnya Abah inilah, keluarga ini diuji keharmonisannya. Abah pindah dari atribut rumahnya yang serba mewah, ke rumah peninggalan ayahnya yang sederhana. Kehidupan Abah dan Emak pun berubah, mereka harus sekali lagi berjuang untuk bangkit dari keterpurukan. Tak hanya dari finansial, tetapi juga dari batin mereka. Terlebih, harus menghadapi perubahan sikap anaknya yang masih kaget karena kebiasaan mereka pun juga harus berubah dari biasanya.


Di sinilah memang problematika dari film Keluarga Cemara sejak dari materi aslinya. Mengulik kisah lain dari sebuah keluarga yang baru saja menyadari tentang kekayaan lain dalam dinamikanya. Banyak keterpurukan yang terjadi dalam kisah keluarga Abah dan Emak. Yandy Laurens tahu benar bagaimana mengemas kisahnya yang penuh akan problematika itu menjadi sesuatu yang berbeda. Keluarga Cemara dikemas tak sekedar menjadi cengeng, melainkan menjadi sebuah film yang menghibur tetapi rasa emosional itu masih ada.

Naskah Gina S. Noer bekerjasama dengan sutradaranya ini bisa memberikan pembaruan dalam Keluarga Cemara agar lebih relevan dengan sangat baik. Tetapi, mereka tak melupakan inti dari materi aslinya. Mulai dari plot cerita hingga atribut setiap karakternya yang mungkin akan memberikan efek nostalgia. Tetapi, tak usah khawatir bagi yang tak pernah relevan dengan Keluarga Cemara. Sebagai sebuah film, Keluarga Cemara ini sangat bisa dinikmati oleh siapa saja. Kekuatannya tak hanya dari segi nostalgia saja, melainkan juga konflik dan pesan tentang keluarganya masih sangat universal.

Dengan durasinya yang mencapai 115 menit, Yandy Laurens bisa mengembangkan setiap karakternya tanpa perlu tergesa-gesa. Layaknya sebuah keluarga yang bergerak sesuai dengan fungsinya, film ini juga memiliki karakter yang bekerja sesuai dengan porsinya. Lambat laun, karakternya mengalami perubahan yang bisa sesuai dengan konfliknya. Ara dengan kepolosannya yang sesuai dengan usianya, Euis yang perubahan karakternya lebih signifikan karena transisinya menjadi seorang remaja. Begitu pula dengan Abah dan Emak yang secara psikis seharusnya lebih dewasa daripada mereka berdua.


Abah dan Emak menjadi pengontrol emosi kedua karakter anak-anaknya yang sedang mengalami transisi paska peristiwa yang kurang mengenakkan hati. Gina S. Noer dan Yandy Laurens tahu benar meletakkan setiap karakternya harus seperti apa. Sehingga, pada titik tertentu, ketika satu karakter berusaha untuk keluar dari sistem tersebut, naskah milik Gina S. Noer dan Yandy Laurens seakan mengingatkan untuk selalu berada dalam pemikiran bahwa keluarga itu satu.
Dengan materi promosi #KembaliKeKeluarga, Yandy Laurens dan Gina S. Noer tahu benar menerjemahkan hal-hal tentang keluarga yang selalu ada setiap saat dengan sangat baik. Tak perlu dengan cara yang menggurui, tetapi setiap adegan dan dialognya serasa menampar penontonnya. Teringat di satu adegan, ketika Nirina Zubir dan Ringgo Agus Rahman harus bisa memainkan dua emosi yang meletup menjadi satu emosi yang keluar secara alami. Seakan Yandy Laurens berusaha mengingatkan penontonnya untuk selalu bersyukur di setiap keadaan.


Ada tanda di setiap pengadeganan naskahnya yang menarik untuk ditelusuri. Di setiap karakternya berkembang, ada satu kejadian yang selalu sama dan menjadi titik baliknya. Hal ini berlanjut hingga adegan terakhir yang menjadi sebuah akhir manis dari semua konflik yang telah terjadi di dalam keluarga ini. Adegan penutup yang berhasil ditampilkan dengan sangat manis dan emosional oleh Yandy Laurens diperkuat dengan kemunculan lagu “Harta Berharga” yang dilantunkan begitu indah oleh Bunga Citra Lestari. Sehingga penontonnya tanpa sadar menjatuhkan air mata di pipi mereka.

Semua kedinamisan dalam keluarga di dalam film Keluarga Cemara ini tentu tak bisa dijauhkan dari performa ensembel pemainnya yang memiliki ikatan emosi luar biasa satu sama lain. Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, Zara JKT48, dan Widuri Puteri berhasil meyakinkan penontonnya bahwa mereka adalah keluarga yang ada di kehidupan nyata. Diperindah lagi oleh musik-musik dari Ifa Fachir yang tampil indah mengiringi setiap adegan kehidupan dari keluarga kecil ini.

Tetapi, poin penting yang menarik di film ini adalah performa Nirina Zubir yang bisa menerjemahkan karakter Emak dengan baik. Dirinya sebagai karakter yang menyejukkan di tengah banyaknya masalah dan panas hati di setiap karakternya. Emak adalah karakter perempuan yang dalam kediamannya pun memiliki kekuatan untuk mengubah pemikiran setiap karakternya. Nirina Zubir bisa menerjemahkan kekuatan dari karakter Emak tersebut yang tak berusaha mendominasi tetapi berusaha tetap menjadi sosok yang seimbang dengan Abah ketika berkomitmen untuk berkeluarga.


Tentu sangat menyenangkan jika awal tahun 2019 harus diawali dengan film keluarga seperti Keluarga Cemaraini. Momennya masih relevan dengan realta yang ada, merayakan liburan bersama keluarga. Yandy Laurens sudah menyiapkan wahana baru untuk mengingatkan penontonnya agar selalu kembali ke keluarga mereka sekali lagi. Membuat penontonnya ingin segera pulang, memeluk setiap anggota keluarganya, mengucap syukur bahwa harta yang paling berharga dari seorang manusia adalah keluarga yang berjalan dengan fungsinya yang benar. Debut penyutradaraan yang indah sekali!

MARY POPPINS RETURNS (2018) REVIEW: A New Rendition With Beautiful Old Charm


Disney memiliki banyak stok film untuk dihadirkan kembali di layar lebar. Tak hanya film animasinya saja yang ditayangkan kembali dalam bentuk live-action, tetapi Disney juga punya memiliki misi menghadirkan nostalgia kepada penontonnya. Salah satunya lewat menghadirkan kembali sosok-sosok legendaris dari Disney dan hal ini sudah dicoba lewat sosok Winnie The Pooh yang hadir lewat film arahan Marc Forster, Christopher Robin.

Kali ini giliran kisah yang film pertamanya diadaptasi dari buku P.L. Travers yaitu Mary Poppins. Sosok penjaga anak-anak yang magis ini kembali hadir dengan rentang waktu yang cukup lama. Film pertama Mary Poppins dirilis di tahun 1964 dengan Julie Andrews sebagai pemeran utamanya. Robert Stevenson kala itu menjadi sutradara untuk Mary Poppins. Berselang 54 tahun, Mary Poppins kembali menyapa penonton generasi sekarang dengan banyak perubahan.

Perubahan pertama tentu pada pengarahnya, Rob Marshall ditunjuk sebagai komando tertinggi untuk film ini. Tak hanya itu, Julie Andrews tentu saja tak kembali menjadi sosok Mary Poppins dan aktor perempuan bertalenta bernama Emily Blunt yang berkesempatan untuk menggantikannya. Diramaikan oleh nama-nama lain mulai dari Ben Whishaw, Lin-Imanuel Miranda, Julie Walters, Meryl Streep, Colin Firth hingga Dick Van Dyke. Mary Poppins Returns dipilih menjadi judul untuk sekuelnya ini.


Dengan selang waktu yang cukup lama, tentu akan menjadi tugas dari Rob Marshall mengembalikan daya magis untuk Mary Poppins Returns. Bahkan, tugas utamanya tentu tak hanya mengembalikan nostalgia tetapi juga untuk mengenalkan sosok Mary Poppins dengan generasi sekarang yang mungkin tak banyak yang mengenal karakter film ini. Kepercayaan penonton zaman sekarang terhadap Mary Poppins Returns ini tentu hanya bertumpu pada nama Disney sebagai sebuah korporasi yang besar dan ternama.

Yang terjadi adalah Mary Poppins Returns tidak benar-benar bertumpu pada kesan nostalgia saja di dalam filmnya. Mary Poppins Returns berkerja sebagai rendisi baru dari nada-nada yang sudah ada di dalam film Mary Poppins sebelumnya. Dengan dasar itu, tentu saja Rob Marshall memiliki semangat menyampaikan misinya mengenalkan Mary Poppins kepada semua generasi baik yang mengenal maupun yang belum kenal. Belum lagi, performa Emily Blunt yang semakin memperkuat indahnya film ini.


Memang masih ada benang merah antara Mary Poppins Returns dengan film pendahulunya. Kisahnya masih berkutat pada karakter yang sama meskipun setting tahunnya sudah berbeda. Mary Poppins masih mendatangi keluarga Banks yang kali ini dirundung masalah. Michael (Ben Whishaw) sedang dalam kondisi terpuruk secara finansial dan datanglah berita buruk bahwa rumah yang ditinggali sejak kecil bersama orang tua dan Jane (Emily Mortimer), adik perempuannya, harus disita oleh bank.

Kebingungan Michael semakin menjadi-jadi karena dia juga baru ditinggal oleh istri tercintanya dengan ditinggal 3 anak yang dia sayangi. Ketika Michael mulai sibuk dengan kesedihannya, datanglah pengasuh dengan daya magis saat Michael dan Jane masih belia. Ya, Mary Poppins (Emily Blunt) hadir kembali ke keluarga Banks dan membantu Michael menjaga ketiga anaknya yaitu John (Nathanael Saleh), Anabel (Pixie Davies), dan George (Joel Dawson).


Mary Poppins Returns sebagai sebuah film berusaha untuk menjadi medium bagi penontonnya merasakan kembali kesenangan dan kebahagiaan menjadi anak kecil yang senang berimajinasi. Layaknya kisah dalam filmnya di mana Mary Poppins hadir untuk ketiga anak kecil ini untuk sedikit melupakan kejadian-kejadian sedih yang bahkan membuat masa kecil mereka tak bahagia. Selagi itu, masih diceritakan tanggung jawab Michael sebagai orang dewasa yang mencari sertifikat yang bisa menyelamatkan rumahnya.

Rob Marshall selaku sutradara dari Mary Poppins Returns masih memiliki visi untuk mewarisi keindahan dan daya pikat yang ada di dalam film Mary Poppins milik Robert Stevenson. Masih menjadikan film ini sebagai sebuah film musikal adalah salah satunya. Rob Marshall tentu tak lagi baru dalam menggarap sebuah film musikal. Akan dengan mudah bagi Mary Poppins Returns untuk memiliki sekuens-sekuens musikal yang sangat indah.

Musikalnya masih memiliki ciri khas dari Rob Marshall yang sangat teatrikal. Mulai dari prelude dari film ini yang sudah mengantisipasi penontonnya agar tahu apa yang mereka saksikan selebihnya dalam 130 menit. Beberapa sekuens musikalnya pun juga masih mengambil referensi dari film pendahulunya dengan tambahan animasi dua dimensi dengan pembaruan yang sangat memanjakan mata. Tentu saja, sekuens-sekuens dengan mudah memancarkan kemagisannya.


Tak hanya mewarisi keindahan lewat sekuens musikalnya, Mary Poppins Returns masih menjadi sebuah pengingat tentang semangat menjadi anak-anak. Baik di film pertama maupun di Mary Poppins Returns ini masih membahas tentang imajinasi seorang anak yang tak boleh dibatasi. Terkadang seseorang yang telah dewasa pun lupa bagaimana pentingnya sesekali menjadi anak-anak. Entah menjadikannya sebagai sebuah medium pelarian diri terhadap konflik orang dewasa yang semakin pelik, atau menjadikannya sebagai mencari sudut pandang yang lain.

Mary Poppins sebagai sosok karakter pengasuh ini adalah perwakilan dari pengontrol pentingnya bersenang-senang selagi masih bisa. Sepelik apapun hidup yang ada di sekitarmu, pastikan masih ada waktu dan kesempatan untuk tetap sadar dan tak menjadi gila karena dirundung masalah. Ya, Mary Poppins tentu cocok sekali dengan korporasi Disneyyang selalu memproduksi mimpi-mimpi yang penuh kebahagiaan sehingga apapun produk anak-anaknya selalu dijadikan standar tentang perilaku seorang anak.

 
Mary Poppins Returns memang datang tak sebagai sebuah karya yang sempurna. Dengan durasinya yang mencapai 130 menit, Mary Poppins Returnsmungkin hadir cukup panjang dengan beberapa konflik yang ditarik ulur. Meskipun, beberapa adegannya ini dijadikan sebagai sebuah pesan implisit dan simplifikasi tentang konflik dewasa agar bisa diceritakan kepada anak-anak. Meski tak baru, tetapi semangat itu selalu ada di dalam film Mary Poppins.

Diluar durasinya yang sedikit terlalu panjang, masih ada performa musikal yang indah untuk dinikmati mulai dari Can You Imagine That, Trip A Little Light Fantastic, The Place Where The Lost Things Go, hingga Nowhere To Go But Up yang menghangatkan hati. Tentu hal ini tak muncul begitu kuat apabila tak ada performa yang sangat menarik hati dari Emily Blunt. Dirinya bisa mentranslasikan Mary Poppins milik Julie Andrews dengan sangat baik di film terbarunya.


Lagu-lagunya pun memiliki nada-nada yang sama dengan beberapa lagu milik Mary Poppins di film sebelumnya seperti Lets Go Fly A Kite hingga A Spoonful of Sugar yang digubah oleh Marc Shaiman. Inilah juga menjadi bukti bahwa Mary Poppins Returns milik Rob Marshall ini tak hanya sekedar meneruskan legacy dari film Mary Poppins sebelumnya. Tetapi, lebih kepada usaha Rob Marshall melakukan rendisi ulang dari nada-nada yang ada sehingga Mary Poppins Returns tetap menjadi karya yang bisa berdiri sendiri tetapi tak melupakan akarnya. Indah sekali.

MILLY & MAMET (2018) REVIEW: Karya Dari Hati Milik Ernest Prakasa Lainnya


Kisah Cinta dan Rangga masih memiliki celah untuk membangun dunianya lebih besar. Iya, seakan tak mau kalah dengan film-film pahlawan super milik luar negeri, kisah cinta super populer milik dalam negeri ini masih memiliki kisah yang menarik. Tetapi, kali ini yang punya hajat bukanlah Cinta dan Rangga dan problematika romansanya. Ada karakter lain di kisah Ada Apa Dengan Cinta yang kisahnya cukup menarik untuk digali lebih dalam, terlebih kisahnya yang mengagetkan muncul di film keduanya.

Inilah dia, Milly dan Mamet, yang entah darimana tiba-tiba saja mereka diceritakan menjalin hubungan, menikah, dan memiliki anak. Bila kisah Cinta dan Rangga lewat Ada Apa Dengan Cinta? 2 ini diarahkan oleh Riri Riza. Kali ini, yang memiliki kesempatan untuk menuturkan kisah Milly dan Mamet adalah seorang sutradara baru yang berpotensi di setiap filmnya. Ernest Prakasa, seorang komika terkenal yang terjun ke dunia penyutradaraan dan menelurkan hasil-hasil gemilang.

Ernest Prakasa ditunjuk untuk mengarahkan kisah cinta Milly dan Mamet agar dunia Ada Apa Dengan Cinta? ini punya sudut pandang lain selain Cinta dan Rangga. Milly & Mamet, judul dari film keempat Ernest Prakasa ini berkolaborasi kembali dengan istrinya, Meira Anastasia dalam penulisan naskahnya. Tak hanya dalam naskahnya saja, Meira Anastasia juga memiliki kesempatan untuk mengarahkan filmnya bersama dengan suami tercinta.


Tentu saja, Milly & Mametdibintangi oleh dua aktor utamanya, Dennis Adhiswara dan Sissy Prescillia. Tetapi, Ernest Prakasa berhasil menggaet nama-nama besar di dalam filmnya mulai dari Julie Estelle, Yoshi Sudarso, Eva Celia, dan beberapa komika lain yang biasa hadir untuk meramaikan film milik Ernest Prakasa. Hal menarik lainnya adalah kembalinya lagi Geng Cinta yang mendukung kisah Milly & Mamet sehingga tentu saja membuat film ini semakin meriah.

Milly & Mamet tentu menjadi salah satu film yang dinantikan di tahun 2018 ini. Salah satu penyebabnya adalah film ini adalah bagian dari kultur pop besar di Indonesia yaitu Ada Apa Dengan Cinta?. Serta, memberikan sudut pandang lain dalam dunia Ada Apa Dengan Cinta? yang mungkin membuat sebagian penikmatnya penasaran. Untungnya, Milly & Mamet berada di tangan yang cukup tepat. Milly & Mamet kembali jadi karya dari Ernest Prakasa yang cukup solid.


Linimasa waktu di dalam film Milly & Mamet ini berjalan secara paralel di antara film Ada Apa Dengan Cinta? pertama dan kedua. Sehingga di dalam film ini diceritakan Mamet (Dennis Adhiswara) yang sedang datang sendirian di acara reuni sekolah menengah atasnya kala itu. Tak sengaja dia kembali bertemu dengan Milly (Sissy Prescillia) di tengah kerumunan bersama dengan Gengnya selama sekolah. Milly yang sedang kurang memiliki hubungan baik dengan pacarnya, membuat Mamet berkesempatan untuk dekat dengannya.

Tetapi, poin dari film ini ternyata bukan menceritakan bagaimana Milly & Mamet mendekati satu sama lain. Melainkan menceritakan tentang bagaimana Milly & Mamet menghadapi problematika keluarga kecilnya. Mamet yang memiliki passion di bidang masak bertemu dengan Alex (Julie Estelle), teman lamanya yang ingin mengajak membuka restoran baru. Tetapi, pergolakan batin Mamet untuk menjalankan apa yang dia senangi ini adalah probelmatikanya. Dan Milly berusaha untuk mendampingi Mamet meskipun juga mengalami pergolakan batin yang sama.


Milly & Mamet sebagai sebuah film tak hanya bekerja sebagai film pendamping dunia Ada Apa Dengan Cinta? saja. Film ini sebenarnya bisa berdiri sendiri tanpa adanya embel-embel tersebut. Milly & Mamet adalah sebuah film komedi romantis yang bisa digunakan sebagai refleksi para pasangan baru yang baru saja membina rumah tangga. Konflik-konflik yang ada di dalam film Milly & Mamet ini akan terasa dekat dan relevan dengan target segmentasinya.

Milly dan Mamet sebagai karakter pendukung dalam Ada Apa Dengan Cinta? tentu masih belum punya penggalian karakter yang cukup karena pusat cerita berada di Rangga dan Cinta. Inilah tugas Ernest Prakasa untuk menggali kisah mereka. Dengan bantuan dari Meira Anastasia, terasa benar mereka sedang sedikit demi sedikit menggali karakter utamanya lebih dalam agar lebih dekat dengan penontonnya. Dengan begitu, konfliknya yang relevan bisa dengan mudah diterima dan itulah tugas dari kedua karakternya.

Milly & Mamet menjadi sebuah medium refleksi tentang kehidupan rumah tangga bagi para pasangan yang baru membina keluarga. Bagaimana mereka berkompromi dengan keputusan masing-masing tanpa harus mengorbankan sesuatu. Karakter Milly & Mamet berusaha untuk menjadi perwakilan para pasangan suami-istri, baik yang baru menikah ataupun sudah lama, untuk selalu tetap menjaga saling keterbukaan dan mau menerima pendapat satu sama lain dalam berkeluarga.


Meskipun, dalam usahanya menuturkan konfliknya yang relevan ini, Milly & Mamet masih terjebak dengan cara-cara penuturan nasihat yang literal. Sehingga, beberapa adegan di dalam film ini lebih terasa menggurui. Keberadaan Milly & Mamet sebagai film dari dunia Ada Apa Dengan Cinta? yang ternyata bisa berdiri sendiri ini ternyata sedikit berpengaruh dalam filmnya. Penonton yang mencari insights menarik dalam dunia Ada Apa Dengan Cinta? akan merasa kurang terjawab.

Ernest Prakasa dan Meira Anastasia memang masih menuliskan sedikit cerita dan adegan yang berhubungan dengan Ada Apa Dengan Cinta?. Tetapi, hal itu tak membuat Milly & Mamet benar-benar menjadi bagian dari dunia Ada Apa Dengan Cinta? selain nama karakternya saja. Tetapi, beberapa rasa penasaran pecinta dunia Ada Apa Dengan Cinta? mungkin masih kurang terpuaskan. Meskipun, mereka benar untuk memberikan diferensiasi dalam penuturan ceritanya dan itu cocok dengan kedua karakternya.

Sebagai sebuah film komedi romantis, Milly & Mamet bisa menghibur penontonnya. Lontaran komedi di dalam film ini terasa lebih terkontrol dibandingkan dengan beberapa film Ernest Prakasa sebelumnya. Sehingga, di saat yang tepat, punchline-nya akan mengena penontonnya. Milly & Mamet dipenuhi dengan banyak bintang yang menjadi karakter pendukung yang cukup berarti. Seperti karakter Jojo yang menarik untuk mendukung durasi 101 menit filmnya, meskipun bisa saja karakter ini digali lagi untuk menjadi perwakilan konflik yang lebih relevan dengan anak millennials yang skeptis tentang rumah tangga.


Dengan beberapa kekurangannya ini, Mily & Mamet masih membuktikan bahwa Ernest Prakasa punya  daya magisnya untuk membuat sebuah film. Ini tentu saja menjadi salah satu karya solid lainnya dari Ernest Prakasa. Selain menghibur, beberapa adegan klimaksnya juga bisa dijaga dengan baik dan berhasil bermain dengan emosi penontonnya. Begitu pula dengan beberapa pemainnya yang bermain dengan porsinya yang pas. Bahkan, Yoshi Sudarso pun bisa membaik setelah Buffalo Boys.

SPIDER-MAN: INTO THE SPIDER-VERSE (2018) REVIEW : Salah satu Film Spider-Man Terbaik


Setelah lisensi Spider-Manmenjadi bagian dari Disney, Sony Pictures tentu kehilangan salah satu pundi uang terbesarnya. Tetapi, Sony tak melepaskan semua lisensinya ke Disney, dia masih memiliki sebagian hak untuk mengontrol karakter Spider-Mansebagai karakter dari komik Marvel. Maka, muncul ide dari Sony Picturesuntuk membuat sebuah film animasi tentang karakter Spider-Man ini. Proyek ini tentu dianggap sebelah mata oleh penikmat film.

Spider-Man: Into The Spider-Verse menjadi proyek film animasi berdasarkan karakter Spider-Man terbaru dari Sony Pictures. Film ini disutradarai oleh Bob Persichetti, Peter Ramsey, dan Rodney Rothman. Film ini juga mendapatkan supervisi naskah dari Phil Lord yang mendapatkan bantuan penulisan dari Rodney Rothman. Ketika sudah cukup banyak karakter Peter Parker di dalam film Spider-Man, film ini mengambil arc character Miles Morales sebagai gantinya.

Meskipun, ketika trailer film ini keluar, masih banyak yang beranggapan bahwa sudah terlalu banyak film dari karakter Spider-Man yang dibuat oleh Hollywood. Spider-Man: Into The Spider-Versediramaikan oleh banyak bintang yang menjanjikan. Ada Jake Johnson, Hailee Steinfield, dan Mahershala Ali di pengisi suaranya. Serta, Shameik Moore sebagai pengisi suara karakter utamanya, dan masih ada banyak nama seperti Nicolas Cage, Zoe Kravitz, hingga Liev Schreiber.


Hingga diwaktu film ini rilis, banyak reaksi positif yang keluar saat itu. Beberapa orang bahkan ada yang menobatkan film ini sebagai film Spider-Man terbaik yang pernah dibuat dan salah satu film animasi terbaik tahun ini. Sebagai film animasi, Spider-Man: Into the Spider-Verse memang bisa memberikan visual animai yang berbeda dengan film-film animasi komersial pada umumnya dan memberikan warna baru dalam medium film animasinya.

Sebagai sebuah film Spider-Man, film ini memang belum bisa dikategorikan sebagai yang terbaik dari yang sudah ada. Salah satu yang terbaik mungkin lebih tepat, karena Spider-Man: Into The Spider-Verse adalah sebuah film yang sangat solid. Spider-Man: Into The Spider-Versememiliki ide cerita yang gila tetapi juga memiliki pengarahan cerita yang sangat mumpuni sehingga ide gila itu bisa berubah menjadi sebuah film yang keren luar biasa.


Spider-Man: Into the Spider-Verseini memang terfokus pada sosok Miles Morales (Shameik Moore), seorang murid pintar yang merasa terjebak di sekolahnya dan keluarganya. Dia merasa keluarganya tidak mendukung hobinya yang suka membuat mural. Sehingga, dia pergi ke rumah pamannya untuk melampiaskan hal itu. Sang paman bernama Aaron (Mahershala Ali) ini mengajaknya ke sebuah tempat agar melampiaskan keinginan Miles.

Miles melampiaskan semua hobinya ke dalam mural yang dia buat hingga dirinya tak sadar bahwa ada laba-laba mutan yang mengigitnya. Keesokan harinya, Miles pun memiliki perubahan dan kekuatan. Ya, cerita Miles Morales masih terasa memiliki cerita Spider-Mansecara generik. Tetapi ide gila itu muncul ketika konflik utamanya muncul. Memberikan sebuah nafas segar sekaligus tributekepada komik-komik Spider-Man yang pernah ada.  

Di mana di dunia Miles, Peter Parker (Jake Johnson) masih lah menjadi sosok Spider-Man yang diagungkan banyak orang. Datanglah sang musuh bernama Wilson Fisk (Liev Schrieber) yang sedang berusaha membuat mesin yang bisa membuat dunia dari dimensi lain saling berdatangan. Hal inilah yang membuat semua karakter Spider-Man yang pernah dibuat bisa datang berada di satu dunia. Mulai dari Spider-Gwen, Spider-Ham, Spider-Noir, dan Spider-Man Peter Parker lain yang berbeda.


Ide gila macam ini tentu akan sangat susah untuk dijadikan sebuah film live action. Mengumpulkan bermacam-macam Spider-Man dengan berbagai konfliknya, selain budget yang akan membengkak sehingga sangat berisiko, juga belum tentu ceritanya bisa tersampaikan dengan baik seutuhnya. Bob Persichetti, Peter Ramsey, dan Rodney Rothman berhasil membuat Spider-Man: Into The Spider-Versemenjadi sebuah film animasi yang rumit tetapi masih sangat nikmat untuk diikuti.

Kerumitan di dalam filmnya masih dalam taraf yang menyenangkan. Seakan mereka bertiga tahu, bila film ini dijadikan sebagai sebuah film animasi, masih ada target segmentasi anak-anak yang juga harus bisa dicakup. Terlebih, film animasi ini juga membawa karakter superhero yang sangat dikenal oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Mereka bertiga seakan secara pelan-pelan menuntun semua penontonnya agar menikmati setiap alur cerita beserta konfliknya yang sedang ditawarkan.


Tak hanya sekedar rumit, tetapi setiap karakternya juga bisa digali dengan baik. Akan ada rasa simpati yang muncul kepada setiap karakter Spider-Man yang muncul dan karakter-karakter pendukung yang semakin mengembangkan karakter Miles Morales sebagai karakter utama. Dengan pengembangan karakter dan penuturan yang tepat, film ini tak hanya sekedar menghibur dan menyenangkan penontonnya. Di saat yang tepat, Spider-Man: Into The Spider-Verseakan bisa menyentuh penontonnya.

Selain bagaimana film ini bisa menuturkan kisah rumitnya dengan baik, Spider-Man: Into The Spider-Verse juga memiliki visual yang unik dan menarik. Kecantikan setiap menit animasinya akan terasa sangat berbeda dibandingkan dengan film-film animasi pada umumnya. Tidak berusaha menjadikannya menjadi senyata mungkin, tetapi lebih kepada menjadikannya sebagai tribut gambar pada komik yang terlihat di setiap framing filmnya.


Spider-Man: Into The Spider-Versepun masih dipercantik lagi dengan balutan musik dan soundtrack yang nuansanya makin mendukung filmnya. Sehingga, tentu saja Spider-Man: Into The Spider-Versemenjadi salah satu tontonan yang mencuri perhatian di tahun ini ketika menuju akhir tahun 2018. Menjadi yang terbaik bukan salah satu inti dari film ini, tetapi menjadi salah satu yang terbaik dan unik sepertinya lebih tepat dengan tujuan Spider-Man: Into The Spider-Verse. Hal itu sesuai dengan pesan di dalam filmnya, bahwa semua orang bisa menjadi yang terbaik.

AQUAMAN (2018) REVIEW : Another DC Films and Their Mess


Setelah mendapatkan film ensembel pahlawan super dari DC yaitu Justice League yang dirilis tahun lalu, tentu banyak orang yang ingin tahu bagaimana cerita masing-masing pahlawannya. Untuk tahun ini, datanglah kesempatan dari sosok Aquaman yang mendapatkan kisahnya sendiri. Keberadaannya mungkin sudah mulai diperhatikan di Justice League. Itupun terlebih karena pemeran Aquamanadalah Jason Momoa yang lebih dahulu terkenal sebelumnya.

Proyek Aquaman ini sudah direncanakan cukup lama dengan adanya James Wan sebagai komando dalam pengarahan filmnya. Tentu ada nama-nama lain yang cukup menggugah selera penonton untuk menunggu Aquaman. Selain Jason Momoa, ada nama Amber Heard sebagai Mera yang sudah muncul di film Justice League. Lalu tentu saja Patrick Wilson sebagai aktor favorit James Wan, ditemani oleh Nicole Kidman, Dolph Lundgren, hingga William Dafoe.

Melihat rekam jejak James Wan dalam mengarahkan film mulai dari franchise Fast & Furious hingga film horor sukses The Conjuring, tentu memberikan sedikit rasa percaya dengan performa Aquaman nantinya. Terlebih, beberapa set up milik Worlds of DC ini bisa dibilang masih belum cukup kuat meskipun sudah mengeluarkan film ensembel pahlawan supernya. Apalagi secara apa yang ditampilkan di layar, sebenarnya Aquaman memiliki daya tariknya sendiri karena menceritakan tentang dunia bawah lautnya.


Naskah dari Aquaman ditulis oleh David Leslie Johnson-McGoldrick dan Will Beall yang berangkat dari ide cerita ramai-ramai dari James Wan sendiri dan produser Worlds of DC, Geoff Johns. Dengan turunnya sang produser dari Worlds of DC dalam proses membentuk ide cerita, seharusnya bisa membuat Aquamanmenjadi awal baru yang pas untuk melanjutkan linimasa yang ada. Sayangnya, dengan durasi yang sudah mencapai 143 menit, Aquaman tak bisa menyampaikan cerita yang dia mau.

James Wan mungkin bisa mentranslasikan keinginan film ini secara visual. Aquaman tak dapat dipungkiri memiliki konsep dunia dan visual yang sangat menarik untuk dilihat. Sayangnya, sebagai sebuah standalone film pahlawan super yang baru saja memiliki film pertamanya, Aquaman terlihat memiliki keinginan untuk secara instan membuat dunianya menjadi sangat besar. Sehingga, banyak sekali kisah yang ingin disampaikan hingga membuat 143 menitnya pun terasa tak cukup menampungnya.


Seharusnya, mulainya Aquamanbisa diceritakan dengan cukup sederhana. Dimulai ketika Atlanna (Nicole Kidman) yang terdampar di sebuah tepian. Dia ditemukan oleh seorang manusia biasa bernama Tom Curry (Temuera Morrison). Atlanna dan Tom pun pada akhirnya menjalin cinta lalu menikah dan lahirlah seorang anak laki-lakinya bernama Arthur Curry. Tetapi, Atlanna harus  kembali lagi ke Atlantis yang berada di dalam lautan, tempat dia tinggal sebelumnya.  

Arthur (James Momoa) yang sudah menjadi sosok dewasa didatangi oleh Mera (Amber Heard) untuk memberikan kabar tentang dirinya yang masih menjadi bagian dari penduduk Atlantis. Arthur yang sudah mengetahui dirinya sebagai seorang manusia berkekuatan super kembali ke Atlantis untuk mencari tahu silsilahnya. Keberadaan Arthur yang dicemooh karena hasil hubungan gelap Atlanna harus memperebutkan tahta kerajaan Atlantis yang menjadi haknya.


Dengan sinopsis cerita seperti itu, Aquaman tentu punya banyak plot yang bisa dikembangkan dalam satu film. Tetapi, Aquaman tak hanya berhenti tentang perebutan tahta saja, film ini harus ditambahi dengan datangnya musuh Aquaman dari kejadian masa lalu. Black Manta yang juga ikut mengejar Aquaman untuk membalaskan dendam. Dan inilah yang membuat 143 menit dari Aquaman menjadi sangat berantakan meski visualnya cukup menarik.

Aquaman mengenalkan 15 menit pertamanya dengan sangat baik. Penonton diajak untuk mengenal bagaimana Atlanna dan Tom bisa saling mengenal satu sama lain hingga hadirnya Arthur sebagai buah cinta mereka. Tetapi, hal itu ternyata hanya berhenti sampai di 15 menit pertama saja. James Wan tak melanjutkan kisah dasar dari sosok Aquaman ini agar penonton semakin dekat dengannya. Film ini seakan lupa sebuah fakta bahwa sebenarnya sosok Aquaman yang telah muncul di film-film sebelumnya ini masih belum dikenalkan dengan lebih rinci.

Hasilnya, ketika masuk ke dalam konflik utama dari film ini, akan ada missing link yang membuat kurangnya rasa menaruh simpati kepada karakter utamanya. Seakan tak menghiraukan, James Wan pun tetap melanjutkan Aquaman dengan dihajar oleh visual spectacle yang cukup menawan. Warna-warnanya memang tak bisa segelap film-film DC sebelumnya, sehingga Aquaman tentu masih memiliki visual yang cukup memanjakan mata.


Dengan pengenalan karakter yang belum matang, film ini memiliki konflik dengan intrik perebutan tahta yang memerlukan penggalian karakter lebih dalam seharusnya. Membahas tentang nepotisme dalam sebuah kerajaan tentu sebenarnya sangat menarik dalam sebuah film pahlawan super. Sayangnya, Aquaman membuat konflik semacam ini hanya sebagai aksesoris saja karena poin utamanya tetap berada di bagaimana menjadikan film ini sebagai ajang unjuk visual yang megah.

Masih berusaha untuk bertahan dengan konfliknya yang semakin rumit, ternyata film ini semakin merumitkan dirinya dengan menambahkan banyak karakternya. Bahkan, masih memiliki intensi untuk menambahkan karakter villain yang menjadi setup. Mungkin, Warner Bros dan DC sudah memiliki ancang-ancang dan visi ke depan untuk membuat seri-seri selanjutnya dari film ini. Sehingga, terlalu banyak membangun cerita yang berpotensi menjadi sekuel.


Dengan segala konflik-konflik yang merumitkan diri sendiri, Aquaman menyelesaikan konflik demi konfliknya dengan cara yang terlalu mudah. Film ini ditutup dengan cara yang hampir mirip dengan bagaimana Batman V Superman : Dawn of Justice menyelesaikan filmnya meskipun tidak seburuk itu. Andai saja Warner Bros dan DC mau untuk menurunkan sedikit ambisinya, membuat Aquamanbenar-benar lepas dari bayang-bayang Justice League yang sudah porak poranda itu, film ini mungkin akan lebih baik. Sayangnya, Aquaman lagi-lagi menjadi entrydalam film Worlds of DC yang masih berantakan.

RALPH BREAKS THE INTERNET (2018) REVIEW: Babak Permainan Terbaru Yang Lebih Besar

Kedatangan Wreck-It Ralphpertama sebagai karya dari DisneyAnimation Studios cukup membuat orang terkagum-kagum. Film animasi ini berani untuk menyadur berbagai macam budaya populer untuk dimasukkan ke dalam filmnya. Meskipun, film ini harus kalah saing di ajang bergengsi sebagai film animasi terbaik dengan Brave yang dirilis oleh DisneyPixar kala itu. Pendapatan box office untuk film ini pun sebenarnya tak terlalu besar. Bisa jadi, ini adalah salah satu film animasi underrated kala itu.

Tetapi, tahun ini Disneymemutuskan untuk membuatkan kesempatan kedua untuk Ralph agar kembali bersinar seperti film pertamanya. Rich Moore sebagai sutradara film pertamanya masih ikut andil di film keduanya dengan bantuan oleh Phil Johnston. Mereka juga merangkap sebagai penulis naskah seperti film pertamanya tapi kali ini Pamela Ribon ikut membantu untuk menuliskan petualangan terbaru dari sosok Ralph dan Vanelloppe ini.

Tentu saja John C. Reily dan Sarah Silverman kembali mengisi suara duo Ralph dan Vanelloppe. Tetapi, di film keduanya tentu lebih meriah karena ada beberapa nama baru yang terlibat. Mulai dari Gal Gadot, Taraji P. Henson, dan beberapa nama besar lain yang dijadikan sebagai cameo di film ini. Petualangan kedua dari Wreck-It Ralph kali ini bertopik Ralph Breaks The Internet. Ya, di era digital, tentu karakter permainan analog seperti Ralph dan Vanellope akan bersaing dengan permainan daring yang lebih fleksibel.


Ralph Breaks The Internetmengusung tema dunia daring yang sedang menyerang kehidupan semua orang saat ini. Tentu saja, akan muncul banyak sekali relevansi yang muncul di dalam film ini terlebih tentang dunia digital. Rich Moore dan Phil Johnston memvisualisasikan bagaimana cara kerja kehidupan dunia maya yang digandrungi oleh banyak orang ini ke dalam filmnya. Hasilnya, Ralph Breaks The Internet bisa menawarkan dunia digital yang sangat imajinatif untuk semua usia.

Bukan hanya sekedar visualnya yang imajinatif, tetapi Ralph Breaks The Internet juga punya penuturan cerita yang sangat menyenangkan untuk diikuti. Tak hanya bisa dinikmati untuk anak-anak saja, Ralph Breaks The Internet juga bisa dijadikan medium mencari keseruan dan kesenangan untuk orang dewasa karena Ralph Breaks The Internet menyajikan budaya populer di dalam filmnya dengan kuantitas yang lebih banyak dan lebih megah dibanding film pertamanya.


Petualangan mereka berdua dimulai ketika Vanellope (Sarah Silverman) merasa bahwa kehidupannya di permainan Sugar Rush sudah tak lagi ada yang berbeda. Dirinya merasa bahwa segala sesuatu yang dilakukan di Sugar Rush sudah mudah ditebak. Adanya keluhan dari Vanellope ini menggerakkan hati Ralph sebagai temannya. Dia berusaha untuk memberikan sedikit sentuhan kecil di permainannya agar Vanellope tak lagi bosan dengan kehidupannya di Sugar Rush.

Saat seseorang memainkan permainannya, Ralph mengubah sedikit apa yang ada di sana. Mengetahui hal ini tentu Vanellope sungguh senang bisa menemukan perubahan dalam permainannya. Sayangnya, hal ini berbuah buruk untuk kelangsungan permainan Sugar Rush. Permainan miliki Vanellope pun rusak dan harus dicabut dari Arcade. Tentu saja, Ralph dan Vanellope berusaha untuk memperbaiki keadaan dan tersesatlah mereka di dalam dunia yang disebut Internet.


Jika film pertamanya lebih kepada tribute terhadap permainan-permainan analog dan budaya populer yang ada, film keduanya adalah cara Ralph Breaks The Internetmemberikan pengertian tentang dunia digital. Rich Moore dan Phil Johnston berusaha untuk menjelaskan mekanisme tentang dunia digital yang semua berada di satu linimasa dengan sistem kerja yang lebih cepat. Menunjukkan bagaimana budaya pengguna internet di zaman sekarang yang memiliki banyak platform.

Meski dengan pesan yang berat, tentu saja Rich Moore dan Phil Johnston tahu benar takaran dan target segmentasinya. Ralph Breaks The Internet memiliki penuturan cerita yang sederhana meskipun sebenarnya cara bertuturnya lebih kompleks daripada yang terlihat di layar. Caranya adalah dengan memberikan sebuah petualangan seru yang bisa dinikmati oleh semua kalangan. Durasinya yang mencapai 115 menit pun berhasil dimanfaatkan menjadi ruang bagi karakternya untuk berkembang.

Ralph Breaks The Internet jauh berkembang dan menggali lebih dalam perihal pertemanan kedua karakter utamanya. Bagaimana keduanya saling mengikhlaskan dan menyadari bahwa setiap orang punya jalannya masing-masing untuk menjadi sosok yang lebih baik. Ralph dan Venellope menjadi sebuah pion untuk mengantarkan pesan tentang persahabatan itu. Menjadi sahabat harus ikut senang dengan perkembangan mereka, bukan malah menghalangi apa yang mereka inginkan.


Hingga, dalam poin tertentu di dalam filmnya, Ralph Breaks The Internet bisa memunculkan sebuah momen yang sangat emosional. Perjalanan Ralph dan Venellope di dunia internet juga diwarnai dengan bertemu karakter-karakter baru. Karakter pendukungnya juga menjadi momentum penting bagi karakter utamanya untuk berkembang. Seperti karakter Shank dan Yas yang masing-masing memiliki caranya sendiri untuk membentuk karakter Ralph dan Venellope.

Jangan lupakan bagaimana Ralph Breaks The Internet memberikan surat cinta kepada budaya populer terutama budaya Disney sebagai korporasi besar yang menjadi bagian dari masa kecil banyak orang. Semua karakter Disney Princess bisa hadir di dalam satu frame dengan kekhasannya masing-masing. Memberikan satire jokestentang bagaimana princessdiinterpretasi oleh masyarakat luas dengan berbagai problematika dan lagu-lagunya. Meski sudah muncul di salah satu trailernya, tetapi porsi para Disney Princess di dalam film ini ternyata cukup krusialn dan banyak  di dalam filmnya.

Kejeniusan Rich Moore dan Phil Johnston tentang memberikan tributekepada karakter Disney Princess adalah dengan memberikan satu lagu tema bagi Vanellope yang notabene adalah seorang putri juga di permainannya. A Place Called Slaughter Race menjadi lagu tema Vanellope yang digubah oleh Alan Menken yang sudah biasa membuat lagu untuk DisneyPrincess. Belum lagi, beberapa scoringmilik Henry Jackman juga mengkomposisi ulang beberapa nada lagu-lagu Disney Princess menjadi satu dan tentu saja musik dari Star Wars juga tak kalah ketinggalan lengkap dengan adegan yang memiliki nuansa yang sama.


Tak salah bagi kalian yang ingin sejenakmelepaskan penat dengan menonton Ralph Breaks The Internet. 115 menit yang dibuat oleh Rich Moore dan Phil Johnston untuk film punya petualangan yang seru, referensi budaya populer yang jauh lebih megah, serta kisahnya yang emosional menjadi amunisi yang lebih dari cukup untuk merebut hati penontonnya. Ralph Breaks The Internet tak hanya menyamakan kualitasnya dengan film pendahulunya, tetapi juga menjadi sebuah babak baru dalam permainan Ralph dan Vanellope yang lebih besar dan lebih baik dari pendahulunya. Sangat menyenangkan! Dan jangan beranjak dari kursi ya, karena ada 2 adegan di mid dan after credit (abaikan klip video Payung Teduh).