• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.

SEBELUM IBLIS MENJEMPUT (2018) REVIEW : Mimpi Buruk dari Iblis Jahat


Setelah berkerjasama bersama Screenplay Infinite Films untuk membuat sebuah film action, Timo Tjahjanto kali ini bekerjasama ulang untuk menghasilkan film baru. Berganti nama rumah produksi meskipun masih di naungan yang sama, Sky Media dan Timo kembali mengarahkan filmnya sendiri tanpa bantuan rekannya Kimo Stamboel. Kembali ke akarnya untuk membuat film horor, tentu saja membuat penikmat film sangat senang.

Film-film horor buatan Timo selalu mendapatkan hati di penontonnya mulai dari Rumah Dara dan Killers. Keunggulan Timo dalam mengarahkan sebuah film horor juga tersaji lewat beberapa film pendeknya. Safe Haven yang pernah difitur menjadi segmen terakhir di omnibus V/H/S 2dan L for Libido di dalam omnibus The ABC’s of Death. Maka, tentu saja film terbarunya yang berjudul Sebelum Iblis Menjemput ini sangat dinantikan.

Sebelum Iblis Menjemput dibintangi oleh 2 aktris papan atas Indonesia yaitu Chelsea Islan dan Pevita Pearce. Kedua aktris ini pun juga baru pertama kali bermain dalam film horor sehingga semakin membuat calon penontonnya penasaran. Juga, film ini didukung oleh pemain-pemain seperti Karina Suwandi, Ray Sahetapi, dan Rafo Samael. Sebelum Iblis Menjemput tak hanya disutradarai oleh Timo sendiri tetapi juga naskahnya pun ditulis sendiri.


Dengan beragamnya film-film horor Indonesia yang berusaha untuk mengekspos film horor dengan plot menggunakan kultus, sekte, dan perjanjiannya, tentu saja membuat Sebelum Iblis Menjemput akan dibanding-bandingkan. Banyak yang akan beranggapan bahwa Sebelum Iblis Menjemput menyadur film-film horor Indonesia seperti Pengabdi Setan atau Kafir. Seharusnya, plot-plot seperti ini sudah sering digunakan oleh film-film horor baik domestik maupun luar negeri.

Tetapi, meski dengan penanda yang mirip satu sama lain, Sebelum Iblis Menjemput punya caranya sendiri untuk menuturkan ceritanya. Timo Tjahjanto dengan segala referensi film horornya, tentu tahu untuk mengemas Sebelum Iblis Menjemput. Timo akan mengantarkan penontonnya untuk menikmati mimpi buruk saat menonton Sebelum Iblis Menjemput dengan durasi mencapai 115 menit ini.


Timo membuat sebuah mimpi buruk yang dimulai dari seorang lelaki paruh baya bernama Lesmana (Ray Sahetapy) yang sedang koma di rumah sakit. Alfie (Chelsea Islan), anak perempuannya dari istri pertama datang menghampiri sang ayah yang sudah tidak berdaya. Alfie datang karena telepon dari Maya (Pevita Pearce) yang juga anak perempuannya tetapi hasil dari pernikahan keduanya.

Lesmana ditemukan jatuh sakit dan koma di sebuah rumah villa kecil di antah berantah. Alfie memutuskan untuk datang ke villa tersebut untuk mencari tahu apa yang terjadi oleh sang ayah. Tanpa disadari, keluarga dari istri kedua Lesmana datang ke villa tersebut. Alfie dan keluarga dari istri keduanya berusaha untuk membersihkan rumah tersebut dan mencari apa yang tersisa di rumah tersebut. Tetapi, kejadian aneh menyerang mereka di malam yang sunyi itu. 


Kejadian-kejadian di malam yang sangat mencekam itu berhasil diolah menjadi Timo untuk menjadi kekuatan di dalam filmnya. Sebelum Iblis Menjemput sukses membuat penontonnya bergidik ngeri sepanjang 115 menit. Timo terlihat berusaha keras untuk mengarahkan Sebelum Iblis Menjemputagar bisa membangun nuansa horor yang atmosferik. Untung saja, usaha kerasnya berhasil membuat setiap penampakan yang ada terasa maksimal.

Timo tak memberi ampun penontonnya saat menyaksikan Sebelum Iblis Menjemput. Timo langsung memulai Sebelum Iblis Menjemput dengan atmosfer yang sangat mencekam dan gelap. Di 30 menit pertamanya, penonton sudah langsung berhasil ditakuti lewat pembangunan atmosfer horor dan jumpscares yang tepat sasaran. Adrenalin penonton pun sudah naik sejak 30 menit pertamanya dan dengan antusias menyaksikan sisa durasinya.

Satu jam pertama Sebelum Iblis Menjemput memang benar-benar membuktikan bahwa Timo Tjahjanto sangat kompeten dalam mengarahkan sebuah film horor. Caranya mengarahkan film Sebelum Iblis Menjemput akan membuat film ini terasa bukan buatan dalam negeri. Timo yang sudah kaya akan referensi-referensi plot cerita serupa berusaha memaksimalkannya di film ini. Meskipun, Sebelum Iblis Menjemputmasih memiliki kendala di dalamnya.


115 menit di Sebelum Iblis Menjemput tidak bisa berjalan sangat mulus terlebih di paruh kedua. Timo Tjahjanto yang sudah berhasil mencengkram penontonnya di paruh pertama, tiba-tiba melepaskan cengkramannya perlahan. Paruh kedua film ini memang tak benar-benar mengalami penurunan drastis, tetapi penceritaannya yang terlalu ingin banyak yang diceritakan. Terlihat bahwasanya Timo menahan dirinya agar film ini tak berjalan terlalu jauh. Meskipun harus mengorbankan beberapa poinnya yang tidak bisa disampaikan dengan utuh. 

Sebelum pada akhirnya Sebelum Iblis Menjemputjatuh ke dalam lubang yang lebih dalam, Timo Tjahjanto langsung mencengkram penontonnya lagi. Paruh akhir film ini naik dengan cara Timo mengarahkan performa dua aktris utamanya. Pevita Pearce mampu mencuri hati penonton dengan performanya yang luar biasa dibandingkan dengan film-film sebelumnya. Begitu pula dengan Chelsea Islan yang berhasil menjadi sosok karakter yang kuat.

Keduanya mampu berkolaborasi sehingga performa Chelsea Islan dan Pevita Pearce bisa saling melengkapi. Timo Tjahjanto berhasil membuat dua aktris Indonesia ini keluar dari zona nyamannya lewat Sebelum Iblis Menjemput.Sekaligus, performa Karina Suwandi yang berhasil membuat penontonnya bergidik ngeri. Sisi teknis di Sebelum Iblis Menjemput juga menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan.


Bintang utama dalam teknis filmnya ini adalah gubahan musik yang tampil untuk menguatkan filmnya. Bukan menjadi hal yang membuat suasana horornya terasa manipulatif. Begitu pula dengan cara Timo untuk mengambil adegan demi adegannya. Menggunakan aspect ratio 1:85:1 ini ditujukan agar penonton bisa merasakan karakter dan suasananya dengan lebih intimate. Sehingga, tensinya bisa dirasakan betul oleh penontonnya.

Sehingga, setelah selesai menonton Sebelum Iblis Menjemput,rasa akhir yang dirasakan adalah rasa stres saat menonton. Bukan karena filmnya kurang bagus, tetapi Timo Tjahjanto terus menerus mengganjar kengeriannya tanpa ampun. Timo Tjahjanto sekali lagi membuktikan bahwa dirinya memang bisa diperhitungkan saat menangani film-film seperti ini. Sebelum Iblis Menjemput adalah sebuah pompa adrenalin yang ampuh untuk penikmat film horor Indonesia yang ingin merasakan dijemput oleh iblis jahat.

CHRISTOPHER ROBIN (2018) REVIEW : Kisah Klasik Beruang Pandir

 
Setelah A Wrinkle In Time, tahun ini cukup banyak film Live Actiondari Disney yang dirilis. Salah satunya adalah sebuah film yang berasal dari karakter rekaan dari buku milik A.A. Milne. Christopher Robin mengembalikan masa kecil penggemar karakter Winnie The Pooh, Tigger, Piglet, dan kawan-kawannya di zaman sekarang. Meskipun, film live action ini tak benar-benar diadaptasi dari cerita dari buku A.A.Milne tetapi gabungan dengan film-film animasi buatan Disney sebelumnya.

Christopher Robindipromosikan sebagai sebuah film keluarga yang bisa ditonton oleh banyak kalangan. Dengan cara promosi itu, Christopher Robin bisa dibilang punya orang yang tepat untuk mengarahkan filmnya. Marc Forster, orang yang ditunjuk oleh Disney untuk mengarahkan Christopher Robin yang biasa menangani film-film keluarga mulai dari The Kite Runner dan Finding Neverland. Christopher Robin kali ini diperankan oleh Ewan McGregor dan tentu saja Jim Cummings kembali hadir menyapa penontonnya.

Trailernya yang sudah dipasang tone cerita yang lebih personal dan lebih hangat, tentu saja membuat cukup banyak orang tertarik untuk menonton film ini. Terlebih, karakter Winnie The Pooh dan teman-temannya sebenarnya sudah cukup menjadi senjata utama dari Christopher Robin untuk dijual. Bahkan, target segmentasinya bisa jauh lebih besar karena film ini dapat dikategorikan sebagai sebuah film keluarga. Meskipun, bintang utama film ini sebenarnya adalah karakter Christopher Robin.


Dari trailer dan bahkan judulnya, sudah terlihat bahwa film ini fokus terhadap sosok Christopher Robin yang sedang mengalami krisis di usia paruh bayanya. Christopher Robin (Ewan McGregor) sedang mengalami kebingungan atas pekerjaannya yang selalu menuntut dirinya. Setiap hari dan waktu, Christopher Robin selalu menghabiskan waktu untuk bekerja hingga dirinya lupa memikirkan Istrinya bernama Evelyn (Hayley Atwell) dan anaknya Madeline (Bronte Carmichael).

Pekerjaan yang dilakukan oleh Christopher Robin secara tidak langsung membuatnya tidak dekat dengan keluarganya. Hingga ketika Christopher Robin mulai kebingung untuk menyelesaikan masalah di kantor dan keluarganya, sosok dari masa lalunya hadir secara mendadak. Sosok beruang kecil penyuka madu bernama Winnie The Pooh (Jim Cummings) hadir kembali di kehidupan Christopher Robin. Kehadirannya membuat Christopher Robin mulai memikirkan kehidupannya.


Terlihat memang bagaimana Christopher Robin memang tak langsung terkonsentrasi dengan satu sumber saja. Terlihat bagaimana Alex Ross Perry dan Tom McCarthy berusaha untuk memasukkan kekhasan karakter Winnie The Pooh dan teman-temannya di dalam filmnya. Mereka bisa mengelaborasi beberapa referensi dari film-film lepasan dari Winnie The Pooh dengan buku klasiknya untuk dimasukkan ke dalam Christopher Robin. Sehingga, penonton yang hanya kenal lewat film-film lepasan dan serinya ini sangat bisa merasakan unsur nostalgianya itu.

Christopher Robin adalah sebuah film yang diarahkan untuk menjadi media penyelamat diri dari pribadi yang terlalu serius. Marc Forster seperti memberikan sebuah surat cinta bagi para dewasa yang sedang mengalami stres luar biasa dalam hidupnya seperti karakter Christopher Robin yang sedang mengalam mid-life crisis di dalam film ini. Lewat Christopher Robin, Marc Forster memberikan spasi dalam hidup agar seimbang dan semakin dekat dengan anggota keluarga penontonnya.


Christopher Robin berusaha untuk mengartikan kalimat "work life balance" yang sangat relevan dengan penontonnya. Lewat Christopher Robin, Marc Forster berusaha mengajak penontonnya berhenti sejenak dari kehidupan di dunia nyata yang terkadang tak selalu indah. Kenangan masa kecil memang menjadi senjata ampuh untuk membuat hati gembira dan Marc Forster tahu benar menerjemahkan hal tersebut lewat film Christopher Robin ini.

Tak hanya plot ceritanya saja, tetapi Marc Forster menggunakan kenangan masa lalu lewat teknik pengarahannya. Marc Forster berusaha untuk mengembalikan formula film-film keluarga milik Disney yang pernah dipakai sebelumnya.  Hasilnya, Christopher Robin yang diarahkan oleh Marc Forster ini memang terbilang formulaik. Tetapi, pengarahan yang dilakukan oleh Marc Forster lewat Christopher Robin memunculkan sebuah citarasa yang dirindukan oleh penikmat film-film keluarga.

Karakter yang lugu, konflik yang tidak berlebihan, dan penuturan yang hangat begitu kuat terpancar lewat film Christopher Robin ini. Meskipun dampaknya, beberapa penyelesaian konfliknya akan terlihat dengan mudah dan bisa ditebak. Tetapi, menikmati film Christopher Robin tak bisa dengan rasa superioritas untuk menemukan sesuatu yang segar. Marc Forster mengeluarkan segala kebesaran hatinya dalam Christopher Robin dan penonton bisa merasakan semua itu.


Marc Forster berusaha agar filmnya masih memiliki citarasa puitis sehingga terkesan lebih dalam. Terlihat dari bagaimana Marc Forster bermain lewat warna dan sinematografi di dalam filmnya. Pun, mencoba mengaitkan beberapa tanda dan simbol di setiap karakternya agar terasa lebih dekat penontonnya dengan pesan yang lebih implisit. Meskipun, masih ada beberapa bagian di dalam filmnya yang dibuat seeksplisit mungkin karena tentu saja Marc Forster ingin membuat film keluarganya ini bisa dinikmati oleh banyak orang.

Kolaborasinya dengan Ewan McGregor dapat menghasilkan sebuah karakter yang memiliki koneksi kuat dengan sesuatu yang fiksi seperti Winnie The Pooh dan kawan-kawannya. Ewan McGregor bisa meyakinkan penontonnya bahwa hubungannya dengan Winnie The Pooh bisa adalah hubungan antara sahabat yang sudah lama terpisahkan. Sehingga, di momen-momen terpenting di filmnya, Marc Forster bisa membuat penontonnya terharu dan rela meneteskan air matanya. Didukung pula dengan musik-musik indah yang akan semakin menghangatkan hati penontonnya.


Christopher Robin adalah cara Disney untuk mengembalikan film-film dengan penuturan lamanya dan Marc Forster berhasil berkolaborasi dengan hal itu. Winnie The Pooh, Tigger, Piglet, Eeyore, dan beberapa kawanannya siap mengajak semua keluarga untuk kembali merasakan kehangatan di dalam hidupnya. Tentu saja, Christopher Robin sangat direkomendasikan untuk penonton yang sedikit melepas beban dalam hidupnya yang terlalu serius dan siap-siap rasa haru di dalam filmnya akan membuat mata menitihkan air mata. Instant Classic!

KAFIR : BERSEKUTU DENGAN SETAN (2018) REVIEW : Film Horor Dengan Banyak Potensi

 

Selang kesuksesan Pengabdi Setan yang menjadi film horor terlaris sepanjang masa di Indonesia, banyak yang berusaha mengikuti kesuksesannya. Sehingga, film-film horor lainnya pun banyak yang mendapatkan raihan jumlah penonton fantastis. Hal ini tentu saja mengundang Starvision Plus untuk kembali menelurkan film horor di rekam jejak rumah produksinya. Menggandeng Azhar Kinoi Lubis bersama dengan Upi, Starvision Plus siap melahirkan sebuah film horor baru tahun ini.

Proyek bernama Kafir : Bersekutu Dengan Setan ini bukanlah sebuah remakeatau reboot seperti yang dilakukan oleh Joko Anwar terhadap film Pengabdi Setan. Azhar Kinoi Lubis dan Upi sudah memberikan konfirmasi bahwa film ini tak akan ada hubungannya dengan film Kafir yang pernah rilis di tahun 1993 lalu. Meski begitu, terlihat dari trailernya saja, film Kafir : Bersekutu Dengan Setanini terlihat dibuat dengan sangat niat dibanding dengan beberapa film horor yang rilis di tahun 2018 ini.

Kafir : Bersekutu Dengan Setanini dibintangi oleh Putri Ayudya, Rangga Azof, Nadya Arina, Indah Permatasari, hingga Sujiwo Tejo. Film ini pun dibantu secara teknis dari Director of Photography ternama yaitu Yunus Pasolang yang sudah terbiasa menangani film seperti Pengabdi Setan atau pun Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak. Dengan nama-nama yang ada, tentu saja Kafir : Bersekutu Dengan Setantak sembarangan.


Memang benar, Kafir : Bersekutu Dengan Setan sangat berusaha untuk menghasilkan sebuah film horor yang dibuat di atas rata-rata film horor baru-baru ini. Warna, gambar, dan nilai produksi yang ada di dalam film Kafir : Bersekutu Dengan Setan ini dibuat dengan baik. Sehingga, terlihat benar bahwa komposisi di dalam film ini terlihat begitu mahal terlebih untuk ukuran film horor yang dibuat oleh rumah produksi Starvision Plus ini.

Film Kafir : Bersekutu Dengan Setan memang tak seperti film-film horor lain yang sering menggunakan sering penampakan makhluk astralnya. Kafir : Bersekutu Dengan Setan lebih menggunakan horor yang menyerang psikologis penonton sehingga mereka akan diserang dengan berbagai macam asumsi untuk menimbulkan efek seram. Pendekatan yang dilakukan oleh film Kafir : Bersekutu Dengan Setan ini bisa dibilang menarik untuk diikuti di perfilman Indonesia.


Kafir : Bersekutu Dengan Setanberfokus pada sebuah kisah tentang keluarga yang sangat bahagia pada awalnya. Hingga di suatu malam, ketika mereka sedang makan malam kejadian aneh menyerang bapak mereka (Teddy Syah). Sang ayah meninggal di tempat karena terserang penyakit aneh di malam itu. Hal ini tentu saja membuat Sri (Putri Ayudya), sang Ibu merasa sedih dan traumatik dalam jangka waktu yang cukup lama.

Kematian sang Bapak membuat keluarga ini tak lagi bahagia dan merasa menjauh satu sama lain. Serta, kematian sang Bapak membuat keluarga ini semakin diserang oleh banyak kejadian aneh dan misterius. Hal ini membuat Dina (Nadya Arina), anak perempuannya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di dalam keluarga ini. Dina meminta bantuan kakaknya,  Andi (Rangga Azof), untuk mencari jawaban atas hal-hal misterius yang membuat keluarganya tak lagi bahagia.


Kafir : Bersekutu Dengan Setanberusaha untuk membangun hal-hal tidak nyaman dalam filmnya untuk menakut-nakuti penontonnya. Hal-hal misterius itu dibangun lewat drama keluarga yang sudah mengalami disfungsi ini. Sehingga, ketakutan yang muncul dari dalam diri penonton adalah ketidakpastian tentang hal misterius di dalam konflik ceritanya yang sebenarnya dibuat-buat sendiri oleh penontonnya. Sehingga, Kafir : Bersekutu Dengan Setan memang sangat bergantung pada atmosferik horornya.

Hal ini menarik untuk diikuti karena bisa menjadi sebuah alternatif tontonan horor yang berbeda di perfilman Indonesia. Sayangnya, Azhar Kinoi Lubis tak bisa memanfaatkan momen-momen yang sudah berusaha ditulis dengan baik oleh Upi untuk film ini. Kafir : Bersekutu Dengan Setan memang jelas digarap dengan baik sebenarnya karena terlihat dari segala tata teknis dan produksinya. Tetapi, bukan berarti hal itu dengan begitu saja membuatnya sebagai film yang kuat.

Segala atmosfer horor di dalam film ini tak bisa tampil dengan kuat di dalam filmnya. Azhar Kinoi Lubis belum bisa memaksimalkan intensitas tak nyamannya dalam film ini. 97 Menit film Kafir : Bersekutu Dengan Setan tak benar-benar bisa mengigit penontonnya untuk merasakan hal-hal misterius dan supranatural yang terjadi oleh problematika keluarga karakter fiksinya. Padahal, semua aktor dan aktrisnya sedang berusaha mengeluarkan performa terbaiknya.


Putri Ayudya, Rangga Azof, dan Nadya Arina sudah memiliki performa yang pas untuk meyakinkan penontonnya bahwa mereka adalah sebuah keluarga. Ini sebenarnya sudah menjadi amunisi utama agar Kafir : Bersekutu Dengan Setan bisa semakin memperkuat intensitasnya dan membuat penonton semakin tidak nyaman. Sayangnya, Azhar Kinoi Lubis melewatkan kesempatan emas itu sehingga sepanjangan 97 menit penonton hanya diberikan sebuah presentasi film yang cukup datar dengan sesekali tanjakan kecil yang naik ke atas.

Kafir : Bersekutu Dengan Setanhanya menunjukkan taringnya lewat sinematografinya yang tak sembarangan. Palet warnanya yang begitu pas untuk suasana filmnya pun kurang bisa dimaksimalkan oleh sutradaranya. Ini juga bisa menjadi kekuatan agar Kafir : Bersekutu Dengan Setan bisa menunjukkan suasana ngeri dengan mudah. Sehingga, beberapa bagian yang berusaha untuk menonjolkan kengerian itu terasa terlewat begitu saja.


Memang, Kafir : Bersekutu Dengan Setan masih digarap dengan baik. Setidaknya sisi teknis, nilai produksi, dan naskahnya masih digarap dengan serius dibandingkan beberapa film horor Indonesia yang rilis di tahun ini. Tetapi, Azhar Kinoi Lubis seperti kurang teliti dalam mengarahkan film ini sehingga potensi film ini tak bisa dimaksimalkan dengan baik. Azhar Kinoi Lubis tampaknya melewatkan beberapa peluang-peluang bagus di dalam film ini sehingga Kafir : Bersekutu Dengan Setan tampil baik hanya saja kurang maksimal.

MISSION: IMPOSSIBLE - FALLOUT (2018) REVIEW : Misi Ambisius dari Christopher McQuarrie

 
Seakan semakin bertambahnya seri, Mission: Impossible ini semakin mengeluarkan taringnya untuk membuat penonton terkesima. Hal inilah yang membuat Tom Cruise ingin sekali mempertahankan dirinya untuk tetap memerankan sosok agen rahasia bernama Ethan Hunt ini. Hal ini terjadi sejak Brad Bird berhasil menaikkan intensitas franchise ini dalam Mission: Impossible - Ghost Protocol yang sekaligus menjadi seri keempat.

Keseruan Ghost Protocol bisa disaingi dengan mudah oleh seri kelimanya yang bertajuk Rogue Nation yang disutradarai oleh Christopher McQuarrie. Lewat seri inilah, Paramount Pictures tetap menunjuknya sebagai sutradara di seri keenamnya. Mission: Impossible - Fallout menjadi seri keenam yang sempat tertunda sebentar karena Tom Cruise mengalami cedera di bagian ankle kakiknya. Film ini kembali lagi dibintangi oleh Rebecca Ferguson, Simon Pegg, dan pemilik kumis kontroversial yaitu Henry Cavill.

Mission: Impossible - Fallouttanpa basa-basi langsung menjadikan filmnya sebagai sekuel langsung dari Mission: Impossible – Rogue Nation. Sehingga, film ini mungkin terasa sedikit lebih menantang untuk dipahami bagi penonton pemula yang tak sempat menonton seri kelimanya. Tetapi, tentu saja film Mission: Impossible berusaha untuk tetap bisa dinikmati oleh banyak orang. Sehingga, penonton pemula hanya butuh untuk menyaksikan satu film saja sebelum menonton seri ini.


Mission: Impossible - Falloutmenjadi film dengan durasi yang cukup panjang dibandingkan dengan film-film sebelumnya di dalam franchise ini. Di dalam durasinya yang mencapai 149 menit, terasa benar bahwa Mission: Impossible - Fallout terasa begitu ambisius untuk menyampaikan ceritanya. Tone ceritanya pun seketika berubah dengan rasa yang lebih kelam dibandingkan dengan film kelimanya, apalagi jika dibandingkan dengan film keempatnya.

Keambisiusan Christopher McQuarrie dalam mengarahkan Fallout ini ternyata sedikit berdampak terhadap keseruan menikmati seri-seri dari Mission: Impossible. Kesannya yang serius membuat 149 menit di dalam Mission: Impossible - Fallout berjalan sangat lambat dan tak seperti biasanya. Keambisiusannya dalam menuliskan naskahnya seharusnya bertujuan baik karena agar seri ini tidak terjebak dengan formula yang sama. Tetapi, sayangnya Mission: Impossible - Fallout harus mengurangi sedikit intensitasnya.


Mission: Impossible - Falloutberfokus pada kisah Ethan Hunt (Tom Cruise) yang baru saja menyelesaikan misi sebelumnya. Kali ini, dia harus mendapatkan misi baru untuk menyelamatkan plutonium yang berusaha disalahgunakan oleh sebuah organisasi bernama The Apostles yang tak lain adalah organisasi yang sebelumnya bernama Syndicate. Organisasi ini diketuai oleh John Lark. Tetapi, Ethan Hunt juga tidak tahu siapa John Lark ini sebenarnya.

Dengan caranya sendiri, Ethan berusaha mengungkap organisasi gelap yang sudah mencuri Plutoniumnya ini. Sayangnya, IMF tak mengizinkan Ethan Hunt melaksanakan misinya sendiri. Dikirimlah seorang bernama August Walker (Henry Cavill) yang berusaha untuk menemani Ethan Hunt saat menjalankan misinya. Di saat menjalankan misinya, Ethan Hunt harus dihadapkan dengan musuh masa lalunya yang membuat dirinya mulai krisis akan kepercayaan dirinya.


Christopher McQuarrie memang berusaha untuk memberikan sebuah sajian film spionase yang memiliki plot cerita berlapis dengan segala penyampaiannya yang rumit. Selain mengarahkan, cerita dari Mission: Impossible - Fallout ini memang ditulis sendiri olehnya. Hanya saja, Christopher McQuarrie seperti tak bisa menyampaikan niat baik dan ambisius naskah yang ditulisnya dalam sebuah visual layar perak sepanjang 147 menit.

Mission: Impossible - Falloutmemiliki plot cerita yang saling tumpang tindih satu sama lain. Banyak sekali cabang cerita yang mungkin ingin berdampak menjadi perubahan cerita menjadi 180 derajat malah belum bisa tersampaikan dengan baik. Christopher McQuarrie serasa sangat menggebu-gebu untuk segera menyampaikan plot ceritanya yang berlapis. Sayangnya, ketika penonton berusaha untuk memahaminya satu persatu, tetapi Christopher McQuarrie langsung menghajarnya dengan cepat.

Caranya dalam menyampaikan plot ceritanya inilah yang berdampak terhadap pengalaman menontonnya. Christopher McQuarrie seperti sedang menyuapi makanan ke dalam penontonnya dengan sangat tidak sabar. Ketika penonton masih berusaha mengecap dan menelan makanan pertamanya, Christopher McQuarrie sudah memasukkan suapan selanjutnya ke dalam mulut penonton. Sehingga, penonton belum tentu bisa merasakan semua rasa dan keseruan yang terjadi di dalam Mission: Impossible - Fallout dengan baik dan detil.


Akan ada sedikit miskomunikasi dalam plot ceritanya yang tak selamanya linear di dalam film ini. Sehingga muncul missing link di dalam benak penonton saat menikmati Mission: Impossible - Fallout. Beruntung, Christopher McQuarrie masih memiliki cita rasa untuk mengemas sekuens aksinya dengan baik. Mission: Impossible - Fallout tentu saja memiliki kualitas sekuens aksi yang sembarangan. Bahkan, semua adegan aksinya ini mayoritas benar-benar dilakukan sendiri oleh sang aktor yaitu Tom Cruise.

Christopher McQuarrie berusaha untuk memasukkan signature pengarahannya ke dalam Mission: Impossible - Fallout ini. Sekuens aksinya yang minim akan scoring ini memang akan membuatnya tampak nyata. Sekuens aksinya tampil terlalu panjang dan tak memiliki porsi yang pas sehingga tak bisa menimbulkan intensitas seperti kedua film pendahulunya. Terlebih ketika sekuens aksinya melibatkan adegan akrobatik motor. Tetapi, hal itu dibalas lunas dengan sekuens aksi terakhir dengan menggunakan kamera IMAX yang cukup terjaga intensitasnya dengan baik.


Bukan berarti Mission: Impossible - Fallout ini diarahkan oleh Christopher McQuarrie dengan sembarangan. Misinya bagus untuk membuat seri ini tak terjebak dengan formula yang sama dan akan membuat pecinta seri ini merasa bosan. Hanya saja, Christopher McQuarrie hanya ingin membuat sesuatu yang besar tanpa memperhitungkan pengarahnnya sehingga segalanya terasa berlebihan di beberapa tempat. Inilah yang membuat Mission: Impossible - Fallout kehilangan daya intensitasnya.

ANT-MAN AND THE WASP (2018) REVIEW : Smaller Scale But Big Heart

 
Avengers : Infinity War yang rilis akhir April lalu telah mengubah bagaimana film tentang superhero Marvel menetapkan sebuah standar. Serta, memunculkan banyak pertanyaan yang perlu dijawab di akhir film Avengers : Infinity War. Setelah banyak klimaks yang hadir lewat Avengers : Infinity War, Marvel memberikan sebuah rencana lain untuk membuat penggemarnya sedikit ketenangan sambil menunggu lanjutan dari Avengers : Infinity War.

Ant-Man and The Wasp menjadi back up plan dari Marvel bagi penggemar agar sedikit merelaksasi pikirannya dari plot cerita yang cukup banyak ketegangan dari Avengers : Infinity War. Sekuel dari Ant-Man and The Wasp ini kembali disutradarai oleh Peyton Reed dan berganti penulis naskah dari Edgar Wright dan Joe Cornish ke Chris McKenna dan 4 orang lainnya. Tetapi, yang perlu diperhatikan adalah Paul Rudd masih memiliki kontrol atas naskah dari film Ant-Man ini.

Tentu saja Paul Rudd tetap menjadi sosok Scott Lang ini dan problematikanya pun tetap berada di jalur yang lebih kecil dibanding film-film Marvel lainnya. Ant-Man selalu menelisik ranah kekeluargaan dan dirilis setelah film Avengers telah dirilis. Film pertamanya yang dirilis setelah Age of Ultron, kini giliran Ant-Man and The Wasprilis setelah Infinity War. Mungkin, Ant-Man and The Wasp memiliki skala pendekatan yang jauh lebih intimate dan sempit, tetapi hati yang besar hadir di film ini dan menjadi peredam yang manjur setelah banyak klimaks yang terjadi di beberapa film Marvel sebelumnya.


Ant-Man and The Wasp tetap memberikan konflik yang tak muluk-muluk dan menjadikannya sebagai ciri khas yang menempel di film-film Ant-Man. Tetapi, kesederhanaan yang ada di setiap konfliknya inilah yang menjadi kekuatan di dalam filmnya. Ranah personal tentang orang-orang yang disayangi, keluarga, dan persahabatan yang kental adalah area bermain bagi Peyton Reed saat mengembangkan karakter Scott Lang di film Ant-Man and The Wasp.

Dengan begitu, karakter Scott Lang ini akan terasa dekat kepada penontonnya. Banyak yang menyayangkan kehadiran plot cerita milik Ant-Man and The Wasp tak bisa sebesar dan megah seperti film-film Marvel lainnya. Konflik ceritanya yang dalam ranah yang sempit itu pun sudah ditegaskan lewat karakter berkekuatan supernya yang juga memiliki kemampuan mengecilkan dirinya seukuran semut. Meski begitu, Peyton Reed mampu meracik bumbu di dalam Ant-Man and The Wasp sehingga memiliki cita rasa yang akan dirindukan oleh penggemar film superhero Marvel.


Ant-Man and The Waspmengulik kehidupan Scott Lang (Paul Rudd) paska apa yang dia lakukan setahun setelah Captain America : Civil War. Dirinya kali ini kembali menjadi seorang tahanan, tetapi dia adalah tahanan rumah. Sesekali Scott Lang masih bisa bermain dengan Cassie (Abby Ryder Forston), anaknya yang mengunjunginya di rumah. Banyak hal yang berusaha dilakukan oleh Scott agar tidak merasa bosan saat menjadi tahanan rumah.

Hingga suatu ketika, Scott Lang ‘bertemu kembali’ dengan Hope (Evangeline Lily) dan Dr. Hank Pym (Evangeline Lily) yang sedang dalam proses membuat terowongan menuju Quantum Realm. Hal ini sangat kebetulan karena Scott juga mendapatkan sebuah mimpi tentang anak kecil dan seseorang di Quantum Realm. Tetapi, proyek milik Hank Pym ini harus diselamatkan karena ada sosok bernama Ghost (Hannah John-Kamen) yang ingin menghalangi proyek ini dengan motif misterius.


Sayangnya, saat menceritakan sosok misterius bernama Ghost ini Ant-Man and The Wasp memang kewalahan. Sehingga, Ant-Man and The Wasp harus kembali berhadapan dengan problematika lama film-film stand alone milik Marvel sebelumnya yang memiliki karakter villainyang lemah. Ghost memang hadir dengan screen time yang cukup banyak. Hanya saja, kehadirannya di dalam film ini hanya sebagai formalitas seorang penjahat yang harus berhadapan dengan sang manusia super.

Tak ada pembangunan karakter yang akan berdampak signifikan dengan presentasi Ant-Man and The Wasp. Tetapi, Peyton Reed tahu bahwa apa yang diarahkannya ini sebenarnya adalah sebuah film keluarga dalam sebuah film superhero. Sehingga, pendekatannya tak berusaha untuk menjadi terobosan baru melainkan menggunakan formula lama. Tetapi, Peyton Reed masih bisa menjadikan Ant-Man and The Wasp menjadi sesuatu yang sangat menghibur.

Peyton Reed tahu akan porsinya dalam mengarahkan Ant-Man and The Wasp. Film ini memiliki pacing yang sangat pas meski dengan konflik yang cukup tumpang tindih. Kesederhanaan dalam mengemas Ant-Man and The Wasp butuh ketelitian dari Peyton Reed. Kesederhanaan inilah yang membuat Ant-Man and The Wasp begitu kaya akan rasa. Semuanya mengalir tanpa ada hambatan mulai dari penyampaian cerita, sekuens aksi, hingga lelucon riuh yang berkolaborasi menjadi satu.


Semuanya bersautan satu sama lain dengan penempatan yang tak tumpang tindih, berada di timing yang tepat. Sehingga, 120 menit milik Ant-Man and The Wasp ini sangat terasa pas untuk bercerita. Peyton Reed sepertinya memiliki misi untuk mendekatkan dan mengembangkan karakter Scott Lang sebagai superhero baik untuk dunia maupun keluarganya kepada penonton. Sehingga, penonton akan mudah merasa dekat dan menaruh simpati kepada karakternya.

Caranya untuk fokus terhadap konflik dari Scott Lang adalah untuk menumbuhkan hati yang sangat besar saat berbicara tentang keluarga dan menyelamatkan dunia. Tujuan akhir dari Ant-Man and The Wasp saat menghadapi musuhnya adalah kembali ke orang-orang yang mereka sayangi. Meski dengan skala yang lebih kecil, Ant-Man and The Wasp dirasa perlu untuk hadir di tengah gempuran film superhero Marvel. Ant-Man and The Wasp adalah medium untuk mengingatkan penontonnya untuk kembali memikirkan hal-hal kecil di sekitar mereka, terutama tentang keluarga.

HEREDITARY (2018) REVIEW : Munculkan Ketakutan Karena Asumsi


A24 sebagai rumah produksi selalu memberikan sebuah tontonan alternatif dengan performa yang menarik. Tentu saja di tahun ini, A24 tak ingin kehilangan momentum untuk bermain dalam genre horor yang sedang naik daun. Sudah pernah A24 menyajikan film bergenre serupa lewat The Witch, It Comes At Night, dan bisa dibilang A Ghost Story juga masuk di dalamnya. Tetapi, kali ini A24 menggaet sosok baru dalam mengarahkan sebuah film layar lebar.

Inilah Ari Aster yang ditunjuk untuk mengeluarkan sebuah karya unik dari A24 sebagai alternatif tontonan di genre horor ini. Hereditary menjadi sebuah film debut dari Ari Aster yang dibintangi oleh Toni Collette, Alex Wolff, Milly Shapiro, dan Gabriel Byrne sebagai satu keluarga. Penampilan Hereditarysebagai sebuah film telah dibuktikan lewat pemutaran terbatas di beberapa festival film yang ada. Banyak yang memberikan klaim bahwa Hereditary adalah sebuah film horor yang sangat menyeramkan tahun ini.

Dengan adanya klaim tersebut, tentu saja banyak orang akan berekspetasi besar terhadap Hereditary. Apalagi bagi para pecinta film horor, Hereditarytentu sangat patut untuk dinantikan. Tetapi, dengan adanya berbagai rekam jejak A24 dalam menyajikan sebuah film horor, tentu saja akan berbeda rasanya. Hereditary jelas akan memberikan sajian horor yang berbeda dibandingkan dengan film-film horor pada umumnya.


Benar saja, Hereditary bukan sekedar horor supernatural yang akan membuat penontonnya bergidik ngeri lewat penampakan makhluk astral. Gangguan yang dimunculkan oleh Ari Aster sebagai sutradara lebih ke pengalaman psikologis penontonnya. Tentu saja, penampakan yang muncul di dalam film Hereditarytak akan sebanyak film-film horor pada umumnya. Hal ini tentu saja membuat Hereditary tak akan bisa dicintai secara penuh bagi penonton awam.

Hereditary mungkin akan memiliki dampak besar bagi penonton yang memiliki kesempatan lebih mengenal film-film yang ada di genrenya. Tetapi, bagi penonton awam, Hereditary mungkin akan mengecewakan mereka yang lebih ingin melihat makhluk astral yang dieksploitasi di kamera apalagi bagi penonton Asia. Tetapi, Hereditary akan menakut-nakuti penontonnya lewat cara pendekatannya yang lebih psikologis tentang keluarga yang tak lagi menjalankan fungsi dan perannya masing-masing.


Ketika Ibu dari Annie (Toni Collette) meninggal, keluarga ini sedang dalam kondisi yang sedang berduka. Charlie (Milly Shapiro), anak dari Annie yang merasa dekat dengan sang nenek semakin merasa bahwa dirinya sendirian karena kondisi fisiknya yang sama sekali berbeda. Charlie juga memiliki seorang kakak laki-laki bernama Peter (Alex Wolff). Peter berusaha untuk menghibur Charlie agar tak lagi sedih saat mengingat kematian dari neneknya.

Kematian sang nenek ini tak hanya membuat keluarga satu ini merasa sedih tetapi juga merasakan hal-hal mencekam di dalam hidup mereka. Banyak hal-hal janggal terjadi di dalam kehidupan mereka. Meskipun satu sama lain sedang berusaha untuk menjalankan perannya masing-masing sebagai sebuah keluarga. Tetapi, hal ini tak membantu hubungan mereka satu sama lain yang sudah lama dingin. Banyak kejadian-kejadian mistis nan misterius yang harus mereka hadapi.


Sayangnya kejadian mistis yang terjadi di keluarga ini tak digambarkan dengan cara yang literal. Hereditarymencekam penontonnya lewat bagaimana secara pintar Ari Aster membangun sebuah suasana horor yang berbeda. Kekuatan Ari Aster mampu mengubah sebuah drama tentang dysfunctional family menjadi sebuah tekanan lahir dan batin penontonnya. Ditambah dengan sebuah misteri-misteri yang dapat dikategorikan sebagai film horor yang akan berdampak bagi psikis penontonnya.

Lalu yang muncul adalah ketakutan-ketakutan yang dibuat sendiri oleh penontonnya saat menonton Hereditary. Rasa khawatir, curiga, dan bertanya-tanya muncul dan mengusik pikiran penonton sehingga Hereditary bisa menakut-nakuti penontonnya lewat caranya membuat sebuah ketidakpastian. Inilah kunci yang bisa membuat Hereditaryadalah sebuah film horor yang segar sekaligus berbeda dengan film horor lainnya.

Munculnya banyak asumsi saat Ari Aster memberikan adegan demi adegan inilah yang membuat muncul rasa tertekan bagi batin penonton saat menonton Hereditary. Kumunculan rasa depresi saat menyaksikan keluarga ini menghadapi masalah yang semakin besar lalu berakumulasi menjadi sebuah atmosfir mencekam yang sangat besar. Sehingga tak salah, menonton film ini akan menimbulkan rasa lelah lalu membekas ke benak penontonnya dengan jangka waktu yang lebih lama.


Asumsi yang menimbulkan ketakutan ini semakin kuat dengan performa dari para pemain yang ada di Hereditary. Toni Collette bisa memberikan performanya yang sangat kuat sehingga mampu memberikan efek mencekam bagi penontonnya. Pun dengan Alex Wolff yang bisa menjadi sosok aktor pendukung yang semakin memperkuat adegan penutup di dalam filmnya. Lewat performa mereka inilah, penonton akan semakin merasakan atmosfir yang misterius saat menonton Hereditary.

Hereditary mungkin bukan yang pertama menggunakan metode ini dalam genre horor. Tetapi, sebagai karya dari sutradara debut, Ari Aster bisa menggunakan Hereditary sebagai sebuah portofolio dalam karirnya. Juga, dengan naskah yang ditulisnya sendiri, Ari Aster membuktikan bahwa film horor yang baru saja dia kerjakan bukan sembarangan. Meskipun penyelesaiannya terlalu diceritakan secara eksplisit, tetapi ini menjadi jembatan bagi penonton awam untuk memahami Hereditary nantinya.


Hereditary sebagai sebuah film horor di tahun 2018 mampu memberikan sebuah sajian yang berbeda dan nafas segar bagi penikmat film horor. Dengan mengarahkan film ini, Ari Aster tentu akan dilirik dan dipercaya oleh rumah produksi lainnya untuk mengarahkan sebuah film horor atau bahkan genre lainnya. Meski tak bisa membuat suara bulat untuk mematenkan bahwa Hereditary adalah sebuah film yang horor. Tetapi nyatanya Hereditaryakan mencekam para penonton yang sudah punya referensi lebih lewat asumsi yang dibuat sendiri tetapi lebih melekat.

JAILANGKUNG 2 (2018) REVIEW : Performa Sebuah Sekuel Yang Semakin Menurun


Memiliki raihan secara kuantitas hingga 2,5 juta penonton, tentu menjadi pertimbangan tersendiri bagi Screenplay Films untuk melanjutkan kisah tentang matianak. Meskipun, di akhir film Jailangkung pertama penonton sudah diberi petunjuk tentang adanya sekuel untuk film ini. Performa Jailangkung pertama yang belum matang tak menjadi alasan bagi proyek ini untuk berhenti. Mungkin, di film keduanya Jailangkung bisa membenarkan kesalahannya di film pertama.

Jailangkung 2 kembali ditangani oleh Rizal Mantovani bersamaan dengan Jose Purnomo untuk mengarahkan filmnya. Sama-sama memiliki jejak rekam menangani film horor dan bahkan berkecimpung di mitos yang sama, tentu menjadi alasan kenapa mereka berdua tetap menangani sekuel dari Jailangkung. Selain sutradara yang sama, tentu saja Jailangkung 2 kembali menggunakan dua pemain utamanya yaitu Jefri Nichol dan Amanda Rawles.

Bukan hanya itu, nama-nama besar seperti Hannah Al-Rashid, Lukman Sardi, bahkan almarhum Deddy Soetomo ikut menjadi bagian dari Jailangkung 2 ini. Untuk urusan naskah, kali ini Baskoro Adi Wuryanto dibantu oleh Ve Handojo untuk Jailangkung 2. Meskipun dengan banyak orang-orang yang terlibat di perfilman, Jailangkung 2 ternyata tak bisa memberikan performa yang baik. Bahkan, film ini pun mengalami penurunan performa dibandingkan film pertamanya.


Jailangkung 2 memang berusaha untuk menampilkan sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan film pertamanya. Terlebih, konflik yang semakin rumit itu sudah tersebar di film pertamanya sehingga film keduanya sudah memiliki dasar untuk melanjutkan cerita. Sayangnya, apa yang dituturkan oleh Jailangkung 2 ini tak bisa sesuai dengan tujuannya. Konfliknya semakin kabur dengan banyaknya cabang cerita yang berusaha dimasukkan di dalam filmnya.

Begitu pula dengan durasinya yang mencapai 83 menit, Jailangkung 2 tak memiliki ruang untuk semakin berkembang. Cerita dengan karakter yang semakin banyak, membuat Jailangkung 2 serasa bingung untuk membawa filmnya ini ke arah mana. Karakternya berhenti di tempat yang sama, ceritanya pun melebar ke mana-mana. Sehingga, Jailangkung 2 benar-benar hanya menyisakan nama-nama besar sebagai produk utama untuk meraih jumlah penonton yang fantastis.


Kisahnya tentu saja berlanjut dan bermulai dari kisah akhir di film Jailangkung yang pertama. Di mana mati anak, seorang  bayi campuran iblis yang lahir dari rahim Angel (Hannah Al-Rashid) membawa petaka di keluarganya. Sang ayah, Ferdi (Lukman Sardi) yang baru saja kembali nyawanya setelah diambil oleh arwah jahat berusaha untuk membuat keluarganya kembali seperti semula. Tetapi, tentu saja hal itu tak bisa begitu saja terjadi.

Bella (Amanda Rawles), adik dari Angel berusaha untuk menyingkirkan mati anak dari keluarganya agar tidak terjadi hal-hal aneh di keluarga tersebut. Bella pun meminta bantuan dari Rama (Jefri Nichol) yang kala itu juga membantu dirinya menyelamatkan hidup sang ayah. Kali ini dia berusaha meminta bantuan Rama untuk menyingkirkan mati anak dengan cara mencari kalung mistis yang bisa menghentikan mati anak. Dan perjalanan mencari kalung kali ini mendapatkan rekan tambahan yaitu Bram (Naufal Samudra) yang mengetahui keberadaan kalung tersebut.


Jika plot cerita Jailangkung 2hanya berfokus kepada satu linimasa yang dituliskan di sinopsis di atas, setidaknya Jailangkung 2 masih bisa memiliki performa dengan film sebelumnya. Meskipun, tak bisa membaik, tetapi ceritanya masih tak berputar sendiri yang menyebabkan penonton merasa kebingungan. Ada plot cerita lain yang bertambah di film Jailangkung 2 ini tetapi tak memiliki pengenalan dan penjelasan dengan porsi yang pas.

Hasilnya, plot cerita Jailangkung 2 serasa muncul tiba-tiba dari antah berantah tanpa adanya pemberitahuan. Tentu saja ini karena pengarahan yang belum teliti dari kedua sutradaranya. Jailangkung 2 seperti 2 film yang diringkas menjadi satu dengan pengarahan yang sesuai dengan egonya masing-masing. Jailangkung 2 sudah berjalan terlalu jauh meninggalkan mitos legendarisnya. Tak ingin mensia-siakan kesempatan itu, Jailangkung 2berusaha hadir secara formalitas untuk meramalkan mantra “datang gendong, pulang bopong” sebagai plot cerita lain.  

Plot ini tetap beriringan dengan plot menghilangkan matianak yang bahkan tak memiliki koneksi apapun satu sama lain.  Tentu saja ini akan membuat munculnya kerutan di dahi dari penonton untuk mengikuti plot cerita mana yang ingin disampaikan. Dampaknya, penonton akan lelah dengan apa yang berusaha disampaikan dengan Jailangkung 2. Sudah tak memiliki simpati dengan setiap karakternya, plot ceritanya pun tak bisa diikuti dengan baik.


Tak ada tensi horor yang berhasil dibuat di dalam Jailangkung 2. Segala usahanya untuk menakut-nakuti penontonnya terasa sangat hambar hanya dibantu dengan ilusi tata rias karakter hantunya dan penyuntingan suara. Bahkan, kedua aspek itu tak bisa sepenuhnya membantu agar adegan tersebut bisa tersampaikan dengan baik di filmnya. Dan tak bisa dihindari pula, beberapa penyuntingan film yang terasa sangat berloncat dengan setting yang berbeda padahal masih berada di satu setting waktu yang sama sering terlihat di dalam film ini.

Yang tersisa dari Jailangkung 2tentu saja hanyalah beberapa adegan yang tak sengaja membuat penontonnya tertawa. Hal ini muncul karena kurangnya ketelitian dalam pengarahan dari Rizal Mantovani dan Jose Purnomo. Meski terlihat sekali bagaimana Jailangkung 2 sebenarnya memiliki intensi untuk membuat sekuelnya memiliki dunia yang lebih besar dan rumit. Tetapi, apa yang hadir di dalam presentasinya malah membuat Jailangkung 2 hanyalah sebuah sekuel yang performanya malah menurun dari film pertamanya yang juga jauh dari kata sempurna. Sayang sekali!

DIMSUM MARTABAK (2018) REVIEW : Kisah Upik Abu Ala Televisi


Raffi Ahmad berusaha untuk berpindah keberuntungan dari layar televisi ke layar perak. RA Pictures menjadi rumah produksi baru yang menelurkan film-film bioskop. Intensinya baik, menarik pasar televisi ke layar lebar dan semakin memeriahkan perfilman Indonesia. Mulai dari Rafathar, The Secret, hingga proyek terbarunya yang rilis pada musim lebaran tahun ini berusaha dia lepas. Raihan penontonnya pun bisa dibilang lumayan untuk ukuran rumah produksi baru.

Kali ini, Raffi Ahmad menunjuk seorang sutradara baru Andreas Sullivan untuk mengarahkan sebuah drama kisah komedi romantis. Film terbarunya ini pun disupervisi oleh Fajar Bustomi yang pernah mengarahkan Dilan 1990. Pun, dibantu dengan naskah yang ditulis oleh Alim Sudio yang sudah sering menulis film dengan genre yang sama. Dimsum Martabak, judul ini dibintangi oleh Ayu Ting-Ting dan juga Boy William sebagai pasangan utama.

Dimsum Martabak adalah debut akting dari Ayu Ting-Ting di layar lebar. Tentu saja banyak yang meragukan performa yang ditampilkan oleh Ayu Ting-Ting di dalam film Dimsum Martabak. Dengan banyaknya nama baru di dalam Dimsum Martabak, tentu saja proyek ini bisa dibilang sangat berani untuk rilis di musim lebaran. Jika performa sebuah film bisa diukur dengan keberaniannya, Dimsum Martabak ini mungkin belum sepenuhnya berani dalam menyampaikan ceritanya.


Kisah ini dimulai dari seorang pelayan sebuah restoran chinese food bernama Mona (Ayu Ting-Ting) yang hidup menjadi tulang punggung keluarga. Dirinya bekerja banting tulang karena ayahnya yang sudah meninggalkan meninggalkan banyak hutang untuk keluarganya. Mona harus bekerja siang malam demi bisa membayar hutang keluarganya. Sayangnya, Mona harus dipecat oleh istri pemilik restoran karena dikira ingin merebut suaminya.

Setelah dipecat, Mona kebingungan mencari pekerjaan ke sana ke mari untuk tetap bisa membuat keluarganya bahagia. Bertemulah dia dengan Sooga (Boy William), pemilik kedai Martabak yang butuh karyawan agar bisnisnya berjalan lancar. Mona pun bersedia menjadi karyawan dan membantu Sooga untuk membuat sistem untuk kedai martabaknya. Semakin lama, Sooga melihat ada sesuatu yang menarik pada Mona. Ternyata, Sooga jatuh cinta kepada Mona.


Ya, cerita dalam Dimsum Martabakmemang semudah itu. Sebagai film komedi romantis, Dimsum Martabak memang tak perlu menjadi sesuatu yang rumit. Apalagi, intensi dari rumah produksi ini adalah untuk memindahkan penonton televisi ke layar perak. Dengan cerita semudah ini, tentu saja niat dari RA Pictures bisa dikatakan berhasil. Inilah konten yang diinginkan oleh penonton televisi kita selama ini. Mimpi menjadi seorang upik abu yang derajatnya naik karena menemukan seorang pangeran tampan dan kaya raya.

Dengan kisah segenerik ini, Dimsum Martabak sebenarnya masih bisa memuaskan segmentasi penontonnya. Bisa dikatakan bahwa 40 menit pertama dari film ini masih diarahkan dengan baik. Konflik-konflik sederhanya dikemas dengan ajaib dan ditambah pula dengan dialog serba cheesy, Dimsum Martabak sebenarnya masih sangat bisa ditoleransi. Untuk film yang berada di kelasnya, Dimsum Martabak masih digarap dengan cukup baik.

Andreas Sullivan bisa membuat Dimsum Martabak dinikmati oleh penontonnya. Kisah cintanya pas, ditambahi dengan bumbu komedi yang juga tahu tempat dan porsinya. Sehingga, plot ceritanya bisa tersampaikan dengan baik. Begitu pula dengan performa Ayu Ting-Ting yang sebenarnya bisa mengeluarkan sinarnya. Menjadi sosok perempuan damsel in distress yang mungkin karakternya generik tetapi untungnya masih bisa diperankan dengan baik oleh Ayu Ting-Ting.


Tapi sayangnya, bagian terbaik dari Dimsum Martabak hanya bertahan hingga 45 menit pertamanya saja. Setelahnya, Dimsum Martabak penuh akan cabang-cabang cerita yang tak bisa disampaikan dengan baik. Sebenarnya dalam naskah yang ditulis oleh Alim Sudio, sudah menunjukkan intensi untuk menampilkan cabang cerita yang cukup banyak. Hanya saja, Pengarahan dari Andreas Sullivan seperti tak tahu harus menyampaikan semua plotnya dengan benar.

Kesibukan membuat kesenangan di 45 menit pertama ternyata membuatnya terlena untuk harus mengakhiri ceritanya. Paruh akhir dari Dimsum Martabak tampil sangat malas dan menunjukkan konklusi-konklusi ala sinema elektronik yang sudah basi. Performanya pun semakin menurun, dari kisah komedi romantis yang energik menuju ke sebuah  drama mendayu-dayu dengan penyelesaian yang juga semakin ajaib.

Belum lagi dengan pemilihan casting dan penyampaian komedi ala variety show yang ada di televisi yang semakin menunjukkan segmentasi dari film ini sebenarnya. Padahal, seharusnya Dimsum Martabak memiliki potensi untuk setidaknya dinikmati oleh berbagai kalangan. Yang tersisa hanyalah kemewahan-kemewahan setting yang sebenarnya adalah properti pribadi dari Raffi Ahmad. Hal itu pun tak bisa membuat Dimsum Martabak kembali bisa dinikmati oleh penontonnya secara general.


Mungkin dalam berbagai aspeknya, Dimsum Martabak adalah sebuah film generik yang seharusnya memiliki kesempatan untuk bersinar. Sayangnya, tarik ulur dalam konklusinya membuat pace film ini semakin lambat dan belum lagi adegan-adegan yang membuat mata berputar. Untuk target segmentasinya, Dimsum Martabakseharusnya masih bisa memuaskan mereka. Sayangnya, bagi penonton yang general tanpa mengetahui intensi ini, Dimsum Martabak hanyalah sebuah kisah upik abu dan mimpi para penikmat televisi yang usang ditelan waktu.