• Kalo kamu memang Anak generasi 90an, pasti sudah memasuki fase di mana menunggu Doraemon dan Nobita Serta...
  • Daftar Album Lagu Ungu Religi Terbaru Komplit
  • Meski diangkat dari komik dari DC yang melahirkan beberapa manusia super kelas kakap seperti Superman atau Batman, tetapi tidak berlaku untuk film ini. Dia adalah Harley Quinn.
Tampilkan postingan dengan label Jude Law. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jude Law. Tampilkan semua postingan

CAPTAIN MARVEL (2019) REVIEW: Mengikuti Fragmen-Fragmen Memori Sang Kapten Baru


Apabila mengingat after credit scene yang ada di Avengers: Infinity War, pasti akan tahu betapa pentingnya salah satu karakter dalam Marvel ini. Akan ada banyak teori sekaligus pertanyaan, siapa sih karakter manusia super satu ini. Ya, dia adalah Captain Marvel, seorang manusia super perempuan yang digadang memiliki kekuatan sangat kuat untuk melawan Thanos nantinya. Nick Fury mengirimkan sinyal kepada Captain Marvel untuk bala bantuan.

Tetapi, sebelum akhirnya menuju ke Avengers: Endgame yang akan tayang pada bulan April nanti, tentu saja Kevin Feige menginginkan penonton berkenalan terlebih dahulu dengan karakter ini. Captain Marvel hadir dan direncanakan sudah cukup lama dan Brie Larson dipercaya untuk menjadi sosok Captain Marveltersebut. Film ini pun disutradarai oleh Anna Boden dan Ryan Fleck dengan beberapa nama yang juga ikut terlibat.

Tentu saja, salah satu nama tersebut adalah Samuel L. Jackson yang berperan sebagai Nick Fury di dalam film ini. Captain Marvel mengambil setting tahun 90an yang akan berusaha memulai bagaimana sosok Avengers berkumpul. Film ini akan berada di timeline sebelum adanya Iron Man tetapi setelah Captain America: The First Avenger. Tentu akan menarik bagi linimasa cerita Marvel Cinematic Universe terlebih mereka sudah memiliki 20 film yang berjalan berdampingan.


Menarik untuk mengetahui seperti apa Captain Marvel ini yang digadang memiliki kekuatan yang sangat besar dan bisa mengalahkan Thanos nantinya. Film Captain Marvel ini jelas dijadikan sebagai sebuah jembatan bagi Marvel untuk melanjutkan visi misinya menuju fase selanjutnya. Kevin Feige sudah tahu benar bagaimana mengeluarkan “senjatanya” satu persatu dengan setting yang berbeda tetapi linimasanya tetap berada di jalan yang sama.

Inilah yang terjadi di Captain Marvel yang diarahkan oleh Anna Boden dan Ryan Fleck. Dengan settingnya yang berada di tahun 90an, Captain Marvelakan menceritakan bagaimana pertama kali sebuah inisiasi berkumpulnya para pahlawan super milik Marvel. Meski baru saja dibuat, tetapi Captain Marvel berhasil dengan mulus dan effortless untuk menyangkutpautkan film ini dengan linimasa dalam Marvel Cinematic Universe.


Dimulai ketika Vers (Brie Larson) menemukan dirinya berada di planet Kree dalam keadaan yang tak mengingat siapapun jati dirinya. Di sana, dia tinggal dan dilatih oleh Yon-Rogg (Jude Law) beserta dengan kawanannya. Mereka mendapatkan misi untuk menyerang sekawanan Skrull yang menjadi musuh mereka. Tetapi, sekelompok Skrull yang memiliki kemampuan untuk mengubah dirinya ini ternyata mengagalkan misi mereka dan membawa Vers sebagai tawanan.

Tetapi, Vers berusaha untuk melarikan diri dari Skrull dan sampailah dia di bumi. Di sana dia bertemu dengan Nick Fury (Samuel L. Jackson) sebagai anggota dari S.H.I.E.L.D. ini. Vers meyakinkan Nick Fury untuk waspada dengan Skrull dan menangkap mereka. Tetapi, saat Vers dan Nick Fury berusaha untuk menangkap Skrull, perjalanannya mengingatkan Vers dengan siapa dirinya dulu dan juga apa yang terjadi yang sebenarnya selama ini.


Bangun dengan tanpa tahu siapa identitas dirinya, mungkin akan mengingatkan kita dengan bagaimana Jason Bourne memulai filmnya. Secara tak sadar, mungkin Captain Marvel terkena referensi itu dalam ceritanya. Ini langkah menarik bagi Captain Marvel sebagai sebuah origin story berusaha untuk memberikan sesuatu yang segar agar kisahnya yang bergerak lurus-lurus saja ini masih memiliki sesuatu yang menarik untuk diikuti.

Anna Boden dan Ryan Fleck bermain dengan kisahnya yang lurus ini agar menjadi sebuah teka-teki menarik. Penuturan kisahnya serupa dengan karakter Vers yang bangun dengan fragmen-fragmen kecil dalam memorinya yang mungkin membuat penontonnya bertanya ada apa dengan kisah selanjutnya. Layaknya sebuah picture puzzle, Captain Marvel sudah menemukan beberapa potongannya hingga akhirnya menemukan polanya dengan benar. Tetapi, masih ada potongan-potongan kecil yang masih belum ditemukan dan menjadi bagian yang siginifikan dalam kisahnya.

Hingga pada waktu yang tepat, Captain Marvel pun bisa membuat pertanyaan penonton akan bisa terjawab dengan baik. Tetapi, dalam perjalanannya menemukan pola dalam penuturan ceritanya, Anna Boden dan Ryan Fleck menemukan sedikit jalan terjal. 20 menit pertama film ini jelas Anna Boden dan Ryan Fleck kesusahan untuk menemukan potongan kisah seperti apa yang harus disampaikan kepada penontonnya. Beberapa momentum dalam filmnya pun muncul belum terlalu kuat.


Beruntung, hal itu ternyata tak berlangsung lama karena mereka menyajikan konflik-konflik lain yang menyenangkan untuk diikuti. Dalam setiap pengadeganan dan dialognya, terlihat bahwa Captain Marvelberadaptasi dengan isu sosial yang ada tentang women empowerment dengan caranya sendiri. Berusaha untuk memberikan pengertian bahwa seorang perempuan memiliki hak atas dirinya sendiri apalagi dalam pengambilan keputusan dalam hidupnya.

Captain Marvel juga berusaha untuk mematahkan isu stereotip perempuan yang selalu emosional dalam dirinya. Emosional menjadi sebuah kelemahan dari seorang perempuan dalam menjalankan hidupnya. Inilah yang diubah sudut pandangnya, menjadi apa yang disebut sebagai kelemahan menjadi sebuah kekuatan bagi perempuan dalam menjalankan hidupnya. Kekuatan itu bukan untuk membuktikan dirinya yang terbaik untuk semua orang, tetapi yang terbaik untuk dirinya sendiri.

Pesan-pesan ini pun disampaikan dengan baik oleh performa dari Brie Larson. Dia mampu menjadi sosok Captain Marvel dan mampu meyakinkan penontonnya bahwa Captain Marveladalah sosok yang cocok menjadi pemimpin untuk generasi Avengers selanjutnya. Begitu pula dengan Samuel L. Jackson sebagai Nick Fury muda yang mampu menjadi best buddy untuk Captain Marvel. Diperkuat pula dengan nuansa retro tahun 90an beserta lagu-lagunya.


Dengan sudah banyaknya film yang ada dalam fase Marvel Cinematic Universe, Captain Marvelbermain dalam zona aman sebagai sebuah film Marvel. Hal itulah yang mungkin menjadi persoalan bagi beberapa orang saat menonton Captain Marvel. Terlebih, ketika sudah dihadapkan dengan Avengers: Infinity War yang sudah kompleks beserta post creditnya yang merujuk ke film ini. Tetapi, Captain Marvel adalah sebuah pemanasan yang masih sangat menyenangkan sekaligus menghangatkan hati untuk diikuti sebelum para penonton akan menyaksikan salah satu superhero movie event terbesar tahun ini yaitu Avengers: Endgame

Apalagi, ketika mid credit film ini diputar, April akan terasa begitu lama!

 

FANTASTIC BEASTS : THE CRIMES OF GRINDELWALD (2018) : Jembatan Seri Baru Yang Rapuh

Kembalinya dunia sihir ditandai dengan Warner Bros menghidupkan karakter Newt Scamander lewat Fantastic Beasts and Where To Find Them yang dirilis pada tahun 2016 lalu. Kisah ini pun juga diangkat dari buku yang ditulis oleh JK Rowling. Pun, di dalam filmnya, JK Rowling juga ikut andil untuk menyajikan kisahnya ke dalam layar lebar lewat naskah yang ditulisnya. Pendapat tentang film ini cukup beragam, ada yang suka karena merasa nostalgia dengan dunia sihir tetapi ada pula yang tak suka karena berbeda dengan seri Harry Potter yang ditulisnya.

Tetapi, film itu hanyalah awal dari 5 seri Fantastic Beasts yang akan dirilis oleh Warner Bros nantinya. Pun, JK Rowling akan tetap ikut andil untuk menuliskan kisah-kisah selanjutnya. Maka di tahun ini, petualangan dunia sihir pun masih berlanjut. Fantastic Beasts : The Crimes of Grindelwald adalah tajuk yang diambil untuk judul film keduanya. David Yates tetap melanjutkan tongkat estafetnya untuk mengarahkan film kedua dari petualangan Newt Scamander.

Film pertamanya yang ditutup dengan penyelesaian yang mencengangkan, tentu saja para penikmat film dan dunia sihir ingin tahu seperti apa kelanjutan dari Fantastic Beasts ini nantinya. Fantastic Beasts : The Crimes of Grindelwaldini tentu ditunggu sebagai jawaban atas film pertamanya. Pun, film ini kembali diramaikan oleh beberapa nama mulai Johnny Depp yang menjadi kunci di film ini. Belum lagi kedatangan Zoe Kravitz sebagai salah satu anggota keluarga Lestrange dan tentu saja Jude Law sebagai Albus Dumbledore muda.


Dengan banyaknya hal di dunia sihir milik Harry Potter yang kembali di film kedua dari Fantastic Beasts ini, ternyata tak menjadi jaminan bahwa film ini akan bisa menghibur penontonnya. Atau bahkan menyamai kekuatan film pertamanya –yang setidaknya menghibur sebagai sebuah film blockbuster. Fantastic Beasts : The Crimes of Grindelwald datang sebagai film sekuel yang kembali dipenuhi dengan berbagai macam set updan tak benar-benar menjawab pertanyaan yang terbangun di film pertamanya.

Banyak sekali hal yang ingin diceritakan oleh JK Rowling di dalam film keduanya. Sehingga, film ini terasa tumpang tindih di berbagai bagian. Dengan durasi yang mencapai 134 menit, nyatanya hal ini tak cukup ruang bagi JK Rowling untuk menceritakan berbagai kisahnya yang rumit. Banyak problematika yang muncul di film keduanya. Begitu pula, karakter-karakter yang muncul di dalam filmnya hadir dengan urgensi yang tidak cukup kuat.


Fantastic Beasts : The Crimes of Grindelwald dimulai dari Grindelwald (Johnny Depp) yang pada awalnya telah ditangkap dan menjadi tahan tiba-tiba melarikan diri. Dia bersama dengan komplotannya mengejar satu nama yaitu Credence (Ezra Miller) yang dianggap memiliki kekuatan yang cukup kuat dan besar untuk berada dengan komplotannya dan menuntaskan apa yang dimau oleh Grindelwald. Tetapi, perjalanan Grindelwald tentu saja tak mudah.

Ada banyak orang yang menghalangi rencana jahatnya salah satunya adalah Newt Scamander (Eddie Redmayne) yang pada awalnya sedang mencari seorang temannya, Tina Goldstein (Katherine Waterston) yang sedang menginvestigasi hal yang sama dengan Grindelwald. Kebingungan Newt Scamander ini menuntunnya kembali ke Hogwarts untuk menanyakan masalah Grindelwald kepada Albus Dumbledore (Jude Law). Mereka pun menyusun rencana untuk menghentikan Grindelwald.


Cerita untuk menghalangi rencana jahat Grindelwald ini menjadi poin utama dari film kedua Fantastic Beastsini. Hanya saja, ada banyak cerita tambahan yang secara tidak sadar mendistraksi bagaimana plot utama dari film ini berjalan dengan seharusnya. Film keduanya sibuk memperbesar Wizarding World dari JK Rowling yang semakin menambah setup dari franchise ini agar tetap berjalan. Sayangnya, David Yates tak bisa mengimbangi konsep besar yang dimiliki oleh JK Rowling di dalam film keduanya.

Konsep besar dalam naskah JK Rowling ini tentu adalah bahan bakar bagi franchise Fantastic Beasts agar tetap berjalan dan memiliki bahasan di setiap serinya. Tetapi, JK Rowling seakan tak mawas diri untuk menceritakan setiap ide yang ada di kepalanya yang ternyata menjadi bumerang bagi presentasi film keduanya. Fantastic Beasts : The Crimes of Grindelwald pun menjadi salah satu entry dalam Wizarding World universe yang paling lemah.

Ada banyak cabang cerita yang membuat film ini terasa tak mengerti bagaimana untuk mengawali ceritanya. Dengan banyaknya cabang cerita tentu akan membuat bertambahnya karakter-karakter di dalam film ini yang hanya muncul untuk memenuhi layar tanpa ada cukup alasan yang kuat mereka harus hadir. Berharap saja, karakter-karakter ini akan memiliki ceritanya di seri Fantastic Beasts selanjutnya sehingga tak menjadi sia-sia.


Fantastic Beasts : The Crimes of Grindelwald tak memiliki daya magis seperti di film-film Wizarding World lainnya. Film ini hanya berisikan konflik dan membangun cerita yang memiliki tendensi untuk membuat kisahnya menjadi memiliki citarasa film-film Harry Potter. Sayangnya, menjadikan seri ini agar memiliki citarasa magis yang sama dengan Harry Potter ternyata keputusan yang kurang tepat. Fantastic Beasts : The Crimes of Grindelwaldini kehilangan esensinya untuk menceritakan makhluk-makhluk fantastis seperti film pertamanya.

Sehingga, yang tersisa dalam film ini adalah kekuatan visual efek yang membuat penonton cukup kagum dan menikmatinya. Bahkan, keseruan magic adventure di dalam film keduanya ini pun tak sekental film pertamanya. Juga, musik andalan Harry Potter yang menjadi cameo di dalam film ini. Atau mungkin sebuah kejutan di akhir film yang tak sepenuhnya berjalan dengan baik. Sehingga, bagi penonton yang akan menonton film ini, anggap saja film ini hanya sebagai sebuah jembatan baru yang berdiri belum terlalu kokoh jadi perlu hati-hati untuk melewatinya.