• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label Cut Mini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cut Mini. Tampilkan semua postingan

DUA GARIS BIRU (2019) REVIEW: Sebuah Ruang Diskusi Tentang Pendidikan Seksual Untuk Remaja


Nama Gina S. Noer mungkin sudah sering didengar bagi pecinta film Indonesia. Sudah banyak sekali naskah film yang dibuat olehnya. Tahun ini pun sudah ada Keluarga Cemara yang juga naskahnya ditulis olehnya. Serta, masih ada adaptasi film dari film Korea yang akan dirilis di kuarter terakhir tahun 2019 ini. Yang perlu diantisipasi adalah film selanjutnya dari Gina S. Noer tahun ini adalah debut dirinya untuk mengarahkan sebuah film.

Dua Garis Biru, film yang disutradarai serta ditulis sendiri naskahnya oleh Gina S. Noer ini sempat mendapatkan sorotan dari banyak pihak. Tentu karena secara premis sendiri, film perdana dari Gina S. Noer ini cukup berani untuk mengangkat isu ini di era yang apa-apa serba dipetisi. Membahas tentang pernikahan dini dan kehamilan di usia remaja tentu menjadi sesuatu yang dianggap merusak moral penontonnya. Padahal, tentu Gina S. Noer memiliki niat baik di balik premisnya yang cukup berani ini.

Dua Garis Biru dibintangi oleh dua aktor remaja terkenal, Angga Yunanda dan Zara JKT48. Serta, banyak aktor lainnya yang terlibat. Mulai dari Cut Mini,Dwi Sasono, Arswendy Bening Swara, dan kembalinya Lulu Tobing di layar lebar. Dengan banyaknya nama-nama yang terlibat dan kemasan trailer yang menarik, Dua Garis Biru tentu akan dinantikan oleh banyak orang. Hasilnya, Dua Garis Biru berhasil menyajikan sebuah drama coming of age dengan kompleksitas dan memiliki banyak tujuan yang baik di dalam filmnya.


Awal mula terjadinya konflik di Dua Garis Biru ini dari seorang muda mudi yang sedang jatuh cinta. Mereka adalah Bima (Angga Yunanda) dan Dara (Zara JKT48). Mereka terlihat sangat mencintai satu sama lain. Hingga suatu ketika di rumah Dara, mereka memutuskan melakukan sesuatu yang belum saatnya mereka lakukan. Tentu, kecerobohan mereka di masa remaja ini akan berdampak dalam hidup mereka nantinya.

Dan yang ditakutkan terjadi, Dara merasa bahwa dirinya sudah tidak menstruasi. Bima pun menyuruhnya untuk melakukan tes kehamilan dan ternyata Dara positif hamil. Tentu saja hal ini membuat mereka panik. Terutama Dara yang sudah menaruh mimpinya pergi ke korea untuk melanjutkan studinya. Mereka berdua pun akhirnya menyusun rencana agar kehamilan Dara tak menjadi bencana. Meskipun pada akhirnya, rencana mereka ketahuan juga.


Tentu saja, dengan cerita seperti ini, film Dua Garis Biru sudah mendapatkan kecaman dari banyak pihak yang hanya lihat dari trailernya saja. Padahal, jika mereka mau untuk menontonnya secara utuh sepanjang 115 menit, Dua Garis Biru ini tentu akan membuka banyak sekali ruang diskusi untuk penontonnya. Bukan hanya sekedar untuk membahas perilaku remaja, tetapi juga sebagai medium untuk membahas edukasi seksual yang banyak orang bilang tabu untuk dibicarakan.

Meski tabu, tetapi juga masih banyak sekali anak-anak remaja yang ceroboh melakukan hubungan seksual tersebut tanpa mengetahui dampaknya. Inilah yang berusaha Gina S. Noer tegaskan di dalam Dua Garis Biru. Bima dan Zara tentu menjadi pion karakter yang menjadi representatif ketidaktahuan remaja tentang penting dan butuhnya pendidikan seksual dalam hidup mereka. Meskipun mereka telah mendapatkan pendidikan tentang reproduksi di sekolah mereka.

Tetapi, hal itu tak diindahkan, cenderung dianggap sebagai sesuatu yang tak serius. Seperti dalam adegan di mana Dara sedang izin menenangkan dirinya di UKS. Gina S. Noer menempelkan sebuah simbol dalam adegannya. Dara membelakangi poster tentang reproduksi tersebut. Menunjukkan bahwa banyak sekali remaja ataupun sekolah yang hanya membahas sistem reproduksi dalam mata pelajarannya sebatas permukaan saja. Tak lagi membahas demi mendalam demi mendapatkan sebuah edukasi yang matang dan bisa sangat berdampak baik bagi para siswa dan siswinya.


Masih banyak sekali pesan-pesan yang secara implisit diberikan oleh Gina S. Noer di dalam naskah film Dua Garis Biru ini. Yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana Gina S. Noer menyampaikan pesan simboliknya yang puitis dan tak kehilangan esensi dari pesan itu sendiri. Hingga pada akhirnya, pesan itu masih bisa dipahami bagi mereka yang tak terlalu aktif mencari. Ini dia hal yang membuat performa Gina S. Noer dalam mengarahkan film debutnya sudah sangat menjanjikan.

Gina S. Noer tak terlalu sibuk menabur banyak simbol di setiap adegan di film Dua Garis Biru yang membuat penontonnya berinterpretasi sendiri. Tetapi, Gina S. Noer juga sering kali menabur banyak hati di dalam filmnya. Banyak sekali adegan di dalam Dua Garis Biru berhasil mengoyak emosi penontonnya. Tak perlu banyak teriakan dan ledakan emosi, cukup dengan pengadeganan yang sederhana tetapi diracik dengan pas. Hasilnya, Dua Garis Biru sangat efektif membuat penontonnya menitihkan air mata di beberapa adegannya yang luar biasa.


Pengarahan Gina S. Noer dalam Dua Garis Biru ini benar-benar diperhatikan. Kuliminasi emosi di adegan dengan tata teknis yang luar biasa hati-hati dalam setting UKS yang melibatkan banyak sekali karakternya ini menjadi salah satu adegan terbaik di perfilman Indonesia. Tak hanya karena adegan ini menggunakan teknik one shot, tetapi juga diarahkan dengan pas sehingga tragedi yang ada di dalam adegan itu terasa begitu nyata. Bahkan, bisa menyayat hati penontonnya.

Tentu, hal ini juga didukung oleh performa ensemble cast Dua Garis Biruyang luar biasa hebat. Mulai dari Angga, Zara, Cut Mini, hingga Lulu Tobing, mereka memerankan perannya dengan porsinya yang pas. Mereka mampu berkolaborasi dengan baik sehingga setiap adegan akan terasa meyakinkan. Apalagi Cut Mini yang berhasil mengajak penontonnya menyelami kesiapan mental dan batin atas kesalahan yang dilakukan anaknya. Hingga ada di satu adegan yang melibatkan interaksinya dengan Bima dan makanan favoritnya yang matanya mampu berbicara akan konflik yang terjadi di dalam dirinya itu.


Iya, Dua Garis Biru tak hanya berusaha menjelaskan tentang edukasi masalah seksual saja. Banyak isu-isu yang berusaha diangkat di dalam film ini. Mulai dari isu tentang kesenjangan sosial hingga permasalahan gender bahkan tentang agama. Mungkin isu yang diangkat inilah yang terlalu banyak sehingga dalam epilognya Dua Garis Biru akan terasa begitu cepat dan tumpang tindih dalam penyampaian pesannya.

Mungkin juga muncul sebuah generalisasi antara dalam isu kelas sosial yang berusaha diangkat oleh Dua Garis Biru. Tetapi, mungkin ini juga cara Gina S. Noer berusaha untuk memberikan keseimbangan sudut pandang untuk menyelesaikan masalah tentang hamil di luar nikah secara agama dan logika. Sehingga nantinya bisa memantik banyak ruang diskusi dari problematika ini yang penyelesaiannya bisa diterima dari dua sudut pandang tersebut. Bukankah itu tujuan utama kenapa Dua Garis Biru ini ada?

ORANG KAYA BARU THE MOVIE (2019) REVIEW: Proyeksi Mimpi Yang Cerdas dan Menghibur

Dengan adanya nama Joko Anwar yang terlibat dalam sebuah film, mungkin ada sebagian penikmat film yang langsung antusias. Nama Joko Anwar telah memberikan sebuah jaminan mutu untuk sebuah film. Meskipun, Joko Anwar hanya terlibat dalam penulisan naskahnya saja. Ambil saja contoh film Stip & Pensil yang diarahkan oleh Ardy Octaviand. Stip & Pensiltampil mengejutkan, menjadi salah satu film drama komedi satir yang sangat menghibur di tengah low profile-nya film ini.

Tahun ini, naskah milik Joko Anwar diarahkan oleh Ody C. Harahap dan kembali ke genre komedi. Setelah menyoroti dunia pendidikan, komedi satir kali ini sedang menyoroti kehidupan sosial menengah ke atas yang diakui oleh Joko Anwar terinspirasi dari mimpinya sendiri semasa kecil.  Proyek ini pun dibintangi oleh nama-nama yang tak sembarangan, mulai dari Raline Shah, Cut Mini, Lukman Sardi, Derby Romero hingga aktor cilik yang sedang naik daun bernama Fatih Unru dengan judul Orang Kaya Baru The Movie.

Orang Kaya Baru The Movie ini berada di bawah naungan Screenplay Films bersama dengan Legacy Pictures. Sungguh menarik ketika tahu Joko Anwar dan Ody C. Harahap bisa berada di bawah rumah produksi ini. Selanjutnya pun, kedua orang ini juga punya proyek terbaru bersama yaitu Gundala dan Hit N Run. Tetapi, mari kita bahas terlebih dahulu Orang Kaya Baru The Movie ini sebagai sebuah drama komedi satir yang dari trailernya terlihat sangat menarik.


Tak perlu disangsikan lagi, Joko Anwar dan film drama satir komedi sebenarnya sudah berteman sejak lama. Mulai dari Arisan!, Janji Joni, Quickie Express, hingga masih banyak lagi lainnya, Joko Anwar membuktikan bahwa dirinya memiliki kapabilitas untuk menulis sebuah drama komedi. Sehingga, tentu saja banyak orang yang antusias dengan kedatangan Orang Kaya Baru The Movie yang lahir dari tangan Joko Anwar dan pengarahan Ody C. Harahap yang suka solid di beberapa karyanya.

Dengan 96 menitnya, Orang Kaya Baru The Movie --yang terinspirasi dari mimpi Joko Anwar saat kecil --berhasil diproyeksikan dalam bentuk film layar lebar yang mampu menghibur penontonnya. Film sebagai salah satu fungi memproyeksikan mimpi dan melarikan diri dari realita yang ada, Orang Kaya Baru The Movie berhasil benar memaksimalkan fungsinya. Film ini pas untuk penonton yang sedang ingin melepaskan penat dan berangan-angan menjadi orang kaya dengan kadar humornya yang luar biasa kuat.


Kisahnya terpusat kepada kisah sebuah keluarga yang hidupnya serba pas-pasan. Ayah yang bekerja di bengkel (Lukman Sardi), seorang Ibu yang hanya menjual kue (Cut Mini), serta tiga anak yang sedang melanjutkan sekolahnya masing-masing. Tetapi, plot utamanya diceritakan oleh anak perempuannya bernama Tika (Raline Shah) yang mulai memimpikan dirinya menjadi orang kaya. Meskipun pada dasarnya, dia merasa hidupnya sudah serba cukup karena keluarganya yang selalu ada.

Tetapi, hidup mereka berubah 180 derajat ketika sang ayah harus meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Pada awalnya mereka merasa bahwa kehidupannya akan menjadi bencana karena keadaan ekonomi yang tidak mendukung. Hingga di suatu siang, seorang pengacara datang ke rumah mereka untuk mendapatkan sebuah kabar yang mengejutkan. Selama ini, ternyata sang ayah tak semiskin yang mereka kira. Sang ayah memiliki harta warisan yang mengubah mereka menjadi orang kaya baru untuk menjalani hidup selanjutnya.


Kisahnya ini sederhana, tentang seorang keluarga pas-pasan yang tiba-tiba berubah menjadi orang kaya. Kisah yang mungkin terjadi dalam sebuah mimpi seseorang saja ketika penat dalam menjalani hidupnya yang semakin begitu-begitu saja. Premisnya hanya mengembangkan dari pertanyaan “kapan aku bisa kaya ya?” yang muncul ketika seseorang sudah mulai lelah melakukan rutinitasnya dan ingin hidup lebih sejahtera. Selain muncul di dalam mimpinya, Joko Anwar tahu bahwa premis ini adalah problematika kelas menengah dan tahu benar cara mengembangkannya.

Tepat rasanya untuk membahas mimpi ini dalam film genre komedi sekaligus untuk menertawakan kehidupan dan Orang Kaya Baru The Movie tahu benar potensinya. Sebagai sebuah film komedi, Orang Kaya Baru The Moviehadir dengan bahan tertawaan yang tepat sasaran. Tak sekedar membuatnya sebagai film komedi dengan bahan bercandaan yang jatuhnya dipaksa, semua dialognya yang pintar itu muncul sebagai sebuah gong yang efektif bagi penontonnya untuk tertawa.


Begitu pula dengan adegan-adegan yang berusaha dideskripsikan oleh Joko Anwar di dalam film Orang Kaya Baru The Movie, muncul dengan mudahnya menjadi sesuatu yang bisa membuat orang terhibur. Tentu, tujuan film ini sebagai sebuah film komedi sudah bisa dilaksanakan dengan baik. Hanya saja, pengarahan oleh Ody C. Harahap kali ini mungkin belum serapi itu untuk bisa mengembangkan lagi naskah milik Joko Anwar yang sudah ditulis dari hati ini.

Ada beberapa kontinuitas adegan yang mungkin belum terkoneksi satu sama lain. Sehingga, dalam durasinya yang mencapai 96 menit, membuat beberapa timeline cerita di dalam film ini terasa belum rinci. Keterbatasan durasi mungkin menjadi penyebab beberapa kisahnya belum benar-benar berkembang. Ada beberapa kisahnya yang mungkin terasa terlalu cepat untuk dituturkan dan menemukan konklusinya dengan cepat.

Jika saja digali lebih kuat lagi, kisahnya mungkin tak hanya sekedar menghibur tetapi juga memiliki rasa emosional yang bisa lebih berdampak ke penontonnya. Bukan berarti hasil akhirnya tak emosional, tentu saja Orang Kaya Baru The Movie punya hal itu. Hanya saja, bisa saja hal itu akan tampil lebih kuat dari yang sudah ada. Tentu saja, itu berkat jajaran pemainnya yang menampilkan performa luar biasa terutama untuk Cut Mini yang sebagai pemeran pendukung tetapi memiliki nyawa utama di dalam filmnya.


Sebagai sebuah film komedi, Orang Kaya Baru The Movie menyanggupi tujuannya untuk menghibur penontonnya dengan baik. Selain itu, film ini juga memaksimalkan fungsinya sebagai media untuk melarikan diri dari realita yang pas dengan genrenya. Memproyeksikan mimpi gila Joko Anwar bisa menjadi sajian yang menarik seperti ini. Apalagi bila diperhatikan lagi, sebuah dialog kunci dari seorang karakternya menjadi penanda, bahwa film ini adalah selebrasi dari dua genre film yang dipersatukan, persis seperti film ini sendiri. Drama keluarga yang dekat, tetapi komedinya menghibur. Cerdas!