• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.

EIFFEL IM IN LOVE 2 (2018) REVIEW : Kisah Cinta Pasangan Tak Sempurna Yang Manis


Kedatangan produk-produk nostalgia ke layar lebar ini memang telah menjadi tren di perfilman Indonesia. Nyatanya, amunisi seperti ini adalah sebuah senjata yang tepat guna untuk mendatangkan banyak penonton. Terlebih ketika Ada Apa Dengan Cinta? 2 berhasil meraup 3,5 juta penonton dan berbagai rumah produksi pun berlomba-lomba untuk mencari amunisinya mengembalikan memori lama penonton. Hal ini yang dilakukan oleh Soraya Intercine Films di tahun 2018.

Kisah cinta Adit dan Tita ini memang pernah menjadi salah satu box office hit di Indonesia kala itu. Eiffel I’m In Love menjadi amunisi utama dari Soraya Intercine Films untuk mengembalikan memori penontonnya yang ingin tahu seperti apa mereka sekarang. Sebenarnya, jika ditilik lebih lama lagi, Eiffel I’m In Love sudah memiliki lanjutan ceritanya dengan cast yang tentu saja berbeda lewat Lost in Love. Tetapi, film tersebut dianggap sebagai sebuah angin lalu dan Soraya Intercine Films tetap memutuskan untuk membuat sekuel dari kisah cinta Adit dan Tita.

Cast dari film ini masih tetap sama yaitu Samuel Rizal dan Shandy Aulia. Hanya saja, Eiffel I’m In Love 2 kali ini memiliki pilot yang berbeda. Rizal Mantovani kali ini memegang kendali mau di bawa ke mana kisah cinta Adit dan Tita kali ini. Tak bisa dipungkiri mungkin banyak orang yang mulai ragu dengan bagaimana Rizal Mantovani mengarahkan kisah cinta Adit dan Tita kali ini. Hal ini dikarenakan beberapa kail Rizal Mantovani sering meleset dalam mengarahkan sebuah film.


Beruntungnya, Eiffel I’m In Love 2 masih memiliki nafas yang sama dengan film sebelumnya. Mungkin, Eiffel I’m In Love 2 tak menawarkan sesuatu yang baru di dalam filmnya. Plot ceritanya masih saja memiliki unsur klise film cinta-cintaan yang ada. Tetapi, Eiffel I’m In Love 2 berhasil memainkan perannya sebagai sebuah film sekuel. Ada konsistensi dan perkembangan setiap karakternya yang membuat Eiffel I’m In Love 2 ini tampak sangat hidup di durasinya selama 115 menit.

Eiffel I’m In Love 2 memang sebagai sebuah film utuh tak bisa tampil secara sempurna. Tetapi, kedigdayaan film ini tampil karena bagaimana kepiawaian naskah yang ditulis oleh Donna Rosamayna ini berhasil merajut kisah cinta Adit dan Tita tampil manis. Menghidupkan dan mempertahankan karakter Adit dan Tita yang sudah terbentuk di film pertamanya di dalam film keduanya. Tetapi, juga memberikan sedikit gubahan dari dalam karakternya yang memberikan relevansi.


Ini dia kisah Adit dan Tita yang memiliki rentang 12 tahun dari film pertamanya. Tita (Shandy Aulia) sudah berhasil menyelesaikan sekolahnya dan menjadi dokter hewan. Tetapi, di umurnya yang sudah tak lagi muda, Tita memiliki krisis. Di saat semua teman-teman seusianya sudah memiliki suami, Tita masih saja sendiri karena Adit (Samuel Rizal) tak segera melamarnya. Tita pun mulai sedih apalagi jika diingat bahwa mereka masih saja sering bertengkar karena masalah-masalah sepele.

Lalu, ada kabar bahwa Tita dan keluarganya harus pindah sementara ke Paris. Tita pun sangat bahagia karena pada akhirnya dia bisa dekat dengan Adit. Tetapi, dekat dengan Adit bukan berarti masalah ketidakpastian akan hubungan mereka berakhir begitu saja. Adit dan Tita semakin sering ribut tiap hari di saat sering bertemu. Tita pun merasa bahwa Adit sudah tak lagi sayang dengannya dan masalah-masalah lain pun muncul dalam hubungan mereka.


Kisah cinta Adit dan Tita memang tak selalu mulus, begitupula dengan kemasan yang ada di dalam film Eiffel I’m In Love 2. Beberapa bagian di dalam film ini memang berjalan tak mulus apalagi dengan durasi yang mencapai 115 menit. Konflik yang terjadi di dalam film ini memang tak banyak, tetapi memiliki perjalanan yang cukup panjang. Efeknya, Eiffel I’m In Love 2 memiliki tempo yang melambat di pertengahan filmnya.

Naskah yang ditulis oleh Donna Rosamayna ini memang seharusnya bisa membuat Eiffel I’m In Love 2 menawarkan cita rasanya sendiri sebagai sebuah film drama romantis. Banyak momen-momen manis yang tergambar dengan baik dibantu oleh pengarahan oleh Rizal Mantovani. Tetapi sayangnya, Rizal Mantovani tak bisa secara signifikan memberikan kekuatan untuk mendukung naskah yang sudah baik-baik ditulis dengan rapi.


Muncul beberapa bagian di dalam filmnya yang tak bisa mendukung plot cerita utamanya. Beberapa adegan pun muncul dengan transisi yang tak mulus dan memberikan suasana canggung yang tak mendukung. Terutama ketika plot cerita itu harus digerakkan oleh karakter-karakter pendukung selain Tita dan Adit. Inilah yang menjadi kendala utama dari Eiffel I’m In Love 2. Tak ada pemain yang bisa memiliki performa yang sama dengan Shandy Aulia dan Samuel Rizal. Entah, apakah ini menjadi tujuan utama dari sekuel ini karena performa mereka sangat mirip dengan film pertamanya.

Tetapi, tak bisa dipungkiri bahwa Eiffel I’m In Love 2 punya banyak asupan adegan manis yang bisa membuat penonton terbawa arus suasana yang ada. Cita rasa manis itu didukung dengan tone warna pastel dari filmnya dibalut dengan kemegahan visual dari Yunus Pasolang. Pun, dengan lagu serta musik dari Anto Hoed dan Melly Goeslow yang juga mumpuni mendukung suasana romantis kisah Adit dan Tita di layar perak.


Dengan adanya asupan-asupan adegan manis di dalam Eiffel I’m In Love 2, film yang dirilis di bulan kasih sayang lalu ini sangat pas ditonton bersama pasangan. Pun, bagi mereka yang ingin kembali merasakan sensasi nostalgia kisah cinta Tita dan Adit 12 tahun silam. Dengan konsistensi karakterisasinya dan perubahan kedewasaannya yang mengikuti zaman, tentu hal ini membuat penonton yakin bahwa pasangan Tita dan Adit ini nyata dan begitu pula cinta kasih mereka.

BLACK PANTHER (2018) REVIEW : Genre Superhero dan Urgensinya Tentang Representasi dalam Media


Menjajaki fasenya yang semakin dekat dengan akhir dari fase ketiganya, Marvel menawarkan sebuah representasi lain dari sosok manusia super. Berasal dari manusia super yang kedatangannya hanya muncul sebagai cameo di dalam Captain America : Civil War, Black Pantherpada akhirnya dikagumi oleh banyak orang. Tentu, tak sedikit orang yang menginginkan superhero yang masih dalam kategori baru ini memiliki filmnya sendiri.

Maka, untuk menyanggupi kemauan penonton, Black Panther hadir memiliki filmnya sendiri untuk disaksikan oleh banyak orang di dunia. Menggaet sutradara handal yang pernah mengarahkan film-film kecil seperti Fruitvale Station dan Creed, Ryan Coogler. Tentu, Black Panther tak hanya sekedar film yang hadir sebagai kemauan Marvel mengenalkan produk superhero baru dalam ranah sinematik. Tetapi juga sebagai jawaban atas representasi yang ada di dalam film-film serupa di Hollywood.

Minimnya representasi yang tepat atas kaum people of color, menjadikan Black Panther sebagai sebuah mega hit blockbuster yang rilis di bulan Februari dengan pencapaian yang sangat fantastis. Mendulang sukses dalam segi kuantitas ternyata juga berbanding lurus dengan kualitas yang dihasilkan oleh Ryan Coogler di dalam film Black Panther. Film ini mendapatkan pujian yang sangat luar biasa baik dari kritikus maupun dari pencinta film.


Black Panther main tak hanya dalam memuaskan ranah politik minoritas yang menjadi isu terkuat di luar sana. Sejatinya, sebagai sebuah film manusia super, Black Panther benar-benar memberikan sebuah hal yang baru di dalam filmnya. Tak sekedar menunjukkan Black Panther sebagai sosok superheroyang baru, tetapi juga memberikan pendekatan baru dalam kemasannya. Sehingga, Black Panther tentu adalah sebuah euforia bagi pecinta adaptasi komik manusia super sekaligus sebuah pesta representasi yang tepat.

Tak seperti Thor : Ragnarok, Spider-Man : Homecoming, maupun Guardians of the Galaxy yang hanya mengemas formula usangnya dengan cara mengutak-atik genre-nya, Black Panther bermain jauh daripada itu. Film superhero arahan Ryan Coogler ini memasukkan unsur budaya yang kental sehingga bisa memberikan nuansa yang sangat berbeda di film-film superheroyang ada, bahkan untuk jajaran film Marvel sendiri. Meskipun, sebenarnya Black Panther tetap bermain di ranah-ranah cerita yang sudah pernah dipakai dalam film-film bertema medieval.


Wakanda, sebuah negara yang didiami ini telah memiliki rajanya hingga suatu ketika sang raja meninggal. T’Challa (Chadwick Boseman) sebagai anak lelaki dari sang raja tentu secara tak langsung mewarisi tahta tertinggi di Wakanda. Tetapi, keberadaan T’Challa pada awalnya sangat diragukan untuk menjadi raja. Beberapa pihak masih belum terima bahwa T’Challa mampu untuk memimpin Wakanda yang terdiri dari berbagai suku dan budaya yang berbeda.

Kepantasannya sebagai seorang raja diuji dengan adanya Vibranium yang sedang diincar oleh banyak pihak yang ingin menyalahgunakan kegunaannya. T’Challa pun pergi memburu orang tersebut dibantu oleh Okoye (Danai Gurira) dan Nakia (Lupita Nyong’o). Tetapi, orang-orang yang sedang memburu Vibranium tersebut memiliki satu benang merah ke satu orang bernama Erik Killmonger (Michael B. Jordan) yang ternyata adalah seseorang dari masa lalu negara Wakanda ini.


Perebutan tahta dan kekuasaan yang terjadi kepada T’Challa mungkin sudah pernah dialami oleh beberapa karakter di dalam film-film dengan genre yang berbeda. Bahkan yang paling dekat adalah plot utama dari Thor yang membahas tentang mitos-mitos kerajaan yang mungkin sama. Perbedaannya adalah bagaimana Ryan Coogler memberikan identitas bagi filmnya sehingga memiliki sentuhan yang berbeda dengan film-film superhero yang ada.

Adanya nilai-nilai etnis yang sangat beragam dan begitu kental masuk ke dalam film Black Panther. Membaur menjadi satu dengan plot utamanya sehingga menghasilkan perpaduan menarik yang membuat Black Panther memiliki cita rasa yang lebih signifikan berbeda dengan yang lain. Representasi yang tepat akan kekuatan people of color yang juga bisa memiliki kehidupan yang layak dengan orang-orang yang ada di sekitarnya ini terangkum dengan kemasan yang sangat menyenangkan.

Tak ada pretensi dalam Black Panther untuk menjadi sebuah film yang penuh akan muatan pesan dan perwakilan yang berat. Ryan Coogler masih tahu porsinya dan ingat bahwa Black Panther bukanlah drama satir dengan muatan pesan yang kuat seperti film-film yang pernah dia tangani sebelumnya. Dengan berbagai kekentalan budaya dan representasi yang tepat tersebut, Black Panther masih menjalankan misinya sebagai film manusia super yang layak untuk dikonsumsi semua pihak. Tetapi, masih memiliki signature khas dari Ryan Coogler yang berusaha memberikan urgensi representasi dalam media tentang people of color


Mungkin perjalanan cerita di paruh awal tak semulus yang dibayangkan banyak orang. Begitu pula dengan sekuens aksinya yang mungkin masih patah sehingga ada beberapa yang tensinya tak terjaga. Ryan Coogler menempatkan tensinya ke dalam kekuatan emosional bercerita tentang rumitnya perebutan tahta yang ada di Wakanda. Ini mungkin secara tak sadar membuat konfliknya terulur tetapi sesuai dengan kerumitan yang memang ditawarkan ke dalam konfliknya.

134 menit di dalam film Black Panther pun secara efektif terjalin dengan baik mulai dari performa deretan pemainnya hingga permainan gambar serta musik yang sangat dikelola dengan baik. Injeksi komedinya memang tak sebanyak Thor : Ragnarok, tetapi memiliki keefektifan yang maksimal untuk menghibur penontonnya. Tak juga lupa nilai dan desain produksi di dalam Black Panther yang diperhatikan dengan sangat detil. Sehingga, setiap karakternya memang sejatinya memiliki identitasnya masing-masing. Penonton akan dengan mudah membedakan setiap karakternya.


Black Panther memang hadir untuk menjadi sebuah pesan bagi khalayak tentang pentingnya sebuah representasi dalam media terlebih terhadap kaum people of color. Lewat film Black Panther, pesan ini seharusnya bisa secara efektif menimbulkan perilaku signifikan dari penonton dengan realita yang ada. Misinya memang sangat berat tetapi nyatanya sebuah pesan tentang representasi ini bisa dikemas semenarik mungkin untuk bisa diterima dan bahkan menghibur penontonnya. Sebuah perpaduan yang menarik. 

DILAN 1990 (2018) REVIEW : Kompilasi Rayuan Maut Yang Manisnya Sementara


Menjadi sebuah novel yang laris manis, Dilan 1990 karangan dari Pidi Baiq ini tentu dengan mudah menjadi buah bibir di berbagai kalangan. Banyak hal yang berusaha disampaikan oleh Pidi Baiq lewat bukunya, terutama tentang nostalgia masa-masa putih abu-abu dengan kisah cinta monyetnya. Bukunya pun tak hanya berhenti di seri pertama, tetapi juga memiliki seri lain untuk melengkapi kisah Dilan dan Milea sebagai dua sejoli yang sedang mabuk cinta.

Dengan bekal hal-hal yang sudah menjadi buah bibir, akan dengan mudah bagi buku milik Pidi Baiq ini untuk segera mendapatkan lirikan dari produser untuk diadaptasi menjadi film. Tentu saja, di tahun 2017, film ini dihebohkan lewat pemilihan Iqbaal Ramadhan sebagai Dilan yang dianggap fansnya tidak cocok. Meski begitu, pembuatan film tetap dilaksanakan hingga Januari 2018 film pun dirilis. Film ini disutradarai oleh Fajar Bustomi berkolaborasi dengan sang empunya Dilan yaitu Pidi Baiq. Serta gadis cantik bernama Milea diperankan oleh Vanesha Prescilla sebagai ajang debutnya.

Segmentasinya tentu adalah para remaja yang di masanya sedang berkutat dengan masalah percintaan, perjombloan, dan segala hal yang berbau serupa. Belum lagi, target generasi 90an yang juga ingin merasakan kembali suasana remaja sekolah menengah umum yang bisa dirangkul untuk menonton film Dilan 1990 ini. Hingga, tentu saja film ini berpotensi menjadi sebuah film yang fenomenal dan mendatangkan banyak sekali penonton.


Secara kuantitas hingga hari kesebelas, Dilan 1990 sudah hampir mencapai 4 juta penonton. Lantas, apakah Dilan 1990 ini bisa menjadi sebuah terobosan baru dalam film kisah cinta remaja yang ada? Maka, jawabannya adalah belum bisa. Dilan 1990 tak memberikan sebuah babak penceritaan yang segar bagi penonton remaja maupun penonton generasi 90an. Dengan segala kefenomenalannya, tentu Dilan 1990 masih memiliki potensi yang lebih bisa digali lagi dari performanya saat ini.

Problematika Dilan 1990 sebagai sebuah film adaptasi adalah bagaimana penonton awam yang tak mengenal Dilan 1990 pun tak merasa memiliki urgensi untuk mengetahui siapa Dilan dan Milea. Dilan 1990 ini hanya akan mengindahkan para penggemar bukunya yang sedang menunggu di mana letak kutipan kata-kata favorit mereka di dalam buku untuk siap dikatakan oleh pemainnya. Lantas, Dilan 1990 pun terlalu tenang meskipun sebenarnya dia memiliki konflik yang perlu untuk ditampilkan.


Kisah mereka hanya terpaku tentang bagaimana Milea (Vanesha Prescilla), seorang anak baru di sebuah sekolah menengah umum di Bandung yang sedang berusaha beradaptasi di sana. Hingga sebulan Milea berada di sekolah tersebut, ada sosok tengil yang berusaha keras untuk mendekati dirinya meskipun Milea seharusnya sudah punya kekasih di Jakarta. Dia adalah Dilan, lelaki tengil itu ternyata adalah seorang panglima jendral dari geng motor terkenal di Bandung.

Tak hanya terkenal sebagai panglima jendral sebuah geng motor di Bandung, Dilan pun terkenal sebagai pembuat onar di sekolah. Meski begitu, sikapnya berbeda jika sudah berhadapan dengan sosok cantik Milea. Dengan Milea, keunikan sosok Dilan pun terbongkar. Sifat pembuat onarnya tak lagi terlihat kentara lalu Milea mengenalnya sebagai sosok yang manis. Meskipun sudah punya kekasih, Milea tetap merasakan getaran lain saat bertemu dengan Dilan.

Di sinilah Dilan 1990 berkutat, berusaha menampilkan bagaimana Dilan dan Milea saling bercengkrama, mengalami masa penjajakan sebelum pada akhirnya mereka merasakan debaran asmara. Dilan 1990 hanya sibuk untuk mengeluarkan gombalan-gombalan maut yang kekinian dan relevan dengan remaja zaman sekarang. Dialog-dialognya bukan dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang puitis atau bahkan secara hiperbolis dikatakan sebagai dialog jenius. Unik adalah kata yang pas untuk mewakili dialog-dialog yang ada di film ini


Kekuatan Dilan 1990 hanyalah keunikan dialognya yang mungkin akan berhasil merebut hati saat penempatannya bisa pas. Saat satu jam pertama, Dilan 1990 mengeluarkan segala sinarnya. Menjadi sebuah film remaja yang manis dan menyenangkan dengan segala tingkah laku Dilan dan Milea yang unik. Tetapi, durasi 115 menitnya baru saja diambil setengah, hingga di satu jam berikutnya Dilan 1990 sudah tak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan penontonnya yang sudah gelisah kebosanan.

Permainan kata-kata dari Dilan untuk merayu Milea tak lagi punya makna. Kesan manisnya pun dengan cepat memudar dan membuat penontonnya sudah tak lagi ingin mendengarkan kata-kata manis dari mulut Dilan. Kesan canggung di antara keduanya pun semakin terasa. Dilan dan Milea tak lagi bisa memikat penontonnya seperti saat mereka masih berada di satu jam pertama. Plotnya yang sederhana pun semakin menipis tanpa ada sebuah letupan berarti yang bisa menjaga penontonnya.

Banyak beberapa adegan yang hadir tanpa memiliki arti. Hanya sebuah adegan tak berarti untuk semakin melengkapi durasi. Hal ini berdampak dengan bagaimana Dilan 1990 pada akhirnya sudah tak lagi punya hasrat untuk bisa dikagumi. Sehingga, penyelamat utama dari film ini hanyalah performa secara terpisah dari Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla yang berhasil menghidupkan karakter Dilan dan Milea dengan apik.


Beberapa detil kecil dari ekspresi Iqbaal Ramadhan saat memerankan Dilan ini muncul dengan natural dan dengan mudah mematahkan anggapan penggemarnya yang meremahkan Iqbaal sebagai sosok Dilan. Iqbaal Ramadhan tumbuh menjadi aktor remaja yang sangat menjanjikan setelah debut akting remajanya lewat film Ada Cinta di SMA bisa memukau banyak penontonnya. Meski terkadang ikatannya dengan Vanesha Prescilla masih naik dan turun, tetapi mereka berdua adalah nyawa dari Dilan 1990.

Dengan berbagai kelemahannya, Dilan 1990 mungkin akan memuaskan penggemarnya dan bahkan remaja masa kini yang suka dengan kata-kata rayuan di dalam film ini. Tetapi sayangnya, Dilan 1990 yang sangat mahsyur ini masih jauh untuk bisa menetapkan dirinya sebagai trademark generasi millenial sebagai perwakilan pasangan remaja yang bisa disandingkan dengan Rangga dan Cinta atau bahkan Adit dan Tita. Dilan 1990 hanyalah sebuah kumpulan rayuan gombal yang terlalu berlebihan. Seperti rayuannya, Dilan 1990 hanya memunculkan nuansa manis yang sifatnya sementara.

JUMANJI : WELCOME TO THE JUNGLE (2017) REVIEW : Old Game, New Look, Generic Taste


Mungkin ada beberapa dari penonton yang telah tumbuh menjadi dewasa dengan Jumanji. Ya, film tentang permainan papan yang menjadi nyata itu sudah sangat melegenda pada zamannya. Sehingga, ada beberapa orang yang mungkin tak menghiraukan rencana Sony Pictures untuk menghadirkan kembali kisah tentang permainan tersebut. Tetapi, Sony Pictures masih saja berusaha optimis dengan rencananya menghidupkan kembali Jumanji.

Tentu, para orang yang sudah tumbuh dengan Jumanji akan merasa ragu dengan apa yang dilakukan Sony Pictures. Banyak yang skeptis dengan bagaimana performa Jumanji : Welcome To The Jungle ini nantinya. Tetapi, Sony Pictures tetap percaya diri dengan performa Jumanji : Welcome To The Jungle. Dibintangi oleh banyak pemain terkenal seperti Dwayne Johnson, Kevin Hart, Karen Gillan, dan Jack Black, Jumanji : Welcome To The Jungle disutradarai oleh Jake Kasdan yang biasa menangani film komedi.

Jumanji : Welcome To The Jungleini rupanya tak digubah menjadi sebuah remake. Tetapi, film ini adalah sebuah kisah lanjutan yang diadaptasi lebih kekinian agar penonton baru pun bisa lebih relevan dengan apa yang ditampilkan. Adaptasinya pun mengubah permainan papan menjadi permainan konsol dengan cerita yang juga mengikuti perubahan tersebut. Secara cukup mengagetkan, Jumanji : Welcome To The Jungle memiliki performa yang pas untuk dapat dinikmati sebagai sebuah film yang sangat menghibur penontonnya.


Inilah kisah Jumanji : Welcome To The Jungle yang sedang menyasar sosok remaja sekolah menengah atas. 4 remaja yang sedang mendapatkan hukuman dan terjebak di satu ruangan untuk segera mereka bersihkan. Mereka adalah Spencer (Alex Wolff), Fridge (Ser’Darius Blain), Bethany (Madison Iseman), dan Martha (Morgan Turner). Di tengah mereka sedang membersihkan ruangan tersebut, mereka menemukan sebuah permainan konsol tua dan memutuskan untuk bermain dengan permainan tersebut.

Setelah memilih karakter permainan sesuai dengan yang mereka pilih, sesuatu aneh terjadi dengan diri mereka. Permainan tersebut menghisap keempat remaja tersebut dan masuk ke dalam dunia permainan yang datang dari antah berantah. Di sana, mereka menjadi sosok yang mereka pilih. Mereka tak bisa keluar dari permainan tersebut. Satu-satunya jalan keluar adalah dengan menyelesaikan permainan tersebut yang ternyata bukan sesuatu yang mudah.


Jumanji : Welcome To The Junglememiliki konsep cerita yang sama dengan film pendahulunya. Sehingga, secara cerita pun sebenarnya tak ada hal baru yang berusaha ditampilkan oleh film ini. Tetapi, Jumanji : Welcome To The Junglediberkahi dengan jajaran aktor dan aktris yang berhasil membuat 115 menit filmnya memiliki performa yang sangat menyenangkan. Keputusan pintar dari Jake Kasdan untuk tak terlalu lama menceritakan kisah awal mula dari Jumanji : Welcome to the Jungle ini.

Cerita latar belakang setiap karakter dan alasan-alasan kenapa mereka bisa terjebak ke dalam permainan ini bisa disampaikan dengan cara yang pas. Kesibukan lainnya yang perlu untuk diperhatikan adalah bagaimana keempat remaja yang terjebak dengan karakter pilihan mereka bisa keluar dari permainan tersebut. Jumanji : Welcome To The Junglepunya segala keseruan dalam ceritanya yang bisa diandalkan. Sehingga, penonton akan sangat dengan mudah terhibur dengan apa yang ditampilkan oleh Jake Kasdan.

Punya paket lengkap dalam amunisinya untuk menghibur penonton lewat petualangan yang seru di dunia Jumanjiyang baru. Segala petualangan tersebut pun bisa semakin dinikmati karena dalam naskahnya diinjeksi lagi dengan humor segar yang semakin membuat Jumanji : Welcome To The Jungle ini terlihat segar. Segala keseruan itu tak hadir begitu saja, hal ini tentu berkat performa dari Dwayne Johnson, Kevin Hart, Jack Black, dan Karen Gillan yang berhasil meyakinkan penontonnya bahwa mereka tetap empat remaja yang sedang terjebak dalam dunia permainan konsol.


Pun, pemain pendukung seperti Nick Jonas pun bisa bermain dengan sangat baik. Sehingga, kelima karakter dalam Jumanji : Welcome To The Jungle ini memiliki ikatan emosi yang sangat baik. Ini pula yang mengangkat setiap sekuens aksi dan petualangan dalam Jumanji : Welcome To The Jungle sehingga dalam perjalanannya film ini tak terasa hambar. Meskipun, ada beberapa minor yang membuat Jumanji : Welcome To The Jungle tak selalu bisa menjaga tensinya dengan kuat. Pun, humor yang ada di dalam film ini pun beberapa kali memudar.

Selain itu, ikon legendaris tentang permainan papan yang berubah jadi nyata ini pun tak lagi diulik lebih dalam lagi. Tak ada penghormatan lain tentang permainan papan Jumanji yang bisa membuat penontonnya yang tumbuh dengan film tersebut bisa merasakan rasa nostalgia. Menyaksikan Jumanji : Welcome To The Jungle pun hanya seperti menyaksikan film action pada umumnya meskipun sama-sama menggunakan nama besar Jumanji untuk filmnya dan ini cukup disayangkan sekali.


Tetapi, bagi yang tak terlalu mengenal Jumanji, tentu saja film terbaru dari Jake Kasdan ini adalah sebuah film yang akan menghibur Anda dengan sangat baik. Jake Kasdan sepertinya ingin membuat Jumanji : Welcome To The Junglesebagai sebuah film lanjutan yang bisa dinikmati secara universal tanpa perlu memikirkan sensasi nostalgia dengan beberapa easter eggs yang berlebihan. Cukup memberikan pengertian tentang seperti apa Jumanjipada zamannya. Ya, usahanya itu harus diakui cukup berhasil, tetapi sebagai film dengan nama besar Jumanji, film ini tak bisa mewarisi kelegendarisannya.

INSIDIOUS : THE LAST KEY (2018) REVIEW : Trivia Kisah Elise dan Masa Lalunya


Franchise film horor satu ini memang sudah banyak mendapatkan antisipasi dari penontonnya. Sejak filmnya yang pertama, Insidious mendapatkan word of mouth yang sangat kuat. Tentu saja hal ini berpengaruh dengan bagaimana sang rumah produksi berperilaku untuk memberikan lampu hijau kepada film ini. Sukses secara finansial pun menjadi satu-satunya alasan kenapa Insidiousmasih bertahan meneruskan sisa-sisa warisan cerita yang bisa digunakan.

Meskipun kekuatan seri ini sudah melemah di seri ketiganya, nyatanya Insidious masih harus bangun dari tidur untuk membuat sebuah kisah baru. Maka, muncullah Insidious : The Last Key yang kali ini dibawahi oleh Sony Pictures dalam proses distribusinya. Pemegang kunci Insidious : The Last Key  ini diserahkan kepada Adam Robitel yang sudah pernah menangani sebuah film horor sebelumnya berjudul The Taking of Deborah Logan. Dibantu oleh Leigh Whannell yang sudah terbiasa menuliskan cerita-cerita dari Insidiouspertama.

Bisa jadi orang sudah lelah mengikuti seri dari franchise ini, tapi nyatanya Insidioussudah memiliki pamornya. Insidious : The Last Key akan dengan udah meraih banyak penonton di saat rilis tetapi bukan berarti hal tersebut akan dengan mudah merebut hati penontonnya. Insidious : The Last Key ini menunjukkan bahwa film ini sudah mulai tak menunjukkan taringnya sebagai film horor. Adam Robitel sebagai sutradara tak mampu membangkitkan amarah roh-roh jahat untuk sekali lagi menakut-nakuti penontonnya.


Problematika Insidious : The Last Key ini tak hanya sekedar tentang bagaimana caranya untuk menakut-nakuti penontonnya. Tetapi juga caranya untuk berusaha membuat penontonnya terjaga sepanjang durasi untuk ikut bersimpati dengan setiap karakter yang ada di dalamnya. Kali ini, fokus utama dari film ini adalah kisah tentang Elise, satu-satunya karakter yang masih bisa dikembangkan lagi untuk menjadi sebuah franchise yang baru.

Adam Robitel sangat berusaha menerjemahkan naskah yang ditulis oleh Leigh Whannell ke dalam layar. Hanya saja, usaha tersebut tak maksimal dan membuat Insidious : The Last Keysangat melelahkan untuk diikuti. Selama 104 menit, Insidious : The Last Key seperti menyaksikan kompilasi dua film pendek yang dipersatukan oleh satu karakter yang sama. Ada potensi menarik dalam kisahnya, tetapi sayangnya hal itu tak bisa berjalan dengan baik.


Menceritakan tentang Elise (Lin Shaye) yang harus menghadapi masa lalunya yang kelam. Dia mendapatkan sebuah telepon dari seseorang bernama Ted Garza (Kirk Acevedo) untuk membasmi hantu di rumahnya. Ternyata, rumah yang ditinggali oleh Ted Garza adalah rumah yang ditinggali oleh Elise dan keluarga saat masih kecil. Elise sudah tahu bahwa sejak kecil rumah yang ditinggali ini sudah berhantu yang membuat keluarganya dalam bahaya.

Elise berusaha untuk membasmi hantu yang ada di dalam rumah Ted Garza, tetapi apa yang dihadapi oleh Elise lebih dari itu. Ada hal lain yang harus berusaha diselesaikan oleh Elise selama sedang bertugas di rumah masa kecilnya. Oleh karena itu, Elise harus berkompromi dengan masa lalunya, menekan mimpi buruknya jauh-jauh agar bisa menghadapi makhluk astral yang sudah menganggunya dan keluarganya sejak kecil.



Insidious : The Last Keymungkin sedang berusaha untuk menggali lebih dalam siapa itu Elise, sosok yang selalu menjadi juru kunci di setiap seri Insidious. Tujuan inilah yang sedang berusaha dilakukan oleh Leigh Whannell saat menuliskan ceritanya di dalam naskah. Tetapi sayang, Adam Robitel tak bisa membuat penonton cukup bersimpati dengan cerita yang ada di Insidious : The Last Key. Jatuhnya, seri keempatnya ini terlihat hanya mementingkan untuk mengekspansi dunia franchise ini untuk demi kelangsungan seri-seri berikutnya.

Tak ada kekuatan sama sekali dalam pengarahannya, baik dalam porsi dramanya maupun dalam membangun teror. Insidious : The Last Key hanya berusaha memanipulasi penontonnya dengan berbagai scoring atau musik latar untuk memunculkan nuansanya. Ketika masuk ke bagian human drama, musik latarlah yang berusaha mengelabui penonton untuk ikut andil dalam kisah Elise. Begitu pula dalam bangunan tensi horornya.

Musik menjadi cara untuk mengelabui penonton dalam mendapatkan sensasi menonton film horor di dalam Insidious : The Last Key. Tak ada atmosfir horor yang bisa dibangun dengan baik oleh sang sutradara. Begitu pula dengan teknik jump scaresnya yang sudah tak lagi inovatif dan hanya mengulangi formula-formula yang usang. Teknik jump scares yang biasanya efektif ini pun tak digunakan terlalu banyak di dalam filmnya. Sehingga, penonton tak lagi bisa mendapatkan sensasi apapun saat menonton film ini.


Di dalam 104 menit filmnya, Insidious : The Last Key serasa terbagi menjadi dua babak yang berbeda. Konflik awal di dalam film ini mungkin ditujukan sebagai pengantar cerita yang memunculkan sebuah koneksi di akhir film. Nyatanya, ketika konflik awal tentang Ted Garza ini diselesaikan, fokus cerita tiba-tiba berpindah dan tak sesekali memiliki koneksi dengan cerita di awal film. Hal ini malah menjadi bumerang bagi filmnya, karena tanpa cerita di 1 jam pertama sebenarnya cerita di paruh kedua bisa berjalan sendirian.

Hal ini memunculkan sebuah isu di dalam Insidious : The Last Key bahwa film ini hanyalah sebagai sebuah fitur film tambahan untuk memperluas dunia milik Insidious. Sehingga, nantinya Insidiousbisa menggunakan celah-celah yang ada untuk melanjutkan serinya meskipun penonton sudah mulai lelah. Terbukti dengan adanya adegan di akhir film Insidious : The Last Key yang memberikan sebuah koneksi ke seri-seri sebelumnya. Insidious : The Last Key hanyalah sebuah film trivia yang sebenarnya tidak ada pun juga tidak apa-apa.


THE GREATEST SHOWMAN (2017) REVIEW : An Ordinary Musical Sequence


Di ujung tahun 2017, datanglah sebuah drama musikal yang diarahkan oleh Michael Gracey. The Greatest Showman, film musikal yang sudah bertahun-tahun mengalami pengembangan dalam banyak hal, akhirnya bisa tayang dan rilis juga di tahun 2017. Sebelum rilis, The Greatest Showman mendapatkan kesempatan untuk masuk ke dalam nominasi Best Comedy or Musical Motion Picture di Golden Globes 2017.

Banyak nama-nama besar yang ikut terlibat dalam film The Greatest Showman. Mulai dari Hugh Jackman, Michelle Williams, Zac Efron, hingga Zendaya dan nama-nama baru yang meramaikan film ini. Sehingga, film ini pun sudah memiliki antisipasi yang cukup besar dari calon penontonnya. Belum lagi, The Greatest Showman menggunakan duo musisi, Benj Pasek dan Justin Paul, yang sudah memenangkan banyak penghargaan lewat film La La Land tahun lalu.

Ini adalah debut awal Michael Gracey di kursi sutradara sebuah film besar. Michael Gracey pada awalnya bermain di ranah visual effects dan art departments dan di film debutnya kali ini dia berusaha menceritakan sebuah kisah nyata dari sosok P.T. Barnum. Meski begitu, Michael Gracey berusaha untuk membuat filmnya tak sekedar menjadi kisah seseorang semata. Melainkan, Michael Gracey berusaha membuat The Greatest Showman sebagai sebuah anthem untuk mereka yang terpinggirkan.


The Greatest Showman menceritakan sosok P.T. Barnum (Hugh Jackman), seorang anak dari pembuat sepatu yang hidup serba kekurangan. Kehidupannya yang serba kekurangan ini tak membuat Barnum mundur untuk mengejar siapa yang dicintai. Dialah Charity (Michelle Williams), perempuan yang sangat dicintai oleh Barnum meskipun orang tua Charity tak menyetujui hubungan mereka. Selepas menikah, mereka hidup jauh dari orang tua Charity.

Selama hidupnya, Barnum memiliki kesusahan secara finansial padahal dia harus membiayai kehidupan istri dan dua anaknya. Kehidupannya semakin susah ketika Barnum harus diberhentikan secara paksa di tempatnya bekerja karena bangkrut. Barnum bertekad untuk membeli sebuah museum patung lilin dengan sisa uang dan pinjaman dari bank. Sempat sepi, tetapi Barnum mengubah museum itu menjadi sebuah tempat pertunjukkan dan hiburan unik untuk semua orang.


The Greatest Showman memberikan sebuah sensasi menarik untuk mengikuti kisah perjuangan hidup seseorang. Menggunakan genre musikal dalam kemasannya untuk memberikan inovasi dalam menuturkan cerita yang berpotensi biasa saja ini menjadi sesuatu yang sangat berbeda dan segar.  Hal ini sangat efektif bagi The Greatest Showman yang memiliki tujuan tak hanya sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai media menyebarkan semangat positivistik bagi setiap penontonnya.

Tak diragukan lagi, dengan rekam jejak Michael Gracey yang pernah berada di art departments membuat The Greatest Showman terlihat begitu mewah untuk ukuran film-film musikal yang ada. Set-set musikalnya dibuat begitu menghentak dan bisa membuat penonton berdecak kagum saat menontonnya. Segala musical sequence punya segala kedinamisannnya sehingga penonton bisa tahu alasan kenapa sosok P.T. Barnum adalah sosok yang sangat berpengaruh bagi semua orang yang ingin membuat sebuah pertunjukkan besar.

Belum lagi lagu-lagu gubahan Benj Pasek dan Justin Paul yang sangat ear-catchy. Sehingga, ketika penonton selesai menonton film ini, akan banyak beberapa lagu yang tetap terngiang di dalam pikirannya. Dengan begitu, perilaku yang timbul selanjutnya adalah penonton akan mencari setiap lagu yang ada di dalam The Greatest Showman. Lalu muncul sebuah efek domino bagi penontonnya yang terpukau dengan film dan berujung pada memberikan rekomendasi kepada orang lain.


Hanya saja, The Greatest Showman sebagai sebuah film musikal sebenarnya tidak memberikan sebuah pertunjukkan yang baru. Michael Gracey mampu membuat ilusi bagi penontonnya agar tak bisa melihat kekurangan pengarahannya lewat berbagai musical sequencenya. Itu pun sebenarnya segala keemosionalan The Greatest Showman hanya bertumpu dengan lagu-lagu gubahan dari Benj Pasek dan Justin Paul. Tanpa gubahan lagunya yang kuat, The Greatest Showman pun tak bisa tampil sekuat itu.

Dengan durasinya sepanjang 104 menit, banyak sekali cabang cerita dan sudut pandang yang harus dibebankan kepada film ini. Michael Gracey pun kesusahan memiliki kefokusan dalam pengarahan, sehingga The Greatest Showman hanya bisa bisa meraih permukaan setiap konfliknya. Ada banyak kisah yang berusaha disorot di dalam film ini. Hal ini sebenarnya bisa berpotensi bagi presentasi The Greatest Showman, hanya saja masih belum ada penanganan yang pas dari Michael Gracey untuk bisa memperdalam setiap konflik dan karakternya.

Pun, setelah tembang ‘This Is Me’ yang tampil begitu megah sekaligus menjadi anthem di dalam film ini, The Greatest Showman menunjukkan performanya yang melemah di 40 menit terakhir. Michael Gracey mungkin cukup bisa memberikan bridging karakter dan plot di satu jam pertama. Efeknya, Michael Gracey harus mulai kewalahan untuk menyelesaikan konfliknya yang ada di awal. Itu pun masih ada intensi dalam naskahnya untuk memberikan konflik tambahan lagi di 30 menit terakhir sehingga beban Michael Gracey pun harus semakin bertambah.


Segala kemegahan yang ada di awal film The Greatest Showman pun sayangnya tak bisa memiliki sebuah penutup yang bisa sama megahnya dengan apa yang sudah ada di awal. Adanya sebuah rendition yang jauh lebih kekinian di dalam setiap lagunya ini pula yang membuat beberapa musical sequencenya tak bisa kuat. Sehingga, The Greatest Showman pun tak bisa memiliki identitasnya dalam sebagai sebuah film musikal. Efek akhirnya, penonton mungkin akan bisa berkali-kali mendengarkan lagunya dan tak lagi merasakan atau bahkan tak mengenali kekuatan di dalam adegannya.

Sehingga, The Greatest Showman pun bisa saja hanya dinikmati sebagai sebuah album lepas tanpa harus disangkutpautkan dengan filmnya. Ini karena lagu gubahan Benj Pasek dan Justin Paul pun sudah sangat bisa diterima di telinga pendengarnya. Tetapi, The Greatest Showman perlu mendapatkan apresiasi dengan caranya berusaha memberikan inovasi dalam menceritakan kisah sosok nyata di dunia. Masih punya kekuatannya sebagai film yang menghibur, tetapi sebagai sebuah film akan gampang berlalu begitu saja.

2017’s Best Indonesian Film by Arul’s Movie Review Blog


Perfilman Indonesia di tahun 2017 mulai menunjukkan taringnya. Mulai dari segi jumlah penonton, bahkan beberapa film yang dirilis pun berusaha memiliki keberagaman tema dan kemasan. Apalagi di tahun 2017 ini adalah masa di mana bangkitnya film-film horor Indonesia. Mulai dari Danur : I See Ghosts hingga Jailangkung berhasil meraih jumlah penonton hingga 2,5 juta. Pun, hal ini berlaku dengan Pengabdi Setan yang diarahkan oleh Joko Anwar. Dengan berbagai ketelitiannya membangun atmosfir dan memperbagus sisi teknis, Pengabdi Setan perlahan tapi pasti menjadi film horor paling laris sepanjang masa dan bahkan menjadi film Indonesia terlaris di tahun 2017.  Selain itu, ada pula beberapa film Indonesia lain dengan tema-tema yang menarik seperti Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak yang dalam limited release-nya mampu meraih 150 ribu penonton. Pun, masih ada beberapa film yang rilis akhir tahun yang kali ini sudah mencapai kira-kira 1,5 hingga 2 juta penonton. Maka dari itu, 2017 adalah tahun yang menyenangkan bagi penonton Indonesia. Dengan banyaknya jumlah tontonan tersebut, ada beberapa film yang mungkin perlu untuk buatkan daftar sebagai film-film Indonesia terbaik.

Sebelum memasuki daftar film terbaik, ada beberapa film yang harus tersisih untuk bisa masuk sebagai daftar film terbaik versi Arul’s Movie Review Blog. Mulai dari film remaja hits masa kini seperti Dear Nathan, yang berhasil memberikan warna dalam genre-nya bukan hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai film remaja yang diarahkan dengan baik. Lalu juga ada Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody yang mungkin punya konflik yang lebih personal, tetapi sebagai sebuah film tentang perjalanan dan pengembangan diri, film ini perlu untuk diapresiasi. Serta ada The Underdogs, film remaja yang memberikan sisi lain fenomena dunia digital dan menjadi penyutradaraan debut dari Adink Liwutang yang sangat menghibur. Jangan lupakan Ziarah, yang memberikan tontonan alternatif dari segi tema maupun kemasan.

Semuanya pantas untuk diapresiasi, tetapi hanya ada 15 film yang berhasil masuk dalam daftar film Indonesia terbaik versi Arul’s Movie Review Blog. Berikut adalah listnya.

15. Critical Eleven. 
Usahanya untuk mengembalikan sebuah kisah romansa dewasa ini patut untuk diapresiasi. Mengembalikan harapan tentang cinta dengan segala turbulensinya, Critical Eleven ini dibuat dengan sepenuh hati oleh para pembuatnya.

14. Stip & Pensil.
Stip & Pensil memang tak disangka menjadi sebuah film komedi satir yang sangat menghibur. Mengkritik dunia pendidikan dengan sangat fun tetapi tak lupa mementingkan konten di dalamnya. Naskah dari Joko Anwar ini benar-benar menggelitik.

13. The Guys.
Karya dari Raditya Dika ini memang tak bisa booming seperti Hangout yang bisa meraih jutaan penonton. Tetapi dalam The Guys, Raditya Dika berusaha memberikan nilai lain tentang persahabatan, jati diri, dan keluarga.

12. Moammar Emka’s Jakarta Undercover.
Fajar Nugros berusaha menceritakan ulang kisah yang ditulis di dalam buku milik Moammar Emka dengan cakupan yang jauh lebih besar dan lebih berani dari film sebelumnya. Sehingga, Moammar Emka’s Jakarta Undercover punya banyak kelebihan dibanding film sebelumnya. Juga, performa yang gemilang dari Ganindra Bimo.

11. Night Bus.
Pemenang film terbaik di FFI 2017 ini memang punya kelemahan dari banyak aspek filmnya. Tetapi, tema keberagaman dibalut dengan thriller yang sangat kuat menjadikan Night Busmenjadi salah satu film yang sangat jarang ada di kancah sinema Indonesia.

10. My Generation.
Film terbaru milik Upi ini punya cara yang berbeda dalam menunjukkan bagaimana dinamika sosial dari para remaja masa kini. My Generation adalah cara bagaimana Upi menunjukkan bahwa tak ada generasi yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Mereka terlahir sesuai dengan zaman yang ada.

9. Susah Sinyal.
Tak seambisius seperti Cek Toko Sebelah, tetapi Susah Sinyaladalah bukti bahwa Ernest Prakasa berhasil memiliki kematangan dalam pengarahan. Kesederhanaan dalam problematikanya tentang ibu dan anak inilah yang membuat Susah Sinyal jauh lebih bagus dari Cek Toko Sebelah.

8. Bid’ah Cinta. 
Menunjukkan tentang fenomena islami tanpa menggurui. Memberikan perspektif yang solutif tentang bagaimana Islam menghadapi fenomena tertentu di negara ini. Bid’ah Cinta adalah karya Nurman Hakim yang menggelitik sama seperti film-film miliknya yang lain.

7. Buka’an 8
Ini adalah sebuah komedi yang chaotic tetapi ditata sedemikian rupa untuk menghibur. Sang sutradara membuat Buka’an 8 sebagai time capsule yang sangat personal tentang anaknya. Tetapi, karyanya yang personal ini akan membuka mata kalian agar sekali lagi memikirkan apa yang mau Anda putuskan, terlebih tentang menikah muda.

6. Posesif.
Memberikan kisah lain dalam kisah cinta remaja, Posesif adalah karya dengan pendekatan populer dari Edwin. Memberikan Anda sebuah peringatan dan awarenesstentang mental illness dan kekerasan dalam hubungan, inilah yang membuat Posesif sangat berbeda dengan film remaja lainnya.

5. Kartini.
Ini adalah sebuah karya biografi film yang dibuat dengan sangat baik oleh Hanung Bramantyo. Punya cara penyampaian yang menarik dan nilai produksi yang sangat diperhatikan, Kartini adalah salah satu film biografi Indonesia terbaik. Dian Sastrowardoyo pun bermain dengan sangat cantik.

4. Galih & Ratna 
Diangkat dari novel Gita Cinta Dari SMA, adaptasi dari Lucky Kuswandi ini berhasil memberikan adaptasi yang sesuai dengan zaman sekarang tanpa perlu berlebihan. Galih & Ratna adalah sebuah kisah cinta remaja melodrama yang manis sekaligus pahit, musik-musiknya pun asyik.

3. Sweet 20.
Sebuah remake dari film korea berjudul Miss Granny, Ody C. Harahap mengarahkannya jauh lebih bagus daripada film aslinya. Sehingga, Sweet 20adalah sebuah film komedi Indonesia sangat pas ditonton bersama-sama dengan keluarga. Performa Tatjana Saphira di film ini cadas!

2. Pengabdi Setan.
Joko Anwar di sini membuktikan bahwa film horor juga bisa digarap dengan serius dan detil. Pengabdi Setanadalah sebuah remake yang memperluas dunianya dengan cara Joko Anwar yang begitu teliti dalam pengarahannya. Atmosfir horor dan jump scare-nya sangat efektif!

1. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak. 
Inilah film Indonesia terbaik di tahun 2017 dan beberapa tahun terakhir ini. Mouly Surya memberikan genre lain di dalam perfilman Indonesia lewat film ini. Menyuguhkan isu tentang perlawanan perempuan dengan pendekatan genre western, Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak adalah film yang sangat unik dan kuat dalam setiap babaknya. Performa Marsha Timothy di film ini sangat kuat sekali.