• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.

DESPICABLE ME 3 (2017) REVIEW : Cabang Plot yang Saling Mendistraksi


Film animasi buatan Illumination Pictures ini tak disangka menjadi sleeper hit, tak hanya dalam segi kuantitasnya di Box Office tetapi juga mendapatkan pujian oleh para kritikus. Despicable Me  hadir menjadi sebuah franchise yang sangat menjanjikan, terlebih ketika sidekick karakter di dalam film ini berhasil mencuri semua orang. Dan pada akhirnya, film ini pun dinantikan oleh banyak orang karena ingin menyaksikan tingkah jenaka para karakter sidekick yaitu Minions. 

Yang membuat sekuel kedua dari Despicable Me tak lagi bisa sekuat filmnya yang pertamanya adalah screen-time dari Minions membuat distraksi plot utama filmnya. Tetapi, hal tersebut malah membuat sosok Minions ini semakin memiliki nama dan membuat penontonnya ingin menyaksikan film selanjutnya. Meskipun pada akhirnya Minions memiliki filmnya sendiri, tetapi Illumination Pictures tetap menjadikan kesuksesan filmnya sebagai alasan membuat instalmen ketiga.

Pierre Coffin sebagai pencetus seri ini kembali mengarahkan film ini tetapi dengan rekan kerja yang berbeda. Kyle Balda menjadi pengganti Chris Renaud untuk mendampingi Pierre Coffin dalam mengarahkan seri ketiganya. Despicable Me 3 siap untuk kembali memberikan cerita baru kepada penontonnya, pun dengan para pengisi suara yang masih setia dari seri keduanya. Begitu pula dengan Cinco Paul dan Ken Daurino juga kembali sebagai penulis naskah seri ketiganya. 


Kali ini, Despicable Me 3 difokuskan kepada Gru (Steve Carell) yang sudah tak lagi menjadi seorang penjahat dan bergabung ke Liga Anti-Viillain harus menangkap seorang musuh bernama Baltazhar (Trey Parker). Baltazhar adalah mantan artis cilik yang sangat terobsesi untuk kembali dikenal karena reputasinya di dunia pertelevisian yang semakin lama semakin menurun. Oleh karena itu, Baltazhar merancang sebuah rencana yang bisa membuatnya menguasai dunia.

Gru hampir saja menangkap Baltazhar hingga pada akhirnya gagal. Gru hampir saja menyerah hingga suatu ketika ada sebuah berita yang mengatakan bahwa Gru memiliki saudara kembar. Dru, saudara kembar dari Gru adalah seseorang yang berbanding terbalik dengan Gru. Dia memiliki kehidupan yang mewah dan baik-baik saja. Tetapi, Dru ingin menjadi jahat seperti Gru dulu. Sikap Dru yang ingin seperti Gru membuat Dru terpaksa ikut terlibat dalam menangkap Baltazhar. 


Tak ada yang salah memang apabila Despicable Me memiliki instalmen ketiga. Toh, film ini pun masih dikategorikan sangat menguntungkan sekaligus menghibur penonton dengan jumlah yang masif. Tetapi, formula di setiap instalmen inilah yang perlu diperhatikan agar penonton pun masih bisa merasa dijaga untuk tetap dihibur oleh seri dari Despicable Me ini. Kesalahan dari Despicable Me 2 adalah screen timedari Minions yang mendistraksi cerita, sehingga penonton akan menerima informasi yang terpecah.

Despicable Me 3 berusaha keras agar tak mengulangi kesalahan tersebut dan sayangnya penonton tak bisa mendapatkan sebuah penceritaan yang kuat. Kesalahan di dalam Despicable Me 3 ini adalah bagaimana Kyle Balda dan Pierre Coffin tak bisa menyatukan ritme dua plot cerita yang menjadi poin penting di dalam film ini. Informasi yang diberikan di dalam film ini pun banyak, sehingga terasa bahwa Despicable Me 3 dipaksa untuk ada.

Dosis kelucuan di dalam Despicable Me 3 pun tak bisa memiliki euphoria yang besar seperti yang mereka lakukan di kedua instalment sebelumnya. Minions tetap hadir memberikan sedikit kesegaran di dalam plot ceritanya yang kering dan para Minions tahu tempat mereka yang hanya sekedar sidekick di seri Despicable Me ini. Hal itu memang bagus, tetapi tak diimbangi dengan bagaimana Kyle Balda serta Pierre Coffin berusaha mengarahkan filmnya yang sudah keluar jalur ritmenya. 


Yang terjadi adalah subplot tersebut berjalan sendiri-sendiri layakanya dua film yang berusaha digabungkan jadi satu. Keduanya seperti sedang mengarahkan film mereka sendiri-sendiri sehingga di hasil akhirnya mereka baru menggabungkannya menjadi satu film yang sama. Ketika penonton berusaha memahami problematika Gru dan Baltazhar, penonton diberi informasi tentang bagaimana plot cerita antara Gru dan Dru. Dampaknya, penonton akan melupakan bagaimana plot Gru dan Baltazhar ini seharusnya juga perlu diselesaikan.

Sehingga, ketika Despicable Me 3 berusaha menyelesaikan plot cerita tentang Gru dan Baltazhar, penonton sudah merasa lelah terlebih dahulu karena disibukkan dengan plot cerita Gru dan Dru. Belum lagi ada beberapa cabang plot lain dengan Minions yang juga semakin mendistraksi bagaimana performa instalmen ketiganya ini. Selain itu, hilangnya kesinambungan atau korelasi antara setiap cabang cerita film ini yang membuat penontonnya tak begitu bisa menikmati Despicable Me 3 ini.

Despicable Me 3 tak memiliki pengalaman sinematik layaknya kedua instalmen sebelumnya. Dengan plot cerita yang dibuat begitu asal, penonton hanya merasakan sebuah serial animasi di hari minggu pagi yang biasa mereka tonton di televisi. Tetapi, serial animasi tersebut sedang melakukan pertunjukkan spesial yang membuatnya harus memperpanjang durasinya hingga 89 menit. Menonton Despicable Me 3 pun tak bisa memberikan efek apapun setelahnya selain menemani para penonton anak-anak yang memang menjadi target segmentasinya. 


Oleh karena itu, Despicable Me 3 ini memang tak sepenuhnya gagal dalam melakukan misinya karena tujuan utamanya untuk menyenangkan segmentasinya masih saja berhasil. Tetapi, Despicable Me 3 tak bisa memberikan sebuah hiburan keluarga instan yang bisa dinikmati oleh segala usia. Pengarahan dari Kyle Balda dan Pierre Coffin yang sangat minimalis ini membuat film ini begitu lemah dan terasa panjang. Distraksi kali ini bukan muncul dari para Minions, tetapi bagaimana setiap cabang cerita di dalam film ini tak bisa saling berkompromi agar dapat memunculkan sebuah kombinasi yang menarik. Despicable Me 3 adalah sebuah instalmen yang sangat lemah dibanding dua film sebelumnya.

FILOSOFI KOPI 2 : BEN & JODY (2017) REVIEW : Revisi Nilai Hidup Untuk Sebuah Kedai Kopi

 
Kisah pendek yang diambil dari Dewi Lestari ini telah dibudidayakan menjadi sebuah produk yang namanya sudah mahsyur. Selain film, produk dari Filosofi Kopi ini diabadikan menjadi sebuah kedai kopi yang nyata. Dengan adanya konsistensi itu, tak akan kaget apabila film yang diarahkan oleh Angga Dwimas Sasongko ini akan mendapatkan sekuel sebagai perlakuan selanjutnya. Tentu, kekhawatiran akan muncul karena cerita pendek dari Filosofi Kopi pun hanya berhenti di satu sub bab yang telah dibahas di film pertamanya.

Sayembara muncul ditujukan kepada semua orang untuk membuat kisah lanjutan dari Ben dan Jody ini. Sayembara ini sekaligus memberikan bukti kepada semua orang bahwa Filosofi Kopi tetap menjadi film yang terkonsentrasi dari penonton seperti film pertamanya. Yang jelas, Angga Dwimas Sasongko tetap mengarahkan Chicco Jericho dan juga Rio Dewanto sebagai Ben dan Jody. Angga Dwimas Sasongko pun berkontribusi dalam pembuatan naskah dari cerita terpilih yang ditulis oleh Jenny Jusuf serta M. Irfan Ramli.

Meski tetap dipegang oleh sutradara dan orang-orang yang sama, sekuel dari Filosofi Kopi ini pun cukup membuat penonton khawatir. Ketakutan Filosofi Kopi 2 dengan subjudul Ben & Jody ini memunculkan penyakit dari film-film sekuel yang bisa saja jatuh dan tak sebagus film terdahulunya. Juga, kurang adanya urgensi di dalam latar belakang ceritanya yang dapat mendukung apa yang ditampilkan di layar. Tetapi percayalah dengan Angga Dwimas Sasongko, karena Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody tetap akan memikatmu dengan manis dan pahit kisahnya seperti kopi di pagi hari.

Ada formula yang diulang di dalam Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini di dalam ceritanya. Tetapi, fokus cerita yang ada di Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini tak lagi mengenai bagaimana Filosofi Kopi sebagai kedai kopi ternama, melainkan tentang ranah domestik dalangnya. Menggali lagi personifikasi yang muncul dalam Filosofi Kopi yang dikonsumsi oleh penikmatnya. Sehingga, muncul problematika yang di film keduanya ini jauh memiliki nilai yang lebih personal dibanding film pertamanya. 

Rasanya tidak relevan membandingkan film keduanya ini dengan film pertamanya. Dengan konflik cerita yang lebih personal, tentu tujuan yang berusaha dicapai oleh Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini juga pasti akan berbeda. Dengan adanya nilai yang lebih personal di dalam konflik ceritanya, mungkin inilah yang membuat Filosofi Kopi 2 memberikan tambahan nama karakternya –Ben dan Jody –sebagai sub judulnya. Apabila dalam film pertamanya menggunakan kopi sebagai medium refleksi, di film keduanya ini menggunakan Kedai Kopi sebagai medium berkontemplasi atas filosofi hidup mereka sendiri.  


Melanjutkan kisah Filosofi Kopi pertama di mana Ben (Chicco Jericho) dan Jody (Rio Dewanto) yang sudah menjual kedainya dan memilih berjualan keliling Indonesia menggunakan Kombi. Setelah lama berkeliling menggunakan kombi berjualan dan membagikan Kopi, Ben merasa perjalanannya tak memiliki akhir dan tujuan dalam hidupnya. Ben pun membujuk Jody untuk kembali ke Jakarta dan menghidupkan lagi kedai Filosofi Kopi yang pernah dibangunnya itu.

Tetapi, membangun kembali kedai tak semudah yang dibayangkan. Jody harus memutar lagi otaknya untuk membeli lagi kedai yang telah dijualnya karena harga yang ditawarkan kepadanya sangat tinggi. Lalu, datanglah Tarra (Luna Maya), seorang perempuan yang menawarkan diri menjadi investor untuk Filosofi Kopi agar kembali bangkit seperti dulu. Dengan adanya Filosofi Kopi kembali, problematika tak hanya berhenti di situ saja. Ada konflik pribadi yang memacu mereka untuk kembali merenungi tentang apa yang mereka cari selama ini. 


Kesulitan untuk membuka kedai lagi tak hanya dialami oleh Rio Dewanto sebagai Jody, tetapi juga Angga Dwimas Sasongko untuk kembali membuat penonton percaya dengan sekuel Filosofi Kopi. Beruntung Angga Dwimas Sasongko selalu memiliki energi dalam setiap film yang diarahkan. Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody memasuki sebuah babak baru di dalam konfliknya yang tetap memiliki cita rasanya yang begitu kuat dan emosional untuk dinikmati penontonnya.

Konflik yang lebih personal ini adalah sebuah kunci tentang bagaimana karakter Ben dan Jody ini pada akhirnya bertransisi. Angga Dwimas Sasongko berusaha untuk memberikan pertanyaan kembali kepada karakternya tentang filosofi hidup seperti apa yang mereka ambil. Ada di setiap adegan dan dialog dalam Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody memberikan banyak sekali rujukan yang juga membuat penontonnya ikut mempertanyakan tujuan dan nilai apa yang digunakan dalam hidup setiap orang.

Nyawa dari Kedai Filosofi Kopi ini adalah Ben dan Jody dengan sifat-sifatnya sendiri yang meskipun bertolak belakang tetapi bisa saling mengimbangi. Dengan keputusan mereka untuk kedai kembali,  ada ideologi yang mengalami revisi dan dipertanyakan lagi agar kedai Filosofi Kopi bisa berjalan lancar lagi. Hal itu dikarenakan bagaimana Ben dan Jody mengalami banyak sekali kejadian dan referensi dalam hidup yang membuat mereka mengalami kontemplasi. 


Poin-poin itu muncul di dalam naskah yang ditulis oleh Jenny Jusuf, M. Irfan Ramli, dan Angga Dwimas Sasongko sendiri. Dituliskan secara implisit di dalam adegannya dan Angga Dwimas Sasongko berhasil menyampaikannya dengan baik dan dapat dirasakan oleh penontonnya. Sensitivitas dalam mengarahkan inilah yang menjadi poin penting dalam Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody. Bagi penonton yang mengikuti film pertamanya, akan terasa kontinuitas dari karakter Ben dan Jody yang mengalami transisi. Penonton seakan-akan tahu bahwa ada nilai-nilai yang direvisi dalam diri Ben dan Jody seperti kedai kopi mereka yang berusaha lahir kembali.

Kedai Filosofi Kopi kembali hadir tak hanya sekedar mengalami transisi dalam memberikan esensi, tetapi juga estetika yang memperkuat visualisasi. Gambar dan musik menjadi medium bernarasi lain dari Angga Dwimas Sasongko yang semakin memperkuat dialog-dialog antar karakter di dalam film Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody. Ada rasa khusyuk dan syahdu yang muncul yang bisa mempengaruhi penonton untuk dapat dinikmati setiap seduhannya. Sehingga penonton bisa ikut larut dan ikut merenungi bagaimana Ben dan Jody menemukan solusi yang tak saling menyakiti satu sama lain. 


Sesuai dengan sub judulnya, Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody memiliki penekanan khusus terhadap karakter utamanya. Sehingga, konflik yang muncul di dalam Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini memiliki problematika dengan lingkup domestik yang akan terasa berbeda dengan film sebelumnya. Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini tak hanya sekedar memberikan konflik yang jauh lebih personal tetapi juga menjadi ruang bagi Ben dan Jody untuk berusaha berkontemplasi atas filosofi hidup yang mereka pegang selama ini. Dengan pengarahan Angga Dwimas Sasongko yang penuh atas kesensitivitasan ini, pesan yang secara implisit muncul itu dan berhasil disampaikan. Sehingga, di dalam Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody ini terasa sekali berusaha memunculkan transisi Ben dan Jody seperti kedai mereka yang berusaha lahir kembali. 

SPIDER-MAN : HOMECOMING (2017) REVIEW : Lika Liku Hidup Remaja Super


Setelah memiliki berbagai macam transisi dan pengulangan, pada akhirnya Marvel dan Disney memutuskan untuk mengakuisisi Spider-Man dari Sony untuk bisa masuk jajaran Marvel Cinematic Universe-nya. Dengan begitu, Marvel Cinematic Universe memiliki ekspansi dunia yang semakin rumit dan punya deretan manusia super yang semakin penuh sesak. Tetapi, hal itu bukan menjadi sesuatu yang perlu ditakutkan oleh Marvel Cinematic Universe karena dunianya sudah memasuki fase ketiga yang memang butuh komplikasi lebih.

Dengan bergabungnya Spider-Man menjadi salah satu anggota dari Marvel Cinematic Universe, akhirnya manusia laba-laba ini masuk menjadi pemeran pendukung di Captain America : Civil War. Kemunculannya di seri ketiga dari Captain America ini menjadi usaha mencari perhatian dari Marvel kepada fansnya. Sehingga, Spider-Man seolah-olah dilahirkan kembali dengan citra diri yang berbeda dengan film-film sebelumnya.

Spider-Man milik Marvel Cinematic Universe ini digambarkan memiliki usia yang jauh lebih muda dibandingkan dengan film-film sebelumnya. Dan kali ini, Jon Watts menjadi orang yang memiliki kontrol atas apa yang ditampilkan di film Spider-Man terbaru dengan judul Spider-Man : Homecoming. Kali ini, kisah tentang Peter Parker memiliki atmosfir dunia sekolah menengah atas yang jauh lebih kental dari film-film sebelumnya. Serta, Spider-Man : Homecoming berusaha keluar dari kisah-kisah generik yang dipakai oleh film-film sebelumnya. 


Seiring dengan diakuisisinya Spider-Man, Disney dan Marvel tak ingin lagi terjebak dengan cerita-cerita yang serupa. Maka dari itu, Spider-Man : Homecoming berusaha memberikan perspektid yang berbeda. Begitu pula dengan pemeran Peter Parker yang juga ikut diganti. Dari Tobey McGuire menjadi Andrew Garfield, kali ini Peter Parker diperankan oleh Tom Holland yang masih remaja. Hal ini sesuai dengan bagaimana Marvel dan Disney berusaha keras memberikan diferensiasi dari film-film Spider-Man sebelumnya.

Dengan keluar dari babak cerita yang berbeda, Spider-Man : Homecoming berusaha untuk menjadi lebih dari sekedar film manusia super yang menyenangkan. Film yang diarahkan oleh Jon Watts ini membuat Spider-Man : Homecoming yang sedang menceritakan transisi dari kehidupan Peter Parker yang sedang dalam fase remaja. Menciptakan atmosfir coming of age dengan nuansa yang lebih kental untuk mengetahui bagaimana kehidupan Peter Parker secara lebih intim. 


Keintiman itu bermula di sebuah sekolah menengah atas di daerah Queens, kota kecil tempat Peter Parker (Tom Holland) tinggal. Paska pertemuannya dengan Tony Stark (Robert Downey Jr.) yang sedang bertarung sengit dengan Steve Rogers (Chris Evans), Peter merasa bahwa dirinya adalah orang yang sangat penting bagi dunia ini. Dengan keterlibatannya itu, Peter merasa bahwa di kota kecil ini penuh akan kejahatan dan ketidaknyamanan yang perlu dilibas olehnya. Tetapi sikap Peter Parker yang ingin terlibat itu, membuat dirinya malah terjebak dalam masalah.

Peter menemukan transaksi senjata ilegal dengan teknologi mutakhir yang diambil dari bekas-bekas pertarungan anggota Avengers dengan musuh-musuhnya. Peter berusaha memgingatkan Tony Stark tentang keadaan ini, tetapi tidak ada yang menggubrisnya. Dengan adanya kejahatan itu, Peter Parker tak tinggal diam. Dia berusaha sendiri untuk menangkap dan mencari tahu siapa dalang di balik penjualan senjata ilegal ini. Tetapi, Peter Parker juga mendapatkan resiko yang sangat besar dari apa yang dia lakukan.


Kentalnya atmosfir remaja di dalam film Spider-Man : Homecoming ini seakan-akan memberikan nafas baru di deretan film-film manusia super milik Marvel. Bagaimana Jon Watts memvisualisasikan bagaimana Peter Parker sebagai sosok karakter yang tetap tak bisa lepas dengan kehidupannya sebagai orang biasa. Memiliki alter ego menjadi sosok manusia super tetapi juga tetap menjadi remaja dengan perputaran problematika yang tak jauh-jauh dari percintaan, persahabatan, dan popularitas saat SMA.

Inilah yang membuat Spider-Man : Homecoming memiliki diferensiasi dengan film-film manusia laba-laba yang lain. Atribut remaja seperti malam prom, pesta, dan persahabatan yang sekaligus menjadi karakter pendukung ini selalu ada dalam film-film yang menggambarkan transisi kehidupan remaja. Tetapi, Jon Watts berusaha untuk berkiblat pada film-film remaja khas dari John Hughes seperti The Breakfast Club dan Sixteen Candles. Referensi itu pun semakin terlihat kentara dengan bagaimana Jon Watts menyelipkan sedikit cuplikan adegan dari Ferris Bueller’s Day Off di dalam filmnya.

Penonton diajak kembali ke masa-masa remaja sekolah menengah atas di dalam sebuah film manusia super dan Spider-Man : Homecoming berhasil memunculkan hal tersebut. Meskipun plot ceritanya masih terlihat generik sebagai sebuah film kisah asli dari seorang manusia super, tetapi ada usaha dari Jon Watts untuk berusaha memberikan diferensiasi tersebut. Tahu akan kelemahannya untuk membuat spektakel aksi, Jon Watts berusaha dengan memberikan kedekatan karakter Peter Parker dengan karakter lainnya. 


Secara aksi, Jon Watts masih belum bisa memberikan detil-detilnya. Pertarungan akhir yang diarahkan di dalam Spider-Man : Homecoming belum bisa memberikan sesuatu yang mencengkram dan kalah dengan adegan pertarungan sebelumnya. Tetapi, Jon Watts bisa mengemas dan menyatukan drama coming of age dengan tetap memiliki cita rasa film manusia super inilah yang perlu diapresiasi. Ketelitian Jon Watts ini adalah kekuatan dari Spider-Man : Homecoming yang bisa setara memberikan porsi di antara dua atmosfir yang berbeda ini dan tampil begitu menyenangkan di dalam film ini.

Spider-Man : Homecoming itu pun tak serta merta menjadi sebuah superhero spin-off film yang memang harusnya ada untuk menceritakan siapa itu manusia laba-laba ini. Tetapi, konflik yang ada di dalam film Spider-Man : Homecoming memberikan relevansi dan ekspansi dengan segala hal yang ada di Marvel Cinematic Universe. Dengan adanya film ini menandakan bahwa fase ketiga di dalam Marvel Cinematic Universe bukan sekedar tentang penambahan karakter, tetapi memang dunianya yang semakin besar. Tentang bagaimana apa yang dilakukan oleh manusia super ini benar-benar dapat berdampak kepada siapapun. 


Oleh karena itu, Spider-Man : Homecoming bisa dibilang menjadi salah satu film penting yang dapat memberikan ekspansi lebih terhadap Marvel Cinematic Universe. Sebuah kisah asli yang memang memiliki plot yang lurus-lurus saja, tetapi dikemas dengan atmosfir yang berbeda. Sehingga, Spider-Man : Homecoming menjadi sesuatu yang segar untuk disantap. Memiliki atmosfir coming of age dengan berbagai macam tribut kepada film-film John Hughes yang kental. Dengan begitu, penonton bisa merasa dekat dengan Peter Parker yang sedang berusaha keras dengan kehidupan remajanya. Jon Watts bisa memberikan pergantian dua atmosfir tanpa merusak esensi dari keduanya. Sehingga, Spider-Man : Homecoming adalah sebuah drama transisi remaja dengan kekuatan super yang sangat menyenangkan.  

Spider-Man : Homecoming juga tampil dalam berbagai format, salah satunya yaitu IMAX 3D Format. Berikut adalah rekapan dari format IMAX 3D film Spider-Man : Homecoming.

DEPTH 

Punya kedalaman yang menarik, sehingga menonton Spider-Man : Homecoming terasa seperti mengintip dari jendela kamar kita

POP-OUT 

Mungkin tidak ada apapun yang bisa keluar dari layar di film Spider-Man : Homecoming. Film ini hanya menekankan tentang kedalaman gambar saat ditonton di format IMAX 3D.

Tonton saja film ini dalam format IMAX 3D. Sangat direkomendasikan, apalagi format IMAX 3D hanya selisih sedikit saja dengan layar reguler.

JAILANGKUNG (2017) REVIEW : Mitos Hantu dengan Wajah Baru yang Minim Eksplorasi


Mitos tentang sosok tak kasat mata yang dipanggil dengan mantra “datang tak dijemput, pulang tak diantar”ini kembali menghantui penontonnya. Film tentang hantu legendaris ini pernah ada dan mewarnai perfilman Indonesia di tahun 2001 sekaligus menjadi penanda bangkitnya film Indonesia kala itu. Sehingga, sosok hantu ini sudah menjadi sebuah brand yang akan dengan mudah dikonsumsi dan mendapat kepercayaan dari penontonnya.

Sosok hantu legendaris ini kembali ditangani oleh sutradara yang pernah menangani sosok ini di tahun 2001 dengan rejenuvasi nama menjadi Jailangkung sesuai dengan mitos yang ada. Tetapi, mantra yang digunakan dalam ritualnya kali ini pun sudah berubah. “Datang Gendong, Pulang Bopong” menjadi mantra baru untuk memanggil makhluk tak kasat mata ini. Jose Purnomo dan Rizal Mantovani diakuisisi oleh Screenplay Films bersama dengan Legacy Pictures untuk mengarahkan Jailangkung yang dirilis di bulan lebaran 2017 ini.

Selain rejuvenasi nama dari Jelangkung ke Jailangkung, proyek film ini juga memakai nama-nama baru di perfilman Indonesia yang sekaligus memiliki  potensi agar sukses. Jefri Nichol dan Amanda Rawles menjadi pasanan di dalam film yang terbukti mampu mendatangkan penonton lewat Dear Nathan. Formula itu pun digunakan di dalam film dengan genre yang berbeda. Bersama dengan Baskoro Adi Wuryanto, Jose Purnomo dan Rizal Mantovani berusaha menghidupkan lagi mitos hantu legendaris ini untuk disajikan kepada penontonnya. 


Dengan kembalinya dua sutradara yang  berhasil menakut-nakuti penontonnya lewat film Jelangkung di tahun 2001, tentu penonton berusaha memiliki harapan terhadap versi terbarunya. Calon penonton tentu masih mengharapkan bagaimana dua sutradara ini memiliki kemagisannya lagi untuk sekali lagi dapat menghantui penontonnya dengan mitos yang sama. Nyatanya, Jailangkungmemang memiliki kekuatan yang sangat minimalis. Jailangkung menitikberatkan kekuatannya pada nilai produksi yang menunjukkan bahwa film ini tak dibuat sembarangan.

Jailangkung memiliki berbagai macam kekurangan yang perlu diperhatikan dalam mengarahkan dan menuturkan ceritanya. Meski Jefri Nichol, Amanda Rawles, Hannah Al Rashid, atau pun Lukman Sardi berusaha untuk memberikan performa terbaiknya, tak bisa dipungkiri bahwa Jailangkung secara tertulis dibangun begitu lemah. Jailangkungkebingungan dengan apa yang berusaha disampaikan secara visual. Sehingga, penonton pun akan merasakan banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab. 


Jailangkung langsung saja dimulai dengan bagaimana Bella (Amanda Rawles) yang sedang berada di rumah sakit menemui ayahnya (Lukman Sardi) yang sedang koma. Bella dan juga kakaknya Angel (Hannah Al-Rashid) berusaha untuk mencari tahu penyebab ayahnya yang tiba-tiba koma dan tak sadarkan diri begitu lama. Informasi pertama yang mereka dapatkan adalah sang Ayah, Ferdi memiliki sebuah rumah lain tempat dia ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri.

Dengan adanya informasi tersebut, Bella berusaha mencari tahu seperti apa di sana. Bella yang putus asa secara tak sengaja mendengar sebuah penjelasan dari Rama (Jefri Nichol) yang membahas tentang mitos-mitos tentang dunia astral. Rama berusaha mencari tahu penyebab dari komanya ayah Bella dan memang ditemukan sebuah fakta bahwa Ferdi, ayah Bella, bermain Jailangkung di area rumah tersebut. Dan sekarang, arwah Ferdi dibawa oleh makhluk halus sehingga dia tak sadarkan diri.

Konflik yang digunakan di dalam film Jailangkung ini sebenarnya bukan lagi hal yang baru di dalam film-film dengan genre serupa. Jailangkungtetap diisi dengan plot cerita yang generik di dalam film horor, tetapi hal itu pula ditambahi dengan keklisean dialog khas film-film milik Screenplay lainnya. Sebenarnya Jailangkung berusaha memberikan mitos baru tentang makhluk tak kasat mata yang secara tak langsung terpanggil di dalam ritualnya. Tetapi, latar belakang cerita dan bagaimana konfliknya terbangun tetap tak bisa dipungkiri bahwa Jailangkung memiliki sesuatu yang generik. 


Meski dengan sesuatu yang generik, Jailangkungseharusnya bisa mengolahnya menjadi sesuatu yang dapat dinikmati. Sayangnya, konflik yang generik dan lurus-lurus saja itu tampil dengan terbata-bata. Plot cerita yang seharusnya dapat diikuti begitu saja oleh penontonnya, Jailangkung malah membuatnya begitu rumit tetapi tanpa diarahkan dengan teliti. Sehingga, hal itu berdampak pada performa Jailangkung yang terpisah-pisah dalam penuturannya.

Transisi plot cerita dalam Jailangkungini tak bisa berjalan dengan baik. Konfilk yang muncul terlalu awal di dalam film ini membuat penonton bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi. Tetapi penjelasan itu tak dibahas dengan detil, hanya muncul sedikit informasi yang membuat penonton pada akhirnya meraba apa yang berusaha disampaikan oleh Jose Purnomo dan Rizal Mantovani. Permasalahan yang belum selesai dibahas ini masih ditambahi pula dengan cabang cerita yang lain.

Alhasil, dengan durasi yang hanya berkisar 86 menit, penceritaannya terbata-bata tetapi berusaha terlihat komplikasi. Hal itu mempengaruhi penyelesaian dari film ini sendiri yang muncul tak rapi. Penonton kesusahan untuk mendapatkan afirmasi dengan apa yang berusaha diselesaikan oleh para karakternya. Ada rasa ketidakpuasan yang muncul saat film ini berakhir. Penonton merasa butuh penjelasan selanjutnya yang lebih rinci agar penonton mengerti apa yang dimau oleh dua sutradara film Jailangkungini.  Mungkin ada niatan dari dua sutradaranya untuk hadir menyapa penontonnya di seri kedua. Sehingga, film Jailangkung ini hanya berusaha membangun set-up dunia horor yang baru. 


Memang, performa dari para aktor dan aktrisnya berusaha memberikan sesuatu yang terbaik untuk penontonnya di dalam film Jailangkung. Tetapi, hal tersebut tetap tak dapat menutupi celah bagaimana Jailangkung masih belum maksimal dalam pengarahan dan penulisan skenarionya. Sehingga, Jailangkung memang masih belum terlalu maksimal dalam performa isinya. Tetapi, tak dapat dipungkiri bahwa Jailangkungmemiliki performa teknis yang digarap tak sembarangan. Gambar dan tata produksi dalam film Jailangkung ini tak memiliki kesan asal-asalan.

Jailangkung memang akan dapat membawa kuantitas raihan penonton dengan nilai yang besar saat diedarkan. Tetapi, kuantitas tersebut tak memiliki relevansi dengan kualitas dari Jailangkung yang belum benar-benar maksimal oleh Jose Purnomo dan Rizal Mantovani. Masih banyak kekurangan-kekurangan yang perlu untuk diperbaiki apabila memutuskan untuk memiliki seri selanjutnya. Pengarahan yang belum maksimal serta cerita yang masih belum dimatangkan lagi menjadi problematika utama dalam performa Jailangkung sebagai sebuah film. Meski dengan plotnya yang generik, film ini masih terbata-bata dalam menuturkan konfliknya. Dampaknya, ada kesan buru-buru serta penjelasan yang belum tersampaikan dengan maksimal dan hal tersebut tak dapat memuaskan penontonnya.
 

SWEET 20 (2017) REVIEW : Nafas Segar dalam Film Adaptasi


Adaptasi resmi dari film-film luar negeri pernah dilakukan oleh film “Love You, Love You Not” yang diadaptasi dari film thailand berjudul “I Fine, Thank You, Love You”. Kali ini, adaptasi resmi lainnya di perfilman Indonesia hadir dari film korea berjudul “Miss Granny”. Film dari negeri ginseng tersebut telah diadaptasi oleh berbagai macam negara mulai dari China, Thailand, Jepang, hingga Vietnam. Maka, kali ini Indonesia menghadirkan adaptasi resmi tersebut dengan judul “Sweet 20”.

Ody C. Harahap menjadi orang yang dipercaya untuk mengarahkan adaptasi dari Miss Granny ini. Pengarahan Ody C. Harahap ini dibantu oleh naskah yang ditulis oleh Upi. Film Sweet 20 ini  dimeriahkan pula oleh aktris dan aktor kawakan seperti Niniek L. Kariem, Widyawati, hingga Slamet Rahardjo. Juga, aktor dan aktris muda mulai dari Morgan Oey, Tatjana Saphira, dan Kevin Julio sehingga pemilihan pemainnya bisa digunakan sebagai segmentasi penonton dari film ini. Dengan jadwal perilisan yang pas saat lebaran, Sweet 20 muncul dengan harapan sebagai film keluarga yang pas untuk ditonton ramai-ramai.

Ody C. Harahap pernah berhasil membuat film drama komedi dengan takaran pas lewat Kapan Kawin?, bahkan Me Vs Mami juga bisa menghibur penontonnya. Sehingga ketika Ody C. Harahap kembali menggarap di ranah genre serupa, penonton sudah mulai percaya dengan apa yang mau dia arahkan. Meski diadaptasi dari film yang pernah ada, Sweet 20 berhasil menjadi sebuah film yang sangat segar dan begitu menyenangkan pas dengan suasana Lebaran. 


Seperti dengan Miss Granny, Sweet 20 menceritakan tentang seorang wanita lanjut usia bernama Fatma (Niniek L. Karim) yang tinggal bersama dengan anaknya, Adit (Lukman Sardi) dan menantunya. Keberadaan Fatma cukup menganggu ketenangan anak, menantu dan cucu-cucunya karena Fatma begitu cerewet dan suka menasihati mereka. Hingga pada akhirnya, Adit dan keluarganya memutuskan untuk memasukkan Fatma ke Panti Jompo.

Fatma yang mengetahui rencana tersebut merasa sedih dan memutuskan untuk kabur dari rumahnya. Di tengah perjalanannya, dia menemukan sebuah toko foto bernama “Forever Young”. Fatma masuk dan ingin mengabadikan fotonya agar bisa diingat oleh semua orang. Tetapi, keajaiban terjadi saat Fatma selesai difoto. Fatma berubah menjadi seorang perempuan muda belia berumur 20 tahun hingga semua orang tak mengenalinya. Fatma pun mengubah identitasnya menjadi Mieke Widjaja (Tatjana Saphira) dan hidup menjadi perempuan masa kini yang mengejar mimpi-mimpinya dulu. 


Ketakutan dalam sebuah adaptasi dari film lalu adalah tak ada pembeda dan hanya melakukan penyalinan yang serupa di dalam filmnya. Tetapi, pernyataan generik itu dipatahkan begitu saja oleh presentasi secara keseluruhan dari film Sweet 20 ini. Ketika mengarahkan film ini, Ody C. Harahap tak sekedar menyalin adegan demi adegan di dalam film Miss Granny untuk ditampilkan di dalam film Sweet 20. Ada cita rasa yang disesuaikan dengan referensi kultur Indonesia sehingga membuat Sweet 20 seperti sebuah film baru yang segar untuk dinikmati.

Sweet 20 tampil dengan konsistensi energi yang sangat kuat dari awal hingga akhir yang berdampak kepada penontonnya yang akan sangat menikmati 115 menit film ini. Sehingga, penonton bisa sangat terhibur dengan segala komedi dan drama di dalam film ini.  Ody C. Harahap berusaha agar setiap unsur di dalam film ini mulai dari konflik, karakter, dan atmosfirnya berjalan sesuai dengan porsinya masing-masing. Pengarahan yang begitu teliti yang dilakukan oleh Ody C. Harahap inilah kunci kesuksesan dari performa dari Sweet 20

Ada perubahan suasana yang dilakukan secara signifikan di setiap babak di dalam film Sweet 20. Tetapi, apabila hal tersebut tak dilakukan dengan teliti, perubahan atmosfir itu malah akan mendistraksi pondasi cerita. Inilah kepiawaian dari Ody C. Harahap dalam mengarahkan Sweet 20, perubahan suasana itu bergantian tanpa merusak suasana penontonnya juga. Semua berjalan seirama yang malah semakin memperkuat lajurnya cerita dari Sweet 20 ini. Hal ini membuktikan bahwa Ody C. Harahap memiliki pandangan yang sangat visioner dalam mengarahkan genre-genre seperti ini.


Selain pengarahan penuh sensitivitas dari Ody C. Harahap, naskah adaptasi dari Sweet 20 ini patut diacungi jempol. Adaptasi yang dilakukan oleh Upi ini berhasil memasukkan kultur budaya yang relevan dengan Indonesia. Pun, hal itu tak sekedar sadur budaya saja, tetapi juga diperhatikan bagaimana penyaduran budaya itu dimunculkan di dalam adegan film. Mulai dari tembang-tembang lawas yang menghiasai beberapa adegan film Sweet 20hingga pemilihan kata yang disesuaikan dengan usia setiap karakternya. 

Apabila diperhatikan bagaimana setiap karakter mengucapkan dialognya akan muncul kesenjangan pemilihan kata antar generasi yang memang selalu terjadi ketika setiap orang melakukan komunikasi. Bahasa baku dan bahasa gaul terkadang menjadi hambatan bagi orang lanjut usia dengan generasi masa kini. Sehingga, Sweet 20 tak sekedar memiliki konflik di dalam plot ceritanya saja. Tetapi juga menjadikan gambaran bagi penontonnya tentang konflik komunikasi antar personal melalui pemakaian bahasa di setiap rentang usianya yang terkadang memunculkan kesenjangan dan konflik.

Konflik tentang problematika dalam menggunakan bahasa inilah yang disematkan di dalam karakter Fatma yang diperankan oleh Niniek L. Kariem yang berubah menjadi Mieke yang diperankan oleh Tatjana Saphira. Meskipun tubuhnya berubah menjadi sosok yang lebih muda, tetapi nilai-nilai budaya lama tetap tersematkan di dalam diri Mieke. Sehingga, Mieke tetap harus beradaptasi kembali dengan generasi masa kini. Bagusnya, Tatjana Saphira berhasil menerjemahkan kesenjangan budaya yang ada dengan gerakan dan mimik wajah yang kuat sekali. Berhasil meyakinkan penontonnya bahwa Tatjana Saphira memang seorang wanita lanjut usia yang sedang terjebak di tubuh perempuan usia muda.  


Meski menjadi sebuah film adaptasi dari film lain, Sweet 20 berhasil memberikan nafas baru dari film aslinya sendiri. Ketelitian dan sensitivitas Ody C. Harahap inilah yang menjadi pegangan bagi presentasi keseluruhan dari Sweet 20 hingga menjadi sebuah film drama komedi keluarga paket komplit. Akan ada tawa, haru, sekaligus kontemplasi tentang konflik-konflik di dalam film ini yang dengan mudah memberikan relevansi dengan penonton Indonesia. Hal itu juga karena kepiawaian Upi selaku penulis naskah yang dapat menyadur kultur budaya lokal yang tak sekedar tempel, tetapi juga diperhatikan penempatannya. Dengan begitu, konsistensi energi yang muncul di dalam Sweet 20 selalu terjaga dan akan menetap rasa bahagia di hati penontonnya. Ya, Sweet 20 adalah film libur lebaran yang pas ditonton ramai-ramai. Tatjana Saphira is a next big thing!

TRANSFORMERS : THE LAST KNIGHT (2017) REVIEW : ‘Bumbu’ Lain dalam 'Makanan Cepat Saji'

Michael Bay datang lagi menawarkan “makanan junk food” kepada penontonnya. Transformers adalah sebuah franchisepenuh visual efek spektakuler yang terlihat enak disantap di luar, tetapi sebenarnya tidak sehat. Tetapi, meski terlihat tak sehat, film-film seperti ini adalah film yang akan dinantikan dan selalu menjadi favorit bagi semua orang yang ingin hiburan secara instan. Maka, tahun ini muncul sebuah seri kelima dari seri ini.

Seri kelima ini pada awalnya digadang menjadi seri terakhir dari Transformers. Tetapi, Paramount Pictures telah memberikan lampu hijau untuk seri ini agar berlanjut menjadi 12 seri selanjutnya. Sehingga bagi penonton yang tak suka dengan seri dari film ini,  taruh impian anda untuk menyaksikan seri terakhir dari Transformers. Karena Transformers : The Last Knights adalah awal mula dari babak baru yang akan dibuat oleh Michael Bay beserta Paramount untuk lagi-lagi mengeruk finansial penontonnya agar selalu menikmati “makanan cepat saji” ala mereka.

Transformers : The Last Knightmelanjutkan linimasa cerita yang telah dibangun ulang lewat Age of Extinction. Dengan begitu, tokoh utama di dalam film Transformers kali ini masih dipegang oleh Mark Wahlberg dan juga dipenuhi dengan berbagai macam aktor-aktris baru. Tetapi, meskipun cerita telah diulang menjadi sesuatu yang baru, seri ini tak menunjukkan perubahan lain selain visual efeknya yang semakin mengagumkan. Tetapi, beruntungnya Transformers : The Last Knight kali ini hanya berdurasi 150 menit –hal itu berarti 15 menit lebih pendek daripada film sebelumnya. 


Tetapi, dengan durasi yang lebih pendek 15 menit, tak membuat Transformers : The Last Knight memiliki bangunan cerita yang lebih baik. Cerita di Transformers : The Last Knight ini berusaha memiliki kerumitan daripada film sebelumnya. Bagaimana Optimus Prime yang kembali ke planetnya, Cybertron, dikuasai oleh Quintessa. Optimus Prime pun diberi pengaruh oleh Quintessa untuk mengembalikan Cybertron seperti semula tetapi dengan cara menghancurkan planet bumi.

Sementara itu, Cade Yaeger (Mark Wahlberg) berusaha menenangkan konflik yang terjadi di bumi. Di mana Decepticon berusaha untuk mencari pedang legenda milik King Arthur yang sebelumnya telah diberi kekuatan oleh Autobot di masa itu dan menjadi pedang terkuat di bumi. Sehingga, Cade Yaeger bersama dengan teman-teman Autobot-nya berusaha untuk menghalang Decepticon menemukan pedang tersebut agar tak disalahgunakan. 


Akan ada banyak orang yang memberikan saran kepada penonton seri Transformers untuk tak begitu mempedulikan bagaimana plotnya bergerak. Nikmati saja setiap visual efek dan sekuens aksi menggelegar yang akan diberikan oleh Michael Bay di sepanjang film. Menetapkan ekspektasi seperti itu memang sedikit perlu, agar bisa menikmati film Transformers milik Michael Bay. Tetapi, ketika mengatur ekspektasi sedemikian rupa, Transformers : The Last Knight melenceng jauh dari bagaimana seri Transformers seperti biasanya.

Dengan cerita dan berbagai subplot seperti itu, Transformers : The Last Knight berusaha untuk memberikan pondasi cerita yang kuat. Hanya saja, dengan berbagai macam karakter, plot, dan cabang plotnya, Transformers : The Last Knightgagal dalam mengikat penontonnya dengan durasi 150 menit. Semuanya bercampur aduk menjadi satu, hingga menimbulkan kebingungan penonton untuk berusaha mengikuti apa yang dimau oleh Michael Bay di dalam Transformers : The Last Knight ini.  Cerita yang berbeda dan lebih rumit tak membuat Transformers : The Last Knightmemiliki performa yang kuat. 


Karakter dan plot hanyalah sebagai formalitas yang ada agar film ini memiliki atributnya sebagai sebuah film. Tetapi, di sepanjang 1 jam awal, Transformers : The Last Knight memiliki atmosfir layaknya video perkenalan sebuah wahana yang berusaha dipanjang-panjangkan. Lantas di satu jam selanjutnya, Transformers : The Last Knight tak lantas menjadi membaik. 1 jam selanjutnya, muncul konflik lain yang semakin membuat suasana film semakin riuh tetapi tak terkendali.

Setiap menit akan dikenalkan karakter baru, dengan begitu cabang plot cerita juga semakin bertambah. Hanya saja, Michael Bay tak bisa mengendalikan hal tersebut dengan baik. Dampaknya ada di dalam performa Transformers : The Last Knight yang terasa begitu acak untuk diterima oleh penontonnya. Kekacauan itu juga semakin diperkuat dengan penyuntingan yang tak bisa menemukan garis lurus untuk menyajikan cerita di dalam filmnya. Sehingga, penonton tak bisa menikmati apa yang berusaha disampaikan oleh Michael Bay di dalam seri terbarunya.

Meski sebenarnya film-film Transformers hanya mempedulikan efek visual, secara keselurahan Transformers : The Last Knight tak memberikan sesuatu yang akan menancap di ingatan penontonnya. Semuanya sudah pernah ada di film-film sebelumnya, bahkan bisa dibilang Transformers : The Last Knightmemiliki sedikit sekuens aksi, apalagi yang menancap di ingatan penonton. Tidak ada alternatif lain yang muncul dari segi efek visual yang menjadi kekuatan utama seri ini. 


Menentukan ekspektasi agar tak memikirkan plot cerita di seri-seri Transformers, nyatanya tak berlaku di seri terbarunya ini. Transformers : The Last Knight seperti sebuah makanan junk food yang sudah disukai oleh penontonnya dan berusaha memberikan ‘bumbu’ lain di dalamnya. Sehingga, konsumennya akan berusaha mengidentifikasi rasa lama yang terganggu dengan ‘bumbu’ barunya. Michael Bay berusaha memberikan konsentrasi plot cerita di dalam filmnya, tetapi juga tak bisa melepaskan pentingnya efek visual yang biasanya jadi kekuatan seri ini. Sehingga dengan durasi sepanjang 150 menit, Transformers : The Last Knighttak bisa memiliki performa yang baik –dengan standar seperti biasanya. Belum lagi, penuturan ceritanya juga belum bisa efektif. Sayang sekali. 


Film ini dirilis dengan format yang khusus untuk IMAX 3D. Berikut adalah review dari format tiga dimensi dari film ini :

DEPTH 
 
Transformers : The Last Knight memiliki kualitas kedalaman yang bisa membuat penontonnya melihat mereka di balik kaca.

POP OUT 

Efek keluar dari layar di film Transformers : The Last Knight cukup memberikan sensasi menarik saat menonton.

Direkam menggunakan kamera IMAX 3D, maka tak ada alasan tak menyaksikan Transformers : The Last Knight di dalam format tiga dimensi. 

WONDER WOMAN (2017) REVIEW : Hanya Film Manusia Super Seperti Biasanya



DC Extended Universe kembali mengeluarkan sebuah kisah salah satu manusia supernya untuk dikenalkan agar bangunan dunianya semakin memiliki dimensinya. Digadang sebagai sebuah film manusia super wanita pertama yang dibuatkan filmnya sendiri –meskipun sebenarnya sudah ada beberapa film-film manusia super yang dibuat sebelumnya –DC Extended Universe menunjukkan taringnya bahwa dunianya sudah menjadi sesuatu yang perlu diantisipasi.

Wonder Woman yang diperankan oleh Gal Gadot ini akhirnya mendapatkan porsinya untuk bercerita tentang dirinya. Patty Jenkins, seorang sutradara perempuan yang kredibilitasnya sudah diakui oleh Academy Awards lewat film Monster memiliki kesempatan untuk mengarahkan cerita manusia super wanita ini. Selain itu, film ini juga dibintangi oleh Chris Pine dan beberapa aktor aktris lainnya sehingga Wonder Woman menjadi salah satu film yang diantisipasi oleh banyak orang.

Setelah Batman V Superman : Dawn of Justice dan Suicide Squad, film-film milik DC Extended Universe tak memliki performa yang bisa membuat terkagum. Bahkan, kedua film tersebut memiliki performa jauh di bawah film-film manusia super lainnya. Sehingga, menantikan film-film DC Extended Universe tak bisa membuat hati berdegup kencang, kecuali para penggemar komik yang telah begitu dekat dengan karakter-karakter di dalam DC Comics


Ketika Wonder Woman dirilis, film ini mendapatkan resepsi kritik yang begitu dipuji-puji. Wonder Woman digadang menjadi sebuah kisah asli manusia super yang sangat segar dibandingkan dengan kisah-kisah dari manusia super lainnya. Dengan munculnya klaim hiperbolis seperti itu, Seketika muncul sebuah harapan baru bagi kelanjutan DC Extended Universe selanjutnya. Tentu semua berharap DC Extended Universe bisa menjadi alternatif tontonan kisah-kisah manusia super di sebuah pengalaman sinematis yang ada.

Tetapi, semua kembali dari bagaimana pengalaman dan referensi setiap penonton yang ada ketika menonton Wonder Woman. Sejujurnya, Wonder Woman memang memiliki nafas yang terasa berbeda daripada film-film DC Extended Universe. Hanya saja, ketika disangkutpautkan dengan kata-kata “sangat segar” rasanya Wonder Woman juga tidak bisa dikatakan demikian. Wonder Woman punya kisah asli yang sudah pernah dirasakan oleh penonton di film-film manusia super 4 atau 5 tahun lalu secara sinematis. 


Menceritakan tentang Diana (Gal Gadot) seorang putri amazon yang hidup dengan tenang pada awalnya. Tetapi, dengan keadaan tenang tersebut, Diana tetap diperingatkan tentang kejahatan di luar sana yang melibatkan sosok Ares. Dengan begitu, Diana akan selalu waspada apabila suatu saat kejahatan datang dan menghancurkan Amazon yang mereka cintai. Hingga pada akhirnya, kekacauan datang ketika seorang pemuda tiba-tiba terdampar di pinggiran pantai Amazon.

Steve Trevor (Chris Pine), seorang mata-mata yang sedang bertugas ini terdampar ketika para musuhnya mengejar dirinya. Sehingga, para musuhnya juga ikut menganggu ketenangan para Amazonian ini. Perang pun terjadi antara Amazonian dengan musuh dari Steve Trevor yang menyebabkan banyaknya korban salah satunya adalah saudara perempuan Diana yaitu Antiope (Robin Wright). Diana menganggap ini semua adalah ulah Ares dan menggunakan Steve Trevor untuk mencari keberadaan Ares ini.  


Mendapatkan sebuah klaim tentang kesegaran dan kejeniusan di dalam film Wonder Woman, rasanya hal tersebut kurang pas. Sebagai sebuah film origin story, Wonder Woman sebenarnya memiliki formula yang pernah digunakan oleh berbagai film asal mula superhero lainnya. Memang, ada rasa naif di dalam sosok manusia super yang muncul dari karakter Wonder Woman. Tetapi, Wonder Woman tak sepenuhnya menjadi sebuah tontonan yang mendapat klaim kata “segar”. Wonder Woman mungkin akan lebih tepat dikatakan sebagai pemicu rasa nostalgia.

Dengan durasinya yang mencapai 141 menit, Wonder Woman muncul menceritakan sesuatu yang terlalu biasa.. Tetapi, secara bertutur, Wonder Woman tak ayal adalah sebuah film dengan plot yang lurus-lurus saja dengan penyelesaian konflik yang seadanya. Pembangunan dunia para Amazonian muncul terlalu sebentar, sehingga tak ada korelasi emosi yang muncul antara karakter dan juga penontonnya. Ketika penonton sudah mulai terkoneksi dengan ceritanya, poin pemantik konflik di dalam film ini muncul terlalu cepat. Sehingga, bangunan dunia milik Wonder Woman tak bisa mengikat begitu kuat.

Kejeniusan Allan Heinberg di dalam naskah yang ditulisnya adalah ketika menggunakan Wonder Woman sebagai medium untuk menyampaikan kesetaraan perempuan yang sedang menjadi isu sosial di berbagai belahan dunia. Kenaifan yang muncul menjadi sifat dari Wonder Woman adalah cara bagaimana Allan Heinberg memberikan pengertian tentang bagaimana peran gender muncul dari setiap manusia. Bukan ingin berprasangka buruk, mungkin hal inilah yang membuat Wonder Woman mendapat resepsi baik. Wonder Woman adalah sebuah propaganda politik tentang marjinalitas kaum perempuan. Tetapi, ketika melihat Wonder Woman sebagai film itu sendiri, sebenarnya tampil baik tetapi performanya tak muncul sebaik itu. 


Dengan durasi 141 menit, Wonder Woman seharusnya bisa memiliki komplikasi yang lebih baik lagi untuk membangun setiap plot beserta subplotnya. Tetapi, di akhir 20 menit, Wonder Woman masih memiliki keterbatasan dalam menyelesaikan konflik. Membuat filmnya terkesan memiliki banyak sekali subplot yang perlu diselesaikan karena munculnya 2 karakter villain yang tertuduh menjadi karakter yang penting. Tetapi dengan konklusi seperti itu di dalam filmnya, dalih tentang 2 karakter penjahat tersebut terkesan sia-sia dan tak memiliki tujuan utamanya. Belum lagi keklisean yang muncul di dalam konklusi Wonder Woman yang melihatkan bahwa tak ada lagi unsur “segar” di dalam film ini.

Memang, sebagai sebuah film yang berada di dalam DC Extended Universe, ini adalah sebuah film yang segar. Tetapi, ketika dibandingkan dengan berbagai film manusia super yang ada, Wonder Woman hanyalah repetitif bahkan adaptasi dari berbagai referensi dengan performa yang cukup tapi tak semegah itu. Menonton Wonder Woman dan memahaminya butuh referensi dan pengalaman dari dalam diri. Sehingga, ketika selesai menonton, Wonder Woman adalah hal yang bisa didiskusikan untuk saling berbagi pengalaman dan referensi. Wonder Woman mungkin lebih tepat untuk mendapatkan predikat “nostalgic” ketimbang menggunakan kata-kata “segar” yang sebenarnya menimbulkan anomali.