• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.

25 Film Pilihan Tahun 2018 versi Arul’s Movie Review Blog

 
Film-film rilisan tahun 2018 rasanya sudah banyak sekali yang dirilis dan beberapa bioskop sudah berusaha untuk mendatangkannya ke dalam negeri. Tak hanya itu, ada banyak pula film-film rilisan Netflix yang ternyata mencuri perhatian banyak orang. Bahkan, film-film mereka mampu menjadi nominasi Academy Awards tahun ini.

Iya, ini udah Maret 2019, tetapi aku juga pengen dong buat kasih kamu daftar 25 film Terbaik versi Arul’s Movie Review Blog. Tetapi, bisa dibilang list ini agak curang sih, karena di beberapa posisi ada yang benar-benar seimbang dan sayang untuk digeser menurutku. Jadi, mungkin ini lebih dari 25 film kalau dihitung secara total. Mungkin ada beberapa film yang dipuji banyak orang, tetapi malah tak berpengaruh sama sekali buatku. Ya, namanya selera sih dan preferensi orang pasti juga beda-beda. Film-film seperti A Star Is Born, Crazy Rich Asians, Searching, Mission Impossible: Fallout, BlacKkKlansmandan Bohemian Rhapsody ternyata tak bisa merebut hatiku.

Iya, film-film pilihan itu mungkin bahkan sedang dipuja-puja oleh banyak orang. Bukan berarti filmnya tak bagus, tetapi tidak cocok saja dengan diriku yang pemilih ini. Tetapi, sebelum akhirnya masuk ke daftar 25 film terbaik. 6 Film ini setidaknya sempat mencuri hatiku dan ku taruh dalam list honorable mention. Film-film ini adalah:

- Black Panther
- Upgrade
- Mamma Mia: Here We Go Again
- Ant-Man and the Wasp
- Brother of the Year
- Bad Times at the El Royale

Jadi, mari masuk ke dalam daftar 25 Film Pilihan versi Arul’s Movie Review Blog!
 

25. To All The Boys I've Loved Before (Dir. Susan Johnson/Netflix)
Film milik netflix ini diadaptasi dari buku Jenny Han yang ternyata tampil sangat manis. Chemistry Lana Condor dan Noah Centineo berhasil mencuri perhatian, sehingga kisahnya romansanya yang terlihat usang bisa tampil segar.


24. Capernaum (Dir. Nadine Labaki/Mooz Films)
Kisah seorang anak dengan perjuangannya menjalani hidup ini bisa tampil sangat nyata. Arti kata Capernaum yang berarti kekacauan ini berhasil diterjemahkan dengan baik di layar dan dalam kekacauannya, ternyata kisahnya begitu indah dan emosional. 

 
23. The Miseducation of Cameron Post (Dir. Desiree Arkhavan/FilmRise)
Kisah pencarian jati diri Cameron Post di film ini tampil dengan caranya yang tenang tetapi sekaligus menyerap penontonnya untuk sekaligus ikut larut dalam perjalanan Cameron Post yang sedang bingung dengan orientasi seksualnya. 


22. Sekala Niskala (Dir. Kamila Andini/Fourcolors Films)
Kamila Andini berhasil memberikan sebuah film tentang budaya dengan pendekatan seninya yang bisa tampil tanpa ada pretensi apapun. Sebuah perjalanan spritual yang jujur, unik, tetapi memberikan emosi dan nyawanya sendiri.


21. Widows (Dir. Steve McQueen/20th Century Fox)
Mungkin film ini lebih menyoroti drama para janda yang sedang ditinggal suaminya dengan pendekatan heist movie itu. Tetapi, itulah yang membuat film ini menjadi sajian yang menarik. Tensinya hadir lewat dialog dan adegannya yang sangat intens.


20. Leave No Trace (Dir. Debra Granik/Bleecker Street)
Menghadirkan sebuah kisah hubungan ayah dan anak dengan cara yang berbeda. Menghadirkan representasi kelas sosial lain dalam ceritanya dan berusaha mencari arti rumah itu sendiri dalam perjalanan kisahnya. Subtle, powerful, and also heartwarming!


19. Game Night (Dir. John Francis Daley and Jonathan Goldstein/Warner Bros Pictures)
Tak akan ada yang menyangka bahwa film ini ternyata memberikan sebuah performa yang solid. Premisnya menarik, eksekusinya apalagi. Sebuah film komedi asik yang bisa membuat penontonnya menaruh perhatian pada teka-tekinya serta membuat tertawa tanpa henti!


18.1. A Simple Favor (Dir. Paul Feig/Lionsgate) 
18.2. Thoroughbreds (Dir. Cory Finley/Focus Features)

Mereka seimbang, karena bisa menghadirkan sebuah black comedy di tengah plotnya yang serius. A Simple Favor milik Paul Feig bisa memberikan komedinya yang pas saat kisahnya sedang berjalan menuju jalan cerita yang penuh misteri.


Begitu pula dengan Thoroughbreds, yang komedi satirnya bisa berjalan seimbang dengan premisnya dan perkembangan karakternya yang gila.


17. A Quiet Place (Dir. John Krasinski/Universal Pictures)
Karya perdana John Krasinski sebagai sutradara ini ternyata berhasil menjadi sebuah thriller yang bisa memacu jantung penontonnya. Memainkan sebuah tensi di dalam 90 menitnya dengan tenang, perlahan, tetapi pasti. Penonton pun rasanya ikut menahan nafas saat menontonnya.


16. Wreck-It Ralph 2: Ralph Breaks The Internet (Dir. Phil Johnston, Rich Moore/Disney)
Sekuel dari Wreck-It Ralph ini berhasil menjadi sebuah tontonan yang luar biasa imajinatif. Film ini mampu memberikan gambaran tentang dunia digital dengan cara yang pintar, menyenangkan, dan juga memberikan referensi pop culture yang luar biasa melimpah. 


15. Christopher Robin (Dir. Marc Forster/Disney)
Terkadang, film dengan hati yang hangat seperti Christopher Robin ini perlu untuk ditonton. Apalagi bagi mereka yang sedang ingin lari sebentar dari realita dan mengingat masa kecilnya yang bahagia. Itulah, yang membuat Christopher Robin ini terasa spesial sekaligus membuat hati hangat.


14.1. Instant Family (Dir. Sean Anders/Paramount Pictures)
14.2. Green Book (Dir. Peter Farelly/Universal Pictures)
Instant Family menjadi sebuah film keluarga yang tak disangka bakal menghibur sekaligus membuat haru. Hubungan keluarga tanpa darah ini berhasil merebut hati penontonnya dengan segala perjuangannya agar bisa terlihat seperti keluarga normal.


Sama seperti Green Book yang juga berusaha agar hubungan pertemanan berbeda ras ini juga sedang berjuang dengan segala isu rasisme yang masih ada. Kisah dengan isunya yang sensitif itu dikemas dengan narasi yang lebih accesible. Pantas bila menang Best Picture di Oscars tahun ini.


13. Ready Player One (Dir. Steven Spielberg/Warner Bros Pictures)
Jangan ragukan Steven Spielberg dalam membuat sebuah film dengan cinematic experience luar biasa. Adaptasi dari buku Ernest Cline ini mampu memiliki teka-teki yang menyenangkan. Apalagi didukung dengan banyak referensi pop culture di dalam filmnya.


12.1. First Reformed (Dir. Paul Schrader/A24)
12.2. Blindspotting (Dir. Carlos Lopez Estrada/Foley Walkers Studio) 
Blindspotting berhasil membicarakan isu sosial dengan caranya yang stylish sekaligus emosional. Film ini berusaha untuk meyakinkan bahwa tak perlu berusaha menjadi bagian dari satu kaum tertentu, karena bukan malah membuatnya terangkat derajatnya tetapi malah menambahi masalah itu sendiri. 


Begitu pula dengan First Reformed yang berusaha mematahkan generalisasi tentang satu sosok tertentu. Karena pada dasarnya, manusia akan memiliki sebuah kesalahan yang sama satu sama lain.


11.1. Annihiliation (Dir. Alex Garland/Paramount Pictures)

11.2. Spider-Man: Into The Spider-Verse (Dir. Bob Persichetti, Peter Ramsey, Rodney Rothman/ Sony Pictures)
Keduanya bermain dalam ranah fiksi ilmiah yang sama serta memiliki alternate universe yang berusaha mereka angkat. Bila Annihilation menjadikan alternate universe-nya menjadi sajian dengan penuh teka-teki dan interpretasi tentang kebenaran.


Berbeda dengan Spider-Man: Into The Spider-Verse yang membuat alternate universe-nya menjadi sajian yang menyenangkan dan menghibur. Tetapi, keduanya sama-sama cerdas.


10.1. Cold War (Dir. Pawel Pawlikowski/Opus Film-Amazon Studios)

10.2. Can You Ever Forgive Me (Dir. Marielle Heller/Fox Searchlight Pictures)
Keduanya berhasil bermain dalam ranah kisah dengan sudut pandang yang berbeda.
Cold War menjadikan kisah cinta antara kedua insan manusia dengan latar belakang yang berbeda ini menjadi metafora tentang setting kisahnya yang sedang dalam perang dunia dengan sajian yang tragis tetapi manis.


Can You Ever Forgive Me ini bisa bermain dalam kisahnya yang menceritakan sosok kriminal tetapi berhasil menarik simpati dari penontonnya. Bahkan, ikut hanyut dalam kisah jatuh bangunnya dalam membangun karir kriminalnya. Keren!


9.1. Love Simon (Dir. Greg Berlanti/Fox 2000 Pictures)

9.2. Boy Erased (Dir. Joel Edgerton/Focus Features)
Keduanya mengisahkan kisah tentang gay dengan caranya yang berbeda.
Love Simon menyoroti kehidupan remaja gay yang sedang berusaha untuk mengakui dirinya dan menginginkan pasangan layaknya remaja pada umumnya.


Meski tetap dengan tema kisah gay, Boy Erased menyoroti hal lain. Filmnya berusaha menyorot praktek penyembuhan orientasi seksual di sebuah gereja yang ternyata berdampak buruk tanpa mengerdilkan kedua belah pihak yang bertolak belakang ini.


8.1. Eighth Grade (Dir. Bo Burnham/A24)
8.2. Mary Poppins Returns (Dir. Rob Marshall/Disney)
 Eighth Grade memberikan realita tentang kisah pubertas anak perempuan generasi zaman sekarang dan juga interaksinya dengan sebaya. Filmnya terasa jujur dan dalam.


Mary Poppins Returns mengajak kita untuk kembali menjadi sosok anak-anak yang polos dan itulah yang menjadi solusi dalam setiap masalah. Belum lagi, adegan musikalnya elegan dan filmnya sangat berwarna!


7. Incredibles 2 (Dir. Brad Bird/Disney)
Sekuel dari The Incredibles di tahun 2004 ini ternyata masih bisa menjadi sajian yang sangat asyik dan menyenangkan untuk ditonton. Bahkan, memberikan pesan tentang kesetaraan gender dengan cara yang ringan dan bisa diterima oleh semua kalangan.


6.1.  Hereditary (Dir. Ari Aster/A24)
6.2. Burning (Dir. Lee Chang-dong/Pinehouse Films-Now Film-NHK)
Kedua film ini dibalut oleh banyak misteri.
Hereditary memberikan kengerian lewat ketidakpastian penonton menerima informasi dalam filmnya dan membuatnya menerka-nerka apa yang terjadi sehingga asumsi itu menganggu pikiran penontonnya.


Burnng juga melakukan hal yang demikian. Ketidaktahuan penonton akan dibawa mengikuti perjalanan karakter utamanya yang ternyata menuju dalam sebuah misteri yang tak terungkap. Kedua film ini berhasil membuat penontonnya berasumsi sendiri dalam artian positif.


5. Tully (Dir. Jason Reitman/Focus Features)
Kisah seorang Ibu yang mulai lelah menjalani hidupnya ternyata seru untuk dinikmati. Tully menghadirkan realita bahwa perempuan juga ingin menjalani hidupnya dan tanpa harus terbebani oleh masalah domestiknya. Kisahnya menarik sekaligus emosional sekali.


4. Avengers: Infinity War (Dir. Anthony and Joe Russo/Disney)
Russo Brothers berhasil menjadikan Avengers: Infinity War menjadi sajian film manusia super yang super kompleks tetapi tidak terasa berlebihan. Semuanya pas hingga adegan akhirnya yang membuat penontonnya terperangah dan rela menunggu Avengers: Endgame datang untuk menjawabnya.


3. Shoplifters (Dir. Hirokazu Kore-eda/Aoi Pro-Gaga Pictures)
Koreeda berusaha merekonstruksi arti dari keluarga itu sendiri. Keluarga yang tak berjalan dengan semestinya ini berhasil menghangatkan hingga babak akhirnya yang membuat penonton tak sanggup berkata-kata lagi. Sebuah kritik keras tentang pemerintahan dengan kisah keluarga yang menyayat hati.


2.1. The Favourite (Dir. Yorgos Lanthimos/Fox Searchlight Pictures) 
2.2. Roma (Dir. Alfonso Cuaron/Netflix)
Keduanya sama-sama mengisahkan tentang perempuan.
The Favourite menceritakan bagaimana perempuan pun bisa melakukan apa saja demi kekuasaan. Menggunakan laki-laki hanya untuk sebatas melengkapi dirinya saja. Hal yang biasa dilakukan secara sebaliknya. Kemasan komedi unik dari Yorgos Lanthimos semakin menguatkan betapa sinisnya para perempuan terhadap apa yang dilakukan laki-laki.


Roma juga menceritakan tentang perempuan yang pernah jatuh akibat laki-laki. Tetapi mereka mampu berdiri dan saling menguatkan satu sama lain dan memberikan pernyataan bahwa mereka pun masih tetap bisa bertahan hidup seperti biasanya.


1. First Man (Dir. Damien Chazelle/Universal Pictures)
Kisah utamanya memang menyoroti tentang Neil Armstrong yang sedang berusaha untuk menjadi manusia pertama yang datang ke bulan. Tetapi, perjalanannya itu dibuat oleh Damien Chazelle untuk relevan dengan orang yang mengejar mimpinya. Ini adalah kisah tentang perjalanan mengejar mimpi, cinta, dan bahkan kehilangan. Ryan Gosling dan Claire Foy bermain dengan cantik. Adegan akhirnya itu tenang tetapi menyayat hati.

Jadi, ini dia film pilihan di tahun 2018 versi Arul's Movie Review Blog. Kalau pilihan kamu, yang mana nih? Tulis di kolom komentar aja!

14 Film Indonesia Pilihan Tahun 2018 versi Arul's Movie Review Blog


2018 menjadi tahun yang menyenangkan bagi perfilman Indonesia. Beberapa film Indonesia bisa mendapatkan raihan yang minimal berada di satu juta penonton. Tak hanya itu, mulai adanya genre yang semakin beragam di perfilman kita. Meskipun, lagi-lagi genre horor menjadi salah satu yang masih digandrungi oleh penonton-penonton kita. Tetapi, setidaknya ada yang kembali di perfilman Indonesia yaitu kembalinya film untuk anak-anak lewat Kulari ke Pantai, Koki-Koki Cilik dan Petualangan Menangkap Petir. 

Hingga sebuah film science fiction yang berbeda lewat film kecil berjudul Tengkorak hasil sineas kota Yogyakarta. 2018 ini menjadi tahun yang sulit bagi perfilman Indonesia karena beberapa film yang dirilis hanya ada beberapa film yang akan membekas di hati dan benar-benar solid. Dan akhirnya, saya sebagai penulis di blog ini, memilih 15 film Indonesia yang menjadi pilihan untuk Arul’s Movie Review Blog.

Mari dimulai dengan film-film yang mendapatkan mention khusus dan hampir saja masuk ke dalam 15 besar. Beberapa film ini setidaknya menjadi film-film Indonesia dengan kemasan yang solid dalam penuturan kisahnya Mereka adalah:

- Ananta (Dir. Rizki Balki/MD Pictures)

- Dear Nathan Hello Salma (Dir. Indra Gunawan/Rapi Films)

- Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara (Dir. Ray Nayoan/Drelin Amagra Pictures)

- Something in Between (Dir. Asep Kusdinar/Screenplay Films)

- Kafir: Bersekutu Dengan Setan (Dir. Azhar Kinoi Lubis/Starvision Films)

- Yowis Ben (Dir. Fajar Nugros & Bayu Skak/Starvision Films)

- Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (Dir. Anggy Umbara & Rocky Soraya/Soraya Intercine Films)

Dan masuklah kita pada 14 film pilihan dari Arul’s Movie Review Blog, ini dia listnya:


14. Menunggu Pagi (Dir. Teddy Soeriaatmadja/IFI Sinema)
Mungkin film ini menjadi film dengan resepsi yang mixed. Tetapi, meski layaknya sebuah after movie dari event DWP, tetapi Menunggu Pagi punya vibe yang asyik untuk diikuti. Seperti sebuah rendisi ulang dari Nick and Norah: Infinite Playlist, tetapi dengan caranya sendiri. Seru kok.


13. 22 Menit (Dir. Eugene Panji & Myrna Paramita/Button Ijo)
Seru juga ternyata kalau film Indonesia punya genre baru dalam filmnya. Dengan segala sudut pandang dalam ceritanya, 22 Menit masih menjadi sebuah action thriller dengan alur maju mundur yang menarik untuk diikuti. Editingnya juga bagus.


12. Belok Kanan, Barcelona (Dir. Guntur Soeharjanto/Starvision Films-CJ Entertainment)
Lupakan saja subplot religi yang tiba-tiba masuk dan menganggu performa film ini secara keseluruhan. Tetapi, chemistry keempat pemainnya tidak bisa dilupakan begitu saja. Apalagi ketika Anggika Bolsterli dan Deva Mahenra sedang tampil.


11. Rompis(Dir. Monty Tiwa/MNC Pictures)
Film ini muncul dan tampil secara mengejutkan. Di tengah film-film romansa remaja, Rompis -yang diangkat dari kisah sinetron -berhasil dikemas dengan manis oleh Monty Tiwa. Bahkan, bisa dinikmati oleh orang-orang yang tak pernah mengikuti sinetronnya.


10. Eiffel I’m In Love 2 (Dir. Rizal Mantovani/Soraya Intercine Films)
Mengikuti AADC 2, kisah Adit dan Tita pun ikut kembali di layar perak lewat Eiffel I’m In Love 2. Karakternya masih sama, rasa nostalgianya juga masih ada. Tetapi, film ini berkembang, dari segi konflik cerita dan juga karakternya. Warna pastel serta musik di film ini juga dibuat sangat manis. Pas dengan atmosfirnya.



9. The Night Comes For Us (Dir. Timo Tjahjanto/Netflix)
Ini adalah film pertama dari Indonesia yang dirilis langsung dalam format layanan streaming, Netflix. Film dari Timo Tjahjanto ini tak bisa dipungkiri punya tata teknis yang sangat baik. Action sequences-nya pun bisa bikin penontonnya berdecak kagum. Meski, beberapa penuturannya masih bisa lebih maksimal lagi.



8. Milly & Mamet: Ini Bukan Cinta dan Rangga (Dir. Ernest Prakasa/Starvision Films) 
Keduanya memiliki penuturan kisah dramanya yang menarik.
Dari kisah Ada Apa Dengan Cinta? lainnya, Milly & Mamet hadir sebagai film companion yang diarahkan oleh Ernest Prakasa dengan caranya yang menyenangkan persis dengan karakternya. Tak hanya berperan sebagai pendamping AADC, film ini juga berhasil menjadi refleksi tentang kehidupan berpasangan.


Hoax (Dir. Ifa Isfansyah/Indy Pictures-Fourcolours Films)
Film dari Ifa Isfansyah yang seharusnya memiliki judul Rumah dan Musim Hujan dan rilis 2013 ini akhirnya dirilis secara resmi tahun ini. Versi 2018 ini berjudul Hoax dan ada beberapa adegan dalam editingnya yang dibuat berbeda. Tetapi, menyaksikan Hoax memiliki sensasinya sendiri hingga di akhir film yang membuat judul filmnya jadi lebih relevan.



7. Kulari Ke Pantai (Dir. Riri Riza/Miles Films)
Riri Riza kembali mengarahkan sebuah film anak-anak. Kulari Ke Pantai milik Riri Riza ini tak hanya sebagai film anak-anak saja, tetapi juga sebagai kritikan sosial tentang beberapa isu. Meskipun, film sebagai film anak-anak film ini akan susah untuk segmentasinya.


6. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (Dir. Angga Dwimas Sasongko/Lifelike Pictures-20th Century Fox)
Film ini adalah puncak dari pencapaian teknis yang pernah dilakukan oleh film-film Indonesia sekaligus kembalinya genre superhero di film kita. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut 212 ini punya bangunan dunia yang sangat meyakinkan dan Vino G. Bastian sangat sableng memainkan Wiro Sableng. Tak sabar untuk film selanjutnya, semoga bisa dapat jumlah penonton yang lebih baik.


5. Sebelum Iblis Menjemput (Dir. Timo Tjahjanto/SkyMedia Films)
Film Timo Tjahjanto masuk lagi ke dalam daftar film pilihan tahun ini. Sebelum Iblis Menjemput ini menjadi puncak dari pengarahan dari Timo Tjahjanto yang lebih detil. Dia berhasil menggabungkan beberapa referensi horor di dalam filmnya. Chelsea Islan dan Pevita Pearce naik kelas!


4. #TemanTapiMenikah (Dir. Rako Prijanto/Falcon Pictures)
Adaptasi dari buku dengan judul yang sama ini berhasil dikemas oleh Rako Prijanto menjadi sebuah film cinta-cintaan remaja yang manis tetapi terasa berbeda dengan film-film remaja Indonesia yang ada. Meski ceritanya klise, tetapi Rako berhasil membuat filmnya terasa berbeda. Tata kamera dan penyuntingan gambarnya juara!


3. Aruna dan Lidahnya (Dir. Edwin/Palari Films)
Edwin kembali hadir dengan film adaptasi dari buku Laksmi Simanjuntak ini. Lewat film ini, Edwin berusaha untuk berdamai dengan ambisinya yang biasa memberikan plot yang lebih simbolik. Meski tetap ada permainan simbol di dalam film ini, tetapi Aruna dan Lidahnya punya kisah cinta dewasa yang meyakinkan. Keempat bintangnya chemistry-nya kuat sekali!


2. Love for Sale (Dir. Andibachtiar Yusuf/Visinema Pictures)
Sebagian orang mungkin akan menaruh film ini sebagai film terbaik tahun ini. Ya, Love For Sale sebagai sebuah kisah cinta dewasa berhasil memberikan nafas segar di perfilman Indonesia. Performa Gading Marten di film ini memang sangat baik, apalagi ketika berinteraksi dengan Della Dartyan. Film cinta ini bikin nyesek abis!


1. Sekala Niskala (Dir. Kamila Andini/Fourcolours Films)
Membuat sebuah film dengan dasar seni itu memang susah. Sekala Niskala ini adalah bukti bahwa film arthouse seharusnya tampil dengan cara yang seharusnya. Setiap adegannya menjelaskan tentang kehilangan dengan cara yang simbolik tetapi tampil tak pretensius seperti film-film independen lain yang berusaha tampil lebih pintar. Sekala Niskala menjadi sebuah perjalanan spiritual yang indah dan menguras hati. Pantas untuk berada di puncak film terpilih tahun 2018.

Ini nih, 15 film pilihan dari Arul’s Movie Review Blog tahun 2018. Kalau versi kamu yang mana? Bisa banget buat share di kolom komentar!

Namanya Juga Selera Pasti Beda-Beda

 
"Namanya juga selera pasti beda-beda."

Hal itu mungkin berlaku kepada banyak orang saat menonton sebuah film. Bisa saja, orang satu dengan yang lainnya punya pandangan yang berbeda-beda. Balik lagi, namanya juga selera.
Tentu, gak ada yang salah dengan selera seseorang dalam memahami sebuah film. Semua orang berhak untuk memiliki pendapatnya masing-masing. Hanya saja, bagaimana cara mengutarakan pendapat itulah yang perlu menjadi catatan bagi semua orang.

Film itu sebuah perjalanan pencarian jati diri sendiri, kalau cocok sama filmnya, ya bagus. Kalau gak cocok, coba cari tahu kenapa dan apa alasannya.
Namanya juga film, di mana pemilihan kata, dialog, bahkan setting juga dipengaruhi oleh subjektifitas seseorang. Jadi, gak bisa semua orang secara utuh harus mencintai suatu film yang kita anggap “bagus”.

Ya, saya sendiri, sebagai orang yang sudah sering menuliskan keluh kesah tentang sebuah film dalam blog pribadi juga mengalami transisi kok. Dahulu kala, orangnya bener-bener dengan mudah memberikan label “bagus” dan “jelek” tanpa ada embel-embel cocok dengan pribadi saya sendiri.
Mengutarakan opini yang benar-benar saklek dalam memihak film-film yang saya suka. Sekarang, film sudah menjadi hiburan murah bagi banyak orang. Semua mulai untuk memberikan pendapatnya tentang sebuah film yang dia tonton. Apalagi, sebagai seorang Key Opinion Leaders harus tahu bagaimana cara mengutarakan sebuah pendapat tentang film yang ditonton.


Terkadang orang salah kaprah tentang review jujur dalam menilai sebuah film. Review jujur biasanya disampaikan dengan pemilihan kata yang apa adanya, inilah yang menjadi concern bagi saya sendiri terhadap memilah resensi mana yang harus saya baca. Namanya juga seni dalam menulis kata-kata, dengan adanya banyak pemilihan kata, alangkah lebih baik bila dalam sebuah resensi memiliki pemilihan kata yang lebih santun. Hal ini akan lebih mujarab untuk dicerna oleh pembacanya karena tidak ada pretensi untuk menyampaikan sebuah rasa superior dari penulis yang meremehkan selera pembacanya. Bukan berarti dengan pemilihan kata yang lebih santun, penulis berusaha menutupi. Tetapi, berusaha agar si pembuat tidak sakit hati dan mau mempelajari lagi kesalahan dari karya yang telah dia bagi.

Anggap saja, pembuat film ini seperti seorang teman yang mungkin tidak puas dan marah saat melihat sesuatu dan mengutarakan kemarahannya kepada kita. Tetapi, yang kita lakukan malah menyerang balik dirinya dengan kata-kata yang menjatuhkan. Bukankah lebih baik apabila teman ini diajak untuk duduk dan didengarkan, dan memilih kata-kata kritik yang bisa membuat hati tenang?


Bisa dimulai dengan “kalau aku sih cocok/tidak cocok dengan film karena...” sebutkan semua alasan yang bisa meyakinkan penonton kenapa saya sangat memuji filmnya atau mungkin kamu sedang tidak suka dengan filmnya. Dengan begini, pembaca tulisan kamu akan tahu alasan-alasan di balik betapa cinta atau tidak cocoknya kamu dengan suatu film. Buatlah alasan yang bisa membuat pembaca kamu penasaran menonton sebuah film yang telah kamu tulis reviewnya.

Film pasti memiliki tujuan untuk bisa dinikmati penontonnya. Ya, tentu saja, film-film yang dibuat memiliki target segmentasinya yang berbeda. Menikmati sebuah film alangkah lebih baiknya tidak membedakan mana film komersil dan film alternatif. Nikmatilah semua film, asal sudah harus tahu mempersiapkan ekspektasi.


Oh tentu saja, saya yang demen ke bioskop ini dianggap sebagian orang sebagai penonton film komersil. Padahal, film-film yang ada di bioskop juga menayangkan film-film alternatif yang berbeda. Sudah ada banyak pilihan bioskop dari XXI, CGV, Cinemaxx, dan masih banyak lagi. Mereka juga menawarkan variasi film-film yang berbeda dari berbagai genre dan negara. Tentu, sebisa mungkin kalau tidak ada halangan waktu dan dana saya akan tonton berbagai macam film itu.

Apakah film-film yang menganggap dirinya sebagai film alternatif jika ditayangkan di bioskop akan disebut sebagai film komersil juga? Ini masih menjadi polemik. Bagaimana cara mengklasifikasi hal tersebut. Tetapi, seorang dosen saya di suatu kelas pernah mengatakan bahwa sejatinya film seharusnya bisa mengantarkan pesannya, baik secara implisit dan eksplisit.

Tidak semua film-film dengan budget besar ini tidak memiliki kualitas yang serupa dengan alternatif. Realita dalam film yang mereka tawarkan saja yang berbeda dan juga tujuan dalam filmnya.

Tujuan film itu beragam, mulai dari medium escapism hingga reality projection. Tinggal, bagaimana kita sebagai penonton tahu untuk menempatkan diri dan berinterpretasi. Tidak ada salahnya, jika ada sebagian orang yang memprotes bagaimana gambaran sebuah karakter di dalam film. Tetapi, jangan asal dulu, menerjemahkan bahasa-bahasa film yang ada di adegannya tanpa mengulik lebih lanjut apalagi sudah disangkutpautkan dengan semiotika. Memahami semiotika tentu perlu banyak kajian-kajian pendukung untuk menguatkan opininya. Bahkan, ada diagram dan tabel untuk bisa merincikan setiap adegannya.


Dengan memahami detil-detil kecil dalam pengadeganan, ini menjadi nilai tambah dalam memahami sebuah film dan bersyukurlah kalian bisa memahami hal tersebut. Asalkan, kamu bisa memberikan penjelasan tentang pemahaman tambahan kamu agar tak menjadi salah arah.

Bagi yang merasa bahwa beberapa orang yang memiliki referensi tambahan ini sekedar berpikir terlalu jauh, mungkin juga tak perlu memberikan generalisasi. Bahkan, film-film yang dipuja oleh mereka pun ditatap sinis. Sehingga, hal itu juga memberikan efek berbeda dalam menikmati sebuah film tersebut. Apabila sudah keluar kata-kata “emang sebagus apa sih?” ini rasanya sudah jadi alert bagi diri sendiri karena sudah mulai memandang remeh sebuah karya. 


Film tetaplah sebuah film. Mereka adalah sebuah statement yang dibuat secara subjektif oleh pembuatnya dan tentu berdasarkan pengalaman dari sang pembuat. Entah itu kamu bakal suka atau enggak, yang penting tontonlah terlebih dahulu.

Salinglah mendengarkan pendapat mereka, jangan mengkerdilkan selera seseorang. Menonton sebuah film kan ujung-ujungnya untuk membuat hati senang. Entah selera filmnya seperti apa, yang jelas cobalah untuk saling memberikan insights. Terkadang hal itulah yang hilang dalam memberikan pendapat terhadap sebuah film. Mereka hanya berusaha terlihat superior dengan caranya masing-masing, tanpa memberikan alasan yang kuat dalam memberikan argumennya.

Tulisan ini pun akan menimbulkan reaksi yang sama seperti seseorang menonton film. Mungkin ada yang setuju atau mungkin ada yang tidak.

Ya, namanya juga selera pasti berbeda-beda.

DILAN 1991 (2019) REVIEW: Adaptasi Kisah Cinta Dilan-Milea yang Harusnya Bisa Lebih Bijak

 
Diadaptasi dari buku milik Pidi Baiq, Dilan 1990 ternyata mendulang kesuksesan yang luar biasa besar. Filmnya mendapatkan perolehan penonton yang masif dan menjadi Salah satu film Indonesia terlaris sepanjang masa. Tak salah jika Max Pictures yang dinaungi oleh Falcon Pictures memberikan lampu hijau untuk membuat sekuel dari buku-buku Dilan selanjutnya. Maka, di tahun ini Dilan 1991 kembali hadir menyapa penonton film Indonesia dan fans militannya.

Tentu saja, sosok Dilan dan Milea masih saja diperankan oleh Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescillia. Film keduanya ini masih juga disutradarai oleh Fajar Bustomi dan Pidi Baiq. Serta, Pidi Baiq sebagai pemilik sumber aslinya juga memiliki tanggung jawab untuk menulis naskah adaptasinya tetapi juga berkolaborasi dengan Titien Wattimena. Dengan beragamnya pendapat tentang film Dilan 1990, hal ini tak bisa menghentikan performa Dilan 1991 secara kuantitas.

Di hari pertama pembukaannya, Dilan 1991 berhasil meraih 800.000 penonton. Hal ini tentu menjadi sebuah patokan tertinggi dalam perfilman Indonesia. Sehingga, Dilan 1991 berhasil memecahkan rekor sebagai angka penonton terbesar di hari pertama penayangannya. Tentu saja, Dilan menjadi peristiwa yang sangat fenomenal untuk ukuran film Indonesia. Apalagi, di tanggal 24 Februari, kota Bandung menetapkannya sebagai Hari Dilan karena memang setting tempat filmnya ada di kota tersebut.


Dengan segala cara promosi yang dikerahkan dan fansnya yang luar biasa besar, tak salah apabila Dilan 1991bisa mendapatkan angka yang fantastis. Tetapi, mari kita kembali membicarakan filmnya yang mungkin akan kembali kepada preferensi setiap individu yang menerimanya. Sebagai sebuah sekuel dari filmnya yang pertama, Dilan 1991 sebenarnya memiliki performa yang sedikit lebih baik dibandingkan film pertamanya.

Penyebabnya adalah di dalam film Dilan 1991 ini tak hanya menekankan kepada rayuan-rayuan maut Dilan sebagai kekuatan filmnya. Film ini mau untuk menggali konflik yang lebih dalam tentang hubungan antara Dilan dan Milea yang tak selamanya manis. Sehingga, dalam durasinya yang mencapai 121 menit, penonton akan diajak untuk mengarungi dinamika hubungan mereka yang mulai merasakan asamnya. Dilan mulai mengerti bahwa rayuan manisnya tak selamanya berhasil.


Bila perlu dijelaskan lagi, Dilan 1991 ini masih tentang bagaimana Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Milea (Vanessa Prescillia) paska mereka resmi menjadi pasangan di tanggal 22 Desember 1990. Mungkin di awalnya, hubungan mereka terasa manis dan baik-baik saja. Tetapi, lambat laun, hubungan keduanya harus diuji coba dengan rangkaian tes yang entah dari mana saja datangnya. Yang paling jelas adalah tentang bagaimana Milea tak menyukai sikap Dilan yang dirasa sok jago sebagai ketua geng motor.

Dilan rasanya acuh tak acuh dengan semua perkataan Milea hingga suatu ketika dirinya akan ingin membalaskan dendamnya kepada seseorang. Milea datang kepada Dilan untuk menyuruhnya membatalkan balas dendamnya. Tetapi, yang terjadi di antara keduanya hanyalah salah paham semata. Milea datang bersama sosok laki-laki lain bernama Yugo (Jerome Kurnia) sekaligus sepupu jauhnya yang datang dari Belgia. Iya, kesalahpahaman itu dimulai dari sini.

 

Tanpa membahas sosiokultural yang ada di dalam filmnya, secara mekanis film itu sendiri, Dilan 1991 mungkin bermain sedikit lebih baik dibandingkan film pertamanya. Tentu, dalam pengisahannya, film ini punya satu konflik cerita yang setidaknya lebih jelas untuk disampaikan kepada penontonnya. Bila film pertamanya hanya berisikan tentang kompilasi rayuan manis Dilan saja, di film keduanya Titien Wattimena dan Pidi Baiq seakan sadar bahwa rayuan itu tak selamanya berhasil memperkuat performa filmnya.

Meskipun, dalam adaptasinya, masih perlu untuk lebih bijak dalam menentukan mana yang seharusnya bisa masuk ke dalam filmnya dan mana yang tidak. Dilan 1991 seakan tak mau kehilangan sedikit pun momen yang ada di dalam bukunya. Menjadi karya adaptasi yang stay true to the source itu tidak masalah. Tetapi, perlu untuk lebih bijak saja, untuk bagaimana mengemas apa yang ada di bukunya ke dalam film tanpa perlu merusak momennya.

Sehingga, Dilan 1991 yang durasinya mencapai 121 menit seakan dalam satu jam pertamanya terasa tak mengerti mau dibawa seperti apa konfliknya. Ketika film mulai berjalan hingga ke 60 menit terakhir, barulah film ini memiliki konflik yang menarik untuk diikuti. Bagaimana Dilan dan Milea mulai berkembang dalam dinamika hubungan mereka. Dilan 1991 memperlihatkan bagaimana mereka sebagai remaja yang sedang berusaha menjadi dewasa dalam mengambil keputusan dalam hidupnya.


Hal itu diarahkan dengan cukup tepat di 60 menit terakhirnya, sebelum akhirnya film ini sadar bahwa filmnya berjalan sudah terlalu lama. Pada akhirnya, film ini pun terburu-buru untuk mengakhiri sekaligus menjadi jembatan untuk kisah selanjutnya untuk mengakhiri trilogi filmnya. Tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa menuju akhir film, Dilan 1991 memiliki kisah yang mampu membawa perasaan penontonnya, apalagi kepada target pasarnya.

Tetapi, dengan nuansa Bandung yang romantis, beberapa musiknya terasa terlalu grande untuk muncul di dalam filmnya. Entah rendisinya terinspirasi oleh musik milik Dustin O’Halloran & Hauschka dari film Lion atau bukan, yang jelas nuansa remaja dari film Dilan 1991 ini terasa hilang. Padahal, suguhan lagu-lagu dari The Panasdalam Band sudah cukup menarik dengan atmosfir kota Bandung yang kata salah satu karakternya punya dideskripsikan sebagai kota romantis ini.


Bila membahas dengan sosiokultural yang ada, lagi-lagi drama remaja Indonesia mungkin terjebak dengan konflik tentang nafsu laki-laki yang menggebu dan perempuan (lagi-lagi) menjadi korbannya. Dilan 1991 memiliki cabang cerita ini yang cukup membuat penonton yang sadar akan jenuh apalagi ketika hal tersebut dijadikan sebagai bahan becandaan dan diromantisasi lewat film ini. Mungkin, hal ini tak dianggap serius bagi sebagian orang, tetapi juga ada yang menyoroti hal ini. Terlebih, salah satu cabang cerita yang membahas hal ini juga tak memberikan signifikansi.

Tetapi, sebelum mengkritisi cabang cerita dalam film Dilan 1991 ini lebih dalam, maka perlu diketahui pula bahwa film ini berlatar di setting tahun 1991. Positifnya, anggap saja sang sutradara dan penulis naskah hanya menebarkan realita tentang hal problematis ini sudah ada sejak tahun dulu dan masih ada sampai sekarang. Mungkin, rasanya memang kurang bijak bagaimana kemasan dari adegan tersebut dan hal itulah yang perlu menjadi sorotan untuk adaptasi selanjutnya.


Di luar hal itu, Iqbaal Ramadhan tetaplah menjadi bintang utama dari film Dilan 1991 ini. Dia bisa menjadi sosok Dilan dengan karakternya tengil tapi unik sehingga Milea bisa tergila-gila padanya. Tetapi sayang, ketika Iqbaal tak ada di setiap adegan dalam film Dilan 1991, nyawa filmnya pun sedikit menghilang. Vanessa Prescillia memang bermain manis sebagai Milea, hanya saja kurang mampu meyakinkan penonton tentang segala alasannya untuk takut dan khawatir kepada Dilan. Mungkin pengaruh pengarahannya yang belum maksimal, karena 20 menit terakhirnya pun belum terasa kuat hingga membuat penontonnya bergumam “Yah, cuma gini doang nih?”

GREEN BOOK (2018) REVIEW: Pernyataan Tentang Rasisme Yang Masih (dan Selalu) Ada


Tema-tema tentang minoritas, rasisme, menjadi tema yang sering diangkat oleh perfilman Hollywood. Bagaimana tema itu dikemas juga memiliki pendekatan yang berbeda-beda. Mulai dari pendekatan drama yang menjunjung nilai sejarah tinggi tentang perbudakan orang-orang dengan kulit berwarna hingga dengan tema-tema komedi dan bahkan film manusia super. Tema seperti ini juga menjadi salah satu cara untuk sineas Hollywood memberikan pernyataan tentang realita yang ada.

Mungkin, sebagian dari penonton Indonesia tidak sebegitu paham atau dekat dengan tema-tema seperti ini. Tema seperti seakan menjadi sangat penting untuk selalu ada di perfilman Hollywood karena dalam realitanya, praktek tentang white supremacy dan rasisme akan selalu ada di sana. Mengetahui hal ini, Peter Farrelly mengangkat kisah tentang tema-tema itu ke dalam sebuah film terbarunya berjudul Green Book.

Film yang dibintangi oleh Viggo Mortensen dan Mahershala Ali ini memiliki tema-tema tentang rasisme yang terjadi di Amerika. Tetapi, siapa sangka, film-film yang disorot oleh juri-juri ajang penghargaan ini hadir dari tangan sutradara yang membuat film seperti There’s Something About Mary dan Dumb and Dumber. Bahkan, pernah menjadi salah satu bagian dari film Movie 43 ini. Green Bookdiangkat dari sebuah kisah nyata persahabatan 2 orang manusia yang terjebak dalam situasi rasisme yang ada.

 
Sebagai sebuah film yang disorot dalam ajang-ajang penghargaan bergengsi, Green Book tak memiliki tema yang benar-benar spesial. Temanya sering hadir dalam film-film Hollywood lainnya yang pernah disorot oleh ajang-ajang penghargaan. Tetapi, dengan tema yang sama, pengarahan dari Peter Farrelly inilah yang membuat Green Bookmenjadi sesuatu yang segar untuk ditonton. Dengan durasinya yang mencapai 130 menit, Green Book hadir tanpa pretensi apapun selain diterima oleh penonton secara universal.

Dengan temanya yang berat, Peter Farrelly membuat Green Book dengan pendekatan yang lebih mudah untuk diterima oleh penontonnya. Menggunakan genre komedinya untuk menumpulkan isunya yang terlalu sensitif dan berat itu. Bahkan, pengadeganan di dalam film ini tak ada kesan untuk dijadikan sebagai sebuah tontonan alternatif. Tetapi hal itu tidak ada salahnya, karena pengarahan dari Peter Farrelly ini berhasil meyakinkan penontonnya dan membuat Green Book menjadi sebuah sajian yang menghibur sekaligus emosional.


Kisah dengan tema yang berat ini dihantarkan oleh dua orang dengan latar belakangnya yang berbeda. Tony Vallelonga (Viggo Mortensen), seorang pria mantan pegawai bar yang sedang kehilangan pekerjaannya karena perilakunya yang tidak menyenangkan terhadap salah satu pelanggan bar tersebut. Tentu saja, kehilangan pekerjaan ini membuat Tony harus mencari pekerjaan lain agar kehidupannya bersama anak istri bisa tetap berjalan.

Hingga suatu ketika, dia mengetahui ada sebuah lowongan pekerjaan yang dirasa cocok untuknya. Dia harus menjadi seorang supir untuk seseorang bernama Dr. Don Shirley (Mahershala Ali), seorang pianis kulit hitam. Dia harus mengantarkan Dr. Don Shirley melakukan tur konsernya hingga waktu yang ditentukan. Ini tentu berat bagi Tony dan Dr. Don Shirley yang memiliki ego yang tinggi satu sama lain. Terlebih, kepada Tony yang memiliki problematika besar tentang menerima orang-orang berkulit hitam.


Banyak orang bilang bahwa melakukan sebuah perjalanan dengan seseorang akan mengubah pandangan kita terhadap orang tersebut. Entah akan berubah menjadi baik atau buruk itu tergantung nanti dalam prosesnya. Begitu pula yang terjadi dengan Green Book sebagai film yang bisa dibilang mengusung tema road film. Dengan temanya yang membahas tentang rasisme, Peter Farrelly berusaha mengajak penontonnya untuk berkompromi dan menyadari bahwa realita tentang rasisme ini ada di sekitar kita.

Meskipun setting tahun yang digunakan oleh film ini masih di zaman ketika semuanya serba polemik, tetapi dengan itulah Green Book seakan menyadarkan bahwa ada perjuangan besar yang sedang dilakukan oleh orang berkulit warna untuk mendapatkan haknya. Tetapi, perjuangan ini tak melulu digambarkan dengan mendayu-dayu atau sekedar untuk dikasihani. Green Book memilih untuk mendekatkannya dengan genre komedi agar pesan ini lebih mudah diterima.

Komedi menjadi salah satu cara untuk memperhalus pesan rasisme yang berat dan implisit di dalam Green Book agar dapat diterima oleh banyak penontonnya. Nick Vallelonga sebagai penulis naskah yang dibantu oleh Peter Farrelly dan juga Brian Currie ini sudah sangat rapi untuk menuliskan adegan demi adegan di dalam 130 menitnya. Sang sutradara yang juga ikut menulis naskahnya pun bisa menerjemahkan filmnya ke dalam layar dengan sangat kuat. Meski di beberapa bagian, beberapa adegannya masih diterjemahkan secara literal tetapi hal itu tak bermasalah.


Begitu pula dengan editing filmnya yang dinamis, membuat 130 menit di dalam film ini begitu terasa dinamis. Segala tensi, punchline di dalam komedinya, dan sisi emosionalnya begitu terjaga tanpa sedikitpun terasa menurun. Penonton seakan diajak dengan lebih dekat dengan karakter Tony dan Don Shirley yang semakin lama semakin mengalami perubahan dalam memandang sebuah fenomena sosial. Begitu pula dengan penonton yang sedang menonton Green Book yang berubah dalam memandang sebuah fenomena sosial ini.
 
Penonton yang sadar betul tentang karakter-karakter Green Book mungkin akan menemukan kegelisahan ketika menyaksikan film ini. Ketika karakter Tony Lip sebagai orang dengan harfiah berkulit putih menemukan keistimewaan dibandingkan dengan Don Shirley. Padahal jika diteliti lagi secara dialog dan adegan, ada tanda yang membuat penonton yang sadar betul tahu bahwa Tony Lip ini adalah seorang pria keturunan Italia.


Secara teoritikalnya, Italia pun bukan dihitung sebagai orang-orang kulit putih asli Amerika. Dirinya mendapatkan keistimewaan itu karena secara harfiah warna kulitnya bisa melebur jadi satu dengan yang lain. Melting pot inilah yang pada akhirnya dimanfaatkan oleh karakter Tony sehingga isu tentang rasisme tak begitu menyerang banyak padanya dibandingkan dengan Don Shirley. Bahkan, karakter Tony pun digambarkan juga masih memiliki sikap rasis kepada semua sosok kulit hitam dalam hidupnya.

Tetapi, di satu adegan penting, Green Book tahu caranya untuk mematahkan kegelisahan dari penonton yang sadar betul akan hal itu. Adegan dengan polisi yang pada akhirnya mendapatkan imbas yang sama kepada karakter Tony. Sehingga, hal itu membuat Tony berubah pandangannya tentang isu rasisme yang terjadi di sekitarnya. Itulah kenapa Green Book menjadi sebuah karya yang penting yang secara perlahan tak hanya mengubah pandangan karakter-karakternya saja dalam menghadapi sebuah isu sosial tertentu, tetapi juga bagi penonton agar bisa memahami sesuatu dengan lebih dalam lagi.


Di dalam film Green Book, tak lagi ada kulit putih yang berusaha menjadi sosok heroik untuk membantu para kulit warna menghadapi isu ini. Don Shirley dan Tony Lip, keduanya adalah sosok non kulit putih yang saling membantu satu sama lain. Mereka saling menguatkan, saling mengingatkan, menjadi sosok sahabat yang memiliki love-hate relationship tetapi tak bisa terpisahkan. Hidup dalam keberagaman memang seperti hubungan Don Shirley dan Tony Lip, memang berbeda dan sesekali mengalami konflik. Tetapi ketika saling dibutuhkan, mereka hadir untuk saling ada dan menguatkan. Membayangkannya saja sudah indah, bukan?