• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.

THE GUYS (2017) REVIEW : Komedi Khas Raditya Dika dengan Pembaharuan


Setelah hadir mencoba babak baru dalam kemampuan mengarahkan film lewat film Hangout yang rilis Desember lalu, Raditya Dika kembali lagi menyapa para penonton dan juga fans-nya. Di tahun 2017 ini, Raditya Dika kembali bekerjasama dengan rumah produksi Soraya Intercine Films untuk menyelesaikan proyek filmnya yang naskahnya sudah dikembangkan dalam jangka waktu yang panjang. Jeda waktu antara Hangoutdengan proyek terbarunya ini memang terasa terlalu dekat, sehingga bisa jadi hal itu akan mempengaruhi performa Raditya Dika dari kualitas hingga kuantitas.

Proyek terbarunya ini Raditya Dika tak lagi berusaha mengeksplorasi genre baru seperti yang dilakukannya di Hangout. Raditya Dika kembali lagi ke akarnya untuk membuat sebuah komedi romantis seperti apa yang dia lakukan di film-film sebelumnya. The Guys, judul proyek terbaru dari Raditya Dika bersama Soraya Intercine Films setelah berhasil berkolaborasi lewat Single di tahun 2015 lalu. Naskah yang sudah dibuat oleh Raditya Dika cukup lama ini dikembangkan lagi bersama dengan Donny Dhirgantoro dan juga Sunil Soraya. Tetapi, pengarahan filmnya tetap dipegang oleh Raditya Dika.

Proyek The Guys muncul tanpa diduga oleh banyak orang karena bisa dibilang memiliki rentang waktu yang tak begitu lama. Meski begitu, The Guysadalah karya dari seseorang bernama Raditya Dika yang namanya sudah menjadi sebuah brand sendiri ini tentu akan menumbuhkan banyak penonton. The Guys adalah sebuah komedi romantis yang sebagian besar berbicara tentang kesendirian dan harapan tentang cinta. Tetapi, tak disangka adalah The Guysternyata memiliki subplot lain yang berbicara tentang persahabatan dan keluarga yang berkombinasi manis di sepanjang 115 menit. 


Raditya Dika memang bisa dibilang kembali ke zona nyamannya lewat The Guys. Film-film komedi romantis seperti seperti film The Guys ini mungkin sudah menjadi makanannya sehari-hari. Sehingga, penonton akan dengan mudah mempercayai bahwa The Guys akan memiliki performa yang bagus. Meski kembali ke zona nyamannya, The Guys memiliki sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan film-film Raditya Dika yang serupa. Ada cita rasa yang menyenangkan, hangat, dan sekaligus manis dalam The Guys yang tak akan ditemui penontonnya di film-film sebelumnya.

Tiga poin cerita tentang cinta, persahabatan, dan keluarga dalam film The Guys bisa diramu menjadi sajian yang sangat menghibur. Pengarahan milik Raditya Dika lewat film The Guys begitu solid, sehingga setiap menit di dalam film ini terasa tak begitu menjemukan. Meskipun tak semua bagian cerita ini tak bisa memiliki porsi yang sama. Ada beberapa bagian yang terpaksa harus mengalah demi menjalankan pion cerita lain yang menjadi benang merah. 


Inilah cerita di dalam The Guystentang 4 orang sahabat yang tinggal di satu rumah. Mereka adalah Alfi (Raditya Dika), Aryo (Indra Jegel), Rene (Marthino Lio), dan Sukun (Pongsiree Buluewon). Mereka adalah karyawan di sebuah agensi kreatif. Di tempat itulah, Alfi merasa bahwa apa yang dilakukannya sudah berada di titik jenuh. Di tengah kejenuhannya, Alfi bertemu dengan Amira (Pevita Pearce) di sebuah presentasi bersama kliennya. Mulai dari sanalah, keduanya semakin dekat.

Sayangnya, kedekatan mereka ternyata tak selancar yang dikira. Amira mengundang Alfi makan malam di rumahnya dan di sanalah Alfi tahu bahwa Amira adalah anak Pak Jeremy (Tarzan) yang sekaligus adalah bosnya. Secara tak sengaja, Alfi merusak acara makan malam di rumah Amira dan sebagai gantinya Alfi mengajak Pak Jeremy untuk makan malam di rumah ibunya. Yang terjadi malah Pak Jeremy jatuh cinta kepada Ibu Alfi (Widyawati) dan membuat Alfi bingung harus berbuat apa. 


Dengan cerita yang pada awalnya bertujuan untuk berfokus kepada empat karakter utamanya yang sedang menjalin persahabatan, The Guys memang masih kurang menggali dalam. Dengan durasi filmnya sepanjang 115 menit, Raditya Dika belum bisa memaksimalkan poin persahabatan yang seharusnya muncul lebih dominan dibanding yang lainnya. Penonton mungkin minim akan koneksi dan juga korelasi antara judul film yang mereka tonton dengan presentasi cerita secara keseluruhan.

Raditya Dika mengalihkan poin utamanya kepada subplot tentang cinta dan kasih di dalam film The Guys. Tetapi meski subplot utama beralih ke poin yang berbeda, di sinilah The Guys tampil dengan sangat prima. Raditya Dika di dalam The Guysberhasil memunculkan rasa manis kisah cinta yang tak pernah ada di film-film sebelumnya. Belum lagi, kisah cinta kali ini memiliki kedewasaan dalam penyampaiannya dan juga rasa hangat yang tak terasa manipulatif.

Pengarahan Raditya Dika di dalam film The Guys pun terasa memiliki perkembangan. Jalan ceritanya masuk begitu rapi dan halus apabila dibandingkan dengan film-film Raditya Dika sebelumnya. Konfliknya dibiarkan berkembang mengikuti durasinya yang juga cukup panjang. Sehingga, penonton akan dengan rela dan suka cita mengikuti menit demi menit dari film The Guys. Meski komedi di dalam film ini tak terlalu menggebu-gebu, tetapi penonton tetap bisa merasa bahagia.


Ini juga yang menjadi poin pembeda dari film The Guys dengan film-film Raditya Dika yang sebelumnya. The Guys memiliki bangunan nuansa komedi yang jauh lebih tertata dan lebih efektif. Di sinilah Raditya Dika sudah menemukan ritmenya untuk membangun nuansa komedi yang efektif dan pintar. Meski bahan humornya tetap khas ala Raditya Dika, tetapi penonton masih bisa tertawa dengan puas dengan humor yang diberikan. Bukan hanya tertawa, tetapi ada efek hangat dan membuat perasaan merekah sesaat setelah menonton The Guys. Itu semua dikarenakan The Guys memiliki ritme dan pengarahan yang lebih rapi dan tertata dengan kombinasi subplot dalam takaran yang pas.

Dengan sepak terjang Raditya Dika yang sudah mengarahkan banyak judul filmnya, tentu The Guys akan terasa memiliki signifikansi dalam kualitas penyutradaraannya. Dengan mudah The Guys menjadi karya Raditya Dika terbaik sejauh ini. The Guys memang masih memiliki problematika dalam memberikan porsi untuk setiap subplotnya agar terasa seimbang. Tetapi, tak bisa dipungkiri pula, The Guys adalah sebuah film yang diarahkan dengan rapi dan hati-hati oleh Raditya Dika. Sehingga, ritme penceritaannya akan terasa pas dan konfliknya bisa berkembang. The Guysmenjadi sebuah tontonan film komedi yang tak hanya efektif, tetapi juga bisa membuat hati berbunga-bunga. Selain itu, The Guys juga berhasil tampil manis sekaligus menghangatkan hati penontonnya.   

FAST AND FURIOUS 8 (2017) REVIEW : Spektakel Aksi Seru di Seri Terbaru


Fast and Furious adalah salah satu franchise lama dan terbesar milik Hollywood. Franchiseini sudah berkembang mulai dari tahun 2001 dan sebagian besar orang selalu menantikan setiap seri film ini. Furious7 adalah titik puncak karena anggota ‘keluarga’ dari Franchise ini meninggal yaitu Paul Walker. Daya tarik penonton untuk menyaksikan Furious 7 semakin besar karena ingin menyaksikan performa terakhir dari Paul Walker di seri ini.

Momen wafatnya Paul Walker juga berdampak pada angka penjualan tiket Furious 7 dan mendapatkan angka pembukaan yang fantastis. Hal ini tentu membuat produser memberikan lampu hijau agar seri ini tetap berjalan. Maka dari itu, tahun ini Fast and Furious memutuskan untuk merilis seri ke delapan dari Franchise-nya. Pergantian sutradara pun terjadi, dari James Wan ke F. Gary Gray dan berpengaruh pada pemilihan judul. The Fate and The Furious adalah judul terbaru dari franchise ini di US, meski judul di Indonesia tetap menggunakan Fast and Furious 8.

Meski kehilangan salah satu anggota keluarga besar di Franchise-nya, tetapi masih ada anggota-anggota lain yang masih memiliki kekuatan yang cukup besar untuk membuat seri ini tetap berdiri. Vin Diesel, Dwayne Johnson, Ludacris, dan baru-baru ini Jason Statham juga ikut hadir dalam seri ini. Mungkin ada yang mengira bahwa momentum dari seri ini akan berakhir pada seri ketujuhnya. Maka, singkirkan pemikiran tersebut, karena Fast and Furious 8 akan dengan mudahnya menyingkirkan pemikiran itu dari penontonnya. 


Menceritakan tentang Dominic Toretto (Vin Diesel) yang ketenangan hidupnya diganggu oleh seorang perempuan bernama Cipher (Charlize Theron). Ada masa lalu tentang Dom yang berusaha diancam oleh Cipher sehingga Dom merasa bahwa ketenangan hidupnya bersama Letty (Michelle Rodriguez) perlu dikorbankan. Ketika pada akhirnya, Dom bersama teman-temannya mendapatkan tugas untuk menyelamatkan sebuah misil, Dom memutuskan untuk menghianati mereka.

Misi yang dijalankan oleh Dom dan tim ini adalah berasal dari Hobbs (Dwayne Johnson). Kejadian ceroboh ini membuat Hobbs mendekam di dalam penjara. Di sana, dia bertemu dengan Deckard Shaw (Jason Statham) yang pernah menjadi salah satu musuh Dom dan teman-temannya. Ternyata, Deckard juga sedang mengincar Cipher yang telah membuat kehidupannya berantakan. Atas dasar itu, mereka berusaha agar bisa keluar dari penjara dan mencari cara agar bisa menangkap Cipher. 


Dengan nomor seri yang sudah tidak sedikit lagi, penonton tentu cukup khawatir apa yang berusaha diberikan oleh franchiseini. Dengan hilangnya Paul Walker, tentu harus mencari cara apa yang berusaha dijual oleh franchise ini, momentum seperti apa lagi yang akan diberikan. Maka, di dalam Fast and Furious 8, F. Gary Gray berusaha menjawab kekhawatiran penontonnya. Sang sutradara melimpahkan sebuah pertunjukkan aksi tanpa henti yang mampu membuat penontonnya berdecak kagum.

Fast and Furious 8 akan memberikan sebuah aksi spektakel yang tidak ada habisnya. Film ini menemukan kegembiraannya sendiri dengan memperlihatkan berbagai macam adegan mobil yang mengalami kedestruktifan yang luar biasa besar. F. Gary Gray tak hanya menggunakan banyak sekali adegan destruktif itu menjadi ajang pamer juga, tapi juga memiliki tensi yang mampu mencengkram penontonnya. Sehingga, penonton akan sangat menikmati setiap menit yang terjadi di Fast and Furious 8.

Poin lain dalam Fast and Furious 8 adalah bagaimana F. Gary Gray memiliki kemampuan untuk merapatkan naskah milik Chris Morgan. Secara cerita, Fast and Furious 8 tak memiliki hal baru dan sesuatu yang perlu untuk dipikir berlebihan. Chris Morgan menuliskan sebuah plot cerita yang linear tentang sisi baik melawan sisi buruk juga disisipi pesan tentang sebuah keluarga. Meskipun, dalam pengarahanya, F. Gary Gray masih belum menemukan kombinasi yang baik antara poin tentang keluarga itu ketika masuk ke dalam plot ceritanya. 


Beberapa bagian dalam Fast and Furious 8 memang terasa berusaha terkesan melankolis untuk menarik simpati penontonnya.  Beberapa bagian mungkin akan berhasil, tetapi kontinuitas yang terjadi muncul cukup berlebihan. Sehingga, akan terasa ada beberapa ketimpangan yang terjadi dalam tone cerita di dalam filmnya yang berdurasi 139 menit ini. Hal ini cukup mendistraksi kemasan Fast and Furious 8 tetapi untungnya film ini masih punya spektakel aksi sebagai senjatanya dan poin lain yang mengembalikan kepercayaan penontonnya.

Ada Charlize Theron yang menjadi seorang villain dengan performa yang sangat kuat dan prima. Charlize Theron berhasil meyakinkan penontonnya bahwa dia adalah seorang musuh yang benar-benar memiliki dampak besar kepada Dom dan timnya. Dengan begitu, karakter-karakter lain akan memiliki upaya yang cukup besar untuk berhasil menangkap atau mengalahkan musuhnya. Dan upaya-upaya itu berhasil ditampilkan sangat kuat oleh F. Gary Gray, sehingga penonton akan dengan mudah percaya dengan apa yang dilakukan oleh setiap karakternya. 


Inilah Fast and Furious 8, sebuah seri terbaru dari franchisebesar milik Hollywood yang semakin lama semakin menjadi. F. Gary Gray mampu untuk menanggapi tuntutan para penggemar seri ini atau bahkan penonton awam yang butuh sebuah hiburan yang menyenangkan. Plotnya yang memang familiar dan linear ini berhasil disampaikan dengan baik dan begitu meyakinkan oleh sang sutradara. Sehingga, penonton akan mudah percaya dengan setiap alasan yang sedang dilakukan oleh setiap karakter di film ini. Meski ketimpangan sisi humanis yang diselipkan terlalu sering di film ini membuat adanya suatu ketimpangan dan mendistraksi, tetapi Fast and Furious 8 tetap menyanggupi ekspektasi penontonnya. Spektakel aksi yang seru dan mampu membuat penontonnya berdecak kagum adalah kunci suksesnya seri terbaru ini.

GET OUT (2017) REVIEW : Horor Atmosferik Dengan Pesan


Cukup mengagetkan, di awal tahun ada 1 film yang benar-benar mendapatkan pujian di luar sana. Lebih mengagetkan lagi adalah film itu ternyata berasal dari Blumhouse Pictures yang memiliki konsentrasi lebih ke film-film horor. Ditilik lebih dalam lagi, memang film ini adalah film penuh atmosfer menyeramkan ala Horror genre digabung dengan tensi rapat khas genre Thriller. Karya ini lahir dari seorang bernama Jordan Peele yang ternyata baru pertama kali memiliki kesempatan mengarahkan sebuah film.

Dan inilah, Get Out, sebuah film horor yang muncul dari tangan komedian dan mendapatkan pujian di berbagai festival hingga di awal tahun memiliki kesempatan untuk ditonton banyak kalangan. Beruntung juga Indonesia memiliki kesempatan untuk menyaksikan film ini meski baru tayang di bulan April ini. Sehingga, beberapa orang –yang tahu akan adanya film ini –tentu akan menantikan film ini saat diputar. Sehingga, meski tanpa nama-nama besar, Get Outberhasil mengundang rasa penasaran orang dengan pujian yang datang padanya.

Get Out tak hanya diarahkan sendiri oleh Jordan Peele. Naskah film ini pun ditulis sendiri olehnya. Sehingga, Jordan Peele memiliki kuasa untuk mengemas dan mengarahkan sendiri film yang juga ditulis sendiri olehnya. Kritik-kritik luar mengatakan bahwa Get Out menjadi sebuah alternatif tontonan horor dengan penyelesaian yang berbeda. Tak bisa dipungkiri, Get Out memang sebuah pengalaman sinematik genre horor dengan suasana yang sangat mencekam.\


Singkirkan ekspektasi bahwa Get Out akan menawarkan cara penyelesaian yang akan membuat penontonnya terperangah. Penonton yang mengharapkan penyelesaian yang jenius harus sedikit menurunkan sedikit ekspektasinya. Tetapi poin penting dalam film Get Out –atau film-film dengan penyelesaian alternatif –adalah bagaimana cara sang sutradara untuk menyampaikan setiap menitnya. Keberhasilan sebuah film adalah bagaimana sang sutradara bisa menyampaikan apa yang diinginkan dengan baik serta diikuti oleh beberapa aspek untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Kejeniusan Get Out malah bertumpu pada bagaimana Jordan Peele berusaha untuk menyampaikan setiap menitnya. Penonton yang minim informasi akan Get Out mulai dari trailer dan sinopsis dan hanya berbekal opini kritikus, tentu akan kebingungan dengan apa yang berusaha disampaikan oleh Jordan Peele. Biasnya tujuan dan maksud dari Jordan Peele oleh penonton ini adalah poin positif dari film ini. Sehingga, penonton bisa merasakan suasana mencekam tentang kisah pasangan Chris dan Rose.


(Skip this two paragraph if you think this is A SPOILER)

Kisah dalam Get Out juga memiliki sebuah kisah yang generik atau sudah pada umumnya. Menceritakan sepasang kekasih beda ras bernama Chris (Daniel Kaluuya) dan Rose (Allison Williams) yang sudah menjalani hubungan yang cukup serius. Suatu ketika Rose harus ke rumah orang tuanya untuk menghadiri sebuah pesta dan memutuskan untuk mengajak Chris untuk datang.  Chris yang memiliki warna kulit berbeda dari Rose, merasa tidak percaya diri dengan hubungan mereka.

Tetapi, Rose berusaha menumbuhkan rasa percaya diri kepada Chris agar mau untuk datang ke acara pesta orang tuanya. Chris tak tahu pesta seperti apa yang sedang diadakan oleh orang tua dari Rose di rumahnya. Ketika sudah sampai, ketakutan Chris atas respon orang tua Rose ternyata tak terwujud, mereka sangat ramah kepada Chris. Ketidakramahan yang ditemui Chris adalah atmosfir lingkungan sekitar rumah orang tua Rose. Chris merasa mereka sedang dihantui oleh sesuatu yang tak tahu itu apa.

(End of warning)

 
Kisah generik inilah yang dijadikan oleh Jordan Peele sebagai area bermain dalam mengarahkan dan menulis Get Out. Formula usang yang mudah ditebak ini dikemas dengan cara yang sangat baik, sehingga bisa berubah menjadi kuat. Atmosfer yang mencekam adalah kekuatan utama dari Jordan Peele dalam film Get Out. Penonton tak diperbolehkan untuk langsung mengetahui apa yang sedang terjadi, karena Jordan Peele berusaha mengintimidasi penonton akan ketidakpastian yang ada. Akan muncul banyak interpretasi muncul dari penonton yang membuat diri mereka sendiri tak nyaman.

Itulah tujuan yang tertangkap dalam film ini sebagai sebuah film horor, Jordan Peele ingin penonton merasakan apa yang dirasakan oleh Chris. Sehingga, hal itu akan efektif membuat pikiran penontonnya terganggu dan meneguhkan bahwa Jordan Peele berhasil melaksanakan metode horor atmosferik ini berada di level yang lain. Inilah sebuah sarkasme yang muncul dari pikiran Jordan Peele yang berusaha memberikan alternatif cara untuk mengemas formula yang sudah sangat usang.

Muncul pula misi lain yang berusaha disampaikan oleh Jordan Peele dalam Get Out. Rasisme, isu sosial yang sedang sangat dekat di negara Amerika dan Jordan Peele berusaha menyampaikannya lewat medium genre yang berbeda. Jordan Peele menyelipkan pesan tentang propaganda peraturan warga kulit putih tentang penerimaan warga kulit berwarna. Penyesuaian atas warga kulit berwarna atas peraturan itu sudah menjadi budaya dan menjadi hal yang lumrah. Sehingga, Get Out menjadi sebuah medium untuk menyampaikan sebuah statement atas isu sosial.


Get Out dengan karakter Chris yang memiliki kulit berwarna sedang datang ke rumah pacarnya yang kulit putih digunakan sebagai sebuah simbol. Rumah pacar Chris adalah lingkup kecil Amerika tetapi Chris merasa dirinya terintimidasi atas perbedaan warna kulit. Hal ini ditangkap sebagai hal yang mewakili bagaimana warga dengan kulit berwarna tak bisa menjalani hidupnya dengan bebas, merasa terkekang dan bahkan dipaksa harus mengikuti peraturan yang dibuat oleh warga Amerika kulit putih. Sehingga, menunjukkan bahwa warna kulit memiliki kasta dan kuasa yang mampu mengontrol perilaku seseorang di dalam wilayah mana pun dan lingkup sekecil apapun.

Di luar pesannya tentang rasisme yang menjadi konsentrasi penuh di negara Amerika, Get Out adalah sebuah pengalaman sinematis genre horor yang segar. Kejeniusan Jordan Peele bukan melulu tentang memberikan konklusi alternatif yang membuat penontonnya tercengang. Tetapi kejeniusan Jordan Peele adalah membuat mengarahkan Get Out dengan begitu solid dan berhasil menimbulkan efek yang sangat mencekam. Penonton tak beritahu secara gamblang informasi tentang apa yang terjadi di dalam plot ceritanya, hanya memberikan sedikit demi sedikit informasi yang konkrit. Hasilnya, Get Out adalah sajian film horor yang unik dan berbeda. Sekaligus statement sosial dengan cara yang menyenangkan dan mendebarkan. 

BEAUTY AND THE BEAST (2017) REVIEW : Rejuvenasi Sebuah Dongeng Klasik yang Magis


Disney sedang rajin menggalakkan kampanye untuk menghidupkan kembali dunia dongeng di film-film animasinya sebagai sebuah film live-action. Sudah ada Cinderella di tahun 2015, The Jungle Book di Tahun 2016, dan akan lebih banyak lagi di tahun-tahun berikutnya. Harta karun Disney yang sudah berdebu ini mulai dimanfaatkan sebagai ladang emas yang sangat berkilau. Dan tahun ini, Disney kembali melakukan peremajaan terhadap karyanya yang fenomenal dan menjadi film animasi pertama yang masuk nominasi Best Picture di tahun 1991 yaitu Beauty and The Beast.

Bill Condon adalah komandan yang punya kendali penuh saat mengarahkan film live-action dari mahakarya milik Disney yang diambil dari dongeng legenda perancis ini. Banyak orang yang cukup khawatir atas ambisi Disney yang sedang berusaha keras mengenalkan kembali seluruh film-film animasinya di zaman sekarang. Pintarnya, Beauty and The Beast yang memiliki Emma Watson dan Dan Stevens di deretan pemainnya ini gampang meyakinkan calon penontonnya bahwa mereka bisa mengemban misi tersebut lewat trailernya.

Tentu misi yang sedang dijalani oleh Disney adalah misi yang susah, karena mengembalikan rasa magis dalam setiap dongeng yang diceritakan ulang di zaman sekarang ini perlu tangan yang handal. Beauty and The Beast adalah sumber materi yang memiliki beban yang berat untuk diceritakan ulang berkat kredibilitasnya sebagai film animasi pertama yang masuk nominasi Best Picture di ajang Oscars. Bill Condon yang pernah mengarahkan Dreamgirls berhasil mengembalikan betapa magisnya Beauty And The Beast di tahun 1991 lalu di tahun 2017 ini dengan pengalaman sinematis yang luar biasa indah. 


Bill Condon memutuskan agar Beauty and The Beast terbaru ini tetap menjadi sebuah film musikal. Orang yang tak terbiasa dengan film-film musikal, mungkin akan menganggap bahwa Beauty and The Beast adalah pengalaman sinematis yang membosankan. Tetapi, telusuri kembali bagaimana Beauty and The Beast milik Disney terdahulu, sejatinya Bill Condon hanya berusaha menduplikasi formulanya. Tentu, hal itu dengan maksud agar Beauty and The Beast miliknya tetap memiliki daya magis sekuat film animasinya. Beruntunglah bagi orang yang punya referensi itu, karena Beauty and The Beast akan dengan mudah menyihir mereka.

Menonton Beauty and The Beast tak perlu membawa keinginan menggebu-gebu agar film terbarunya ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Tentu, Beauty And The Beast akan memiliki cerita yang itu-itu saja, mungkin versi terbarunya ini memiliki sedikit pembaharuan. Hal yang perlu digarisbawahi adalah keberhasilan Bill Condon untuk menyampaikan ulang kisah cinta legendaris ini kepada penontonya. Ini adalah cara dari Disney mengembalikan budaya bernama “dongeng” kepada anak-anak, terlepas ambisi Disney sebagai brand besar yang juga ingin mendapatkan keuntungan melimpah. 


Maka inilah sebuah kisah dongeng melegenda tentang seorang gadis desa yang impiannya sangat sederhana, ingin mendapatkan kehidupan yang lebih menyenangkan dari desanya. Gadis itu bernama Belle (Emma Watson), seorang gadis menawan ini sangat gemar sekali membaca hingga orang-orang di sekitarnya menganggapnya aneh. Kehidupan Belle begitu tenang dan cukup bahagia, hingga suatu saat sang ayah, Maurice (Kevin Kline) terlibat masalah saat perjalanannya ke kota. Maurice ditangkap dan ditahan di sebuah kastil tua yang ternyata milik seseorang.

Belle berusaha untuk menyelamatkan ayahnya yang dikurung di dalam kastil tersebut dan saat itulah dia bertemu dengan pemilik kastil tua ini. Beast (Dan Stevens), seorang pangeran yang ternyata dikutuk oleh seorang peri karena tindakannya yang semena-mena. Belle pun menggantikan posisi ayahnya untuk menjadi tawanan Beast. Tetapi, ketika menjadi tawanan, Belle dan Beast yang semakin sering berinteraksi tumbuh sesuatu yang lain di dalam diri mereka masing-masing. 


Kisah cinta Belle dan Beast dalam Beauty and The Beast tentu masih dengan ceritanya yang lama. Tetapi, Beauty and The Beast terbaru ini masih memiliki rasa magis yang sama dengan film animasinya. Bill Condon tahu benar bagaimana cara mengemas Beauty and The Beast live action ini. Lewat kepiawaiannya, film ini tetap memiliki cita rasa klasik dan rasa magis yang begitu besar bagi penontonnya, apalagi bagi penonton yang sudah dekat dengan film animasi dari Disney-nya. Bill Condon berhasil menciptakan suasana manis sekaligus romantis di sepanjang filmnya.

Ada beberapa pembaharuan yang terjadi dalam cerita milik Beauty and The Beast ini. Stephen Chbosky dan Evan Spiliotopoulos menambahkan detil cerita yang dapat memperkaya setiap karakter yang ada di dalam filmnya. Sehingga, penonton tahu apa yang sedang terjadi di setiap karakternya dan dengan begitu penonton akan mudah terkoneksi, menyepakati informasi untuk melanjutkan setiap plot cerita yang bergerak di dalam durasinya yang mencapai 129 menit.

Beauty and The Beast milik Bill Condon ini adalah sebuah rejuvenasi atas film animasinya yang sudah ada 26 tahun yang lalu. Sehingga, meskipun diadaptasi dari sumber yang sudah ada berpuluh-puluh tahun lalu, Bill Condon bisa mengemasnya agar relevan dengan keadaan sosial masa sekarang. Beauty and The Beast tak hanya sebagai cara Disney mengembalikan budaya mendongeng, tetapi juga sebagai media untuk membicarakan tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan.  


Menarik ketika dalam salah satu adegannya, Belle sedang didapati mengajari seorang anak perempuan untuk lebih terliterasi dengan membaca. Seluruh warga desa pun sangat kesal dengan kejadian tersebut dan menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Belle telah menyalahi struktur sistem yang ada. Ini memperlihatkan bagaimana Ilmu pengetahuan menjadi sebuah atribut patriarki sehingga seorang perempuan yang berusaha mendapat pengetahuan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang salah.

Dengan film Beauty and The Beast ini, Bill Condon berusaha memperlihatkan tentang keadaan sosial tersebut dan menaruh referensi itu terhadap karakter Belle. Bagaimana Bill Condon berusaha membuat Belle sebagai perempuan yang tak berusaha mengungguli laki-laki tetapi lebih kepada berada dalam posisi sejajar dengan laki-laki. Belle hanya ingin mendapatkan perlakuan yang sama terlebih tentang literasi yang dapat memperkaya wawasannya untuk melihat dunia lebih luas.

Kekuatan lain dari Beauty and The Beast live-action ini adalah bagaimana Bill Condon dan Disney tak main-main dalam tata produksinya. Beauty and The Beast ini punya cita rasa yang begitu mewah dan elegan yang dapat membuat penonton terkesima. Dipercantik dengan tata sinematografinya yang mampu memperlihatkan cita rasa itu. Sehingga, ketika adegan-adegan krusial dalam film ini keluar, penonton akan mudah jatuh cinta akan semua keindahan yang dikemas oleh Bill Condon. 


Tetapi perlu diakui bahwa Beauty and The Beast ini memang tak bisa dengan mudah diakses dan disukai oleh semua kalangan. Kemasan dan pengarahan dari Bill Condon dalam Beauty and The Beast ini begitu mengingatkan dengan drama musikal panggung mulai dari set, tata kamera, dan kemasan musikalnya. Sehingga, penonton yang tak terbiasa dengan kemasan dari Bill Condon akan merasa keberatan dengan keputusan Bill Condon dalam film ini. Apalagi bagi mereka yang tak begitu kenal dengan film animasi milik Disney-nya yang sebenarnya dikemas hampir serupa.

Beauty and The Beast adalah film yang indah dan sempurna dalam mengembalikan cita rasa klasik dan magis yang diadaptasi dari film animasinya. Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Josh Gad, dan semua jajaran pemainnya mampu memberikan performa yang sangat luar biasa. Sehingga, Beauty and The Beast ini berhasil tampil begitu kuat dalam membangun suasana yang manis dan adegan musikal yang cantik. Ada pembaruan yang memberikan detil cerita lebih ke dalam setiap karakternya dan memiliki pengaruh yang kuat untuk memberikan informasi lebih kepada penontonnya. Juga, pembaruan misi untuk refleksi atas kondisi sosial terhadap gender yang dilekatkan atributnya pada karakter Belle. Tetapi hal itu kembali lagi kepada setiap referensi setiap orang dalam memahami bagaimana performa Beauty and The Beast milik Bill Condon ini.

GALIH & RATNA (2017) REVIEW : Pengingat Masa Remaja yang Manis


Telah ada sepasang sejoli lain yang lebih ikonik dan muncul jauh sebelum Cinta dan Rangga di Ada Apa Dengan Cinta?. Sepasang sejoli ini muncul dari karakter yang dibuat oleh Eddy D. Iskandar lewat tulisannya di sebuah karya novel berjudul Gita Cinta Dari SMA. Kisahnya pun pernah divisualisasikan oleh Arizal di tahun 1979. Muda-mudi di kala itu pun begitu menggilai kisah cinta dua insan manusia ini. Galih dan Ratna, kisah cinta mereka bersemi di bangku SMA dan abadi dikenang sepanjang masa.

Kisah manisnya masih memberikan rasa yang tak pernah lekang oleh zaman. Hingga di generasi yang sudah berubah segala kebiasaannya ini, rasanya perlu dikenang lagi kisah cinta mereka. Maka, datanglah Lucky Kuswandi membawakan kisah cinta bahagia mereka dengan caranya sendiri. Lucky Kuswandi mengadaptasi bebas sumber utama kisah cinta Galih dan Ratna ini dan mempersembahkannya sebagai surat cinta kepada generasi remaja millenial untuk merasakan degupan cinta yang bahagia.

Bukan lagi ‘Gita Cinta Dari SMA’, tapi ‘Galih & Ratna’ sebagai tajuk pilihan sekaligus cara untuk membedakan karya milik Lucky Kuswandi dengan film sebelumnya. Karya milik Lucky Kuswandi ini tak serta merta mengadegankan ulang panel-to-panel yang hanya menimbulkan efek nostalgia. Galih & Ratna lebih kepada rejenuvasi atas karya lama milik Arizal berdasarkan novel milik Eddy D. Iskandar. Tetapi, inilah ‘Galih & Ratna’ yang meskipun mendapatkan pembaharuan tetap memiliki rasa manis yang sama. Mengingatkan kepada siapa saja yang menontonnya tentang masa remajanya yang bahagia. 


Klise, poin utama yang keluar sesaat mengetahui bahwa ‘Galih & Ratna’ ini adalah sebuah film kisah cinta remaja. Secara konflik dan cabang cerita, ‘Galih & Ratna’ memang tak punya kisah yang baru apalagi kisahnya tak lain juga disadur dari sumber yang sama. Lucky Kuswandi memang tak menegaskan untuk memberikan pembaharuan dalam plot ceritanya, tetapi mengembalikan sebuah rasa, kenangan, yang pernah setiap orang rasakan saat remaja.

Setiap orang pasti pernah menyatakan bahwa masa remaja adalah masa yang paling indah dan atas pernyataan itulah Lucky Kuswandi bermain saat mengarahkan Galih & Ratna. Film ini digunakan sebagai sebuah pertanda akan zaman remaja yang selalu menjadi pijakan untuk diingat tentang masa lalu. Dengan film ‘Galih & Ratna’, penonton yang sudah jauh melewati masa-masa ini bisa kembali teringat betapa manisnya merasakan cinta pertama dengan segala komplikasinya. 


Maka terwakililah kenangan memadu kasih saat remaja lewat karakter Galih dan Ratna yang merasakan adanya rasa pada pandangan pertama. Ketika itu, Ratna (Sheryl Sheinafia) adalah murid baru dari Jakarta yang pindah di sebuah sekolah di Bogor. Saat dia baru saja datang dan memperkenalkan diri di depan kelas, Galih (Refal Hady) dengan mudahnya terpesona dengan paras cantik Ratna. Galih dan Ratna memiliki atraksi yang sangat besar satu sama lain dan ingin merealisasikan perasaannya agar jadi satu.

Di suatu sore, di sebuah toko kaset tua peninggalan ayah Galih, Ratna datang untuk ingin tahu siapa Galih. Setelah itu, mereka berdua semakin akrab dan tiba saatnya Galih ingin menyatakan perasaannya kepada Ratna. Melalui sebuah kompilasi kaset pita, Galih menggunakannya sebagai perwakilan suara hatinya kepada Ratna. Tetapi, problematika Galih dan Ratna tak hanya tentang kisah cintanya, tetapi juga problematika pribadi yang membuat mereka tak bisa merajut kasih dengan tenang. 


Plot cerita utama di ‘Galih & Ratna’ memang hanya sekedar bagaimana keduanya saling memadu kasih. Tetapi, bukankah memang ketika dua orang sedang merajut kasih, seakan-akan dunia milik berdua? dan poin itulah yang berusaha disampaikan oleh Lucky Kuswandi. ‘Galih & Ratna’ memang tak bisa lepas dengan pandangan sebuah plot yang generik, tetapi pengarahan Lucky Kuswandi berhasil memberikan sentuhan yang begitu manis. Sehingga, performa plotnya yang sudah menjemukan ini bisa menjadi sebuah angin segar di film-film dengan genre yang serupa.

Manis-manis jambu, begitulah ‘Galih & Ratna’ sebagai film kisah cinta remaja. Film ini dapat menimbulkan rasa manis yang muncul perlahan-lahan dan membuat penontonnya tersipu malu. ‘Galih & Ratna’ bisa digunakan sebagai sebuah memoir masa remaja yang dirindukan oleh banyak orang, apalagi bagi penonton yang sudah lewat masa remajanya. ‘Galih & Ratna’ milik Lucky Kuswandi ini bukan hanya sekedar pemicu rasa nostalgia atas film terdahulunya, tetapi lebih kepada sebagai pengingat masa-masa remaja penontonnya.

Meski disadur dari sumber yang sama, Lucky Kuswandi membuat ‘Galih & Ratna’ sebagai sebuah film adaptasi dengan interpretasi bebas. Muncullah pembaharuan yang terjadi di dalam konfliknya agar memiliki relevansi dengan masa remaja generasi millenial. Sehingga, ‘Galih & Ratna’ tak hanya sebagai mesin pengingat kenangan bagi penontonnya yang sudah tumbuh dan berkembang dengan ‘Gita Cinta di SMA’, tetapi juga sebagai tontonan alternatif remaja yang ingin merasakan pahit manisnya cinta. 


Meski kisahnya ringan dan mendayu-dayu tetapi ‘Galih & Ratna’ tak melupakan bagaimana karakternya yang remaja ini juga sedang proses untuk memiliki kedewasaan. Sehingga, film ini tak sekedar kisah cinta yang manis, tetapi juga ada rasa pahit dalam proses berceritanya. Setiap karakternya berkembang mencari jati diri dan apa yang mereka inginkan dalam hidup mereka. Pesan lain dalam ‘Galih & Ratna’ adalah menceritakan tentang tujuan dan apa yang diinginkan setiap orang dalam hidupnya.

Kehadiran Galih & Ratnabisa menjadi jawaban atas film kisah cinta remaja yang dibuat dengan sangat baik. Akhirnya penonton remaja bisa memiliki film untuk mencurahkan kegalauan hati dengan representasi di film yang tepat. ‘Galih & Ratna’ memang klise, tetapi ada rasa manis yang muncul dan berhasil membuat hati penontonnya tersipu malu. Meski dengan sumber yang sama dengan film di tahun 1979, Lucky Kuswandi lebih membuat ‘Galih & Ratna’ sebagai sebuah film adaptasi bebas interpretasi. Tujuannya bukan hanya sebagai pengingat memori penonton yang sudah lewat masa remajanya, tetapi juga menunjukkan adanya relevansi kepada remaja masa kini. Dan Lucky Kuswandi berhasil mengemas ‘Galih & Ratna’ yang membuat degupan di hati.  

BUKA’AN 8 (2017) REVIEW : Kapsul Waktu Penuh Kritik Sosial


Di setiap tahunnya, Angga Dwimas Sasongko akan selalu melahirkan sebuah film dengan kemasan yang berbeda. Kekuatan Angga Dwimas Sasongko dalam mengarahkan film-filmnya adalah ketika dia berhasil membuat karakternya sangat terkoneksi dengan penontonnya. Mulai dari Hari Untuk Amanda hingga Surat Dari Praha, Angga Dwimas Sasongko berhasil memberikan intimasi yang membuat penonton memiliki kedekatan dan simpati kepada karakter-karakter dan problematika yang ada di dalam filmnya.

Di tahun 2017 ini, Angga Dwimas Sasongko kembali menyuguhkan karya terbarunya. Proyek film besutannya kali ini bekerjasama dengan Salman Aristo sebagai penulis naskah. Film terbarunya ini dibintangi oleh Chicco Jerikho dan aktris pendatang baru, Lala Karmela. Angga Dwimas Sasongko mendedikasikan film ini sebagai bentuk kapsul waktu anak pertamanya. Kali ini, Angga Dwimas Sasong bermain dalam genre drama komedi lewat Buka’an 8.

Sebuah kapsul waktu untuk anak dari Angga Dwimas Sasongko, jelas membuat film terbarunya ini akan terasa sangat personal. Akan banyak referensi dan pengalaman pribadi dari sang sutradara yang mempengaruhi kemasan dari Buka’an 8. Meski film ini punya tujuan personal, tetapi Angga Dwimas Sasongko membuat Buka’an 8 dengan mudah dinikmati secara universal. Buka’an 8 bukan sekedar sebuah drama komedi yang dapat membuat penontonnya terhibur, tetapi juga penuh akan komedi satir yang emosional karena dibuat dengan hati yang besar.


Ada banyak isu yang berusaha disampaikan oleh Angga Dwimas Sasongko saat mengarahkan Buka’an 8. Lewat film ini, sang sutradara berusaha memberikan informasi dan pengertian tentang isu menjadi orang tua yang penuh dengan tanggung jawab. Belum lagi isu-isu sosial dan politik lainnya yang disematkan oleh setiap karakternya. Film Buka’an 8 memang akan terasa penuh akan tujuan-tujuan yang pretensius, tetapi Salman Aristo sebagai penulis naskah berhasil memberikan porsi yang baik sehingga semua isu itu terasa seimbang.

Buka’an 8 bertumpu pada cerita tentang satu titik kejadian yang terjadi pada karakternya, bukan berusaha mengenalkan siapa Alam dan Mia secara runtut dari awal hingga akhir. Berangkat akan satu premis yang sederhana dan satu titik kejadian dalam hidup mereka, Angga Dwimas Sasongko sangat berhasil membuat konflik dan setiap karakternya begitu kaya. Penonton pun dengan mudah menaruh simpati kepada Alam dan Mia dan problematikanya menantikan anak pertama. 


Problematika film ini sederhana, menceritakan bagaimana Alam (Chicco Jerikho) dan Mia (Lala Karmela) yang sedang menantikan kelahiran anak pertamanya. Tetapi, proses adminitrasi di rumah sakit tak semudah dan baik-baik saja seperti yang dikira oleh Alam. Kendala ada pada biaya administrasi Rumah Sakit yang kurang. Alam pun memutar otak untuk mencari sisa uang agar Mia dapat melahirkan dengan perawatan yang layak.

Konflik ini sudah terjadi di berbagai kalangan, tetapi yang menjadi berbeda adalah sosok Alam yang unik. Dia adalah selebtwit yang memiliki banyak followers di sosial media. Tak berhenti di sana, Alam sering melakukan perang opini di sosial terbuka yang membuat dirinya semakin mendapat masalah dengan opininya. Inilah yang membuat proses menantikan kelahiran anak pertama keluarga Alam dan Mia menjadi berbeda. 


Dengan menekankan pada konflik keluarga yang rumit ini, akan terasa terlalu berat apabila Buka’an 8 malah dikemas terlalu serius. Angga Dwimas Sasongko menyiasatinya dengan mengemas Buka’an 8 menjadi film komedi. Film ini penuh akan misi untuk memberikan kritik sosial yang ada di sekitar masyarakat. Buka’an 8membangun relevansi antara karakter fiksi dengan realita sosial yang ada. Sehingga, sang sutradara mengajak penontonnya untuk bersama-sama menertawakan problematika sosial yang sebenarnya mereka jalani.

Angga Dwimas Sasongko tahu benar atas segala konflik di dalam Buka’an 8 dan berhasil diterjemahkan lewat naskah yang disusun begitu rapi dan detil oleh Salman Aristo. Keduanya berhasil memberikan sebuah kolaborasi yang pintar. Penonton akan tahu bahwa film ini sangat personal yang didasari pengalaman pembuatnya. Bila dapat diibaratkan, Buka’an 8 adalah anak dari Angga Dwimas Sasongko yang dirawat penuh dengan kasih dan penuh tanggung jawab.

Dengan problematika dan kritikan sosial yang pretensius itu, Angga Dwimas Sasongko tak menyampaikannya dengan menggebu-gebu. Angga Dwimas Sasongko menuturkan setiap konflik ceritanya dengan begitu lembut. Sang sutradara berusaha untuk memberikan romantisasi atas konfliknya yang sudah terlalu berat ini. Dengan begitu, penonton akan dengan mudah menangkap maksud dan tujuan di dalam Buka’an 8. Film ini tak akan menjadi personal bagi pembuatnya, tetapi juga bagi siapa saja yang menontonnya.  


Buka’an 8 sebenarnya sebuah surat cinta kepada masyarakat yang menganggap bahwa menikah adalah jawaban atas segala masalah kehidupan satu individu yang bertambah berat. Buka’an 8 membuka fakta bahwa sebenarnya menikah pun akan membuat tanggung jawab akan semakin besar. Keluarga bukan tentang satu individu dengan problematikanya, tetapi tentang sekelompok individu yang memiliki masalah masing-masing. Butuh kepala dingin agar dapat mendapatkan solusi atas setiap masalah yang akan mereka hadapi.

Nilai tentang Tanggung jawab inilah yang berusaha ditekankan di dalam film Buka’an 8. Mulai dari tanggung jawab menjadi kepala keluarga, hingga bertanggung jawab dalam opini yang disampaikan. Entah opini tersebut dilayangkan secara verbal atau pun di ruang publik yang berpindah ke sosial media. Poin ini dilekatkan pada karakter Alam yang meskipun tak perlu kilas balik latar belakang ceritanya, akan terasa bagaimana tranformasi Alam dalam mengemban tanggung jawabnya.

Tak hanya kolaborasi Angga Dwimas Sasongko dan Salman Aristo saja yang bersinergi, tetapi juga performa dari Chicco Jerikho dan Lala Karmela. Mereka dapat menumbuhkan ikatan kuat yang meyakinkan penontonnya. Mereka bisa memperkuat setiap adegan demi adegan dan ketika mencapai pada adegan kunci, penonton bisa merasakan emosinya. Belum lagi Dayu Wijanto dan Sarah Sechan sebagai pemeran pembantu juga bisa mengiringi tanpa perlu mendominasi peran mereka. Semua pemainnya bersinergi dengan iringan musik yang tahu tempat. 


Maka dari itu, Buka’an 8bukan hanya karya personal dari Angga Dwimas Sasongko tetapi juga mampu membuat karyanya ini terasa personal bagi siapa saja yang menontonnya. Meskipun personal, film ini mampu memberikan kritik sosial yang bersinergi dengan baik. Buka’an 8 penuh akan misi tentang banyak hal pretensius yang bagusnya bisa berjalan seimbang dan tak menggebu-gebu. Ada penuturan yang lembut layaknya seorang ayah yang menasihati anaknya di dalam film. Dengan penulisan naskah Salman Aristo yang detil dan pengarahan Angga Dwimas Sasongko yang kuat,  Buka’an 8 adalah sebuah opini dari Angga Dwimas Sasongko tentang tanggung jawab dalam setiap aspek kehidupan. Sebuah kapsul waktu yang didedikasikan kepada para buah hati yang sangat emosional. Luar biasa!

LION (2016) REVIEW : Perjalanan Menemukan Arti Rumah

Berbicara tentang perjalanan kembali menuju rumah di dalam sebuah film akan dengan mudah merebut hati penontonnya. Bahkan kritikus dan ajang penghargaan akan dengan mudah mengapresiasi film-film seperti ini. Tahun 2016 lalu, sebuah film bertema perjalanan kembali menuju rumah mendapatkan sebuah sorotan dan pujian oleh kritikus dan beberapa ajang penghargaan. Film tersebut adalah Lion yang disutradarai oleh Garth Davis dan berdasarkan sebuah kisah nyata.

Lion diangkat dari kisah asli dari Saroo yang telah ditulis dalam sebuah novel. ‘A Long Way Home’ adalah buku yang mendasari Garth Davis untuk mengarahkan filmnya. Naskah adaptasinya diserahkan kepada Luke Davies untuk menentukan struktur ceritanya. Dev Patel dipercaya untuk menggambarkan sosok asli dari Saroo dewasa. Ada pula Sunny Pawar yang memerankan Saroo di fase masih kecil. Film ini pun dibintangi oleh beberapa nama lain seperti Nicole Kidman dan Rooney Mara.

Tema-tema tentang menemukan kembali rumah memang sudah biasa dan sering hadir di berbagai film sebelumnya. Tetapi, tak ada salahnya apabila tema-tema seperti ini kembali diangkat ditambah dengan pengarahan yang begitu kuat dan memiliki dampak kepada penontonnya. Lion milik Garth Davis ini kembali hadir mengusung tema yang generik ini dan dikemas ulang menjadi sesuatu yang segar. Hal itu dikarenakan bagaimana Garth Davis punya sensitivitas yang berhasil membuat Lion begitu hidup dan emosional. 


Orang akan menganggap film-film dengan tema yang diangkat oleh film Lion bukanlah sesuatu yang baru dan mendapat apresiasi. Benar, memang tak ada yang baru dari plot cerita di dalam film Lion. Segala ceritanya berjalan linear dan penuturannya memang memiliki linimasa cerita yang runtut seperti babak kehidupan nyatanya. Tetapi, Lion memiliki sesuatu yang berbeda di hal lain yaitu bagaimana Garth Davis menceritakan setiap babak kehidupan dari Saroo.

Garth Davis tahu bahwa film-film bertema seperti ini tak memiliki gaya penuturan cerita yang baru. Semuanya akan jatuh menjadi film yang generik dengan film-film sebelumnya. Tetapi, Garth Davis mampu memberi sesuatu yang kaya dan akan membuat penontonnya sangat menikmati Lion di durasinya yang mencapai 118 menit. Poinnya adalah bukan dari bagaimana film Lion bisa memberikan sesuatu yang baru di dalamnya. Layaknya Saroo yang punya keinginan teguh mencari rumahnya, Garth Davis juga ingin membuat penonton merasakan setiap proses penuturannya lewat Lion. 


Ini adalah sebuah kisah tentang Saroo kecil (Sunny Pawar) yang kala itu ingin ikut sang kakak, Guddu (Abhishek Bharate) mencari nafkah untuk membantu Ibunya. Di sebuah stasiun saat malam hari, Guddu menyuruh Saroo untuk diam di sebuah bangku stasiun agar tak hilang selagi Guddu mencari sesuatu.  Merasa bosan, Saroo pun terlelap tidur dan ketika dia bangun Guddu masih belum kembali. Di tengah dia mencari Guddu, dia masuk ke dalam sebuah kereta dan tak sengaja terlelap lagi di dalam kereta itu.

Kereta itu ternyata membawanya ke Calcutta, tempat yang sangat jauh dari rumahnya. Perjuangan Saroo bertahan hidup pun susah, hingga akhirnya Saroo dibawa ke sebuah penampungan anak-anak.  Saat berada lama di tempat penampungan karena tak ada yang mencarinya, Saroo diadopsi oleh Sue (Nicole Kidman) dan John Brierley (David Wenham) yang berasal dari Australia. Setelah tinggal lama, Saroo yang sudah beranjak dewasa (Dev Patel) merindukan kembali rumahnya yang dulu. 


Menonton Lion memang tak perlu berusaha terlalu keras mencocokkannya dengan berbagai bidang keilmuan. Cukup menontonnya dengan tenang, maka Lion akan sangat mudah dinikmati oleh berbagai kalangan. Cerita Lion harus diakui memang sangat linear dan itu membuat penontonnya akan dengan mudah menebak bagaimana kelanjutan setiap ceritanya. Tetapi, sekali lagi, sajian Lion sebagai sebuah film bukan sekedar menunjukkan sebuah superioritas, melainkan tentang merasakan setiap adegannya.

Proses penyampaian di dalam film Lion lah yang perlu dirasakan oleh penontonnya. Garth Davis berhasil menampilkan berbagai adegan emosional. Garth Davis tahu detil cerita mana yang akan membuat penontonnya terenyuh, merasakan sebuah pahit manisnya perjalanan proses kehidupan Saroo mulai kecil hingga tumbuh dewasa. Garth Davis punya sensitivitas itu dalam mengarahkan Lion sehingga di setiap detil kecil filmnya memiliki emosi tanpa perlu menggebu-gebu.

Memang, tak berarti Lion adalah sebuah film yang sempurna. Penyampaian dari Garth Davis memang beberapa kali terasa lepas dari ritme apalagi di awal film. Penonton akan berusaha meraba siapa Saroo dan keluarganya agar dapat terkoneksi. Meskipun ketika sudah memiliki ritmenya, poinnya maka bukan siapa Saroo dalam film Lion, tetapi seperti apa Saroo dalam film Lion yang semakin bertambah durasi karakter ini juga akan semakin berkembang. 


Teringat sebuah adegan di mana Saroo dan Sue yang diperankan oleh Sunny Pawar dan Nicole Kidman di sebuah kamar mandi. Sue sedang menatap Saroo yang sedang membersihkan diri, memperlihatkan bagaimana seseorang merindukan sesuatu di dalam hidupnya. Meski adegannya begitu tenang, Garth Davis mampu mengarahkan Nicole Kidman agar dapat dirasakan oleh penontonnya. Itulah Lion yang berusaha menonjolkan pesan tentang Rumah adalah tempat yang nyaman untuk beristirahat.

Setiap karakter di dalam film Lion memiliki representasi atas pesan yang berusaha ditampilkan oleh Garth Davis. Di durasinya selama 118 menit, Lion berisikan tentang orang-orang yang sedang rindu akan ‘Rumah’, tempat yang tenang dan sejenak melupakan kehidupan yang berat. Saroo yang merindukan Guddu, Sue yang merindukan kehadiran anak di dalam keluarganya. Gambaran setiap karakter ini mengingatkan penontonnya bahwa Rumah bukan hanya sekedar sebuah bangunan, melainkan memiliki arti yang menenangkan, ketika mengingatnya saja hati sudah terasa tentram.

Penuturan dan pesannya tentang rumah yang tentram dan nyaman diperkuat dengan tata sinematografi oleh Greig Fraser yang lembut dan mendayu. Pas dengan bagaimana alur dan ritme film ini melaju. Belum lagi denting piano yang cantik sebagai scoring yang mengiringi setiap adegan di film ini. Dibuat begitu sederhana oleh Dustin O’Halloran dan Hauschka untuk memperkuat sensitivitas pengarahan dari Garth Davis ini sendiri. 


Maka, inilah Lion yang mengingatkan penontonnya akan rasa rindu akan rumah. Mengingatkan penontonnya akan Rumah yang tak hanya diartikan secara harfiah sebagai sebuah bangunan yang menampung satu keluarga. Tetapi arti Rumah yang menekankan pada tempat istirahat yang nyaman dan tenang. Garth Davis berusaha melekatkan makna itu pada setiap karakter-karakter di Film Lion. Dengan kemasannya yang sederhana dan linear, Garth Davis mampu memberikan emosi yang kaya di setiap adegannya. Mengarungi setiap babak demi babak proses kehidupan Saroo yang berkembang hingga menjadi sebuah individu yang kuat. Dan ketika judul ‘Lion’ muncul sebagai penutup adegannya, maka penonton akhirnya dapat merasakan bahwa inilah Rumah yang dirindukan.
 

LONDON LOVE STORY 2 (2017) REVIEW : Realisasi Mimpi Tentang Cinta Yang Hiperbolis


Kedatangan Screenplay Filmsdi perfilman Indonesia memang memiliki warna baru. Film-filmnya sejak Magic Hour selalu mendatangkan penonton dan itu cukup mengagetkan banyak pihak. Sehingga, dengan kedigdayaannya di perfilman Indonesia membuat rumah produksi satu ini selalu hadir dengan karya terbaru setiap tahunnya karena tahu potensinya menggaet penonton. Screenplay Films pun semakin lama semakin melebarkan sayapnsya dengan berasosiasi bersama Legacy Pictures.

Setelah Magic Hour, film kedua Screenplay Films pun laris manis. London Love Story, yang dirilis pada tahun 2016 ini memasang nama-nama familiar di mata penonton yaitu Michelle Ziudith dan Dimas Anggara dan berhasil menggaet 1 juta penonton. Dengan prestasi raihan penonton yang di luar ekspektasi itu, Screenplay Films kembali menghadirkan kisah cinta Caramel dan Dave di seri berikutnya. Asep Kusdinar tetap -bahkan selalu -kembali menyutradari film-film Screenplay Films lewat London Love Story 2.

Film-film Screenplay Filmsmemang memiliki segmentasi penontonnya sendiri dan film-film mereka akan selalu dinantikan. Kesuksesan London Love Storyseri pertama secara kuantitas ini akan menjadi senjata utama dari Screenplay Films untuk merilis filmnya yang kedua. Formula cerita yang digunakan di London Love Story pertama ini penuh akan poin-poin klise dan kata-kata buaian tentang cinta. Tak perlu kaget, apabila London Love Story 2 ini juga akan kembali menggunakan formula yang sama. 


Kesalahan London Love Storysebelumnya adalah kemasannya yang belum sinematik. Screenplay Films yang berangkat dari rumah produksi untuk televisi memiliki problematika dalam membungkus kemasannya. Penonton tak diberi satu diferensiasi antara film televisi yang biasa mereka saksikan secara gratis dengan film yang mereka khususkan sebagai film bioskop. Begitu pula dengan dialog-dialognya yang tak memiliki kedewasaan serta penuh akan kiasan hiperbola tentang cinta.

Perubahan memang berubah secara bertahap, London Love Story 2 memang tak sepenuhnya berubah menjadi sebuah film dengan konten yang berbeda dan dewasa. Setidaknya, London Love Story 2 memperbaiki tata teknis filmnya yang jauh lebih sinematik. Meski begitu, London Love Story 2 tetap dipenuhi dengan dialog-dialog ajaib dan penuturan yang beda tipis dengan London Love Storysebelumnya. Meski dasar cerita dalam London Love Story 2 adalah tentang tahapan yang lebih matang dalam sebuah hubungan, tetapi kemasannya tetap kekanak-kanakan. 


Kisahnya tetap tentang Dave (Dimas Anggara) dan Caramel (Michelle Ziudith) yang sudah kembali bersama dan menjalani hubungan yang bahagia. Mereka pun berusaha untuk serius satu sama lain dan ingin lanjut ke hubungan yang lebih dewasa. Tetapi, perjalanan hubungan tak semulus yang mereka bayangkan. Dave mengajak Caramel pergi ke Swiss dengan tujuan liburan, tetapi perjalanan liburan mereka malah menjadi sebuah bencana bagi hubungan mereka.

Di tengah liburannya, Caramel yang sedang menikmati makanan di suatu restoran atas rekomendasi Sam (Ramzi), dikejutkan dengan hadirnya masa lalu Caramel saat SMA. Gilang (Rizky Nasar), Chef restoran itu adalah masa lalu dari Caramel yang pernah mengisi ruang hatinya. Sam yang sudah akrab dengan Gilang, mengenalkannya pada Dave. Dan mereka berempat pun liburan bersama-sama dan membuat Caramel was-was akan kehadiran Gilang di tengah hubungannya dengan Dave yang sudah bahagia. 


Tak salah apabila di sebuah film remaja masih menggunakan formula yang itu-itu saja, begitu pula yang terjadi di London Love Story 2. Film ini hanya mengulang, sulam dan tambal cerita-cerita usang agar menjadi sesuatu yang  baru. Pengarahan Asep Kusdinar pun masih berusaha untuk berkembang, meskipun tak terasa begitu signifikan. Penuturan kisah cinta klise di dalam London Love Story 2 sudah lebih berkembang ketimbang film pertamanya.

Setiap konflik yang ada di film ini setidaknya menemukan ritme yang lebih baik untuk diarahkan lebih runtut dibanding karya-karya Asep Kusdinar di Screenplay Films sebelumnya. London Love Story 2 pun berkembang menjadi sesuatu yang setidaknya masih bisa dinikmati dan tak membuat penonton bingung karena lantaran susunan plotnya minim kekacauan. Tetapi, bukan berarti London Love Story 2 akhirnya menjadi karya sempurna dan menjadi lonjakan dari film-film Screenplay Films sebelumnya.

London Love Story 2 dipenuhi dengan plot cerita yang membuat dahi berkerut karena banyak sekali keajaiban yang terjadi di dalam ceritanya. Kisah cinta segitiga yang penuh akan pengorbanan dihiasi dengan elemen-elemen kematian dan ditinggalkan dengan atas nama romantisasi. Belum lagi naskah yang diramu berdua oleh Sukhdev Singh dan Tisa TS masih memiliki rangkaian kata penuh majas hiperbola yang terasa dibuat-buat. 


Inilah yang selalu menjadi poin minus dari Screenplay Films di segala karyanya yang sebenarnya sudah memiliki perkembangan secara teknis. Naskah di London Love Story 2 inilah yang menjadi masalah karena tak diatur dengan baik. Terasa bagaimana London Love Story 2tak memiliki struktur cerita yang kuat, sehingga berdampak pula pada pengarahan Asep Kusdinar yang belum terlalu kuat. Dasar struktur dalam London Love Story 2 yang tak kuat ini akan membuat penontonnya bingung dan meraba apa yang terjadi oleh karakter-karakternya.

London Love Story 2 sibuk memberikan sorotan lebih kepada karakter sampingannya, sehingga Asep Kusdinar lupa untuk memberikan pengarahan lebih kepada plot utamanya. Sehingga, ketika masuk ke dalam konfliknya penonton akan berusaha sendiri mencari jawaban atas lubang cerita yang ada di dalam London Love Story 2. Belum lagi dialog-dialog hiperbola yang selalu mewarnai film-film Screenplay Films yang seakan-akan sudah menjadi signature.

Dialognya penuh akan romantisasi hiperbola yang tak begitu sanggup untuk didengar. London Love Story 2penuh akan dialog yang berusaha keras untuk diromantisasi dan hasilnya malah terdengar begitu hiperbolis. Terlalu manis untuk diucapkan setiap karakternya yang membuat film ini hanyalah sebuah hasil realisasi mimpi yang tak kunjung ditemukan oleh penulisnya. London Love Story 2 bukan malah menimbulkan efek romantis, yang ada malah menekankan bahwa film ini terasa dongeng yang fiktif. 


Dengan begitu, London Love Story 2 tak serta merta menjadi karya terbaik dari film-film Screenplay Films. Persepsi yang keluar adalah London Love Story 2 setidaknya memiliki babak yang lebih runtut dan lebih mending dibanding film-film sebelumnya. Sisi teknis sinematik di London Love Story 2 setidaknya sudah berkembang dan pengarahan yang sedikit berkembang. Tetapi, London Love Story 2 masih memiliki kelemahan-kelemahan film Screenplay Films sebelumnya. Struktur cerita yang tak terlalu kuat diiringi dengan dialog-dialog ajaib yang membuat penonton tak bisa menahan tawa. Meski digadang sebagai sebuah film romantis, London Love Story 2 hanya sebuah realisasi mimpi yang tak terwujud dengan kemasan yang hiperbolis.