• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label May. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label May. Tampilkan semua postingan

GODZILLA II: KING OF THE MONSTERS (2019) REVIEW: Pertarungan Besar dengan Narasi Tak Seimbang


Setelah Godzilla (2014) dan Kong: Skull Island, Warner Bros memiliki keinginan untuk membentuk cinematic universe yang menggabungkan pengalaman menonton makhluk gigantis di layar lebar. Dimulai lagi lewat membuatkan sekuel untuk Godzilla agar memiliki jembatan cerita yang lebih besar dibandingkan dengan film sebelumnya. Godzilla dan Kong: Skull Island memiliki komentar yang beragam dalam keseluruhan presentasinya.

Godzilla II: King of the Monsters berubah haluan untuk tak lagi malu-malu mengeluarkan segala makhluk gigantis di filmnya. Sutradara pun beralih ke Michael Doughtery dengan trailer yang dikemas menarik. Beberapa nama besar pun ikut andil di dalam proyek film ini. Mulai dari Vera Farmiga, Sally Hawkins, Millie Bobby Brown, dan masih banyak lagi. Dalam trailernya pun, tentu menjadi sebuah mimpi yang terwujud jadi nyata bagi para penggemar Godzilla.

Godzilla II: King of the Monsters ini tak hanya memunculkan satu makhluk Titan. Ada kreatur dengan nama-nama besar di dalamnya yang dikeluarkan di trailer yang menjadi daya tarik calon penontonnya. Entah, hal ini bijak atau tidak sebagai ajang promosi dari film Godzilla II: King of the Monsterskarena bisa jadi apa yang disuguhkan di trailer sudah terlalu membocorkan terlalu banyak hal. Di sisi lain, hal itu akan memunculkan hype bagi yang tak dekat dengan para makhluk Titan.


Problematika instalmen Godzilla sebelumnya adalah ketika filmnya sendiri tak bisa memperlihatkan pertarungan besar dari makhluk Titan ini. Segala tensi yang terjalin di film Godzilla pertama berada di segala dialog dan konflik yang dimainkan oleh karakter-karakter manusianya. Godzilla II: King of the Monsters tentu terlihat ingin memperbaiki hal itu dan memuaskan para penggemar Godzilla yang ingin melihat pertarungan besar di layar yang lebar.

Tentu, Michael Doughtery berhasil untuk menyajikan segala pertarungan besar yang tak malu-malu memporak porandakan tempat manusia tinggal ini. Semua penggemar atau penonton awam pun akan bersuka cita melihat makhluk-makhluk Titan ini bertarung habis-habisan dilengkapi dengan ledakan-ledakan masif. Tetapi, problematika hadir dalam narasinya saat mengantarkan konfliknya menuju ledakan besar para Titans saling bertarung satu sama lain.


Narasi klise dan karakterisasi yang tak kuat sebenarnya bukan problem utama apabila sang sutradara tahu bagaimana cara mengemas itu semua. Narasi di mulai di sebuah keluarga kecil yang tak sempurna. Emma Russell (Vera Farmiga), seorang ibu yang hidup sendiri dengan satu anaknya, Madison (Millie Bobby Brown). Dia adalah seorang ahli paleobiologi yang percaya bahwa Titans bisa menyelamatkan bumi saat setelah bencana besar menyerang.

Ketika Emma sedang mengembangkan ORCA, dirinya diserang oleh sisi lain yang memiliki tujuan lain dengan alat tersebut. Di sinilah, Mark (Kyle Chandler), mantan suami Emma sekaligus mantan rekan kerjanya diutus untuk mencari Emma dan Madison yang ditahan oleh musuhnya. Di tengah jalan banyak konflik yang terjadi, sehingga makhluk-makhluk Titans yang berbahaya ini bangun dan semakin memporak porandakan bumi yang sudah berantakan.

 
Alih-alih film ini fokus menjadi sebuah sajian style over substance, film ini menyibukkan diri untuk bercerita. Plotnya ingin membuat karakterisasinya tak terkesan dangkal dan konfliknya bisa menjadi jembatan untuk pertarungan besarnya. Tetapi, itikad baik itu malah menjadi bumerang bagi filmnya. Sehingga, 132 menit di dalam Godzilla II: King of the Monsters terasa begitu panjang dan melelahkan untuk diikuti. Bahkan berharap di sepanjang film hanya berisi dengan pertarungan Godzilla dengan para Titans yang lain.

Setiap konflik dari karakter manusia muncul, Godzilla II: King of the Monsters berada di titik paling rendah dalam filmnya. Dengan karakternya yang begitu banyak, tak ada satupun dari karakternya yang bisa memunculkan simpati penontonnya. Hal ini tentu akan berpengaruh dengan lancarnya mencerna setiap konflik yang ada di dalam Godzilla II: King of the Monsters. Jika saja ada bagian yang dalam konfliknya yang lebih disimplifikasi, sepertinya akan lebih bijaksana.


Fokuskan saja kisahnya ke beberapa karakter utama tanpa perlu menambah menambahi karakter manusia dengan itikad jahat. Jika saja lebih fokus untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi oleh bumi dan Titans dengan sedikit sentuhan nilai-nilai keluarga di dalamnya, mungkin saja itu akan bekerja lebih baik. Sehingga, konklusi yang ada bukan sekedar usaha karakter manusianya memperbaiki kehidupan bumi tetapi juga memperbaiki kehidupan dengan sesamanya.

Tentu yang tersisa dari Godzilla II: King of the Monsters ini hanyalah pertarungan antara para Titans yang memang luar biasa megah. Diiringi dengan originaltheme song-nya, pertarungan Godzilla, Mothra, King Ghidorah, dan Rodan tentu sangat mudah merebut hati penggemarnya karena hal-hal trivial ini. Tetapi, bagi penonton awam yang tak dekat, hal ini belum tentu bekerja dengan baik kecuali sebagai spektakel visual yang perlu ditonton di layar besar. Tetapi, pengalamannya akan hilang begitu saja setelah film ini selesai.


Ini tentu menjadi perdebatan bagi para penggemar yang berusaha membela ketika monster mayhem di Godzilla II: King of the Monsters sudah dianggap lebih dari cukup. Bukankah akan lebih maksimal lagi pengalaman menontonnya, ketika karakter manusia sebagai pondasi penuturan ceritanya bisa berjalan seimbang dengan parade para Titansnya. Sehingga, film ini tak hanya menjadi sesuatu yang sakral bagi para penggemarnya, tetapi juga menumbuhkan penonton-penonton baru yang menunggu film-film Godzilla lainnya akan dibuat. Apalagi, Warner Bros memiliki rencana untuk memperbesar monsters universe ini.

ALADDIN (2019) REVIEW: Rendisi Moderen Dengan Segala Plus dan Minusnya


Masih berlanjut, Disney dan caranya untuk merejuvenasi segala kisah klasiknya ke layar lebar masa kini. Daur ulang lagi kisah-kisah yang pernah diangkatnya agar generasi sekarang bisa berkembang dan tumbuh dengan kisah-kisah klasik milik Disney. Hal ini tentu juga disambut baik oleh penggemar Disney sejak dahulu. Cara Disney ini tentu menjadi ajang nostalgia bagi para penggemarnya. Meski tentu saja, Disney harus memberi pembeda agar adaptasi daur ulangnya ini akan lebih kaya rasa.

Di tahun ini tentu sudah banyak film adaptasi daur ulang Disney yang mengantri. Dimulai dari adaptasi daur ulang kisah Dumbo yang disutradarai oleh Tim Burton. Di bulan Mei ini, Aladdinmendapatkan kesempatann untuk diangkat kembali oleh Guy Ritchie sebagai sutradara. Dibintangi oleh wajah-wajah baru seperti Mena Massoud sebagai Aladdin. Naomi Scott sebagai Jasmine ini pun pernah menjadi wajah Disney Channel di film televisi bernama Lemonade Mouth.

Sayang, cemoohan untuk film Aladdintiba-tiba membesar ketika Disney memberikan foto promosi Will Smith sebagai Genie dengan cara yang salah. Hal ini menjadi bulan-bulanan warganet dan fans Disney hingga di beberapa materi promo lainnya. Tetapi, ketika trailer kedua dari Aladdin muncul, komentar sedikit mereda karena munculnya lagu-lagu klasik dalam film Aladdin. Percayalah, cemoohan itu sebenarnya tak benar-benar terjadi di dalam filmnya.


Aladdin milik Guy Ritchie ini memang mengubah sedikit kisahnya, terutama untuk arc character dari Jasmine yang termasuk sebagai Disney Princess. Tentu, di era sekarang, perlu adanya perubahan atas sosok perempuan dalam representasinya. Maka dari itu, naskah dari John August serta Guy Ritchie akhirnya menambahkan urgensi tertentu agar keberadaan karakter perempuannya tak hanya sebagai Damsel in Distress semata.

Tetapi, di luar dari penambahan kisah tentang karakter Jasmine di dalam film ini, Aladdin milik Guy Ritchie ini tentu saja masih mempunyai dasar cerita yang sama dengan film animasinya. Bahkan atribut-atribut klasiknya pun tak serta merta dilepas begitu saja di dalam film adaptasi daur ulangnya ini. Tetapi, alih-alih menjaga cita rasa klasiknya seperti yang dilakukan oleh beberapa film adaptasi film Disney Princess sebelumnya, Aladdin milik Guy Ritchie ini bergerak sebagai sebuah rendisi moderen yang mana akan ada sisi positif dan negatifnya.


Namanya juga film dengan judul Aladdin, film ini tentu saja dimulai dari kisah seorang anak jalanan bernama Aladdin (Mena Massoud) yang hidup sendiri bersama dengan partner keranya, Abu. Di tengah menjalankan rutinitasnya, bertemulah dia dengan sosok perempuan berparas cantik bernama Jasmine (Naomi Scott). Dia adalah seorang permaisuri kerajaan yang sedang berusaha untuk lari dari rutinitasnya yang selalu dikekang dengan alasan dia adalah seorang perempuan.

Aladdin tak menahu atas Jasmine, hingga suatu ketika dia datang ke kerajaan untuk menemuinya. Tetapi, Jafar (Marwan Kenzari) berusaha menangkap Aladdindan membawanya ke sebuah gua yang berisikan harta karun besar. Di sana lah, dia mendapatkan sebuah lampu ajaib yang membuatnya bertemu dengan sosok Genie (Will Smith). Lewat Genie lah, Aladdinmendapatkan 3 permintaan yang akan dikabulkan dan berguna untuk dirinya.


Iya, kisahnya secara garis besar tentu saja masih sama dengan animasi klasiknya. Tetapi, beberapa poin yang diubah dari naskahnya adalah ketika membuat setiap karakternya memiliki alasan yang lebih berkaitan satu sama lain. Rendisi moderen dalam kisah Aladdinini terjadi dalam sosok Jasmine yang dibuat untuk lebih punya kekuatan sebagai perempuan. Sehingga, ini tentu akan memberikan pandangan baru bagi sosok Disney Princess dan penikmatnya untuk memahami karakter perempuan dalam sebuah film.

Perempuan boleh memimpin, perempuan boleh menjadi apa saja yang dia mau, dan perempuan boleh menentukan apapun sesuai dengan keinginannya. Pesan-pesan inilah yang berusaha dilekatkan kepada karakter Jasmine sehingga Disney Princess satu ini bisa menjadi alternatif role model bagi perempuan masa kini. Hal ini juga sudah pernah diterapkan di beberapa film live-action Disney yang melibatkan karakter-karakter Disney Princess. Tetapi, penyampaian di dalam Aladdin ini terasa lebih terlihat karena Guy Ritchie menyampaikannya dengan lebih moderen saja.

Tetapi, rendisi moderen dari Guy Ritchie ini juga berdampak negatif bagi kesakralan magis di film live-actionAladdin ini. Meski atribut-atribut klasiknya tak hilang begitu saja, tetapi Aladdinmilik Guy Ritchie ini terkesan hanya menceritakan ulang kisah Aladdin tanpa menjaga cita rasa klasiknya yang membuat film-film Disney terasa magis. Kekuatan Aladdin hanya datang bagi penggemar yang memiliki kedekatan referensi dengan filmnya. Itu pun hanya merasakan sensasi nostalgia, tanpa ada rasa klasik yang menempel di dalam filmnya.


Rendisi moderen tak hanya dalam kisahnya, tetapi juga musik-musik dan lagunya. Aladdin milik Guy Ritchie ini memberikan sentuhan moderen dalam lagu-lagu klasiknya, terlebih untuk lagu A Whole New World. Ini menjadi sangat menarik untuk filmnya, bahkan dilantunkan dengan indah. Tetapi, problematika lain datang di lagu baru yang dinyanyikan oleh Naomi Scott. Speechless, gubahan dari Justin Paul dan Benj Pasek ini terasa berada bukan pada tempat dan atmosfernya.

Lagunya yang terlalu kekinian membuat kemagisan dari Aladdin ini menjadi semakin hilang. Didukung dengan musical sequences-nya yang juga tak bisa menunjukkan kemegahan dan kesakralan kisah klasik milik Disney ini. Walaupun harus diakui, bahwa lagu Speechless ini akan sangat mudah dinikmati dan diingat di benak banyak orang. Beruntungnya, Naomi Scott bisa membawakan lagu ini dengan powerful, sehingga emosi yang ingin disampaikan bisa terlihat.

 
Tetapi, di luar gaya rendisi moderen milik Guy Ritchie dalam adaptasi daur ulang yang memberikan plus dan minus yang sama, film ini masih sangat menyenangkan untuk ditonton di bioskop. Bukan hanya sebagai tempat nostalgia, tetapi film ini cocok untuk membuat hati menjadi sumringah lagi. Visualnya cantik, lagu-lagunya memikat, warna-warnanya pun sangat indah. Yang jelas, film tak seperti diragukan oleh banyak orang. Mena Massoud, Naomi Scott, dan bahkan Will Smith memberikan performa terbaiknya. Will Smith sebagai Genie juga bermain dengan enerjik kok, jadi gak perlu khawatir.

DEADPOOL 2 (2018) REVIEW : The Anti-Hero is Back (And its Better....)


Lampu hijau dengan mudah didapatkan oleh proyek Deadpool setelah film pertamanya berhasil mendapatkan untung berkali-kali lipat. Terlebih, film pertamanya hanya bermodalkan 58 juta dolar. Meskipun sutradara di film keduanya ini berganti estafet dari Tim Miller ke David Leitch yang sudah terbukti mengarahkan sebuah mahakarya film aksi berjudul John Wick. Pergantian sutradara ini tentu tak menjadi dari film Deadpool karena film ini sudah mempunyai nyawanya sendiri. 

Ya, nyawa dari Deadpool ini tentu saja adalah Ryan Reynolds yang berhasil menghidupkan karakter Wade Wilson dengan level yang berbeda. Deadpool 2 pun tetap menggunakan ciri khas dari film sebelumnya mulai dari penuturan cerita hingga strategi pemasaran yang gila-gilaan. Juga, film ini semakin diramaikan dengan adanya karakter-karakter baru dengan nama-nama yang juga tak kalah besar. Mulai dari Josh Brolin hingga nama-nama besar yang menjadi cameo sekedipan mata.

Breaking the fourth wall, formula penuturan cerita dari Deadpool yang berusaha dipertahankan agar film ini memiliki identitasnya. Rhett Reese dan Paul Wernick masih menjadi duo yang bertanggung jawab atas ketengilan Deadpool di sepanjang 115 menit filmnya. Pun, meta jokes dengan referensi pop culture tentang showbiz berusaha dimasukkan ke dalam filmnya dari Barbara Streisand hingga Taylor Swift sebagai perwakilan budaya masa kini.


Jika dibandingkan filmnya yang pertama, Deadpool 2 lebih berhasil untuk mengkombinasikan formula breaking the fourth wall dengan humor-humor yang ada sebagai amunisi utama dari filmnya. Tak seperti film pertamanya yang asal lempar jokes dengan lebih masif, Deadpool 2 seperti lebih memperhitungkan segala humornya agar terasa lebih pas dan tidak terlalu berlebihan. Nyatanya, dengan caranya yang lebih hati-hati itu bisa menjadikan Deadpool 2 bisa memiliki performa lebih baik dari film pertamanya.

Sebagai sutradara, David Leitch ternyata mampu bemain lebih dalam lagi dibandingkan Tim Miller di film pertama. Wade Wilson memiliki perkembangan secara personal yang berarti sebagai sosok karakter di sebuah film. Ini akan berpengaruh dengan bagaimana penyampaian cerita di dalam Deadpool 2 yang lebih mengulik tentang kehidupannya sebagai anti hero yang tengil tetapi masih sangat sensitif jika sudah berurusan dengan ranah pribadinya.


Maka dari itu, Deadpool 2 lebih menonjolkan bagaimana Wade Wilson (Ryan Reynolds) yang sedang mengalami keputusasaan saat menjalani hidupnya paska menjadi seorang mutan. Kejahatan demi kejahatan sudah dirinya lewati tetapi membuatnya harus merelakan waktunya bersama sang Istri, Vanessa (Morena Bacharin). Keterlibatan Wade Wilson dalam memberantas kejahatan secara tak langsung membuat kehidupan sang Istri pun ikut terancam.

Nyawa sang Istri yang terancam inilah yang membuat Wade Wilson putus asa dan ingin berusaha memperbaiki kehidupannya. Di dalam misinya, Wade Wilson harus melindungi seorang mutan bernama Firefist (Julian Dennison) yang sedang dalam bahaya. Firefist sedang diincar oleh sosok mutan di masa depan bernama Cable (Josh Brolin). Dengan begitu, Wade Wilson berusaha untuk membuat sebuah tim baru untuk menyelamatkan Firefist dengan nama X-Force.


Meski berhasil memberikan kombinasi yang lebih melebur dalam formula penceritaannya, Deadpool 2 memiliki rintangan saat berusaha menuturkan konfliknya. David Leitch memang tahu benar untuk memberikan nilai emosional di dalam Deadpool 2 dan hal tersebut terjadi secara alami di dalam filmnya. Terlebih di dalam adegan-adegan yang melibatkan interaksi karakter antara Wade Wilson dan juga Vanessa. Poin inilah yang sebenarnya menjadi pondasi utama yang menjadi koneksi dengan segala konfliknya.

Sayangnya, David Leitch belum maksimal dalam menyambungkan setiap subplot yang ada. Efek selanjutnya adalah muncul sebuah jarak yang terjadi ketika film ini berusaha untuk berganti dengan plot lainnya yang menjadi fokus selanjutnya di dalam film ini. Sehingga, pengalaman saat menonton Deadpool 2 adalah sepertinya menyaksikan beberapa potongan film pendek yang berbeda dan dikemas menjadi satu film di dalam 118 menitnya.

Tetapi, kelemahan itu berhasil ditutup dengan bagaimana David Leitch bisa memberikan sebuah sentuhan sekuens aksi yang sudah menjadi kelebihannya dalam mengarahkan sebuah film. Deadpool 2 memberikan punya action sequences yang bisa membuat penontonnya terhibur dengan berbagai kelemahan babak penceritaannya. Poin inilah yang mampu membuat penontonnya bertahan karena David Leitch tahu dalam mengemas berbagai adegan aksi yang seru dan intens kepada penontonnya.


Serta bagaimana Deadpool 2 berhasil untuk memberikan spotlight dengan cara yang pas dengan karakter-karakter barunya. Sehingga, mereka bisa memiliki potensi untuk berkembang di dalam film-film Deadpool selanjutnya. Poin ini merujuk pada karakter Domino, Cable, dan juga Firefist yang mungkin di dalam film ini masih belum bisa berkembang terlalu besar. Hanya saja, cara Rhett Reese dan dan Paul Wernick sudah sangat pas dalam menuliskan latar belakang karakter tambahan tersebut.

Performa Ryan Reynolds yang sudah tak lagi dikhawatirkan saat  memerankan karakter Wade Wilson sehingga mampu menyampaikan segala unsur komedinya dengan baik. Secara tidak langsung, segala unsur komedi di dalam film Deadpool 2 ini adalah cara untuk memberikan tribute terhadap segala referensi pop culture di berbagai macam generasinya. Hal inilah yang mampu membuat Deadpool 2 tetap menjadi sebuah tontonan alternatif di genre film superhero yang semakin berkembang.


Ditemani dengan berbagai musik-musik manis dari berbagai era mulai dari tren di tahun 80an hingga EDM yang sedang gempar di masa kini, Deadpool 2 akan berhasil merebut hati penontonnya. Meskipun tak menjadi sebuah film superhero yang sempurna, akan tetapi Deadpool 2 berhasil membuat penontonnya ingin melihat perkembangan film ini di kesempatan selanjutnya. Deadpool 2 berhasil memiliki sedikit perkembangan dibandingkan film pertamanya. Tak banyak, namun sangat berarti untuk kelangsungan franchise ini.

CRITICAL ELEVEN (2017) REVIEW : Mempercayai Sebuah Cinta Dengan Segala Turbulensinya


Dari sekian banyak film-film dengan genre drama romantis di perfilman Indonesia, hanya ada beberapa film yang diproduksi dengan baik. Tak hanya dari segi teknis, tetapi juga dari sisi pengarahan film yang tak terlalu digarap serius. Menciptakan nuansa penuh akan cinta di sebuah film tak akan semudah yang dibayangkan orang. Apabila hal tersebut tak bisa diarahkan dengan baik, penonton tak akan bisa merasakan koneksi atas atmosfir penuh kasih sayang di dalam film drama bertemakan cinta.

Maka, inilah yang berusaha dilakukan oleh Starvision dan Legacy Pictures untuk membuat sebuah drama romantis dengan ideal. Mereka memutuskan untuk bersama-sama mengadaptasi sebuah buku dari penulis ternama Ika Natassa. Critical Eleven, salah satu buku laris miliknya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk ‘lahir’ pertama kali sebagai sebuah film layar lebar. Critical Elevenmemiliki kru dan jajaran aktris yang tak sembarangan. Mulai dari Reza Rahadian dan Adinia Wirasti sebagai pemeran utama, Jenny Jusuf sebagai penulis skenario, serta Monty Tiwa yang kali ini berkolaborasi untuk mengarahkan sebuah film dengan Robert Ronny.

Misi mulia dari Ika Natassa dan segala orang yang terlibat di dalam film Critical Eleven adalah tentang memberikan harapan dalam cinta. Nyatanya, dengan performa milik Reza Rahadian dan Adinia Wirasti yang menghidupkan setiap karakter fiksinya ini berhasil meyakinkan penonton atas misi mulia milik Ika Natassa. Inilah kisah cinta milik Ale dan Anya yang penuh akan asam manis di setiap perjalanannya, tetapi bisa membuat setiap orang akan percaya dengan kekuatan cinta. 


Membicarakan tentang cinta akan terdengar sangat melankolis dan picisan. Tetapi, memiliki kehidupan tanpa cinta di sekitar kita tak serta merta membuat hidup kita lebih bahagia. Hal itu lah yang berusaha disampaikan di dalam film Critical Eleven ini. Tema Cinta yang dibahas di dalam Critical Eleven ini memang tak sekedar antar pasangan, tetapi juga lebih di setiap aspek. Mulai dari keluarga, sahabat, dan juga setiap menit kehidupan yang tuhan berikan kepada kita.

Semua misi tentang cinta ini disajikan ke dalam sebuah film dengan durasi yang mencapai 135 menit. Critical Eleven adalah analogi tentang keadaan dalam pesawat yang paling kritis yaitu 3 menit sesaat setelah terbang dan 8 menit sesaat sebelum mendarat yang mewakili kehidupan setiap orang. Ini pula yang dirasakan sesaat ketika film berjalan di durasinya yang panjang. Film Critical Eleven sebagai sebuah pesawat mengalami masa kritis itu tak selamanya dengan mulus. Sesekali ada Turbulensi yang terjadi saat film baru saja menerbangkan sayapnya dan sesaat sebelum film akhirnya tiba di tujuan.  


Misi tentang memberikan harapan kepada cinta kali ini ditugaskan kepada Anya (Adinia Wirasti), seorang perempuan mandiri yang bekerja dengan giat. Anya begitu mencintai bandara hingga suatu ketika dia juga bertemu dengan seorang pria bernama Ale (Reza Rahadian). Pertemuan yang tak disengaja itu ternyata mendekatkan mereka. Hingga pada akhirnya, Ale dan Anya memutuskan untuk menikah dan Ale yang bekerja di Oil Rig di daerah meksiko memutuskan agar mereka tinggal di New York.

Kehidupan di New Yorkmemberikan mereka kebahagiaan, apalagi Anya telah mengandung Ale Junior yang telah diidam-idamkan. Kehidupan Anya paska hamil memang tak semudah yang dibayangkan. Ale menjadi sangat overprotektif kepada Anya karena takut kehilangan buah hatinya. Dengan adanya perubahan sifat ini, muncullah keegoisan masing-masing yang sesekali menimbulkan perdebatan di tengah keharmonisan hubungan mereka. Juga, beberapa peristiwa dalam keluarga kecil mereka yang semakin memunculkan sisi egois masing-masing pihak.


Critical Eleven memang bukan sekedar kisah tentang cinta yang dibuat hanya untuk merasakan indahnya jatuh cinta. Critical Eleven adalah kisah tentang cinta yang menunjukkan penontonnya tentang jatuhnya hidup bergantung kepada cinta. Translasi yang sangat baik dilakukan oleh Jenny Jusuf sebagai penulis skenario yang berhasil mengadaptasi sumber aslinya dengan berbagai cara hingga setiap karakter memiliki kontinuitas yang menarik. Ada detil-detil kecil sebagai sebuah tanda yang dihasilkan oleh Jenny Jusuf di dalam filmnya yang memperkuat karakternya. Tanda itu seperti mainan-mainan yang dimiliki oleh karakter Ale dan Anya.

Bukan hanya sekedar detil kecilnya, tetapi juga memindahkan emosi ke dalam penulisan naskahnya. Selain itu pula, ada kolaborasi baik antara naskah dengan pengarahan yang dilakukan oleh Monty Tiwa dan Robert Ronny dalam Critical Eleven. Penonton bisa merasakan setiap konfliknya yang terjadi di dalam Critical Eleven. Secara tak langsung, penonton menemukan referensi lain yang melekat di karakter dan konfliknya sehingga timbul simpati dan merasakan adanya kedekatan.

Hanya saja, Critical Elevenmemiliki sedikit isu dalam pengarahan yang membuat 135 menit yang ada di dalam filmnya tak memiliki performa yang stabil. Paruh pertama film ini memiliki sedikit turbulensi terhadap penyampaian konflik dan karakternya. Ada penyampaian emosi yang menggebu-gebu sehingga beberapa pesan yang tak tersampaikan dengan sepenuhnya baik. Pemilihan dialog yang sering kali menggunakan bahasa asing membuat adanya jarak antara pesan yang ingin disampaikan kepada penontonnya. Rasa manis di awal film pun beberapa kali terkadang terasa redup. 


Begitu pula dengan turbulensi yang datang lagi di ‘pesawat’ milik Critical Eleven saat ingin mendarat. Critical Eleven memang sudah memiliki landasan mendarat yang mumpuni, tetapi kemulusan terhadap cara memberikan konklusi di film ini tak bisa memberikan rasa manis yang kuat setelah menonton. Di tengah karakter Ale dan Anya yang sudah dikembangkan dengan sangat baik di setiap menitnya, ada cara mendarat yang memberikan sedikit membuat penontonnya tak nyaman. Bagaimana paruh ketiga film ini intensitas cerita sudah tak terjaga dan membuat simpati penontonnya sedikit berkurang.

Kemagisan asam manis cinta yang semakin bertambah durasi semakin terasa ini hampir saja hilang dengan pengarahan yang kurang mulus. Sehingga, ada sambungan adegan yang sedikit saja dihilangkan di dalam naskah yang mungkin dapat menimbulkan keefektifan cerita yang lebih memberikan efek yang kuat kepada penontonnya. Tetapi, beruntung sekali Critical Eleven memiliki Adinia Wirasti dan Reza Rahadian. Mereka memberikan performa terbaiknya di dalam film ini sehingga penonton bisa merasakan setiap manis dan getir hubungan mereka. Mereka bisa menerjemahkan karakter Ale dan Anya yang tak hanya hidup, tetapi juga berkembang dan berubah. 


Sebagai sebuah film drama dengan tema cinta, Critical Eleven memang masih bisa menaikkan standar yang ada. Ini jelas sebuah film Indonesia yang dibuat dengan sepenuh hati dan teliti, apalagi dalam segi teknis film. Gambar, musik, dan nilai-nilai produksi di dalam film Critical Eleven memperkuat alasan bahwa film ini memang tak main-main. Meski memiliki sedikit turbulensi dalam penceritaannya, tetapi Critical Elevenmasih bisa menimbulkan rasa asam dan manis cinta lewat performa luar biasa dari Adinia Wirasti dan Reza Rahadian. Pun, didukung dengan kedetilan dalam bertutur lewat naskah milik Jenny Jusuf. Critical Eleven cukup berhasil mencapai tujuannya untuk membuat penonton percaya dengan cinta dan menggantungkan harapan kepadanya.