• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label Morgan Oey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Morgan Oey. Tampilkan semua postingan

BELOK KANAN BARCELONA (2018) REVIEW : Chemistry Adalah Kunci Utama



Mengadaptasi novel yang sudah punya massa, masih terus akan terjadi di perfilman kita. Tentu saja ini halal terjadi, karena sebuah film ingin mendapatkan penonton dan diterima dengan kuantitas yang besar. Maka dari itu, Starvision Plus masih berusah untuk mengadaptasi sebuah novel lama yang sudah memiliki banyak penggemarnya. Adaptasi ini berasal dari buku seorang penulis terkenal yaitu Adithya Mulya dan Ninit Yunita.

Film adaptasi buku ini diambil dari Karya Adithya Mulya dan Ninit Yunita yang juga berkolaborasi dengan dua penulis lain yaitu Alaya Setya dan Iman Hidajat. Traveler’s Tale, Belok Kanan : Barcelona ini adalah buku yang cukup legendaris di zamannya. Buku rilisan tahun 2007 ini diberikan kepercayaannya kepada Guntur Soeharjanto untuk mengarahkan film ini. Dibantu oleh Adithya Mulya dalam departemen naskah yang sekaligus pemilik buku tersebut.

Belok Kanan Barcelona ini adalah film Starvision Plus yang bekerjasama dengan CJ Entertainment setelah Sweet 20. Dibintangi oleh nama-nama yang cukup terkenal mulai dari Morgan Oey, Mikha Tambayong, Deva Mahenra, hingga Anggika Bolsterli. Adithya Mulya selaku penulis naskah tentu sudah tahu benar hati dari bukunya untuk dijadikan sebuah film. Sehingga, ini tentu sudah menjadi modal yang cukup kuat untuk Belok Kanan Barcelona tampil dengan solid.


Dengan trailer yang disajikan, Belok Kanan Barcelona tentu saja akan menarik perhatian penonton yang ingin menyaksikan sebuah film komedi romantis dari Indonesia. Bagusnya, trailer yang menarik ini berakhir tak hanya ilusi karena Belok Kanan Barcelona adalah sebuah film komedi romantis yang tampil sangat menghibur penontonnya. Guntur Soeharjanto berhasil mengkolaborasikan karakter utamanya yang cukup banyak untuk tetap bisa dinamis di dalam filmnya.

Dengan durasinya yang mencapai 101 menit, Guntur Soeharjanto tahu untuk memberikan porsi setiap karakternya sehingga muncul keseimbangan di dalam filmnya. Ekplorasi karakter yang cukup dalam berhasil membuat Belok Kanan Barcelona berhasil membuat orang terpukau dan bersimpati dengan karakter-karakternya. Meskipun dalam presentasinya, ada beberapa subplot yang ternyata masih menjadi kendala sehingga sedikit mengurangi kenikmatan penonton saat menikmati Belok Kanan Barcelona.


Inilah kisah Belok Kanan Barcelona yang berpusat kepada empat orang yang telah menjalin persahabatan sejak SMA. Mereka adalah Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Farah (Anggika Bolsterli), dan Ucup (Deva Mahenra). Awalnya mereka sudah mengenal satu sama lain karena mereka berada di satu lingkungan tetangga yang sama. Di sekolah pun, mereka menjalin relasi sahabat yang sangat baik dan dekat.

Di saat dewasa, mereka yang sudah terpisah di 4 benua yang berbeda, mendengarkan kabar yang cukup mencengangkan dari salah satu sahabatnya. Francis yang sudah menjadi musisi terkenal dan melanglang buana ke seluruh dunia mengundang Ucup, Farah, dan Retno ke pernikahannya ke Barcelona. Di sinilah mereka akhirnya mengingat kejadian masa lalu saat masih sekolah bahwa mereka pernah terjebak dalam kisah cinta yang cukup pelik.

Film Belok Kanan Barcelona sudah memiliki dinamika yang cukup rumit untuk bisa mengelaborasi 4 karakternya untuk bisa berjalan dengan dinamis. Guntur Soeharjanto untungnya bisa mengemas cerita tentang 4 sahabat ini dengan porsinya masing-masing. Beruntungnya lagi, tone cerita yang digunakan di dalamnya masih memiliki tone yang cukup general. Sehingga, keempat ceritanya bisa dijahit menjadi satu film utuh yang tidak saling timpang.


Belok Kanan Barcelona memang penuh dengan cerita-cerita yang general dalam film komedi romantis. Mulai dari friendzone hingga cinta tapi tak bisa memiliki karena penghalang. Guntur Soeharjanto mungkin bisa mengarahkan semuanya agar masih menjadi sebuah komedi romantis yang pas dan sesuai. Meskipun masih ada satu subplot cerita yang mungkin tidak bisa bermain dengan baik dan cukup membuat kenikmatan menonton film Belok Kanan Barcelona sedikit berkurang.

Dengan pengembangan karakter yang cukup baik, kehadiran satu subplot cerita itu mungkin akan sangat disayangkan. Andai saja 107 menit filmnya lebih digunakan untuk memberikan konklusi yang lebih baik mungkin akan lebih menyenangkan. Beberapa pemilihan cabang cerita yang ada di dalam naskah milik Adithya Mulya ini sebenarnya bisa untuk dipilih ulang agar lebih terasa efektif. Mungkin di dalam tulisan akan terasa menarik, hanya saja dalam adegannya ada sedikit rasa canggung yang timbul.

Mulai dari kisah perbedaan agama hingga kisah perjalan ucup ke Barcelona muncul kecanggungan dalam pengadegannya. Inilah yang membuat Belok Kanan Barcelona sedikit menjadi problematika bagi penonton untuk menikmati sajiannya secara utuh. Beruntung, Guntur Soeharjanto masih bisa memberikan satu adegan kunci yang muncul dengan klimaks yang pas. Membuat penonton ikut merasa gemas dengan konflik percintaan di antara kuatnya hubungan persahabatan mereka.


Ini tentu saja berkat bagaimana keempat pemainnya bisa saling mengembangkan chemistrynya sebagai sahabat yang memang sudah 8 tahun bersahabat. Semua pemainnya bermain solid mulai dari Morgan Oey dan Mikha Tambayong. Tetapi, kredit utama harus disorot kepada performa Deva Mahenra dan Anggika Bolsterli yang setiap kemunculan berhasil menimbulkan tawa penonton. Mereka berhasil menjadi sosok sahabat yang bisa mewarnai Belok Kanan Barcelona meski dengan beberapa kekurangannya.

Dengan musik yang pas dan tata sinematografi yang cantik, Belok Kanan Barcelona akan memuaskan targetnya dan penonton yang datang tanpa pretensi apapun. Belok Kanan Barcelona memiliki kekuatan yang sangat pas sebagai film komedi romantis dan persahabatan yang mungkin akan jarang ditemui nantinya di perfilman Indonesia. Meski satu subplot ceritanya yang membuat penonton akan sedikit mengurangi kenikmatannya, tetapi Belok Kanan Barcelona adalah sebuah sajian komedi romantis yang sangat menghibur.

SWEET 20 (2017) REVIEW : Nafas Segar dalam Film Adaptasi


Adaptasi resmi dari film-film luar negeri pernah dilakukan oleh film “Love You, Love You Not” yang diadaptasi dari film thailand berjudul “I Fine, Thank You, Love You”. Kali ini, adaptasi resmi lainnya di perfilman Indonesia hadir dari film korea berjudul “Miss Granny”. Film dari negeri ginseng tersebut telah diadaptasi oleh berbagai macam negara mulai dari China, Thailand, Jepang, hingga Vietnam. Maka, kali ini Indonesia menghadirkan adaptasi resmi tersebut dengan judul “Sweet 20”.

Ody C. Harahap menjadi orang yang dipercaya untuk mengarahkan adaptasi dari Miss Granny ini. Pengarahan Ody C. Harahap ini dibantu oleh naskah yang ditulis oleh Upi. Film Sweet 20 ini  dimeriahkan pula oleh aktris dan aktor kawakan seperti Niniek L. Kariem, Widyawati, hingga Slamet Rahardjo. Juga, aktor dan aktris muda mulai dari Morgan Oey, Tatjana Saphira, dan Kevin Julio sehingga pemilihan pemainnya bisa digunakan sebagai segmentasi penonton dari film ini. Dengan jadwal perilisan yang pas saat lebaran, Sweet 20 muncul dengan harapan sebagai film keluarga yang pas untuk ditonton ramai-ramai.

Ody C. Harahap pernah berhasil membuat film drama komedi dengan takaran pas lewat Kapan Kawin?, bahkan Me Vs Mami juga bisa menghibur penontonnya. Sehingga ketika Ody C. Harahap kembali menggarap di ranah genre serupa, penonton sudah mulai percaya dengan apa yang mau dia arahkan. Meski diadaptasi dari film yang pernah ada, Sweet 20 berhasil menjadi sebuah film yang sangat segar dan begitu menyenangkan pas dengan suasana Lebaran. 


Seperti dengan Miss Granny, Sweet 20 menceritakan tentang seorang wanita lanjut usia bernama Fatma (Niniek L. Karim) yang tinggal bersama dengan anaknya, Adit (Lukman Sardi) dan menantunya. Keberadaan Fatma cukup menganggu ketenangan anak, menantu dan cucu-cucunya karena Fatma begitu cerewet dan suka menasihati mereka. Hingga pada akhirnya, Adit dan keluarganya memutuskan untuk memasukkan Fatma ke Panti Jompo.

Fatma yang mengetahui rencana tersebut merasa sedih dan memutuskan untuk kabur dari rumahnya. Di tengah perjalanannya, dia menemukan sebuah toko foto bernama “Forever Young”. Fatma masuk dan ingin mengabadikan fotonya agar bisa diingat oleh semua orang. Tetapi, keajaiban terjadi saat Fatma selesai difoto. Fatma berubah menjadi seorang perempuan muda belia berumur 20 tahun hingga semua orang tak mengenalinya. Fatma pun mengubah identitasnya menjadi Mieke Widjaja (Tatjana Saphira) dan hidup menjadi perempuan masa kini yang mengejar mimpi-mimpinya dulu. 


Ketakutan dalam sebuah adaptasi dari film lalu adalah tak ada pembeda dan hanya melakukan penyalinan yang serupa di dalam filmnya. Tetapi, pernyataan generik itu dipatahkan begitu saja oleh presentasi secara keseluruhan dari film Sweet 20 ini. Ketika mengarahkan film ini, Ody C. Harahap tak sekedar menyalin adegan demi adegan di dalam film Miss Granny untuk ditampilkan di dalam film Sweet 20. Ada cita rasa yang disesuaikan dengan referensi kultur Indonesia sehingga membuat Sweet 20 seperti sebuah film baru yang segar untuk dinikmati.

Sweet 20 tampil dengan konsistensi energi yang sangat kuat dari awal hingga akhir yang berdampak kepada penontonnya yang akan sangat menikmati 115 menit film ini. Sehingga, penonton bisa sangat terhibur dengan segala komedi dan drama di dalam film ini.  Ody C. Harahap berusaha agar setiap unsur di dalam film ini mulai dari konflik, karakter, dan atmosfirnya berjalan sesuai dengan porsinya masing-masing. Pengarahan yang begitu teliti yang dilakukan oleh Ody C. Harahap inilah kunci kesuksesan dari performa dari Sweet 20

Ada perubahan suasana yang dilakukan secara signifikan di setiap babak di dalam film Sweet 20. Tetapi, apabila hal tersebut tak dilakukan dengan teliti, perubahan atmosfir itu malah akan mendistraksi pondasi cerita. Inilah kepiawaian dari Ody C. Harahap dalam mengarahkan Sweet 20, perubahan suasana itu bergantian tanpa merusak suasana penontonnya juga. Semua berjalan seirama yang malah semakin memperkuat lajurnya cerita dari Sweet 20 ini. Hal ini membuktikan bahwa Ody C. Harahap memiliki pandangan yang sangat visioner dalam mengarahkan genre-genre seperti ini.


Selain pengarahan penuh sensitivitas dari Ody C. Harahap, naskah adaptasi dari Sweet 20 ini patut diacungi jempol. Adaptasi yang dilakukan oleh Upi ini berhasil memasukkan kultur budaya yang relevan dengan Indonesia. Pun, hal itu tak sekedar sadur budaya saja, tetapi juga diperhatikan bagaimana penyaduran budaya itu dimunculkan di dalam adegan film. Mulai dari tembang-tembang lawas yang menghiasai beberapa adegan film Sweet 20hingga pemilihan kata yang disesuaikan dengan usia setiap karakternya. 

Apabila diperhatikan bagaimana setiap karakter mengucapkan dialognya akan muncul kesenjangan pemilihan kata antar generasi yang memang selalu terjadi ketika setiap orang melakukan komunikasi. Bahasa baku dan bahasa gaul terkadang menjadi hambatan bagi orang lanjut usia dengan generasi masa kini. Sehingga, Sweet 20 tak sekedar memiliki konflik di dalam plot ceritanya saja. Tetapi juga menjadikan gambaran bagi penontonnya tentang konflik komunikasi antar personal melalui pemakaian bahasa di setiap rentang usianya yang terkadang memunculkan kesenjangan dan konflik.

Konflik tentang problematika dalam menggunakan bahasa inilah yang disematkan di dalam karakter Fatma yang diperankan oleh Niniek L. Kariem yang berubah menjadi Mieke yang diperankan oleh Tatjana Saphira. Meskipun tubuhnya berubah menjadi sosok yang lebih muda, tetapi nilai-nilai budaya lama tetap tersematkan di dalam diri Mieke. Sehingga, Mieke tetap harus beradaptasi kembali dengan generasi masa kini. Bagusnya, Tatjana Saphira berhasil menerjemahkan kesenjangan budaya yang ada dengan gerakan dan mimik wajah yang kuat sekali. Berhasil meyakinkan penontonnya bahwa Tatjana Saphira memang seorang wanita lanjut usia yang sedang terjebak di tubuh perempuan usia muda.  


Meski menjadi sebuah film adaptasi dari film lain, Sweet 20 berhasil memberikan nafas baru dari film aslinya sendiri. Ketelitian dan sensitivitas Ody C. Harahap inilah yang menjadi pegangan bagi presentasi keseluruhan dari Sweet 20 hingga menjadi sebuah film drama komedi keluarga paket komplit. Akan ada tawa, haru, sekaligus kontemplasi tentang konflik-konflik di dalam film ini yang dengan mudah memberikan relevansi dengan penonton Indonesia. Hal itu juga karena kepiawaian Upi selaku penulis naskah yang dapat menyadur kultur budaya lokal yang tak sekedar tempel, tetapi juga diperhatikan penempatannya. Dengan begitu, konsistensi energi yang muncul di dalam Sweet 20 selalu terjaga dan akan menetap rasa bahagia di hati penontonnya. Ya, Sweet 20 adalah film libur lebaran yang pas ditonton ramai-ramai. Tatjana Saphira is a next big thing!